"Mas, apakah kamu mencintaiku?"
Pertanyaan itu kembali terucap dari bibirku. Menerobos begitu saja, sehingga membuat tatapan Mas Angga seakan menghujam ulu hati.
"Kamu menanyakan itu lagi? Apakah itu penting, Rum? Harusnya kamu lihat bagaimana aku berjuang mencari nafkah."
Aku hanya bisa menelan saliva, menunduk dalam-dalam. Seketika itu juga, kakiku bergetar merasa takut. Salah aku juga sudah memancing jengkel Mas Angga kembali.
Belum sempat aku pergi, Mas Anggara justru lebih dulu meninggalkanku. Huft! Ku hembuskan nafas yang sejak tadi mendesak. Agak plong, tetapi hatiku menjadi ngilu.
Memutar bola mata, agar genangan air bening yang mulai menggenang, tak jatuh mengotori wajah.
Tatapan pun aku alihkan pada Bilqis–putri kecil kami. Aku melangkah mendekati bayi enam bulan itu. Kuusap lembut kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam yang indah. Untuk sesaat kesedihan pergi begitu saja.
Aku harus kuat! Meskipun Mas Angga tak pernah mengatakan kalimat yang aku rindukan itu. Setidaknya di depan mataku ada bukti. Ya, Bilqis adalah buah cinta kami.
Pernikahanku dengan Mas Angga bisa dikatakan masih seumur jagung. Bahkan, baru memasuki tahun kedua. Aku juga tidak pernah mengira, Allah justru menjodohkan aku pada pasangan yang dingin sepertinya.
Tidak ada kata ungkapan cinta. Tidak ada kata romantis, apalagi rayuan sekedar penarik bibir agar melengkung dengan senyuman yang manis. Kami memang dijodohkan, sehingga tidak pernah ada yang namanya pacaran. Jalan berdua seperti yang anak-anak muda lakukan. Jadi wajar bukan, jika aku tidak tahu bagaimana karakter dan tindak tanduknya.
Aku yang hanya anak yatim piatu pun, tidak mampu menolak tawaran dari Bu Yanti–pengurus panti. Semuanya berlangsung begitu cepat. Hanya lewat pertemuan yang tidak banyak, aku pun tidak banyak berontak. Aku yakin dengan pilihan Bu Yanti. Wanita itu sudah banyak berjasa padaku. Jadi, aku juga tidak mampu untuk menolak pilihannya.
Mas Angga hanyalah seorang teknisi listrik.
Namun, kala itu aku yakin sepenuhnya. Aku bisa bahagia hidup dengannya, dan dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Pernikahan kami berlangsung dengan sangat sederhana. Dilaksanakan di panti asuhan, tempat aku dibesarkan. Setelah aku halal menjadi istrinya, Mas Angga pun memboyong aku untuk tinggal seatap dengannya.
Walaupun hanya tinggal di rumah kontrakan sederhana. Setidaknya Mas Angga membuktikan dia sangat bertanggung jawab. Memberiku rumah untuk berteduh, dan memenuhi nafkah lahir dan juga batinku. Meskipun, tanpa kata ungkapan cinta yang selalu aku rindukan.
Tahun pertama pernikahan kami, semua terasa berat aku lalui. Impian memiliki pangeran yang bucin pada diriku, semua rontok oleh sikap Mas Angga. Aku terlalu obsesi atas cerita Bu Yanti semasa aku kecil dulu. Impian itu pun masih abu-abu. Apakah akan terwujud atau tidak akan pernah sama sekali.
Apa yang hendak aku katakan, ketika dia hendak memulai ritual bercinta pun, tak ada kata-kata indah yang membuat jantungku berdebar. Semua berlalu dan terjadi begitu saja.
Saat itu, aku pikir mungkin Mas Anggara masih malu-malu, atau mungkin belum terbiasa. Namun, setelah sekian bulan usai ijab kabul, tidak ada perubahan sedikitpun.
Aku masih terus berharap sikap cueknya sedikit demi sedikit terkikis oleh waktu. Ternyata tidak semudah itu. Sampai aku hamil anak pertama kami, bahkan sampai aku melahirkan.
Ketika tubuh bermandikan keringat, berjuang bertaruh nyawa, Mas Angga tak juga menyatakan rasa cintanya padaku. Dia hanya tersenyum lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia fokus pada Bilqis.
Aku hanya mengelus dada, seraya terus berdoa suatu saat Mas Angga mau berubah jadi pangeran impianku, seperti keinginan sewaktu aku kecil dulu.
Semoga saja.
*****
Pagi yang cerah menyambut hatiku yang hampa. Mempersiapkan bekal untuk Mas Angga, kemudian memandikan si kecil Bilqis.
Mas Angga tidak suka, apabila aku bangun terlambat, dan Bilqis belum wangi sebelum dia berangkat kerja.
"Mas, semuanya sudah siap. Mas mau sarapan dulu?"
Aku bertanya, seraya tersenyum semanis mungkin. Tentu saja aku tidak lupa memoles bibir dengan lipstik, dan membedaki wajah tipis-tipis. Wangi semerbak pun tidak ketinggalan. Aku selalu memakai parfum usai membereskan semuanya.
Itu aku lakukan untuk memikat hati sang pangeran.
"Tidak usah, Rum. Terima kasih."
Angga langsung mengambil tas kerjanya, tidak lupa dia menggendong Bilqis sebentar. Kemudian, dia segera pergi setelah memakai sepatu.
Aku hantarkan Mas Angga ke depan pintu, sambil menggendong Bilqis. Melambaikan tangan melepas kepergiannya.
Tidak ada kecupan di dahi. Tidak ada senyuman sebelum pergi. Tidak ada juga pelukan atau usapan lembut di ubun-ubun.
Aku masih bertahan menunggu saat indah itu tiba.
Tidak ingin berlama-lama di ambang pintu, aku segera masuk ke dalam kontrakan. Menyiapkan makan Bilqis yang sudah siap untuk disajikan, karena sudah siap aku masak.
Menyuapi Bilqis sambil terus memikirkan Mas Angga. Hati terus bertanya-tanya, kenapa dan kenapa. Aku rasa, aku tidak jelek untuk standar kecantikan wanita Indonesia. Aku ingin tahu sebabnya, niat untuk bicara hati ke hati pun terlintas.
"Hmmm mmmm ammm."
Celoteh Bilqis menyadarkan lamunan. Aku kembali memusatkan perhatian pada Bilqis. Saat ini, pasti Bilqis sangat membutuhkanku. Tidak ingin, kebucinan justru mencelakakan sang buah hati.
*****
Ketukan pintu yang terdengar nyaring membuatku bergegas keluar kamar. Acara ngelonin Bilqis segera aku akhiri. Lagipula bayi enam bulan itu sudah tertidur dengan sangat pulas.
Pintu terbuka, Mas Angga masuk setelah membuka sepatunya. Aku menyambut tas kerjanya dengan suka cita, dan kembali menutup pintu.
Semerbak bau keringat bukti perjuangannya untuk aku dan Bilqis, menguar begitu saja. Itu tidak pernah menjadi masalah untukku.
"Mas mau mandi dulu apa gimana?"
"Hmm, Bilqis sudah tidur?" tanya Mas Angga.
Bukannya menjawab pertanyaan yang diutarakan, Mas Angga malah balik melemparkan pertanyaan.
"Bilqis sudah tidur Mas."
"Baguslah," ucap Mas Angga melangkah ke kamar.
Ketika aku membereskan sepatu dan tas kerjanya, panggilan dari Mas Angga membuatku bergegas melangkah. Memasuki kamar dengan senyuman yang merekah.
"Ada apa, Mas?"
"Mumpung Bilqis sedang tidur, Rum."
Mas Angga berdialog dengan tatapan datar. Tak ada senyuman dari bibirnya yang seksi.
"Mas nggak mandi dulu? Biar lebih segar."
Aku berusaha mengingatkannya, bahwa dia baru pulang kerja dan masih bau keringat.
"Memangnya kenapa kalau belum mandi, Rum? Kamu keberatan?"
Aku memilih diam. Kalau sudah begitu, mengalah akan menjadi pilihan.
Aku sudah sangat paham apa yang diinginkan Mas Angga. Segera mengangguk untuk memenuhi ajakannya. Kalau bukan karena aku mencintainya, tentu saja aku akan menolak ajakannya. Bagaimanapun bau keringatnya membuatku tak nyaman. Namun, aku tidak ingin mempermasalahkan semua itu.
