Bab 1

"Tidak! Aku tidak mau!" jerit Thania saat dirinya diseret paksa ke hadapan seorang laki-laki dewasa penuh aura kepemimpinan yang kini berada di dalam sebuah ruangan serupa kamar.

"Kamu tidak punya hak untuk menolak, Nona!" tegur salah seorang lelaki berpakaian serba hitam yang membawanya ke sana.

"Aku berhak! Karena aku-"

"Karena kamu adalah anak dari seseorang yang berkuasa," potong si lelaki yang sedari tadi mendengarkan perdebatan antara Thania dengan anak buahnya, membuat wanita itu menoleh padanya dengan cepat.

Sementara si pengawal segera membungkuk hormat, lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat, menyisakan keduanya.

Lelaki bernetra hitam legam dengan rambut pendek sebahu model hair bun itu segera mengalihkan tatapannya ke atas meja, lalu meraih sebuah katana yang tergeletak di sana dengan sedikit bercak merah menghiasi bagian yang tajam.

Dipegangnya erat sembari mengacungkan ke depan bersama raut datar cenderung dingin nan angkuh kala menatap ujung lancip yang tampak berkilau terkena cahaya lampu, lalu kembali menatap lurus ke arah gadis berpenampilan kusut di depannya, hanya untuk melihat Thania berdiri dengan kedua tangan terbelenggu tali pengikat, sambil balas menatapnya dengan penuh emosi, marah, takut, dendam, dan gelisah, serta tubuhnya yang bergetar.

Rambut merah sepinggangnya yang semula rapi kini sudah berantakan. Gaunnya juga tampak penuh dengan koyakan dan wajahnya sembab dengan hidung yang memerah.

***

Beberapa jam sebelum kejadian

"Thania ... Putriku!" seru Samuel, menyambut kedatangan putrinya yang tampak terpana saat turun dari atas tangga.

"Daddy!" pekik Thania dengan senang hati, seolah melupakan sejenak rasa terkejutnya. Dengan langkah yang diiringi keanggunan dan semangat, ia berjalan menuruni tangga.

Di benak Thania, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan haru atas kejutan ulang tahun yang diselenggarakan kedua orang tuanya. Setiap detail dalam pesta ulang tahunnya terasa begitu sempurna, seakan menjadikannya seorang putri sejati.

"Terima kasih, Daddy, Mommy. Kalian benar-benar telah menyempurnakan hari istimewa ini," gumam Thania dalam hati, sambil bersyukur dan berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi.

Samuel segera menyambut sang putri, Thania, dengan kedua tangan terentang lebar. Thania meringsek masuk ke pelukan ayahnya dengan senyum lebar menghiasi wajah.

Ia merasa begitu bahagia. Bahkan suaranya terdengar gembira, "Bagaimana kejutan ulang tahun dari Daddy? Apa kamu senang, Sweetheart?" Ia melepaskan pelukan, kemudian menghela Thania agar segera bergabung ke dalam acara.

"Aku senang, Daddy," ungkap Thania sembari melangkah beriringan bersama sang ayah menuju ke arah Thalia. 

Samuel bahkan sempat menggumam, "Akhirnya, aku bisa membuat Thania bahagia. Setelah sekian lama berjuang, aku merasa lega melihat senyum bahagianya di hari ulang tahunnya."

"Happy birthday, Sweetie!" ucap Thalia senang sembari merentangkan kedua tangannya, meminta sang putri tunggal memeluknya erat.

Samuel menatap mereka dengan mata berkaca-kaca juga batin berkecamuk senang, "Ini adalah momen yang indah, sebuah keluarga yang utuh dan penuh cinta. Semoga kebahagiaan ini bisa terus berlanjut dan kami bisa menjadi keluarga yang lebih baik."

"Terima kasih, Mommy!" sahut Thania senang sembari memeluk ibunya dengan erat. Aroma lavender yang menyegarkan tercium dari tubuh sang ibu membuat Thania tersenyum tulus, "Mommy wangi banget sih!"

Thalia tersenyum dan mengelus kepala Thania. "Seperti yang kamu tahu, Sayang. Ini aroma kesukaan Daddymu. Jadi sebagai istri yang baik, Mommy hanya bisa meluluskan keinginannya."

"Ya ... kalian memang pasangan spektakuler versiku!" puji Thania, balas menatap sayang pada ibunya.

"Itulah sebabnya aku berharap bisa menemukan pangeranku yang persis seperti Daddy, karena aku akan bersikap seanggun Mommy."

"No ... no ... no! Kamu lebih anggun daripada Mommy, Sweetheart. Jadi, kamu pasti akan mendapatkan calon suami yang lebih dari Daddymu," kikik Thalia, seraya menggoyangkan jari telunjuknya. senyum manis turut menghiasi wajah yang terlihat masih segar di usianya yang telah menginjak 45 tahun. 

"I hope soo, Mom."

Thania menoleh ke arah kanan saat mendengar seseorang memanggilnya. "Aku ke sana dulu," tukasnya, lalu segera berlalu setelah keduanya mengangguk kecil. 

"Hai, Pretty Boy! What's wrong?!" 

"Demi apapun, Thania! Jangan panggil aku Pretty Boy lagi! Aku tidak merasa secantik itu, sehingga pantas dipanggil laki-laki cantik!" gerutu Gerald dengan rasa jengkel sembari mengikuti langkah Thania dari belakang. Keduanya berjalan memutari ruangan, kembali ke area tengah. 

Para tamu undangan reflek memberikan ruang. 

"Of course! Bahkan Elizabeth tidak secantik dirimu!" puji Thania dengan tulus, mengabaikan protes Gerald.

"Elizabeth, siapa itu?" tanya Gerald, kebingungan yang meliputi wajahnya menciptakan kerutan di dahi. Dia mulai merasa bahwa apa yang diperbincangkan oleh Thania sudah keluar jalur dari tujuan utama mereka saat ini.

"Ketua photography," ungkap Thania tanpa menoleh, seolah mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya saat melihat kue raksasa di hadapannya terlihat menjulang tinggi. 

Thania menerima pisau panjang dari tangan salah seorang pelayan yang membawakannya, menyiapkan diri untuk memotong kue tersebut bersama Gerald.

"What?! A nerd girl! Seriously?!" pekik Gerald tidak terima, karena setahunya Elizabeth itu berkacamata bulat layaknya kutu buku, memakai behel di giginya, juga selalu menggunakan pakaian jadul hingga membuat ilfeel semua orang yang melihatnya.

"Dia cantik, kalau kamu ingin tahu. Aku pernah melihatnya tanpa kacamata, juga tanpa kuncir kuda yang ... argh!" Thania tiba-tiba berhenti berbicara dan memekik keras, seperti yang dialami semua orang di sana.

Bab 2

Suara dentuman keras yang berasal dari depan gerbang utama membuat semuanya terkesima. "Apa yang terjadi?!" tanya Samuel dengan ekspresi kesal, melihat acara sang putri terganggu.

Thalia merasa keheranan yang sama, apa yang bisa membuat situasi tiba-tiba berubah begitu dramatis? Semua terasa begitu damai dan bahagia beberapa menit yang lalu, namun sekarang terasa menakutkan. Belum sempat menjawab pertanyaan Samuel, suara pekikan keras yang saling bersahutan kembali memecah keheningan.

Jantung mereka berdegup kencang bersama mata terbelalak, saat melihat anggota tubuh tamu dan penjaga di halaman depan berjatuhan satu persatu dengan kondisi leher terpotong. Ketakutan mulai menguasai hati saat melihat darah mengotori area penuh kebahagiaan itu.

Tanpa pikir panjang, semua orang pun berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri, termasuk Samuel dan keluarganya.

Beberapa pertanyaan mulai menghantui pikiran lelaki itu, siapa yang tega melakukannya? 

Samuel bahkan tidak senang. Ia lantas berjalan cepat ke arah pintu depan. Namun, langkahnya harus terhenti, tatkala pintu tersebut meledak hingga membuatnya dan orang-orang yang berada di sekitar tempat itu terpental.

Pekik kencang terdengar bersahutan. Bahkan Thania dan Thalia segera berlari menyongsong Samuel yang terkapar dengan tubuh sedikit terluka. 

"Daddy baik-baik saja?" Thania terlihat khawatir.

"Sayang baik-baik saja?"

Belum sempat Samuel menjawab pertanyaan yang ia terima dari dua wanita yang paling dicintainya itu, suasana yang sudah tidak kondusif malah semakin memburuk.

Tiba-tiba saja, sekelompok orang berpakaian hitam dengan penutup wajah serta katana yang tersampir di pundak masing-masing, muncul dari pintu ruangan yang terbuka lebar. 

"Siapa mereka?" bisik Samuel dalam hati, mencoba bangkit duduk dengan kedua tangan berpegangan pada istri dan anaknya, meskipun harus tertatih-tatih sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

"S-siapa mereka, Daddy?" tanya Thania gemetar dengan raut pucat pasi. Ia bahkan merapatkan tubuh pada kedua orang tuanya yang segera melakukan formasi perlindungan, sambil mengabaikan rasa sakit yang mendera.

"Sstttt! Tenang, Sweety. Mommy dan Daddy pasti akan melindungimu," tugas Thalia menghibur, berusaha keras menutupi rasa takutnya. 

Begitupula dengan semua tamu yang tersisa dalam ruangan tersebut, merasa terkejut dan menahan napas seolah takut mengucapkan sepatah kata pun. Semua merasa gemetar dan khawatir akan bahaya yang mengintai mereka. Terlebih saat para tamu tak diundang itu mulai mengacungkan katana masing-masing sambil mengawasi gerak gerik semua orang. 

"Bantu Daddy berdiri," pinta Samuel yang segera dikerjakan keduanya setelah mengangguk paham. 

"Siapa kalian?!" teriak Samuel dengan keras. Namun, tidak dijawab orang-orang tersebut. Tepat saat dirinya hendak bangkit berdiri dengan bantuan keduanya, para tamu tidak diundang itu segera maju ke depan membentuk formasi searah jarum jam dua sisi, menyisakan seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka berada di tengah-tengah.

Samuel terkesiap. Namun, dirinya tetap berdiri tegak dengan bantuan istri dan anaknya.

Samuel bahkan segera melangkah ke depan, berusaha melindungi keduanya, tatkala sekelompok orang tersebut berjalan ke arah mereka dengan posisi mengelilingi. "Siapa kalian?" tanyanya kembali sembari mengedarkan pandangannya ke semua orang bertopeng itu dengan raut waspada.

Akan tetapi, bukannya jawaban yang ia dapatkan, melainkan sesuatu yang tampak seperti bola tengah dilemparkan ke arah mereka. Samuel tanpa sadar menyambutnya dan segera melihat benda apakah gerangan.

Teriakan kencang dan formasi yang kacau balau pun terjadi di antara mereka kala mengetahui benda tersebut ternyata adalah sebuah kepala milik Gerald yang berlumuran cairan merah segar juga mata melotot tajam, tampak tidak rela kehilangan nyawa. 

Bertepatan dengan itu, orang yang Samuel duga sebagai pemimpin mereka, berjalan mendekat dengan cepat.

Belum sempat Samuel menyadari keadaan genting, lengan Thania telah lebih dulu ditarik dengan kuat. Gadis itu bahkan dipanggul layaknya karung beras di pundak kanan, hingga membuatnya berteriak kencang, "Daddy, selamatkan aku!"

"Thania!" Thalia memekik keras. 

"Lepaskan putriku, Orang jahat!" tegur Samuel dengan penuh keberanian. 

Lelaki bertubuh tinggi besar itu bukannya menurut, ia justru bertitah dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. "Singkirkan semuanya!" Sambil berbalik badan.

Kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan para anak buahnya yang segera melaksanakan perintah.

"Mau apa kalian?!" hardik Samuel yang kini berpelukan dengan Thalia, sambil berjalan mundur dengan kedua tangan terentang, berusaha melindungi sang istri. Meskipun sesekali matanya melihat ke arah Thania yang memberontak minta diturunkan. 

Sayangnya, bukan jawaban yang ia dapatkan, ia justru harus meregang nyawa bersama sang istri. Tatkala sabetan katana mengenai leher hingga terpisah dari badan. Tubuh mereka bahkan ambruk bersamaan dengan kepala yang menggelinding, lalu menggelepar gelepar layaknya ikan yang baru diangkat dari kolam, dan tak menunggu lama gerakan itupun terhenti. 

Thania memekik kuat sembari menangis ketakutan menyaksikan semua kekejaman itu. Ia bahkan semakin kuat memberontak. Namun, sebuah pukulan mengenai tengkuknya. 

Sebelum kegelapan merenggut kesadaran, Thania sempat bergumam, "Daddy, Mommy! Maafkan putrimu ini karena tidak bisa melawan kedzaliman ini! Tapi, aku bersumpah akan menuntut balas pada semua orang yang telah membuat kita menderita hingga mereka lebih memilih kematian sebagai jalan terbaik."

"Bakar semuanya, Yamamoto!" titah sang ketua sambil membenahi posisi Thania dalam gendongannya. 

"Baik, Ketua!" Yamamoto mengangguk patuh, lalu menoleh pada para bawahannya yang segera mengerjakan tugas dengan seksama. 

Tepat ketika sebuah ledakan terdengar dari dalam, Thania hanya tahu jika detik ini juga hidupnya akan berubah menjadi lebih buruk dari sekedar melihat semua orang tiada tepat di depan matanya.

Bab 3

Tubuh Thania terasa terombang ambing, tatkala peti kemas yang mengangkutnya dibawa dua orang laki-laki berjalan melewati dermaga. Tak lama kemudian, tubuhnya sedikit terguncang saat peti tersebut diletakkan paksa di dalam sebuah ruangan.

"Di mana aku?" gumam Thania di dalam hati. Dirinya berusaha menarik tali yang mengikat kedua tangan yang terikat kuat ke belakang. Namun, sayang sekali harus gagal karena kuatnya tali pengikat.

Thania berbaring miring ke kiri dengan tubuh setengah terlipat guna menyesuaikan tempat. 

Hidungnya mengendus-endus bau asin yang samar juga suara benda terbentur air bercampur suara mesin, yang ia perkiraan sebagai kapal. "Sepertinya aku berada di atas kapal," gumamnya kembali.

"Ke mana mereka akan membawaku pergi?" batinnya dengan raut sedih, sembari merenung. Tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba berada di posisi seperti ini. Padahal ia baru saja menginjak usia dewasa. Namun kebahagiaan yang seharusnya ia terima harus berubah menjadi kengerian, bahkan yang terparah adalah ia harus menerima nasib sebagai anak yatim piatu.

Tak lama kemudian, Thania tertidur dengan posisinya seperti semula.

***

Sementara itu, di atas dek kapal tepat di bawah ruang nahkoda. Seseorang tampak berjalan menaiki tangga menuju ruangan tersebut. "Bagaimana dengan budak baru itu?" tanyanya sembari berjalan mendekati seorang laki-laki yang berdiri di pojok ruangan sedang sibuk menatap laut dari balik teropong yang ia gunakan.

"Aman, Tuan!" jawab lelaki tersebut sembari membalikkan badannya ke belakang, tak lupa mengangguk hormat.

"Di mana kamu letakkan, Yamamoto?" tanya sosok yang dipanggil Tuan itu kembali, seraya menghentikan langkah. 

"Di dalam kamar pribadi, Tuan. Masih di dalam peti kemas," ungkap Yamamoto dengan kepala tertunduk.

"Bodoh!" maki sosok yang dipanggil Tuan sembari melayangkan tendangan ke arah perut Yamamoto hingga membuat lelaki itu jatuh terjungkal ke belakang, menabrak teropong yang baru ia gunakan hingga keduanya jatuh ke atas lantai. Yamamoto bahkan seketika muntah darah. 

"Maafkan saya, Tuan Muda Honda! Saya bersalah! Saya mohon, ampuni saya!" pinta Yamamoto sembari bersujud.

Honda segera berdiri jongkok di hadapan Yamamoto, bibirnya berdesis sinis. "Apa kamu akan bertanggung jawab jika wanita itu kehilangan nyawanya?" Suaranya terdengar geram.

Yamamoto seketika memucat, dirinya melupakan fakta tersebut. Lelaki itu lantas bersujud berulang kali di hadapan Honda seraya berkata, "Ampuni saya, Tuan Honda! Saya akan segera mengeluarkan wanita itu dari dalam peti. Mohon berikan saya kesempatan terakhir!" pintanya dengan suara lantang yang terdengar bergetar. Lelaki itu takut jika sang majikan murka padanya.

Honda hanya balas mendengkus keras sembari sedikit terkekeh sinis. Sudut kiri bibirnya tertarik, menciptakan senyum penuh penghinaan bagi lawan.

"Baik! Karena kamu telah bekerja padaku sejak lama, maka akan aku beri kesempatan terakhir. Namun ...." Honda sengaja memotong ucapannya sendiri, tatkala dirinya bangkit berdiri dengan tatapan penuh kemurkaan pada sang asisten pribadi.

Sementara Yamamoto kini nampak tegang juga takut. Keringat sebesar biji jagung tampak mengucur deras dari pori-pori kulit, karena yang ia tahu sang majikan bukanlah lelaki berhati mulia. Tubuhnya bahkan kini bergetar hebat, yang tentu saja tertangkap indera penglihatan Honda. 

Lelaki itu kembali terkekeh sinis.

"Potong satu jarimu sekarang juga! Aku tidak perduli mau yang sebelah kanan ataukah yang di sebelah kiri! Kalau sudah selesai, gegas keluarkan wanita itu dari dalam peti. Jika dia tidak selamat? Maka nyawamu sebagai gantinya!" titah Honda dengan jelas.

"Ba-baik, Tuan!" sahut Yamamoto dengan suara kembali bergetar, tatkala vonis sudah dijatuhkan untuknya. Lelaki itu lantas bangkit duduk, kemudian segera menarik pisau miliknya yang tersampir di pinggang kanan.

Baru setelahnya mengulurkan tangan kiri, lalu meletakkannya di atas meja. Jemarinya bergetar hebat saat jari kelingking ia pilih sebagai korban. Tak lama berselang, teriakan keras lolos dari mulut bersamaan dengan cipratan cairan merah yang mengenai wajah, juga sebuah jari jatuh menggelinding ke bawah meja.

Honda yang melihatnya, hanya tersenyum sinis. Lelaki itu lantas bertitah, "Obati dia! Jangan lupa keluarkan budak itu dari dalam peti, sekarang juga!" Lelaki itu lantas membalikkan badan ke arah pintu keluar, tanpa mendengar sahutan dari para assasin miliknya.

Sementara itu, para assasin itu hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Lalu segera melaksanakan perintah Tuannya, di mana sebagian mengobati Yamamoto dan sebagian lagi merayap menuju lokasi Thania berada.

Sementara itu, Thania yang semula tertidur, tersentak tatkala mendengar suara peti yang menutupi tubuh dibuka paksa dari luar, hingga membuat samar-samar cahaya masuk lewat celah kain yang menutupi wajah.

Thania menyipitkan mata agar bisa menyesuaikan cahaya yang masuk agar dirinya sedikit banyak bisa melihat keadaan di luar sana dari pori-pori kain. 

Thania menggumam tertahan dari balik lakban yang menutupi mulut, sehingga tidak terdengar jelas oleh para assasin itu, tatkala tubuhnya dikeluarkan paksa dari dalam peti kemas.

Thania berusaha berontak sekuat tenaga yang ia bisa. Namun gagal karena kuatnya cekalan yang mampir di pundak, memaksa wanita itu berjalan maju ke depan.

Tubuhnya lantas didudukkan paksa di atas sebuah alas beludru yang terasa lembut saat tangannya tanpa sengaja membelai benda tersebut, hingga sedikit membusung ke depan, yang mana segera ia kembalikan ke posisi semula dengan kedua tangan masih berada di belakang punggungnya.

Sementara sosok laki-laki yang sebelumnya dipanggil dengan nama Honda, tampak balas menatap dengan raut datar ke arah Thania.

Thania mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan tubuh tersentak kaget,  tatkala  sesuatu menarik paksa lakban hitam yang menutupi mulutnya hingga terlepas dari sana. "Siapa di sana?!" tanyanya dengan tegas. Berusaha terlihat berani.

"Tikus kecil hendak berusaha menjadi macan rupanya!" ejek Honda dengan sudut kiri bibirnya tertarik ke atas menciptakan seringaian tipis penuh ejekan di sana.

"Si-siapa kamu?!" tanya Thania kembali. Namun, kini suaranya terdengar bergetar seiring rasa takut yang kini mulai menguasai.

"Untuk apa kamu ingin tahu, siapa diriku yang sebenarnya?" tanya Honda balik sembari berjalan mengelilingi Thania yang kini terlihat mengikuti arah langkah kakinya, berusaha mengetahui siapa sosok di depannya itu.

"Tentu saja aku harus tahu! Karena aku tidak mengenalmu dan juga tidak memiliki urusan denganmu, yang bisa membuatku harus mendapatkan nasib buruk seperti ini!" pekik Thania murka.

"Oh ya?" balas Honda sembari terkekeh sinis,  menertawakan ucapan wanita di hadapannya itu. Kemudian dirinya segera menghentikan langkah kaki, tepat di balik punggung Thania, hingga membuat Thania semakin ketakutan. Tubuhnya bahkan terlihat kaku saat ia berusaha menoleh ke belakang.

Hembusan napas panas bahkan terasa menerpa kuat. 

"Aku adalah Dewa Kematian untukmu," ungkap Honda tepat di telinga kiri Thania sembari melebarkan seringaiannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED