Bab 1

Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang biasa, seperti ratusan pagi sebelumnya dalam empat tahun pernikahannya dengan Dimas Satria. Matahari merayap masuk melalui tirai jendela kamar utama, membiaskan cahaya keemasan di atas seprai sutra. Aroma kopi hitam yang baru diseduh mulai menguar dari dapur, disusul bisikan lembut dari siaran berita pagi yang biasa menjadi pengiring sarapan mereka. Bagi Putri Wijaya, wanita 27 tahun yang menawan dengan senyum selalu merekah di bibirnya, kehidupan ini adalah kanvas yang dilukis dengan warna-warna kebahagiaan.

Putri adalah definisi keindahan yang anggun dan kecerdasan yang memukau. Dengan rambut hitam panjangnya yang selalu tergerai indah, kulit seputih pualam, dan mata cokelat gelap yang memancarkan kehangatan, ia sering kali menjadi pusat perhatian tanpa harus berusaha. Namun, lebih dari sekadar fisik, Putri dikenal karena hatinya yang lembut, empatinya yang dalam, dan kecerdasannya yang terasah. Ia seorang arsitek muda yang sedang meniti karier di salah satu firma desain terkemuka di Jakarta, pekerjaan yang ia cintai dan kuasai dengan sepenuh hati. Setiap detail, setiap garis, setiap konsep yang ia tuangkan di atas kertas adalah cerminan dari ketelitian dan passion-nya.

Suaminya, Dimas Satria, adalah kebanggaan dan cinta sejatinya. Seorang pria gagah dengan postur atletis, rahang tegas, dan tatapan mata yang tajam namun penuh kehangatan saat memandang Putri. Dimas adalah CEO muda yang sukses memimpin sebuah perusahaan teknologi swasta yang sedang berkembang pesat. Sejak mereka bertemu di sebuah seminar bisnis lima tahun lalu, Putri sudah tahu bahwa Dimas adalah belahan jiwanya. Ada koneksi instan, percikan yang tak terbantahkan, dan janji-janji masa depan yang terukir dalam setiap tatapan dan sentuhan mereka. Cinta mereka mekar dengan indah, berujung pada sebuah pernikahan impian yang diadakan di tepi pantai, disaksikan oleh orang-orang terkasih.

Empat tahun pernikahan telah mereka jalani dengan tawa, canda, dan dukungan tak terbatas. Dimas adalah suami yang ideal di mata Putri dan orang-orang di sekitar mereka. Ia romantis, selalu mengingat tanggal-tanggal penting, tak pernah lupa membawakan bunga mawar merah setiap pulang kerja, dan selalu menyempatkan diri untuk makan malam berdua di tengah jadwalnya yang padat. Ia adalah pendengar yang baik, selalu ada di sisi Putri saat ia menghadapi kesulitan, dan tak pernah ragu memberikan pujian atas setiap pencapaian Putri. Mereka adalah pasangan sempurna, cemburu sosial bagi banyak teman dan kerabat. Rumah mereka di kawasan elit Jakarta Selatan adalah istana kecil yang penuh kehangatan, menjadi saksi bisu setiap ciuman pagi, pelukan hangat, dan bisikan cinta di malam hari.

Namun, kebahagiaan yang telah mereka rajut dengan begitu hati-hati itu, yang Putri yakini sekuat karang dan setenang laut, ternyata tidak seindah dan sesempurna yang ia harapkan. Bahtera rumah tangga mereka yang kokoh kini diterjang badai hebat, badai yang muncul tiba-tiba dari arah yang tak pernah Putri duga.

Pagi itu, yang seharusnya biasa, tiba-tiba berubah menjadi neraka. Putri sedang menyelesaikan sarapannya-roti panggang dengan selai stroberi kesukaannya-sambil sesekali melirik Dimas yang sedang sibuk dengan laptopnya di meja makan. Ia tersenyum tipis melihat Dimas yang begitu fokus, betapa beruntungnya ia memiliki suami yang begitu pekerja keras dan berdedikasi. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika ponselnya bergetar di samping piring. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Lisa, teman kuliahnya yang kini bekerja di kota yang berbeda.

"Putri, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja," begitu bunyi pesan pembuka Lisa. Nada pesan itu sudah terasa aneh, sedikit tegang, tidak seperti Lisa yang biasanya ceria. Putri mengerutkan kening, menggeser layar untuk membaca pesan selanjutnya.

"Aku minta maaf sebelumnya karena harus mengirimkan ini, tapi aku merasa ini penting. Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahumu, Put..."

Hati Putri mulai berdebar tak karuan. Ada firasat buruk yang merayapi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dimas sempat melirik, "Ada apa, Sayang? Kelihatannya tegang sekali."

Putri hanya tersenyum tipis, menggeleng, "Bukan apa-apa, mungkin cuma masalah pekerjaan." Ia berbohong, padahal ia tahu ada yang tidak beres.

Kemudian, pesan selanjutnya muncul. Sebuah tautan video dan beberapa foto. Putri menelan ludah, jarinya gemetar saat ia menekan tautan video itu. Layar ponselnya menampilkan adegan yang langsung membekukan darahnya, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Sebuah pernikahan. Bukan pernikahan biasa. Pernikahan yang sangat mewah, dengan dekorasi megah, bunga-bunga indah, dan kerumunan tamu yang bersuka cita. Dan di tengah keramaian itu, berdiri dua sosok yang sangat Putri kenal.

Sosok pria gagah dengan setelan jas pengantin putih bersih, tersenyum lebar, memancarkan aura kebahagiaan yang tak tertahankan. Itu Dimas. Suaminya. Dimas Satria.

Di sampingnya, dengan gaun pengantin menjuntai anggun, adalah seorang wanita yang juga tersenyum bahagia, memegang lengan Dimas dengan mesra. Rambut panjangnya terurai indah, riasan wajahnya sempurna, dan matanya memancarkan binar kebahagiaan yang sama. Wanita itu adalah Rina, adik sepupu Putri, yang selama ini Putri anggap seperti adiknya sendiri. Rina, yang sering datang ke rumah mereka, makan malam bersama, dan bahkan kadang menginap. Rina, yang Putri kenalkan pada Dimas di sebuah acara keluarga setahun yang lalu.

Dunia Putri seolah runtuh dalam sekejap. Suara tawa Dimas di video itu, suara janji pernikahan yang diucapkan dengan mantap, suara riuh tepuk tangan para tamu, semuanya berputar-putar di kepalanya, bercampur menjadi satu simfoni kehancuran yang memekakkan telinga. Ia mencoba bernapas, tapi rasanya paru-parunya tak mau bekerja. Tangannya gemetar hebat, ponsel nyaris terlepas dari genggamannya.

