Episode 1- Maya Bekerja di Kota
Maya Syaqilla.. Gadis kampung yang sangat ramah, humble, suka menolong sesama dan baik hati kini sudah mulai beranjak dewasa. Karena kehidupan di kampung yang serba kekurangan membuatnya nekat ke ibukota untuk mengubah nasib, Maya adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan semua adik-adiknya masih sekolah.
Maya tidak mau terus menerus menjadi beban kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani di lahan orang dengan upah yang tidak seberapa, bisa untuk makan saja mereka bersyukur, maka dari itu tekad Maya sudah sangat kuat dan juga bulat untuk mengubah nasib keluarganya agar lebih baik, kalau bukan dirinya maka siapa lagi? Adik-adiknya masih sangat kecil jika harus diterpa betapa kejamnya dunia.
Selesai makan siang, Maya bergegas mencuci piring dan kembali duduk di tanah yang beralaskan tikar kumuh.
"Bu... Pak… Ada yang mau Maya sampaikan," ucap Maya terlihat serius dan kedua orang tuanya kini fokus dengannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan nduk?" tanya Ibunya yang bernama Tinah.
"Iya kamu mau ngomong apa to nduk kok kelihatannya serius sekali, tumben," ucap Tejo juga penasaran.
"Memang ini hal yang serius, Maya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan sekolah dan Maya ingin bekerja di kota saja, Maya ingin nantinya hidup kita lebih enak," ucap Maya dengan penuh hati-hati.
"APA?? BAPAK GAK SETUJU, KAMU PIKIR HIDUP DI KOTA ITU ENAK? KAMU PIKIR GAMPANG CARI KERJA DI KOTA, HAH?" pekik Tejo menolak.
"Tapi pak.. Maya kasihan sama adik-adik yang setiap hari sering menahan lapar dan tidak bisa seperti anak lainnya, biarkan Maya saja yang merasakan itu semua pak jangan sampai adik-adik Maya merasakannya," ucap Maya memohon.
"BAPAK MASIH MAMPU MEMBIAYAI KALIAN APALAGI UNTUK SEKOLAH, JANGAN SIA-SIAKAN BEASISWA YANG DIBERIKAN OLEH SEKOLAHAN," pekik Tejo tak senang.
"Maya sebenarnya juga ingin sekolah setinggi mungkin, Pak, tapi sayangnya keadaan yang tidak berpihak pada Maya, izinkan Maya bekerja di kota pak," pinta Maya berlinang air mata.
"Kamu mau kerja apa to nduk? Pengalaman juga belum ada nantinya bakal susah untukmu melamar pekerjaan," tanya Tinah sambil berlinang air mata.
"Nanti Maya cari info dulu yang penting Ibu dan Bapak mengizinkan," ucap Maya.
"Orang tua mana yang ikhlas melepas anaknya bekerja jauh di kota orang nduk, berat hati Ibu," ucap Tinah tak rela.
"Maya janji tidak akan mengecewakan kalian," rengek Maya.
"Sekali bapak bilang gak ya gak," bantah Tejo yang langsung bergegas pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bu... Huhuhu kenapa bapak galak sekali sama Maya, apa salah Maya?" tanya Maya menangis.
"Bapakmu cuma gak mau pisah darimu nduk, kamu anak tertua jadinya bapak mana ikhlas membiarkanmu bekerja di kota, lebih baik pikirkan ulang," ucap Tinah memberitahu.
"Maya sudah memikirkannya matang-matang," ucap Maya sangat yakin.
"Itu mungkin pemikiran sesaatmu saja, coba pikirkan kembali, Ibu mau kembali kerja dulu," ucap Tinah lalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Pokoknya aku harus bekerja di kota, mulai hari ini aku harus cari info," gumam Maya menyeka air matanya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya kini Maya mendatangi rumah kerabatnya untuk menanyakan info pekerjaan di kota, namun sayang temannya tidak ada infromasi apapun lantaran mereka masih tetap melanjutkan pendidikan.
"Maaf banget, May, aku gak bisa bantu soalnya aku mau lanjut sekolah," ucap Eka tak enak hati.
"Gak papa kok memang aku aja yang salah karena menanyakan lowongan pekerjaan sama orang yang belum bekerja, maaf sudah ganggu waktunya," ucap Maya sedikit sedih.
"Apa kamu sudah memikirkan matang-matang untuk bekerja di kota? Kamu gak mau gunain beasiswa yang diberikan sekolahan?" tanya Eka.
"Enggak ah, dapat beasiswa juga nantinya aku masih harus membayar beberapa keperluan dan lain-lainnya, malah yang ada semakin membebani orang tuaku, jadi lebih baik aku bekerja saja," ucap Maya optimis.
"Sayang sekali tapi ya apa boleh buat, aku gak bisa membantu lebih, semoga kerja di kota menjadi rezekimu ya May," harap Eka tulus dan Maya mengaminkan lalu pamit pulang.
Kebetulan sekali ada tetangganya yang mendengar kalau Maya mau bekerja di kota, beberapa hari yang lalu saudaranya memberitahu Hartini untuk mencarikan gadis desa yang ingin kerja di kota.
"Maya, sini...." panggil Hartini melambaikan tangan pada Maya.
"Iya, Budhe, ada apa?" tanya Maya sembari berjalan mendekat.
"Katanya kamu butuh pekerjaan di kota ya?" tanya Hartini memastikan.
"Iya, Budhe, Maya memang ingin bekerja di kota," jawab Maya antusias.
"Bagus.. Kebetulan sekali ada saudara saya yang sedang membuka lowongan pekerjaan, apa kamu mau?" tanya Hartini.
"Pekerjaannya apa Budhe?" tanya Maya penasaran.
"Ya maaf, Maya, pekerjaannya itu menjadi pembantu rumah tangga dan saudara Budhe ini membutuhkannya segera, kalau kamu mau nanti Budhe kasih nomornya biar kalian bisa saling ngobrol," ucap Hartini sungkan.
"Gak papa Budhe…. Maya mau jadi pembantu yang penting halal," ucap Maya tanpa pikir panjang.
"Yasudah ini nomornya sudah Budhe catatkan, nanti tolong kamu duluan yang ngabarin ya," pinta Hartini dan Maya hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah itu Maya pulang ke rumahnya dengan hati bahagia karena sebentar lagi ia bisa bekerja di kota dan kehidupan keluarganya akan lebih baik. "Pokoknya aku harus segera mengabari nomor ini dan memberitahu jika aku bersedia, nanti mau gak mau Ibu dan Bapak pasti akan mengizinkan, bukan maksud Maya menjadi anak durhaka namun kalau bukan dari Maya yang mengubah nasib maka siapa lagi? Semoga ini jalanku untuk membahagiakan keluargaku," batin Maya lalu bergegas menghubungi nomor yang diberikan oleh Hartini.
Pada deringan ketiga barulah panggilan Maya dijawab, nada bicaranya terdengar ketus sehingga membuat nyali Maya sempat ciut. "Halo ini siapa ya?" tanya orang itu ketus.
"Astaga apa orang kota itu begini semua? Galak sekali," batin Maya kaget.
"Halo.. Jangan bercanda ya, saya matiin teleponnya," tegur orang itu lalu Maya mau gak mau mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Ha-halo, permisi, apa benar ini dengan bapak Handoko? Perkenalkan pak saya Maya," tanya Maya memastikan.
"Ya betul, Maya siapa ya?" tanya Handoko penasaran.
"Saya Maya, tetangga Ibu Hartini, tadi beliau memberikan nomor telepon ini katanya anda sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai pembantu?" tanya Maya hati-hati.
"Pembantu? haha itu hanya kamuflase saja, aslinya mah lu bakal nikah kontrak sama bos gue," batin Handoko geli.
"Eh iya benar apa kamu bersedia?" tanya Handoko.
"Bersedia pak saya mau," jawab Maya antusias.
"Baiklah kalau begitu 2 hari lagi saya akan menjemputmu, kebetulan jadwal libur saya hari itu, sanggup?" tanya Handoko.
"Secepat itu pak? Baik saya sanggup," jawab Maya mantap.
"Bagus.. Sampai jumpa 2 hari kedepan ya, Maya," ucap Handoko lalu memutus panggilan.
"Ish belum dijawab udah asal matiin aja, emang ya orang kota itu minim etika," gumam Maya terheran-heran lalu meletakkan kembali ponsel jadulnya.
Setidaknya kali ini Handoko bisa bernafas lega karena tugas dari bosnya bisa terselesaikan, mencari pendamping untuk bosnya ternyata tak terlalu sulit.
Di pusat kota yang penuh hiruk pikuk dunia ada salah satu pria yang sangat membatasi dirinya dengan wanita, dia adalah Boy Yudhistira. Pria yang memiliki fisik sangat sempurna dan banyak kaum hawa yang sangat mendambakan dirinya, tak hayal dimana pun dia berada selalu menjadi pusat perhatian. Apapun yang dikenakan olehnya meskipun hanya kaos oblong polos dengan celana jeans panjang, sudah membuat aura ketampanannya terpancar. Apalagi nama dia menjadi salah satu pebisnis muda yang sukses dan masuk top 20 via majalah Forbes, tak hayal para wanita rela merendahkan harga dirinya demi bisa menjadi kekasih Boy.
Sayang sekali mau bagaimana pun mereka menggoda, tak pernah sekali pun dia goyah hingga banyak wanita yang mengeluh jika dia seorang gay, impoten dan berita buruk lainnya. Namun tetap saja dirinya tak ambil pusing berita murahan seperti itu, malah yang ada menjadi terbantu dengan desas desus itu, jadinya para wanita berpikir berulang kali untuk mendekatinya. Aslinya Boy sama saja dengan banyak pria lainnya, terkadang ia juga menginginkan kepuasan namun selalu dipendam karena ada trauma yang sampai sekarang masih membekas dihatinya. Trauma akan menjalin kasih lagi dengan orang lain..
Flashback…
Dulu Boy memiliki kekasih yang bernama Almira, gadis yang cantik, baik, sopan dan rendah hati. Kecantikan alaminya itu yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama, baginya sorot mata Almira meneduhkan jiwanya apalagi senyum menawannya. Akhirnya Boy mendekati Almira dengan berbagai cara hingga akhirnya sang target jatuh dalam pelukannya. Mereka menjalin kasih selama 4 tahun dan semakin hari gaya pacaran mereka sudah diluar batas, karena rayuan maut dari Boy membuat Almira rela melepaskan mahkotanya demi sang pujaan hati.
Setelah mendapatkan semuanya lama kelamaan Boy berubah, paling sering mengabaikan Almira hingga membuat sang kekasih berpikir buruk tentangnya bahkan menduga jika Boy hanya mempermainkan nya saja sampai akhirnya terjadilah pertengkaran hebat.
"Boy, kita perlu bertemu," ucap Almira via chat.
"Ada apa, honey?" balas Boy.
"Nanti tau sendiri, kita bertemu di apartemenku jam 6 sore," balas Almira.
"Ok honey," jawab Boy dengan entengnya.
****
Waktu akhirnya menunjukkan pukul 5 sore dan Boy bergegas menuju apartemen sang kekasih, sebelum berangkat ia merasakan firasat yang tidak enak bahkan perasaannya gelisah, namun segera ia urungkan itu semua. Ia tetap menemui sang kekasih.
-Di apartemen-
"Hai sayang, i miss you," rayu Boy mencium kening Almira.
"Hai, me too," jawab Almira dingin.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu dingin begini denganku?" tanya Boy heran.
"Harusnya aku yang bertanya, setelah mendapatkan semuanya kenapa kamu berubah? Apa ini tujuanmu mendekatiku?" tuduh Almira.
"Apa maksudmu?" tanya Boy tak paham.
"Sudahlah tak perlu lagi pura-pura, aku tahu tujuanmu mendekatiku hanya untuk mempermainkanku saja kan? Kamu berencana untuk menghancurkan aku? Iya kan?" cecar Almira.
"Kamu ngomong apa sih? Kenapa bicara ngawur, mana ada aku mempermainkan apalagi mau menghancurkanmu. Aku sangat menyayangimu," bantah Boy.
"Bullshit.. Ini apa?" tunjuk Almira memperlihatkan foto Boy bersama wanita lain di sebuah bar.
"Ah, foto gini aja kamu permasalahkan, harusnya kamu tau dong memang aku sering ke bar dan untuk ini, kayaknya kamu overthinking deh. Ini kan hanya duduk berdua saja, mana ada aku cium atau sentuh dia? Jangan cari gara-gara," sanggah Boy kesal.
"Apa kamu lupa kalau kamu janji tidak akan datang ke tempat itu lagi? Dan beberapa bulan ini, kenapa kamu selalu menghindari ku? Apa salahku?" tanya Almira meminta penjelasan.
"Aku datang ke tempat itu karena desakan temanku, dia ngadain party disana dan untuk menghindarimu, tidak pernah sekalipun aku berniat menjauh darimu," bantah Boy.
"Kenapa setiap kali aku ingin bertemu selalu saja kamu banyak alasan? Udah bosan denganku?" cecar Almira.
"Kamu makin lama omongannya makin ngawur aja ya, udah deh jujur aja mau kamu tuh apa? daritadi aku muak terus menerus disalahkan," tantang Boy.
"Aku minta kamu jujur, apa kamu sudah bosan denganku?" tanya Almira.
"Yang bosan aku atau kamu? Jangan memutarbalikkan fakta ya, aku selama ini selalu menuruti semua keinginanmu, tapi kamu yang tidak pernah puas akan hal itu," tantang Boy.
"Aku? Kenapa jadi aku sih?" tanya Almira.
"Ya memang kamu.. Selama ini aku selalu diam setiap ada kabar bahwa kamu jalan dengan si ini, itu. Tapi aku selalu percaya denganmu, aku tidak pernah menanyakan itu kan padamu? Kenapa hanya sebuah foto duduk berdua di bar kamu permasalahkan? Kita berpacaran tidak 1 atau 2 bulan loh, kita sudah hampir 4 tahun berpacaran tapi baru kali ini kamu mempermasalahkan hal yang receh, jika dibalik disini siapa yang sudah merasa bosan?" sindir Boy.
"SIAPA YANG MEMBERITAHUMU JIKA AKU JALAN DENGAN PRIA LAIN?" pekik Almira tak terima.
"Tidak perlu tau siapa orangnya yang penting selagi aku tidak melihatnya secara langsung berarti kamu dan dia masih aman," sindir Boy yang membuat Almira bergidik ngeri.
"Siapa nih yang kasih tau ke dia? Astaga bisa mampus gue kalau sampai ketahuan, gue kan belum sepenuhnya menguras habis harta dia," batin Almira gelisah.
"Kenapa? Panik? Gelisah? Bingung mau menjelaskan? Sudah aku katakan jika aku tidak tau secara langsung berarti aman, udahlah rasanya malas banget berdebat kayak anak kecil gini. Aku pamit pulang dulu ya sayang, i love you," pamit Boy tak mau memperpanjang masalah dan pergi.
****
Beberapa bulan kemudian Boy melihat Almira sedang jalan dengan pria di sebuah mall, tanpa pikir panjang ia menghampiri sang kekasih dan menghajar pria yang berani menyentuh Almira secara membabi buta. "Hai, honey.. Siapa dia?" sapa Boy mengejutkan Almira lalu melepaskan pelukan di lengan si cowok itu.
"Dia siapa sayang?" tanya cowok itu bingung.
"Oh ini kesayanganmu yang baru," sindir Boy dan Almira pun gugup.
"Hmm, Boy, I-i-ini," jawab Almira gugup.
"Tumben sekali kamu gugup biasanya lantang kalau menjelaskan, kenapa? Ketangkap basah ya? Dan untuk anda.. Sudah berapa lama menjalin kasih dengan kekasih saya?" sindir Boy dengan muka garangnya.
"Oh ini yang namanya Boy? Kenalin gue Askara dan yang seperti lo lihat, gue kekasih Almira," ucap Askara dengan beraninya dan mengulurkan tangan.
"Bagus," jawab Boy yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi dan langsung menghajar Askara secara membabi buta hingga menimbulkan keramaian di mall, akhirnya Boy serta Askara dibawa oleh sekuriti.
Sejak kejadian itu tak pernah lagi ada kata cinta dan wanita dihidupnya, ia tumbuh menjadi pria yang dingin, kejam, egois. Bahkan sejak kejadian itu pula ia meninggalkan keluarganya dan memilih hidup di Singapura, di sana ia menjadi ketua gengster yang cukup terkenal sehingga banyak yang segan kepadanya. Tak mau terus menerus menjadi pengacau jalanan, dengan modal yang ada ia mendirikan perusahaan sendiri hingga bisa berdiri sukses seperti sekarang ini, meskipun sempat mengalami krisis tapi berkat bantuan temannya ia bisa bangkit kembali. Jasa yang akan diingat selalu oleh Boy kepada temannya yang sudah membantunya tanpa pamrih sedikit pun.
Besok Maya akan berangkat ke ibukota untuk bekerja dan juga mengubah nasib keluarganya, Maya berharap penuh pada pekerjaan ini. Setelah selesai berkemas, kini Maya menemui kedua orang tuanya untuk meminta izin, awalnya sang ayah menolak karena baginya Maya masih terlalu muda untuk merasakan bagaimana kejamnya hidup di ibukota. Namun berkat kegigihan Maya melunakkan hati orang tuanya akhirnya mereka setuju jika anaknya bekerja di kota dengan syarat selalu memberi kabar dan memberitahu alamat tempatnya bekerja.
****
Keesokan paginya Handoko sudah bersiap menjemput Maya.
Rasa sedih menyelimuti hati Tejo dan Tinah ketika melepas sang anak untuk bekerja di kota orang, namun dengan berat hati mereka harus ikhlas demi kelancaran urusan Maya di kota sana.
Sore hari Maya sudah tiba di kediaman sang majikan, ketika turun dari mobil, dirinya dibuat takjub dengan rumah mewah, megah dan luasnya melebihi lapangan sepak bola di kampung halamannya. Maya bengong di depan halaman rumah sang majikan hingga membuat Handoko geram.
"Mayaaaaa," panggil Handoko setengah berteriak.
"Iya, i-Iya, Pak," jawab Maya kaget.
"Ayo cepetan masuk malah bengong disitu," ajak Handoko lalu Maya melangkahkan kakinya masuk ke istana megah sang majikan.
Disana Maya sudah ditunggu kedatangannya oleh Boy yang sedang duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel mahalnya.
"Bos saya sudah membawa Maya," ucap Handoko sembari membungkuk hormat.
Lalu Boy memperhatikan penampilan Maya dari atas sampai bawah, meskipun penampilannya norak tapi fisiknya oke lah. "Siapa namamu?" tanya Boy ketus.
"Nama saya, Maya Syaqilla, Pak," jawab Maya lemah lembut.
"Nama yang bagus. Mulai besok kamu sudah boleh mulai bekerja, biar nanti ketua art yang memberitahu apa saja yang kamu kerjakan," ucap Boy ketus.
"Ba-baik, Pak," jawab Maya gugup.
"Antar dia ke kamarnya biar bebersih dulu setelah itu istirahat," suruh Boy dan Handoko mengangguk mengerti.
"Ayo May ikut saya ke kamarmu," ajak Handoko dan Maya mengangguk.
Setelah kepergian Maya entah kenapa hati Boy terasa sangat sedih, dirinya jadi teringat dengan Almira-wanita yang sudah membuat hatinya terasa mati. Mau disangkal seperti apapun mereka hampir mirip cuma bedanya Maya berpenampilan sederhana layaknya gadis desa. "Kenapa harus dia yang nantinya jadi istri kontrak gue?" gumam Boy gelisah.
Merasa terlalu lama jika menunggu esok hari, akhirnya Boy memanggil Maya ke ruang kerjanya.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu.
"Masuk," jawab Boy dari dalam.
"Permisi, Pak, apa betul anda memanggil saya?" tanya Maya sopan.
"Benar, silahkan duduk," jawab Boy.
"Silahkan tanda tangan ini agar mulai besok kamu bisa langsung bekerja dan nantinya saya sendiri yang akan memantau kinerja kamu," ucap Boy menyerahkan map perjanjian.
"Boleh saya baca dulu pak?" tanya Maya dan Boy mengangguk setuju. Lalu Maya membaca isi perjanjian yang diberikan bosnya secara teliti, di point terakhir, Maya dibuat kaget akan isi perjanjiannya. Maya merasa keberatan dan langsung menanyakan pada bosnya.
"Maaf, Pak, tapi untuk point terkahir saya keberatan," ucap Maya gugup.
"Apa alasannya?" tanya Boy kesal.
"Karena saya disini bekerja sebagai pembantu bukan untuk dijadikan istri kontrak," jawab Maya setengah ketakutan.
"Haha, kamu pikir nantinya saya akan macam-macam denganmu? Tidak akan bahkan menyentuhmu saja saya enggan, sebenarnya kamu ada disini memang untuk menjadi istri kontrak saya, gak lama kok, hanya setahun saja. Kalau bukan desakan dari keluarga, mana mau saya melakukan ini, sama saja kan merendahkan harga diri saya sebagai pewaris tunggal," ucap Boy dengan angkuhnya. Ia merasa kesal karena Maya dengan beraninya menolak permintaannya, karena dalam pikiran Boy nanti dengan membaca isi perjanjian Maya akan patuh dan langsung setuju.
"Tidak, Pak, karena pernikahan itu sakral dan hanya terjadi sekali seumur hidup, saya tidak mau mempermainkan pernikahan, jadi lebih baik bapak mencari wanita lainnya saja," tolak Maya.
"Berani sekali kamu menolak permintaan saya? hanya tanda tangan dan kita akan menikah kontrak minggu depan, setelah itu ikuti semua sandiwara yang saya minta. Hanya itu saja dan saya jamin tidak akan menyentuh atau bahkan tidur seranjang denganmu, apa kamu lupa tujuanmu datang ke kota untuk apa? Kamu ingin mewujudkan itu semua kan? Makanya tanda tangan perjanjian ini dan saya jamin keluarga kamu hidup enak, nyaman dan bahagia," ucap Boy mempengaruhi Maya.
"Tapi, Pak, yang namanya pernikahan itu harus ada wali nikah dan saksi, saya mau kelak ketika menikah ada kedua orang tua saya yang menyaksikannya," ucap Maya dengan polosnya.
"Itu jika terjadi pernikahan sungguhan sedangkan ini kan hanya kontrak, perbulan kamu juga akan mendapat jatah uang dari saya berapa pun yang kamu mau," ucap Boy.
"Berapa pun yang saya mau?" tanya Maya tak percaya.
"Tentu saja tinggal sebutkan saja berapa nominal yang kamu minta dan saya jamin keluargamu juga hidup enak," ucap Boy memprovokasi.
"Maaf, Pak, saya tetap tidak bisa, saya permisi dulu," tolak Maya lalu meninggalkan Boy sendirian di ruang kerja.
"Astaga, susah sekali membuat dia patuh padaku, apa dia gak tergiur dengan harta? Mana ada jaman sekarang wanita yang menolak harta cuma-cuma apalagi ini menikah denganku. Banyak di luar sana yang antre untuk menjadi pasanganku tapi dia? gadis desa yang dengan tegasnya menolak, gi-la, dia membuatku penasaran," batin Boy kesal lalu melempar map ke sembarang arah.
####
Di kamar, Maya tak hentinya menangis ketika mengetahui jika tujuannya bekerja disini bukan untuk menjadi pembantu melainkan dijadikan istri kontrak, benar apa yang dikatakan orang tuanya, jika hidup di kota sungguh kejam, kalau tidak bisa menjaga diri sendiri maka akan hancur.
Lalu tiba-tiba ada telepon dari bapaknya, Maya langsung menyeka air matanya dan mengangkat panggilan. "Halo, Pak?" ucap Maya dengan suara dibuat setenang mungkin.
"Halo, gimana, Nduk? sudah sampai di rumah majikanmu? Gimana majikanmu? Jahat? Kejam atau gimana?" tanya Tejo khawatir.
"Alhamdulillah Maya sudah tiba sore tadi dan majikan Maya menyuruh untuk bersih-bersih badan setelah itu istirahat, ini Maya barusan bangun tidur, jadinya belum sempat mengabari bapak, maafin Maya ya sudah membuat khawatir," ucap Maya berbohong.
"Syukurlah kamu sudah sampai dengan selamat, ada yang mau Bapak omongin, Nduk," ucap Tejo serius.
"Apa itu, Pak?" tanya Maya penasaran.
"Sekarang kamu sudah bekerja di kota jadi bapak minta tolong apakah kamu nantinya bersedia setiap bulan memberikan sedikit gajimu untuk kami dan juga untuk melunasi hutang-hutang bapak?" tanya Tejo dengan hati-hati.
"Sejak kapan bapak punya hutang dan dengan siapa pak?" tanya Maya kaget.
"Sejak lama, itu pun untuk membiayai pendidikan kalian, jadi Bapak terpaksa meminjam pada bang Remon. Tahu sendiri betapa kejamnya kalau belum bisa melunasi hutangnya," ucap Tejo sedih.
"Astaga, kenapa meminjam sama Bang Remon? Kalau gak ada uang lebih baik bilang gak ada daripada meminjam pada rentenir itu, memang berapa hutang Bapak semuanya?" tanya Maya geram.
"Bapak juga terpaksa meminjam uang padanya kalau bukan mendesak, jika sama bunga hutangnya menjadi 30 juta bahkan Bang Remon memberi waktu dalam satu bulan harus lunas, tadi dia ke sini ketika mendengar kabar bahwa kamu sekarang bekerja di kota, pikirnya nanti kamu bakal memiliki gaji yang besar," ucap Tejo merasa bersalah.
"Sudahlah, masalah Bang Remon biar Maya yang urus asalkan setelah ini janji jangan lagi punya hutang padanya atau sama siapapun," tegur Maya.
"Iya Bapak janji ini pertama dan terakhir kalinya, maafin Bapak sudah menjadi beban untukmu," ucap Tejo sedih.
"Jangan terlalu dipikirkan, mungkin memang ini sudah takdirnya, semoga dalam sebulan Maya bisa mendapatkan uang sebanyak itu, bos Maya baik orangnya semoga dia bisa meminjamkan Maya uang," ucap Maya yang di aminkan oleh Tejo lalu panggilan mereka putus.
Setelah panggilan terputus, Maya merasa pusing lataran harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang terbilang singkat, bahkan Maya juga sadar diri jika dirinya baru memulai bekerja besok, mana mungkin majikannya mau meminjamkan meskipun nantinya per bulan dipotong gaji.
"Apa aku harus menyetujui pernikahan kontrak itu ya? Pak Bos bilang bakal mengabulkan berapapun nominal uang yang aku mau," batin Maya bimbang.