Bab 1

Hari Jumat malam, pukul delapan.

Sebuah perjamuan sedang diadakan di Hotel Four Seasons Garden. Pesta itu tidak hanya dipenuhi dengan suasana yang mewah, tetapi suasana ceria juga terlihat saat orang-orang bersulang dan mengobrol dengan gembira mengenai acara tersebut.

Nina Kusuma melihat papan nama di hotel itu dengan wajah cemberut, "Sudah pasti yang ini."

Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengerutkan alisnya. Tidak mudah untuk masuk ke dalam tempat ini tanpa sebuah undangan. Apa yang akan Nina katakan? Bersamaan dengan Nina yang khawatir, seseorang dengan sosok tubuh ramping lewat di depannya. Orang itu adalah Isabella Baskara, teman Nina di sekolah.

"Isabella," sapa Nina, sambil melambai padanya. Seolah dirinya terkejut, Isabella berbalik, mengedipkan mata dengan kaget saat dia melihat siapa orang yang memanggilnya, "Mengapa kamu ada di sini?"

Isabella mendekat, mengernyitkan wajahnya saat dia tidak mencium aroma dari Parfum Feromon, parfum yang dia berikan kepada Nina, "Kenapa kamu tidak menggunakan parfum pemberian dariku?"

"Ada hal mendesak yang harus kulakukan. Itulah alasanku tidak menggunakannya." Sejujurnya, masalah sebenarnya adalah karena Nina tidak terbiasa menggunakan parfum. Dia melihat ke arah kerumunan orang, "Ngomong-ngomong, apa kamu bisa membawaku ke dalam?"

"Tentu saja aku bisa." Isabella tersenyum polos seakan ada sesuatu yang melintas di pandangannya.

Dia mengambil parfum dari sakunya dan menyemprotkan parfum tersebut ke seluruh bagian tubuh Nina.

Nina terbatuk, lalu dengan sengaja mencubit hidungnya, "Aku alergi terhadap parfum," dia menjelaskan pada Isabella, sambil melambaikan tangan ke udara.

Tanpa memberikannya waktu untuk berpikir, Isabella menariknya ke dalam hotel dan mendorongnya ke dalam lift.

Sesaat setelah Nina sudah pergi, terlihat senyum yang terulas di bibir Isabella.

Untungnya, hari ini dia membawa parfum tersebut. Parfum itu memang hal yang berguna untuk waktu seperti ini. Tidak peduli seberapa polos atau suci seorang wanita, dia akan terlihat menantang bagi para pria saat dirinya berada di bawah pengaruh parfum tersebut. Tidak peduli seberapa teguh pendirian seorang pria, dia akan tertarik oleh aroma parfum tersebut.

Ada ratusan pria di dalam pesta pada hari itu. Isabella tersenyum memikirkan hal itu, 'Semoga berhasil, Nina. Demi kebaikanmu, aku harap kamu tidak meniduri orang yang jelek.'

Nina tiba di lantai 20 di mana hanya ada dua kamar kelas VIP teratas. Dia mengetuk ruangan di sebelah kiri, seorang pria menawan dengan wanita genit di sebelahnya lalu membuka pintu ruangan itu.

Nina mundur ke belakang sambil tertatih dan mengerutkan alisnya.

Sepertinya dia salah mengetuk pintu.

Nina membuang muka dengan rasa malu, "Maaf. Kamu dapat melanjutkan kegiatanmu."

Begitu dia berbalik, pria itu menghentikannya, "Tunggu, apa kamu sedang mencari Tuan John?"

Pria itu melihat Nina dari atas ke bawah. Nina terlihat bersih dan polos. John Hermawan mungkin tidak akan mengusir wanita ini seperti yang pernah dia lakukan pada orang lain di masa lalu.

Baru saja James Hermawan menelepon John dan mengatakan padanya bahwa dia berencana untuk memberinya kejutan. Dia tidak menyangka wanita tersebut akan dikirim padanya secepat ini.

"John ada di dalam." Sebelum Nina bisa paham apa yang dimaksud oleh pria tersebut, dia sudah mendorongnya masuk dan menutup pintu.

Nina terhuyung-huyung ke dalam ruangan suite, bahkan hampir terjatuh ke lantai. Saat pintu di belakangnya tertutup, matanya yang sayu melihat sekeliling ruangan tempatnya berada.

Ketika Nina mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya, dia berbalik badan. Seorang pria tinggi dan tampan melihatnya. Walaupun seumur hidupnya Nina sudah pernah bertemu dengan banyak pria, tapi tidak ada pria yang bisa menandingi ketampanan pria di hadapannya.

Tubuh bagian atasnya sangat bagus dan kuat. Kulitnya yang putih dan otot-ototnya yang kekar sangat menarik perhatian, terutama ketika tetesan air mengalir melalui lekukan otot perutnya. Nina menelan ludahnya sendiri.

"Apa kamu sudah cukup melihat-lihat?" kata pria itu dengan dingin, membuat Nina kembali tersadar pada kenyataan. Ingat akan pekerjaannya, Nina mengingatkan dirinya sendiri dan meminta maaf dengan berlebihan, "Maaf. Mungkin aku masuk ke ruangan yang salah."

Di dalam dunia ini, hanya ada dua macam orang yang akan memasuki ruangan yang salah. Antara mereka bodoh atau manipulatif. Pria itu berpikir bahwa wanita ini adalah orang yang manipulatif.

John menatapnya. Dia memiliki wajah yang cantik, kulitnya putih dan hidungnya mancung.

Kulitnya yang seperti porselen berwarna merah muda terang, matanya yang besar tampak polos dan naif. Ada sesuatu tentang Nina yang membuat pria ini langsung tertarik padanya.

Bibir pria itu melengkung ke atas.

"Tidak, kamu tidak salah masuk ruangan." Seharusnya wanita ini adalah kejutan yang James katakan padanya.

John sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Wanita-wanita yang sebelumnya diberikan oleh James biasanya langsung diusir keluar olehnya. Sebenarnya, John sudah sangat terbiasa dengan mereka sehingga John merasa biasa aja saat melihat mereka.

Melihat wanita di depannya yang juga berusia sekitar 20 tahun, sepantaran dengan usia James, John tahu bahwa dia harus bersikap baik untuk saat ini.

"Sudah berapa lama kamu melakukan hal seperti ini?" ucap John seolah-olah dia sedang memarahi keponakannya, James.

Dengan ekspresi kebingungan di wajahnya, Nina mengerutkan keningnya, "Ini merupakan pertama kali bagiku," katanya dengan jujur.

Dulu, biasanya Nina hanya menangani kasus-kasus yang dibahas di ruang guru. Ini adalah pertama kalinya Nina berada di lapangan untuk menyelidiki.

Dikatakan bahwa ada dua kasus bunuh diri yang akan ditutup di kantor polisi. Namun, Nina selalu merasa bahwa kasus tersebut bukan hanya sekadar bunuh diri. Bahkan, dia datang ke sini untuk menghubungkan dua kasus tersebut. Bagian dari dirinya merasa bahwa kedua korban kasus tersebut memiliki hubungan, dan Nina ingin mengetahui lebih banyak petunjuk yang menunjukkan hubungan kedua korban.

Selama seminggu terakhir, Nina telah menghampiri ke hotel-hotel terdekat, berharap menemukan beberapa petunjuk untuk membuktikan dugaannya.

"Pertama kalinya bagimu? Jadi kamu hanya punya teorinya saja?" John lalu duduk.

Dia kemudian mengambil segelas anggur dan memutuskan untuk meminumnya.

Nina secara tidak sengaja melirik John, dia merasakan bahwa dirinya tidak bisa melepaskan pandangan darinya, "Aku sudah mempelajari teori itu selama dua tahun."

"Oh? Benarkah?" John mencibir, seolah-olah dia baru saja mendengar sebuah lelucon.

'Apa mereka benar-benar mengajarkan teori untuk pekerjaan macam ini? Apa tujuan mereka mengajarkan itu? Untuk mencari seorang pria lalu mempraktikkan teori tersebut?'

"Jangan meremehkanku," bentaknya pada John. Nina baru saja mau balik badan dan pergi saat dia mendengar suara John.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu layak untuk dihormati? Berapa banyak uang yang mereka berikan padamu?" John menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asap. John benar-benar tidak bisa menemukan alasan bagi wanita untuk masuk ke pekerjaan seperti ini dan tidak dibayar.

John menyilangkan tangannya di depan dada.

"Tidak ada," kata Nina dengan dingin.

Tidak ada?

Nina adalah wanita paling cantik yang pernah John lihat.

Padahal, dalam lingkup pekerjaan seperti ini, wanita seperti ini bisa bernilai puluhan ribu dolar.

Melihat Nina akan pergi, John mengerutkan keningnya, "Apa aku berkata kalau kamu boleh pergi?"

Dengan jentikan jari pada rokoknya, api kecil berbentuk bola itu menjadi semakin menyala. Tidak ada yang bisa datang dan pergi dengan sesuka hati mereka di tempat John.

Nina berhenti saat jantungnya berdegup kencang, "Dengarkan aku, pekerjaan kami tidak bisa dinilai dari uang. Kamu harus tahu seberapa bahaya hal ini, terutama mengenai kasus ini. Dalam ruang yang tertutup seperti itu, seseorang bisa mati jika aku tidak melakukan pekerjaanku dengan benar. Aku harus pergi sekarang."

Seseorang bisa mati?

Tanpa sadar John melirik ke bawah. Apa dirinya benar-benar mengerikan seperti itu?

Mata Nina melotot, seolah menyadari maksud dari tanggapan John.

Pria ini pasti salah mengira dirinya...

Pipinya memerah.

"Kamu! Dasar tidak tahu malu!" kata Nina dengan marah sambil menunjuk pria itu.

John hanya diam tanpa ekspresi. Bagaimana bisa Nina memanggilnya tidak tahu malu padahal dia adalah bosnya untuk malam ini?

Bab 2

"Apa kamu benar tahu apa itu tidak tahu malu, hah?" Tiba-tiba John berdiri dan menjentikkan rokok yang dipegangnya ke asbak. Tanpa berbicara lagi, dia mendekati Nina.

Nina terlihat kecil dibandingkan tubuhnya yang tinggi. Dia memojokkan Nina ke sudut. Nina mengepalkan tangannya dan menahan napas. Sekarang sudah tidak ada jalan untuk kembali.

Aroma unik dari pria itu menempel di ujung hidungnya. Aroma itu membuat hidungnya gatal sampai seluruh wajahnya menjadi merah. Nina melotot sambil berteriak, "Aku bukan orang seperti yang ada dalam pikiranmu!"

Namun, saat pria itu mendekati Nina, dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu terkait aroma yang membuat dirinya ingin semakin mendekat pada Nina.

Aroma tersebut telah menembus semua pertahanan dirinya.

Tiba-tiba, ekspresi pria itu berubah.

Karena parfum tersebut, tubuh Nina juga melemah saat menghadapi pria itu. Parfum itu seperti sedang mempermainkan mereka berdua seperti boneka.

"Ini karena bau parfummu! Kamu telah menjebakku!" Pria itu menahan amarahnya, di saat bersamaan urat biru terlihat menonjol pada keningnya. Tanpa berpikir lagi, John mengangkatnya, tidak menginginkan apa pun lagi, hanya ingin menjadi lebih dekat dengan Nina.

"Tidak! Aku.. hmph... Lepaskan aku! Aku—aku sudah—"

Nina sudah menikah.

Meskipun dia tidak tahu siapa suaminya atau seperti apa wajah suaminya, dia sudah menandatangani akta pernikahan yang memastikan status pernikahan mereka.

