Bab 1

KAUM TERKAHIR

1. Pembantaian

"Aku tidak pernah mengirimkan wabah penyakit itu!"

Seorang laki-laki dengan wajah tegas itu menatap tajam kerumunan orang yang mengelilinginya. Kabut hitam sudah sejak tadi menyelimuti tubuhnya. Walau begitu wajah tampannya tidak bisa dipungkiri. Bahkan, banyak dari wanita bangsawan diam-diam mengagumi sosok laki-laki itu. Ya, hanya diam-diam, sebab mereka masih memiliki akal untuk mendekati raja dari kaum kegelapan itu.

"Bohong! Pasti semua ini karena ulahmu!"

"Ya benar! Kaum kegelapan seperti kalian terlalu tamak! Jadi mungkin saja ini salah satu siasatmu untuk menguasai seluruh dunia!"

Teriakkan itu langsung disambut pekikan penuh kesetujuan dari banyak orang yang menghadiri tempat lapang itu. Membuat sang laki-laki yang kini dirantai itu menggeram marah. Kabut hitam yang menyelimutinya semakin tebal.

"Hapus semua kaum kegelapan!"

"Bunuh mereka semua!"

Sraannggg!

Brug!

Raja kegelapan itu semakin menggeram marah ketika melihat salah satu rakyatnya dipegal di hadapannya. Bahkan, rakyatnya tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Giginya terdengar bergelatuk, amarahnya kini berada di puncaknya.

Dengan sekali tarikan tangannya, rantai yang sejak tadi mengikat tubuhnya terlepas. Tindakannya berhasil membuat semua atensi mengarah kepadanya. Tatapan takut kini dia dapatkan, tidak ada lagi cacian atau bahkan hinaan untuknya dan kaumnya. Semuanya seketika hening. Melihat itu membuat sang raja tersenyum miring.

"Aku Regan Dinuka Azaquel, selaku Raja Kegelapan dengan ini memberikan izin kepada kalian kaumku untuk mengeluarkan seluruh kekuatan kalian menghabisi mereka semua yang telah menghina kita!"

Seruan lantang itu seakan menjadi penyemangat bagi mereka yang sejak tadi tertunduk takluk dengan rantai yang mengikat di tubuh mereka. Suara rantai putus dari berbagai sisi membuat mereka yang sejak tadi berseru menginginkan kematian dari salah satu kaum itu panik. Terlebih ketika sang raja kegelapan mulai mengeluarkan sayap besar hitamnya. Kedua tangan kanannya terulur ke atas, membuat langit yang semula cerah menjadi gelap. Petir seketika menyambar saling bersahutan.

"Habisi mereka semua!"

Hanya dengan sekali perintah, maka peperangan besar itu terjadi. Peperangan antar kaum tidak bisa terelakkan. Kaum kegelapan melawan kaum lain dari dunia immortal.

***

Dua belas tahun telah berlalu, semenjak peperangan besar itu terjadi. Kini semuanya tampak damai. Para kaum berlalu-lalang, saling menyapa bahkan tertawa bersama. Terlihat begitu menenangkan.

Tetapi, berbeda dengan seorang gadis yang terkurung di salah satu istana milik raja dari segala raja kaum. Gadis itu hanya mampu melihat dari jendela kamarnya, menatap datar orang-orang yang berlalu-lalang di bawahnya. Tatapannya begitu tajam menghunus. Siapa saja yang beradu tatap dengannya akan terasa terimindasi.

Begitu pula dengan dua orang pengawal yang kini memasuki kamar gadis itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Keduanya dengan serempak menunduk, setelah sampai di belakang gadis itu beberapa meter. Padahal, gadis itu belum membalikkan tubuhnya sama sekali.

"Nona, Yang Mulia Lord memanggil Anda," ucap salah satu di antara keduanya.

Tanpa menjawab sama sekali, gadis itu berbalik dan langsung melangkah keluar kamar yang langsung diikuti oleh dua pengawal tadi. Dagunya terangkat, tatapannya lurus ke depan. Langkahnya terdengar tegas, hingga suara hels hitam yang berwarna senada dengan gaunnya itu terdengar jelas mengetuk lantai marmer yang dingin.

Semua maid dan pengawal yang dia lewati seketika menunduk, bahkan banyak yang menahan mati-matian tubuh mereka agar tidak gemetar karena aura yang dimiliki gadis itu. Tetapi, rupanya semua itu tidak membuatnya terganggu. Dia terus melangkah menuju ke pintu gerbang besar berwarna emas dengan ukiran sepasang sayap, di mana di balik pintu itu sudah duduk seseorang yang paling disegani di dunia immortal ini.

"Putri Kyana memasuki ruangan!"

Teriakkan lantang dari seorang prajurit yang berdiri di samping pintu besar itu menjadi aba-aba untuk pintu besar itu terbuka, mempersilahkan sang gadis untuk masuk. Dengan mantap, gadis itu terus melangkah menuju ke tengah aula. Tidak terimindasi sedikit pun oleh tatapan para petinggi kerajaan lain yang rupanya telah berkumpul di sana.

Dengan anggun sang gadis bernama Kyana itu membungkuk, memberi hormat kepada raja dari segala raja yang duduk di hadapannya. Setelahnya dia kembali menegakkan tubuhnya, menatap datar sang raja yang umurnya tidak terpaut jauh darinya.

"Ada apa Yang Mulia Lord memanggil saya?" Pertanyaan sang gadis membuat para petinggi kerajaan bangkit secara bersamaan.

"Koreksi kembali kalimatmu, Putri Kyana!" Salah satu petinggi memperingati sang gadis. Tetapi rupanya tidak dihiraukan sama sekali oleh sang gadis.

Mengetahui suasana yang mulai menegang Sang Lord mengangkat tangan kanannya, memberi titah agar para petinggi kembali duduk di bangku mereka masing-masing dengan tenang.

"Aku memanggilmu ke mari untuk memberitahukan kepadamu bahwa kau mulai sekarang akan dikembalikan ke kerajaanmu." Suara Sang Lord membuat sang gadis terdiam.

"Mengingat usiamu sudah memenuhi syarat untuk memegang kerajaanmu sendiri," lanjut Sang Lord.

"Cih, untuk apa aku kembali ke kerajaan jika rakyat pun tidak kumiliki setelah pembantaian yang kalian lakukan terhadap kaumku?"

"Lancang sekali kau!"

Suasana semakin memanas. Bisik-bisik cacian mulai terdengar di telinga gadis itu. Walau begitu, dia masih bersikap santai. Dia bahkan menatap penuh benci raja dari segala raja di hadapannya.

"Pembantaian itu tidak akan terjadi jika ayahmu mengakui tindakan kejahatannya!"

Brak!

Seorang petinggi yang baru saja mengucapkan kalimat tadi tiba-tiba saja terpental hingga menabrak dinding dengan begitu kuat. Semua orang yang ada di ruangan itu seketika memasang posisi siaga. Bahkan, banyak dari mereka yang mulai mengaktifkan kekuatan mereka.

"Putri Kyana apa yang kau lakukan?" Walau begitu Sang Lord masih duduk tenang di singgasananya.

"Hanya sedikit memberi pelajaran untuk si peludah, Yang Mulia," jawab Kyana datar.

"Kau!"

Mendengar jawaban dari gadis itu, petinggi kerajaan yang menjadi korban tindakan Kyana menggeram marah. Bahkan, sudah mulai mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang gadis itu. Tetapi, dengan santai sang putri menghindar tanpa menoleh sedikit pun dari laki-laki paruh baya berjenggot putih itu.

"Hentikan, Menteri George," titah Sang Lord membuat petinggi itu kembali duduk di bangkunya dengan wajah tertekuk. Sedangkan sang gadis tersenyum miring, merasa menang.

Sang Lord tiba-tiba saja berdiri dari duduknya, membuat mereka semua seketika ikut berdiri. Dengan menatap tajam gadis di hadapannya, dia berucap, "Dengan ini kuperintahkan kau Putri Kyana Azaquel untuk kembali ke kerajaanmu mulai sekarang!"

Bab 2

KAUM TERAKHIR

2. Dua Pengawal Setia

Seorang gadis dengan gaun hitamnya itu menatap datar bangunan istana yang berdiri kokoh di hadapannya. Tiga pasang sayap di punggungnya seketika hilang ketika kedua kakinya telah menginjak tanah. Ada pancaran kerinduan dan juga kesedihan di manik hitam legam gadis itu. Bayangan masa lalu, membuatnya diam-diam mengepalkan kedua tangannya.

"Nona."

Hingga suara itu membuatnya berbalik. Ditatapnya dua orang laki-laki dengan pakaian lengkap prajuritnya. Kedua laki-laki itu setia menunduk membuat sang gadis menghela napas panjang. Kyana tidak mengerti mengapa dua pengawal pribadinya itu memilih tinggal bersama dengannya dan memutuskan kontrak dengan sang raja dari segala raja hanya demi dirinya. Bahkan jika dipikir-pikir dirinya tidak sebanding dengan Sang Lord yang kekuatannya jauh lebih tinggi darinya. Maka dari itu, Kyana berpikir ada yang salah dengan otak dua laki-laki di hadapannya sekarang.

"Kembalilah ke istana sang lord," ucap Kyana datar.

"Tidak, Nona kami telah bersumpah menjaga Nona sampai akhir hayat kami."

Mendengar jawaban itu membuat Kyana kembali mengingat kejadian di mana dua laki-laki itu dengan lantang mengucap janji mereka di hadapan para petinggi dan sang lord sendiri. Mereka juga dengan suka rela mencabut kedudukan mereka di istana sang lord hanya demi setia bersamanya.

"Tidak seharusnya kalian melakukan ini," ucap Kyana kembali. Walau begitu dia tidak bisa mengusir keduanya. Dia masih memiliki sedikit hati nurani untuk membalas jasa dan kesetiaan mereka.

Karena itu, Kyana kini melangkah mendekati keduanya. Mengarahkan kedua tangannya di atas kepala dua laki-laki itu yang tanpa diperintah langsung melipat salah satu kaki mereka, lalu menundukkan kepala. Setelah menarik napas dalam-dalam, Kyana mulai berucap lantang.

"Aku Kyana Azaquel, dengan ini mengangkat kalian Archeros dan Orxphulus sebagai pegawai setiaku!"

Cahaya terang bersinar dari dua telapak tangan sang gadis. Sebelum akhirnya menyinari pucuk kepala dua laki-laki yang masih setia menunduk. Semakin lama, cahaya itu semakin menjalar, membungkus dua laki-laki itu. Setelahnya tidak lama kemudian sepasang sayap terbentuk di punggung dua laki-laki itu. Bersamaan dengan berubahnya penampilan mereka yang sesungguhnya.

Archeros–laki-laki itu kini memakai pakaian resminya. Pakaian berwarna putih dengan hiasan bulu-bulu serigala putih itu terlihat gagah di tubuhnya. Ditambah dengan manik matanya yang berubah menjadi hijau kekuningan, dengan dua buah telinga serigalanya bergerak ke sana-kemari dengan begitu imut membuat siapa saja tahu bahwa dialah sang serigala putih satu-satunya yang perkasa.

Sedangkan Orxphulus, kini dia memakai pakaian resminya yang berwarna merah ke oranye-annya. Di punggung pakaiannya terdapat gambar harimau berwarna merah keemasan. Telinga harimau dengan manik emas itu terlihat begitu memukau. Dialah sang harimau emas yang selalu dicari-cari semua kaum karena kekuatannya.

"Hormat kami yang, Mulia Ratu!" Keduanya dengan serempak langsung menunduk, memberi hormat kepada sang gadis yang kini tersenyum tipis.

"Bangunlah." Perintah Kyana yang langsung dituruti kedua pengawal setianya. Dengan tersenyum tipis dia kembali menjawab, "Ayo masuk."

Orxphulus dan Archeros dengan serempak menghilangkan sepasang sayap baru mereka. Keduanya langsung mengekor di belakang Kyana. Menjaga gadis itu dari belakang.

***

"Oi! Oi! Archeros lihatlah aku! Aku sudah bisa terbang!"

Seruan dari Orxphulus membuat Archeros yang sejak tadi tidak kunjung bisa mengepakkan kedua sayap barunya dengan benar mendongak. Melihat sang teman yang sudah berhasil terbang dengan lancar. Tetapi, tidak lama kemudian tubuh Orxphulus goyah dan berakhir tersungkur dengan tidak elitnya di taman belakang istana. Membuat Archeros yang semula berdecak kagum kini tertawa terbahak-bahak menertawakan nasib sang teman.

Orxphulus yang ditertawakan memasang wajah kesalnya. Wajah tampannya begitu kotor oleh tanah. Bahkan, sayap coklatnya juga sudah terhiasi ranting dan daun-daun kering yang menyangkut di sana.

Sedangkan Kyana, gadis itu hanya mengawasi dua pengawal pribadinya itu dari balkon kamarnya. Dia memang menyuruh mereka untuk berlatih menggunakan sayap baru mereka. Tidak jarang, gadis itu dibuat geli dengan ulah konyol dua pengawalnya.

"Diamlah! Jangan tertawakan aku, Arc!" ketus Orxphulus membuat Archeros mati-matian menahan tawanya.

Setelah merasa puas melihat kedua pengawalnya, Kyana memilih untuk kembali ke dalam kamarnya. Tatapannya tertuju ke arah figura besar di mana terdapat foto sang ayah. Melihat wajah ayahnya, membuatnya teringat kejadian dua belas tahun silam. Di mana di depan matanya sendiri, sang ayah terbunuh dengan begitu sadisnya.

"Akui kesalahanmu, Raja Regan maka aku akan memberikan peringanan terhadap hukumanmu," ucap laki-laki dengan mahkota kebesarannya di kepalanya.

"Cuih! Aku tidak sudi mengakui tindakan yang bahkan bukan kesalahanku sama sekali!" Balasan dari Raja Regan membuat laki-laki bermahkota itu menggeram marah.

"Bunuh dia Lord!"

"Ya bunuh saja dia!"

Seruan dari rakyatnya membuat sang lord semakin tersulut emosi. Terlebih ketika salah satu raja di hadapannya itu dengan berani meludahi dirinya.

"Sujudlah kepadaku maka akan kuampuni tindakanmu tadi terhadapku, Raja Regan!" Teriakkan sang lord membuat Raja Regan berdecih.

"Orang sepertimu tidak pantas menjadi lord di dunia ini!"

"Hukum pancung dia!"

Perintah mutlak sang lord membuat para prajurit yang ada di sana dengan segera menarik tubuh Raja Regan yang telah bersimbah darah itu ke tempat pancung yang telah disiapkan. Para kaum yang melihat itu dengan segera berseru semangat. Tidak sabar menanti adegan hukuman mati raja kegelapan itu.

Tubuh Raja Regan didorong paksa dengan posisi lehernya yang telah berada di tengah-tengah kayu. Di atas kepalanya dengan ketinggian sekitar sepuluh meter, sebuah mata pisau besar terlihat mengkilap ketika terkena sinar mentari. Terlihat begitu tajam. Hanya sekali lepasan anak tali yang mengikatnya, sudah dipastikan kepala sang korban akan terpotong dari lehernya.

Walau begitu, Raja Regan terlihat datar. Netranya menatap tajam orang-orang yang kini menatapnya remeh. Tidak ada raut ketakutan di sana. Hanya ada amarah yang begitu membara.

"Apa ada kalimat terakhir, Raja Regan?" Pertanyaan Sang Lord membuat Raja Regan menatap tajam laki-laki itu.

"Aku akan membalas dendam semua perbuatan kalian! Mati kalian semua!"

Crasshh!

"Ayah!"

Kyana memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya telah mengepal kuat, hingga kuku-kukunya menjadi berwarna putih. Mengingat kejadian itu berhasil membuat emosinya tersulut.

Pintu ruang kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar, membuat gadis itu kembali mendatarkan wajahnya. Dengan tegas dia berucap, "Masuk!"

Orxphulus datang dan langsung menunduk, memberi hormat. "Yang Mulia, Putri Queem datang ke mari," lapornya membuat Kyana mendengus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia berjalan keluar. Menemui tamu tidak diundangnya. Kenapa putri vampir itu bisa mengetahui dengan begitu cepat jika dirinya telah dikembalikan ke mari?

Bab 3

KAUM TERAKHIR

3. Hubungan Terlarang

"Ada tamu tak diundang rupanya."

Celetukkan Kyana yang tengah menuruni anak tangga langsung mendapat tatapan tajam gadis cantik yang sejak tadi terlihat mengamati beberapa barang antik di hadapannya. Gadis itu terlihat berdecak pelan, tetapi tak urung dia tetap mendekat ke kaum kegelapan satu-satunya itu.

"Aku merindukanmu, Kakak," ucapnya seraya memeluk tubuh Kyana yang baru saja menginjak lantai dasar.

Kyana hanya berdehem pelan. Setelah pelukan keduanya terurai, diamatinya sosok gadis di depannya. Kulit putih pucat dengan sorot mata tajam. Yang menjadi ciri khasnya adalah surai hitamnya yang panjang dengan ujung rambutnya yang berwarna kemerahan.

Dialah Queem Annelida Xylium–putri mahkota Kerajaan Vampir. Dia juga merupakan saudara tiri Kyana. Walau begitu hubungan keduanya sangat baik dan dekat. Bahkan, tidak jarang Queem menginap di Kerajaan Kegelapan jika dilanda bosan. Hingga kejadian pembantaian kaum kegelapan yang dilakukan beberapa tahun silam, membuat keduanya harus terpisah.

Kyana yang berada di istana sang lord, membuat keduanya hanya bisa bertemu sesaat, itu pun harus diam-diam. Jika sampai ada orang yang mengetahui Kyana keluar dari istana sang lord, sudah dipastikan dia akan diserang oleh kaum lain yang masih keberatan akan keputusan sang lord baru mereka. Di mana sang lord memutuskan untuk membebaskan dirinya dari kematian.

"Apakah lord baru kita memperlakukanmu dengan baik?" tanya Queem. Gadis itu juga menuntun sang kakak untuk duduk di salah satu kursi di ruang itu.

Kyana mengedikkan bahunya. Setelah mengambil sebuah apel merah di hadapannya dia menjawab, "Aku bahkan hampir tidak pernah bertemu dengannya."

Queem menganggukkan kepalanya pelan. Diliriknya kakak tirinya yang tengah memakan buah apel dengan ragu-ragu. Tetapi setelah melihat tatapan tajam sang kakak membuat Queem mengembuskan napas panjang. Dia tahu, dia tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu kepada kakaknya itu. Sebab, Kyana memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain dengan menatap manik mata seseorang.

"Sebenarnya, Kak ... aku sudah menemukan mate-ku." Karena itu Queem memutuskan untuk segera memberitahukannya.

Kyana yang mendengar itu menaikkan satu alisnya. Lalu mengangguk pelan. "Oh baguslah."

"Dia seorang werewolf."

Uhuk!

Kyana seketika tersedak. Buah apel yang baru sedikit dia gigit itu menggelinding bebas di lantai marmer yang dingin. Dengan tajam ditatapnya Queem yang juga menatapnya.

"Kau ingin memulai genderang perang, Queem?!"

Nada Kyana meninggi. Dia terkejut akan fakta ini. Terlalu lama dia terpisah dengan Queem, membuatnya tertinggal mengenai informasi adik tirinya itu. Kerutan di dahi Kyana tercetak jelas, menandakan dia tengah berpikir keras.

Sejak dahulu kaum werewolf dan vampir dilarang memiliki hubungan. Bahkan, kedua kaum itu sering terjadi bentrok, mencoba menyerang satu sama lain. Entah apa yang membuat kedua kaum itu tidak memiliki hubungan yang baik. Pasti salah satu nenek moyang keduanya telah melakukan kesalahan pada zaman dulu.

"Mungkin kau salah orang," ucap Kyana mencoba menolak fakta itu.

Bagaimana pun juga, adiknya telah cukup mendapatkan noda hitam hanya karena keberadaannya. Walaupun Queem adalah calon sang ratu Kerajaan Vampir, banyak dari para warga bahkan bangsawan yang diam-diam mencibirnya di belakang.

Karena itu, Kyana tidak mau adiknya itu terkena imbas lagi dengan hubungannya dengan salah satu werewolf. Entah apa yang sedang dewa dan dewi rencanakan sekarang.

Queem terdiam sesaat. Dengan frustasi dia menatap kakak tirinya itu dengan tatapan lelah. Dia berucap, "Tidak. Bahkan mate-ku pun sudah mengetahuinya juga."

"Lalu, bagaimana dengan reaksi mate-mu?" tanya Kyana serius.

Dengan lemas Queem menjawab, "Dia bahkan begitu bahagia ketika mengetahui aku'lah mate-nya."

Hening. Dengan tersenyum kecut dia kembali melanjutkan, "Dia bahkan sudah memberitahukan bunda mengenai hal ini. Kau tahu, Kak apa yang membuatku semakin frustasi?"

Kyana terdiam. Entah mengapa perasaannya semakin tidak karuan.

"Bunda tidak mempermasalahkan hal itu. Dia bahkan mendukungnya, sebab mate-ku sendiri tidak lain adalah Pangeran Nathan."

Sinting!

***

Setelah mendengar kabar mengenai mate sang adik, membuat Kyana gegas menuju ke Kerajaan Werewolf. Walau ia yakin bahwa kehadirannya tidak akan disambut baik oleh mereka. Atau bahkan sebelum dia memasuki halaman istana dia akan diusir dengan tidak sopannya. Karena itu, Kyana memilih mengawasi sejenak kawasan Kerajaan Werewolf yang terlihat begitu tenang.

Tiga pasang sayap hitamnya mengepal pelan. Di belakang kanan dan kirinya, Orxphulus dan Archeros turut mengepakkan sayap mereka. Kyana tersenyum miring ketika melihat sosok yang dia cari-cari tengah berada di lapang berlatih pedang dengan beberapa prajuritnya.

Tanpa berpikir panjang, Kyana segera menukik–terbang turun–menuju ke sang pangeran. Sang pangeran seketika menghentikan pedangnya ketika mendapati tamu tak diundang. Para prajurit di sana yang mengetahui kehadiran dari satu-satunya kaum kegelapan pun menggeram pelan, memasang posisi siaga.

"Tidak seharusnya Yang Mulia Ratu Kegelapan datang ke sini," ucap sang pangeran dengan nada sinis. "Anda bisa lihat banyak serigala lapar di sini bukan?" sambungnya seraya menatap rendah ke arah Kyana.

Sedangkan Kyana hanya menatap ke sekeliling dengan santai. Dia tahu kebanyakan dari para prajurit Kerajaan telah setengah mengganti shift dengan wolf mereka, terlihat dari manik mata mereka yang telah berubah.

"Aku hanya ingin bertanya sesuatu, Pangeran," kata Kyana langsung ke intinya.

"Siapa mate-mu?"

"Itu bukan urusanmu, Ratu Kyana." Pangeran Nathan menjawab tidak suka. "Kau tidak memiliki hak atas itu," lanjutnya.

"Jika itu berhubungan dengan adikku, aku memiliki hak atas itu," balas Kyana santai.

Sang pangeran mendengus keras. Dengan malas dia menjawab, "Jika Anda sudah mengetahuinya mengapa Anda masih bertanya?"

"Anda menjadikan diri Anda sendiri terlihat bodoh, Ratu," ujar Pangeran Nathan dengan kekehannya. Kyana tidak terpancing akan sindiran tajam itu. Dia masih berdiri dengan anggun.

"Jauhi Queem."

Kalimat itu berhasil membuat tawa sang pangeran seketika surut. Tatapan tajam Pangeran Nathan langsung Kyana dapatkan. Bahkan, laki-laki itu mulai menggeram. Ah, rupanya telah berganti shift dengan wolf-nya.

"Dia adalah mate-ku. Tidak ada satu pun orang yang akan memisahkanku dengannya, termasuk kau, Kyana!"

Ouh, rupanya wolf pangeran tidak memiliki tata krama. Kyana mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap tajam sang pangeran.

"Anda ingin memulai peperangan antarkaum, Pangeran?" tanyanya tegas.

"Jika itu menyangkut mate-ku! Apapun akan aku lakukan tidak peduli dengan perang!" geram sang pangeran. Tetapi setelahnya, ekspresi sang pangeran melembut. Dengan tersenyum pongah dia kembali berkata, "Bahkan Yang Mulia Ratu Vampir telah merestui hubungan kami."

Mendengar itu membuat Kyana mengepalkan kedua tangannya. Walau begitu dia mencoba tetap tenang. Kepalan tangannya kembali mengendur. Dengan tersenyum tipis, dia menatap dingin sang pangeran.

"Bagaimana dengan kutukan–"

"Kutukan? Persetan! Hahaha lucu jika Anda–Yang Mulia Ratu Kegelapan takut akan kutukan? Cih!" potong sang pangeran.

"Lancang!"

Orxphulus dan Archeros yang sejak tadi diam, menatap tajam para prajurit yang menatap lapar ratu mereka berteriak bersamaan. Menegur kalimat sang pangeran werewolf yang menurut mereka tidak sopan. Padahal sudah jelas-jelas bahwa kedudukan sang pangeran lebih rendah dari ratu mereka.

"Ouh maaf tapi saya mengatakannya dengan sengaja." Sang pangeran menjawab santai.

Membuat kedua pengawal Kyana maju siap menerjang sang pangeran. Untungnya dengan sigap Kyana memberi perintah kepada kedua pengawalnya untuk tetap tenang. Membuat sang pangeran tersenyum miring ke arah Orxphulus dan Archeros yang menatap nyalang ke arahnya.

"Jika Anda ingin tahu Pangeran ...." Tatapan sang pangeran kembali bergerak menatap Kyana.

"Saya Kyana Azaquel selaku Ratu dari Kerajaan Kegelapan sekaligus kakak tiri Putri Queem tidak akan pernah merestui kalian!" ucapnya lantang.

Berhasil membuat sang pangeran dengan segera mengarahkan pedang yang sejak tadi dia genggam ke arah leher Kyana. Melihat itu para prajurit werewolf pun semakin merengsek maju, siap menyerang jika mendapat aba-aba dari sang pangeran.

Orxphulus dan Archeros yang melihat tindakan sang pangeran pun sontak memunculkan pedang mereka masing-masing dan mengarahkannya ke sisi kanan dan kiri leher sang pangeran. Mendapati tindakan tiba-tiba dari sang pangeran, tidak membuat Kyana merasa terancam dia malah terkekeh pelan.

"Sebaiknya kau turunkan pedangmu, sebelum lehermu terlepas dari tubuhmu."

Pangeran Nathan menggertakkan giginya. Dengan kesal dia kembali menarik pedangnya, membuat kedua pedang yang juga mengunci lehernya menjauh darinya. Melihat itu senyum sinis Kyana tercipta. Setelahnya, dia kembali memunculkan ketiga pasang sayap hitamnya. Diikuti oleh Orxphulus dan Archeros di sampingnya.

"Jika kau lupa, Pangeran. Kedudukan kaummu bahkan jauh di bawahku. Jadi, hanya untuk membumihanguskan kaummu itu sangat mudah bagiku," ucapnya dengan tersenyum miring. Sebelum akhirnya melesat terbang diikuti oleh kedua pengawalnya. Meninggalkan sang pangeran yang menggeram keras.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED