"Pasti Raka suka sama hadiah yang ku bawa," gumam Nadia, wanita cantik berusia 22 tahun pemilik iris coklat itu tengah membawa kue di tangan kanannya dan sebuah paper bag berwarna biru di tangan kirinya.
Kaki jenjangnya berhenti di depan apartemen Raka, ia hendak memberikan kejutan karena hari ini ulang tahun sang calon suami.
Nadia menempelkan kartu akses khusus, ia mendapatkannya dari Raka. Bola matanya mengedar saat baru saja membuka pintu unit. Senyumnya semakin lebar saat mendapati kamar ini sepi.
"Aku akan bersembunyi di lemari."
Lemari berukuran besar itu muat oleh tubuhnya, dari sini ia bisa mengawasi situasi di luar lewat celah kecil.
"Semoga Raka nggak lama, aku takut kuenya leleh," bisik Nadia.
Tidak seberapa lama kemudian ia mendengar suara pintu terbuka, senyum di bibirnya semakin merekah saat menduga pasti itu kekasihnya.
Namun, keningnya tiba-tiba mengerut saat mendengar sayup-sayup suara wanita.
"Aah ... kakiku lemas, Sayang."
Deg! Nadia terhenyak kaget.
'Aku tidak asing dengan suaranya,' batin Nadia.
"Aku akan menggendongmu ke ranjang, Tania," sahut Raka yang semakin membuat Nadia bertanya-tanya.
'Tania? Tidak mungkin—' Nadia melongokkan kepala pada celah kecil lemari ini saat terdengar suara di ranjang.
Seorang wanita dalam balutan pakaian kurang bahan tengah berbaring di ranjang kekasihnya, Wanita itu terus meracau hingga membuat telinga Nadia panas.
Namun, racauan itulah yang membangkitkan jiwa kelaki-lakian Raka. Pria itu melepas semua helai benang yang ia kenakan. Detik berikutnya ia melakukan hal itu pada sang wanita hingga tubuh keduanya benar-benar polos.
'Ya Tuhan ....' Nadia semakin menekan dadanya, sesak sekali rasanya melihat pemandangan ini.
Kenapa Raka melakukan hal keji itu dengan wanita lain? Ia merasa terhina kalau seperti ini.
"Aku rindu kamu, Raka. Sudah satu bulan nggak kamu sentuh, rasanya selalu ada yang kurang," ujar wanita itu dengan suara parau.
Nadia yang tadinya menunduk sontak mengangkat kepala, rahang runcingnya menegas mendengar suara menjijikkan itu.
Wajah wanita itu.tertutup rambut, meskipun begitu ia masih bisa sedikit mengenali wanita itu dari bentuk tubuhnya.
"Aku juga merindukanmu, Tania. Kau tidak tahu 'kan aku mati-matian menahan selama satu bulan ini. Ah, aku harus mengurus Nadia dulu karena dia sangat merepotkan," kata Raka.
Deg! Nadia kembali terhenyak.
'Ta-Tania?' batinnya sambil membekap mulut.
Mata cantiknya semakin membelalak lebar ketika wajah wanita itu menoleh ke arahnya saat Raka mengendus leher. Wanita itu tertawa sambil sesekali melenguh, membuat perasaan Nadia semakin memanas.
Kedua tangannya mengepal dan dengan sisa kekuatan yang dimiliki, gadis berambut panjang itu merogoh tas untuk mengambil ponsel.
Nadia merekam percintaan panas calon suaminya dengan sang kakak tiri dengan tangan gemetar, kedua air mata terus mengalir sampai hampir tiga puluh menit lamanya.
'Ya Tuhan ... demi apapun ini sakit sekali,' batin Nadia sambil tangannya menekan dada.
Ia tidak peduli kakinya kesemutan di dalam lemari, kue yang dibawanya bahkan sudah meleleh karena berada di ruangan pengap dalam waktu lama.
Kedua insan tidak punya hati itu sudah tertidur karena terlalu lelah bercinta, keduanya saling memeluk di bawah satu selimut tanpa sehelai benangpun.
'Aku tidak menyangka kamu sekejam ini, Raka. Dan aku lebih tidak menyangka kalau ... Kak Tania tega padaku.'
Nadia berdiri di samping ranjang dengan napas tersengal, matanya menatap nanar pada Raka dan Tania yang tidur dengan pulas tanpa peduli ada hatinya yang tengah hancur.
Gadis itu berbalik badan dan segera keluar, ia membuang kuenya ke tempat sampah yang ada di luar unit apartemen itu.
Kakinya melangkah cepat agar bisa segera pergi dari gedung pencakar langit ini, ia ingin segera pulang dan mengadukan pengkhianatan Raka kepada kedua orangtuanya.
"Aku akan membatalkan pernikahan kita, Raka!" gumamnya seraya masuk ke dalam taksi.
Air mata luruh begitu saja saat mengingat pengkhianatan yang Raka lakukan tadi, mau sekuat apapun nyatanya hatinya tetap terluka.
'Tiga hari lagi kita akan menjadi suami istri, Raka. Tapi kamu tega melakukan ini padaku, padahal kamu tahu kakakku juga sudah punya suami,' batin Nadia sambil menghela napas dalam-dalam.
Taksi berhenti di depan rumah sederhana berwarna putih. Nadia langsung memanggil ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan saudara lain yang ada di rumah itu untuk membantu persiapan pernikahan mereka.
"Ada apa, Nadia? Kok wajahmu kelihatan sayu begitu?" tanya Toni, ayah kandung Nadia.
Hening! Nadia belum berani menyahut.
Ia takut kalau jujur akan membuat Ayahnya terkejut dan ikut sakit hati, tetapi kalau tidak jujur maka batinnya yang akan terus memanas.
"Aku tadi dari apartemennya Raka, Yah."
"Ya, kamu 'kan sudah bilang mau kasih hadiah ulang tahun. Bagaimana? Berhasil?" tanya pria paruh baya itu dengan senyum manis.
Namun, gelengan kepala putrinya membuat senyum di bibir Toni memudar, kening keriputnya semakin mengerut dan kemudian bertanya, "ada apa, Nad? Kalian tidak ada ada masalah 'kan?"
"Aku ... a-aku memergoki Raka bermain gila sama perempuan lain, Yah. Dia mengkhianati aku. Dia ... dia bahkan nggak tahu aku bersembunyi di dalam lemari membawa kado dan kue, dia malah asyik sama wanita lain," jelas Nadia yang sontak membuat Toni tercekat.
Nadia menangis tergugu dan menutup wajah dengan kedua tangannya, air mata terus mengalir seakan tidak mau dihentikan.
Bak ada guntur keras yang menghantam jantungnya, Toni merasa dadanya nyeri melihat putrinya menangis pilu di bawah kakinya.
"Maaf sudah membuat Ayah malu. Tapi batalkan saja pernikahan ini, aku nggak mau menikah dengan seorang pengkhianat," ucap Nadia di sela-sela isak tangisnya.
"Batalkan saja katamu?! Apa kamu buta, hah?! Kamu tidak lihat berapa banyak biaya yang sudah kami kelurkan untuk membayar wedding organizer? Seenaknya saja kamu minta batalkan!" sentak Mella.
Wanita paruh baya yang merupakan ibunya Tania itu datang dengan mata melotot dan wajah merah padam. Kedua tangannya berkacak pinggang sambil terus menatap tajam ke arah Nadia.
Lima tahun lalu setelah istri pertama Toni, Yuni, meninggal karena kecelakaan tunggal, Toni menikahi Mella yang merupakan seorang janda.
Mella membawa Tania dalam pernikahan ini, kemudian tiga tahun setelahnya Tania menikah dengan pria yang ia pilih dan kini keduanya LDR lantaran sang suami bekerja di luar kota.
Nadia sudah biasa saat Mella membentaknya, ibu tirinya itu tidak sungkan meskipun ada sang Ayah. Ah, Nadia bahkan merasa dirinya tidak lagi mempunyai sosok orang tua semenjak Ayahnya menikah dengan Mella.
"Laki-laki tidak akan kehilangan apapun meskipun sudah melakukan hubungan badan, Nadia! Kamu tidak apa-apa tetap menikah, asal kita tetap menjaga rahasia ini agar tidak ada yang tahu," ujar Mella dengan napas menggebu.
Apa Mella sudah gila? Wanita itu benar-benar tidak memikirkan perasaan Nadia.
"Lupakan kejadian ini, Nadia. Lupakan juga tentang wanita yang menjadi selingkuhan Raka. Jangan buat malu aku dan Ayahmu. Kamu akan tetap menikah dengan Raka!" imbuh Mella.
Nadia sontak menggeleng keras. "Tapi, Bu ... wanita itu ... selingkuhannya Raka adalah Kak Tania!" pekiknya.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nadia, membuat wajah gadis itu terbuang ke samping. Namun, setitik air matapun tidak luruh dari netranya. Sakit hatinya lebih besar dari pada tamparan panas yang dilayangkan ibu tirinya.
"Jaga bicaramu, Nadia! Anakku sudah menikah, suaminya kaya raya dan pengertian. Tidak mungkin anakku selingkuh," desis Mella.
Nadia menatap dua bola mata yang melotot ke arahnya, sesekali ia akan melirik ke arah sang ayah yang tampak tidak peduli.
Sungguh! Sakit hatinya kian bertambah lantaran Toni yang memilih acuh. Padahal ia putri kandungnya dan Tania bukan, seharusnya ia lah yang dibela.
"Aku tidak mau mendengar omong kosong lagi, Nadia. Sudah cukup drama dan fitnah yang kau buat." Mella menjeda ucapannya sejenak, berusaha menormalkan deru napasnya. "Atau jangan-jangan ... ini semua hanya bualanmu? Kau punya kekasih lain dan ingin menikah dengannya, makanya kau memfitnah Raka dan anakku?!"
Nadia menggeleng. "Untuk apa aku melakukannya, Bu. Aku bukan tukang fitnah seperti Tania."
Kedua netra Mella semakin membelalak, kakinya menendang tubuh Nadia hingga gadis itu tergeletak di lantai.
"Dasar tukang fitnah. Pantas saja ibumu meninggal, ternyata dia tidak kuat punya anak sepertimu!" ketus wanita paruh baya itu.
Nadia yang semula kuat akhirnya meluruhkan air mata saat ibunya turut disebut. Siapapun boleh menghinanya, asal jangan mendiang ibunya.
Gadis itu mendongak, menatap penuh mohon ke arah ayahnya seakan meminta bantuan.
Namun, jawaban Toni malah berkata, "jangan buat kekacauan, Nadia. Tiga hari lagi kau akan menikah dengan Raka, jadi jangan mengatakan yang macam-macam. Takut hal itu benar-benar terjadi."
Nadia tersenyum kecut saat tidak ada satupun yang mempercayainya. Gadis itu perlahan bangkit, kemudian berbalik badan membawa langkah menuju kamar.
Air mata kembali luruh, meratapi sang ayah yang malah lebih percaya orang lain dibanding putrinya sendiri.
"Kata orang, ayah adalah cinta pertama putrinya. Tapi bagiku tidak, ayahku memberiku luka. Dan sekarang aku juga terluka karena pria yang kucintai. Apa aku memang tidak pantas dicintai?" gumam Nadia saat baru saja memasuki kamar.
Tubuhnya terduduk lemas di lantai, punggungnya bersandar di pintu dengan pandangan kosong ke depan.
'Aku tidak mau menikah dengan Raka,' batinnya.
Pikirannya terus berkecamuk, bagaimana caranya kabur? Sementara di sini ramai orang.
Lantas, bagaimana caranya membalas dendam? Ia sadar kalau tidak terlalu kuat jika harus sendirian.
Di tengah lamunannya, Nadia mendengar ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari kakak iparnya langsung membuat matanya melotot.
'Aku masih punya Kak Darren. Dia orang baik, dia harus tahu kelakuan istrinya,' batin Nadia.
Dengan cepat ia bangkit dan segera menghapus air mata. Tuhan tidak pernah tidur, buktinya Tuhan memberikan petunjuk saat dirinya merasa sudah pupus harapan.
Nadia mengemasi baju dan beberapa barang penting ke dalam tas ransel, malam ini ia akan kabur dari rumah guna menemui kakak iparnya.
'Semoga Kak Darren mau percaya,' batinnya, penuh harap.
Jarum jam terus bergulir, tepat di jam sebelas malam Nadia menyelinap dari jendela kamarnya. Gadis itu memakai jaket tebal, masker, topi dan kacamata serba hitam untuk menutupi dirinya.
Kakinya berlari kecil menyusuri jalanan yang cukup lenggang, beruntung ia masih mendapatkan taksi jam segini. Nadia langsung menyebutkan alamat yang dituju dan taksi membawanya melesat jauh dari rumah terkutuk itu.
Berjam-jam menempuh perjalanan panjang, taksi sudah berhenti di depan gedung apartemen mewah yang ada di pusat kota. Nadia langsung turun dan masuk, ia menyerahkan kartu identitas sebagai tanda pengenal dan lantas duduk di lobi.
"Semoga Kak Darren nggak marah aku datang jam segini," gumamnya sambil melirik jam tangan.
Ia lekas mengirim pesan singkat ke nomor Darren, selanjutnya ia memilih merebahkan punggung di sandaran sofa.
"Kayaknya Kak Darren sudah tidur. Aku tunggu besok saja, lah."
Namun, baru saja memejamkan mata, suara langkah kaki membuat Nadia kembali tersadar. Detik berikutnya mata cantik itu terbelalak sempurna saat mendapati Kakak iparnya berjalan ke arahnya.
"Ngapain kamu ke sini sendirian? Ini sudah dini hari, loh. Ayah dan Ibu tahu?" tanya Darren sambil menatap heran gadis di hadapannya itu.
Nadia langsung berdiri, ia menatap kikuk Darren yang sudah dalam balutan baju tidur.
"Maaf kedatanganku mengganggu Kak Darren. Aku ... kabur," bisik Nadia yang jelas saja membuat Darren terhenyak.
"Gila kamu?! Kamu itu mau nikah, Nad. Besok aku juga akan pulang "
Gadis itu menggeleng. Tanpa basa-basi lagi ia langsung menceritakan masalah yang dialaminya, mulai dari memergoki Raka dan Tania di apartemen, hingga ia yang dimarahi Mella dan akhirnya kabur ke sini.
Darren tidak mampu menjawab, hanya beberapa kali merespon dengan gelengan.
Tiga puluh menit Nadia menceritakan semuanya diiringi derai air mata. Namun, Darren seolah tidak percaya.
"Aku punya bukti perselingkuhan mereka kalau Kakak nggak percaya," kata Nadia sambil mengeluarkan ponsel dari dalam ransel.
Ia menunjukkan rekaman adegan saat di kamar apartemen Raka. Video berdurasi panjang itu membuat wajah Darren memerah dan deru napas naik sekian kali lipat.
"Aku tidak minta perlindungan Kakak, jadi Kakak tidak perlu merasa terbebani dengan kedatanganku. Aku hanya ingin menunjukkan rekaman itu, agar Kakak tahu bagaimana kelakuan Kak Tania di luar sana," ujar Nadia.
Darren masih tidak bergeming, pikirannya masih berusaha mencerna hal ini.
Ingin menolak, tetapi bukti sudah berbicara. Sakit sekali rasanya dikhianati oleh sang istri, apalagi selama ini ia mati-matian bekerja demi mencukupi kebutuhan Tania. Namun, Tania malah tega bermain gila dengan pria lain.
"Aku pergi dulu, Kak." Nadia memasukkan kembali ponsel ke dalam ranselnya. "Tolong jangan katakan kepada Ayah dan Ibu kalau aku ke sini. Setelah ini aku mau ganti nomor telepon, biar nggak ada yang bisa mencariku."
Nadia menghela napas kasar melihat Darren yang masih diam saja. Kasihan sekali kakak iparnya itu, ia tahu betapa hancurnya saat dikhianati oleh orang tersayang.
Harga diri tercoreng, merasa seperti tidak pantas hingga pasangan harus mencari kepuasan dari orang lain. Padahal ia dan Darren sudah menjaga kesetiaan itu, tetapi semua tidak ada harganya.
"Maaf sudah membuat Kakak syok, tapi aku merasa bersalah kalau tidak memberitahukan ini. Sekali lagi terima kasih, ya, sudah mendengarkanku. Aku pergi dulu," ucap Nadia dengan kepala tertunduk.
"Tunggu, Nad."
Tubuh mungil itu terpaku, kepalanya sedikit menengok ke belakang, tampak Darren menatapnya dengan mata basah dan memerah.
"Kamu mau cari tempat tinggal di mana jam segini? Lebih baik menginap dulu di apartemenku. Ada dua kamar, kok. Kamu nggak usah khawatir," kata Darren yang langsung disahut gelengan kepala oleh Nadia.
"Terima kasih, Kak. Tapi nggak usah. Aku nggak mau ada fitnah nanti."
Nadia melenggang pergi dari hadapan Darren tanpa menunggu jawaban pria itu, meninggalkan Darren yang masih menatap datar punggung mungilnya.
"Kasihan sekali dia, pasti pikirannya kalut. Aku harus mengikuti, tidak mungkin aku membiarkan Nadia pergi sendiri," gumam Darren dan lekas menyusul langkah Nadia.
Nadia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, padahal ia tidak tahu mau pergi ke mana. Ia ingin menyewa kos, meskipun belum tahu seluk beluk daerah sini.
Hingga netranya tertuju pada banner yang menginformasikan tentang kos putri, bibirnya tersenyum lebar dan langsung mengikuti arah panah yang ditunjukkan banner tersebut.
Langkah kakinya menuju gang kecil, tetapi senyum lebar di bibirnya langsung sirna saat mendapati segerombolan pemuda mabuk menghadang jalan. Nyalinya menciut, Nadia langsung berbalik hendak pergi, tetapi kehadirannya sudah diketahui oleh pemuda-pemuda itu dan dirinya pun dikejar.
"Mau ke mana, cantik? Kenapa nggak jadi lewat?" tanya salah satu pemuda sambil mencengkram lengan Nadia.
Gadis itu berusaha melepaskan cengkeraman, tetapi tenaganya kalah.
"Lebih baik kamu bersenang-senang dulu sama kami, jangan langsung pergi," bisik pemuda itu, aroma alkohol menyeruak dan langsung menusuk hidung.
"Lepaskan saya," kata Nadia yang langsung membuat pemuda itu tergelak.
Beberapa pemuda datang dan langsung mengerumuni Nadia, bahkan ada yang mengelus rambutnya. Nadia sudah menangis karena takut, ia terus meronta tetapi tubuhnya sudah dipegangi oleh enam pemuda itu.
Kenapa nasibnya sial sekali? Niat ingin menghindari calon suaminya, malah terjebak begini.
"Jangan mendekat! Atau atau aku akan teriak." Nadia memelototkan mata saat satu satu pemuda mendekatkan wajah hendak menyiumnya.
Gertakan itu tidak membuat pemuda-pemuda tersebut takut, yang ada mereka malah tergelak dan semakin berani mencolek tubuh Nadia.
Tubuh mungilnya kian meronta saat satu pemuda memeluknya dari belakang, hingga sebuah suara bariton terdengar berteriak.
"Hei ...!"
Seluruh pemuda menoleh, demikian juga dengan Nadia yang langsung mendapati Darren berdiri tidak jauh darinya.
Darren melemparkan balok kayu dengan kencang, membuat satu pemuda limbung. Ia mendekat dan langsung menerjang pemuda yang mencengkram tangan Nadia, dengan cepat ia menarik adik iparnya saat gadis itu sudah terbebas.
Nadia memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar, air matanya mengucur deras menyaksikan Darren menghajar pemuda-pemuda mabuk itu, beruntung Darren terlatih bela diri dan berakhir menang.
"Ayo," ucap Darren sambil meraih tas ransel Nadia.
Namun, gadis itu tetap tidak bergeming.
"Kau mau di sini saja dan menunggu pemuda-pemuda itu bangun? Lalu mereka kembali melecehkanmu lagi, iya?"
Nadia gelagapan, kepalanya menggeleng sambil membawa tangan mengusap air mata.
"Tidak, Kak. A-Aku ... ingin melanjutkan ke kos saja. Ada di depan sana, kok," sahutnya dengan suara lirih.
Darren berdecih lirih sambil membuang muka. "Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu kalau kau masih kukuh mau ke kos itu. Kalau kau kembali dilecehkan, aku tidak bisa datang membantu."
Nadia menunduk dengan perasaan bimbang. Tidak mungkin ia tinggal di apartemen kakak iparnya, mau disakiti seperti apapun ia tidak akan membalas Tania dengan cara murahan.
"Kau mau diam di sini saja dan menunggu mereka bangun, lalu kembali melecehkanmu?!" sentak pria itu yang sontak membuat tubuh Nadia terlonjak kaget.
Ia akhirnya pasrah dan mengikuti Darren yang sudah jauh di depannya dengan sedikit berlari, hingga akhirnya mereka sampai di apartemen dan Darren langsung mengajak adik iparnya menuju unit milikmya.
"Kamu tidur di kamar sana," ucap Darren sambil menunjuk ke kamar yang ada di sebelah kamar mandi. "Kamar yang sebelah sana adalah kamarku, kamu tidak boleh masuk ke sana apapun yang terjadi," lanjutnya lagi sambil menunjuk satu kamar besar di samping ruang tamu.
"Iya, Kak. Terima kasih," jawab Nadia yang langsung diangguki oleh Darren.
Pria itu menyerahkan ransel hitam milik Nadia, kemudian ia beranjak ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Nadia tidak mau ambil pusing, diizinkan menumpang saja sudah sangat bersyukur.
"Masih ada waktu buat tidur, besok aku harus bangun pagi untuk mencari pekerjaan," gumamnya sambil menguap.
Gadis itu langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, tidak perlu waktu lama alam bawah sadarnya sudah terbuai dalam mimpi.
Hingga pagi menjelang, Nadia bangun dan segera mandi untuk mengusir rasa kantuk. Gadis itu beranjak ke dapur dan berniat memasak, tetapi sayangnya hanya ada nasi sisa semalam. Dengan cekatan ia membuat nasi goreng untuk sarapannya dengan Darren.
Bau harum aroma masakan menguar, membuat Darren terbangun dan keluar kamar. Pria itu mengucek mata saat mendapati adik iparnya sibuk menumis nasi, detik berikutnya ia membawa langkah mendekat ke dapur.
"Kamu masak?" tanyanya dengan suara serak.
Nadia yang terkejut pun sontak menoleh. "Maaf, Kak. Aku menggunakan dapur Kakak tanpa izin."
Pria itu berdehem singkat, tangannya bergerak mengambil botol air kemasan dan langsung menenggaknya.
Tidak lama kemudian dua nasi goreng pedas tersaji, Darren hanya diam menatap masakan adik iparnya dengan pandangan datar.
"Aku tidak tahu apakah masakan ini sesuai dengan selera Kakak. Ini sebagai ucapan terima kasih karena Kakak sudah menolongku semalam," ucap Nadia.
Darren mengangguk singkat, tangannya mulai menyendok nasi dan memasukkan ke dalam mulut.
Enak.
Satu kata yang pas untuk mendeskripsikan rasa sarapannya pagi ini. Namun, rasa nikmat itu mendadak terganggu saat ucapan Nadia membuat perasaannya tidak enak.
"Aku akan pergi cari kos, Kak. Tenang saja, bukan kos yang semalam. Aku juga mau cari kerja agar bisa bertahan hidup. Huh ... sekarang aku tidak bisa bergantung kepada siapa-siapa. Kalau aku tidak berusaha bangkit, aku akan semakin terpuruk. Jadi, aku mohon Kakak mengizinkanku," jelas gadis itu.
Darren tidak langsung menjawab, otaknya berputar memikirkan kata yang pas. Ia masih asyik minum, padahal di dalam kepalanya tengah berperang.
"Tidak ada orang lain yang ku percaya selain Kakak, bahkan ayah sudah mengecewakanku. Aku mohon Kakak benar-benar menjaga rahasiaku," kata Nadia yang membuat Darren langsung menatap ke arahnya.
"Sama sepertimu, aku juga sudah tidak percaya siapapun. Mau istri atau mertuaku, mereka sama saja. Jadi, kita ini sama, Nad. Hanya kamu yang masih bisa ku percaya," sahut Darren.
Nadia masih menyimpan suaranya saat belum paham arah pembicaraan sang kakak ipar.
"Kamu tinggal di sini aja, aku ada satu unit nganggur," lanjut pria itu lagi.
Nadia sontak menggeleng. "Maaf, bukan maksudnya menolak. Tapi aku lebih baik cari kos saja."
"Aku bisa memantau mu, Nad. Kau juga akan aman, tidak seperti semalam. Untuk sewanya cukup bayar separuh saja, jadi jangan memikirkan nominal besar. Kalau masalah pekerjaan ... temanku yang pemilik butik tidak jauh dari sini katanya sedang butuh staf, aku ada nomor teleponnya kalau kamu mau tanya-tanya. Gajinya besar, karena itu butik terkenal. Temanku juga baik, dia ramah dan bukan tipe bos galak," jelas Darren panjang lebar.
Nadia masih tidak bergeming. Sebenarnya ini penawaran bagus, tetapi bagaimana kalau Tania tahu?
"Tania nggak akan tahu selama kamu nggak bilang siapa-siapa," kata Darren yang seolah paham kebimbangan adik iparnya. "Bagaimana? Mumpung unitku itu masih kosong, belum aku sewakan ke orang lain."
"Baiklah, Kak. Aku mau," jawab Nadia. "Terima kasih, ya."
Pria itu mengangguk dan kembali menenggak air mineral dari dalam botol, hatinya lega saat Nadia tidak menolak.
Ia sengaja memberi biaya sewa agar Nadia tidak merasa dibantu cuma-cuma, ia juga berlagak membantu mencari pekerjaan padahal itu butik miliknya yang diurus oleh teman baiknya. Butik yang seharusnya menjadi hadiah pernikahan untuk Tania yang ketiga tahun, tetapi ia mengurungkan niat saat tahu Tania berselingkuh.
Darren terpaksa berbohong, kalau tidak begini Nadia akan nekat pergi.
'Sekarang kau jadi tanggung jawabku, Nad,' batin Darren.