Namun, John tidak ingin mendengarkan omong kosongnya lagi. Tanpa berbicara lagi, dia mencium Nina dengan kuat. Begitu bibirnya menyentuh bibir Nina, tubuhnya menegang.

Benar saja, bibir Nina terasa sangat manis.

"Lepaskan..." Nina terisak sambil meninju dada John.

Nina sedikit kuat, tetapi aroma parfum itu jauh lebih kuat dan benar-benar memperkuat gairah John.

John hanya bisa membuat dirinya bersandar lebih jauh dan dalam saat dia menyetubuhi Nina sepenuhnya.

Nina sangat ketakutan hingga wajahnya memucat. Sentuhannya mengirimkan arus listrik ke seluruh tubuh Nina, membuatnya terdiam.

Beberapa saat berlalu, langit di depan mereka sudah menjadi cerah, menandakan bahwa pagi hari sudah dekat.

Nina merasa seluruh bagian tubuhnya terasa pegal. Nina mengerjap dengan kelelahan saat dia memutar badan dan berbalik. Namun, saat Nina melihat pria di sampingnya, dia hampir saja berteriak.

Tidak!

Nina terkejut, sambil menutup mulutnya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi!

Memikirkan status dirinya sebagai wanita yang sudah menikah, tangan Nina gemetar saat dia meraih lampu meja di sebelahnya. Dia hanya ingin menyelidiki kasus bunuh diri. Bagaimana caranya dia bisa tahu kalau dirinya baru saja masuk ke dalam kamar seorang iblis?

Matanya berkedip-kedip.

Burung-burung yang sedang berkicau di luar langsung menenangkan dirinya dan membuat pikirannya kembali tersadar ke dunia nyata.

Tahu bahwa dirinya akan membahayakan pernikahannya sendiri, Nina dengan cepat memakai pakaiannya dan berbalik untuk pergi, bahkan sama sekali tidak melihat pria yang tidur nyenyak di sebelahnya itu.

Mudah-mudahan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Saat Nina berjalan keluar dari hotel, dia bisa melihat bahwa tidak ada laporan kejadian bunuh diri karena kurangnya wartawan dan pekerja di sekitar situ. Dia menghela napas dengan lega.

Nina kembali ke rumah dalam keadaan bingung. Pagi hari itu dilewati Nina dengan mandi berkali-kali sampai seluruh kulit di tubuhnya menjadi warna merah.

Tidak buruk untuk berhubungan badan dengan pria asing. Satu-satunya masalah yang ada yaitu dia sudah menikah!

Dua tahun lalu, Nina sudah menandatangani surat pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah dia temui.

Bahkan Nina tidak tahu nama, tinggi, berat badan, usia atau apa pun tentang pria itu!

Jika Nina tidak terlalu haus akan kasih sayang pada saat itu, maka dia tidak akan mencelakai dirinya sendiri!

Nina menggertakkan giginya, merasa sangat tertekan.

'Sialan!' Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Merasa takut, Nina bergegas menuju lacinya dan mengeluarkan surat perjanjian pernikahannya.

Sambil gemetar ketakutan, Nina membolak-balik halaman suratnya, mengingat bahwa ada kalimat yang berhubungan dengan perselingkuhan... Jika dia berselingkuh saat pernikahannya masih berjalan, berapa yang harus dia bayar?

Sambil membalik perjanjian itu, Nina pun diam membeku.

Seolah-olah dirinya baru saja disambar petir. "40 Miliar?" Nina menjerit.

Nina mengucek matanya dan melihat lebih dekat lagi. Di kertas itu tertulis dengan jelas bahwa dia harus bayar 40 Miliar. Bahkan kalimat itu diikuti dengan tanda tangan dan sidik jarinya.

Sial!

Nina tidak bisa menghindari hal ini sekarang.

"40 Miliar." Tangan Nina gemetar. Dia jatuh ke lantai. Sekarang yang Nina inginkan hanyalah hilang ditelan bumi.

Di mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?

Ini bukan kejadian seperti dia mau selingkuh dari suaminya!

Akhirnya Nina sudah memutuskan.

Dia mengertakkan gigi dan matanya menyipit pada kaca dengan perasaan dingin pada dirinya.

Dia tidak akan pernah ingin bertemu dengan pria itu lagi.

Jika Nina bertemu dengannya, maka dia akan menyogok pria itu.

Jika pria itu menolak, maka dia akan mengancamnya.

Begitu Nina selesai menangani masalah ini, dia akan menyiapkan surat perceraiannya. Pada titik ini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.

Pada saat itu, Nina akhirnya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu kebebasan. Pada momen ini, akhirnya Nina bisa menjadi psikolog profiler kriminal yang memenuhi syarat tanpa seorang suami yang menjauhkan dirinya dari pekerjaan itu.

Nina menghela napas dengan lega.

Tepat pada pukul sepuluh pagi, seorang pria dengan setelan jas dan sepatu kulit masuk ke dalam ruang presidential suite. Dia berusia sekitar 24 tahun. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan membawa tas kerja di tangannya.

Pria itu tidak lain adalah Henry Budiman. Belum lama ini, dia melamar menjadi asisten CEO untuk Grup Time. Meskipun dia sudah mendapatkan pekerjaan itu, tapi sebenarnya ini pertama kalinya dia melihat presiden dari Grup Time – John Hermawan.

John adalah putra bungsu dari Keluarga Hermawan. Dikatakan bahwa dia adalah orang yang memegang kuasa atas Grup Time. Faktanya, John sangat kejam dan mempunyai harta sebanyak setengah dari apa yang dimiliki oleh Kota Kencana.

Ketika Henry mendorong pintu sampai terbuka, dia melihat seorang pria tinggi yang mengenakan handuk keluar dari dalam kamar mandi. John melirik Henry dengan sikap acuh tak acuh, "Pakaianku."

"Baik, Tuan John." Henry segera memanggil seseorang untuk mengambilkan jas untuk John.

Saat Henry memanggil seseorang, dia melirik sofa yang berantakan dan pakaian yang berserakan. Bahkan, dia bisa melihat sepatu wanita yang ada di sofa, juga ada goresan merah tipis di punggung bosnya.

Ternyata bosnya baru melalui malam yang spesial.

Henry merapikan kacamatanya.

Tak lama kemudian, pakaian yang dia minta tadi sudah dibawa masuk.

Pada saat ini, John sedang berdiri di depan cermin. Celana hitamnya lurus ke bawah sampai ke mata kaki, dia mengenakan kemeja putih. Kerahnya tidak dikancing, memperlihatkan sedikit kulitnya.

Saat Henry melihat ke atas, dia bisa melihat wajah yang tampan dan mata gelap yang terlihat dingin.

John menutup bibirnya dengan erat dan mulai merapikan rambutnya. Sambil melihat dirinya di cermin, John tersenyum dalam rasa puas dan melanjutkan untuk merapikan pakaiannya satu per satu.

'Dia adalah pria yang sangat narsis, ' pikir Henry.

Melihat John yang sudah berpakaian, Henry langsung menegakkan punggungnya. "Tuan John, ayah Anda meminta Anda untuk pulang ke rumah malam ini."

"Aturlah."

"Baik. Apa ada lagi yang bisa saya lakukan untuk Anda, Tuan John?" Henry bertanya. 'Sebagai contoh, apakah dia harus mencari tahu tentang wanita yang datang pada malam itu?'

"Cek semua hal detail tentang wanita yang datang semalam. Aku ingin tahu semua tentangnya." John perlu mencari tahu kebenaran tentang wanita itu.

Alasan di balik James mengirim seorang wanita untuk datang adalah karena penampilan wanita tersebut, tapi John ingat wanita itu berkata bahwa dia sudah mendapat pelatihan secara teori.

Mengingat dirinya baru saja kembali, John harus berhati-hati tentang hal-hal ini.

Tidak lama setelah itu, Henry akhirnya menemukan sebagian informasi tentang Nina, tetapi informasi tersebut hanya sebanyak setengah halaman.

John mengerutkan keningnya.

Aneh, kenapa Henry hanya bisa menemukan informasi sebatas ini saja menggunakan semua koneksinya? Bagaimana pun, Henry adalah seorang hacker.

Saat Henry menyerahkan dokumen itu kepadanya, dia menelan ludah dengan perasaan gugup.

Dia tidak pernah secemas ini dalam mengetahui informasi rahasia.

"Nina berumur 20 tahun. Dia mahasiswa tahun kedua di Departemen Psikologi Universitas L. Tidak ada informasi sama sekali tentang orang tuanya, sepertinya dia adalah anak tunggal. Dia juga sudah menikah,"

Henry selesai bicara.

Ada sesuatu mengenai nama wanita itu yang membuat Henry penasaran, tapi dia tidak tahu apa hal itu.

Ketika John mendengar bahwa Nina sudah menikah, matanya melotot lebar. John hanya bisa mengerutkan alisnya sambil memikirkan darah di seprainya, 'Sudah menikah? Apa suaminya impoten?'

Bab 3

Ketika dia tidak mendengar apa pun lagi dari asistennya, John menaikkan pandangannya, ''Hanya itu saja?"

Henry mengangguk, "Informasi tentangnya sebelum masuk kuliah kosong, jadi aku tidak bisa menemukan apa pun lagi."

"Bahkan kamu juga tidak bisa menemukan apa pun?" John menatapnya sambil berpikir keras.

Henry mengangguk lagi, "Semua informasi tentangnya sudah dihapus dengan sengaja."

Bagaimana bisa informasi tentang seseorang benar-benar terhapus sepenuhnya? Bahkan Henry yang merupakan salah satu hacker terbaik di dunia pun tidak dapat menemukan informasi itu. Sepertinya latar belakang wanita ini tidak sesederhana itu.

Atau, suaminya bukan orang biasa yang mudah untuk dihadapi.

Kalau begitu, hanya takdir yang bisa membawa Nina masuk ke dalam hidup John lagi.

Mungkin tadi malam adalah satu-satunya waktu di mana mereka bisa bertemu.

Melihat ekspresi serius pada wajah bosnya, Henry merasa John sebenarnya tertarik pada Nina. Mengetahui bahwa Nina sudah menikah pasti membuat John kecewa.

Sangat disayangkan Nina benar-benar sudah menikah.

"Jangan sampai dia mengandung anakku," kata John dengan dingin saat Henry berbalik.

John benci apabila harus menghadapi masalah apa pun.

'Sepertinya dia tidak hanya bersifat dingin tapi juga tidak kenal ampun,' pikir Henry.

Lagi pula, mereka hanya melakukan hubungan satu malam. Bagaimana mungkin John bisa begitu peduli terhadap wanita itu?

Henry melirik informasi tersebut sekali lagi.

Tiba-tiba, informasi tentang Nina mengingatkannya tentang siapa Nina sebenarnya.

Dia adalah... ...

Henry menjadi tegang.

Tidak heran Nina terlihat tidak asing!

Bukankah dia istri John yang menikah dengannya secara rahasia?

Bahkan, John sendiri tidak tahu bahwa dia sebenarnya sudah menikah.

Tampaknya mereka sudah saling menggoda bahkan sebelum mereka tahu bahwa mereka ditakdirkan untuk bersama.

"Tuan John..." Henry mengangkat kepalanya, menghentikan pria yang akan memasuki lift itu.

John berbalik dan meliriknya, seolah-olah dalam diam mengatakan kepada Henry bahwa jika pembicaraannya itu tidak penting, maka dia tidak seharusnya mengganggunya sama sekali.

Sebagian dari diri Henry tidak ingin mengatakan apa pun, tetapi sebagian dari dirinya juga takut jika John tahu tentang hal ini dan tahu bahwa dirinya menyembunyikan hal ini darinya, John mungkin akan membakarnya hidup-hidup! Sambil mengambil napas dalam-dalam, Henry menenangkan dirinya sendiri, "Tuan John, Nona Nina sebenarnya..." adalah istrimu.

"Saat kamu melamar kerja untuk menjadi asistenku, apakah tidak ada yang memberitahumu untuk diam saat aku tidak bertanya?"

Henry hendak melanjutkan perkataannya ketika John memotong ucapannya dengan kasar.

Terkejut dengan kata-katanya yang kasar, Henry menegakkan punggungnya lalu menundukkan kepalanya sambil mengangguk, "Ya, Tuan John. Aku tidak akan melakukan itu lagi."

"Gajimu dipotong selama satu bulan. Itu adalah hukumanmu," katanya dengan cuek, melambaikan tangannya seolah-olah dia adalah seorang raja yang sedang memerintah rakyatnya.

Henry terdiam membeku seperti baru saja disambar oleh petir. Dia membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Henry baru saja bekerja kurang dari sebulan dan gaji yang dia dapatkan dengan susah payah itu sekarang hilang! Apa-apaan ini?

Henry benar-benar marah, tetapi dia tidak berani berbicara lagi.

Pukul tiga sore.

Walaupun Nina masih mengantuk, dia menjawab panggilan yang meminta dirinya untuk datang ke pesta makan malam pada pukul enam sore di Jalan Sentosa Nomor 1. Dia menyetujui panggilan itu tanpa ragu. Sejujurnya, Nona sudah tidak sabar menunggu.

Nina sebenarnya berencana untuk bercerai pada hari ini, dan sekarang, kesempatan itu sudah datang tepat pada waktunya.

Tidak. Jalan Sentosa Nomor 1 adalah sebuah rumah teras. Faktanya, mereka adalah satu-satunya keluarga yang tinggal di sepanjang jalan itu, jadi di sana sangat sepi.

Nona menyentuh tasnya sendiri tanpa sadar, mengetahui bahwa tasnya berisi sebuah perjanjian perceraian tertulis yang baru dibuat.

Begitu Nina melangkah ke halaman luar rumah itu, suara yang berat terdengar dari belakangnya. Itu adalah ayah dari suaminya, yaitu papa mertuanya. Dia tersenyum melihat kedatangan Nina.

Sam Hermawan berusia sekitar 60 tahun, jadi Nina menebak bahwa putranya itu pasti sudah berusia 40 tahunan sekarang.

Namun, dia masih belum menikah pada usianya yang setua itu, bahkan membutuhkan ayahnya untuk mencarikannya seorang istri. Hal itu menunjukkan bahwa pria itu jelek atau sakit jiwa.

Oleh karena itu, Nina semakin terdorong untuk menyerahkan perjanjian tersebut.

"Nina, kamu sudah datang!" Rambut Sam sudah mulai berwarna keabuan, kerutan di wajahnya terlihat jelas setiap kali dia tersenyum. Meskipun Sam sudah terlihat tua, tapi dia masih cukup bersemangat.

Nina berjalan menghampirinya lalu menundukkan kepalanya, "Om."

Sam mengerutkan kening karena cara Nina memanggilnya.

Nina adalah menantu perempuannya! Bagaimana bisa Nina memanggilnya om seolah-olah dia hanyalah orang tua lainnya?

"Nina, aku yakin kamu salah menyebut panggilanku." Sam mengingatkannya dengan ramah.

Nina pun merasa canggung.

Tentu saja!

"Kamu masih merupakan istri dari anakku. Mengapa kamu memanggilku om?"

'Aku tidak akan menjadi menantumu lagi dalam waktu dekat.'

Namun, kalimat tersebut ditahan oleh Nina. Dia tidak ingin mengatakannya karena takut akan menakuti pria tua ini.

Mengapa tidak diselesaikan saja sekarang?

Sam sudah mengatur makan malam keluarga hari ini, dan orang yang dinikahinya pasti akan datang. Bagaimana jika dia melihat Nina pada saat itu? Bagaimana jika dia menolak menceraikannya setelahnya?

Nina harus secepat mungkin memutuskan semua ikatan hubungannya!

"Om, hari ini aku benar-benar datang ke sini untuk memberitahumu sesuatu." Tanpa menambahkan pembicaraan apa pun lagi, Nina mengeluarkan perjanjian perceraian dari tasnya.

Mengingat Nina mencetaknya pagi tadi, tintanya masih terlihat baru.

Nina menyerahkan perjanjian perceraian itu kepada Sam, "Om, ini adalah perjanjian perceraianku. Aku sudah menandatanganinya. Tolong berikan ini ke..."

Siapa nama suaminya?

Nina terpaku, dirinya terkejut karena dia bahkan tidak tahu nama suaminya, lalu Nina melanjutkan, "Tolong berikan itu kepada suamiku dan suruh dia untuk menandatanganinya."

Perjanjian perceraian?

Ekspresi Sam mendadak berubah. Dia melirik ke kertas perjanjian itu sebelum melirik kembali ke arah Nina, memperhatikan wajahnya.

Dari yang terlihat, Nina pasti sangat menginginkan hal ini terjadi.

Dia bahkan menyiapkan semuanya sendiri.

"Apa kamu ingin mempertimbangkan kembali hal ini?" kata Sam dengan lembut.

Nina sudah mengambil keputusan.

Keputusannya akan selalu mengarah pada hal ini tidak peduli solusi apa yang sudah dia coba buat.

Jika Nina tidak "berselingkuh" dari suaminya, maka dia tidak akan sebegitu inginnya untuk menceraikannya. 40 Miliar itu sangat memberatkannya.

Nina bahkan tidak ingin suaminya untuk muncul saat ini.

Bagaimana jika dia tiba-tiba mengetahui hal itu? Nina tidak ingin mati!

Nina mengusap dahinya yang sakit, melihat kekecewaan yang terlihat di seluruh wajah Sam, "Aku sudah membuat keputusan. Aku bersedia untuk menyerahkan semua properti atas namaku."

"Benarkah?" Bahkan Nina tidak menginginkan perlindungan Keluarga Hermawan?

Orang lain tidak mengenal Nina, Sam adalah alasan di balik semua kejadian ini.

Jika Sam tidak menghapus semua informasi tentang Nina, maka masa lalunya akan terus menghantuinya.

"Ya."

Selama tidak perlu membayar 40 Miliar, maka dia baik-baik saja.

Bukannya tidak memiliki kemampuan untuk membayar uang tersebut, tetapi dia tidak ingin kena akibatnya.

Selain itu, Nina memiliki kemampuan tersendiri untuk bersembunyi dari keluarganya.

Sam memikirkan tentang hal ini untuk sementara waktu, menyadari bahwa alasan Nina ingin bercerai adalah karena dia tidak pernah melihat putranya.

"Tidak, akulah yang bertanggung jawab atas pernikahanmu. Ini salahku karena kalian belum pernah bertemu satu sama lain," jelasnya.

Kemudian Sam mengeluarkan foto berukuran satu inci yang sudah pudar dari balik saku mantelnya sebelum menyerahkannya pada Nina, "Ini adalah foto anak bungsuku. Kamu bisa memutuskan setelah melihat foto tersebut."

Nina melirik foto tersebut. Karena warnanya yang sudah pudar, Nina hanya bisa samar-samar melihat sosok pemuda itu. Bahkan pemuda itu terlihat seperti baru saja selesai kuliah.

Dia terlihat tampan.

Hanya saja, karena Nina tidak melihat foto-foto terbarunya, dia tidak tahu seperti apa tampangnya sekarang.

"Om, aku tidak ingin menunda perceraian ini," katanya. Nina juga tidak ingin membuang waktu lagi.

Ketika Sam melihat bahwa Nina masih tetap pada keputusannya, dia harus menjalankan rencana lain seperti mengambil alih perjanjian perceraian itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED