BAB 1
"Aduh, perutku sakit banget, Mas. Kayaknya mau melahirkan."
"Halah, tahan dulu sakitnya. Besok aja kalau mau melahirkan. Hari ini aku sibuk," katanya sambil mengibaskan tangan.
"Tapi, Mas—" Aku kembali meringis, terduduk di lantai. Dia masih saja tidak peduli, dia kira aku ini sedang bersandiwara.
"Kamu itu susah banget dibilangin. Tunda aja acara melahirkan itu."
Aku memegangi perut buncit, menatap miris ke Mas Reno yang pergi dari rumah. Dengan tertatih, aku keluar rumah. Mobil suamiku sudah tidak ada lagi di parkiran.
"Tolong!" teriakku lirih. Menatap sekitar, kembali berteriak.
Beberapa menit aku melakukan itu, tidak ada yang datang. Mas Reno memang benar-benar. Dia tidak mau tahu urusanku. Aku mengusap dahi yang berkeringat. Sepi, tidak ada siapa pun. Tidak mungkin aku berharap lebih, ini sepi sekali.
Dengan susah payah, aku mengambil dompet dan ponsel di dalam. Kemudian mengunci pintu rumah. Payah sekali keadaanku sekarang, tidak tau mau melakukan apa. Bahkan napasku tidak stabil sekali.
Baru berjalan beberapa langkah di jalan besar, aku berpapasan dengan tetangga depan rumah. Tetanggaku tampak kaget, langsung menghampiri dengan wajah panik.
"Loh, Bu Nina kenapa jalan sendirian? Aduh, mukanya kok pucat gitu?" Tetanggaku langsung membantu memegang aku yang berdiri saja sulit. Sakit sekali rasanya.
Alhamdulillah. Ada tetangga yang lewat. Aku memegangi tangannya. Napasku sejak tadi tidak beraturan, keringat terus mengalir dari kening.
"Tolong saya, Bu. Saya mau melahirkan." Aku berkata patah-patah, meminta bantuan padanya.
"Ya ampun, sebentar saya keluarin mobil dulu, Bu."
Kami menuju ke rumah sakit. Tetanggaku memang baik sekali, kebetulan saja dia belum pulang tadi. Untung tidak terlambat. Kalay terlambat, entah apa jadinya bayi yang sedang aku kandung ini. Aku mengusap wajah, menatap keluar kaca mobil.
"Kamu memang tidak punya perasaan, Mas."
***
"Selamat, Bu. Anaknya laki-laki. Tampan."
Aku menggendong bayi laki-laki yang diberikan dokter itu. Tampak tenang, membuatku tersenyum. Dia begitu tampan.
"Saya perlu hubungi Pak Reno, Bu?" tanya tetanggaku tadi. Dia tampak khawatir sekali dengan keadaanku.
"Tidak perlu. Terima kasih udah nganterin ke rumah sakit, sekaligus nemenin, Bu. Sekali lagi terima kasih." Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya. Kalau tidak, tidak tau bagaimana nasib anakku sekarang.
"Saya malah senang, Bu. Ibu bantu saya banyak. Masa saya gak pernah bantu Ibu. Saya permisi dulu, Bu. Masih ada kerjaan di rumah."
"Iya. Jangan kasih tau suami saya kalau saya sudah melahirkan, ya, Bu."
Meskipun tetanggaku tampak kebingungan, tapi dia tetap mengangguk, tersenyum padaku. Kemudian keluar dari ruang rawatku.
"Selamat datang di dunia, Nak." Aku mengecup keningnya. Dia masih terlihat tenang.
"Sayangnya, Papa kamu tidak peduli," lanjutku. Mas Reno benar-benar tidak punya hati.
Aku mengusap pipi bayi yang masih merah itu. Papa yang tadi mengazani bayiku. Sekarang, sedang di kantin, bersama Mama. Aku memang sempat menghubungi kedua orangtuaku untuk bisa menemani lahiran sekaligus membantuku merawat bayi ini.
Ah, anak pertama kami. Ternyata, Mas Reno sama sekali tidak peduli. Bahkan saat aku hamil, mana pernah dia menanyakan aku mau makan apa, lebih ke bodo amat.
