Bab 1

"Kayli! Kayli! Ck! Ni orang dipanggil-panggil kemana sih!" gerutu Didah.

Wanita paruh baya itu terlihat penuh amarah. Sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan langkah ditekan. Didah mengedarkan pandangan dengan cepat, mencari sosok sang Menantu.

"Kayl-" Belum selesai ia memanggil nama Kayli, sang Menantu ternyata baru saja tiba di bingkai pintu depan dengan sekeresek besar sayuran ditentengnya.

"Ibu manggil aku?" tanya Kayli lembut.

"Dari mana aja kamu! Dipanggil-panggil ga nyautin! Budek ya!" cecar Didah sambil mencubit telinga Kayli penuh amarah.

"Tauk nih, lu dari mana sih? keluar kagak izin-izin? gua aduin ke Bang Gala tau rasa lu!" tambah Zara yang tak lain adalah adik Ipar Kayli.

Zara yang baru saja keluar dari kamarnya itu berjalan melewati Kayli, lalu menyenggol bahunya hingga ia terhuyung. Tanpa rasa bersalah, Zara malah mendecih saat melihat Kayli mengaduh.

"Lebay amat sih, kesenggol dikit juga jatoh," dengus Zara.

Tak menghiraukan Zara, Kayli melengos menuju dapur sambil mengambil tentengan yang ia bawa. Namun saat hendak melangkah, sang Mertua maju lantas menarik kerah baju belakangnya dengan paksa. Kayli pun terseok, lalu kereseknya pun melayang dan berhamburan.

Brukh!

"Emang budek ya ini mahluk! Lu udah cacat, bego, budek lagi! Dasar menantu bodoh!" bentak Didah sambil menoyor kening Kayli beberapa kali.

"Gua tanya elu dari mana? hah!" tanya Didah menuntut dengan tatapan nyalang penuh murka.

"Kay tadi udah izin sama Ibu. Trus Ibu jawab hem." Kayli menjawab dengan terbata tanpa berani mengangkat wajahnya lantaran takut pada sang Mertua.

“Waw, berani ya sekarang mengarang cerita, bagus lah! Jadi penulis aja sekalian sana! Hobi curhat-curhatan di buku diary kan lu? Dasar aneh. Bisa-bisanya anak laki gua nikahin mahluk beda kasta kayak lu!” Didah mengatupkan bibirnya dengan geligi gemeretuk menahan jengkel, tanpa melepaskan pandangannya dari Kayli.

“Kayli beli sayuran Bu, buat masak,” ucap Kayli pelan.

“Apa? Buat masak? Baru mau masak lu? Jam berapa ini? Gua udah kelaparan dari tadi! Yaudah lah! cepetan sono masak!” teriak Didah sembari geleng-geleng kepala tanda tak habis pikir.

Kayli pun bangkit setelah Didah melengos pergi dari hadapannya. Namun belum sampai beberapa langkah, Zara datang menghampirinya dengan wajah dongkol. Kayli yang berwajah bersih dan polos, melemparkan senyuman terbaiknya pada sang Ipar. Namun Zara malah menoyor bahu Kayli.

“Eh kocak! Mana sarapan?” bisiknya tepat didepan wajah Kayli.

Belum sempat Kayli membuka mulut, Didah berteriak dari arah ruang tamu. “Zara, Sarapan belom ada! Istri abangmu blom siapin makanan!” Zara pun menepuk jidat sambil mengerlingkan netra.

“Dasar emang kocak ya lu! Kok bisa ya, kembaran gue punya selera bokbrok kek elu!” Zara mengapit pipi Kayli dengan jemarinya yang berkuku panjang hingga Kayli meringis.

“Masak apa lu?” tanya Zara sambil melirik keresek belanjaan yang Kayli bawa.

“Apa? Jamur lagi!” teriak Zara frustrasi.

“Dasar sampah lu! Kan kemaren gua udah bilang gua gak suka jamur! Apalagi jamur kuping kayak gitu! Ih sumpah jijik gua liatnya!” Zara menghempaskan kayli hingga ia tersungkur.

“Ibu! Minta duit! Aku mau makan di luar!”

“Apa? Kan itu si Kayli masak! Ibu gak ada duit ah! Abangmu mana ada kasih ibu duit. Noh di kasihin bininya semua tuh,” omel Didah terdengar ketus dari arah ruang tamu.

Beberapa saat setelah Didah menyantap sarapan, Kayli pun membereskannya. Lalu Kayli pun mengisi perutnya dengan sisa makanan yang ia sembunyikan di bawah wastafel tempat cuci piring. Jika tidak begitu, ia akan mengosongkan perut seharian lantaran sang mertua tak pernah menyisakan makanan untuknya jika sang suami sedang tak ada di rumah.

Sebelum melahap nasi dan tumis jamur kuping yang ia buat, Kayli memotretnya terlebih dahulu untuk ia kirimkan pada Gala sang suami yang tengah bekerja di luar kota. Namun saat hendak menyuap suapan pertama, tiba-tiba terdengar suara teriakan Didah dari arah ruang depan memanggil-manggil namanya. "Kayli! Bawain air dingin! Ibu haus!"

Tapi karena Kayli terlalu lapar dan lemas, ia sengaja menulikan kupingnya lalu melanjutkan makannya. Dengan agak tergesa ia menyantapnya lantaran takut sang mertua murka. Dan benar saja, tak lama kemudian Didah datang dengan suara langkah yang dientak-entakkan. Lalu dibantingnya pintu dapur yang sengaja Kayli tutup.

Brakh!

Prang!

Pintu terpental hingga panci dan katel yang menggantung di dinding terjatuh. Kayli yang tengah menyantap sarapan telatnya itu tersentak kaget hingga ia tersedak. Gegas ia meraih gelas dengan tangan kanannya lalu menegak air itu hingga habis.

“Mantu sial! Lagi makan rupanya!”

Didah mendekat lalu tanpa babibu ia menyambar piring melamin yang Kayli pegang dengan tangan kirinya, lantas membantingnya hingga nasi dan lauknya berhamburan.

Prak!

"Tenggorokan gua kering banget ini! Minta minum!" titah Didah.

"Bu, apa Ibu nggak kelewatan? Walaupun Ibu benci Kay, tapi nasi ini kan nggak punya dosa. Kenapa Ibu lemparin?" tanya Kayli dengan mata berkaca-kaca.

"Ck! Sok ceramah lagi! Ambilin minum cepet!" titah Didah lagi tanpa menggubris ungkapan Kayli.

"Tolong Ibu minta maaf dulu, Ibu udah bener-bener keterlaluan," pinta Kayli sambil menatap sang mertua memelas namun dengan nada yang agak tinggi.

"Ada apaan sih bu?" tanya Zara yang tetiba sudah ada di bingkai pintu dapur.

"Ini si Kayli di suruh ambil minum malah gak jelas nyuruh-nyuruh minta maaf sama Ibu!" ketus Didah.

"Ibu lemparin piring yang ada nasinya. Kalo Ibu gak minta maaf, Kayli takut Ibu kena akibatnya. Gak boleh gitu sama makanan Bu," ujar Kayli membela diri.

"Yaelah! Nasi tinggal secuil juga dipermasalahin! Gajelas lu udik! Kirain gua apaan." Zara melengos kembali setelah melihat piring dan nasi yang berhamburan.

Sedangkan Didah celingukan membuka-buka kitchen set dan tudung saji di atas meja. "Tumis jamur gua mana?" tanyanya sambil menatap Kayli.

Mendengar pertanyaan Didah, Kayli menghela nafas lemah. "Bu, kan tadi udah Ibu makan," jawab Kayli apa adanya.

"Lah itu yang lu makan apaan? Lu abisin semua tumis jamurnya?" tanyanya lagi sambil menunjuk nasi dan beberapa helai jamur kuping yang berserakan di lantai.

Glek!

Kayli menelan saliva lalu menunduk lemah. "Kayli misahin tumisnya sedikit tadi Bu," jawabnya hampir berbisik.

"Ck! Trus gua makan apa nanti sore?" decak Didah.

"Masih ada mentahnya Bu. Nanti Kayli masakin lagi biar anget-anget makannya. Tukang sayurnya ngasih lebih lagi tadi," jawab Kayli sambil membersihkan nasi dan memasukkannya lagi ke atas piring.

"Ah terserah lu dah! puyeng gua ngadepin lu! Mending minum dulu vitamin biar otak fresh!" Didah melengos kembali setelah puas mencecar Kayli dengan segala masalah yang sengaja dibuat-buatnya.

***

"Kayli! Kayli sini cepetan!" teriak Zara dengan nada suara ketakutan.

Kayli yang baru saja hendak berbaring, segera berlari ke sumber suara. Yaitu kamar sang mertua. Pontang-panting ia berlari hingga tersandung kaki meja di ruang tamu lantaran panik mendengar suara Zara yang berteriak-teriak histeris. Setibanya di depan kamar sang mertua, Kayli mengetuk pintunya lalu membukanya dengan hati-hati.

"Ada apa kak?" tanya Kayli dengan ragu.

"Ada apa, ada apa! Ini liat Ibu kenapa gini?" bentak Zara sambil menunjuk sang Ibunda.

Kayli menautkan kedua alisnya melihat Zara yang tengah terduduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya, gemetaran. Namun Kayli lebih terkejut lagi saat melihat sang mertua yang tengah terkikik tertawa menyeramkan.

"Ibu! Ibu kenapa Kak?" tanya Kayli sambil mendekati sang mertua.

Namun tetiba Didah meloncat ke atas ranjang seperti seekor kera. Sambil terus terkikik, Didah melompat-lompat di atas ranjang seolah hilang akal. Melihat hal itu, Kayli beringsut mundur.

"Ibu kenapa?" ulangnya.

"Bego! Itu namanya kesurupan!"

Bab 2

"Argkh!"

Lengkingan sebuah suara yang ketakutan memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Pun Kayli yang tengah tertidur pulas, seketika ia terjaga. Lantas terduduk dalam keadaan ingatan yang belum terkumpul. Dikerjapkannya kedua manik mata legamnya, lantas ia melirik jam di dinding. Pukul satu malam.

Kembali ia tajamkan Indra pendengarnya, memastikan apa yang baru saja membangunkannya. Mungkin hanya sekedar mimpi. Pikirnya. Namun ternyata suara itu kembali terdengar. Perempuan berparas ayu itu pun sontak beringsut ke sudut ranjang.

"Argkh! Setan! Pergi! Pergi!" teriak suara itu lagi.

"Ibu?" gumam Kayli ragu.

"Benar. Itu suara mertuaku," tambahnya dengan ekspresi wajah panik.

Sementara itu, dari tempat suara, terlihat wanita paruh baya tengah menyeret tubuhnya sendiri ke sudut ranjang sembari meraung-raung mencakar-cakar udara. Tatapannya kosong namun dipenuhi kengerian. Di sampingnya terduduk seorang gadis yang tengah gemetar. Sambil mencoba meraih lengan wanita yang tak lain ibunya itu, Zara meringis ketakutan.

"Bu? sadarlah bu! ini aku, Zara!" lirihnya dengan suara gemetar.

Namun Didah seolah tak mendengar putrinya memanggil-manggil. Ia terus menjerit-jerit histeris hingga terdengar keseluruh ruangan. Bahkan membuat Kayli yang masih terduduk di kamarnya ikut merinding mendengarnya. Padahal jarak kamar mereka cukup jauh, terhalang tiga ruangan.

Suara Didah yang begitu melengking, terdengar mengerikan seperti ketakutan sekaligus kesakitan. Kayli yang khawatir mendengarnya pun segera bangkit. Diraihnya gawai terlebih dahulu lalu mengirim pesan singkat pada sang suami yang sedang bekerja di luar kota. Jemari lentiknya dengan gesit menggeser layar ponsel hingga berhenti di sebuah kontak whatsapp bernama Bang Gala, dengan emoji Love di ujungnya.

[Mas, Ibu kumat lagi. Sebaiknya besok pulang dulu. Aku takut dan khawatir]

Tak menunggu balasan sang suami, gawai kembali ditaruhnya di atas nakas, gegas ia menuju kamar sang mertua. Setibanya di kamar Didah, ia melihat Zara, sang ipar, tengah gemetaran ketakutan di sudut ranjang. Zara yang menyadari kehadiran Kayli pun, segera meloncat dari ranjang lalu menghampirinya.

"Kay! Ini Ibu kesurupan lagi! Cepat panggil Bah Sana kay!" seru Zara.

Zara terlihat lega saat melihat Kayli berdiri di bingkai pintu. Ia pun meminta Kayli untuk memanggil Bah Sana, salah satu orang pintar terpercaya di daerahnya itu. Namun Kayli malah tak bergeming sama sekali. Ditatapinya wajah mertuanya itu sebelum akhirnya mendekat dengan hati-hati.

Kulit wajah Didah yang mengkilap, kian memerah dibanjiri peluh yang terus mengalir dari pelipis dan dahinya. Dengan mata melotot ia menengadah menatap langit-langit kamar sambil meracau-racau. Sesekali tubuhnya mengejang seperti tengah terkejut oleh sesuatu. Sambil terus meracau, ia mengibas-ngibaskan tangannya seperti tengah mengusir kucing.

Hap!

Kayli menjatuhkan bokongnya di atas ranjang, tepat di hadapan Didah yang masih terus mencakar-cakar udara dengan netra mengerling seolah diluar kendalinya. Dengan kening mengkerut, Kayli seolah memastikan apa sebenarnya yang terjadi dengan sang ibu mertua. Sedangkan Zara, dengan ekspresi jengkel menunggu apa yang hendak Kayli lakukan.

"Apa Ibu mengenalku?" tanya Kayli.

Memiringkan wajahnya, Kayli mencoba mengambil perhatian Didah sambil hendak meraih pergelangan tangannya yang terlipat di dada. Jelas wanita paruh baya itu bahkan mungkin tak mendengar suara sang menantu.

"Tidak! Pergi! Pergi!" jeritnya saat hendak dihampiri Kayli.

"Kay! Panggil Bah Sana dong! Ngapain sih? Gak liat Ibu lagi kesurupan? Gak liat situasi banget! Malah nanya yang aneh-aneh!" bentak Zara sambil menatap Kayli dengan jengkel.

Terdengar nada kesal saat ia memprotes Kayli. Mendengar protes dari Zara, Kayli pun bangkit lalu beralih mendekat ke arahnya. Dengan wajah datar, dan tatapan menusuk, Kayli menekuk wajahnya tanda tak suka.

"Kenapa nggak kamu panggil aja sendiri?" ketus Kayli tak kalah jengkel.

Mendengar hal itu, Zara terbelalak keget melihat sikap sang Ipar yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Wajahnya memias seketika. Mulutnya yang terbuka, ia tutup dengan kedua tangannya. Dengan terheran-heran, ia menyadari bahwa kali ini, suasana hati Kayli sedang tak bagus.

'Dia yang sejak tadi ada di dekat ibunya, kenapa menyuruhku yang baru saja datang untuk memanggil dukun malam-malam begini? Tengah malam malahan, jangankan dia, aku sendiri pun takut,' batin Kayli. Bibirnya mengatup rapat, sesaat ia terlihat seperti ingin memaki Zara. Namun pada akhirnya, urung ia lakukan.

"Lagian yang Ibu butuh itu bukan Bah Sana. Tapi pergi ke Rumah sakit!" ujar Kayli dengan sedikit penekanan.

"Rumah sakit apanya? Ibu itu kesurupan Kay! Kena santet! Dibawa ke rumah sakit yang ada malah dimasukin Rumah sakit jiwa!" dengusnya sembari bangkit lalu meraih jaket.

Zara pun hendak pergi. "Dari pada ngandelin, mending gua pergi aja sendiri," ketusnya lantas melenggang.

Namun belum selangkah Zara beranjak, Didah menggeliat lalu terjatuh ke lantai sembari memegangi perutnya. Hingga tak lama kemudian ia memuntahkan cairan merah kental di lantai putih, terlihat jelas kekontrasannya. Seketika Kayli ikut memegangi perut lalu mulut, menahan gejolak yang mengaduk perutnya lantaran mual melihatnya.

"Ibu!" teriak Zara yang lalu berhambur merangkul sang Ibu yang masih mengejang hendak memuntahkan lagi isi perutnya.

Kayli yang berada di dekat pintu, ikut mendekat lalu hendak membantu Zara meraih Didah yang meringkuk di atas lantai. Namun secepat kilat Zara menepis tangan Kayli.

Plak!

"Liat kan? Apa lagi kalau bukan santet?" pekik Zara sambil menatap Kayli dengki, lalu berbalik menatapi wajah sang Ibu dengan penuh kekhawatiran disertai rasa takut, jijik dan ngeri.

"Percayalah Kak. Yang Ibu butuh itu rumah sakit. Ayo papah Ibu, biar Kayli yang bawa motor," lirih Kayli memelas.

Seolah mengetahui penyebab yang diderita sang mertua, Kayli kukuh meyakinkan Zara untuk segera membawa Didah ke rumah sakit. Tersirat jelas kekhawatiran dan kecemasan di wajah Kayli. Tanpa ia sadari, bulir basah yang hangat pun terjatuh di sudut matanya. Ia merasa tak sanggup lagi melihat wanita yang melahirkan suaminya itu tak berdaya merintih kesakitan.

"Tolong pergi aja kalo lu gak mau bantu! Biar gua minta tolong orang lain aja!" dengus Zara sembari meraih ponselnya lalu terlihat menelepon seseorang.

"Kak Zara, sudah kubilang dengan sangat jelas, bahwa Ibu membutuhkan pertolongan dokter! Turunkan ego dan gengsimu terhadapku dan ayo bawa Ibu ke rumah sakit!" ucap Kayli tak kalah tegas.

Memberanikan diri, Kayli pun meraih ponsel di genggaman Zara lalu melemparnya ke atas ranjang. Ia juga hendak meraih tubuh Didah dari rengkuhan Zara. Namun dengan cepat Zara mendorong tubuh ringkih Kayli hingga terjungkal. Matanya menyala penuh amarah, kebenciannya tersirat jelas tanpa ia tutup-tutupi lagi.

"Pergi dari rumah ini sekarang juga cewek gila! Jangan lupa lu cuma numpang! Saat Ibu sadar nanti, bakal gua buat lu bayar semuanya!" bentaknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Kayli dan ke arah pintu secara bergantian.

"Kita udah cukup muak ngadepin kebegoan lu! Dasar aneh! Gua bakal aduin sikap lu ini ke Gala!" bentak Zara lagi.

Namun sama halnya dengan Zara yang kukuh, Kayli pun tak kalah ngotot untuk tetap membawa sang mertua ke tempat yang berbeda dari keinginan Zara.

"Kumohon percayalah. Tak ada santet atau semacamnya yang menimpa Ibu. Ini akibat ulah Ibu sendiri, aku yakin itu," kata Kayli dengan suara melemah.

"Jangan bilang lu yang menyantet Ibu ya? Makanya kemaren minta hal yang aneh-aneh?" tuduh Zara.

Mendengar hal itu, Kayli menghela nafas panjang. Ia terlihat frustrasi hingga tak sempat untuk membuka mulut dan membiarkan Zara terus mengoceh memojokkan dirinya. Adu mulut pun tak terelakkan, hingga membuat mereka lupa akan kondisi Didah yang masih terkulai lemas dengan nafas tersengal-sengal.

"Benar kan? Lu kan emang benci Ibu!" tuduhnya lagi dengan jari telunjuk yang kini mengacung pada Kayli.

"Jangan bicara yang tidak-tidak Kak Zara. Yang membenci itu bukan aku, tapi kalian. Aku hanya ingin kalian tahu, aku merasa kalo Ibu sudah keracunan sesuatu. Makanya aku menyarankan sebaiknya ibu dibawa ke rumah sakit saja."

"Lu kemaren nyuruh Ibu buat minta maaf sama lu kan? Itu udah pasti karna lu punya niat mencelakai ibu!" teriak Zara.

Sambil berteriak, Zara mulai membrutal. Dengan emosi yang tetiba kian meluap, ia mencoba menjambak rambut Kayli, tanpa melepaskan rengkuhannya dari Didah. Namun dengan gesit Kayli mengelak.

"Zara. Kumohon jangan membuang waktu, ayo kita bawa Ibu sekarang juga," desak Kayli masih dengan kekukuhannya.

Sebagai seorang wanita, Kayli memiliki firasat yang lebih peka dibanding orang lain. ia merasa sangat yakin bahwa Didah, sang mertua mungkin saja tak akan tertolong jika tak segera diberi penanganan. Saat pikirannya berkutat mencari cara agar ia bisa membawa mertuanya segera untuk berobat, tiba-tiba gedoran pintu memburaikan pikirannya. Zara yang juga mendengar, segera bangkit lalu dengan tergesa berlari ke arah pintu.

"Paman! Syukurlah Paman akhirnya datang," ucap Zara penuh rasa syukur.

Zara berhambur ke arah seorang pria yang kini berada di bingkai pintu. Namun sang paman hanya terdiam dengan angkuhnya. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang tegas tak sedikit pun terlihat simpati atas sambutan ramah dari Zara.

"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya Alan ketus.

Pria paruh baya itu tak lain adalah Paman Zara. Sekaligus adik dari Didah. Namun ia terlihat malas dan risih saat Zara menarik lengannya untuk mengajaknya melihat kondisi sang Ibu. Bahkan seolah enggan memijakkan kakinya di sana. Namun Zara tak peduli akan hal itu.

"Liat Paman! Kondisi Ibu sangat mengkhawatirkan!" tunjuk Zara pada sang Ibu.

Dengan penuh harapan, Zara mengira akan mendapatkan pertolongan dari Alan. Namun ternyata apa yang terjadi tidak sesuai harapannya. Alan menatap Didah dengan pandangan yang jijik dan merendahkan. Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas seolah ia merasa itu pantas didapatkan oleh sang kakak.

"Aku datang ke sini, bukan untuk menolongnya."

Bab 3

"Apa maksud Paman bilang gitu?" tanya Zara dengan suara bergetar.

Namun Alan malah melirik ke arah Kayli tanpa mengatakan apapun.

"Oh ... Gitu ya. Lu hasut Paman ternyata!" tuduh Zara.

Sembari mengangguk-anggukkan wajahnya, Zara melotot ke arah Kayli. Namun Kayli seolah tak paham apa yang Zara maksudkan. Kayli justru malah melirik Alan seolah ingin tahu apa maksudnya. Alan yang mengerti kebingungan Kayli, segera membuka suara.

"Tutup mulutmu Zara!" bentak Alan.

"Pikiran busukmu itu sudah mendarah daging! Bahkan disaat seperti ini kau tidak belajar. Padahal hanya Iparmu ini yang selalu ada, tapi ...." Alan menggantung ucapannya.

Awan lantas menghela nafas lemah seolah meredam emosinya, dan merasa ucapannya hanya akan membuang waktu dengan susah payah. Ia pun lalu mendekat ke arah Didah. Ia tak mau ambil pusing menyikapi sikap kekanakkan Zara.

"Masa bodoh lah dengan pikiranmu itu!" gerundelnya.

"Didah, ini ulahmu sendiri yang selalu bermulut pedas. Kata-katamu sendirilah yang menghukum dirimu. Bahkan seandainya dokter pun, mungkin tak akan sanggup mengembalikan kesehatanmu seperti sebelumnya," ujar Alan dengan suara berat.

"Paman! Apa sih maksud Paman! Kalo gak mau bantu, yaudah pergi aja!" bentak Zara.

Sambil menjauhkan pria paruh baya itu dari ibunya, ia menatap tajam ke arah Alan. Zara merasa terganggu dengan ucapan sang paman yang seolah tahu apa yang terjadi dengan Ibunya. Sifat aslinya pun muncul kembali kala menyadari bahwa Alan pun tak berniat untuk memberinya bantuan. Sikap ramah tamahnya seketika berubah kembali menjadi garang dan ketus. Namun tanpa mengacuhkan Zara, Alan mendekat ke arah Didah lantas meraihnya.

"Kayli, bantu Paman mengangkat mertuamu," ajak Alan kepada Kayli.

"Mau dibawa kemana Ibu?! Biar aku panggil Bah Sana aja sendiri! Jangan ada yang bawa Ibu kemana-mana!" bentak Zara sambil berlari keluar.

"Ku peringatkan kalian! Jangan ada yang berani bawa Ibu kemana-mana!" ancamnya sebelum akhirnya menghilang dari penglihatan Kayli dan Alan.

"Za ... ra ... Zara ... Za ... putriku!"

Tiba-tiba saja Didah terdengar meracau dengan suara lirih. Gegas Kayli segera menghampirinya lalu mendekatkan telinga ke wajahnya lantaran suara Didah yang sangat lemah, bahkan hampir tak terdengar. Alan yang berada di sana, mendecih saat melihat kondisi Didah. Tak sedikit pun tersirat rasa simpati di wajah pria itu.

"Ini aku Bu. Kayli. Ada apa Bu?" tanyanya.

"Ma ... na Za ... ra?" katanya terputus-putus.

"Kau sudah sadar Didah? Ini aku. Alan," ujar Alan. Ia buru-buru mendekat seolah sudah menanti kesadaran Didah.

"Alan? Kau kah itu?" tanya Didah dengan suara bergetar lalu meraba-raba udara seperti orang buta.

"Alan! Apa itu kau? Benar kau?" ulang Didah, kini dengan ekspresi ketakutan.

"Gelap! Kenapa gelap semuanya tidak terlihat!" teriaknya dengan panik.

"Diamlah Didah. Tak ada gunanya kau berteriak begitu! Inilah yang dulu istriku rasakan!" bentak Alan.

"Bagaimana rasanya?" tanya Alan kini sambil menyeringai.

Melihat cara Alan memperlakukan Didah, Kayli pun tercengang. Rasa takut seketika menjalar di seluruh tubuhnya. Terlebih kala ia melihat riak wajah Alan yang berbeda dari biasanya.

"Paman ...." katanya hampir berbisik.

"Iya Kayli. Wanita inilah-" ucapan Alan terhenti oleh teriakan Didah.

"Tidak!" jerit Didah secara tiba-tiba, seolah tak sadar, ia juga membentur-benturkan kepalanya ke dinding.

"Aku tak ingin berakhir seperti dia! Dia yang bodoh! Aku tak jahat! Aku tidak melakukannya! Dia sendiri yang bodoh!" teriak Didah lagi.

"Kau naif! Kau sendiri sama saja Alan! Kau juga tidak benar-benar mencintainya kan! Makanya kau juga ikut bersalah!" tambahnya.

"Diam!" bentak Alan sambil membekap mulut Didah sekuat tenaga dengan penuh emosi.

"Sejak mengetahui kebusukanmu, aku selalu membenci mulut kotormu yang usil ini! Kuharap aku punya keberanian untuk membu-"

"Paman! Hentikan. Aku tahu Paman orang yang baik, Paman sangat baik pada Bang Gala, padaku juga. Ingatlah kami berdua paman," bujuk Kayli tiba-tiba.

Kayli mencoba meluluhkan Alan yang seolah sedang dipuncak emosi. Entah apa pun yang membuatnya seperti itu. Yang pasti Kayli merasa tak heran, karna menurutnya, Didah memang selalu menyakiti perasaan orang lain.

"Jadi ternyata kau yang melakukan ini padaku Alan! Padahal kau tahu betul aku melakukan semuanya demi dirimu!" tuduh Didah membuat Alan kembali emosi saat mendengarnya.

"Apa? Untuk apa aku mengotori tanganku? Hahaha! Cih! Aku sama sekali tak melakukan apa pun!" decih Alan dengan ekspresi merasa jijik.

"Siapa lagi kalo bukan kau!" seru Didah.

Mendengar tuduhan kukuh sang kakak, Alan mendekatkan wajahnya ke arah Didah. Lalu berbisik. Hampir tak terdengar sama sekali jika saja Kayli tidak dengan sengaja menajamkan indra pendengarnya karena saking penasarannya.

"Ini ulah adik Iparmu. Inilah karmamu," bisik Alan diakhiri tawa kecil lalu menutup mulutnya saat menyadari Kayli tengah memperhatikannya.

"Tidak!" teriak Didah.

"Tidak mungkin! Risda sudah mati! Dia tak bisa membalaskan dendamnya padaku!" teriaknya lagi dengan ketakutan.

"Alan selamatkanlah aku! Kumohon Alan aku tahu kau dendam padaku, maafkanlah aku! Tolong aku Alan!" raung Didah sembari menggapai-gapai udara mencari Alan.

"Paman, aku mohon bantulah ibu. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Kumohon paman." Kayli memelas dengan suara yang teramat memilukan.

"Bagaimana pun juga, beliau adalah kakak paman," lirih Kayli. Ia sungguh tak tahan melihat kondisi sang mertua yang mengkhawatirkan.

"Ya, Kayli. Sebaiknya kita bawa ibu mertuamu ini ke rumah sakit sebelum anak bodohnya kembali. Ayo!" Setelah menghela nafas beberapa kali, Alan pun meluluh. ia segera meraih lengan Didah dengan agak kasar lalu menyeretnya.

"Bantu aku memapahnya," pinta Alan.

"Baik paman."

Kayli yang tengah melongo segera mendekat lalu meraih tangan Didah yang masih terus menggapai-gapai dengan pandangan kosong. ia terus meronta mencoba melepaskan diri dari mereka sambil menceracau tak karuan. Mengabaikan dorongan dan tepisan tangan Didah, Alan dan Kayli terus memapahnya menuju ke arah luar.

"Paman, sepertinya Ibu mau muntah lagi," kata Kayli yang merasakan tubuh Didah mengejang kuat lalu menggeram, dan benar saja. Sedetik kemudian Didah memuntahkan kembali cairan merah kental tepat di halaman rumah.

"Alan ... Panggilkan putramu ... Panggilkan Rendy. Tolong aku, hanya dia yang bisa menolongku," pinta Didah dengan lirih dan terputus-putus.

Alan mendesah lalu mendudukkan Didah di kursi panjang halaman rumah.

"Benar Paman! Rendy kan mahasiswa kedokteran! Mungkin dia bisa membantu Ibu untuk penanganan sementara! Nanti saat Bang Gala pulang, kita panggil dokter untuk rawat ibu di rumah!" usul Kayli seolah teringatkan.

"Dia bahkan tak sudi mendengar namanya, bagaimana bisa aku membujuknya." Alan bergumam lemah, bahkan Kayli pun tak mendengarnya.

Di saat keheningan menyelimuti ruang, tetiba sebuah mobil yang melesat dengan cepat berhenti tepat di halaman rumah.

"Bang Gala!" seru Kayli sumringah.

Dengan tergesa, pria berusia 23 tahun itu turun dari dalam mobil lantas berlari berhambur menghampiri Kayli. Alis tebalnya tertaut dengan ekspresi wajah penuh kecemasan. Wajah tampannya yang tegas terlihat lusuh akibat kelelahan. Sepertinya ia baru saja mengebut sepanjang perjalanan. Terlihat dari nafasnya yang tersengal-sengal.

"Ibu kenapa!" tanya Gala setengah berteriak.

Gala melirik Kayli, Alan, dan sang Ibu secara bergantian. Namun bukannya menjawab, Kayli malah menarik lengan sang suami lalu memintanya untuk membawa sang Ibu segera.

"Ayo bawa Ibu ke rumah sakit Bang! Sepertinya Ibu keracunan!" seru Kayli tanpa babibu.

Gala mengangguk lalu meraih sang Ibu lantas memapahnya ke dalam mobil dibantu oleh Alan. Kayli yang mengekori mereka langsung duduk di bangku belakang lalu dengan sigap menyandarkan kepala sang mertua ke bahunya dengan perlahan, diapit oleh Alan di sisi lainnya. Tanpa menunggu apapun lagi, Gala segera mengambil kemudi lantas melajukannya.

Namun saat mobil hendak melaju tiba-tiba Zara datang dengan seorang pria paruh baya menghalangi jalan tepat di depan mobil yang hendak melesat.

Ckit!

Gala menginjak rem sekuat tenaga saat melihat Zara membentangkan lengannya di depan mobil yang ia tumpangi.

"Berhenti!" teriak Zara sembari membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

"Zara! Apa-apaan kau ini?" tanya Bang setengah jengkel.

"Bang! Jangan bawa Ibu kemana-mana. Biar Bah Sana obatin ibu!" kukuhnya.

"Zara kamu jangan halangi jalan! Bang lagi buru-buru!" geram Gala sembari menyeka keringat di wajahnya yang terlihat mengucur dari dahi hingga lehernya.

"Gala! Aku yakin Ibumu mendapat suatu kiriman yang tak baik. Biar aku coba melihatnya dulu," ucap pria tua yang tak lain adalah Sana, sang dukun tersohor di desa mereka.

"Biarkan Bah Sana melihat dulu Ibu Mas!" kukuh Zara.

"Gala. Tak akan beres jika terus mengulur waktu. Sebaiknya biarkan saja pria itu masuk. Sambil bawa Ibumu ke rumah sakit," usul Alan menengahi.

"Benar Mas! Aku juga ikut! Biar wanita itu keluar saja!" ucap Zara sambil menunjuk Kayli yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.

"Zara! Jangan kurang ajar kamu sama istri Abang!" bentak Gala membela sang istri.

"Sudahlah Bang. Yang penting Ibu sembuh. Biar aku tunggu di rumah saja. Biar cepat juga," kata Kayli mengalah.

"Lagipula malas kalo harus semobil dengan Zara kalo lagi kumat sifat kekanakkannya," tambah Kayli setengah bergumam.

"Yasudah, cepat naik!" titah Gala. Dengan wajah tak enak hati, ia membiarkan Kayli turun dari mobilnya.

"Sayang, kamu tunggu di rumah ya. Nanti Abang kabari kalo sudah di rumah sakit. Jangan banyak pikiran," ucap Gala lembut.

Kayli pun mengangguk dengan senyuman. Sementara Kayli turun perlahan, Zara langsung merangsek masuk hingga menyenggol bahu Kayli cukup keras. Dengan sengaja.

"Aw!" ringis Kayli.

"Kayli, Bang berangkat dulu," pamit Gala.

Tanpa mengalihkan lagi pandangannya pada Kayli, Gala pun langsung ngebut. Bahkan ia tak sempat melihat Kayli melambaikan tangan. Dengan perasaan hampa, Kayli menarik lengannya yang terambang di udara, ke belakang punggungnga.

"Hati-hati Bang!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED