Pagi itu, angin yang berhembus lewat celah jendela kantor Lysandro terasa menusuk kulit. Rasanya seperti sebuah pertanda, sebuah pertanda bahwa hidupnya yang sempurna akan segera berantakan. Dia duduk di kursi kulit hitam, matanya menatap kosong ke layar laptop di depannya, namun pikirannya tidak pernah sepi. Semuanya bermula dari satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Satu malam yang mengubah segalanya.
Lysandro Evander Wicaksana, pria muda dengan segudang prestasi dan karisma yang tak terbantahkan, memegangi ponselnya. Ada pesan dari Callista yang sudah ia lihat berulang kali, namun tak kunjung dia buka. Isi pesan itu tak pernah berubah, meski sudah berhari-hari berlalu. Dan setiap kali ia membaca pesan itu, perasaan dalam dirinya semakin runcing, semakin tak terkendali.
"Aku hamil, Lys. Ini anakmu."
Dua kalimat sederhana itu, yang seharusnya tidak memberi dampak apa-apa, telah menelusup dalam pikirannya seperti racun yang perlahan merusak segala yang pernah ia percayai. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana bisa sahabat yang sudah ia kenal sejak kecil, yang selalu menjadi tempat perlindungannya, kini menjadi bagian dari masalah terbesar dalam hidupnya?
Lysandro mendesah berat. Pikirannya kembali terbang ke malam itu-malam yang seharusnya hanya menjadi pelarian sesaat dari tekanan hidup. Callista, sahabatnya, tampak rapuh, cemas, dan putus asa. Mata besar Callista yang biasanya penuh ketegasan kini terlihat kosong, penuh keraguan, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang dalam dirinya. Dia butuh kenyamanan, dia butuh seseorang untuk menggenggam tangannya, dan Lysandro-sebagai sahabat, sebagai pria yang telah mengenalnya lebih dari siapa pun-merasa itu adalah tanggung jawabnya. Tapi entah bagaimana, malam itu berakhir dengan mereka terjebak dalam situasi yang tidak bisa mereka kendalikan.
Setelah kejadian itu, perasaan Lysandro bercampur aduk. Ada rasa bersalah yang menggerogoti, tetapi ada pula keinginan untuk melarikan diri dari konsekuensi yang harus ia tanggung. Kini, dia dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa dipungkiri: Callista hamil. Dan itu anaknya.
Satu-satunya alasan Lysandro bisa tenang saat itu adalah karena dia masih memiliki Elowen, kekasihnya yang selalu mendampinginya dalam setiap langkah besar hidupnya. Elowen yang sempurna, Elowen yang tak pernah mempertanyakan keputusannya, Elowen yang akan segera menjadi istrinya. Dia tak bisa membiarkan semua ini mengacaukan rencana besar hidupnya, bukan? Dia harus menjaga semua yang telah ia bangun.
Namun, saat Callista menolak untuk menggugurkan kandungannya, Lysandro terperangkap dalam dilema yang semakin menyesakkan. Callista berkeras mempertahankan anak itu, dan di saat yang sama, ia juga berniat meninggalkan hidup Lysandro. "Aku akan pergi, Lys. Aku tidak ingin mengganggu hidupmu," kata Callista dalam sebuah pertemuan yang mereka adakan di sebuah kafe sepi, wajahnya penuh keteguhan yang bahkan tidak bisa dipatahkan oleh kata-kata apapun.
Tetapi sesuatu dalam dirinya-sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa bersalah-mendorong Lysandro untuk berubah. Dia tidak bisa membiarkan Callista pergi begitu saja. Dia tidak bisa membiarkan sahabat yang telah tumbuh bersama dengannya, yang telah berbagi begitu banyak kenangan, kini hanya pergi tanpa ada tanggung jawab darinya. Tidak, dia tidak bisa.
Lysandro tahu, untuk menebus semuanya, satu-satunya cara adalah menikahi Callista. Mungkin ini keputusan yang salah, tetapi tak ada pilihan lain. Namun, ada satu syarat: pernikahan ini harus tetap menjadi rahasia. Elowen tidak boleh tahu, dan dunia luar tidak boleh tahu tentang bayi yang akan lahir ini. Itu adalah harga yang harus dibayar.
Lysandro menghubungi Callista, dan dalam percakapan yang penuh ketegangan itu, dia menyampaikan tawarannya. "Aku akan menikahimu, Callista. Tapi hanya jika ini tetap menjadi rahasia. Elowen tidak boleh tahu. Kita hanya akan melanjutkan hidup seperti biasa. Kita akan melakukannya demi bayi ini."
Callista terdiam cukup lama sebelum akhirnya suara lembutnya terdengar. "Kamu yakin? Ini tidak akan mudah, Lys. Semua ini bukan hanya tentang kita berdua. Ini tentang hidup yang sedang tumbuh di dalam diriku."
"Aku tahu," jawab Lysandro dengan suara berat. "Tapi ini yang terbaik untuk semua orang."
Pernikahan mereka yang diam-diam direncanakan itu adalah langkah pertama menuju sebuah kehidupan yang lebih rumit dari yang bisa mereka bayangkan. Mereka memutuskan untuk menikah tanpa kebahagiaan, hanya berdasarkan kewajiban, dan dengan beban yang semakin hari semakin terasa berat di hati masing-masing. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman selamat datang, hanya ada tatapan kosong yang menggambarkan perasaan yang tak tersampaikan.
Callista tahu apa yang ia hadapi. Menikahi pria yang telah lama dianggapnya sahabat bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika dia tahu bahwa Lysandro masih memiliki Elowen dalam hidupnya-perempuan yang seolah menjadi segala-galanya dalam dunia Lysandro, yang selalu mendampinginya, yang selalu ada dalam setiap perencanaan masa depannya. Tetapi, Callista juga tahu bahwa ia tidak bisa mundur. Ini adalah tanggung jawab yang tak bisa ia hindari, dan ia harus menghadapinya.
Di hari pernikahan mereka yang sederhana dan penuh rahasia itu, Lysandro berdiri di altar, mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat seperti pria dengan segudang rahasia. Callista, di sisi lain, mengenakan gaun putih sederhana yang justru terasa begitu membelenggu. Ketika mereka saling memandang, tidak ada senyum yang tersungging di wajah mereka, hanya ada keraguan yang tak terucap.
Setelah menikah, kehidupan mereka berubah dalam diam. Mereka tinggal di rumah yang berbeda, berusaha untuk saling menghindar di setiap kesempatan, tetapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengikat mereka lebih kuat dari sekadar ikatan pernikahan. Setiap kali Lysandro melihat Callista, ada rasa bersalah yang tak bisa dia lepaskan. Setiap kali Callista melihat Lysandro, ada rasa cemas dan ketakutan akan masa depan yang belum pasti.
Dan ketika kehidupan mereka berlanjut, mereka tahu bahwa ini bukanlah akhir dari cerita mereka. Ini baru saja dimulai.
Hari-hari setelah pernikahan itu terasa seperti perjalanan yang penuh dengan kebohongan dan penyangkalan. Lysandro dan Callista hidup di bawah satu atap yang terpisah oleh lebih banyak hal daripada sekadar dinding fisik. Meski pernikahan mereka sah di mata hukum, di dalam hati mereka masing-masing, semuanya terasa hampa. Mereka berdua dipaksa untuk berjalan bersama di jalan yang penuh dengan ketegangan, rahasia, dan sebuah kenyataan yang semakin tak terelakkan.
Lysandro tidak pernah berhenti berpikir tentang Elowen. Perempuan itu selalu ada dalam setiap pertimbangannya, dalam setiap langkahnya. Hati Lysandro terasa terbelah, dan meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan terbaik, rasa cemas itu tidak pernah pergi. Bagaimana bisa ia menjalani hidup dengan dua orang yang sangat berbeda? Satu yang sudah lama ia cintai, dan satu lagi yang kini menjadi ibu dari anaknya-dan bahkan lebih dari itu, sahabatnya yang ia khianati. Callista adalah bagian dari hidupnya yang sangat penting, tapi bagaimana bisa ia mengabaikan perasaan dan masa depannya bersama Elowen?
Di sisi lain, Callista semakin merasa terperangkap dalam dunia yang tidak pernah ia pilih. Ia tidak menginginkan pernikahan ini, dan ia tidak menginginkan kehidupan yang penuh dengan kebohongan ini. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Menjauhkan diri dari Lysandro adalah hal yang tidak mungkin, setidaknya untuk saat ini. Ketika ia memandang perutnya yang semakin membesar, ia tahu bahwa ada kehidupan yang sedang berkembang di dalam dirinya. Anak ini, meski lahir dari ketidaksengajaan, akan menjadi bagian dari hidupnya-dan mungkin, hanya mungkin, juga bagian dari hidup Lysandro. Tetapi, bagaimana bisa ia percaya bahwa pria yang ia kenal begitu baik, yang ia anggap sahabat sejati, bisa benar-benar bertanggung jawab atas hidup mereka?
Callista mengingat dengan jelas percakapan mereka beberapa hari setelah pernikahan itu. Saat itu, Lysandro duduk di ruang tamu dengan wajah muram, matanya tidak bisa berpaling dari layar ponselnya. "Aku tidak tahu bagaimana kita akan melewati ini," kata Lysandro dengan nada serupa kekalahan. "Aku... aku tak tahu bagaimana aku akan menghadapi Elowen."
Callista menatapnya dengan dingin, merasa hatinya tercekat. "Kamu tidak perlu menghadapi siapa pun, Lysandro. Ini bukan hanya tentang Elowen. Ini tentang kita. Dan tentang anak ini." Dia menyentuh perutnya dengan tangan yang gemetar, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.
Lysandro mendongak, tatapannya penuh dengan kebingungannya. "Kita tidak bisa terus seperti ini, Callista. Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan selamanya."
"Jadi apa yang kamu ingin lakukan?" tanya Callista, suaranya tajam. "Kamu ingin mengungkapkan semuanya ke dunia? Mengungkapkan bahwa kita menikah karena sebuah kesalahan?"
Lysandro terdiam. Ia tahu bahwa membuka segalanya akan menghancurkan banyak hal-terutama hubungan dengan Elowen. Tetapi dia juga tahu bahwa hidup dalam kebohongan tidak bisa bertahan selamanya.
Hari-hari berlalu dengan lambat, penuh dengan ketegangan yang tak bisa dihindari. Setiap kali Lysandro berada di rumah, ia selalu mencoba untuk menghindari pertemuan dengan Callista. Mereka berbicara sesedikit mungkin, dan jika mereka berbicara, itu hanya tentang hal-hal yang tidak mengandung emosi. Mereka berdua merasa seperti orang asing, meski kenyataannya mereka sudah terikat lebih dalam dari yang mereka inginkan.
Namun, satu hal yang tak bisa dihindari adalah ketegangan yang kian meningkat antara mereka. Ada saat-saat di mana mereka tidak bisa menahan rasa frustrasi mereka terhadap satu sama lain. Dan di situlah segalanya mulai terasa lebih rumit.
Pada suatu malam yang gelap, saat hujan turun deras di luar, Lysandro pulang ke rumah setelah seharian penuh pertemuan bisnis yang membuatnya lelah. Ia membuka pintu rumah, dan di ruang tamu, ia melihat Callista sedang duduk di sofa, wajahnya terbenam dalam tumpukan buku yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Callista mengangkat wajahnya saat mendengar pintu terbuka, tetapi tidak ada senyum yang terbit dari bibirnya. Hanya ada kelelahan yang terlihat jelas di matanya.
"Kamu tahu, aku merasa semakin jauh dari semua ini," kata Callista, suara serak, meski ia berusaha terdengar tenang.
Lysandro menatapnya dengan ragu. "Aku tahu, Callista. Aku juga merasa itu." Dia menghela napas, seolah mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kebingungannya. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku... aku merasa terjebak."
"Terjebak?" Callista tertawa pahit. "Kamu merasa terjebak, Lysandro? Kita berdua terjebak dalam hidup ini. Aku terjebak dalam pernikahan ini, dan kamu terjebak dalam kebohongan ini. Dan kamu tahu yang paling ironis? Kita berdua tahu bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik."
Lysandro merasa hatinya terkoyak. Apa yang seharusnya ia katakan? Tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan mereka. Tidak ada cara untuk mengembalikan semua yang sudah hancur.
"Callista..." Lysandro mendekat, berusaha meraih tangannya. "Aku tahu ini tidak mudah. Aku tidak pernah berniat membuat semuanya menjadi seperti ini. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara keluar dari sini."
"Tak ada yang bisa keluar dari sini, Lys. Tidak ada jalan yang mudah." Callista menarik tangannya, matanya penuh dengan keputusasaan yang tak terucapkan.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan suara gemerisik, dan Elowen muncul di ambang pintu, matanya terbelalak ketika melihat kedua orang itu berdiri sangat dekat, dalam keheningan yang tak bisa dijelaskan.
Hati Lysandro berdebar, dan sesaat dia merasa dunia berhenti berputar. Apakah ini akhirnya akan berakhir?
Elowen berdiri tegak di ambang pintu, matanya menelusuri kedua sosok yang tampak sangat terperangkap dalam situasi yang tak bisa dijelaskan. Dia belum sepenuhnya masuk ke dalam ruangan, tetapi cukup dekat untuk melihat ketegangan yang tergambar jelas di wajah Lysandro dan Callista. Untuk sesaat, suasana itu terdiam, hanya terdengar detak jantung Lysandro yang semakin cepat, berdegup keras seolah ingin memecah kesunyian yang menekan.
"Elowen," kata Lysandro dengan suara serak, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayapi dirinya. "Aku... aku tidak tahu kalau kamu pulang."
Elowen menatap Lysandro sejenak, kemudian melirik ke arah Callista, yang kini berdiri dengan tangan terlipat di dada, seolah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, sebelum Elowen sempat mengatakan sesuatu, matanya menatap ke arah perut Callista yang mulai membesar, dan dalam sekejap, semua pertanyaan yang membayang di benaknya terjawab dengan sangat jelas. Hatinya yang semula tenang kini dihantam oleh badai pertanyaan dan rasa tak percaya.
"Callista... kamu... hamil?" suara Elowen terlepas, rendah dan terputus-putus. Dia menelan ludah, seolah kata-kata itu terlalu sulit untuk diucapkan.
Callista, yang sejak tadi berdiri dengan kesunyian, mengangguk pelan. "Ya, Elowen. Aku hamil... dan ini anak Lysandro."
Lysandro menatap Callista dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Keheningan itu semakin memadat, seperti sebuah ketegangan yang tak terucapkan, mengalir di udara dan membuat setiap detik terasa begitu panjang. Semua yang telah ia sembunyikan, yang telah ia pertahankan, kini terbuka begitu saja di hadapan Elowen, dan dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Elowen, yang masih berdiri di tempatnya, tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Hatinya terasa hancur, terbelah, dan segala yang ia percayai dalam hubungan mereka kini menguap begitu saja. Keterkejutan yang ia rasakan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ini adalah kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan, sebuah kenyataan yang jauh lebih pahit daripada apapun yang pernah ia bayangkan.
"Jadi ini alasan kenapa kamu selalu menjauh dariku, Lysandro?" suara Elowen bergetar, namun di balik getaran itu, ada kekuatan yang mulai tumbuh. "Ini semua alasan kenapa kita selalu berjarak? Karena kamu sudah memutuskan untuk... untuk berbohong padaku?" Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa lebih berat, lebih tajam, seperti pisau yang menembus ke dalam hati Lysandro.
Lysandro merasa seperti seluruh dunia tiba-tiba runtuh di atas kepalanya. Elowen tidak hanya kecewa, dia terluka. Dan dia, sebagai lelaki yang seharusnya melindunginya, telah gagal besar. "Elowen, aku-"
"Jangan katakan itu," Elowen memotong, suaranya lebih keras, lebih dingin. "Jangan katakan apapun lagi, Lysandro. Aku sudah cukup mendengar semua kebohonganmu. Aku sudah cukup mendengar alasan yang kau buat untuk dirimu sendiri. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa aku berdiri di sini, menyaksikan perselingkuhan ini."
Lysandro terdiam. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan. Setiap kalimat yang ingin dia sampaikan terasa sia-sia, tak berarti lagi. Dia tahu, apapun yang dia katakan, itu takkan mengubah apapun. Elowen sudah mengetahui segalanya.
Callista berdiri lebih dekat, memperhatikan perubahan emosi yang melanda Elowen, dan meskipun hatinya ingin memberi penjelasan, dia tahu bahwa saat ini, semuanya sudah terlambat. "Elowen," Callista akhirnya membuka suara, mencoba untuk menenangkan suasana. "Ini bukan salah Lysandro. Semua ini terjadi karena kami berdua... karena aku. Aku yang memutuskan untuk melanjutkan semuanya, aku yang memilih untuk mempertahankan anak ini."
"Dan kamu pikir itu membuat semuanya lebih baik?" Elowen berbalik menatap Callista dengan tatapan tajam yang penuh dengan kebingungannya. "Tidak ada yang bisa membuat semuanya lebih baik. Tidak ada yang bisa memperbaiki betapa rusaknya hubungan kita."
Lysandro menyaksikan semuanya dengan hati yang semakin hancur. Setiap kata dari Elowen seperti tamparan yang mengingatkannya pada semua kesalahannya. Dia tahu bahwa dia tidak bisa membenarkan apapun, tetapi yang lebih menyesakkan adalah kenyataan bahwa dia telah mengkhianati orang yang paling dia sayangi. Dan Callista, meski tidak sepenuhnya salah, menjadi bagian dari kekacauan yang ia ciptakan.
"Elowen, aku tahu ini tidak mudah. Aku tidak ingin ini terjadi seperti ini," Lysandro berkata pelan, matanya tak bisa berpaling dari wajah Elowen yang terluka. "Aku ingin semuanya berbeda. Aku tidak ingin kehilanganmu."
"Dan sekarang apa?" tanya Elowen, suaranya tenggelam dalam keputusasaan. "Apa yang kamu inginkan? Apa yang bisa kita lakukan setelah semuanya ini?"
Callista mengamati pertukaran antara mereka berdua dengan hati yang berat. Dia tahu, tidak ada jalan keluar yang mudah. Dan meskipun ia tahu bahwa ini adalah konsekuensi dari keputusan yang ia ambil, hatinya tetap tak bisa menghindari rasa sesal. Ini bukanlah kehidupan yang ia harapkan, tetapi ini adalah kenyataan yang harus dia hadapi.
"Elowen," Callista berkata dengan hati-hati, "Aku tidak ingin menjadi penghalang antara kalian. Aku tahu kamu sangat mencintainya, dan aku tidak ingin merusak semuanya."
"Tapi kamu sudah merusaknya," Elowen menyahut tanpa ragu. "Kamu sudah merusaknya, Callista. Kamu sudah merusak semuanya. Kamu tahu itu, kan?"
Ketegangan itu semakin memuncak, seolah tidak ada lagi ruang untuk berdamai. Lysandro terjebak di tengah, tak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana mengakhiri percakapan yang semakin menghancurkan segalanya.
Namun, ketika semuanya seolah akan berakhir dengan pertengkaran tanpa ujung, sesuatu yang tak terduga terjadi. Elowen menundukkan kepalanya, menarik napas panjang, lalu melangkah menuju pintu.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku percayai, Lysandro," katanya dengan suara serak. "Tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Tidak dengan semua kebohongan ini. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya." Tanpa menunggu jawaban apapun, Elowen melangkah pergi, meninggalkan Lysandro dan Callista di dalam kesunyian yang berat.
Lysandro hanya bisa berdiri diam, terperangkap dalam kebingungannya sendiri, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Segalanya mulai terasa semakin jauh dari jangkauan, dan mungkin, kali ini, dia tidak bisa lagi memperbaikinya.