Suasana kamar berubah menjadi gelap. Itulah yang akan terjadi di setiap ritual ibadah kami. Mas Angga sudah membuka baju dan celana jeansnya. Aku segera membuka pakaian yang menempel di tubuh. Kemudian, segera mengambil posisi.
Aku terima semua sentuhan Mas Angga dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa tak enak bercampur dengan rasa ingin membuatnya bahagia. Aku tidak ingin Mas Angga kecewa.
Mas Angga sudah bersiap di posisinya, setelah melakukan pemanasan yang singkat. Sebenarnya aku belum siap, tetapi memilih mengalah agar Mas Angga tak kecewa.
Rasa perih dan tak nyaman sedikit aku rasakan, karena tubuh intim belum sepenuhnya siap untuk dimasuki. Namun, milik Mas Angga sudah terlanjur bersarang di dalam sana.
Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain hanya berpura-pura menikmati permainan. Lagi, aku tidak ingin membuatnya kecewa. Beberapa saat berlalu, aku pun berpura-pura klimaks. Setelah itu disusul oleh erangan Mas Angga. Dia pun menindih tubuhku begitu saja.
Jari pun memilih untuk mengusap lembut, punggungnya yang basah oleh keringat. Setelah itu Mas Angga berguling ke samping.
Hening! Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Mas Angga. Begitu juga aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mencoba mengobati luka hatiku. Berperang dengan perasaan dan logika.
Apakah hubungan kami ini masih wajar? Mas Angga seakan tidak peduli akan apa yang aku rasakan. Di buku-buku novel yang aku baca, seharusnya setelah berhubungan Intim, pasangan suami istri akan mengobrol dan saling berpelukan. Sementara Mas Angga?
Sejurus kemudian, dengkuran Mas Angga membuatku semakin terusik. Pertanyaan yang sama pun kembali muncul.
"Apakah Mas Angga mencintaiku?" aku bertanya di dalam hati.
Percuma bertanya pada diri sendiri, aku pun hendak bangkit dari sisi Mas Angga. Namun, belum sempat aku bangun, Mas Angga mengucapkan kalimat yang membuatku terkejut. Aku tertegun.
"Mas Angga, apa yang kamu ucapkan?"
Bersambung ….
"Siapa Viona? Apakah dia selingkuhan Mas Angga?" Aku bertanya di dalam hati.
Pertanyaan itu mengusik pikiranku, satu nama yang diucapkan Mas Angga ketika matanya terpejam. Tentu saja mengusik hatiku.
"Terima kasih Viona." Begitu kalimat yang suamiku ucapkan. Maksudnya apa? Apakah Mas Angga berselingkuh dariku? Mungkinkah laki-laki sedingin dia punya wanita idaman lain?
Kutatap wajah Mas Angga yang masih terlelap pulas. Aku menggeleng cepat, tidak mungkin suamiku berselingkuh. Itulah yang aku tekankan pada hati. Sebelum beranjak dari tempat tidur, aku kecup pipinya dengan penuh rasa cinta. Hanya ketika dia tidurlah aku bisa mencium pipinya. Itu saja sudah membuatku bahagia.
Turun dari kasur, lekas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Kamar mandi berada terpisah dari kamar tidur kami. Oleh karena itu, aku harus melangkah keluar, seraya menutupi tubuh dengan selimut.
Usai membersihkan diri, aku duduk sejenak di meja rias. Namun, entah kenapa kalimat yang aku dengar sebelumnya kembali menghantui.
"Belum tidur, Rum?"
Aku membalikkan badan, tersenyum tipis pada Mas Angga yang baru saja bangun. Bergegas aku beranjak dari depan meja rias. Meskipun hidup kami sederhana, Mas Angga tidak lupa membelikan aku meja rias. Walaupun bukan yang mahal, tetapi aku sangat bahagia.
"Belum, Mas."
Menjatuhkan diri di samping Mas Angga. Aku sudah berpakaian lengkap. Daster selutut yang bertali di pinggangnya. Jika ditarik akan membuat lekukan pinggang menjadi terekspos.
"Aku mau mandi, Rum." Mas Angga mengusap wajahnya.
"Iya, Mas. Sebentar aku siapkan dulu."
Mas Angga mengangguk. Aku kembali keluar kamar, menuju dapur. Jika berhubungan malam hari, dan dia memutuskan mandi di malam hari juga, aku akan mempersiapkan air hangat untuk Mas Angga. Begitulah rutin aku lakukan, sejak hidup bersamanya.
Jika ditanya, apakah Mas Angga sering mengajakku beribadah, maka jawabnya iya. Sungguh membingungkan bukan? Karena itulah aku menjadi dilema olehnya.
Pernah terpikir untuk berpisah saja, tetapi Mas Angga tidak menggubris permintaanku. Hingga pada akhirnya aku pun terlambat datang bulan. Garis dua itu pun muncul, membuat perasaan bercampur aduk. Namun, kala itu aku hanya berpikir positif, bahwa semua adalah cara takdir menyuruhku untuk bertahan.
Hamil anak pertama, membuatku berpikir ulang untuk mengakhiri pernikahan. Masa cuma karena dia tidak romantis, lalu aku memutuskan untuk bercerai. Aku rasa, persoalan itu masih bisa diatasi. Begitulah terus aku menghibur diri sampai Bilqis lahir.
Rebusan air panas untuk persiapan Mas Angga mandi sudah aku sediakan. Setelah mengukur temperatur airnya yang sudah pas, aku kembali ke kamar.
"Mas, airnya sudah selesai," ucapku, seraya tersenyum.
"Terima kasih, Rum. Aku mandi dulu." Mas Angga mengucapkan terima kasih dengan wajah tanpa senyuman.
"Iya, Mas. Sebentar aku ambilkan handuk."
Aku ambilkan handuk untuk Mas Angga, tidak mungkin juga dia berjalan ke kamar mandi tanpa penutup. Handuk aku serahkan padanya, Mas Angga pun sekali lagi mengucapkan terima kasih. Setelah dia keluar dari kamar tidur, aku segera memutuskan untuk tidur, karena harus tetap bangun lebih awal.
*****
Ponsel yang jarang ku sentuh dan gunakan itu, tiba-tiba berdering. Aku baru saja menidurkan Bilqis di kasur. Agar tidak was-was, aku bentengi dengan bantal di sekitar Bilqis yang tertidur lelap.
Menatap ponsel, di sana tertera nama Mas Angga. Tumben sekali dia menelponku siang-siang. Untuk menghilangkan rasa penasaran, aku segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Mas."
"Rum, nanti malam Faisal mengadakan acara di rumahnya," ucap Mas Angga di ujung sana.
"Iya, Mas. Terus?" tanyaku kurang mengerti maksud Mas Angga menelepon.
"Jadi kita ke sana nanti malam."
"Hmm, kalau Mas saja yang pergi bagaimana?" tanyaku hati-hati.
Bukannya tidak menghargai Mas Angga, hanya saja aku memang sengaja menghindar dari temannya itu. Pengalaman yang pernah terjadi, membuatku enggan bertemu atau semacamnya.
"Loh kenapa, Rum?" tanya Mas Angga lagi, seakan keberatan.
"Gak apa-apa sih, Mas. Cuma, aku malas saja." Terpaksa aku jawab apa adanya.
"Jangan begitu, Rum. Harusnya kamu hargai teman-temanku. Apalagi Faisal adalah teman terdekatku."
Percakapan kami pun diputus sebelah pihak. Sepertinya Mas Angga marah padaku. Aku hanya bisa menghela nafas, dan membuangnya secara kasar. Andai Mas Angga tahu, aku menolak bertemu sahabatnya itu, justru karena sangat mencintai Mas Angga.
Namun apa boleh buat, Mas Angga tentu lebih membela temannya. Karena itulah semua kejadian yang tak pantas itu aku simpan dan aku pendam saja.
Ingatan masa itu kembali menari-nari di pelupuk mataku.
***
"Rum, apakah kamu bahagia hidup dengan Angga?" tanya Mas Faisal.
Dia membuka obrolan yang membuatku terkejut. Saat itu Mas Angga keluar rumah sebentar untuk membeli air galon. Hanya ada aku dan Mas Faisal saja di rumah.
"Kenapa bertanya gitu, Mas?" tanyaku.
"Hmmm, ya gak apa-apa sih. Kalau kamu tidak bahagia, aku siap membahagiakanmu," ucap Mas Faisal, seraya terkekeh.
Dia pikir candaannya itu adalah lelucon yang akan membuatku tertawa. Padahal, itu semua membuatku tahu seperti apa kualitas dirinya.
Saat itu, aku hanya diam. Kemudian, aku pura-pura ke belakang. Semua itu aku lakukan agar menghindar dari Mas Faisal. Apalagi dia memulai obrolan yang tak pantas menurutku.
"Saya permisi ke belakang dulu, Mas."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung beranjak menuju dapur. Sengaja mencari kegiatan untuk menghindari Mas Faisal. Tiba-tiba dia sudah berada di belakangku.
"Mas Faisal, kok ikut kemari?" Aku bertanya, mata terbuka lebar. Tidak menyangka dia seberani itu.
"He he he, nggak kok, Rum. Cuma mau mengambil gelas."
Dia tersenyum, mendekati rak piring. Akan tetapi, matanya tak berhenti melirik padaku. Semua aku ketahui, karena aku meliriknya dengan sudut mata.
"Aku bisa kok membahagiakanmu, Rum. Lebih baik dicintai daripada mencintai," bisiknya di belakang pundakku, ketika dia lewat sehabis mengambil gelas.
Memejamkan mata dan menahan nafas. Aku takut kalau saja Mas Angga memergoki saat itu juga. Untunglah Mas Angga belum pulang, dan Mas Faisal kembali ke ruang depan.
Huft! Mulai bisa bernafas lega. Aku tidak tahu apa maksud Mas Faisal saat itu. Mungkinkah dia menyukaiku? Kenapa? Bukankah aku istri sahabatnya?
***
Rengekan Bilqis menyadarkan aku dari lamunan. Secepat mungkin naik ke kasur untuk menggendong Bilqis.
"Anak Bunda sudah bangun?" Aku berusaha tersenyum, melupakan kenangan tak mengenakkan itu. Kembali fokus pada Bilqis.
Seperti biasa, aku akan mengajak Bilqis bermain di ruang tamu. Sementara menunggu waktu petang datang menjamu. Biasanya aku akan memandikan Bilqis setelah warna kemerahan menghiasi langit, tepatnya setelah waktu Ashar hampir habis.
Menjelang magrib sampai Mas Angga pulang tak ada kegiatan lagi, selain menjaga, bermain dan mengedukasi Bilqis. Begitulah rutinitas yang sering aku lakukan.
Bosan? Terkadang aku merasa bosan. Namun, aku berusaha mencintai itu dan berdamai dengan keadaan. Besar harapan kebosanan itu terobati ketika Mas Angga pulang. Akan tetapi, semua itu tak kunjung aku dapatkan.
Sedingin-dingin sikap Mas Angga, aku tetap mengerjakan tugas sebagai istri sebaik mungkin. Bersamaan asa yang terus aku pupuk agar tak gampang memudar.
"Mas, aku yakin suatu saat kamu akan melunak."
Kalimat itu terus aku ucapkan setiap hari.
***
Tepukan pelan di pipi membuat aku terbangun. Mengucek mata, tatapan bertemu dengan wajah Mas Angga yang terlihat menegang. Mungkinkah dia sedang menahan emosi?
"Mas maaf, aku ketiduran," ucapku segera beranjak.
"Istri macam apa kamu, Rum?" Mas Angga beranjak begitu saja. Kemudian, dia menghampiri Bilqis yang tertidur di karpet.
"Apa maksud kamu, Mas?"
"Tadi aku bilang apa? Harusnya kamu sudah siap-siap."
Aku hampir lupa, malam akan menghadiri acara di rumah sahabatnya. Aku bukan tipe orang yang gampang lupa. Hanya saja acara itu kurasa tidak terlalu penting. Jadi, mungkin karena itu aku melupakan begitu saja.
"Lekaslah siap-siap. Bilqis biar aku yang urus," ucapnya lagi.
"Mas sudah mandi?"
"Sudah! Jangan banyak tanya lagi. Lekaslah bersiap-siap."
Aku pikir sudah cukup aku berangkat dengan penampilan seperti ini. Untuk apa aku berdandan, aku justru takut jika harus berdandan menghadiri acara Mas Faisal.
"Sebentar, Mas."
Buru-buru ke kamar mengambil gendongan Bilqis. Kembali keluar dengan gendongan di pundak.
"Mas, aku siap. Ayo berangkat."
Mas Angga melongo, menatapku dari bawah sampai atas. Kemudian dia menggeleng-geleng.
"Kamu ingin aku malu, Rum?"
"Maksud, Mas? Aku melakukan kesalahan?"
"Kamu mau datang bersamaku dengan penampilan seperti ini?" Mas Angga mendecak.
"Mas, aku …."
"Ganti bajumu, kalau masih mau menjadi istriku. Asal kamu tahu, di sana akan hadir banyak orang. Jangan malu-maluin aku!" Mas Angga menjatuhkan bokongnya di kursi. Sepertinya aku sudah membuatnya emosi.
Tanpa membantah lagi aku segera masuk ke kamar.
Di depan cermin aku masih berpikir. Haruskah aku berdandan? Apakah lebih baik aku kesana tanpa polesan make up. Jika untuk meraih hati Mas Angga tentu aku bersemangat. Namun, disana akan banyak teman laki-lakinya. Rasanya aku sungkan dan tak suka.
Apa yang harus aku lakukan? Berdandan agar Mas Angga tak malu, atau ….
Dilema jadinya.
Berhias! Bicara soal berhias, aku bukannya tidak bisa. Walaupun tumbuh besar di panti asuhan, Bu Yanti selalu mengajari anak-anak panti. Bagaimana cara berpenampilan sesuai porsi dan sikon.
Selain itu, kami anak panti asuhan bukan pula anak-anak yang tumbuh tanpa pendidikan formal. Seperti aku misalnya. Dulu, aku menikah dengan Mas Angga tentunya setelah menamatkan pendidikan. Istilahnya, wajib belajar 12 tahun sudah aku lalui.
Pun aku bukanlah anak yang bodoh. Jadi, aku bisa memikirkan dengan logika, apa saja konsekuensi dan akibat dari sebuah keputusan yang aku ambil.
Malam itu, aku putuskan tidak memoles wajah ataupun bibir dengan apapun. Setidaknya aku sudah berpakaian rapi. Dres selutut tanpa belahan rendah yang sedikit longgar, melekat di tubuhku. Sepatu biasa yang sederhana pun sudah melekat di kaki. Aku kembali keluar dari kamar.
"Mas, aku sudah siap." Tersenyum untuk yang kesekian kali.
Mas Angga menatapku agak lama. Aku berharap tatapan itu adalah tatapan kagum. Namun, pada akhirnya dia mendekat dan menarik tanganku secara kasar, kembali ke dalam kamar.
Tidak ada kata-kata protes lagi yang keluar dari bibirnya. Bilqis yang mungkin kebingungan melihat orang tuanya, Mas Angga letakkan di tempat tidur. Dengan gerakan cepat, Mas Angga langsung membuka lemari pakaian. Dari dalamnya, dia keluarkan satu dress pesta yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
"Apakah dress ini baru? Kapan Mas Angga membelinya? Lalu apakah dress itu khusus untukku?" Aku hanya bisa bermonolog di dalam hati.
"Pakailah cepat!"
"Iya, Mas."
Tanpa banyak bicara lagi, segera aku pakai dress pilihan Mas Angga. Akan tetapi, dress itu membuatku menjadi tak nyaman.
Dress berwarna soft itu menempel ketat di tubuhku. Hal itu tentu membuatku tak nyaman dan malu. Tidak sampai di situ, dress itu terlalu terbuka menurutku. Belahan dada rendah, yang hampir menampakkan lekukan tubuh bagian atas. Belum lagi bawahannya yang berada tepat di atas lutut.
"Mas, apa aku harus memakai baju ini?"
"Ya, apa ada yang salah?"
"Mas, baju ini aku rasa terlalu …."
"Belajar menjadi wanita kota, Rum. Walaupun memang aslinya dari kampung. Tapi jangan kampungan!" Mas Angga berkata dengan wajah datar.
Sakit! Dia tidak pernah memikirkan perasaan di dalam dada. Aku berusaha menjaga semuanya, tetapi dia justru seolah-olah membebaskan aku mempercantik diri di luar sana.
Apa tidak ada rasa cemburu sedikitpun untukku? Harusnya dia paham! Teman Mas Angga pasti lebih banyak laki-laki. Namun sepertinya dia tidak menaruh rasa cemburu sedikitpun.
Menatap pantulan diri di depan cermin. Aku semakin tidak percaya diri. Hanya bisa menarik nafas panjang, bersabar atas sikap Mas Angga.
"Ya sudah, Mas. Ayo kita berangkat," ucapku benar-benar pasrah.
"Sebentar," celetuk Mas Angga lagi.
"Apa lagi, Mas?"
"Jangan terbiasa kampungan, Rum. Olesi wajah dan bibirmu dulu. Cepatlah, aku tunggu di luar."
Aku hanya bisa terdiam. Mas Angga kembali menggendong Bilqis dan beranjak dari dalam kamar.
Tidak ingin membuatnya semakin kecewa, aku turuti segala keinginannya. Aku berdandan mengikuti style wanita-wanita kota pada umumnya. Setelah semua selesai, aku kembali keluar.
"Mas, aku sudah siap!"
Berjalan menuju rak sepatu, di sana aku ambil sepatu hak tinggi punyaku satu-satunya. Tidak peduli lagi, jika penampilanku menarik perhatian teman-temannya, terutama Mas Faisal.
Sudahlah, aku pasrah!
Mas Angga masih bengong menatap penampilanku. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkinkah Mas Angga terpana?
Mustahil!
***
Rasa gugup masih bergelayut setia menemaniku sampai di rumah baru Mas Faisal. Sepanjang perjalanan, Mas Angga bercerita kalau pesta yang kami tuju adalah pesta perayaan ulang tahun pernikahan. Selain itu, juga untuk merayakan atas keberhasilan Mas Faisal.
Usaha sampingan yang dia geluti satu tahun terakhir sudah membuahkan hasil. Sementara itu, dia masih tetap menjadi teknisi di perusahaan listrik swasta. Tentu penghasilannya lebih unggul dari Mas Angga.
Suamiku hanya mengandalkan gaji bulanannya dari perusahaan. Belum terbesit mengumpulkan uang untuk membangun usaha sampingan.
Aku tidak pernah tahu mengenai gaji bulanan Mas Angga. Dia hanya memberikan aku uang keperluan dapur dan kebutuhan sehari-hari. Sisanya dia yang pegang. Semua itu tidak akan menjadi masalah bagiku.
"Buruan, kita sudah terlambat," ucap Mas Angga menarik tanganku.
Malam itu aku berjalan di sampingnya sekalem mungkin. Niat awal tetap sama, aku tidak mau menarik perhatian dari teman-teman Mas Angga. Sedangkan Mas Angga menggendong Bilqis.
Alunan musik nan indah baru saja aku dengar, tatkala kaki menjejaki pekarangan rumah baru itu. Tidak terlalu besar, tetapi cukup mewah kulihat.
Kerlap kerlip lampu hiasan, melingkar di tiang kokoh rumah itu. Pintunya terbuka lebar, suara candaan serta alunan musik saling bersahut-sahutan.
Ketika kami masuk, beberapa mata langsung tertuju pada kami. Aku semakin gugup, apalagi beberapa pria dewasa menatap intens.
"Hai, gue belum telat kan?" tanya Mas Angga melambaikan tangan. Kemudian mereka saling berjabat tangan.
"Acara baru dimulai kok Ngga. Eh, ini anak pertama lu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Yup, bro. Anak pertama ni. Anak kedua lagi diproses," ucap Mas Angga, seolah tanpa beban sedikitpun.
Aku hanya mematung mendengar obrolan mereka. Beberapa menit berlalu, datanglah Mas Faisal bersama istrinya–Ayu.
"Hai, Bro. Baru nyampe lu?" tanya laki-laki berbadan tinggi dan tegap. Dialah Mas Faisal–sahabat suamiku.
Aku hendak berlalu tapi tidak bisa. Mas Faisal menyapa ramah, seraya matanya tak berhenti menatap. Mbak ayu pun menyambutku ramah. Kami saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.
Sungkan! Itulah yang aku rasakan. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Mbak Ayu. Bukan tanpa alasan, selain Mas Faisal jarang membawanya bertamu ke rumah, selain itu juga Mbak Ayu adalah wanita karir. Tentu saja dia tidak akan sudi menjadikanku sahabatnya. Apalagi aku hanyalah wanita yatim piatu berasal dari kampung.
"Sebentar ya, Mbak," ucap Mbak Ayu meninggalkanku di situ. Dia sibuk menyambut teman-teman satu circle-nya.
Tidak tahu apa yang harus aku lakukan di pesta itu.
"Rum, kamu gendong Bilqis dulu. Aku mau gabung sama teman-teman yang lain dulu."
Aku mengangguk, mengambil Bilqis dari gendongan Mas Angga. Setidaknya aku punya alasan untuk pergi dari sana.
Aku berjalan perlahan, menuju sudut ruangan. Di sana sudah tersedia beraneka makanan dan minuman. Tidak mungkin aku menggendong Bilqis sepanjang acara. Memutuskan untuk duduk diam, sambil mengamati mereka satu persatu.
Itu jauh lebih baik kurasa.
***
Satu jam berlalu, pesta belum juga usai. Justru alunan musik semakin besar memekakkan telinga. Aku tidak tahu persis apakah tetangga yang tidak jauh dari sana terganggu. Itu bukan urusanku juga.
Aku hanya ingin cepat-cepat pulang. Mata mulai mengantuk, Bilqis pun sudah terlelap tidur.
Mataku mencari-cari keberadaan Mas Angga. Tanpa sengaja, aku melihat kejadian yang membuat rasa cemburu bergejolak. Mas Angga sedang mengobrol akrab dengan seorang wanita.
Ketika ingin beranjak menghampirinya, langkah kaki ditahan oleh kedatangan sang pemilik pesta.
"Mau kemana, Rum?" tanya Mas Faisal, seraya tersenyum.
Dia mendekat, serta duduk di hadapanku. Membuat pandangan ke Mas Angga menjadi terhalang. Entah disengaja atau tidak melakukan itu, tetap saja aku tidak suka.
"Kamu cantik, Rum."
Aku tertegun mendengar pujian dari Mas Faisal. Aneh saja rasanya, jika dia memuji istri sahabatnya sendiri. Tidak aku pungkiri, pujian itu sedikit menyentuh hati. Selama kami hidup bersama Mas Angga belum pernah memujiku sedikitpun.
"Biasa saja kok, Mas."
Aku berusaha mengendalikan diri. Tidak ingin terbuai satu kalimat pujian dari laki-laki asing.
"Di mataku luar biasa, Rum. Kamu benar-benar cantik. Hmm, sebenarnya aku heran. Tapi sudahlah tidak usah dibahas."
Aku hanya terdiam.
"Bilqis sudah tidur?"
"Sudah, Mas. Sementara ayahnya masih asyik mengobrol di sana."
"Hmm, kamu mau pulang, Rum?" tanya Mas Faisal lagi.
"Iya, Mas. Tapi aku harus sabar sampai Mas Angga selesai."
"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkanmu pulang?" Mas Faisal menatapku agak lama. Mungkin dia menunggu jawaban.
"Tidak, Mas. Tidak usah," ucapku menolak tegas.
"Kenapa, Rum? Aku sahabat suamimu loh!"
Mas Faisal seakan memaksa agar aku mau diantarkan olehnya.
Aku hanya diam saja, sembari mengalihkan fokus pada Bilqis yang terlelap.
"Ini sudah larut malam. Kasihan Bilqis, aku akan minta izin pada Angga untuk mengantarkanmu."
Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Faisal sudah beranjak menuju Mas Angga. Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Mas Faisal kembali dengan senyuman menang.
"Angga setuju kok, Rum. Ayo, Sayang aku antarkan pulang. Kasihan melihat kamu diabaikan begini."
Apa? Mas Faisal memanggilku sayang? Ujian apalagi ini? Kenapa Mas Angga tidak mempedulikanku. Jika dia tidak peduli padaku, setidaknya dia pikirkan Bilqis. Tiba-tiba aku menjadi sangat sedih. Dia tidak menaruh cemburu sedikitpun.
"Ayo, Rum!"
Mas Faisal menggendong Bilqis, kemudian menarik tanganku. Lebih tepatnya menggenggamnya dengan lembut.
Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku setuju atau segera menolak?