Bab 2

"Siapa Viona? Apakah dia selingkuhan Mas Angga?" Aku bertanya di dalam hati.

Pertanyaan itu mengusik pikiranku, satu nama yang diucapkan Mas Angga ketika matanya terpejam. Tentu saja mengusik hatiku.

"Terima kasih Viona." Begitu kalimat yang suamiku ucapkan. Maksudnya apa? Apakah Mas Angga berselingkuh dariku? Mungkinkah laki-laki sedingin dia punya wanita idaman lain?

Kutatap wajah Mas Angga yang masih terlelap pulas. Aku menggeleng cepat, tidak mungkin suamiku berselingkuh. Itulah yang aku tekankan pada hati. Sebelum beranjak dari tempat tidur, aku kecup pipinya dengan penuh rasa cinta. Hanya ketika dia tidurlah aku bisa mencium pipinya. Itu saja sudah membuatku bahagia.

Turun dari kasur, lekas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Kamar mandi berada terpisah dari kamar tidur kami. Oleh karena itu, aku harus melangkah keluar, seraya menutupi tubuh dengan selimut.

Usai membersihkan diri, aku duduk sejenak di meja rias. Namun, entah kenapa kalimat yang aku dengar sebelumnya kembali menghantui.

"Belum tidur, Rum?"

Aku membalikkan badan, tersenyum tipis pada Mas Angga yang baru saja bangun. Bergegas aku beranjak dari depan meja rias. Meskipun hidup kami sederhana, Mas Angga tidak lupa membelikan aku meja rias. Walaupun bukan yang mahal, tetapi aku sangat bahagia.

"Belum, Mas."

Menjatuhkan diri di samping Mas Angga. Aku sudah berpakaian lengkap. Daster selutut yang bertali di pinggangnya. Jika ditarik akan membuat lekukan pinggang menjadi terekspos.

"Aku mau mandi, Rum." Mas Angga mengusap wajahnya.

"Iya, Mas. Sebentar aku siapkan dulu."

Mas Angga mengangguk. Aku kembali keluar kamar, menuju dapur. Jika berhubungan malam hari, dan dia memutuskan mandi di malam hari juga, aku akan mempersiapkan air hangat untuk Mas Angga. Begitulah rutin aku lakukan, sejak hidup bersamanya.

Jika ditanya, apakah Mas Angga sering mengajakku beribadah, maka jawabnya iya. Sungguh membingungkan bukan? Karena itulah aku menjadi dilema olehnya.

Pernah terpikir untuk berpisah saja, tetapi Mas Angga tidak menggubris permintaanku. Hingga pada akhirnya aku pun terlambat datang bulan. Garis dua itu pun muncul, membuat perasaan bercampur aduk. Namun, kala itu aku hanya berpikir positif, bahwa semua adalah cara takdir menyuruhku untuk bertahan.

Hamil anak pertama, membuatku berpikir ulang untuk mengakhiri pernikahan. Masa cuma karena dia tidak romantis, lalu aku memutuskan untuk bercerai. Aku rasa, persoalan itu masih bisa diatasi. Begitulah terus aku menghibur diri sampai Bilqis lahir.

Rebusan air panas untuk persiapan Mas Angga mandi sudah aku sediakan. Setelah mengukur temperatur airnya yang sudah pas, aku kembali ke kamar.

"Mas, airnya sudah selesai," ucapku, seraya tersenyum.

"Terima kasih, Rum. Aku mandi dulu." Mas Angga mengucapkan terima kasih dengan wajah tanpa senyuman.

"Iya, Mas. Sebentar aku ambilkan handuk."

Aku ambilkan handuk untuk Mas Angga, tidak mungkin juga dia berjalan ke kamar mandi tanpa penutup. Handuk aku serahkan padanya, Mas Angga pun sekali lagi mengucapkan terima kasih. Setelah dia keluar dari kamar tidur, aku segera memutuskan untuk tidur, karena harus tetap bangun lebih awal.

*****

Ponsel yang jarang ku sentuh dan gunakan itu, tiba-tiba berdering. Aku baru saja menidurkan Bilqis di kasur. Agar tidak was-was, aku bentengi dengan bantal di sekitar Bilqis yang tertidur lelap.

Menatap ponsel, di sana tertera nama Mas Angga. Tumben sekali dia menelponku siang-siang. Untuk menghilangkan rasa penasaran, aku segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mas."

"Rum, nanti malam Faisal mengadakan acara di rumahnya," ucap Mas Angga di ujung sana.

"Iya, Mas. Terus?" tanyaku kurang mengerti maksud Mas Angga menelepon.

"Jadi kita ke sana nanti malam."

"Hmm, kalau Mas saja yang pergi bagaimana?" tanyaku hati-hati.

Bukannya tidak menghargai Mas Angga, hanya saja aku memang sengaja menghindar dari temannya itu. Pengalaman yang pernah terjadi, membuatku enggan bertemu atau semacamnya.

"Loh kenapa, Rum?" tanya Mas Angga lagi, seakan keberatan.

"Gak apa-apa sih, Mas. Cuma, aku malas saja." Terpaksa aku jawab apa adanya.

"Jangan begitu, Rum. Harusnya kamu hargai teman-temanku. Apalagi Faisal adalah teman terdekatku."

Percakapan kami pun diputus sebelah pihak. Sepertinya Mas Angga marah padaku. Aku hanya bisa menghela nafas, dan membuangnya secara kasar. Andai Mas Angga tahu, aku menolak bertemu sahabatnya itu, justru karena sangat mencintai Mas Angga.

Namun apa boleh buat, Mas Angga tentu lebih membela temannya. Karena itulah semua kejadian yang tak pantas itu aku simpan dan aku pendam saja.

Ingatan masa itu kembali menari-nari di pelupuk mataku.

***

"Rum, apakah kamu bahagia hidup dengan Angga?" tanya Mas Faisal.

Dia membuka obrolan yang membuatku terkejut. Saat itu Mas Angga keluar rumah sebentar untuk membeli air galon. Hanya ada aku dan Mas Faisal saja di rumah.

"Kenapa bertanya gitu, Mas?" tanyaku.

"Hmmm, ya gak apa-apa sih. Kalau kamu tidak bahagia, aku siap membahagiakanmu," ucap Mas Faisal, seraya terkekeh.

Dia pikir candaannya itu adalah lelucon yang akan membuatku tertawa. Padahal, itu semua membuatku tahu seperti apa kualitas dirinya.

Saat itu, aku hanya diam. Kemudian, aku pura-pura ke belakang. Semua itu aku lakukan agar menghindar dari Mas Faisal. Apalagi dia memulai obrolan yang tak pantas menurutku.

"Saya permisi ke belakang dulu, Mas."

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung beranjak menuju dapur. Sengaja mencari kegiatan untuk menghindari Mas Faisal. Tiba-tiba dia sudah berada di belakangku.

"Mas Faisal, kok ikut kemari?" Aku bertanya, mata terbuka lebar. Tidak menyangka dia seberani itu.

"He he he, nggak kok, Rum. Cuma mau mengambil gelas."

Dia tersenyum, mendekati rak piring. Akan tetapi, matanya tak berhenti melirik padaku. Semua aku ketahui, karena aku meliriknya dengan sudut mata.

"Aku bisa kok membahagiakanmu, Rum. Lebih baik dicintai daripada mencintai," bisiknya di belakang pundakku, ketika dia lewat sehabis mengambil gelas.

Memejamkan mata dan menahan nafas. Aku takut kalau saja Mas Angga memergoki saat itu juga. Untunglah Mas Angga belum pulang, dan Mas Faisal kembali ke ruang depan.

Huft! Mulai bisa bernafas lega. Aku tidak tahu apa maksud Mas Faisal saat itu. Mungkinkah dia menyukaiku? Kenapa? Bukankah aku istri sahabatnya?

***

Rengekan Bilqis menyadarkan aku dari lamunan. Secepat mungkin naik ke kasur untuk menggendong Bilqis.

"Anak Bunda sudah bangun?" Aku berusaha tersenyum, melupakan kenangan tak mengenakkan itu. Kembali fokus pada Bilqis.

Seperti biasa, aku akan mengajak Bilqis bermain di ruang tamu. Sementara menunggu waktu petang datang menjamu. Biasanya aku akan memandikan Bilqis setelah warna kemerahan menghiasi langit, tepatnya setelah waktu Ashar hampir habis.

Menjelang magrib sampai Mas Angga pulang tak ada kegiatan lagi, selain menjaga, bermain dan mengedukasi Bilqis. Begitulah rutinitas yang sering aku lakukan.

Bosan? Terkadang aku merasa bosan. Namun, aku berusaha mencintai itu dan berdamai dengan keadaan. Besar harapan kebosanan itu terobati ketika Mas Angga pulang. Akan tetapi, semua itu tak kunjung aku dapatkan.

Sedingin-dingin sikap Mas Angga, aku tetap mengerjakan tugas sebagai istri sebaik mungkin. Bersamaan asa yang terus aku pupuk agar tak gampang memudar.

"Mas, aku yakin suatu saat kamu akan melunak."

Kalimat itu terus aku ucapkan setiap hari.

***

Tepukan pelan di pipi membuat aku terbangun. Mengucek mata, tatapan bertemu dengan wajah Mas Angga yang terlihat menegang. Mungkinkah dia sedang menahan emosi?

"Mas maaf, aku ketiduran," ucapku segera beranjak.

"Istri macam apa kamu, Rum?" Mas Angga beranjak begitu saja. Kemudian, dia menghampiri Bilqis yang tertidur di karpet.

"Apa maksud kamu, Mas?"

"Tadi aku bilang apa? Harusnya kamu sudah siap-siap."

Aku hampir lupa, malam akan menghadiri acara di rumah sahabatnya. Aku bukan tipe orang yang gampang lupa. Hanya saja acara itu kurasa tidak terlalu penting. Jadi, mungkin karena itu aku melupakan begitu saja.

"Lekaslah siap-siap. Bilqis biar aku yang urus," ucapnya lagi.

"Mas sudah mandi?"

"Sudah! Jangan banyak tanya lagi. Lekaslah bersiap-siap."

Aku pikir sudah cukup aku berangkat dengan penampilan seperti ini. Untuk apa aku berdandan, aku justru takut jika harus berdandan menghadiri acara Mas Faisal.

"Sebentar, Mas."

Buru-buru ke kamar mengambil gendongan Bilqis. Kembali keluar dengan gendongan di pundak.

"Mas, aku siap. Ayo berangkat."

Mas Angga melongo, menatapku dari bawah sampai atas. Kemudian dia menggeleng-geleng.

"Kamu ingin aku malu, Rum?"

"Maksud, Mas? Aku melakukan kesalahan?"

"Kamu mau datang bersamaku dengan penampilan seperti ini?" Mas Angga mendecak.

"Mas, aku …."

"Ganti bajumu, kalau masih mau menjadi istriku. Asal kamu tahu, di sana akan hadir banyak orang. Jangan malu-maluin aku!" Mas Angga menjatuhkan bokongnya di kursi. Sepertinya aku sudah membuatnya emosi.

Tanpa membantah lagi aku segera masuk ke kamar.

Di depan cermin aku masih berpikir. Haruskah aku berdandan? Apakah lebih baik aku kesana tanpa polesan make up. Jika untuk meraih hati Mas Angga tentu aku bersemangat. Namun, disana akan banyak teman laki-lakinya. Rasanya aku sungkan dan tak suka.

Apa yang harus aku lakukan? Berdandan agar Mas Angga tak malu, atau ….

Dilema jadinya.

Bab 3

Berhias! Bicara soal berhias, aku bukannya tidak bisa. Walaupun tumbuh besar di panti asuhan, Bu Yanti selalu mengajari anak-anak panti. Bagaimana cara berpenampilan sesuai porsi dan sikon.

Selain itu, kami anak panti asuhan bukan pula anak-anak yang tumbuh tanpa pendidikan formal. Seperti aku misalnya. Dulu, aku menikah dengan Mas Angga tentunya setelah menamatkan pendidikan. Istilahnya, wajib belajar 12 tahun sudah aku lalui.

Pun aku bukanlah anak yang bodoh. Jadi, aku bisa memikirkan dengan logika, apa saja konsekuensi dan akibat dari sebuah keputusan yang aku ambil.

Malam itu, aku putuskan tidak memoles wajah ataupun bibir dengan apapun. Setidaknya aku sudah berpakaian rapi. Dres selutut tanpa belahan rendah yang sedikit longgar, melekat di tubuhku. Sepatu biasa yang sederhana pun sudah melekat di kaki. Aku kembali keluar dari kamar.

"Mas, aku sudah siap." Tersenyum untuk yang kesekian kali.

Mas Angga menatapku agak lama. Aku berharap tatapan itu adalah tatapan kagum. Namun, pada akhirnya dia mendekat dan menarik tanganku secara kasar, kembali ke dalam kamar.

Tidak ada kata-kata protes lagi yang keluar dari bibirnya. Bilqis yang mungkin kebingungan melihat orang tuanya, Mas Angga letakkan di tempat tidur. Dengan gerakan cepat, Mas Angga langsung membuka lemari pakaian. Dari dalamnya, dia keluarkan satu dress pesta yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

"Apakah dress ini baru? Kapan Mas Angga membelinya? Lalu apakah dress itu khusus untukku?" Aku hanya bisa bermonolog di dalam hati.

"Pakailah cepat!"

"Iya, Mas."

Tanpa banyak bicara lagi, segera aku pakai dress pilihan Mas Angga. Akan tetapi, dress itu membuatku menjadi tak nyaman.

Dress berwarna soft itu menempel ketat di tubuhku. Hal itu tentu membuatku tak nyaman dan malu. Tidak sampai di situ, dress itu terlalu terbuka menurutku. Belahan dada rendah, yang hampir menampakkan lekukan tubuh bagian atas. Belum lagi bawahannya yang berada tepat di atas lutut.

"Mas, apa aku harus memakai baju ini?"

"Ya, apa ada yang salah?"

"Mas, baju ini aku rasa terlalu …."

"Belajar menjadi wanita kota, Rum. Walaupun memang aslinya dari kampung. Tapi jangan kampungan!" Mas Angga berkata dengan wajah datar.

Sakit! Dia tidak pernah memikirkan perasaan di dalam dada. Aku berusaha menjaga semuanya, tetapi dia justru seolah-olah membebaskan aku mempercantik diri di luar sana.

Apa tidak ada rasa cemburu sedikitpun untukku? Harusnya dia paham! Teman Mas Angga pasti lebih banyak laki-laki. Namun sepertinya dia tidak menaruh rasa cemburu sedikitpun.

Menatap pantulan diri di depan cermin. Aku semakin tidak percaya diri. Hanya bisa menarik nafas panjang, bersabar atas sikap Mas Angga.

"Ya sudah, Mas. Ayo kita berangkat," ucapku benar-benar pasrah.

"Sebentar," celetuk Mas Angga lagi.

"Apa lagi, Mas?"

"Jangan terbiasa kampungan, Rum. Olesi wajah dan bibirmu dulu. Cepatlah, aku tunggu di luar."

Aku hanya bisa terdiam. Mas Angga kembali menggendong Bilqis dan beranjak dari dalam kamar.

Tidak ingin membuatnya semakin kecewa, aku turuti segala keinginannya. Aku berdandan mengikuti style wanita-wanita kota pada umumnya. Setelah semua selesai, aku kembali keluar.

"Mas, aku sudah siap!"

Berjalan menuju rak sepatu, di sana aku ambil sepatu hak tinggi punyaku satu-satunya. Tidak peduli lagi, jika penampilanku menarik perhatian teman-temannya, terutama Mas Faisal.

Sudahlah, aku pasrah!

Mas Angga masih bengong menatap penampilanku. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkinkah Mas Angga terpana?

Mustahil!

***

Rasa gugup masih bergelayut setia menemaniku sampai di rumah baru Mas Faisal. Sepanjang perjalanan, Mas Angga bercerita kalau pesta yang kami tuju adalah pesta perayaan ulang tahun pernikahan. Selain itu, juga untuk merayakan atas keberhasilan Mas Faisal.

Usaha sampingan yang dia geluti satu tahun terakhir sudah membuahkan hasil. Sementara itu, dia masih tetap menjadi teknisi di perusahaan listrik swasta. Tentu penghasilannya lebih unggul dari Mas Angga.

Suamiku hanya mengandalkan gaji bulanannya dari perusahaan. Belum terbesit mengumpulkan uang untuk membangun usaha sampingan.

Aku tidak pernah tahu mengenai gaji bulanan Mas Angga. Dia hanya memberikan aku uang keperluan dapur dan kebutuhan sehari-hari. Sisanya dia yang pegang. Semua itu tidak akan menjadi masalah bagiku.

"Buruan, kita sudah terlambat," ucap Mas Angga menarik tanganku.

Malam itu aku berjalan di sampingnya sekalem mungkin. Niat awal tetap sama, aku tidak mau menarik perhatian dari teman-teman Mas Angga. Sedangkan Mas Angga menggendong Bilqis.

Alunan musik nan indah baru saja aku dengar, tatkala kaki menjejaki pekarangan rumah baru itu. Tidak terlalu besar, tetapi cukup mewah kulihat.

Kerlap kerlip lampu hiasan, melingkar di tiang kokoh rumah itu. Pintunya terbuka lebar, suara candaan serta alunan musik saling bersahut-sahutan.

Ketika kami masuk, beberapa mata langsung tertuju pada kami. Aku semakin gugup, apalagi beberapa pria dewasa menatap intens.

"Hai, gue belum telat kan?" tanya Mas Angga melambaikan tangan. Kemudian mereka saling berjabat tangan.

"Acara baru dimulai kok Ngga. Eh, ini anak pertama lu?" tanya salah seorang dari mereka.

"Yup, bro. Anak pertama ni. Anak kedua lagi diproses," ucap Mas Angga, seolah tanpa beban sedikitpun.

Aku hanya mematung mendengar obrolan mereka. Beberapa menit berlalu, datanglah Mas Faisal bersama istrinya–Ayu.

"Hai, Bro. Baru nyampe lu?" tanya laki-laki berbadan tinggi dan tegap. Dialah Mas Faisal–sahabat suamiku.

Aku hendak berlalu tapi tidak bisa. Mas Faisal menyapa ramah, seraya matanya tak berhenti menatap. Mbak ayu pun menyambutku ramah. Kami saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.

Sungkan! Itulah yang aku rasakan. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Mbak Ayu. Bukan tanpa alasan, selain Mas Faisal jarang membawanya bertamu ke rumah, selain itu juga Mbak Ayu adalah wanita karir. Tentu saja dia tidak akan sudi menjadikanku sahabatnya. Apalagi aku hanyalah wanita yatim piatu berasal dari kampung.

"Sebentar ya, Mbak," ucap Mbak Ayu meninggalkanku di situ. Dia sibuk menyambut teman-teman satu circle-nya.

Tidak tahu apa yang harus aku lakukan di pesta itu.

"Rum, kamu gendong Bilqis dulu. Aku mau gabung sama teman-teman yang lain dulu."

Aku mengangguk, mengambil Bilqis dari gendongan Mas Angga. Setidaknya aku punya alasan untuk pergi dari sana.

Aku berjalan perlahan, menuju sudut ruangan. Di sana sudah tersedia beraneka makanan dan minuman. Tidak mungkin aku menggendong Bilqis sepanjang acara. Memutuskan untuk duduk diam, sambil mengamati mereka satu persatu.

Itu jauh lebih baik kurasa.

***

Satu jam berlalu, pesta belum juga usai. Justru alunan musik semakin besar memekakkan telinga. Aku tidak tahu persis apakah tetangga yang tidak jauh dari sana terganggu. Itu bukan urusanku juga.

Aku hanya ingin cepat-cepat pulang. Mata mulai mengantuk, Bilqis pun sudah terlelap tidur.

Mataku mencari-cari keberadaan Mas Angga. Tanpa sengaja, aku melihat kejadian yang membuat rasa cemburu bergejolak. Mas Angga sedang mengobrol akrab dengan seorang wanita.

Ketika ingin beranjak menghampirinya, langkah kaki ditahan oleh kedatangan sang pemilik pesta.

"Mau kemana, Rum?" tanya Mas Faisal, seraya tersenyum.

Dia mendekat, serta duduk di hadapanku. Membuat pandangan ke Mas Angga menjadi terhalang. Entah disengaja atau tidak melakukan itu, tetap saja aku tidak suka.

"Kamu cantik, Rum."

Aku tertegun mendengar pujian dari Mas Faisal. Aneh saja rasanya, jika dia memuji istri sahabatnya sendiri. Tidak aku pungkiri, pujian itu sedikit menyentuh hati. Selama kami hidup bersama Mas Angga belum pernah memujiku sedikitpun.

"Biasa saja kok, Mas."

Aku berusaha mengendalikan diri. Tidak ingin terbuai satu kalimat pujian dari laki-laki asing.

"Di mataku luar biasa, Rum. Kamu benar-benar cantik. Hmm, sebenarnya aku heran. Tapi sudahlah tidak usah dibahas."

Aku hanya terdiam.

"Bilqis sudah tidur?"

"Sudah, Mas. Sementara ayahnya masih asyik mengobrol di sana."

"Hmm, kamu mau pulang, Rum?" tanya Mas Faisal lagi.

"Iya, Mas. Tapi aku harus sabar sampai Mas Angga selesai."

"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkanmu pulang?" Mas Faisal menatapku agak lama. Mungkin dia menunggu jawaban.

"Tidak, Mas. Tidak usah," ucapku menolak tegas.

"Kenapa, Rum? Aku sahabat suamimu loh!"

Mas Faisal seakan memaksa agar aku mau diantarkan olehnya.

Aku hanya diam saja, sembari mengalihkan fokus pada Bilqis yang terlelap.

"Ini sudah larut malam. Kasihan Bilqis, aku akan minta izin pada Angga untuk mengantarkanmu."

Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Faisal sudah beranjak menuju Mas Angga. Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Mas Faisal kembali dengan senyuman menang.

"Angga setuju kok, Rum. Ayo, Sayang aku antarkan pulang. Kasihan melihat kamu diabaikan begini."

Apa? Mas Faisal memanggilku sayang? Ujian apalagi ini? Kenapa Mas Angga tidak mempedulikanku. Jika dia tidak peduli padaku, setidaknya dia pikirkan Bilqis. Tiba-tiba aku menjadi sangat sedih. Dia tidak menaruh cemburu sedikitpun.

"Ayo, Rum!"

Mas Faisal menggendong Bilqis, kemudian menarik tanganku. Lebih tepatnya menggenggamnya dengan lembut.

Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku setuju atau segera menolak?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

KANDAS!

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED