Di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta pusat, terlihat seorang dokter cantik dan ramah sedang menemani seorang nenek di taman yang berada di samping rumah sakit itu.
Keduanya terlihat sangat akrab, dengan telaten, dokter cantik itu menyuapi sang nenek. Walau pun beberapa kali sang nenek menolak makanan dari dokter itu.
"Oma ... Oma harus banyak makan, biar Oma bisa cepat sembuhnya. Terus kalau sudah sembuh, Oma bisa kembali pulang ke rumah." Bujuk dokter Kasih, yang sedang bersama dengan Oma Meri saat ini.
"Untuk apa Oma sembuh? Oma tidak mau sembuh! Tidak ada gunanya Oma sembuh. Semua orang tidak ada yang peduli sama Oma. Hanya kamulah dan keluargamu yang benar-benar peduli sama, Oma." Ucap Oma Meri, marah.
"Oma, jangan berkata seperti itu. Tidak baik ... nanti Oma semakin parah sakitnya, Kasih tidak mau sesuatu terjadi kepada Oma. Kasih sangat menyayangi Oma. Walaupun orang lain tidak peduli dengan kesehatan Oma. Tapi, masih ada Kasih di sini yang akan selalu merawat Oma. Harapan Kasih, Oma bisa cepat sembuhnya." Ucap sang dokter panjang lebar, kepada Oma Meri.
Dokter Kasih Alayah, demikian namanya gadis yang sangat cantik dan baik hatinya. Saat ini, dialah yang menjadi dokter yang ditugaskan oleh pihak rumah sakit tempat dirinya bekerja, untuk merawat Oma Meri. Si Nenek kaya raya itu.
Oma Meri Hoewar, wanita tua yang sudah berumur dan renta itu, adalah seorang komisaris dari beberapa perusahan besar di Jakarta.
Keluarganya yang berjiwa bisnis dan memiliki kesibukan tingkat tinggi, membuat mereka tidak sempat mengurusi kesehatan Oma Meri.
Keluarga Hoewar memberi tanggung jawab kepada kedua orang tua Kasih untuk dapat mengurusi semua kebutuhan Oma Meri. Baik selama beliau tinggal di kediaman Hoewar yang luas itu, maupun saat Oma Meri di rawat di rumah sakit yang juga merupakan, rumah sakit milik keluarga Hoewar.
Tuan dan Nyonya Hoewar yang sangat sibuk dengan dunia bisnis. Secara khusus memberi tanggung jawab kepada Kasih untuk mengurus kesehatan Oma Meri.
Sudah setahun belakangan ini, Kasih telah merawat Oma Meri sebaik-baiknya, sebagai seorang dokter.
Kasih yang berasal dari keluarga miskin, tentunya tidak akan sanggup membiayai dirinya sendiri untuk masuk fakultas kedokteran yang memakan biaya yang sangat mahal.
Keluarga Hoewar lah yang mewujudkan mimpi Kasih menjadi seorang dokter, sebagai balasan karena kedua orang tuanya bekerja di kediaman Hoewar sejak dirinya masih kecil.
Kecintaannya di dunia medis sejak kecil membuatnya sangat mencintai pekerjaannya. Kasih sangat menikmati hari-harinya merawat Oma Meri, di rumah sakit itu.
Setelah Kasih selesai menyuapi Oma Meri, dia pun berkata,
"Oma, apakah Oma mau jalan-jalan mengelilingi taman?" Tawarnya.
"Apakah kamu tidak keberatan, Kasih? Oma selalu membebanimu setiap waktu." Sedih, Oma Meri.
"Oma jangan berkata seperti itu, aku tidak terbebani sedikit pun untuk mengurus Oma. Ini adalah tugasku. Oma juga sudah ku anggap sebagai Omaku sendiri." Ucap Kasih, sambil mendorong kursi roda itu menyusuri taman yang ada di rumah sakit.
Di suatu pagi di Kota New York, tepatnya di sebuah gedung tinggi di lantai paling atas.
Terlihat seorang pemuda berpostur tinggi dan berperawakan atletis, sedang sibuk di depan layar laptopnya.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Ini kopi untuk Anda." Ujar Max, sang asisten.
"Letakkan saja. Di atas meja." Sahutnya kepada Max.
Pria itu bernama Faith Hoewar. Cucu kesayangan, Oma Meri. Dia terlihat sedang sibuk berkutat di depan laptopnya memeriksa beberapa dokumen penting dari kliennya.
Faith adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan RFH Corp, yang berkantor di Kota New York. Sang Ayah, Tuan Heru Hoewar mempercayakannya untuk menembus pasar internasional.
Untuk itu selama sepuluh tahun terakhir ini, Faith tinggal di New York untuk mengembangkan bisnisnya.
Namun tiba-tiba, Faith mendapatkan kabar jika Oma kesayangannya, sedang jatuh sakit. Yang mengharuskan dirinya untuk segera pulang ke Indonesia.
Saat ini Faith sedang menerima telpon dari ibundanya, Nyonya Rara Hoewar, dan menjelaskan semua kepadanya,
Faith"Tapi, Mom. Bagaimana dengan pekerjaanku di sini? Apakah aku harus meninggalkannya? Aku sangat sibuk saat ini, Mommy."
Mommy Rara"Faith! Menurutmu mana yang lebih penting? Kesehatan Oma Meri? Atau pekerjaanmu?"
Faith"Tentu saja, Oma Meri yang lebih penting, Mommy."
Mommy Rara"Kalau kamu sadar begitu. Segeralah pulang ke Jakarta. Kami semua menunggumu."
Faith"Tapi, Mommy. Bagaimana dengan pekerjaanku? Oh ya, bagaimana jika Oma saja yang ke sini?"
Mommy Rara"Apa katamu, Faith? Oma yang ke sana?"
Faith"Iya, Mom. Oma yang ke sini. Nanti sekalian aku akan mengajaknya berkeliling Kota New York."
Mommy Rara"Kamu pikir Oma mau jalan-jalan ke sana? Oma Meri sedang sakit, Faith! Pokoknya Daddy dan Mommy tidak mau tahu, kamu harus segera kembali ke Jakarta! Jika kamu masih mau melihat Oma Meri untuk terakhir kalinya!"
Sambungan telepon pun diputus secara sepihak oleh sang ibunda.
"Sial!" Umpat Faith, kesal.
Faith menjadi gundah gulana mendengan ucapan terakhir ibunya. Walau bagaimana pun. Dia sangat menyayangi Oma Meri dan tak mau hal buruk terjadi kepada sang nenek.
Tentu saja Faith lebih memilih ingin melihat Oma Meri yang sedang terbaring sakit. Dibandingkan dengan pekerjaannya yang sangat penting saat ini.
Terlebih sejak sepuluh tahun hidup di negeri orang. Tak sekalipun Faith pulang ke Indonesia. Hanya beberapa kali dirinya bertemu dengan sang nenek. Disaat Oma Meri mengunjunginginya ke sini. Hal itu pun terjadi beberapa tahun yang lalu. Sepertinya sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
Faith pun segera memerintahkan sang asisten untuk mencari tiket pesawat tercepat menuju ke Indonesia.
"Max, segera carikan tiket pesawat dengan penerbangan tercepat menuju ke Jakarta." Perintahnya.
"Siap, Bos!" Sahut, Max. Lalu mulai membuka laptopnya.
Sementara Faith menjadi bingung. Apa yang harus dirinya lakukan untuk lebih mempercepat selesainya pekerjaannya. Paling lama dalam Minggu ini.
Indonesia, Jakarta.
"Bagaimana, Ra? Faith bilang apa? Tanya Oma Meri, tak sabar ingin tahu apa yang dikatakan oleh cucunya.
Sementara sang suami, Tuan Heru Hoewar juga ikut penasaran dengan jawaban putranya. Karena jawaban Faith bisa menentukan nasib perusahaannya saat ini. Apalagi sang putra sedang menangani proyek besar di Kota New York.
Saat ini, keduanya sedang berada di rumah sakit. Tepatnya di ruang VVIP, tempat Oma Meri dirawat.
"Faith akan segera pulang, Oma. Paling lama Minggu depan. Karena dia sedang menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu." Ucap Mommy Rara, senang. Ternyata sang ibu juga ikut merindukan putranya.
"Apa?" Kaget Daddy Heru, tak percaya Faith akan meninggalkan pekerjaannya.
"Kamu kenapa, Heru? Apakah kamu tidak senang, putramu akhirnya kembali ke tanah air?" Ketus, Oma Meri.
"Ti ... tidak kok, Oma. Hanya saja saat ini Faith sedang fokus menangani sebuah proyek besar di sana." Sergah Daddy Heru, mencoba menjelaskan semuanya kepada sang ibu.
"Memangnya tidak ada orang lain yang bisa kamu percayai untuk menangani proyek itu, Heru?" Ketus, Oma Meri.
"A ... ada sih, Oma. Tapi kan Faith lebih unggul dari yang lainnya. Apalagi dia seorang CEO yang sangat handal dibidangnya." Tuan Heru terus berbicara mengenai proyek itu dan menjelaskan peran besar sang putra, dalam keberhasilan proyek itu.
Sang istri, Nyonya Rara terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat tingkah suaminya yang lebih mementingkan pekerjaan di perusahaan dibandingkan dengan kesehatan ibu kandungnya sendiri.
Sementara Oma Meri menatap tajam ke arah putranya.
"Oh jadi kamu lebih mementingkan urusan perusahaan, Heru? Apakah kamu masih kekurangan uang?" Sindir, Oma Meri.
"Bu ... bukan begitu, Oma."
"Jadi, apa? Atau kamu menunggu ibumu ini tidak ada lagi di dunia ini, baru kamu merasa lega?" Isak tangis Oma Meri, mulai terdengar di ruangan itu.
Seketika hati Tuan Heru diliputi rasa bersalah. Dia merasa jika dirinya saat ini terlalu egois.
"Apakah salah jika aku meminta untuk menemui cucu-cucuku untuk terakhir kalinya?" Sedihnya, semakin menyayat.
"Lovlyta sejak kuliah di London. Tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di Jakarta. Apalagi Faith, sejak menetap di New York, sudah sepuluh tahun lamanya. Dia juga tidak pernah kembali ke Indonesia! Heru ... sebenarnya apa yang kamu inginkan dari anak-anakmu? Apakah masih kurang kekayaan yang ayah mu wariskan, yang begitu berlimpah-limpah. Bahkan dapat membiayai hidup tujuh keturunan mu berikutnya! Apakah itu masih kurang?" Oma Meri, menjadi sangat sedih saat ini.
Nyonya Rara juga ikut-ikutan menjadi sedih. Melihat ibu mertuanya yang sedang menangis. Tak terasa air matanya, ikut jatuh di pelupuk matanya.
Nyonya Rara baru menyadari jika apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu, ada benarnya. Kedua anaknya, sebagai cucu sang oma. Faith dan Lovlyta, tidak pernah sekalipun menjenguk nenek mereka.
Pantas saja Oma Meri merasa sangat kesepian. Belum lagi kesibukan dari sang suami dan dirinya dalam mengurusi perusahaan. Membuat Oma Meri dirawat oleh keluarga Pak Danu.
Nyonya Rara pun bertekad, akan mempertemukan kedua cucu sang Oma, dengan Beliau. Bagaimana pun caranya. Walau bagaimana pun Faith dan Lovlyta adalah cucu-cucu kesayangan, Oma Meri.
Nyonya Rara mencoba menguatkan ibu mertuanya, sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. Sembari berkata,
"Oma, jangan bersedih hati begitu. Oma berhenti ya, menangis? Aku pastikan, baik Faith maupun Lovlyta akan pulang ke Indonesia dengan segera." Janjinya, kepada ibu mertuanya.
"Mommy ... sebaiknya kita bicarakan ini lebih dulu." Ternyata Tuan Heru, masih mempertimbangkannya lagi.
Oma Meri seketika menatap tajam ke arah putranya yang terlalu berambisi itu.
Sang menantu, Nyonya Rara. Sudah dapat ditaklukkan oleh Oma Meri. Buktinya, dia menyetujui kepulangan Faith dan Lovlyta ke Indonesia.
Sedangkan putranya sendiri, masih saja berkeras kepala. Sang Oma pun terlihat menekan salah satu tombol di ponselnya.Sambil terus dalam mode menangis. Seraya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Daddy! Apalagi yang harus dibicarakan, sih? Apakah kamu nggak kasihan melihat kondisi Oma? Beliau hanya merindukan kedua cucunya. Apakah hal itu sangat susah untuk diwujudkan saat ini?" Ketus sang istri, tetap bersikeras.
"Mommy, kamu juga harus mempertimbangkan, Lovlyta akan segera menyelesaikan gelar masternya. Sementara Faith sangat sibuk di perusahaan. Ada baiknya, kita atur lagi jadwal kepulangan mereka." Tukas Daddy Heru, kepada istrinya.
Kedua suami istri itu terus saja berdebat. Membuat kepala Oma Meri yang mendengarnya semakin pusing saja.
"Aduh! Nggak Rara! Nggak Heru! Tetap saja berdebat tiada akhir. Kedua orang ini, tidak pernah berubah! Dari dulu sampai sekarang tetap saja adu argumen! Bisa-bisa kepalaku menjadi pecah mendengar ocehan mereka." Gumam Oma Meri, dalam hatinya.
Oma Meri pun kembali mengutak-atik ponsel pintarnya, dia sedikit gelisah. Kenapa para tim dokter tidak juga datang ke ruangannya. Padahal rumah sakit ini adalah salah satu aset pribadinya.
"Kenapa para dokter tidak datang juga? Aku ingin kedua orang ini segera disingkirkan dari hadapanku!" Ketusnya, dalam hati.
Telinga Oma Meri semakin panas mendengar perdebatan tiada akhir dari kedua pasangan suami istri itu. Tuan Heru dan Nyoya Rara.
Bahkan kadang kala Oma Meri tak habis pikir dengan anak dan menantunya itu. Selalu saja memperdebatkan apa pun. Pikiran mereka tak pernah sejalan dalam hal apa pun. Akan tetapi pernikahan keduanya, tetap saja langgeng sampai saat ini.
"Mungkin ini yang dinamakan dengan kekuatan cinta." Pikir, sang oma.
Tak berapa lama, tim dokter pun datang ke ruang rawatan Oma Meri yang mewah itu.
Semua para dokter spesialis berkumpul di ruangan itu. Mereka dipimpin oleh dokter Roland sebagai kepala rumah sakit.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Hoewar. Maaf menggangu pagi Anda, berdua." Ucap dokter Roland, mengawali pembicaraan.
"Tidak masalah, dok. Kami sedang tidak sibuk, kok. Hanya saja, kami sedang mendiskusikan sesuatu." Ternyata, Tuan Heru merasa terganggu dengan datangnya banyak dokter di ruangan itu.
Sehingga perdebatan sengitnya dengan sang istri. Mau tidak mau, terpaksa harus dihentikan dulu.
Sang ibu, Oma Meri. Lagi-lagi menatap tajam ke arah putranya. Karena menyiratkan ketidaksukannya dengan kedatangan para dokter itu.
"Cepat katakan, ada apa dokter? Kenapa semua orang menjadi datang ke sini? Apakah ada sesuatu hal darurat yang sedang terjadi?" Tukas, Tuan Heru kepada dokter Roland.
Melihat Tuan Heru yang terlihat keberatan, karena banyak orang yang ada di ruangan itu. Dokter Roland segera mengutarakan apa yang ingin dirinya katakan.
"Begini, Tuan Heru." Sang dokter pun mulai menjelaskan penyakit Oma Meri. Kedua suami istri itu, terlihat terdiam dan terus mendengarkan setiap penjelasan dari sang dokter.
Sementara Oma Meri mulai terlihat lemah dan pura-pura tidur untuk lebih mendramatisir keadaan.
"Apa?" Kaget, kedua suami istri itu. Mendengar penjelasan dokter Roland.
Tuan Heru ingin menyela perkataan dokter Roland, namun sang dokter segera berkata,
"Penjelasan saya masih belum selesai, Tuan Hoewar." Sela, dokter Roland.
"Baik, dokter. Silakan lanjutkan." Tutur, Tuan Heru.
"Jadi dengan kondisi Oma Meri sekarang ini. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Bisa saja sesuatu hal yang tidak diinginkan semua orang dapat terjadi."
"Apa?" Lagi-lagi, kedua suami istri itu dibuat terkaget-kaget dengan diagnosa dari dokter Roland. Seorang dokter senior dan sangat disegani di rumah sakit itu.
Tak terasa air mata Nyonya Rara kembali mengalir. Dia menatap sendu ke arah sang ibu mertua yang sedang tertidur itu.
"Dokter, apa yang harus kami lakukan saat ini. Agar kesehatan Oma Meri, cepat pulihnya?" Lirih, Nyonya Rara sedih.
Wajah khawatir mulai muncul dari raut muka Tuan Heru. Dia juga ikut melihat ke arah ranjang berada. Di mana sang ibunda sedang tidur. Dengan lengan yang dipasangi infus, dan beberapa alat kesehatan lainnya.
Tiba-tiba timbul rasa belas kasih di hatinya. Tuan Heru tidak mau terjadi sesuatu kepada orang tuanya satu-satunya, itu.
Bahkan Tuan Heru tak kuasa menahan air matanya. Yang tiba-tiba saja keluar membasahi pipinya. Dia baru saja memikirkan bagaimana jika seandainya sesuatu yang tak diinginkan, terjadi kepada sang ibunda.
Tentu saja Tuan Heru tidak mau jika semua itu kan terjadi di dalam dunia nyata. Pasti dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Jika terjadi sesuatu kepada sang ibunda.
Lalu dengan cepat, Tuan Heru berkata,
"Dokter, tolong cepat katakan. Apa yang harus kami lakukan saat ini kepada Oma Meri?"
Dokter Roland terlihat menghela napasnya panjang. Lalu berkata lagi,
"Untuk meringankan beban Oma Meri. Ada baiknya, Tuan dan Nyonya menuruti setiap keinginan darinya. Beberapa hari belakangan ini, setiap saya memeriksa beliau, Oma Meri selalu mengungkapkan kerinduannya kepada Tuan muda Faith dan Nona Lovlyta. Menurut saya, tak ada salahnya jika keinginan itu segera diwujudkan." Ucap, dokter Rolans kepada keduanya.
"Daddy dengar sendiri kan, perkataan dokter Roland tadi? Tolong deh, Daddy jangan berkeras hati lagi!" Seru, Nyonya Rara kepada suaminya. Sesaat setelah para tim dokter itu, baru saja keluar dari ruang rawatan Oma Meri.
"Iya, Mommy. Sekarang Daddy setuju, kok. Faith dan Lovlyta harus segera kembali ke Indonesia. Apa pun yang terjadi!" Tegas, Tuan Heru.
Dia pun segera memerintahkan orang kepercayaannya, untuk mengurus kepulangan kedua putra dan putrinya, itu.
"Pak Danu!" Panggilnya, kepada sang asisten, yang dari tadi berdiri di sudut ruangan itu.
"Siap, Tuan."
"Segeralah urus kepulangan Faith dan Lovlyta, secepatnya. Mereka harus telah berada di Jakarta, paling lama, Minggu depan." Perintah, Tuan Heru.
Lalu Pak Danu mulai duduk di sofa dan mengutak-atik laptopnya. Untuk mengurus semua yang diperintahkan oleh sang atasan.
Bunda Meri yang pura-pura tidur, tersenyum penuh misteri saat ini, akhirnya ... rencananya berhasil.
Sehari sebelumnya, di dalam ruang rawatan Oma Meri,
"Oma Meri, bagaimana saya bisa menyampaikan sesuatu yang buruk kepada anggota keluarga Hoewar." Ucap, dokter Roland. Ragu-ragu untuk menjalankan keinginan wanita kaya raya, itu.
"Ayolah, dokter Roland. Anda pasti bisa. Saya mendukung Anda secara penuh. Anggap saja ini adalah lelucon dari saya, saat ini." Oma Meri tetap ngotot. Meminta dokter Roland, untuk menuruti kemauannya.
"Tapi, Oma. Saya ini seorang dokter. Bagaimana saya bisa menyampaikan sesuatu yang tidak benar mengenai kesehatan Anda?" Dokter Roland, masih dalam dilema dengan permintaan Oma Meri.
"Dokter Roland, umur saya dari tahun ke tahun sudah semakin tua. Akan tetapi seluruh anggota Keluarga Hoewar, satu orang pun tidak pernah ada yang peduli dengan keberadaan saya. Mereka hanya menganggap saya ini sebagai boneka hidup. Hanya sebagai sumber aset pribadi mereka saja. Untuk semakin memperkaya diri sendiri. Sekalipun mereka tidak mempedulikan saya. Apakah salah, jika saya meminta perhatian dari mereka. Walaupun hanya sebentar saja?" Oma Meri mengatakan semua isi hatinya itu, sambil menangis.
Dimomen itulah, dokter Roland menjadi iba melihatnya. Dia pun mulai menimbang-nimbang untuk menuruti permintaan Oma Meri.
"Mungkin dokter tahu sendiri. Hanya dokter Kasih dan keluarganya yang peduli dengan saya. Padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan saya. Mereka hanyalah keluarga pekerja di Kediaman Hoewar. Tapi Anda bisa melihat sendiri. Bagaimana keluarga itu merawat saya." Oma Meri kembali menangis, meratapi nasibnya.
Semakin jatuhlah belas kasihan dokter Roland kepada Oma Meri. Dia bisa merasakan bagaimana sepinya hidup Oma Meri selama ini. Bergelimang harta dan aset pribadi di mana-mana. Namun haus akan kasih sayang.
"Saya juga ingin menjodohkan Faith dan dokter Kasih. Sepertinya sudah waktunya mereka berdua untuk menikah. Dokter Kasih semakin cantik. Pasti banyak para pria diluar sana yang ingin memilikinya. Saya tidak mau kecolongan, dokter Roland! Sejak dirinya masih kecil, saya sudah sangat menyukai dokter Kasih, dan setelah dia dewasa, saya ingin menjodohkannya dengan cucu saya, Faith. Apakah keinginan saya itu, salah? Saya hanya ingin melihat cicit saya, dari mereka berdua." Oma Meri, semakin bersedih hati.
Sang oma merasa hidupnya tidak ada gunanya, karena satu pun keluarganya tidak ada yang mengerti akan dirinya.
Dokter Roland pun menghela napasnya panjang, lalu berkata kepada Oma Meri,
"Baiklah, Oma. Saya akan mencoba untuk membantu Oma. Oma mau saya mengatakan apa?" Tanya dokter Roland, kepada Oma Meri.
Seketika saja, wajah Oma Meri yang tadinya sangat kusut dan penuh air mata. Tiba-tiba saja berubah menjadi berbinar dan penuh suka cita.
Dengan semangat empat lima, Oma Meri mulai menjabarkan hal-hal apa saja yang akan disampaikan oleh dokter Roland kepada anggota keluarga Hoewar.
Demikianlah sandiwara yang langsung disutradarai dan dilakoni sendiri oleh Oma Meri. Untuk menarik perhatian anggota keluarganya.
Kembali di ruang rawatan,
Pintu ruang rawatan itu diketuk dari luar. Tak berapa lama pintu pun dibuka, terlihat dokter Kasih dan ibunya, Bunda Sani, mulai memasuki ruang rawatan Oma Meri.
"Se ... selamat, siang Tuan, Nyonya." Sapa dokter Kasih, kepada Tuan dan Nyonya Hoewar. Kasih juga tak lupa tersenyum kepada ayahnya. Sambil sedikit menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada sang ayah.
Tak lupa juga, Bu Sani ikut menyapa kedua majikannya. Dia melihat jika suaminya, Pak Danu juga ada di dalam ruangan itu.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Saya datang ke sini untuk membawa bekal makan siang untuk Nyonya Oma." Tutur Bu Sani, kepada majikannya.
"Letakkan saja di atas meja, Bik." Jawab, Nyonya Rara.
Dari tadi pandangannya tak pernah lepas dari gadis berparas cantik yang memakai seragam dokter. Yang ikut masuk ke dalam ruang rawatan Oma Meri.
Dokter Kasih yang ditatap terus oleh Nyonya Rara menjadi sangat gugup. Dia pun terlihat menundukkan kepalanya saat ini.
Tuan Heru juga ikut terpesona kepada Kasih. Dia sampai bergumam jika dokter cantik ini. Sangat cocok dengan putranya, Faith.
Kasih semakin gugup karenanya. Apalagi Tuan Heru ikut menatapnya tak berkedip saat ini.
Oma Meri yang baru saja bangun. Seakan tercengang melihat menantu dan putranya yang dari tadi menatap ke arah Kasih dan tak berkedip sama sekali.
Oma Meri menjadi semakin yakin untuk menjodohkan cucunya dengan Kasih. Saat melihat keduanya menatap kearah Kasih begitu dalam.
"Lalu tiba-tiba Nyonya Rara berkata kepada Bik Sani,
"Bik, dokter cantik yang berada di samping mu ini, siapa?"