Ponselku berdering. Dia baru saja menelepon. Untuk apa dia menelepon? Aku mendengkus pelan, enggan mengangkat telepon tapi akhirnya menggeser tombol berwarna hijau di layar.
"Kamu di mana? Kok gak ada di rumah? Terus berantakan kayak gitu. Kamu itu gak beres jadi istri. Kerjaan cuma di rumah doang." Baru juga diangkat teleponnya, dia sudah marah-marah saja.
Salah satu sudut bibirku terangkat. Memangnya aku peduli?
Apakah aku peduli? Aku tidak akan peduli sama seperti kamu tidak mempedulikanku tadi, Mas!
"Terserah." Aku menjawab singkat.
"Loh, kok jawabannya terserah? Halo, Nina?"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku mematikan telepon, meletakkan ponsel kembali ke atas meja, menyalakan mode hening. Kemudian mengembuskan napas pelan.
Dari dulu sampai sekarang, Mas Reno memang begitu, tapi aku tidak menyangka dia tidak peduli dengan kehamilanku. Padahal ini adalah anak pertama kami.
Denting pelan terdengar dari ponselku. Ada pesan masuk dari sahabat lama. Dia kutugaskan untuk mencari tau sesuatu tadi.
Mataku mengerjap pelan. Foto Mas Reno, mertua, juga iparku yang sedang jalan-jalan ke rekreasi mahal. Juga restoran mewah.
"Oh, jadi ini yang kamu bilang sibuk?" bisikku sambil tertawa pelan.
Sibuk menghabiskan uang? Wow.
Parahnya lagi, itu semua uangku. Selama kami menikah, mana pernah Mas Reno memberikan nafkah. Kehidupan kami bergantung ke usahaku.
Sayangnya, semua tabungan sudah aku belikan aset dan semuanya atau nama Mas Reno. Entah kenapa aku bisa melakukan hal itu.
Itu hal yang paling tidak masuk akal yang pernah aku lakukan.
"Ini bukan sekali atau dua kali."
Aku mengepalkan tangan. Pandanganku tertuju ke bayi yang masih terlihat tenang di gendonganku.
"Papamu sudah merasa kaya, Nak," kataku dengan senyum miris.
Kejadian tadi, membuatku berpikir ulang tentang cinta Mas Reno padaku. Sudah berapa lama aku terjebak dalam kebodohan ini?
"Aku akan membuatmu miskin kembali, Mas."
***
BAB 2
"Kamu itu hilang dua hari. Gak usah pulang sekalian, kayak gak punya rumah."
Mas Reno membalikkan tubuh. Dia langsung terdiam melihatku menggendong bayi, matanya terlihat melebar. Pasti dia terkejut sekali. Di belakangku ada Mama dan Papa yang membawa pakaianku dari rumah.
Mama dan Papa juga memang sengaja tidak memberitahukan Mas Reno atas permintaanku. Sengaja membuatku menghilang, tidak memberitahukan kabarku juga pada Mas Reno. Itu yang membuatku cukup senang.
"Loh, bayi kita udah lahir? Ya ampun, kamu kenapa gak bilang sama aku, Sayang?" Mas Reno langsung mendekatiku. Wajah kesalnya labgsung berubah senang. Dia bahkan hendak menggendong bayi kami.
"Gak nanya."
Aku melewatinya begitu saja, meletakkan tas di atas sofa.
Mama dan Papa mengusap kepalaku. Kemudian pamit. Kemarin, kedua orang tuaku sempat bertanya kemana Mas Reno, tapi tidak aku jawab. Mereka tidak perlu tahu di mana Mas Reno. Mama dan Papa memang belum tau aku punya masalah dengan Mas Reno.
Atau semua rencanaku berantakan. Dua tahun pernikahan kaki, aku tidak mau hartaku musnah begitu saja. Tenang saja, aku sudah memiliki rencana besar.
"Siapa namanya?" Mas Reno meminta menggendong bayi kami.
Tentu saja aku mengabaikannya. Mama dan Papa tidak bisa menginap, ada sesuatu yang harus mereka urus. Aku membawa Raja—bayiku ke kamar.
"Kok diam aja, sih? Mas nanya sama kamu, loh." Mas Reno mengikutiku dari belakang. Dia tampak sekali penasaran ada apa denganku.
"Nanya dari tadi?" tanyaku dingin. Mataku bertemu pandang dengan mata Mas Reno yang tampak terkejut. Dia pasti sudah bisa merasakan ada perbedaan di dalam diriku.
"Kamu kenapa, sih? Berubah banget. Aneh, deh."
Bodo amat. Aku tidak peduli sama sekali. Kesabaranku sudah habis. Selama ini, aku dipermainkan Mas Reno. Seluruh kebodohanku, ternyata aku aneh sekali.
Semua aset kami sepakati atas namanya, karena ada sebuah perjanjian dulu. Aku menatap foto kami. Sekarang, foto itu justru membuatku malas melihatnya. Untung saja aku tidak jadi hendak melempar foot itu ke muka Mas Reno.
"Nin, kamu kenapa? Bilang, dong. Jangan diam kayak gini. Pusing aku ngeliatnya. Bayi kita gak boleh aku gendong. Semuanya aja gak boleh." Mas Reno tampak kesal sekali, dia mengacak rambut. Duduk di sebelahku.
Belum sempat aku menjawab, pintu rumah diketuk. Aku menatap Mas Reno, dia langsung melangkah ke pintu dengan cepat. Seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Dengan langkah pelan, aku menyusul Mas Reno. Ketika pintu terbuka, keluarga tidak tahu diri tampak. Ah, kehancuran.
Kenapa mereka bisa sampai di sini? Ya ampun, ini benar-benar masalah besar. Sudah masalah dengan Mas Reno, dengan keluarga menyebalkan ini juga.
"Mama, Rini! Kok gak bilang-bilang mau kesini? Aku bisa nyiapin makanan yang banyak." Mas Reno dengan sigap menggantikan memegang koper yang dibawa oleh Mama dan adiknya itu.
"Emang gak ada makanan?" tanya Mama sinis, dia melirikku tajam. "Terus tugas istri kamu di rumah ngapain? Cuma tiduran gitu? Kayak bukan istri aja."
Mama Mas Reno langsung duduk di sofa. Aku menatap koper yang dia bawa. Begitu juga adik iparku. Dia tidak peduli dengan kopernya.
"Mama mau ngapain di sini? Bawa koper lagi." Mas Reno mulai menanyakan itu. Aku hanya diam berdiri di dekat tangga, belum mengatakan apa pun. Masih memperhatikan apa yang mereka lakukan.
"Mau nginap lah. Mau santai-santai di sini. Mama pengen jadi orang kaya sebentar aja masa gak boleh." Mama Mas Reno tampak berkaca pinggang.
Ya, terserah saja. Sudah sering begitu. Bahkan mereka semaunya sendiri di rumah ini, seolah aku adalah pembantu. Kali ini, aku tidak mau melakukan apa yang mereka suruh.
Sudah cukup aku yang tidak pintar dulu. Tidak lagi sekarang. Semuanya sudah berubah. Mulai sejak aku melahirkan, aku sudah berubah, bukan lagi Nina yang dulu. Mereka tidak akan pernah mengenaliku lagi, keluarga-keluarga benalu.
Aku melangkah meninggalkan ruang tamu. Biarkan saja mereka menikmati ini, sebentar lagi, semuanya akan aku rebut. Mereka akan merasakan akibatnya sudah bermain-main denganku.
"Heh, Nina!" Terdengar bentakan yang membuatku sedikit tersentak.
Langkahku terhenti. Aku tidak menoleh, menunggu mertuaku mengatakan sesuatu. Apa yang ingin dia katakan? Menyuruh-nyuruhku lagi? Dasar tidak ada gunanya.
"Bawa koper saya. Kamu itu menantu gak ada gunanya apa, ya? Lewat begitu saja." Suara Mama Mas Reno terdengar membentak, membuat telingaku sedikit panas mendengarnya.
"Iya. Sekalian koper Rini. Berat tau bawanya tadi."
Dasar kurang ajar semua. Memangnya mereka pikir, aku ini pembantu? Mereka pikir, ini rumah mereka begitu? Sok berkuasa banget, mereka belum tau saja, kalau aku bukan lagi yang dulu.
"Angkat sendiri. Saya bukan pembantu," kataku dingin.
***
Aku duduk di tempat tidur, menghela napas pelan. Mas Reno dan keluarganya memanglah benalu. Menyebalkan semua.
Ponselku berdering. Dari teman lama. Aku langsung mengangkatnya, siapa tau penting.
"Halo."
"Halo, Nina. Boleh ketemuan gak? Ada yang mau aku omongin."
"Emm, datang ke rumah aja. Aku habis lahiran, agak susah kalo mau keluar."
"Hah?! Kok lahiran gak bilang-bilang sih? Astaga, aku langsung ke rumah kamu sekarang. Bisa-bisanya kamu gak bilang ke aku, sahabat kamu sendiri."
Mendengar itu, aku tertawa pelan. Apa lagi yang harus aku bilang padanya? Kami juga jarang saling menghubungi. Aku menatap Raja, dia sedang tidur. Pulas sekali.
Setengah jam setelah telepon itu, sahabat lamaku menelepon kembali, dia bilang sudah ada di depan rumah. Aku menggendong Raja yang sudah bangun tidur, melangkah keluar kamar.
"Mau kemana kamu?" tanya Mas Reno saat aku melewatinya."
"Bukan urusanmu." Aku menjawab ketus membuat Mas Reno berseru kesal. Bodo amat.
"Hai!" Aku tersenyum pada sahabat lamaku itu.
"Hai! Mau peluk."
Aku mendekat. Meskipun tidak terlalu bisa berpelukan lebih dekat, tapi sepertinya dia bahagia sekali. Aku tersenyum, mengajak masuk.
"Siapa lagi itu?" Mama Mas Reno memang benar-benar tidak tau tempat. Bisa-bisanya dia mengajakku ribut saat teman lamaku datang. Tidak bisa ditunda saja apa?
"Ini siapa?" bisik sahabat lamaku penasaran.
"Biasalah aneh. Kita ngobrol di halaman belakang aja. Lebih adem."
Sahabat lamaku itu namanya Hani. Dia dulu sering sekali bermain denganku. Aku penasaran dia ingin bercerita apa, padahal kami sudah lama sekali tidak bertemu.
"Heh, Nina! Mama belum selesai bicara sama kamu."
Astaga, benar-benar cari ribut. Aku mengeluarkan ponsel, menghubungi Mas Reno yang masih ada di atas. Entah apa kerjaannya bukan mengurusi Mamanya yang reseh sekali ini.
Masa semua yang datang ke rumah mau aku perkenalkan ke dia satu per satu. Kelamaan, aku juga punya teman kali. Bukan wanita yang diam saja di rumah. Aku menghela napas kesal, menunggu Mas Reno mengangkat telepon, sementara Hani berdiri di sebelahku, menunggu. Dia tidak mungkin ke halaman belakang sendirian.
"Kenapa, sih? Kita di rumah yang sama. Kamu tinggal teriak atau apa gitu. Kenapa pakai nelepon segala? Kalo gak penting jangan nelepon dong, apalagi ini kita ada di rumah yang sama lho, Nin. Kamu itu kenapa sih? Astaga, pusing banget mikirin kamu doang."
"Mama kamu ganggu aku bawa teman ke rumah ini. Awasin Mama kamu. Kalo sampe ganggu aku, jangan harap bisa timggal di rumah ini lagi ya."
Aku mematikan telepon, tidak peduli dengan Mas Reno yang berteriak-teriak.
"Ayo. Biarin aja, nanti juga ada yang ngawasin."
Hani mengangguk, mengikutiku dari belakang.
"Jadi, kenapa nih?" tanyaku saat sudah duduk di kursi halaman belakang, menatap Hani.
"Kamu lagi ada masalah sama mertuamu ya, Nin?"
Mendengar itu, aku menghela napas kesal. Kenapa malah jadi membahas Mamanya Mas Reno? Kalau itu mah dari semenjak aku menikah dengan Mas Reno, aku sudah punya banyak masalah dengannya.
"Nin?" Hani menyentuh tanganku yang sedang sibuk melamun.
"Eh?" Aku tampak terkejut sekali. "Katanya kamu mau cerita. Cerita dulu biar lega."
Hani menganggukkan kepala. Aku menatap ke atas langit. Sebenarnya aku sedang malas bertemu dengan orang lain sekarang, tapi sayang sekali kalo gak dditanggapin. Kasian pada Hani.
"Boleh aku gendong anakmu?"
Meskipun heran, aku tetap mengangguk. Memberikan Raja pada Hani. Beberapa detik menggendong bayiku, Hani malah teriak, membuatku mengernyitkan dahi. Hei! Dia kenapa?
"Han? Kenapa kok malah nangis? Anakku nakal atau gimana?" Aku memegangi tangannya.
"Enggak. Aku juga pengen ngerasain punya bayi kayak kamu, Nin. Pasti rasanya senang banget, suami tambah sayang. Gak kayak aku yang harus dapat perlakuan buruk dari suami aku."
Mungkin ini masalah yang ingin diceritakan oleh Hani. Aku menghela napas pelan, mengusap lengannya.
"Sabar, ya. Nanti pasti ada saatnya kamu bisa punya anak."
"Gak bisa lagi, Nin. Suami aku udah gak tahan katanya, dia minta untuk bercerai. Dia udah gak sayang lagi sama aku."
Astaga. Aku terdiam mendengar perkataan Hani. Ini benar-benar buruk sebenarnya. Masalah Hani memang berat. Aku menggigit bibir, bagaimana aku harus menenangkan Hani?
Ah, aku saja tidak pandai menenangkan orang lain. Bagaimana ini? Aku harus bersikap seperti apa?
"Apalagi suamiku malah jalan sama wanita lain. Aku gak terima, Nin. Aku gak terima suamiku melakukan hal itu padaku."
"Kamu sabar ya." Meskipun kata-kata itu tidak lagi berpengaruh pada Hani, mungkin itu bisa membuat dia menjadi lebih baik. Aku menghela napas lagi.
"Mertuaku juga begitu. Bukannya bantu rumah tangga anak dan menantunya, dia malah mendukung suamiku untuk bercerai lagi. Menurut kamu gimana, Nin?"
Aku menelan ludah. Tidak punya solusi apa pun apalagi sedang tidak bisa berpikir begini. Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa?
"Nin?"
"Maaf banget. Mungkin suami kamu yang sekarang belum jodoh kamu, Han." Aku akhirnya menjawab pertanyaannya.
Hana langsung terdiam mendengar perkataanku. Aduh, jangan sampai dia marah.
"Pegang bayi kamu, Nin. Aku gak mau marah sambil gendong bayi kamu."
Buru-buru aku mengambil alih menggendong Raja. Bahaya juga kalau terjadi apa-apa. Hani mengacak rambutnya, dia sepertinya sudah pusing sekali dengan masalahnya sekarang. Aku menghela napas, mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai solusi.
"Benar kata kamu, Nin, tapi aku masih gak terima. Dia seenaknya berkeliaran di sana dengan istri barunya. Sementara aku menderita. Aku gak terima pokoknya."
Eh? Lalu aku harus apa kalau Hani tidak terima? Tidak mungkin kan aku mendatangi suaminya lalu marah-marah?
Mas Reno saja, aku sudah sulit sekali menghadapinya. Apalagi suaminya Hana yang baru mendengar ceritanya saja aku sudah menyerah?
"Pokoknya kamu harus bantuin aku, Nin."
Apalagi ini? Hani memegangi tanganku. Dia menatapku memohon. Aduh, aku paling tidak bisa kalau diginiin. Mau bagaimana?
Sejak dulu, Hani sering membantuku. Apakah sekarabg saatnya membalas kebaikannya. Tapi apa yang mau aku balas? Ah, ini sulit sekali rasanya.
"Nin? Kamu mau bantu aku gak?"
"Bantu apa? Kalau ada yang bisa aku bantu, pasti aku bantu, Han. Tapi kalo itu di luar batas kemampuanku, kayaknya gak bisa deh."
Hani diam sejenak. Beberapa detik, dia akhirnya memberitahukan semua rencana dia. Aku menganggukkan kepala sesekali. Itu sebenarnya ide menarik.
"Gimana? Kamu mau bantu aku? Cuma sedikit. Gak bakalan ganggu kamu atau bayi kamu kok."
Aku menatapnya. Ada banyak harapan di sana. Akhirnya, aku menganggukkan kepala.
"Akan aku coba, Han."
***
"Kamu kok kurang ajar banget sama Mama, Nina. Aku tau, kamu habis melahirkan, tapi kenapa jadi kayak gini? Aneh banget. Lama-lama, gak betah aku sama kamu."
Mulut Mas Reno memang minta disumpal, dia membahas kejadian tadi. Aku hanya meliriknya, kemudian kembali memasang posisi tidur yang enak. Tidak mempedulikan dia yang masih mendumal.
Pikir saja sendiri kesalahannya apa. Lagi lupa, sering sekali Mama dan adik iparnya itu datang ke rumah kami. Menganggapku seolah-olah sebagai pembantu.
Ah, itu ada alasannya. Aku tidak mungkin membiarkan mereka melakukan begitu saja padaku, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi bodoh. Memang mereka pikir aku masih yang dulu? Tidak lagi. Aku adalah Nina yang sekarang, tidak gampang dibodohi.
"Pusing aku ngomong sama kamu, Nin." Mas Reno terlihat menyerah. Dia tampak kesal, mengacak rambutnua.
Setelah Mas Reno pergi, ponselku berdering. Dari seseorang, aku tersenyum ini yang sejak tadi aku tunggu-tunggu, aku menggeser tombol berwarna hijau. Kemudian mendekatkan ponsel ke telinga, menunggu seseorang di seberang sana menyapa.
"Halo." Aku menyapa lebih dulu, sudah tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh orang di seberang sana.
"Halo, Nina. Aku udah baca pesan kamu tadi." Suara orang di seberang sana terdengar mantap sekali. Aku menghela napas lega, memang banyak sekali yang bisa diandalkan.
"Bagus." Aku menganggukkan kepala. "Bagaimana tanggapan kamu?"
"Gak masalah. Bakalan aku laksanain."
"Ah, menarik. Hancurkan secara perlahan, tapi menyakitkan," gumamku sambil mengangkat sebelah alis. Aku tidak pernah main-main kalau soal beginian.
"Aman. Tenang aja, pasti bakalan beres bersih. Kamu bakalan dapat apa yang kamu mau."
"Lakukan semua yang kamu bisa. Kerahkan semuanya. Aku berharap sekali denganmu kali ini."
Aku mematikan telepon. Kedua sudut bibirku tertarik. Mataku menatap Raja yang tertidur.
"Kita akan menghancurkan Papamu secara perlahan, Nak. Perlahan, tapi lebih menyakitkan daripada yang Mama rasakan."
***
"Nina, aku minta uang."
Pandanganku teralih ke Mas Reno. Dia menatapku berharap.
Untuk semua pendapatan, aku yang memegang. Yang menguasai aku. Mas Reno tidak ada apa-apanya kalau itu.
Dengan cepat, aku mengeluarkan dompet. Mengambil uang pecahan koin.
"Eh? Kamu bercanda, ya? Kenapa dikasih uang kayak gini? Aduh Nina, aku serius. Lagi butuh banget. Mama sama Rini lagi pengen makan pizza." Mas Reno terlihat kesal sekali melihat uang yang aku berikan.
Memangnya aku peduli? Aku mengabaikan Mas Reno. Memilih untuk sibuk dengan Raja.
"Kamu dengar gak, sih? Dari kemarin kayak gini. Sekarang juga kayak gini? Kemasukan apa?"
Mas Reno memaksaku menatapnya. Oke, sepertinya dia menantang. Aku menatap matanya dalam-dalam.
"Bilang kalau aku ada salah. Jangan diam aja. Ini koin, permen aja gak dapat, Nina."
Lalu kalau aku bilang, apakah semuanya akan baik-baik saja? Apakah aku akan didengar? Ah, itu sangat percuma. Aku hanya diam, masih menatapnya, tapi tidak mengatakan apa pun.
Suamiku itu menimang uang di tangan. Terdengar dia menghela napas, melepaskan tangannya dari lengan, kemudian pergi dari hadapanku.
"Memangnya, kamu saja yang bisa seperti itu? Aku bisa, Mas. Lebih dari itu."
***
"Nina, apa maksud kamu ngasih uang recehan, hah?! Nganggap kami ini sebagai anak kecil di jalanan? Menantu gak benar ini."
Mama Mas Reno terlihat marah, dia berkaca pinggang di hadapanku. Wajahnya terlihat memerah, sepertinya dia tersinggung sekali.
Ah, aku tidak peduli sama sekali. Mama Mas Reno sampai menghampiriku dengan wajah marahnya.
Aku menatap Raja. Mencubit pipinya, seolah tidak menganggap Mama di sebelahku.
"Aduh, mendingan kamu gak punya anak kalau begini. Cuma bisa diam kayak patung. Capek ngomong sama kamu. Sini dompet kamu."
"Mau ngapain?" tanyaku pelan.
"Mau ambil uang. Kenapa? Gak boleh? Uang dari suami aja belagu banget."
Sungguh, itu fakta yang diputarbalikkan. Aku memalingkan wajah. Sangat tidak peduli.
Tanpa peduli, aku keluar kamar. Mas Reno sampai menoleh. Adiknya yang juga tidak tahu diri itu ikut menoleh.
"Ayolah, Nina. Berikan dompet kamu. Jadi menantu pelit banget sama mertua sendiri."
"Udahlah, Ma. Kita makan apa aja yang ada di rumah ini. Mungkin si Nina lagi gak mau ngomong."
Ah, mereka sepertinya akan tersiksa kalau aku begini terus. Diam-diam, aku tersenyum. Kemudian duduk di sofa, cukup jauh dari Mas Reno.
Mama mertuaku berdecak. Dia masih menatap ke Mas Reno yang tidak peduli. Dia menikmati keripik singkong beberapa waktu laku. Sepertinya sudah melempam.
"Duh, jadi menantu gak bisa diandalkan sama sekali. Capek."
Cukup lama terdiam. Aku menyalakan televisi.
"Sini bayinya aku yang gendong. Kamu buatin teh untuk Mama sama Rini. Kalau aku yang buatin, bisa dibuang."
Aku terdiam. Beberapa detik, aku baru beranjak. Memberikan bayiku pada Mas Reno. Itu pertama kalinya dia menggendong bayi kami.
Tanpa bicara apa pun, aku masuk ke dalam dapur. Setelah memasak air, aku menyeduh teh. Sebelum kembali ke ruang keluarga, aku tersenyum.
"Itu udah."
Mas Reno mengangguk. Dia melangkah ke dapur dengan senang hati. Aku membuatkan tiga teh tadi.
Ini sudah malam sekali. Aku melangkah ke kamar, sementara Mas Reno, Mama, juga si Rini menikmati teh buatanku.
Ponselku berdering. Tanpa melihat namanya, aku langsung mengangkat.
"Misi satu selesai. Kamu harus lihat apa yang bakalan terjadi besok."
"Kerja bagus. Makasih."
Aku mematikan telepon. Hampir setengah jam, aku keluar dari kamar. Mas Reno belum kembali. Sejak kemarin, kami tidur dengan punggung berhadapan.
"Aduh, Ma! Gantian, dong!"
"Sabar! Perut Mama masih sakit."
Sementara kamar mandi yang lain dipakai okeh Mas Reno. Pandanganku terhenti ke tiga gelas yang sudah habis di atas meja.
"Bagaimana tehnya?" gumamku dengan senyum miring.
***