Bab 1

Jam 12 siang sudah menunjukkan waktu istirahat. Seorang gadis berwajah lembut membersihkan mejanya terlebih dahulu. Setelah itu, ia keluar dari ruangannya.

Amelia nama gadis itu. Ia berjalan pelan sambil menikmati suasana damai di dalam kantor. Ia memasuki lift yang kosong. Tak lupa juga ia mengecek seluruh jadwal untuk bos besarnya.

"Bukankah hari ini Bu Martha pulang dari Paris ya?" Amelia membaca jadwal sang bos untuk menjemput istrinya.

Amelia keluar dari kantor untuk menuju ke area parkir. Ia menyapa teman-temannya dengan sangat ramah. Sesampainya di area kantor, ia tidak sengaja melihat Santi. Hatinya sudah deg-degan. Ia tahu apa yang akan terjadi.

Amelia sengaja membalikkan badannya. Ia mengirim jadwal penjemputan ke sang bosnya. Lalu Santi? Santi tidak sengaja melihat Amelia. Entah kenapa, ia memiliki pikiran licik ke Amelia. Ia tersenyum sinis dan mendekatinya.

"Woy, Amel! Lu kerja di sini?" Santi berteriak kencang sambil melihat nama perusahaan.

Santi sangat terpukau dengan papan nama tersebut. BS Star Company nama perusahaan itu. BS Star Company adalah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor. Nama perusahaan itu sangat diperhitungkan di dunia bisnis.

Perusahaan BS Star Company tidak hanya berdiri di Indonesia. Mereka memiliki banyak cabang di beberapa benua. Seperti Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Tidak hanya itu, mereka juga berkontribusi untuk negara. Bahkan perusahaan itu sering didaulat mengirimkan makanan ke daerah konflik.

Amelia bingung harus menjawab apa? Hingga akhirnya ia memulai suatu kebohongan. Ia tidak mau Santi tahu. Jika sampai tahu, maka bisa dipastikan akan terjadi sesuatu.

"Enggak. Aku enggak kerja di sini." Amelia menjawab dengan santai.

"Halah, jangan bohong! Kalau lu enggak kerja di situ, ngapain harus takut?" Santi menatapnya dengan tajam.

Amelia menarik napasnya dengan pelan. Ia ingin memaki Santi dan mengusirnya. Tapi ia sadar betul, jika ia mengusirnya, akan ada badai besar.

"Aku hanya singgah di tempat ini," jawab Amelia asal.

Amelia mulai tidak menyukai Santi yang menatapnya tajam. Ia tahu Santi suka sekali mengintimidasinya. Amelia mencium ada yang tidak beres.

"Hanya singgah?" Santi tertawa sinis. "Bagaimana lu bisa singgah?"

"Suka-suka aku mau singgah di mana? Kenapa kamu mengurusku?" Amelia tetap tenang meski suasana yang tidak mengenakkan.

Santi menertawakan Amelia. Santi mengejek kalau Amelia adalah gadis bodoh. Dengan sinisnya Santi mengatakan, kalau mau nongkrong harus di kafe mewah.

"Ah, lu... bodoh atau gimana sih?" Santi mengejek Amelia.

Kata bodoh membuat Amelia terluka. Hampir setiap hari ia selalu mendengarnya. Kalau tidak bodoh ya oon. Dua kata itu sering membuat Amelia terluka secara mental.

Mau marah percuma. Di belakang Santi ada sang. Ibunya selalu membela Santi jika sudah menindas seperti ini. Ditambah sang ibu malah tertawa.

"Terserah apa katamu!" Amelia sudah muak dengan perkataannya.

"Gue mau kuliah! Gue butuh uang jajan lima ratus ribu!" Santi langsung ke inti pembicaraannya.

Mendengar permintaan Santi, Amelia semakin muak. Bukankah Santi sudah bisa menghasilkan uang sendiri? Mengapa ia meminta kepada dirinya?

"Bukankah kamu sudah memiliki penghasilan sendiri?" Amelia berbicara blak-blakan.

Ketika Santi meminta uang, ada sebuah mobil mewah SUV memasuki area parkir. Amelia menyuruh Santi pergi. Ia tidak mau terjadi perdebatan di tempat umum.

"Pulang sana. Minta sama ibu!" Amelia menyuruh Santi pergi.

"Oh, sekarang lu ngusir gue ya?" Santi mulai memainkan drama.

"Aku tidak mengusirmu. Aku malu jika hanya uang diperdebatkan di tempat umum." Amelia menahan emosinya agar tidak ikut drama.

"Gue minta ke lu! Bukan ke ibu!" Santi membentak Amelia.

Seketika para karyawan yang sedang lewat terkejut. Mereka bingung dan menoleh ke arah Amelia. Orang yang berada di dalam mobil itu tersentak. Ia sebenarnya melihat interaksi kedua gadis itu.

"Ada apa dengan Amelia? Lalu siapa gadis itu meminta uang dengan nada kasar?" Bima berkata dalam hati.

Bima Santoso nama pemilik mobil SUV mewah itu, sekaligus pemilik perusahaan BS Star Company. Ia membuka pintu mobil dan keluar. Ia mengambil tasnya dan masih melihat interaksi mereka.

"Gue minta uang ke lu! Bukan ke ibu!" Santi berteriak seakan-akan dirinya memiliki beban.

"Aku tidak memiliki uang." Amelia berkata jujur.

Bima mendekati Amelia sambil memberikan tasnya. Ia menyuruh Amelia untuk segera ke kantornya. Santi yang melihat Bima seakan-akan mendapat angin segar.

Mata Santi langsung terbuka ketika melihat ketampanan Bima. Badan kekarnya membuat Santi bernafsu untuk mendapatkannya. Bahkan dirinya ingin menyentuh tubuh kekar itu.

"Tolong bawakan tas aku. Sekalian kamu ke ruangan aku!" Bima memberikan sebuah perintah.

Amelia meraih tas itu dan membalikkan badannya. Bima segera pergi meninggalkan tempat itu. Amelia pun mengikuti Bima.

"Woy, mana uangnya!" Santi berteriak hingga terdengar ke telinga Bima.

Wajah Amelia memerah. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Tidak seharusnya Santi berteriak meminta uang di lingkungan pekerjaannya. Ditambah lagi tatapan Santi ke Bima yang sangat menggelikan.

Ketika masuk ke lift, Santi sudah masuk ke dalam ruangan resepsionis. Namun sang resepsionis menahannya agar tidak terjadi keributan. Security yang berjaga langsung menyuruhnya pergi.

"Awas saja lu pulang ke rumah! Gue bilangin ke ibu kalau lu pelit!" Santi mengancam Amelia dengan nada tinggi.

Amelia menekan tombol lift. Pintu lift tertutup. Ia merasakan keadaan yang tidak enak. Ditambah lagi dengan kondisi Bima yang tidak baik-baik saja.

Amelia tidak akan membahas masalah ini. Karena masalah tersebut adalah masalah pribadi. Namun di sisi lain, Bima sangat penasaran sekali. Apa yang terjadi selama ini dengan sang sekretarisnya itu?

Pintu lift terbuka. Bima keluar dari lift. Ia segera menuju ke ruangannya. Amelia mengikutinya dari belakang. Dari lift menuju ke ruangan Bima tidaklah jauh. Tempat ini memang dikhususkan buat para petinggi perusahaan.

"Amel, apa yang terjadi padamu?" Bima masuk ke dalam dan duduk di kursi kebesarannya.

Amelia menaruh tas itu di atas meja. Ia menarik napasnya. Bima menunggu jawaban Amelia.

"Sebenarnya masalah keluarga, Pak," jawab Amelia.

"Lalu, kenapa dia memaksa meminta uang kamu?" Bima bertanya serius. "Apalagi dengan caranya dia berteriak."

"Maaf, Pak, saya tidak bisa menjawabnya sekarang." Amelia sengaja tidak ingin membahas masalah ini.

Bima menghormati keputusannya. Ia ingin membuat Amelia nyaman bekerja. Bima menatap Amelia secara intens.

"Apa jadwalku siang ini?" Bima bertanya serius.

"Bukannya Bapak siang ini menjemput Ibu Martha?" Amelia mengingatkan jadwal penting.

"Biarkan pulang sendiri!" Bima meminta jadwal itu dihapus. "Hapus jadwal yang berhubungan dengan Martha!"

Mata Amelia membulat. Ada apa dengan sang bos? Sesibuk-sibuknya bos besar, Bima mengutamakan sang istri. Namun keadaannya berubah drastis.

"Baik, Pak. Jika begitu Bapak tidak memiliki jadwal tetap untuk hari ini," ucap Amelia.

"Tolong kamu carikan aku apartemen kecil yang dekat dengan kantor!" Bima memberikan perintah.

"Ada lagi?" Amelia mencatat keperluan Bima.

Bab 2

"Kalau bisa secepatnya kamu mendapatkan apartemen itu. Kalau bisa besok atau lusa," pinta Bima.

Amelia menganggukkan kepalanya. Ia mencium ada yang tidak beres dengan Bima. Namun ia tidak ingin ikut campur dalam masalah itu.

"Apakah Bapak akan pulang ke mansion?" Amelia bertanya serius.

"Mansion akan segera aku jual," jawab Bima. "Oh ya, bantu aku jual mansion. Nanti aku akan memberikan komisi sebesar 30% dari penjualan mansion itu."

"Baik, Pak. Saya akan membuat bannernya. Dan saya akan menjualnya melalui..." Amelia sengaja menggantungkan pembicaranya.

"Atas nama kamu! Aku tidak perlu perantara melalui siapa pun!" Bima menekan nada suaranya.

Amelia menuruti keinginan Bima. Ia sudah mencatat semuanya di ponsel. Bima yang melihat Amelia serius bekerja, akhirnya mengambil keputusan.

"Pergilah ke Singapura. Temui Nicky Wijaya untuk membicarakan kontrak baru pelayaran internasional!" Bima memberikan perintah baru.

"Kapan, Pak?" Amelia mengangkat kepalanya.

"Lebih cepat, lebih baik." Bima mengambil pulpennya dan membuka dokumen yang berada di depannya.

"Baik, Pak." Amelia melangkah mundur. "Ada lagi?"

"Sudah tidak ada lagi," balas Bima.

Amelia pergi meninggalkan ruangan Bima. Ia sangat lega dengan perintah Bima. Ia seakan mencium kebebasan yang belum pernah dirasakannya.

Amelia kembali ke ruangannya. Ia bisa tersenyum lega. Ia melupakan kejadian tadi yang membuatnya malu. Ia mulai membaca semua perintah Bima yang berada di ponselnya.

Amelia akhirnya mengerjakan tugasnya. Ia mulai mencari tempat apartemen yang nyaman untuk Bima. Saat mencari, Amelia memilih diam. Entah kenapa, di dalam hatinya terbesit ingin keluar dari rumah.

"Apakah aku keluar dari rumah saja? Jujur, aku sudah muak dengan suasana rumah," ucap Amelia dalam hati.

Amelia sedang memikirkan dampak terburuk bagi dirinya. Ia ingin menghirup suasana baru. Baginya, di dalam rumah mewahnya tidak ada kenyamanan.

"Aku akan membicarakan ini ke Paman Nicky." Amelia berharap Nicky memberikan solusi.

Setelah menemukan sebuah apartemen, Amelia memberikan informasi tempat itu. Ia bergegas menuju ke ruangan Bima. Amelia masuk ke dalam dan melihat Bima yang sedang melihat tab-nya.

"Pak, aku sudah menemukan sebuah apartemen. Tepatnya berada di depan kantor ini. Jadi, Bapak tidak akan terlambat lagi." Amelia memberikan tab-nya ke Bima.

Bima menerimanya dan melihat apartemen itu. Ia tersenyum simpul karena Amelia paham. Bima menyerahkan tab itu dan memintanya menawarnya.

"Segera tawar harganya. Aku tidak mau terlalu mahal!" Bima memperintahkan Amelia.

"Apakah Bapak menyewanya?" Amelia mulai curiga dengan Bima.

"Kenapa harus menyewa? Kalau bisa beli, aku akan membelinya satu gedung semuanya!" Bima menatap Amelia.

Tentu saja Amelia sangat terkejut. Bagaimana bisa Bima mendadak membeli satu gedung apartemen? Akhirnya Amelia berdebat dengan Bima soal gedung apartemen itu.

"Pak, lebih baik aku beri saran. Lebih baik beli satu unit saja. Mubazir, Pak, kalau beli satu gedung itu." Amelia bingung.

"Yang punya uang siapa?" Bima bertanya dingin.

"Bapak yang punya uang," jawab Amelia segera mengambil tab-nya.

"Makanya itu, lebih baik kamu beli satu gedung. Gitu aja kok repot." Bima sengaja meledek Amelia.

Amelia hanya menggelengkan kepalanya. Memang sih, Bima Santoso, sang pemilik perusahaan BS Star Company, sangat tajir. Bahkan ia termasuk orang terkaya di dunia.

"Aku kasih waktu seminggu untuk mendapatkan gedung apartemen itu," ucap Bima.

"Baiklah." Amelia tidak membantah perkataan Bima.

Amelia memilih kembali ke ruangannya. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam pulang. Amelia menarik napasnya seakan ingin mengeluarkan beban. Ia bingung harus bagaimana.

"Kejadian tadi siang membuatku muak. Kenapa setiap bertemu yang diminta hanyalah uang. Bisa enggak sih tanya soal bagaimana kabarmu? Jujur aku jadi malu. Ditambah lagi aku bekerja di perusahaan elit," keluh Amelia dalam hati.

Amelia takut jika Mama dan Dina tahu semuanya. Hidupnya tidak tenang seakan ada yang mengganjal. Ia berharap malam ini tidak bertemu dengan Santi.

"Apakah aku harus kabur saja?" Amelia memikirkan bagaimana caranya kabur dari rumah.

Mau tidak mau Amelia memberanikan dirinya pulang. Amelia menyimpan barang-barangnya di laci meja. Ia sengaja tidak membawanya pulang. Ia hanya membawa ponsel yang dipakai setiap hari.

Amelia melangkah keluar dari ruangannya. Sebelum pergi meninggalkan kantornya, Amelia berpamitan ke Bima. Setelah itu Amelia pergi meninggalkan kantornya.

Amelia menunggu bus Trans. Saat menunggu, Amelia melihat banyak sekali mobil mewah berlalu-lalang. Terbesit dalam hati, andaikan ia bisa membeli, Amelia tidak akan kesusahan seperti ini.

"Mau beli mobil sudah kayak pencuri aku!" Amelia berkata dalam hati.

Amelia tertawa terbahak-bahak dalam hati. Seakan-akan dirinya adalah seorang pencuri. Ia sadar kalau selama ini ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ia bekerja bukan untuk dirinya.

Bus Trans pun tiba. Ia naik dan mencari tempat duduk. Ia mengamati banyak orang yang lelah bekerja. Lalu di dalam hatinya ada bisikan halus, "Lebih baik kamu jangan pulang ke rumah." Akan tetapi Amelia tetap pulang.

Sesampainya di tempat tujuan, Amelia turun dari bus Trans. Ia melihat langit sudah gelap. Langkah kakinya terasa berat menuju ke rumah. Namun Amelia harus pulang.

"Mel, kayaknya kamu ada masalah deh." Amelia mencium ada yang tidak beres.

Sesampainya di halaman rumah, Amelia tidak melihat ada mobil terparkir. Ia bingung, apakah dirinya harus tersenyum? Amelia memberanikan diri untuk masuk.

Amelia akhirnya masuk ke dalam. Suasana rumah sepi. Ia tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini rumahnya terasa asing. Rumah yang seharusnya menjadi tempat tenang berubah menjadi neraka. Selama hidup ia tidak merasakan kedamaian.

"Pengen hidup damai... tapi rasanya seperti hidup di neraka." Amelia menertawakan hidupnya.

Amelia menuju ke sofa dan melihat kenangan yang tidak mengenakkan. Tubuhnya pernah didorong Santi secara brutal. Ia hampir saja pingsan.

Amelia duduk di sofa dan mengelusnya. Antara ya dan tidak untuk keputusan membeli apartemen. Ia harus meminta persetujuan ke pamannya terlebih dahulu.

Sunyi di dalam rumah membuatnya damai sejenak. Ia berharap tidak ada drama malam ini. Namun hanya beberapa menit saja, ada deru mesin mobil terdengar. Amelia yang tadinya damai berubah menjadi gelisah.

"Eh, ada anak durhaka!" Santi berteriak kegirangan.

Benar saja, kedamaiannya langsung buyar. Amelia hanya meringis perih. Santi mendekat dan langsung pergi meninggalkan Amelia sambil tersenyum iblis.

Tak lama ada seorang wanita paruh baya dengan dandanan glamor. Matanya melotot ingin keluar dari tempatnya. Ia adalah wanita yang sangat berkuasa di dalam rumah itu.

Namanya Nilam Irwandi. Kalau di luar rumah ia sangat baik bagaikan malaikat. Kalau di dalam, sifat malaikat itu berubah menjadi iblis. Sangat ambisius ketika mendapatkan sesuatu.

"Oh, memang benar apa yang dikatakan Santi. Tumben sudah sampai rumah!" Nilam mengejek Amelia.

"Mengapa Ibu mengatakan seperti itu?" Amelia bingung dan berdiri.

"Sadar diri! Kalau kamu memang anak durhaka!" Nilam membentak Amelia.

"Sekarang aku bertanya, mengapa Ibu mengatakan aku anak durhaka?" Amelia meminta jawabannya.

Bab 3

Nilam menjadi geram dengan pertanyaan Amelia. Bisa-bisanya ia mengatakan seperti itu. Ia terdiam sejenak untuk mencari jawabannya.

"Memang kamu anak durhaka! Kamu selalu membuat masalah dalam rumah ini! Kamu selalu membuat aku kecewa!" Nilam berteriak menyalahkan Amelia.

"Jika aku durhaka, apa buktinya? Semua uang gajiku sudah aku berikan kepadamu. Sehingga aku tidak bisa memegang uang sedikit pun," Amelia berkata jujur.

"Kamu hanya memberikan kami uang berapa? Hanya sekian juta! Lalu mengapa kami mengungkit semuanya?" Nilam tidak terima kejujuran Amelia.

Semakin jujur, Amelia terpojok. Ia tidak mengerti apa yang diperdebatkan. Bingung, iya dirinya menjadi bingung. Mengapa ini bisa terjadi di dalam hidupnya?

"Kamu tidak pernah memberikan Mama kebahagiaan! Kamu selalu menyakiti Mama! Kamu selalu membantah apa kata Mama!" Nilam sangat marah dan menaruh tasnya di meja.

Amelia malas sekali berdebat. Ia sengaja membalikkan badannya dan memutuskan untuk pergi. Amelia akhirnya pergi ke belakang rumah.

"Dasar anak durhaka! Dibuka apa saja kesalahannya malah pergi!" Nilam berteriak sekali lagi.

Amelia berhenti dan tersenyum kecut. Ia seakan-akan menertawakan hidupnya. Ia tahu kalau masalah seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan. Ia hanya ingin hidup damai di rumah.

Amelia sengaja pergi meninggalkan Nilam. Ia tidak ingin membesarkan masalah ini. Ia tahu hidupnya tertekan. Jadi, Amelia memutuskan untuk tidak membesarkan masalahnya.

Amelia tidak sengaja melihat Santi yang sedang berbaring. Gayanya seperti anak yang tidak memiliki beban. Ia tertawa sambil video call-an sama orang luar. Amelia hanya menghela napasnya.

"Mau sejak kapan kamu begini? Ditindas lalu kamu direndahkan sama mereka. Belum lagi Dina yang sampai sekarang menghilang." Amelia mendengar bisikan di dalam hatinya.

Amelia pergi meninggalkan rumah utama. Ia berhenti sejenak lalu menyalakan lampu taman. Ia melihat beberapa bunga mawarnya merekah.

"Apakah bunga mawar ini memiliki hidup bahagia?" Amelia sengaja memetik satu tangkai bunga mawar itu.

Amelia menuju ke sebuah pondok. Pondok itu sengaja dibangun oleh Nilam. Tujuannya dibangun karena untuk memisahkan kamar Amelia dengan mereka. Kalau dipikir-pikir memang ini kesenjangan sosial.

Amelia yang menopang hidup mereka seakan-akan tidak dihargai. Ia harus hidup terpisah dari mereka. Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup sesungguhnya di dalam keluarganya.

Amelia membuka pintu kamarnya. Sebenarnya kamar ini ditujukan untuk ART. Jujur, selama ini Nilam tidak ingin orang luar masuk ke dalam rumah. Nilam hanya menghitung jam kerjanya saja seperti orang kantoran.

"Hidup kayak gini amat ya? Padahal Amat aja hidupnya bebas tanpa beban. Lha aku, malah banyak beban!" Amelia tertawa dalam hati.

Amelia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Ia menyiram tubuhnya dengan air sambil memejamkan matanya. Entah kenapa dirinya seakan mendapatkan petunjuk konyol.

"Sepertinya mereka bukan keluargamu sebenarnya?" Amelia mendengar bisikan itu.

Selesai mandi, Amelia langsung mengambil ponselnya. Ia melihat pesan dari Bima. Amelia hanya menggelengkan kepalanya. Malam-malam Bima menyuruhnya untuk membelikan satu setelan baju tidur. Matanya membulat, namun ia tersenyum. Amelia mendapatkan kebebasan nyata.

Amelia memilih pakaian santai. Ia hanya memakai kemeja dan celana panjang. Amelia segera meninggalkan kamarnya. Ia melihat sana-sini untuk mencari keberadaan Nilam.

Amelia beruntung kalau Nilam tidak ada. Ia berjalan pelan seakan tidak ada masalah. Ia berhasil keluar rumah dan menuju ke halte. Tapi ia bingung, bagaimana caranya ia pulang nantinya? Apakah dirinya akan menginap di kantor?

"Apakah aku harus menginap di kantor?" Amelia menggeleng pelan.

Amelia memutuskan untuk tetap pulang. Ia akan menghadapi masalah ini dengan tenang. Sebelum membeli pakaian, Amelia mampir dulu ke kantor. Perjalanan menuju ke kantor tidak menjadi hambatannya. Ia melihat lampu-lampu yang menyinari kota Jakarta.

Amelia sengaja turun di depan kantor. Ia segera menuju ke dalam. Amelia melihat beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Tubuhnya kekar dan tegap. Amelia mencium ada yang tidak beres.

Amelia menuju ke lift. Ia melihat koridor yang sepi. Jam segini tidak ada orang yang benar-benar di kantor. Jujur, bagi Amelia tempat ini sangat nyaman. Meski kelihatan seram, Amelia tidak memperdulikannya sama sekali.

"Apakah aku harus menginap di sini?" Amelia bertanya sekali lagi.

Jawabannya menjadi bingung. Ingin menghadapi mereka, nanti ujung-ujungnya drama besar. Seakan-akan dirinya masih ketakutan.

Amelia akhirnya sampai di depan ruangan Bima. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Tapi Bima yang sedang santai sudah mengetahui keberadaan Amelia.

"Masuklah!" Bima berteriak sambil meminum bir.

Amelia membuka pintu. Ia melihat Bima yang sedang bersantai di sofa. Ia bingung dengan keadaan Bima.

"Pak, tidak apa-apa kan?" Amelia masih memperdulikan orang lain. Tapi kenyataan sesungguhnya, ia juga babak belur.

"Enggak." Bima mengambil dompetnya untuk mengambil kartu platinum.

"Serius!" Amelia menatap wajah Bima yang tidak baik-baik saja.

"Serius! Kamu kenapa, Mel?" Bima menatap wajah Amelia. Ia seakan-akan merasakan ada sesuatu yang membuatnya aneh. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya.

Bima menyerahkan kartu platinum itu ke Amelia. Amelia mengambil kartu itu dan menaruhnya di dalam tas. Sebelum berangkat, Bima mengirimkan pesan yang berisi barang yang akan dibeli Amelia.

"Cari sampai dapat!" Bima menatap tajam.

"Sebentar, Pak. Mengapa di luar sana ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam?" Amelia bertanya serius.

"Mereka adalah pengawalku. Biarkan mereka berjaga di depan. Security yang menjaga kantor sengaja aku suruh pulang," jelas Bima.

"Baiklah," balas Amelia.

Tiba-tiba saja Bima berubah pikiran. Ia berdiri dan mengambil jaketnya. Ia memakai jaket itu sambil mendekati Amelia.

"Lebih baik kita belanja berdua," ajak Bima.

Di sinilah Amelia sedang diuji mentalnya oleh Bima. Sebenarnya ia tidak takut berjalan bersama atasannya. Tapi ia sadar betul kalau Bima adalah pria beristri. Seharusnya ia mengajak istrinya, bukan dirinya.

"Bukankah Bapak bersama Ibu Martha malam ini?" Amelia bertanya dengan jujur.

"Kenapa kamu menanyakan Martha? Memangnya kamu tidak suka berjalan denganku malam ini?" Bima menantang Amelia.

Watak Bima memang sangat keras. Bima adalah tipe atasan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Jadinya apa pun yang dilakukannya harus sesuai keinginannya.

Amelia sengaja mengalah dan tidak ingin menimbulkan perdebatan. Ia mengangguk saja dan menuruti keinginan Bima. Ia memilih menjaga jarak agar tidak terjadi masalah besar.

Malam itu juga mereka keluar dari kantor. Bima menatap para pengawalnya dan memberikan sebuah kode. Mereka mengangguk paham. Amelia hanya melihat dan tidak memperhatikannya.

"Apakah kamu bisa menghabiskan uang satu miliar malam ini?" Bima bertanya sambil membuka pintu mobil.

"Yang benar saja. Bagaimana bisa aku menghabiskan uang sebanyak itu?" Amelia hanya menggelengkan kepalanya.

"Masuk dan duduk di sampingku!" Bima memberikan perintah.

Amelia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bima. Ia hanya bingung dengan permintaan Bima. Lalu ia tidak memperdulikannya lagi.

"Apakah kamu bisa menghabiskan uang satu miliar?" Bima mengulangi pertanyaannya yang sama.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED