6 TAHUN YANG LALU
JAKARTA 10.32; HESTON GRAND ESTATE
"Tuan Gerald! Tuan Gerald!" seru seorang perempuan paruh baya, menggunakan celemek, bergegas ke arah ruang kerja tuannya.
Dia adalah Sati, wanita tua berumur 70 tahunan yang telah mengabdi seumur hidupnya menjadi pelayan setia keluarga Heston.
Dia bergerak secepat tungkainya bisa, lalu membuka pintu ruang kerja majikannya itu dengan nafas tersengal-sengal, benar-benar terlihat panik. "Tuan! Apa sudah lihat berita terbaru!?" tanyanya lantang
"Bi Sati astaga! Tidak perlu berlari lari seperti itu, Bi!" ucap Dera.
Dera sang istri majikannya, menghampiri Bi Sati dan membantunya menjaga keseimbangannya saat hampir terjatuh. Dia terlihat lesu, sepertinya telah mendengar kabar baru yang menyedihkan itu.
"T-tapi, Ra, ini...." katanya terengah sembari mencekal tangan Dera kuat. "Den Carlton. Aden ada apa, Ra?"
Kedua orang di dalam ruangan itu langsung menghela nafasnya panjang. Mereka kembali menatap koran yang tergeletak di atas meja kerja Gerald, majikannya dengan sedih, melihat kembali berita mengejutkan yang telah menghancurkan hari mereka.
Dera kembali menatap Bi Sati lalu menggeleng pelan "Sayangnya, Bi. sepertinya apa yang tertera di sana, memang benar."
***
NEW YORK CITY 10.42 AM; CAMPUS CAFETERIA
"You're crazy! Kau benar-benar gila! Apa yang sebenarnya kau sedang pikirkan, Ton!?" tanya seorang laki-laki melengking tinggi sembari melempar sebuah gulungan kertas koran ke atas meja kantin dengan kuat.
Dia adalah Raymond Howell, laki-laki berumur 22 tahun yang merupakan salah satu dari empat teman milik Carl Heston. Dia terlihat geram, tidak. Lebih tepatnya dia terlihat tidak percaya, tidak percaya akan kebodohan sahabatnya sendiri.
"Apa kau sebegitu sintingnya sampai menolak perusahaan raksasa ayahmu hanya karena ingin menikmati hidupmu dan malas meneruskannya?" tanya Ray sekali lagi masih tercengang.
"Apa kau tidak tahu berapa ratus orang di luar sana yang bisa sampai gila menginginkan posisimu sekarang!?"
Carl Heston, laki-laki yang berada di hadapannya menghisap rokoknya lalu menghembuskan sisa asapnya tinggi ke udara. Menyandar kepada kursi kantin seakan dia tidak tertarik.
"Kau masih membicarakan berita bodoh itu?" tanya Carl Heston malas. "Tidak berguna sekali."
Ray tercengang lebih lebar dibuatnya.
"Aku tahu dia gila, tapi aku tidak membayangkan dia benar-benar segila ini!" kata laki-laki yang lain menimpal dari samping Ray.
Namanya Ethan Lierco, laki-laki yang sama merupakan sahabat karib Carl dan sedang menduduki kursi sebelah Ray. Dia sedang meminum colanya.
Kebiasaan sedari kecil setiap musim panas berkunjung. "Berikan saja kepadaku warisan orang tuamu. Dengan senang hati aku akan mengolahnya untukmu."
Carl tertawa pelan, meremehkan "Hanya warisan, what's the matter?" tanya Carl.
"Kalau orang tuamu hanyalah seorang pemilik warung kecil pinggir jalan, kau bisa mengatakan itu. Tapi orang tuamu itu pemilik perusahaan besar, Carl! Heston Corporation, man!" kata Ray lagi dengan heboh.
Ray benar-benar tidak habis pikir. Kemana pergi otak kecil temannya itu sehingga dia bisa menolak warisan sebesar bertriliun-triliun rupiah hanya karena alasan malas memusingkannya? Dia benar-benar orang gila.
"Lalu? Apakah menjadi dosa aku menolaknya?" tanya Carl datar.
Ray dan Ethan tercengang, sedangkan satu lagi laki-laki di samping Carl mendengus tidak suka.
"Kau terlalu gila bahkan sampai Nix yang bisu saja bisa menanggapi ketololanmu itu," kata Ethan sembari menggeleng pasrah.
Laki-laki yang bernama Nix menatap ke arah ketiga temannya, jengkel. "Tidak ada salahnya aku menimbrung sesekali, bukan?" bela Nix.
Dia bernama lengkap Nix Nielson, anak dari pengusaha produk fashion besar dan merupakan satu-satunya teman Carl yang pendiam. Dia terlalu pendiam hingga teman temannya sendiri bahkan jarang mendengarnya berbicara saat bertemu.
"Tidak apa. Hanya jarang sekali saja," kata Ethan lagi sembari terkekeh kecil. "Tunawicara, kau katakan kepada keparat ini bagaimana dia benar-benar harus mengubah sikapnya sebelum penyesalan menghantuinya nanti."
Nix mendengus. "Tidak tertarik."
Ethan dan Ray menggeleng bersamaan. Sedangkan Carl terkekeh serak.
"Sudahlah. Dia pun mengatakan katanya tidak tertarik. Memang topik ini tidak menarik sejak awal sekali pun. Just forget about it. Ayo minum, aku akan traktir kalian semua."
Ray memutar bola matanya jengah. "Apa kau tidak sama sekali terganggu dengan fakta bahwa wajahmu menjadi trending topic di seluruh media sosial dan beribu-ribu orang di luar sana mencercamu sebagai anak pemalas?"
Carl memutar bola matanya kesal sebagai jawaban atas perkataan dari Ray.
"Bukan maksudku aku tidak menerima warisan itu berarti aku tidak akan bekerja, sialan!" dengus Carl geram. "Maksudku, aku hanya tidak akan meneruskan perusahaan ayahku dan akan memulai perusahaan baruku sendiri nanti setelah lulus. Biarkanlah mereka berbicara sesuka mereka. Pada akhirnya pun aku akan lebih kaya dari pada mereka."
Entah memang karena dia benar-benar mandiri atau memang ketololannya terlalu mendominasi, teman temannya tidak tahu. Tetapi jelas, mereka yakın laki-laki ini sudah kehilangan otaknya. Memilih jalan yang sangat panjang dan memusingkan ketimbang yang sangat mulus dan jauh lebih mudah? Hanya Carl Heston seorang yang mau melakukan hal seperti itu.
"Sepertinya lebih baik aku pergi berkencan dengan Eria saja ketimbang menghabiskan waktuku menemani kegilaanmu," kata Ethan.
Ethan tiba-tiba bangkit dari kursinya. Eria adalah pacar Ethan, wanita berumur 21 tahun yang sekarang sedang berlatih sebagai model di agensinya.
"Dasar budak cinta," dengus Carl tidak suka.
"Lebih baik ketimbang kau yang hanya bisa memainkan wanita dan sibuk menjadikan mereka mantan-mantanmu," kata Nix tiba-tiba sembari mendengus kesal.
Ethan tertawa kencang "Hear that, player!" katanya meremehkan. "Got to go. Bye!"
Dan setelah itu secepat kilat Ethan pergi meninggalkan mereka. Carl dan Ray langsung menatap satu dengan yang lain kebingungan.
"Tumben sekali, Nix. Kau menimbrung pada percakapan tentang Eria," kata Ray sembari mengangkat sebelah alisnya. "You hate her, don't you?"
Nix mendengus sekali lagi. "Terserah aku mau menimbrung atau tidak," kata Nix.
Setelah itu, Nix kembali menyeruput kopi hangat yang telah dipesannya lalu menghela nafas panjang.
"Jadi, bagaimana dengan perkembanganmu dengan Camilia Ramsey?" tanya Nix kepada Carl tiba-tiba.
"Camilia Ramsey? Sejak kapan kau berhubungan dengan wanita es itu?" tanya Ray terkejut.
Ray memicingkan matanya. "Jangan-jangan! Kau menjadikannya incaran selanjutnya untuk pertandingan kita!? Curang!"
Memang inilah apa yang sering Carl dan Ray lakukan. Mereka bertanding setiap bulan menentukan siapa yang memiliki mantan terbanyak dan akan merayakan kemenangan salah satu dari mereka tepat pada tanggal 30 atau 31 nanti. Tentu dengan yang kalah harus mentraktir minum kepada yang menang
Nix tidak pernah memedulikan pertandingan bodoh itu, tapi jujur dia merasa sangat prihatin kepada wanita-wanita yang telah kedua temannya buat menangis setelah diputuskan secara sepihak oleh mereka.
Carl tertawa pelan lalu mengangguk. "Mengincarnya adalah sebuah tantangan. Dan apalah laki-laki tanpa berani mengambil tantangan seperti itu, bukan?" tanya Carl sombong.
Ray menggeleng. "Kalau begitu, fix! Bulan ini aku yang akan menang. She will never accept anyone's confession, Carl"
Camilia Ramsey adalah perempuan 21 tahun yang sekarang sedang memasuki semester ke 5 dalam jurusan kedokteran. Dia adalah wanita cantik yang telah berkali kali menjadi incaran seluruh orang kampus. Tapi sifatnya tak terkira dingin sehingga semua orang pada akhirnya menyerah dan menyesal telah pernah berpikir untuk menjadi kekasih seorang Camilia Ramsey.
Dan Carl sekarang mencoba menjadi salah satu dari semua laki-laki itu Walau tentu dia tidak sama sekali berniat untuk ditolak olehnya
"Dan bagaimana kalau aku bisa mendapatkannya?" tanya Carl percaya diri sekali. "Kalau aku sampai bisa mendapatkan Miss Ramsey, aku kan langsung menang bulan ini. How's that?"
Ray membalas perkataan Carl dengan tertawa.
"Silakan sesukamu, Tuan Heston. Dia memang sesusah itu untuk didapatkan. Aku tidak akan mencegahmu," kata Ray.
Ray mengambil rokoknya yang tinggal tersisa sedikit lalu menghisapnya habis. "Aku tidak yakin apa aku harus menghentikanmu atau tidak. Jangan sampai kau menangis kalau dia sampai menolakmu telak ya, Ton!"
Carl tertawa. "Tidak mungkin. Aku bukan pecundang," jawab Carl dengan percaya diri. "Tunggu besok di lapangan tengah. Aku akan menjadikannya kekasih di hadapan seluruh orang dan kalian yang akan paling pertama menyaksikannya."
Nix menghela nafasnya sekali lagi, lalu bangkit berdiri dari kursinya. Dia mengambil seluruh benda-benda bawaannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu meminum habis seluruh kopinya dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Aku baru ingat aku memiliki tugas laporan yang belum aku kerjakan. Aku akan pulang dulu," ucap Nix sembari pamit. Kemudia mulai melangkah meninggalkan kedua temannya.
Nix benar-benar tidak ingin mendengar topik pembicaraan tentang pencarian jodoh dua orang itu.
"Dan Carl," ucap Nix tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Carl mengangkat sebelah alisnya menatap Nix.
"Dekati saja Camilia Ramsey. Mungkin dia memang dingin, tapi aku memiliki firasat kalau kau akan berhubungan kuatnya dengannya. Entah kapan, tapi jelas... suatu kali."
***
PRESENT DAY
NEW YORK CITY 13 41; HESTON SKYSCRAPER
"Carl, bangun!" seru seorang pria tiba-tiba mengguncang keras tubuh Carl.
Carl menggeliat pelan, masih setengah bermimpi, lalu melihat ke arah laki-laki yang sedang sibuk membangunkannya.
Orang itu ternyata adalah Rian Andira, pria berumur 47 tahun yang sama sekali tidak terlihat setua umurnya. Dia adalah paman Carl, paman tidak kandung. Namun selalu terdekat dengan Carl sedari kecil bahkan lebih dari ayahnya sendiri. Dan rasanya sudah lama sekali Carl tidak bertemu dengannya, tidak juga dia berpikir kalau dia bisa bertemu dengan laki-laki itu hari ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Carl menggerutu. "I was having a good dream and you're disturbing me."
Rian menggerutu. "Ayahmu memintaku untuk mengunjungimu kemari dan memeriksa keadaanmu di sini," sahut Rian geram. "Ibumu takut kau terlalu terbebankan oleh masalah permintaan konsumen yang membludak bulan ini di Amerika, makanya dia memintaku untuk melihatmu di sini."
"Tapi sepertinya aku tidak perlu. Kau bahkan sedang tidur-tiduran santai di atas sofa kantormu dan melupakan meeting penting yang seharusnya sudah kau datangi sejak setengah jam yang lalu."
Carl melihat ke arah ponselnya lalu bangkit duduk di atas sofa, masih dengan tampang yang sangat kusut. "Aku bahkan lupa aku memiliki jadwal seperti itu."
Rian menggeleng tidak percaya. "Aku bisa mengerti mengapa Ayah dan Ibumu tidak pernah bisa tenang membiarkanmu bekerja seorang diri di benua Amerika ini. Lihatlah anaknya, tidak ada harapan sama sekali."
Carl menggeram "Seperti kau ada saja," gerutunya balik sembari berdiri lalu mengambil jasnya yang tergeletak di atas meja kerjanya naas "Beruntung aku sedang dalam mood bagus, Uncle. Aku tidak biasanya membiarkan orang yang membangunkanku secara paksa begitu saja"
"Kau sedang mengancamku, kid?"
"Tidak. Aku hanya memberitahu saja," jawab Carl enteng sembari membuka pintu ruang kerjanya dan berjalan secepat kilat keluar dari ruang kerjanya itu.
Tapi sebelumnya, dia kembali menyodorkan wajahnya ke balik pintu dan berkata kepada laki-laki itu.
"Gantikanlah aku mengikuti rapat yang tidak penting itu. Aku benar-benar tidak tertarik."
^^^
"Kau tidak berpikir kalau aku benar-benar akan menerima pernyataan cinta bodohmu itu, kan? Jangan bermimpi, Heston!" ucap seorang perempuan sembari menatap Carl tajam dengan kedua mata dinginnya.
Camilia Ramsey. Mereka sedang berkumpul di lapangan tengah dengan semua mata murid kampus sedang menatap keduanya lekat, dengan mulut menganga. Benar-benar terkejut.
Carl Heston...
Ditolak?!
"Pemalas, semau sendiri, egois, tak menghargai orang tua. Entah apa lagi yang harus aku katakan untuk mendeskripsikan kebajikanmu itu," desis Camilia tajam. "Kau bahkan menolak apa yang orang tuamu berikan kepadamu hanya karena alasan malas? Jangan berpikir kau terlihat keren karena itu. Heston Kau terlihat memalukan!
"Aku bahkan tidak terima menganggapmu teman satu sekolah dengan diriku sendiri. Pergilah menjauh, tidak ada yang membutuhkanmu."
Setelah mengatakan itu kepada Carl. Camilia pergi menjauh, meninggalkan semua orang yang masih mantapnya menganga semakin lebar.
Telak, benar-benar ditolak telak. Nix yang biasanya tidak banyak bergerak punt kali ini bergegas mendekat ke arah Carl lalu merangkul pundak pria itu, merasa prihatin atas penolakan tajam Camilia.
"Carl, jangan terlalu dipikirkan. Dia hanya dia..."
Nix kehilangan kata kata, tapi Carl tidak peduli. Dia benar-benar tidak peduli. Tatapannya yang semula menyiratkan ketidakpercayaan, berubah menjadi ganas. Sangat menyeramkan hingga semua orang yang berkumpul di tempat itu bisa merasakan aura menyeramkan dari udara. Semua orang bergidik ngeri.
Ray dan Ethan sekali pun tidak berani menghampiri Carl terlalu dekat. Hanya Nix seorang yang masih berani merangkulnya. Dia benar-benar ajaib.
Carl menggeram keras. "Siapa juga yang memikirkan tentangnya?" bisik Carl mematikan.
"Tunggu 10 tahun," lanjut Carl. "Tunggu aku 10 tahun, Camilia Ramsey. Aku akan menjadi orang terkaya yang akan kau temui. Dan pada saat itu aku akan membuatmu menyesal telah pernah menolakku dalam hidupmu."
"Benar-benar menyesal."
NEW YORK CITY 12.27; TAXI
TianaWiley : Semoga kau diterima di seleksimu, babe. Kau sudah berangkat sekarang?
Senyum Arlett mengembang seraya dia melihat sebuah pesan dari sahabatnya muncul di layar ponselnya.
Tiana Wiley, sahabat Arlett sejak lama sekaligus anak perempuan tunggal perusahaan kaya, Wiley Fashion.
Arlett bahkan bingung mengapa wanita kaya dan glamor seperti Tiana masih mau berbaur dengannya sampai sekarang.
Mereka jelas, berasal dari derajat yang berbeda.
ArlettAverly : I'm on my way. Tolong doakan aku. Dan babe.. itu sangat menjijikkan. Hentikan.
Arlett menekan tombol warna hijau, tanda mengirim di whatsappnya lalu menunggu balasan dari Tiana. Dan tidak lama, balasan itu datang.
TianaWiley : Tentu saja, anytime Dear. Make sure to call me if you have time tonight. Aku ingin membuat kue pandan dan aku ingin kau yang mencobanya paling pertama. P.s : kusangka kau sedang baik hati hari ini ternyata aku salah. Tetap galak saja. Hahahaha.
Arlett tersenyum semakin lebar. Dia kembali mengetik balasannya.
ArlettAverly : Semoga berhasil mengatasi saya.
Dan dengan begitu Arlett menaruh ponsel di sampingnya, di jok taksi. Dia kembali menatap ke arah jendela sembari perlahan demi perlahan muncul dari balik kaca mobil itu, bayangan gedung raksasa Heston Corporation.
Senyumannya yang tadi sudah sedikit mengembang, kembali mengerut. Jantungnya kembali berdegup sangat kencang, menunjukkan seberapa cemasnya Arlett merasa sekarang.
Semuanya terjadi 2 minggu yang lalu Perusahaan raksasa semacam Heston Corporation dengan ajaibnya mengeluarkan sebuah kompetisi mini untuk para fotografer di seluruh penjuru benua Amerika di mana mereka bisa mengunggah foto hasil jepretan mereka di instagram dengan hashtag #HestonPhotoContest dan berpartisipasi dalam perekrutan fotografer profesional Heston Corporation yang nantinya akan digaji dengan jumlah uang yang sangat-sangat banyak.
Dan bagi Arlett, tidak ada dan tidak akan pernah ada kesempatan lebih baik yang bisa didapatkannya untuk menjadi fotografer profesional selain ini. Dan benar saja, dia menang. Bersama dengan pacarnya dan 8 orang terpilih lainnya. Arlett benar-benar tidak percaya ketika instagramnya dimention dalam salah satu instagram story milik Heston Corporation. Bahkan hingga kini, semuanya masih terasa terlalu ajaib.
Karena itulah, di sinilah sekarang dia akhirnya datang ke Heston Corporation Skyscraper untuk mengikuti seleksi terakhirnya. Seleksi final dari 10 fotografer berbakat, untuk menentukan siapa yang pada akhirnya berhak untuk bekerja di perusahaan adidaya ini.
Arlett rasa dia tidak pernah merasa sekhawatir ini seumur hidupnya Khawatir akan dikecewakan oleh dirinya sendiri nanti.
Wanita itu turun dari taksi sesaat kendaraan tumpangannya sampai di lobby utama Heston Corporation. Dan tanpa basa basi, Arlett langsung berjalan ke arah resepsionis sembari membawa tas kameranya yang hari ini terasa sangat berat tanpa sebab.
"Excuse me, ma am!" panggil Arlett sembari menyandarkan tubuh di meja resepsionis. "Saya adalah salah satu pemenang kompetisi pencarian fotografi di instagram. Nama saya Arlett."
Resepsionis itu mengerutkan keningnya. bingung sembari menelaah layar komputernya. "Arlett? Maaf, kami tidak mendapatkan laporan ada pemenang kompetisi bernama itu, Miss."
Arlett meringis pelan menanggapi ketololannya sendiri. Dia bahkan lupa untuk mengucapkan nama aslinya karena degupan keras di jantungnya yang sangat mengganggu. "Pardon me, Qarletta Averly. That's me."
"Oh, Ms. Averly," kata perempuan itu sembari tersenyum lebar. Dia mengambil sebuah name tag dari dalam lacinya lalu memberikan kepada Arlett.
"Tempat seleksi ada di lantai 21 tepat di ujung lorong kanan dari lift. Silakan masuk ke dalam dan tunjukan name tag ini untuk tanda pengenalan. Dan juga, name tag ini bisa berguna jika Anda ingin keluar masuk dari Gedung Heston Skyscraper tanpa harus mengkonfirmasi kepada security di depan. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut silakan hubungi setiap meja administrasi di setiap lantai."
Arlett mengangguk mengerti, lalu mengambil name tag itu dan mengalungkannya di lehernya.
"Thankyou," ucap Arlett seraya tersenyum lebar kepada wanita cantik pirang di hadapannya.
Wanita itu balas tersenyum dan akhirnya membiarkan Arlett pergi menuju ke lift yang dengan sangat kebetulan sedang terbuka. Hanya tersisa tempat untuk satu orang lagi masuk ke dalamnya.
Dengan sigap Arlett langsung memasukkan diri ke dalam lift penuh laki-laki itu sembari memeluk tas kameranya yang berat, erat-erat di depan dadanya. Dia berharap jangka waktu menaiki 21 lantai bisa memenangkan jantungnya sedikit saja. Sedikit saja, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi ternyata, dia keliru Benar-benar keliru.
Karena setelah itu percakapan laki-laki di belakangnya mengusik Arlett.
"Gerah sekali hari ini. Rasanya aku benar benar bisa mati kepanasan," kata seorang laki-laki mengenakan jas, berbicara dari belakang Arlett.
Jantung Arlett tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Benar sekali, cuacanya buruk hari ini," balas temannya yang satu lagi
"Oh tidak, jangan lakukan apa yang kalian akan lakukan!" Batin Arlett.
Pelipis Arlett langsung mengeluarkan keringat bersamaan dengan tangan kedua laki-laki di belakangnya yang terulur memegang dasi mereka.
Arlett memiliki sebuah keunikan yang seumur hidupnya selalu disembunyikannya dari orang lain. Dia tidak tahan melihat dasi yang dikenakan acak-acakan. Sama dengan halnya orang yang langsung merasa jijik ketika melihat orang lain makan dengan mulut terbuka. Begitu pula Arlett yang akan langsung terpancing emosinya sesaat dia melihat ada seseorang yang membuka dasi mereka dan membiarkannya terhuyung sangat buruk rupa di dada mereka.
Benar benar marah hingga rasanya Arlett bisa mengamuk tepat di tempat itu juga.
Dan apa yang dua orang laki-laki di belakangnya sedang lakukan, seratus persen persis dengan apa yang bisa membuat Arlett sangat marah itu.
Keduanya mengangkat tangan mereka hingga ke dada dan dalam sekali gerakan langsung melonggarkan dasinya sebawah sedada dan membiarkannya terhuyung begitu saja dengan sangat-sangat menyebalkan. Arlett harus mengepalkan tangannya kuat-kuat agar dia tidak mengamuk sekarang juga tepat di dalam lift itu juga.
Benar-benar mengamuk.
Tapi tampaknya kesabarannya harus kembali dicoba ketika laki-laki yang berteman di sampingnya, bersamaan juga membuka dasinya dan membiarkannya longgar menghias dadanya. Begitu juga beberapa orang lain di dalam lift itu.
Rasa cemas Arlett tadi hilang sepenuhnya, digantikan dengan kekesalan murni yang mulai merayap memenuhi seluruh nafas dan isi rongga dadanya. Kepalanya terasa panas akan rasa kesal dan geli hingga tangannya mulai berkeringat sangat banyak. Dia benar-benar merasa dicobai, annoyed dan tak terkira marah
Dan sepertinya kesabarannya akhirnya harus berakhir di dalam lift itu juga.
Seorang laki-laki buncit di samping Arlett ikut juga membuka dasinya lalu melorotkannya jatuh hingga ke depan perutnya. Membiarkannya terbuka sampai hampir terlepas dari kalung lehernya. Dia bahkan membuka kancingnya teratas membiarkan dada berbulunya terlihat dari luar dan dia bersendawa. Sangat keras dan berbau sangat busuk.
Arlett tidak pernah merasa sejijik ini seumur hidupnya. Dan kesabarannya berakhir hanya sampai di sana saja.
Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Arlett langsung menekan tombol buka di dalam lift itu dan secepat kilat pergi keluar dari kotak besi pengap itu. Meninggalkan laki-laki yang berada di dalam menatap kepergian Arlett kebingungan sebelum akhirnya lift mereka kembali tertutup dan naik hingga ke lantai atas bersamaan, meninggalkan Arlett yang terdiam kaku di depan lift yang sudah tertutup itu.
Oh Tuhan, aku benar-benar telah hilang kendali!
Arlett menatap ke sana kemari. Sepertinya dia terdampar di sebuah lantai kosong tanpa penghuni. Atau semuanya sedang istirahat makan? Dia tidak tahu. Tapi yang terpenting, Arlett tidak tahu di lantai mana dia berada sekarang.
Arlett menghela nafasnya sangat dalam.
Ayo naik tangga.
NEW YORK CITI 13.08; HESTON SKYSCRAPER 22ND FLOOR
"I really do hope we can get a good result from this new project, Sir," ucap sebuah suara bariton terdengar menggelegar di dalam ruangan kosong itu. Tak ada siapa pun yang menghuni Tentu, selain dirinya sendiri.
Di atas sofa hitam besar, duduklah Carl Heston yang sedang berbicara di telepon dengan salah satu rekan kerja barunya, membicarakan proyek besar mereka yang akan datang sembari meminum sebotol whiskey yang ditaruhnya di atas nakas hitam yang berwarna senada dengan sofanya.
Ruangan itu adalah ruangan pribadi Carl Heston yang dia bangun untuk dirinya sendiri, kalau saja suatu kali dia merasa sangat jenuh berada terus menerus di dalam ruang kerjanya, bekerja sepanjang hari.
Tapi hari ini, bukan karena jenuhlah dia mengunjungi ruang istirahatnya. Dia baru saja menyelesaikan rapatnya di lantai 22 dan dia terlalu malas bergerak untuk kembali pergi sampai ke kantornya di lantai teratas, lantai 61.
Dan beginilah sekarang Carl, berbicara dengan rekan kerjanya sembari bersantai di atas sofa dan berkali kali menggerutu kesal menatap dasi merah yang dibencinya bertengger longgar di atas dada bidangnya.
Dasi itu tidak berdosa, hanya saja Carl ingin menyalahkannya karena dia merasa dası sialan itu selalu membawanya kepada kesialan.
Sebebas itulah orang tampan itu
"Of course, I do too. Thank you for accepting my offer, Sir. I'll be confirming about the further contract on our next meeting," kata seorang laki-laki paruh baya dari seberang telepon, jelas terdengar bangga bisa menjalin kerja sama dengan seorang Carl Heston, salah satu orang terkaya di dunia sekarang ini.
"Thank you. Until next time."
Dan dengan begitu panggilan mereka terputus. Carl mengecek ponselnya terakhir kali dan melihat ratusan bahkan ribuan email atau pesan yang dikirim kepadanya perihal pekerjaan. Itu semua sudah biasa. Tapi apa yang membuat Carl tidak suka adalah ketika dia melihat sebuah pesan tertulis di atas ponselnya dari sekretarisnya mengatakan kepadanya kalau dia masih memiliki jadwal meeting lagi setelah ini.
Tanpa ragu-ragu, Carl langsung menekan sebuah kontak di ponselnya lalu menempelkannya di telinganya sekali lagi. "Ray, di mana kau sekarang? Aku harus menghadiri sebuah meeting penting yang tak aku sukai. Aku tidak akan datang. Ayo pergi minum dengan yang lainnya."
"Crazy as always, Carl. Aku berada di kantor juga. Pas sekali aku sedang menghindari seorang client yang ingin bertemu denganku sejak dua bulan yang lalu," ucap Ray sembari menghela nafas berat.
Carl tidak memiliki pilihan lain selain menggeleng gemas mendengar betapa tidak acuhnya temannya itu. Padahal dia yakin client yang datang mengejar Ray itu adalah seseorang yang sebenarnya sangat penting.
"Let's meet up in the usual bar. Be there in an hour. Bye!"
Carl menatap ponselnya sekali lagi setelah Ray mematikan panggilan teleponnya. Dia tersenyum sekilas sebelum mengambil seluruh barang-barangnya dan bangkit berdiri dan hendak pergi keluar dari ruangan kerjanya.
Tapi sebelum dia bisa menuju pintu, tiba-tiba pintu coklat besar ruang istirahatnya itu terlebih dahulu dibuka oleh seseorang dari luar. Dan dari balik daun pintu muncullah sosok seorang perempuan yang sedang membawa tas kamera besar. Terlihat benar-benar kelelahan seakan telah melakukan maraton 10 kilometer sembari membawa tas berat seperti apa yang dibawanya sekarang.
Dia sangat kelelahan bahkan kepalanya tertunduk ke lantai tanpa memiliki tenaga untuk dinaikkan dan dia harus berhenti sebentar untuk menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Permisi, apakah ini ruangan seleksi fotografi?" tanya wanita itu parau.
Carl menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kau sepertinya keliru, Nona. Seleksi fotografi itu ada di lantai 21 dan kau sekarang sedang berada di lantai 22," kata Carl tersenyum miring.
Carl menganggap Arlett konyol bisa melakukan kesalahan bodoh seperti ini. Dan sebaliknya Arlett mengernyit dahinya tidak suka, menyadari kekeliruannya.
"Kalau kau mau, aku bisa menyuruh salah satu orang di sini untuk mengantarmu sampai lantai 21 sembari membantumu membawa tas besar itu."
Wanita itu menggeleng sekali. "Tidak. Terima kasih, Sir." Arlett berucap sembari membungkuk. "Thank you for the information. Saya pamit."
Dan dengan begitu wanita itu berjalan membalik hendak pergi kembali keluar dari ruangan, tanpa berbasa basi lagi sedikit pun.
Namun sebelumnya, dia memberanikan diri untuk menatap ke arah laki-laki yang baru saja membantunya itu.
Namun betapa kagetnya Carl dibuat ketika perempuan yang terlihat sudah sangat kelelahan itu tiba-tiba membanting tas kameranya ke lantai dan dengan tiba-tiba pula menatap Carl geram.
Dengan langkah cepat dia mendatangi Carl lalu langsung menarik dasi Carl hingga laki-laki itu menunduk, ditarik dibuatnya. Dia menatap Carl tajam dan sebaliknya. Carl menatapnya bingung. Mereka beradu tatap beberapa detik sampai akhirnya wanita itu mulai berbicara.
"Mengapa semua dasi hari ini digunakan dengan acak-acakan dan sangat buruk rupa sehingga aku harus mengalami hari buruk karenanya!?" tanya Arlett kesal.
Dasi!?
Kemudian Arlett membenarkan dası Carl yang longgar dengan kasar sehingga hampir mencekiknya, lalu merapikannya secepat kilat.
"Sir, lain kali kalau kau memang ingin menggunakan dasi di dadamu, tolong gunakannya dengan rapi dan benar! Kalau tidak, tidak perlu dipakai sekalian!"
Carl dibuat tercengang oleh perlakuan tiba-tiba perempuan itu. Dan tanpa aba-aba selanjutnya, dia langsung berjalan menghampiri pintu, mengambil barang-barangnya lalu pergi keluar dari ruangan itu sembari membanting daun pintu di belakangnya dengan keras, meninggalkan Carl yang masih terdiam speechless seorang diri.
Hah?!
Setelah kepergian gadis yang nyasar masuk ke dalam ruangan miliknya membutuhkan Carl masih diam mematung di tempat dengan tatapan matanya menatap kearah pintu tersebut.
Carl benar-benar dibuat bingung oleh sikap perempuan tersebut. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani terang-terangan memberikan nasehat padanya sembari membenarkan dasinya yang memang dia sengaja membuat longgar.
Sementara disisi lain dimana Arlett yang saat ini benar-benar lelah karena menaiki lantai 1 menuju lantai 21 sehingga berakhir tiba di lantai 22. Dan sekarang dia harus kembali turun ke lantai 21 karena dia sudah kelebihan satu lantai dan berakhir salah masuk ruangan.
Hari ini hidupnya benar-benar sial. Bahkan setiap dia melihat laki-laki yang memakai dasi acak-acakan, emosinya langsung naik. Dan dengan keberanian tinggi dia berani memberikan nasehat bahkan memarahi para laki-laki yang tidak memakai dasi dengan benar.
Setelah beberapa menit melampiaskan kekesalannya dengan seseorang yang sama sekali tidak dia kenal membuat Arlett kini sudah tampak baik. Dia berjalan menuju lift. Tujuannya adalah untuk ke lantai 21 tempat seleksi fotografi. Dia harus segera sampai disana.