“Bunda Mimi. Saya sudah selesai beberes, boleh pulang?” tanya Kamini seraya meletakkan mangkuk terakhir cuciannya di dapur.
Almira membalikkan badan seraya menyerahkan bungkusan untuk di bawa pulang oleh Kamini.
“Boleh dong, ini buat makan malam sama Abah, ya Nak,” jawab Almira seraya mengusap puncak kepala Kamini dengan rasa sayang.
Almira menyayangi gadis ini seperti putrinya sendiri. Maklum kedua anak kembarnya sekolah di luar negeri, jadi dengan adanya Kamini yang membantunya sekarang di rumah perkebunan menjadi salah seorang ART sedikit memberi hiburan di hatinya.
Kamini menerima pemberian Almira dengan suka cita. Ia selalu senang dibelai dengan penuh kasih sayang oleh Almira dia yang seorang anak piatu sangat rindu belaian kasih seorang ibu, terlebih saat ini ayahnya sedang sakit.
“Oh ya Nak, kamu nggak pingin gitu bantu di perkebunan? Kamu jago lho,” ajak Almira.
“Untuk saat ini mungkin belum dulu Nda, kasihan Abah. Sebisanya Ami deh Bun pegang kerjaan,” sahut Kamini.
“Ya udah deh kalau gitu,” jawab Almira.
Davka masuk ke dapur menatap kedua wanita di depannya dan bertanya, “Lho, Nak kamu masih di sini?”
“Iya Yah,” jawab Almira.
“Di rumahmu banyak kendaraan lho. Sepertinya ada tamu, keluarga Bibimu juga ada,” terang Davka.
Kamini melongo menatap Davka ia sama sekali tidak tahu menahu soal akan kedatangan tamu.
“Tamu dari mana ya, Yah?” Pertanyaan lirih yang sepertinya ia tujukan untuk dirinya sendiri dari pada untuk ditanyakan kepada orang lain.
“Ayah nggak tahu pasti sih. Tapi sepertinya dari kota Nak. Ayah buru-buru tadi udah lapar banget.” Davka meringis setelah berkata begitu.
Kamini tersenyum simpul pada pria tampan yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu. “Iya deh Ami pulang sekarang ya.” Setelah mengucapkan salam dan dibalas oleh keduanya ia pun berlalu.
******
Kamini mengayuh sepedanya memasuki halaman rumahnya dengan kening berkerut.
Benar yang dikatakan Ayah Davka ada 2 mobil bagus banget seperti punya Ayah parkir di depan rumah. Siapa mereka ya? Batinnya.
Ia kemudian memarkir sepedanya di sebelah bale yang terletak di samping rumah. Kemudian berjalan memasuki rumah lewat pintu samping dan sayup-sayup ia mendengar suara penghulu mengatakan sesuatu kemudian diikuti suara bariton seorang pria yang tidak ia kenal.
“Saya terima nikah dan kawinnya Kamini Citra Kirana binti Sudarwanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Bagaimana Bapak, Ibu semuanya sah?”
“SAH!” jawab semua orang yang berada di ruang tamu rumah ayahnya.
“Abah, Bibi ada-,” seru Kamini terpotong saat sang bibi kemudian mendorong tubuhnya masuk ke arah dapur.
Namun sebelumnya ia sempat menatap sang pria yang tadi mengucap ijab kabul di depan sang ayah, ada juga wali hakim serta penghulu dan ia sempat melirik seorang wanita cantik ia tahu wanita itu bernama Yolanda Suparjo, wanita yang sering membeli kue buatannya.
Setelah berada di dapur ia segera menanyakan apa yang sedang terjadi. “Bi, ada apa ini?” tanya Kamini dengan keheranan.
“Kamu teh udah nikah sekarang. Itu tadi suamimu,” terang Mina sembari tersenyum bahagia.
“Apa! Kok bisa sih? Ami nggak kenal lho sama itu bapak-bapak,” sahut Kamini, seraya mengerutkan dahinya.
“Hush ..., bukan bapak-bapak tauk. Orang keren begitu namanya Dirandra Ekadanta tahukan itu orang kaya, suaminya ibu Yolanda Suparjo,” terang Mina lagi.
“Nah itu dia udah nikah, kenapa nikahin Ami?” Kamini sungguh bingung dengan situasi ini. Kepalanya tak berhenti berkali-kali menoleh ke arah ruang tamu. Ia sempat bersitatap dengan Yolanda yang tersenyum sangat cantik kepadanya.
“Dengar Ami sayang, gadis baik hati. Kamu tahukan Abahmu perlu biaya banyak untuk operasi kankernya. Nah Ibu Yolanda setuju bayar semuanya asalkan kamu mau dimadu dan memberi mereka keturunan. Nanti setelah anakmu lahir, kamu bebas deh mau ngapain nggak terikat lagi dengan mereka begitu,” tukas Mina.
Kamini sedih, ia merasa dunia seakan bermusuhan dengannya sungguh dilema yang tak ada habisnya. Disatu sisi ia memang membutuhkan biaya untuk sang ayah sedangkan disisi lain ia harus merelakan diri dimadu dan menyerahkan buah hatinya nanti.
Sanggupkah ia? Andai saja ia cukup memiliki uang saat ini untuk biaya sang ayah berobat, dikarenakan usia sang ayah yang renta sehingga tindakan pengobatan tidak bisa ditunda lagi. Sedangkan modal usahanya tidak mencukupi untuk menutup semuanya. Apa lacur semua sudah terlanjur terjadi, kecewa pun tak ada gunanya lagi.
Saat ia menunduk menatap lantai yang berada di depannya. Suara bariton yang tadi terdengar mengucap ijab kabul beserta sosoknya sudah berdiri di sebelahnya.
“Saat ini kamu sudah resmi menjadi istri saya jadi tidak ada kesempatanmu untuk menolak. Saya tahu sekali kamu sudah berkali-kali menolak bujukan istriku. Kita hanya menikah siri dan setelah kamu memberikanku anak kamu bebas pergi. Saya tidak akan mencampuri urusanmu,” tegas Dirandra tanpa basa-basi begitu berdiri berhadapan dengan Kamini.
Kamini memandang nanar wajah Dirandra yang sedatar tembok balai desa, tanpa mimik muka yang berarti cenderung dingin malah. Kamini sadar ia sama sekali sudah tidak bisa menolak lagi. Ia teringat beberapa kali Yolanda memang memintanya untuk menjadi madunya.
Ia sudah pasrah kini entah bagaimana kedepannya yang terpenting sekarang ia bisa membiayai sang ayah untuk berobat.
Yolanda datang menghampiri dan memeluk bahunya seraya tersenyum. “Sekarang kamu udah jadi maduku, siap-siap gih. Selesaikan prosesi kemudian beresin bajumu, kita kembali ke rumah,” ujar Yolanda.
“Tapi Abah gimana?” tanya Kamini khawatir dengan sang ayah.
“Udah kamu teh tenang aja biar bibi yang urus Abah yah? Udah sana cepet siap-siap,” sela Mina.
Kamini hanya menurut dan memasuki kamarnya yang kebetulan memang berada tepat di samping dapur.
Setelahnya ia mencium tangan sang ayah dan berpamitan ia jelas tak bisa membendung tangisan harunya. Sungguh berat hati meninggalkan sang ayah. Sang ayah memeluknya erat dan mencium keningnya.
“Saatnya kamu berbahagia ya Nak,” pesan sang ayah
Kamini terharu dan merasa dadanya berat. Sang ayah memang sungguh sangat menyayanginya.
Kamini berjalan bersisian dengan Yolanda dan keluarga Dirandra, sebelum ia membuka pintu mobil terdengar beberapa perkataan tetangganya.
“Nah gitu dong tau diri kalau anak pungut itu,” sindir salah seorang tetangga.
“Syukur ada orang kaya mau jadikan istri kedua yah. Padahal Ami mah nggak jelas anak siapa. Untung teh Abah nemu dia di pinggir empang,” kata yang lain.
“Eh bukan empang tau tapi di emperan toko,” sahut yang lainnya juga.
Kamini mengerutkan kening tak paham apa yang sebenarnya terjadi tetapi ia tak punya banyak waktu untuk merespon ucapan tetangganya itu karena punggungnya sudah didorong oleh Yolanda untuk masuk ke mobil mewah itu.
Kehidupan yang awalnya tenang dan sederhana berubah sekarang, dengan menguatkan hati ia menerima kenyataan pahit ini. Orang yang kuat bukanlah yang selalu menang, tetapi ia yang selalu bisa bertahan dan bisa melalui kerasnya badai kehidupan.
Kamini tampak duduk dengan tidak tenang dan gelisah. Ia memalingkan wajahnya dalam diam menghadap keluar jendela. Limosin yang ditumpanginya seperti bergerak lambat, rupanya kediaman sang suami sangat jauh.
“Tenang saja kamu tidak akan tinggal satu atap dengan saya. Kamu akan tinggal di paviliun belakang. Jadi kau tak perlu repot-repot mengurus saya. Jika saya memerlukanmu saya yang akan datang ke sana. Mengerti?” terang Dirandra yang sedari tadi memperhatikan Kamini yang duduk di depannya. Ia tidak tahan dengan aksi diam gadis belia yang sekarang sudah resmi menjadi istri sirinya tersebut.
Kamini mengalihkan pandangannya menatap sepasang suami istri yang duduk di depannya itu.
“Lalu apa yang harus saya lakukan saat Anda tidak datang, Tuan?”
“Kamu bisa membantu para pelayan di rumah. Toh itu yang selama ini kamu lakukan bukan. Jika nanti orangtua saya bertanya, bilang kamu yang meminta tinggal terpisah. Jelas?!”
Bagus, ternyata aku dinikahi benar-benar hanya untuk menjadi ibu pengganti. Dan diperlakukan seperti pembantu? Baiklah aku pasti bisa! Setidaknya tidak setiap hari akan bertatap muka dengan pria sedingin ini.
“Tentu baiklah.” Kamini mengangguk. Ia tentu sedikit terhibur dengan pemikirannya sendiri.
“Tetapi ingat jika di hadapan mertua kita, kamu harus berpakaian yang baik dan jangan mengerjakan pekerjaan rumah mengerti kamu?” ujar Yolanda ketus.
Ternyata wanita ini tak sebaik penampilannya. Tentu saja mungkin ia menaruh cemburu karena harus berbagi suami dengan wanita lain. Jangankan cantik, wajah Kamini bisa dikatakan biasa saja. Sebenarnya ia cantik tetapi tertutup oleh wajahnya yang sedikit berjerawat akibat sisa-sisa akhir masa remajanya dengan kulitnya yang kuning Langsat dan berkacamata tebal.
Ia juga sempat tadi melihat sang suami melihatnya dengan raut wajah sedikit jijik. Apakah memang begitu atau hanya perasaan Kamini saja? Yang jelas perbedaan antara Yolanda yang terawat dan dirinya sangat terlihat.
Tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah yang seperti istana dalam dongeng yang sering ia bacakan pada anak-anak TK di perkebunan. Tanpa berkata-kata ia segera turun sesaat setelah sang sopir membukakan pintunya.
Ia mengedarkan pandangannya menatap keliling halaman depan rumah itu yang ternyata juga dijaga sangat ketat oleh beberapa orang berseragam hitam.
Tepukan di bahunya mengagetkannya. Ia pun menoleh berhadapan dengan sang ibu mertua bernama Tania yang saat ini menatapnya lembut.
“Ayo ikut Bunda, Bunda sudah siapkan orang untuk merubah penampilanmu.” Ternyata mereka sudah mempersiapkan semuanya. Kamini menduga Yolanda pasti yang merencanakan semuanya.
“Emangnya teh kenapa dengan penampilan saya ya, Bunda?” Kamini bingung ia merasa baik-baik saya yah memang bajunya sangat sederhana dibandingkan mereka yang berada di rumah ini.
Bahkan pakaian para pelayan di sini lebih bagus dari miliknya. Namun dia memiliki beberapa pakaian bagus yang diberikan oleh Almira dan Anulika. Bukan berarti Kamini tidak bisa membeli baju bermerk tetapi ia tahu usaha yang sedang ia rintis memerlukan biaya yang tidak sedikit dan ia jelas tidak ingin gegabah menghamburkan tabungannya.
******
“Kamu mirip sekali dengan temanku sewaktu muda dulu. Tapi sekarang dia tinggal dengan keluarganya di Australia,” ujar Burhan Ekadanta.
Kamini tersenyum. “Masa iya, Ami mah orang miskin. Teman ayah Tuan pasti orang kaya. Mana mungkin teh mirip.” Jawabnya lugu.
Mereka sekarang telah duduk di ruang keluarga. Burhan terbahak mendengar celoteh Kamini, ia sungguh terhibur dengan kehadiran sosok gadis ini. Lugu dan polos tetapi Burhan tahu Kamini juga gadis yang pintar. Perbincangan singkat dengan Sudarwanto sang ayah tadi saja, Burhan sudah bisa memahaminya. Tak salah jika Burhan mengizinkan sang putra sulung untuk menikah kedua kalinya.
“Kamu tahu di dunia ini banyak orang yang terlahir mirip di seluruh belahan dunia lho,” kata Burhan.
Sebelum Kamini membalas ucapan Burhan, Tania datang dari arah dalam kemudian menggandeng tangan Kamini membimbingnya bangkit dan mengajaknya ke ruang favoritnya. Namun sebelumnya ia menatap sang putra dan istrinya.
“Bunda pinjam Kamini sebentar ya? Kamu belum ingin malam pertama bukan?”
Dirandra mengangguk. “Tentu Bun, silahkan lakukan sesuka Bunda,” jawabnya cuek.
Yolanda terlihat kaku dan mengepalkan tangannya mendengar perkataan sang ibu mertua. Ia tampak tidak senang sang ibu mertua menaruh perhatian lebih kepada madunya.
“Ayok Sayang kita perawatan dulu,” ajak Tania.
Kamini dengan patuh mengikuti langkah Tania menuju ruang perawatan yang ia maksud, di sana sudah ada beberapa orang terapis yang akan memanjakan tubuhnya dan benar saja dari ujung rambut sampai kakinya sudah mendapatkan perawatan secara menyeluruh selama lima jam.
“Sayang, oh wow cantik sekali kamu,” pekik Tania takjub dengan perubahan diri Kamini.
Kamini yang sedari tadi tidak melihat kaca terbengong dengan perkataan Tania.
“Eh, nanti kamu tidur di kamar sebelah kamar bunda ya?”
Kamini kemudian teringat dengan perkataan Dirandra dan sang istri di mobil tadi, kemudian berujar dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan mertuanya yang baik ini.
“Bunda boleh tidak kalau Ami tinggal terpisah gitu?”
Tania dengan raut wajah sendu menangkup kedua pipi menantunya. “Kenapa? Kamu pasti merasa nggak enak hati ya karena ada madumu? Ya udah deh nggak apa. Nanti kamu tinggal di paviliun samping. Biar Bunda bujuk Ayah ya.”
Kamini merasa lega untungnya tidak perlu banyak usaha untuk membujuk sang mertua. Ia pun pasti tidak merasa nyaman tinggal satu atap dengan kedua orang ketus tersebut. Yolanda yang ia pikir orang baik ternyata aslinya galak.
Setelah selesai makan malam Kamini undur diri kembali ke paviliun dan Yolanda masuk ke kamar tidur sedangkan Dirandra ke ruang kerjanya, ia berdalih ada beberapa berkas yang harus diselesaikan terlebih dahulu malam ini, saat kedua orang tuanya menyinggung tentang malam pertama pernikahan keduanya dengan Kamini.
Setelah beberapa waktu berselang, Dirandra mendesah dan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, ia tak bisa berkonsentrasi karena terbayang wajah polos Kamini. Ia merasa tak enak hati terhadap gadis itu, gadis yang pernah menolong dirinya saat ia terserempet mobil dengan pengendara yang sedang mabuk dua tahun yang lalu. Dirandra teringat jika saja Kamini tidak menarik tangannya ke pinggir trotoar Ia pasti tidak akan tertolong. Sekarang ia sendiri yang menarik gadis itu dalam lingkaran masalahnya.
Sudut bibirnya naik membentuk garis tipis, gadis itu dapat dengan mudah melupakannya, padahal sejak hari naas itu padahal tak sedetikpun Dirandra melupakan Kamini. Apa sih yang diinginkan Dirandra? kenapa ia harus tersinggung jika Kamini tidak mengingat dirinya?
Ingat Dirandra kau pria beristri! Tegur hati nuraninya.
Dirandra menyugar rambutnya kasar dan meminum air jahe hangat yang tadi dibikinkan oleh Kamini sebelum ia kembali ke paviliun. Dirandra menghabiskan minumannya, ia merasa bersemangat. Persetan dengan semuanya yang terpenting ia akan segera memiliki anak. Yolanda yang sudah dinikahi selama lima tahun ini sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan padahal ia rutin berhubungan intim.
Jika saja ia tidak mengenali Kamini, tentu saja ia tidak akan menuruti permintaan konyol Yolanda ini. Dirandra sudah sangat ingin memiliki anak, tetapi sebelum ia melakukan dengan Kamini ia ingin memesrai Yolanda terlebih dahulu karena dalam pikirannya. Jika saat ia nanti menyentuh Kamini, rasa dan tubuh Yolandalah yang akan ia bayangkan.
Dirandra bergegas ke dalam kamar tidurnya, ia mendapati istrinya sudah menunggu di atas ranjang dengan pose yang mengundang. Dirandra mengunci pintu dan berjalan mendekati kaki ranjang dengan pandangan matanya menatap tubuh istrinya yang molek berbalut lingerie biru laut pemberiannya. Dengan ukuran dadanya yang besar membuat belahan indah itu terlihat dengan sempurna.
Yolanda tersenyum menggoda dan mengulurkan tangannya, Dirandra merendahkan tubuhnya mengecup sekilas bibir Yolanda kemudian menegakkan tubuh dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Setelahnya ia kembali bergabung dengan sang istri.
Dirandra meraih pinggul Yolanda yang berbaring telentang dan melepaskan g-string berwarna senada dengan lingerie-nya. Ia menatap tubuh mulus tanpa noda milik yolanda dengan penuh pemujaan. Kedua tangannya merentangkan kaki Yolanda kepalanya menunduk menghirup bau khas inti tubuh Yolanda yang selalu ia sukai. Lidahnya terjulur menjilati milik sang istri yang saat ini sudah mulai mendesah dan membusungkan dadanya, sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk Yolanda mendapatkan pelepasannya, seketika Dirandra duduk dan memposisikan dirinya di tengah. Menggesekkan miliknya dan dalam satu kali hentakan ia masuk seluruhnya.
Lenguhan dan desahan keduanya saling bersahutan. Sial bagi Dirandra ia malah teringat wajah Kamini dan teringat untuk mendapatkan bayi dari gadis polos itu, tiba-tiba ia merasa enggan untuk melepaskan benih dalam rahim Yolanda sehingga sesaat sebelum ia mendapatkan pelepasannya. Ia mendesah dengan keras, mencabut miliknya dan mengeluarkan cairannya di atas perut Yolanda dengan mata terpejam. Yolanda yang masih terengah menikmati pelepasannya mengerutkan alisnya dan protes, “Kenapa dikeluarin di luar?” Tanyanya curiga.
Dirandra yang tanpa sengaja mengeluarkan di luar seketika membuka matanya dan menatap istrinya.
'Astaga, apa yang kulakukan?'
Apa yang terjadi hanya spontanitas, Dirandra sama sekali tak bermaksud seperti itu semuanya hanya disebabkan dorongan suasana hatinya saja.
“Maaf Sayang, aku nggak tau kenapa tiba-tiba ingin keluarin di luar." Ujarnya berusaha menyakinkan sang istri.
Yolanda cemberut tampak kekecewaan di wajahnya.
“Ada apa sih sama kamu Mas? Baru aja cewek itu di rumah ini kamu udah gini.” Dirandra memalingkan wajahnya dan duduk di tepi ranjangnya.
“Semuanya nggak ada hubungannya dengan gadis itu,” jawab Dirandra tegas. Kemudian ia memalingkan wajahnya menatap Yolanda. "Jangan berpikir yang tidak-tidak."
Yolanda mengepalkan kedua telapak tangannya, hatinya terbakar api cemburu terhadap Kamini. Entah mengapa ia tak kunjung memiliki anak dengan Dirandra padahal mereka berdua normal. Hal itu sudah dibuktikan dengan banyaknya tes yang mereka lakukan di rumah sakit. Yolanda teringat seseorang yang bisa membantunya mendapatkan keturunan, Yolanda tersenyum manis. Mengingat pria itu sedikit mengobati kekecewaannya terhadap Dirandra malam ini.
Dirandra sendiri mengira senyum manis istrinya karena ia sudah tidak marah karena ulahnya tadi, ia mencondongkan tubuh dan mengecup pelipis kanan sang istri. Dirandra kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ia ingin segera menuntaskan dengan Kamini, supaya gadis itu segera hamil anaknya.
Entah mengapa ada perasaan yang menghangat di dalam hatinya saat membayangkan memiliki anak dari rahim gadis desa itu.
Ia tersenyum sendiri sembari membersihkan dirinya.Kamini yang merasa tubuhnya remuk redam karena sedari tadi tanpa sadar menahan ketegangan yang disebabkan oleh seluruh kejadian sepanjang hari ini memutuskan untuk langsung beristirahat, ia bahkan tak mengingat perkataan para tetangganya dan bahwa saat ini ia memiliki seorang suami sekarang. Perawatan yang tadi telah ia lakukan tak juga bisa mengenyahkan rasa lelah yang masih setia menempel di tubuhnya.
Ia mengganti gaun selutut yang ia pakai berkat pemberian ibu mertuanya. Tadi setelah perawatan, mereka makan malam bersama. Semua orang tampak santai dan tak terjadi apa-apa, tetapi berbeda dengannya yang merasa bernafas saja memerlukan usaha yang keras terlebih Dirandra dan adik lelakinya yang bernama Dirga tak henti mencuri pandang ke arahnya. Yolanda pun memperhatikan seluruh gerak geriknya.
Kamini baru saja selesai mandi dan melilitkan handuk di tubuhnya karena ia tak terbiasa dengan menggunakan bathrobe, walaupun semuanya sudah lengkap tersedia di sana. Ia bergegas mengenakan daster batik baju ternyamannya untuk mengakhiri hari. Ia merasakan perutnya kembali keroncongan mungkin karena ketegangan yang ia rasakan sudah berangsur berkurang.
Ia keluar menuju dapur dan tidak mendapati bahan makanan apapun di sana. Kamini terpikir untuk kembali ke rumah utama mengambil makanan untuk malam ini tetapi hatinya bimbang, ia enggan untuk bertemu dengan Yolanda dan si pria dingin. Kamini bergidik, merinding bulu romanya membayangkan jika bertemu kembali dengan Dirandra. Keningnya berkerut, rasa-rasanya ia pernah bertemu dengan Dirandra tapi entah dimana ia lupa. Namun mungkin juga pernah bertemu, ia saja sering bertemu dengan Yolanda yang sering membeli makanan yang ia bikin.
'Bodoh, jelas saja bakalan ketemu lagi. Gimana bisa punya anak?'
Kamini cemberut, ia tidak ikhlas akan pemikiran dirinya sendiri itu. Sejujurnya ia masih tidak siap tetapi semuanya sekali lagi demi sang ayah. Sebagai seorang anak ia tentu saja tidak ingin dianggap durhaka dan tidak tahu balas budi. Ia menghembuskan napas dari mulutnya, seolah-olah hal itu bisa membantu mngurai perasaan tak menentu yang berkecamuk di dalam hatinya.
Huff, yang terpenting perut nggak keroncongan deh. Kalau ketemu nanti anggap aja lagi sial. Eh ... bukannya emang dah sial? Duh nasib-nasib.
Baru saja ia akan membuka pintu depan ponselnya berdering, ia berbalik dan kembali ke dalam kamar untuk menerima panggilan tersebut.
“Halo Bi ada apa?”
“Eh ..., Ami tolong bilang makasih sama Tuan ganteng uangnya sudah Bibi terima, besok pagi Bibi bawa Abah ke rumah sakit di Bandung ya Nak.”
“Oh iya Bi nanti Ami sampaikan.” Perasaan Kamini semakin tidak karuan. Semua ini salah, ini tidak sah. Ia sama sekali tidak tahu akan dinikahkan, bahkan ia tak mengenali siapa suaminya.
“Nak jaga diri baik-baik ya. Makasih semuanya semoga kamu bahagia,” imbuh Mina lagi.
Bahagia? Entahlah akankah ia bisa meraih bahagia jika nantinya ia akan terpisahkan dengan sang buah hati. Kamini tanpa sadar mengusap perutnya yang datar. Belum juga pecah perawan tapi rasanya ia tak rela melepas buah hatinya.
Kruk ... kruk.
Suara perutnya yang nyaring menyadarkan kembali ia dari lamunannya. Kamini bergegas kembali ke rumah utama lewat pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur.
*****
Kamini sedang berjinjit berkonsentrasi mengambil toples kaca di kabinet atas. Ia terperanjat saat ada sebuah pangan kekar terulur menggapai toplesnya sebelum ia dapat meraihnya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya suara itu tegas. Sudah pasti Kamini terperanjat karena suara itu, suara salah satu orang yang tak ingin ia temui secepat ini ia belum siap tepatnya. Si pria sedingin es, siapa lagi kalau bukan Dirandra.
“Emmm ... saya mau ambil toples untuk wadah biskuit.” Suara Kamini bergetar gugup. Posisi mereka sangat amat dekat bahkan bagian depan Dirandra sudah menempel dengan pantat sintal Kamini. Memang Kamini kurus dan mungil tetapi pantatnya yang berisi memiliki nilai lebih. Buktinya di desa banyak pemuda yang sebenarnya menyukainya, tetapi karena rasa minder akibat wajahnya yang berjerawat dan berkacamata membuatnya tak percaya diri.