"Tidak... tidak mungkin," bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokannya. Ia memutar video itu lagi, hanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah melihat. Tapi tidak, setiap adegan, setiap senyuman, setiap sentuhan mesra antara Dimas dan Rina adalah kenyataan yang mengerikan. Ada adegan di mana Dimas mengecup kening Rina dengan penuh kasih sayang, seperti yang sering ia lakukan pada Putri. Ada adegan mereka berpegangan tangan saat memotong kue pernikahan, tangan yang sama yang selalu menggenggam tangan Putri dengan janji kesetiaan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Putri, lalu mengalir deras membasahi pipinya. Satu tetes, lalu dua, dan akhirnya menjadi aliran tak terbendung. Ia tak lagi peduli pada Dimas yang kini menatapnya dengan heran. Ia tak lagi peduli pada sarapan yang dingin di depannya. Yang ada hanyalah rasa sakit yang luar biasa, seolah ada pedang tajam yang menembus jantungnya, merobek setiap sel hatinya.

"Putri, kamu kenapa? Ada apa?" Suara Dimas kini terdengar khawatir, ia sudah berdiri di samping Putri, mencoba memegang bahunya.

Putri menepis tangan Dimas, tatapannya kosong, tertuju pada layar ponsel yang masih memutar adegan pernikahan itu. Ia tak bisa bicara. Lidahnya kelu. Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama dipenuhi ribuan pertanyaan yang menjerit.

Bagaimana ini bisa terjadi? Kapan? Mengapa?

Ia mengingat kembali setiap detail interaksinya dengan Rina selama setahun terakhir. Rina sering berkunjung, terkadang dengan alasan "mampir saja", terkadang "kebetulan lewat". Putri tidak pernah curiga. Rina adalah gadis manis, polos, dan selalu ceria. Mereka sering berbagi cerita, bahkan Rina pernah meminta saran Putri tentang hubungannya dengan seorang pria yang sedang ia dekati-sebuah kebohongan yang kini terasa sangat menyakitkan. Putri bahkan pernah memuji Dimas di depan Rina, mengatakan betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Dimas. Dan Rina, dengan senyum manisnya, hanya mengiyakan.

Kilasan memori lain datang. Dimas yang belakangan ini sering pulang terlambat dengan alasan pekerjaan menumpuk. Dimas yang seringkali menerima panggilan telepon rahasia di luar kamar. Dimas yang terkadang bersikap lebih dingin, lalu tiba-tiba kembali menjadi romantis berlebihan, seolah ingin menutupi sesuatu. Putri selalu percaya. Ia selalu memaafkan setiap keterlambatan, setiap alasan, karena ia sangat mencintai Dimas. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik semua itu, ada pengkhianatan yang begitu kejam.

Dan Rina. Rina. Sosok yang selama ini ia anggap seperti adiknya sendiri. Mereka tumbuh besar bersama, berbagi rahasia masa remaja, bahkan Putri pernah membela Rina saat ia dimarahi orang tuanya. Putri tidak pernah membayangkan bahwa "adiknya" sendiri akan menjadi duri dalam dagingnya, merobek kebahagiaannya dengan begitu keji.

Video itu terus berputar, dan setiap kali ia melihat senyum Dimas dan Rina, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Pengkhianatan ini bukan hanya datang dari suaminya, tapi juga dari keluarganya sendiri. Rasa dibohongi, ditipu, dan dikhianati membuncah dalam dirinya, bercampur aduk dengan kesedihan yang tak terhingga.

Dimas kini mencoba meraih ponsel Putri, mungkin sudah menyadari apa yang sedang ia lihat. "Putri, itu tidak seperti yang kamu pikirkan! Biar aku jelaskan..."

Namun, Putri sudah terlalu hancur untuk mendengarkan. Ia menjauhkan ponselnya dari Dimas, tatapannya kini bukan lagi kosong, melainkan penuh amarah dan kepedihan yang mendalam. Matanya yang biasanya hangat kini berkilat tajam, menatap Dimas dengan tatapan yang belum pernah Dimas lihat sebelumnya. Tatapan seorang wanita yang hatinya telah hancur berkeping-keping.

"Kenapa, Dimas? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?" Suara Putri pecah, air mata mengalir semakin deras. Ia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Isakan pilu mulai keluar dari bibirnya yang bergetar.

Dimas mencoba mendekat lagi, wajahnya pucat pasi. "Putri, Sayang... Dengarkan aku dulu."

"Dengarkan apa?!" Putri berteriak, suaranya serak karena tangis. Ia bangkit dari kursi, menjauh dari Dimas. "Apa yang harus kudengar? Penjelasan tentang pernikahan kedua yang kau lakukan di belakangku? Dengan Rina?! Adik sepupuku sendiri?!"

Ia menunjuk layar ponselnya dengan jari gemetar, memperlihatkan video itu pada Dimas. Dimas terdiam, tak bisa berkata-kata. Wajahnya menunjukkan campuran rasa bersalah, panik, dan ketakutan.

"Aku tidak percaya ini. Ini pasti mimpi buruk. Ini tidak mungkin terjadi." Putri menggelengkan kepala berulang kali, mencoba menyangkal kenyataan yang begitu pahit di depan matanya. "Bagaimana kau bisa, Dimas? Setelah semua yang kita lalui? Setelah semua janji yang kau ucapkan padaku?"

Ia teringat janji Dimas di hari pernikahan mereka, janji untuk setia sehidup semati, janji untuk selalu ada untuknya, janji untuk tidak pernah menyakitinya. Semua janji itu kini terasa seperti kebohongan manis yang menghancurkan.

Dan Rina. Oh, Rina. Sosok yang selalu ia sayangi. Sosok yang pernah ia peluk saat Rina menangis karena nilai ujian yang buruk. Sosok yang pernah ia belikan hadiah ulang tahun istimewa. Mengapa Rina tega? Mengapa ia menikam Putri dari belakang, dengan pisau yang paling tajam-mengambil suaminya?

"Kenapa Ayu..?? Apa salahku hingga kamu tega merebut suamiku?" Bisikan itu keluar dari bibir Putri, meskipun ia telah mengganti nama Ayu menjadi Rina dalam pikirannya, rasa sakitnya tetap sama. Rasa dikhianati oleh orang terdekat.

Putri tak bisa lagi berdiri tegak. Lututnya lemas. Ia merosot ke lantai, ponsel masih tergenggam erat di tangannya. Air matanya terus mengalir, tak peduli berapa banyak yang ia coba seka. Tangisan itu kini berubah menjadi isakan pilu, jeritan hati yang hancur. Rumah yang tadinya adalah surga baginya, kini terasa seperti neraka yang dingin dan sepi, meskipun Dimas masih berdiri beberapa langkah di depannya. Kehadiran Dimas kini hanya menambah rasa sakit dan jijik.

Pernikahan harmonis yang ia banggakan, kebahagiaan yang ia rasakan setiap hari, semua itu hanyalah fatamorgana. Sebuah ilusi yang indah, yang kini pecah berkeping-keping di depan matanya, meninggalkan luka yang menganga lebar di hatinya. Putri tidak tahu bagaimana ia akan melewati ini. Dunia yang ia kenal telah lenyap. Dan ia, Putri Wijaya, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, cinta sejatinya, adalah seorang pengkhianat. Dan pengkhianat itu berselingkuh dengan adik sepupunya sendiri.

Bab 2

Suara isakan Putri semakin keras, memenuhi keheningan pagi yang kelam di ruang makan mereka. Ponselnya tergeletak di lantai, layarnya masih menyala, menampilkan potret kebahagiaan palsu Dimas dan Rina. Setiap jengkal ruangan yang dulu terasa hangat dan penuh cinta, kini seolah mencekik, dipenuhi aura pengkhianatan yang dingin. Putri tidak bisa bernapas. Paru-parunya terasa sesak, seolah ada beban ribuan ton menindih dadanya.

Dimas, yang selama ini selalu ia pandang dengan penuh kekaguman, kini berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, matanya penuh kepanikan. Ia mencoba mendekat, tangannya terulur seolah ingin membantu Putri bangkit, namun Putri menepisnya dengan kekuatan yang mengejutkan. Kekuatan yang muncul dari rasa sakit, marah, dan jijik yang mendalam.

"Jangan sentuh aku!" suara Putri bergetar, nyaris tak dikenali. Ia merangkak mundur, menjauhi Dimas seolah pria itu adalah wabah penyakit. "Bagaimana bisa kau melakukan ini, Dimas? Bagaimana? Aku... aku istri sahmu! Aku... aku mencintaimu lebih dari segalanya!"

Dimas akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar serak. "Putri, tolong dengarkan penjelasanku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku... aku bisa jelaskan semuanya."

"Jelaskan apa?! Apa yang bisa kau jelaskan dari video itu?! Dari pernikahan itu?!" Putri menunjuk ponselnya yang tergeletak di lantai. "Apakah kau akan bilang itu hanya akting? Sebuah lelucon? Kau pikir aku sebodoh itu, Dimas?!"

Air mata terus membanjiri wajah Putri, bercampur dengan make-up tipis yang ia kenakan pagi itu. Pemandangan Dimas yang selama ini ia puja, kini terlihat menjijikkan di matanya. Rasa cinta yang selama ini memenuhi setiap pori-pori tubuhnya, kini berubah menjadi kebencian yang membara.

Kilasan memori tentang bagaimana Rina masuk ke dalam hidup mereka kembali berputar di benak Putri, menambah rasa sakit yang tiada tara. Rina Adinda Putri. Putri mengingat dengan jelas saat pertama kali ia mengenalkan Rina kepada Dimas. Itu sekitar setahun yang lalu, di acara ulang tahun pernikahan kakek dan nenek mereka. Rina, yang setahun lebih muda dari Putri, baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Putri, sebagai sepupu tertua yang paling dekat dengan Rina, merasa bertanggung jawab untuk membimbingnya.

"Dimas, kenalkan ini Rina, adik sepupuku. Rina, ini suamiku, Dimas," kenang Putri saat ia tersenyum lebar, memperkenalkan dua orang yang paling penting dalam hidupnya.

Rina saat itu terlihat sedikit canggung, namun senyum manisnya segera terpancar. "Halo, Kak Dimas. Salam kenal."

Dimas menjabat tangan Rina dengan ramah, senyumnya hangat. "Halo, Rina. Senang akhirnya bisa bertemu. Putri sering cerita banyak tentangmu."

Saat itu, Putri merasa bangga. Dimas terlihat menyukai Rina, dan Rina pun tampak nyaman dengan Dimas. Ia tidak pernah sedikit pun menduga bahwa pertemuan sederhana itu adalah awal dari kehancuran yang akan datang.

Setelah pertemuan itu, Rina mulai sering datang ke rumah mereka. Awalnya, dengan alasan mencari pekerjaan, Rina sering bertanya pada Putri tentang berbagai lowongan di bidang arsitektur, karena minatnya memang di bidang desain. Putri dengan senang hati membantu, memberinya masukan, bahkan kadang mengajaknya makan siang bersama di kantornya. Lalu, tanpa disadari Putri, frekuensi kunjungan Rina semakin intens.

"Kak Putri, boleh aku main ke rumah? Aku bosan di apartemen," Rina akan mengirim pesan, atau menelepon dengan suara manja.

"Tentu, Rina. Datang saja. Kak Dimas juga baru pulang," jawab Putri selalu, dengan hati tulus.

Putri tak pernah curiga. Baginya, kehadiran Rina di rumah mereka adalah hal yang wajar. Mereka bertiga sering makan malam bersama, menonton film, atau sekadar berbincang di ruang keluarga. Rina bahkan pernah menginap beberapa kali saat Putri harus lembur dan Dimas sedang dinas luar kota. Putri percaya penuh pada Rina. Ia selalu menganggap Rina sebagai bagian dari keluarganya sendiri, bahkan lebih dari sekadar sepupu, layaknya adik kandung. Ia berbagi cerita tentang kebahagiaannya dengan Dimas, tentang mimpi-mimpi mereka, tentang bagaimana Dimas adalah suami yang sempurna. Dan Rina akan mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum atau memberikan komentar positif, seolah ia benar-benar ikut berbahagia.

"Kak Dimas memang baik sekali, Kak Putri beruntung punya suami seperti dia," Rina pernah berkata dengan senyum polos, membuat Putri semakin yakin bahwa Rina adalah gadis yang tulus.

Mungkin, terlalu tulus hingga ia tidak melihat serigala berbulu domba yang bersembunyi di balik senyum manis itu.

Putri mencoba mengingat kembali, mencari setiap potongan puzzle yang mungkin ia lewatkan. Ada beberapa hal kecil yang kini terasa janggal.

Perubahan dalam Rutinitas Dimas:

Pulang Terlambat: Awalnya, Dimas jarang sekali pulang terlambat. Tapi dalam enam bulan terakhir, frekuensinya meningkat drastis. Alasannya selalu sama: "Meeting mendadak," "Proyek penting," "Harus mengurus klien di luar kota." Putri selalu percaya, bahkan kadang membawakan bekal makan malam ke kantor Dimas untuk memastikan suaminya tidak kelaparan.

Ponsel yang Terlalu Privasi: Dimas yang dulu sangat terbuka dengan ponselnya, belakangan ini menjadi lebih tertutup. Ponselnya selalu dikunci, dan ia seringkali menerima telepon di luar kamar atau di balkon, berbicara dengan suara pelan. Jika Putri bertanya, ia akan menjawab, "Hanya masalah pekerjaan, Sayang. Tidak perlu khawatir."

Perjalanan Dinas Mendadak: Beberapa kali Dimas pergi dinas ke luar kota tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari, terkadang hanya sehari sebelumnya. "Ada urusan mendesak," katanya. Putri selalu mengiyakan, membantunya menyiapkan koper, bahkan menciumnya di ambang pintu dengan penuh cinta. Ia tidak tahu bahwa mungkin di salah satu "perjalanan dinas" itu, Dimas sedang membangun sarang baru.

Perubahan pada Rina:

Penampilan yang Lebih Terawat: Rina, yang dulunya lebih sering tampil sederhana, tiba-tiba mulai mengubah gaya busananya menjadi lebih modis dan dewasa. Ia juga mulai memakai make-up, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya. Putri sempat memujinya, "Wah, Rina, kamu semakin cantik sekarang!" Dan Rina hanya tersipu malu.

Sering Menghilang: Ada beberapa waktu di mana Rina sulit dihubungi. Ia akan membalas pesan Putri berjam-jam kemudian, atau mengatakan sedang sibuk dengan urusan keluarga. Putri tidak terlalu memikirkannya, mengira Rina memang sedang disibukkan dengan hal lain.

Perubahan Bahasa Tubuh: Sekarang Putri berpikir kembali, ada beberapa kali Dimas dan Rina menunjukkan bahasa tubuh yang terlalu akrab, namun ia mengabaikannya. Misalnya, sentuhan tangan yang sedikit terlalu lama saat menyerahkan sesuatu, atau pandangan mata yang lebih intens dari sekadar hubungan kakak-adik ipar. Putri selalu menganggapnya sebagai bentuk keakraban keluarga, tanpa sedikitpun curiga.

Rasa bodoh dan ditipu membakar hati Putri. Bagaimana bisa ia begitu buta? Begitu naif? Ia mencintai Dimas dengan sepenuh hati, ia mempercayai Rina dengan segenap jiwa, namun keduanya, bersama-sama, telah mengkhianatinya dengan cara yang paling keji.

"Aku... aku tidak menyangka ini bisa terjadi," bisik Putri, air mata masih mengalir deras. Ia mencoba bangkit, berpegangan pada meja makan yang dingin. "Kau... kau adalah segalanya bagiku, Dimas. Segalanya. Bagaimana kau bisa menghancurkan semuanya seperti ini?"

Dimas akhirnya berhasil mendekat, berlutut di hadapan Putri. Ia mencoba meraih tangan Putri, namun Putri menariknya menjauh. "Putri, kumohon, beri aku kesempatan. Aku tahu ini salah, aku tahu aku brengsek. Tapi ada alasannya, Sayang. Ada alasannya."

"Alasan? Alasan apa yang bisa membenarkan pengkhianatan ini?!" raung Putri, suaranya dipenuhi amarah. "Kau bersumpah di hadapan Tuhan, di hadapan orang tua kita, di hadapan semua orang, Dimas! Kau bersumpah akan setia! Lalu kau pergi dan menikahi sepupuku sendiri?! Di mana otakmu, Dimas?! Di mana hatimu?!"

Melihat Putri yang begitu hancur, Dimas tertunduk. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya, namun Putri terlalu sakit untuk melihatnya. Yang ia lihat hanyalah seorang pengkhianat, seorang pembohong, seorang pria yang telah menghancurkan seluruh kehidupannya.

"Aku... aku minta maaf, Putri. Aku sangat minta maaf," ujar Dimas, suaranya juga bergetar. "Aku tahu ini tidak ada maafnya. Tapi kumohon, jangan menyerah pada kita. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan jelaskan semuanya, apa pun yang kamu mau tahu."

Putri menatap Dimas dengan mata merah dan bengkak. Penyesalan di mata Dimas terlihat tulus, namun itu tidak cukup. Tidak akan pernah cukup untuk menutupi rasa sakit yang ia rasakan. Luka ini terlalu dalam, terlalu lebar.

"Kesempatan?" Putri tertawa hampa, tawa yang terdengar seperti tangisan. "Kesempatan apa, Dimas? Apakah kau ingin aku menjadi istri pertama yang hidup berdampingan dengan istri keduamu, yang notabene adalah adik sepupuku sendiri? Apakah itu yang kau inginkan?"

Dimas mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi permohonan. "Bukan itu maksudku, Putri. Aku... aku akan mengurusnya. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Rina. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu satu-satunya istriku. Kamu satu-satunya cintaku."

Kata-kata "satu-satunya" itu terasa seperti pisau yang mengiris telinga Putri. Jika ia adalah "satu-satunya", lalu mengapa ada pernikahan lain? Mengapa ada wanita lain di pelukan suaminya? Apalagi wanita itu adalah Rina.

"Jangan bercanda, Dimas," desis Putri. "Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Video itu. Foto-foto itu. Apakah itu semua tipuan? Apakah aku gila? Atau kau yang gila?!"

Ia kembali merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya ke lemari pajangan. Tangisnya kembali pecah, lebih hebat dari sebelumnya. Rasa sakit itu terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Ia ingin menjerit, merobek-robek semua kenangan indah yang ternyata hanya kebohongan belaka.

"Kenapa, Rina? Kenapa?" bisiknya lagi, nama Rina kini keluar dari bibirnya. "Aku selalu menyayangimu, Rina. Aku menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Aku tidak pernah menyakitimu. Lalu kenapa kau tega menusukku dari belakang seperti ini?!"

Otaknya berputar cepat, mencari-cari alasan. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Apakah ia kurang cantik? Kurang perhatian? Kurang baik sebagai istri? Namun, setiap kali pertanyaan itu muncul, ia segera menepisnya. Ia tahu ia telah memberikan segalanya untuk Dimas. Ia adalah istri yang setia, penuh cinta, dan selalu mendukung. Jika ada yang salah, itu bukan pada dirinya. Itu pada Dimas dan Rina, pada pengkhianatan keji mereka.

Rasa marah kini mulai mengalahkan kesedihan. Kemarahan yang membara, yang ingin ia luapkan. Ia menatap Dimas dengan tatapan nyalang.

"Kapan ini terjadi, Dimas?" tanyanya dengan suara serak, namun kini lebih tegas. "Kapan kau menikahinya? Sejak kapan kau mengkhianatiku seperti ini?"

Dimas tampak ragu, matanya melarikan diri dari tatapan Putri. "Beberapa bulan yang lalu, Putri. Aku... aku tidak bermaksud... Ini semua salah paham."

"Salah paham?! Kau menikahinya, Dimas! Itu bukan salah paham, itu pengkhianatan!" Putri bangkit lagi, berdiri tegak meskipun tubuhnya masih gemetar. "Kau pikir aku bisa menerima ini? Kau pikir aku akan pura-pura tidak tahu dan melanjutkan hidup sebagai istrimu yang bodoh?!"

Dimas juga bangkit, mencoba menahan Putri. "Aku akan menceraikan Rina, Putri. Aku bersumpah. Aku akan mengurusnya segera. Beri aku waktu, Sayang. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini."

Mendengar kata "menceraikan Rina", ada secercah harapan yang sempat melintas di benak Putri. Namun, harapan itu segera padam, tergantikan oleh rasa pahit yang lebih kuat. Bahkan jika Dimas menceraikan Rina, luka ini sudah terukir. Pengkhianatan ini sudah terjadi. Kepercayaan yang ia berikan seumur hidup telah dihancurkan dalam sekejap. Dan fakta bahwa Rina adalah sepupunya, membuat ini semakin menjijikkan.

"Terlalu terlambat, Dimas," kata Putri dengan suara datar, yang justru lebih menakutkan daripada teriakannya sebelumnya. "Kepercayaan itu sudah hancur. Cinta itu sudah mati. Kau membunuhnya, Dimas. Kalian berdua membunuhnya."

Ia berjalan menuju kamar tidur mereka, langkahnya gontai namun mantap. Dimas mencoba menghentikannya. "Putri, kamu mau ke mana? Jangan pergi, Sayang!"

"Aku butuh waktu," jawab Putri dingin, tanpa menoleh. "Aku butuh sendiri. Aku tidak bisa melihat wajahmu sekarang."

Di dalam kamar, Putri mengunci pintu. Ia terhuyung-huyung ke ranjang, ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu cinta mereka, kini terasa dingin dan asing. Ia meraih bantal, membenamkan wajahnya di sana, dan membiarkan air mata mengalir tanpa henti.

Semua kenangan indah yang dulu sangat berharga, kini terasa seperti racun. Ciuman hangat Dimas di pagi hari, pelukan eratnya di malam hari, bisikan cintanya, semua itu kini terasa seperti kebohongan yang manis. Bagaimana ia bisa begitu buta? Bagaimana ia bisa tidak melihat tanda-tanda yang jelas?

Putri menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Ia harus berpikir jernih. Ia harus kuat. Ia bukan wanita lemah yang akan hancur begitu saja. Ia adalah Putri Wijaya, arsitek cerdas, wanita mandiri, yang selama ini selalu menghadapi tantangan dengan kepala tegak.

Ia mengambil ponselnya kembali. Video itu masih ada di sana, bukti yang tak terbantahkan. Ia membuka galeri, melihat foto-foto yang Lisa kirimkan. Foto Dimas dan Rina tersenyum bahagia, berpegangan tangan, memotong kue pernikahan. Foto-foto yang menusuk hatinya berulang kali.

Kembali ke pesan Lisa. Ia melihat ada beberapa pesan lagi dari Lisa.

"Putri, aku tahu ini pasti menyakitkan. Aku sudah mencoba mencari tahu, dan sepertinya mereka memang menikah. Aku sangat minta maaf harus memberitahumu begini, tapi aku tidak ingin kamu terus dibodohi."

"Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. Aku melihat mereka secara tidak sengaja di sebuah restoran di luar kota beberapa minggu lalu. Awalnya aku kira itu bukan Dimas, tapi kemudian aku yakin. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan... berciuman. Aku mencoba mencari tahu lebih lanjut, dan aku menemukan ini."

Lisa adalah teman yang setia. Putri tahu Lisa pasti merasa berat saat mengirimkan semua ini. Tapi Putri bersyukur. Setidaknya ia tahu kebenarannya, seburuk apa pun itu. Daripada terus hidup dalam kebohongan yang manis.

Kini, pertanyaan yang lebih besar muncul di benaknya: Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Haruskah ia menghadapi Dimas dan Rina secara langsung? Haruskah ia membuat perhitungan dengan mereka? Atau haruskah ia diam dan merencanakan langkah selanjutnya dengan tenang?

Putri menatap cermin di kamar mandi. Wajahnya sembab, matanya bengkak, dan rambutnya berantakan. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati badai dahsyat. Dan memang begitu. Badai ini telah menerjang jiwanya, meninggalkan kehancuran yang tak terbayangkan.

Ia menyalakan keran air dingin, membasuh wajahnya berulang kali, berharap air itu bisa membasuh rasa sakit di hatinya. Tapi tidak. Rasa sakit itu masih ada, menggerogoti setiap sel tubuhnya.

Pikiran tentang perceraian mulai muncul. Sebuah kata yang menakutkan, yang tak pernah terlintas dalam kamus pernikahannya. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Bagaimana ia bisa hidup dengan seorang pria yang telah menghianatinya begitu dalam, dengan seorang wanita yang ia anggap adik sendiri?

Ia mengambil napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia harus bangkit. Ia tidak boleh hancur. Dimas dan Rina tidak pantas melihatnya lemah.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menang," bisiknya pada bayangan dirinya di cermin. Tekad mulai muncul di mata Putri, menggantikan air mata kesedihan. "Kalian tidak akan bisa menghancurkanku."

Namun, di balik tekad itu, ada keraguan yang mengintai. Bagaimana ia akan menghadapi dunia? Bagaimana ia akan menjelaskan ini kepada orang tua dan keluarga besarnya? Bagaimana ia akan menghadapi tatapan kasihan atau cemoohan dari orang-orang?

Perlahan, Putri mulai merancang skenario dalam benaknya. Ia tidak akan gegabah. Ia akan menggunakan otaknya. Ia akan mencari tahu lebih banyak, mengumpulkan bukti, sebelum mengambil keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Pintu kamar mereka diketuk pelan. "Putri... Kumohon, buka pintunya. Mari kita bicara." Suara Dimas terdengar serak, penuh penyesalan.

Putri tidak menjawab. Ia tahu, berbicara dengan Dimas saat ini hanya akan memperkeruh suasana. Hatinya terlalu sakit, pikirannya terlalu kacau. Ia butuh waktu. Waktu untuk menenangkan diri, waktu untuk mencerna semua ini, dan waktu untuk merencanakan pembalasan yang setimpal.

Ia menarik selimut tebal, meringkuk di bawahnya, mencoba mencari kehangatan yang tak lagi ia temukan di hati suaminya. Malam itu akan terasa panjang, penuh air mata, dan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Malam itu adalah awal dari babak baru dalam hidup Putri Wijaya, babak yang akan penuh perjuangan, rasa sakit, namun juga tekad untuk bangkit dari puing-puing kehancuran.

Bab 3

Dinginnya lantai marmer terasa menusuk kulit Putri, namun ia tidak peduli. Selimut tebal yang ia gunakan untuk membungkus diri tidak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Air mata yang sejak tadi mengalir deras kini hanya menyisakan jejak asin di pipinya yang sembab. Setiap tarikan napas terasa berat, nyeri di dada seolah tak kunjung reda. Di balik pintu kamar, suara Dimas masih terdengar samar, memohon, menjelaskan, namun bagi Putri, itu hanya deru angin kosong. Hatinya sudah terlalu hancur untuk menerima pembelaan apa pun.

Ia meringkuk di pojok tempat tidur, ponselnya tergeletak di sampingnya. Layar yang tadinya menampilkan video mengerikan itu kini gelap, namun bayangan adegan Dimas dan Rina berdiri di altar terus menari-nari di pelupuk matanya. Setiap detailnya begitu nyata, begitu menusuk. Gaun pengantin Rina, senyum bahagia Dimas, sorakan tamu... Semua itu adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah pengkhianatan yang keji.

Putri memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu, namun justru semakin jelas. Bagaimana mungkin ia tidak melihatnya? Bagaimana bisa ia begitu buta? Dimas adalah suaminya, pria yang tidur di sampingnya setiap malam, yang menciumnya setiap pagi. Rina adalah sepupunya, gadis yang ia anggap adik, yang sering makan dan tertawa bersama di rumah ini. Mereka berdua, orang-orang terdekatnya, telah bersekongkol menghancurkan hidupnya.

"Aku harus kuat," bisiknya pada dirinya sendiri. Suaranya serak dan parau, namun ada secercah tekad yang mulai tumbuh di balik rasa sakit. Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja. Ia adalah Putri Wijaya, bukan wanita lemah yang mudah menyerah.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya lagi. Bukan untuk melihat video itu lagi, melainkan untuk mencari kekuatan. Ia membuka aplikasi kontak, mencari nama Maya, sahabat karibnya sejak SMA. Maya adalah sosok yang paling bisa dipercaya, paling rasional, dan paling bisa memberinya nasihat di saat-saat tersulit. Namun, keraguan menyelimuti Putri. Bagaimana ia akan menyampaikan kabar buruk ini pada Maya? Bagaimana ia akan menceritakan bahwa pernikahannya yang sempurna itu hanyalah sebuah ilusi?

Ia menunda niatnya, memutuskan untuk memikirkan langkah selanjutnya terlebih dahulu. Panic attack yang sempat melandanya perlahan mereda, digantikan oleh rasa mati rasa yang dingin. Ia butuh rencana. Ia butuh strategi. Tidak ada gunanya menangis dan meratap. Yang ia butuhkan adalah tindakan.

Putri mulai menyusuri ingatannya, mencari setiap detail, setiap petunjuk yang mungkin terlewatkan selama setahun terakhir. Ia mencoba menyusun kronologi pengkhianatan ini.

Enam Bulan Terakhir: Puzzle yang Terungkap

Pola Pulang Malam yang Aneh: Putri ingat, enam bulan yang lalu, frekuensi Dimas pulang malam mulai meningkat. Awalnya hanya seminggu sekali, lalu menjadi dua atau tiga kali. Dimas selalu punya alasan yang meyakinkan: "Rapat dengan investor dari luar kota," "Proyek A sedang dikejar deadline," "Ada masalah di server yang harus ku tangani sendiri." Putri, dengan sifatnya yang suportif, selalu memahami. Ia akan menyiapkan makanan hangat, menunggu Dimas pulang, terkadang sampai larut malam. Ia bahkan akan memijat kaki Dimas yang kelelahan dan mendengarkan keluh kesahnya tentang pekerjaan. Sungguh naif ia saat itu. Mungkin Dimas memang rapat, tapi bukan dengan investor, melainkan dengan istri keduanya.

Sikap Rina yang Berubah: Sekitar lima bulan yang lalu, Putri mulai menyadari Rina semakin sering berkunjung. Tidak hanya sekadar mampir, tapi juga menginap, terutama saat Dimas ada di rumah. Putri tidak curiga, malah merasa senang Rina semakin dekat dengan suaminya. "Kak Dimas asyik ya, Kak," Rina pernah berkata dengan mata berbinar, saat mereka bertiga sedang menonton film bersama. Putri hanya tersenyum, bangga dengan Dimas yang begitu dicintai oleh adiknya sendiri. Rina juga mulai terlihat lebih 'berani' dalam berinteraksi dengan Dimas. Pernah suatu kali, saat Dimas pulang kerja, Rina yang saat itu sedang di rumah, langsung menghampiri Dimas dan membantu membawakan tas kerjanya, lalu berbisik sesuatu yang membuat Dimas tersenyum. Putri mengira itu hanya candaan adik-kakak ipar. Sekarang ia tahu, itu adalah kemesraan yang tersembunyi.

Perjalanan Bisnis "Mendadak": Sekitar tiga bulan yang lalu, Dimas mulai sering melakukan perjalanan bisnis mendadak, biasanya ke luar kota. Bali, Surabaya, Medan. "Ada proyek besar di sana, Sayang," jelas Dimas. Putri akan membantu menyiapkan koper, membungkuskan bekal, dan memeluknya erat di bandara. Setiap kali Dimas pergi, Putri akan merasa kesepian, namun ia selalu berusaha positif, percaya bahwa Dimas berjuang untuk masa depan mereka. Ia tidak tahu bahwa di salah satu perjalanan "bisnis" itu, mungkin Dimas dan Rina sedang meresmikan ikatan mereka. Ia bahkan ingat Rina sempat sulit dihubungi di waktu yang bersamaan dengan salah satu perjalanan bisnis Dimas. "Maaf, Kak, aku lagi ada urusan keluarga di luar kota, sinyal susah," jawab Rina via chat yang lambat dibalas. Sebuah kebetulan yang kini terasa seperti skenario sempurna.

Ponsel yang Penuh Rahasia: Ini adalah tanda paling jelas yang Putri abaikan. Dulu, ponsel Dimas selalu terbuka. Putri tahu kata sandinya, dan Dimas tidak pernah keberatan jika Putri meminjam ponselnya. Namun, empat bulan terakhir, Dimas mengubah kata sandinya. Ia juga sering menelpon di luar ruangan, berbicara dengan suara sangat pelan, atau bahkan langsung memutuskan panggilan jika Putri mendekat. "Hanya telepon penting dari klien, Sayang, tidak bisa diganggu," dalih Dimas. Putri selalu mempercayainya, tanpa menyadari bahwa setiap bisikan rahasia itu mungkin adalah bisikan cinta untuk wanita lain.

Hadiah dan Perhatian Berlebihan: Ada periode di mana Dimas tiba-tiba menjadi sangat romantis. Ia akan membelikan Putri hadiah-hadiah mewah tanpa alasan, mengajak makan malam di restoran bintang lima, atau menghabiskan akhir pekan hanya berdua. Putri mengira itu adalah cara Dimas menebus waktu yang hilang karena kesibukan kerjanya. Sekarang ia tahu, itu adalah cara Dimas menutupi rasa bersalahnya, mencoba menenangkan Putri agar tidak curiga. Setiap mawar merah yang dulu terasa begitu manis, kini terasa seperti duri yang menusuk hatinya.

Setiap potongan puzzle itu kini terangkai dengan sempurna, membentuk gambaran mengerikan dari pengkhianatan yang telah lama terjadi. Putri merasa mual. Begitu banyak waktu yang ia habiskan dalam kebohongan. Begitu banyak cinta yang ia berikan pada orang yang tidak pantas.

Ia meraih ponselnya lagi, mencari informasi tentang pernikahan Dimas dan Rina. Meskipun video dari Lisa sudah cukup sebagai bukti, Putri ingin tahu lebih banyak. Ia mencoba mencari nama Dimas Satria dan Rina Adinda Putri di mesin pencarian, menambahkan kata kunci "pernikahan" atau "resepsi". Tidak ada hasil yang signifikan. Dimas jelas sangat berhati-hati.

Namun, ia teringat pada detail di video. Ada plakat nama di meja resepsi, di mana tertulis "The Wedding of Dimas & Rina". Di latar belakang, terlihat sebuah ballroom hotel yang mewah, dengan logo sebuah hotel bintang lima. Putri mencoba mencari tahu hotel tersebut. Ia membuka peta online, mencari hotel-hotel bintang lima di Jakarta dan sekitarnya. Lalu, ia mencoba mencocokkan desain interior ballroom di video dengan gambar-gambar yang ia temukan secara online.

Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan kecocokan yang mengejutkan. Itu adalah salah satu ballroom di Hotel Grand Emerald, hotel termewah di pusat kota Jakarta. Ia ingat, Dimas pernah mengajak Putri makan siang di sana beberapa bulan lalu, dengan alasan "mencicipi menu baru". Kini, ia tahu, mungkin saat itu Dimas sedang melakukan food tasting untuk pernikahannya dengan Rina. Rasa jijik dan sakit kembali membanjiri Putri.

Ia lalu mencari informasi tentang reservasi acara di Hotel Grand Emerald. Tentu saja, ia tidak bisa mendapatkan informasi pribadi tanpa identitas yang jelas. Namun, ia mencoba mencari berita atau postingan di media sosial yang terkait dengan acara di hotel itu sekitar beberapa bulan lalu. Mungkin ada tamu yang mengunggah foto atau video secara publik.

Setelah beberapa menit pencarian yang intens, ia menemukan beberapa akun Instagram yang memposting foto-foto dari sebuah acara pernikahan di Hotel Grand Emerald, pada tanggal yang ia perkirakan berdasarkan pakaian dan musim di video Lisa. Di salah satu postingan, sebuah akun wedding organizer terkenal mengunggah kolase foto-foto pernikahan, dengan caption yang berbunyi, "Sebuah kisah cinta yang indah, dirayakan dengan megah di Ballroom Emerald." Dan di antara kolase itu, ada foto Dimas dan Rina, tersenyum bahagia, berpelukan di pelaminan. Meskipun wajah mereka disensor tipis untuk privasi, Putri mengenali mereka dengan sangat jelas.

Napas Putri tertahan. Bukti ini lebih dari cukup. Ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan. Dimas benar-benar menikahi Rina. Dan mereka melakukannya di salah satu hotel termewah di Jakarta, seolah tidak ada yang salah, tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Amarah Putri kembali membuncah. Ia bangkit, melangkah mondar-mandir di kamar. Ia ingin menghancurkan sesuatu. Ia ingin berteriak sekuat tenaga. Ia ingin menuntut penjelasan, keadilan.

Suara ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini lebih keras. "Putri, kumohon! Buka pintunya! Aku tidak akan pergi sampai kamu mau bicara denganku!" Suara Dimas terdengar frustrasi, putus asa.

Putri mengabaikannya. Ia tidak akan membuka pintu. Tidak sekarang. Ia butuh waktu untuk memproses semua ini, untuk merumuskan rencana.

Pikirannya mulai bekerja secara strategis, seperti seorang arsitek yang merancang sebuah bangunan kompleks. Setiap langkah harus diperhitungkan.

Langkah 1: Mengumpulkan Lebih Banyak Bukti.

Meskipun ia sudah memiliki video dan foto dari Lisa, serta postingan wedding organizer, Putri merasa ia membutuhkan lebih banyak. Ia harus membuktikan bahwa ini bukan sekadar pernikahan siri atau pura-pura. Ia membutuhkan bukti hukum, jika memungkinkan.

Langkah 2: Mencari Nasihat Hukum.

Putri tahu ia tidak bisa menghadapi ini sendirian. Ia membutuhkan pengacara perceraian terbaik. Seseorang yang bisa membimbingnya melalui proses yang rumit ini. Ia harus mencari tahu hak-haknya sebagai istri sah.

Langkah 3: Menyiapkan Diri Secara Finansial dan Mental.

Perceraian akan menjadi proses yang panjang dan menguras emosi, juga finansial. Putri memiliki karier yang stabil, namun ia harus memastikan ia memiliki cukup dana cadangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Secara mental, ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tatapan dan pertanyaan dari lingkungan sekitar, terutama keluarga.

Langkah 4: Menghadapi Dimas dan Rina (Pada Waktunya yang Tepat).

Putri tahu ia harus menghadapi mereka. Tapi tidak sekarang, bukan dalam keadaan emosinya yang masih labil. Ia akan menunggu hingga ia benar-benar siap, dengan semua bukti di tangannya, dan dengan bantuan hukum di sisinya. Ia ingin mereka merasakan dampak penuh dari tindakan mereka.

Putri berjalan menuju lemari pakaian Dimas. Ia membuka laci satu per satu, mencari dokumen, mungkin surat nikah kedua, atau bukti lain. Ia tahu ini mungkin tindakan yang salah, tapi ia tidak peduli. Ia berhak tahu. Ia berhak mendapatkan kebenaran.

Ia menemukan beberapa berkas kantor Dimas, laporan keuangan, dan beberapa dokumen lain yang tidak relevan. Kemudian, di laci paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan kemeja, ia menemukan sebuah amplop tebal berwarna cokelat. Jantungnya berdegup kencang. Ini dia.

Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa dokumen, termasuk salinan akta nikah. Bukan akta nikah dirinya dan Dimas, melainkan akta nikah Dimas Satria dan Rina Adinda Putri. Tertulis jelas tanggal pernikahan mereka, sekitar tiga bulan yang lalu. Dokumen itu tampak asli, lengkap dengan tanda tangan dan cap resmi.

Napas Putri tercekat. Ini bukan lagi sekadar video atau foto. Ini adalah bukti sah di mata hukum. Dimas benar-benar telah menikahi Rina secara sah, sebagai istri kedua, tanpa sepengetahuan Putri.

Kemarahan yang sebelumnya hanya mendidih, kini meledak. Ia ingin merobek-robek dokumen itu, membakar seluruh rumah ini. Ia ingin menjerit sekuat tenaga hingga pita suaranya putus. Pengkhianatan ini begitu sempurna, begitu keji.

Ia melihat sekeliling kamar, menatap semua barang yang merupakan simbol kehidupan pernikahannya dengan Dimas. Foto pernikahan mereka di meja nakas, hadiah ulang tahun dari Dimas, perhiasan yang ia kenakan di hari pernikahan mereka. Semuanya terasa menjijikkan.

Putri menelan ludah, berusaha keras mengendalikan emosinya. Ia tidak boleh bertindak impulsif. Bukti ini sangat penting. Ia harus menyimpannya baik-baik. Ia mengambil akta nikah itu, melipatnya dengan rapi, dan menyimpannya di dalam tas tangan kecil yang biasa ia bawa. Ia akan membawanya keluar dari rumah ini, menjauhkannya dari jangkauan Dimas.

Ia kemudian memeriksa ponsel Dimas, yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ponsel itu terkunci. Ia mencoba beberapa kombinasi angka yang mungkin ia tahu, termasuk tanggal ulang tahun Dimas, tanggal pernikahan mereka, bahkan tanggal ulang tahun Putri. Semuanya gagal. Dimas telah mengganti kata sandinya. Betapa liciknya dia.

Namun, Putri mengingat Dimas pernah mengatakan kata sandi untuk beberapa akun pentingnya adalah kombinasi nama depan mereka berdua dan angka keberuntungan. Putri mencoba menggabungkan nama Dimas dan Rina, dan menambahkan angka yang pernah Dimas sebutkan sebagai angka keberuntungan Rina. Ajaib, ponsel itu terbuka.

Di dalam ponsel Dimas, Putri menemukan folder tersembunyi yang berisi ratusan foto dan video Dimas dan Rina. Mereka sedang berlibur bersama, makan malam romantis, bahkan foto-foto mesra di ranjang. Mereka tidak hanya menikah, tapi juga menjalani kehidupan layaknya pasangan suami istri yang baru menikah, di balik punggung Putri.

Ada juga pesan-pesan singkat antara Dimas dan Rina yang menunjukkan betapa mesranya hubungan mereka. Rina memanggil Dimas "Sayangku" dan "Mas Dimas", dan Dimas membalasnya dengan panggilan "Cintaku" atau "Sayang". Mereka merencanakan pertemuan rahasia, liburan, bahkan mendiskusikan tentang bagaimana mereka akan menghadapi Putri jika suatu hari kebenaran terungkap.

Putri memutar sebuah video singkat. Rina sedang duduk di pangkuan Dimas, mencium pipinya, lalu tertawa manja. "Kapan kita bisa bersama selamanya, Mas?" tanya Rina. Dimas tersenyum, membelai rambut Rina. "Sebentar lagi, Sayang. Aku janji."

Rasa sakit Putri semakin menjadi-jadi. Janji. Janji yang Dimas ucapkan pada Rina. Janji yang Dimas khianati pada Putri. Ia merasa mual, ingin muntah. Semua ini adalah mimpi buruk terburuk yang pernah ia alami.

Dengan tangan gemetar, Putri mengambil beberapa foto dan video penting dari ponsel Dimas, mengirimkannya ke ponselnya sendiri sebagai cadangan bukti. Ia kemudian menghapus riwayat pesan dan panggilan yang mencurigakan di ponsel Dimas, dan mencoba menutup semua jejak yang mungkin bisa mengarah pada kecurigaan. Ia tidak ingin Dimas tahu bahwa ia sudah menemukan segalanya. Ia ingin bermain pintar.

Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel Dimas ke tempat semula, seolah tidak ada yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan Dimas tahu bahwa ia sudah tahu lebih banyak dari yang Dimas kira. Ia akan menggunakan informasi ini sebagai senjata tersembunyi.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Sudah hampir tiga jam Putri mengunci diri di kamar. Dimas tidak lagi mengetuk pintu. Mungkin ia sudah menyerah, atau mungkin ia sedang memikirkan strategi untuk membela diri. Putri tidak peduli. Ia hanya ingin malam ini segera berakhir.

Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Maya. "Maya, aku butuh bantuanmu. Bisakah kita bertemu besok? Ada hal yang sangat penting dan mendesak yang harus kuceritakan padamu."

Tak lama kemudian, Maya membalas, "Tentu, Put. Kamu baik-baik saja? Suaramu tadi pagi terdengar aneh. Di mana saja kamu?"

Putri mengetik balasan, "Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku akan ceritakan besok. Aku butuh kamu. Sangat."

"Oke, Put. Aku akan datang ke apartemenmu besok pagi. Jam berapa?"

"Pagi sekali. Jam 8. Aku akan usahakan keluar rumah."

Putri tahu ini akan menjadi pertarungan berat. Tapi ia siap. Ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia akan bangkit. Ia akan melawan. Dan ia akan memastikan Dimas dan Rina mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan keji mereka.

Malam itu, di dalam kamar yang gelap, Putri Wijaya merancang rencana. Sebuah rencana yang akan mengubah hidupnya secara drastis, sebuah rencana yang akan penuh dengan air mata dan amarah, namun juga penuh dengan tekad untuk memulihkan martabatnya yang telah diinjak-injak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED