Bab 1

Bab 1 Prolog.

Seorang wanita dengan perut yang membuncit, dengan rambut yang dikucir kuda, membawa tongkat bisbol. Berjalan dengan kencang, tidak peduli dengan kondisi perutnya. Dia menggedor pintu rumah seorang wanita.

"Keluar kamu! Hei! Dasar jalang sialan! Aku akan mendobrak pintumu dan menghancurkan rumahmu jika kamu tidak segera membuka pintunya!" Wanita itu berteriak hingga otot lehernya terlihat.

Dari dalam gadis anggun itu berjalan degan malas dan membuka pintu.

"Ap..." Belum sempat dia selesai menyelesaikan ucapannya tongkat bisbol itu sudah melayang dikepalanya.

"Akh!" Gadis itu kesakitan dan terhuyung. Wanita bunting itu tetap ingin menyerangnya. Hingga pria yang diduga suaminya itu merebut tongkat bisbol tersebut dan membuangnya.

Sementara itu, gadis yang menjadi korban memegangi kepalanya yang terasa pening.

"Sialan! Bawa pergi wanitamu! Dasar, gila!" umpatnya.

Meski mulutnya tetap menteriaki gadis yang terluka itu, tetapi pria disampingnya berhasil membawa istrinya pergi dari rumah bercat putih itu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Sepasang heels dan tas beserta isinya berserakan di atas lantai. Suara gebrakan pintu tertutup dengan kasar memenuhi ruangan berukuran enam kali enam meter itu.

Seorang gadis berpostur tinggi dan memiliki kulit putih meremas rambut lurusnya yang kini berantakan akibat ulah perempuan baru saja keluar dari kamarnya tadi. Sebab, menganggap dia, Jovanca. Telah merebut kekasihnya yang sebentar lagi akan dinikahinya.

Dia menghempaskan tubuhnya pada kursi bulat diatas lantai. Penampilannya yang tidak karuan membuatnya terlihat mengerikan.

"Sial! Kenapa harus aku? Tidak bisakah, meminta mahasiswa lain? Gila!" umpatnya.

Wanita itu menatap sekeliling kamar sempit, sangat berantakan, dan tidak layak disebut dengan kamar. Dia bangkit, dan menghampiri koper yang ia letakkan di sudut ruangan.

Bersiap untuk mengikuti tour tahunan yang selalu diadakan di kampusnya. Dengan dalih mengadakan bazar amal. Namun, yang sebenarnya terjadi, adalah semua mahasiswa harus membayar uang berjumlah fantastis. Entah, ke mana perginya uang itu nantinya.

Bukan dia tidak mampu membayar, tetapi dia hanya malas harus berkumpul dengan banyak orang. Jovanca adalah tipe wanita yang suka menyendiri, dan bertindak seenaknya sendiri.

Dia tidak mau diatur, dan tidak akan bisa diatur. Hidup sendiri, di kota besar, bergaul dengan siapapun yang dia sukai. Meninggalkan mereka sesuka hatinya pula.

Beberapa barang telah siap dia kemas. Masih dengan baju yang sebelumnya, dia kenakan. Dia berkelit, untuk mengumpulkan, donasi, uang pembayaran, bus, dan juga jatah makan siang. Mengetuk kamar demi kamar asrama.

Namun, bukannya mengetuk, Jovanca, lebih pantas disebut, dengan menggedor, bak seorang rentenir yang menagih hutang.

Brak! Brak!

"Woy Buka!" teriakanya.

Wanita berkacamata, dengan rambut panjang, membuka pintu, salah satu mahasiswa, yang paling cupu dengan dandanan seperti anak TK. Rambutnya tidak pernah lepas dari kepangan.

"Bayar!" Jovanca, mengulurkan tangannya, meminta bayaran untuk tour dadakan itu. Ah– apa pantas disebut rekreasi, jika hanya sehari, semalam?

"Ehm– say– saya...." Gadis itu, tergagap, dia terlalu takut untuk menjawab pertanyaan, Jovanca.

"Apa?! Ikut tidak?! Tunggu– tidak ada yang boleh tinggal! Semua harus ikut, dan bayar padaku, cepat!"

Pinky, dia berlarian masuk ke kamarnya, dan mencari dompetnya dia mengambil beberapa lembar uang kertas, dan memberikan lima puluh dolar pada Jovanca. Tangannya masih sangat bergetar.

"Nice, cepat berkemas, dan turunlah!" Jovanca menyeringai, dan pergi. Menggedor pintu disebelah kamar Pinky.

Satu persatu dari mereka membayar. Benar benar tidak ada yang tertinggal karena Jovanca memaksa. Dia tidak mau mengeluarkan uang sendirian. Sementara salah dari mereka tidak dipungut biaya apapun.

Sebagai wanita yang mandiri ini sangat tidak adil untuk Jovanca. Jika, dia tidak diperintahkan untuk hal itu tadi. Gadis itu akan memilih untuk pergi ke kafe, dan bekerja.

Tepat, di kamar paling ujung, dan ditempati, oleh pria bertubuh gemuk. Jovanca bersiap mengangkat tangan, dan mengayun untuk mengetuk tetapi sesuatu terdengar dari balik pintu itu.

Jovanca mengurungkan niatnya untuk mengetuk ia memilih untuk memiringkan kepalanya, dan menempelkan telinga. Berniat menguping aktivitas di dalam kamar tersebut.

Bunyi keciplukan terdengar dengan jelas, bahkan napas yang memburu, sangat jelas didengar oleh gadis berambut merah itu. Jovanca, memicingkan matanya menajamkan pendengarannya guna mengetahui aktivitas apa yang dilakukan pria gendut.

Hah– Sialan! Terdengar lelaki itu menghembuskan napas lega disusul dengan umpatan. Jovanca semakin penasaran dia tanpa mengetuk pintu nekat langsung membukanya.

Begitu memasuki kamar itu betapa terkejutnya gadis badung itu. Mark berdiri di balik pintu kamar mandi, dan memegang sebuah cairan berwarna, putih. Celananya telah basah, dan pria itu pun berkeringat dengan hebat.

"Woy!" teriak, Jovanca.

Apa yang dilakukan oleh Mark si pria gendut?

Jovanca menerobos masuk kamar milik Mark, gadis itu berhasil mengejutkan pemilik kamar mereka saling tatap beberapa saat. Tatapan Jovanca tertuju pada benda yang dipegang oleh Mark.

"Sedang apa kamu?! Oh– aku tahu kamu– astaga! Fix. Aku akan sebar, bahwa kamu sering bermain main dengan sabun!" Jovanca membelalakkan matanya guna untuk menakut-nakuti Mark.

"Jo?! Sedang apa kamu di sini?" Mark terkejut dengan keberadaan wanita brutal itu.

Jovanca masih tertawa pikiran liarnya mulai menguasai diri. Matanya sampai berair karena tawanya tidak bisa dia hentikan.

"Wait! What do you think?! Jo? Ini tidak seperti yang kamu kira. Ak– aku...." Jovanca memotong ucapan pria gentong itu.

"Stop, semua sudah terbukti. Aku kira kamu sangat polos." Jovanca sama sekali tidak mau mendengar penjelasan lelaki itu.

Mulutnya masih terus mengejek tanpa mau mendengar apa yang lawan bicaranya ucapkan. "Jo, listen! Aku membersihkan kamar mandiku yang sudah sebulan tidak aku bersihkan. Keraknya membandel, dan– ini? Ini sabun yang aku gunakan untuk membersihkan lantainya. Aku terpeleset! Shit! Ini menyebalkan bukan? Buang pikiran burukmu itu!" sungut Mark.

Pria itu melemparkan sikat lantai juga sabunnya begitu saja. Acara membersihkan kamar mandi telah usai dia merasa begitu lelah. Tidak peduli dengan celana atau baju yang basah. Ia menghempaskan tubuhnya pada ranjang sempit miliknya.

Namun, Jovanca masih asyik tertawa dengan pikirannya apakah wanita seperti itu? Selalu tidak jauh pikirannya dari seks? Memalukan!

"Terserah! Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Pertanyaan itu menyadarkan tujuan Jovanca akan tujuannya.

"Ups! Right! Bayar. Aku bertugas menarik semua uang tour buta' yang diadakan kampus ini," ucapnya sembari mengulurkan tangan.

Mark menatap telapak tangan gadis itu, dan mendengus dia baru saja membayar kelas private bahasanya. Kini laki laki itu harus kembali mengeluarkan uang lagi.

"Bolehkah aku tidak ikut? Please?" pinta Mark memelas. Meski dia tahu jawabannya adalah tidak. Jovanca tidak akan membiarkan temannya kaya sendirian.

"No!" Ia menjawab dengan singkat, dan menggeleng.

"Ck, come on Jo. Please, aku tahu kamu baik Please," bujuknya. Tanpa menyerah.

"No!" Jovanca kembali menolak. "Bayar sekarang atau aku akan mencari sendiri di tasmu?" Jovanca menoleh di mana tas Mark berada.

"Oh– menyebalkan." Pria itu bangkit, dan mendekati tasnya. Dia terpaksa membayar untuk hal yang tidak dia ketahui fungsinya.

"Memang, apakah kamu baru menyadari bahwa kuliah di sini sangat menyebalkan." Jovanca menyahut selembar uang kertas seratus dolar itu dan berlalu.

"Jo! Kembalian!" teriak Mark. Jovanca menoleh, dan hanya menyunggingkan senyum misterius yang entah apa artinya.

"Nanti!" balasnya kemudian. Semua itu membuat lelaki obesitas semakin merengut kesal.

***

Semua mahasiswa telah siap. Mereka membutuhkan dua bus untuk pergi ke tempat tujuan. Sebuah kota di ujung provinsi. Kota Mayoral. Tujuannya hanya sebuah motel kecil, dan keesokan harinya mereka akan membuka bazar di sebuah taman.

Hal yang bagi sebagian orang itu sangat tidak berguna termasuk Jovanca. Bazar amal, mereka tidak harus melakukan itu untuk membantu sesama. Bisa dengan langsung menunjukan bantuan pada yang bersangkutan bukan? Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh, Jovanca.

Namun, dia juga harus ikut serta. Sambil menyelam minum susu. Dia berharap ada sesuatu yang bisa mengalihkan kebosanan dari acara itu nantinya.

Butuh sekitar tiga jam untuk mereka tiba di motel terpencil Mayoral. Benar, terpencil karena itu sebuah sudut kota bahkan bisa disebut dengan perkampungan desa terpencil. Jarang dimasuki wisatawan atau orang dari luar kota.

Apa yang akan didapatkan oleh Jovanca di sana?

Bersambung...

Bab 2

Bab 2

Dua rombongan bus telah tiba di Kota Mayoral dengan wajah-wajah yang lelah, dan mengantuk. Semua mahasiswa, dan mahasiswi itu keluar dari kendaraannya. Tidak semua orang merasa bosan, ada dari mereka juga yang sangat menikmati perjalanan, dan juga tour amal ini.

"Baiklah, kita sudah sampai, kalian bisa beristirahat di kamar sesuai nomor yang sudah dibagikan. Kita akan makan malam tepat pukul tujuh nanti malam. Lalu— sesuai dengan kesepakatan bahwa besok seharian penuh kita akan melakukan atau membuka bazar di alun alun kota ini," tutur salah satu dosen.

Pria berusia sekitar tiga puluh tahun, berkulit putih dengan freckle, di bagian wajahnya. Bibirnya sangat seksi menurut Jovanca.

Wanita itu tidak peduli dengan pidato membosankan dia justru asyik dengan earphone yang tersemat di telinganya. Menikmati aliran musik, bergenre rock.

"Okay, selamat istirahat semuanya!" Pesan terakhir dari Tuan Hudson.

Semua orang membubarkan diri dengan menyeret koper masing-masing. Mereka mencari kamar yang telah terbagi di dalam bis sebelumnya. Satu persatu dari mereka menghampiri resepsionis untuk mengambil kunci. Satu kamar akan ditempati oleh tiga sampai lima anak.

Karena terbatasnya ketersediaan kamar motel itu. Jovanca, sialnya dia harus satu kamar dengan para wanita yang rempong, tingkat nasional. Wanita wanita senang dandan, dan heboh.

"Jo, aku duluan. Kamar kita diujung, aku akan buka pintunya! Hu! Ini akan seru!" teriak Steacey.

Jovanca hanya memutar bola matanya dengan malas. Sehingga tidak fokus dengan jalan yang dilewati. Terlebih suara keras di telinganya, sejujurnya tidak membuat ucapan wanita tadi terdengar.

Hanya teriakan mereka yang terngiang oleh Jovanca. Hingga gadis itu harus bertabrakan dengan sepasang kekasih, mungkin—

Brak!

Berhamburlah barang bawaan milik mereka, Jovanca, segera melepaskan earphonenya, dan berjongkok guna membantu memungut semua barang barang mereka.

"Maafkan, saya. Saya tidak menyadari keberadaan kalian," sesal Jovanca.

"Tidak apa, ini hanya musibah," sahut wanita itu. Jovanca memperlihatkan wajah memelas, dan berempati. Dia memberikan barang bawaan yang ada ditangannya kepada mereka.

Beberapa buku serta ponsel milik wanita itu. "Di sini, semakin ramai, itu hebat. Kamu salah satu rombongan tadi?" tanyanya.

"Ya— saya... bagian dari mereka," jawab Jovanca dengan memiringkan kepalanya. Sebenarnya dia enggan mengakui kalau dia adalah rombongan bis sialan itu.

"Kenalkan aku Ainsley, dan— dia adalah suamiku, kami berbulan madu di sini." Ainsley memperkenalkan suaminya pada Jovanca. Apakah wanita selalu seperti itu? Mudah sekali bergaul? Sepertinya yang mudah beradaptasi hanya lelaki, ternyata tidak

Jovanca terkejut, setelah mengetahui bahwa ternyata pria disebelahnya adalah Suaminya.

"Hai, saya Jovanca." Mereka menjabat tangan.

"Jeffrey," jawabnya singkat, sembari membalas uluran tangan Jovanca.

Bukan Jovanca, jika dia hanya menjabat tangan dengan formal. Dia memainkan ujung jari telunjuknya juga kedipan mata, ketika Ainsley menatap suaminya.

Tentu saja itu membuat Jeffrey, terlihat gugup. Karena terang terangan Jovanca melakukannya.

"Okay, sekali lagi maafkan saya. I have to go." Meninggalkan mereka dengan senyum manisnya. Jovanca, menjauhi kedua pasangan muda itu.

Berlalu dengan segudang senyuman aneh antara heran juga bertanya-tanya. Kenapa di usia yang masih terlihat muda, mereka mau menjalin sebuah hubungan yang tidak main main.

"Mungkin hamil— oh, sayang sekali," gerutu Jovanca. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memasuki kamar. Namun, bukannya lebih tenang justru pemandangan didalam semakin menggila.

Apa yang dilakukan oleh teman teman satu kamar Jovanca?

Ainsley, dan Jeffrey mereka keluar dari motel, mencari pemandangan bagus di Kota Mayoral.

Banyak yang bilang, bahwa kota itu, adalah surga yang tersembunyi. Banyak sekali tempat wisata yang memang tidak tereksplorasi oleh masyarakat. Penduduk benua Eropa. Mereka lebih memilih, untuk berlibur di kota yang terkenal, Madrid, Barcelona, Italia, dan sejenisnya.

Namun, pasangan muda itu, memiliki selera berbeda, sama seperti halnya rombongan, Jovanca. Tujuan mereka bukan hanya untuk bulan madu, berlibur atau sekedar menguras isi rekening, tetapi mencari keluarga yang tidak mampu, untuk diberikan materi yang cukup banyak.

Makan siang di tamat, adalah hal yang menyenangkan. Seperti piknik, pikir Ainsley.

"Kamu suka di sini?" tanya, Ainsley, pada suaminya yang sibuk dengan laptop dihadapannya.

Meski berlibur, rasanya pekerjaan, sudah mendarah daging dalam tubuh Jeffrey.

"Ya! Sure, kemana pun, aku pergi. Jika bersamamu, semua terasa indah, babe."

Berkata, tetapi tidak menatap lawan berbicara. Itulah, yang terjadi pada mereka berdua. Terlebih Jeffrey.

"Aku ingin kita di sini satu Minggu, lagi, bisa?" Ainsley, terkenal dengan wanita yang lembut, dan manja. Dia selalu mengandalkan apapun pada Jeffrey. Semua kebutuhan, semua aset yang dia miliki, telah dia percayakan pada suaminya. Alasannya, simpel, karena dia mencintai, dan Jeffrey adalah suaminya.

"Sure, what ever you want," jawab Jeffrey.

Gadis itu, mendekati suaminya, dan merebahkan tubuhnya pada dadaa bidang pria yang telah dia nikahi baru satu bulan itu.

Akan tetapi, rasa berbeda, dihadapi oleh Jeffrey, dia terbayang aroma yang keluar dari rambut gadis yang, dia temui di motel sebelumnya. Sunggingan senyum, hampir tidak terlihat, di wajah itu. Namun, jelas, pria itu tengah tersenyum.

"Ehm— kamu tersenyum? Apa yang kamu pikirkan?" tanya, Ainsley, dia menengadah untuk melihat, senyum tipis suaminya.

"Nothing, hanya sesuatu yang begitu lucu," sangkalnya.

"What? Tentangku?" Jeffrey mengangguk.

"Yes, sure. Mengingat, bagaimana kamu memintaku, untuk selalu tidur dan mendekapmu sepanjang malam. Ains, you're so beautiful," pujinya. lelaki itu membelai Surai panjang coklat milik istrinya.

"Thanks, apa saja yang kamu suka dariku?" Mereka bercakap cakap, memutar, mengulang kembali memori di mana keduanya saling menyukai. Memutuskan untuk menikah, di usia dini. Karena— ya! Ainsley hamil.

"Baby, siapa nama yang akan kamu berikan pada bayi kita? Jika itu perempuan?" Ainsley kembali menatap suaminya. Ia memainkan kancing baju milik Jeffrey.

"Aku mau bayi lelaki," jawabnya dengan singkat.

"Kita tidak bisa memilih, bukan?" Gadis itu menarik diri, dan duduk melipat kakinya, menghadap suaminya.

"Maaf, tapi aku tidak suka, bayi perempuan," tutur Jeffrey, dengan enteng.

"What?! Are you crazy?! Jeffrey, kita tidak biss menentukan, jenis kelamin. Bukankah, laki laki, atau perempuan sama saja. Dia tetap anakmu, anak kita!" jelas Ainsley. Dia mulai tertarik tuas emosinya.

"No! Buatku tidak! Aku ingin anak lelaki, karena, dia harus meneruskan mimpiku yang kacau! Kamu tahu, aku hampir saja menjadi pembalap! Tapi— sekarang apa?! Aku harus terjebak, dalam pernikahan konyol ini!" sungut Jeffrey tidak kalah keras.

"Jeff, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi. I'm sorry. Tapi kita melakukan semuanya karena cinta bukan? Dan kamu sudah berjanji akan menikahiku," suara Ainsley melemah.

"Tapi, tidak menghancurkan mimpiku! Kamu mengurungku, dengan semua perusahaan, yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu!" Jeffrey, hendak beranjak.

Namun, Ainsley, menahannya.

"Jeff— wait—"

Apa yang akan dikatakan oleh, wanita itu?

Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?

Benarkah begitu alasannya, atau itu hanya sebuah omong kosong, yang di buat buat oleh Jeffrey?

Bersambung...

Bab 3

Bab 3

Mata Jovanca, terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Benar kata orang, di saat memasuki dunia baru, di kampus. Akan banyak jenis manusia yang ditemui.

Begitulah yang dilihat Jovanca saat ini. Ini adalah hal gila, gadis itu muak melihatnya. Steacey, tengah asyik, bercinta dengan sesama jenisnya. Perut, Jovanca serasa diaduk aduk. Dia kembali menutup pintu kamar itu, dan memutuskan untuk pergi.

"This is crazy! Bisa bisanya, dia melakukan itu di kamarku? Oh— bukan, di kamar kita bersama. God— bisakah aku bertukar kamar?" gumam, Jovanca.

Gadis itu terus berjalan, tangannya setia menggenggam pegangan kopernya. Berjalan, tidak tentu arah, hingga dia lelah. Seharusnya, dia istirahat, sore ini. Tetapi, Steacey, membuat jam istirahat, kacau.

Gadis itu, berkeliling, ke pekarangan motel, banyak tanaman yang ada di sana. Menurutnya, dan sejujurnya, tempat itu tidak terlalu buruk. Dari kejauhan, dia bisa melihat, sepasang manusia.

Jovanca, menatap terus, meski tidak mengetahui, apa yang mereka bicarakan. Pria itu, terlihay begitu marah, membantah, menuding, bahkan sampai mendorong wanita itu.

"Not good! Pria gila!" gumamnya.

Jovanca, bak menonton drama secara langsung, adu mulut, saling pukul, dan tidak ada yang mau mengalah diantara mereka. Mendapatkan hiburan baru. Setidaknya, kejadian di depan matanya itu, asli, dan wajar.

Bukan menyimpang, jika Steacey, hanya mabuk, mungkin, Jovanca akan memaafkannya, dan bukan tidak mungkin, dia akan ikut bergabung. Namun, di dalam kamar itu, lain hal. Lebih baik, dia tidak bercinta selamanya, dari pada harus bersama dengan wanita.

"O—" Mulutnya, mengerucut, kala melihat, pria itu, menampar wanitanya.

"Bukan lelaki sejati," gerutu, Jovanca.

Setiap yang terjadi, di hadapannya, selalu dia komentari, meski hanya sebuah guyonan baginya. Sungguh, dia tidak benar benar peduli. Dia mengambil keuntungan, dari semua yang dilihatnya.

"Ups, jangan kemari, Do not come close," lirih, Jovanca, ketika melihat sang pria itu, mendekati dirinya.

"Hei, sedang apa?" tanyanya, tanpa merasa bersalah, canggung, atau aneh. Seperti, dia tidak melakukan apapun sebelumnya.

Nyatanya, dia baru saja meninggalkan, wanita, dalam keadaan, buruk, menangis, dan sendirian.

"Nothing, ehm— hanya, mencari angin saja," sangkal Jovanca. Mencari alasan, kalau kalau pria itu, marah, karena kedapatan dirinya melihat adegan, demi adegan lelaki itu.

"Mau, ikut denganku?" ajaknya. Jovanca, menggeleng, dia tidak suka, lelaki yang seperti itu. Kasar, dan hanya berani dengan perempuan.

"Maybe, Next time," jawab, Jovanca dengan ringan.

"okay, see you." Pria itu, meninggalkan Jovanca. Kemudian, kini giliran, si wanita yang mendekati, gadis berambut merah itu.

"Kamu, melihatnya?" tanyanya, dengan parau.

"Ehm— yeah, semuanya. Why? Kalian— hmm, tidak, tidak jadi," sahut, Jovanca.

Tanpa kata, gadis itu pergi. Mereka, berpisah, dan Jovanca, berharap, tidak akan bertemu lagi dengan salah satu dari mereka, atau bahkan keduanya.

"Yeah, enyahlah. Aku, akan tidur di sini setidaknya, sampai waktu makan malam. Jika sampai tiba saatnya, mereka belum keluar, aku tendang kedua bokong tipis itu!" kesalnya.

Jovanca, merebahkan tubuhnya, di atas rerumputan hijau, mengambil selimut, sebagai bantalannya. Dia berusaha terpejam, melupakan hari buruk ini. Sejak pagi, sampai sor, sepertinya, keberuntungan, sama sekali tidak memihak padanya.

"Andai, aku punya sugar Daddy, tidur di kasur empuk, banyak duit, rumah mewah— oh— indahnya. Tapi, boleh dong, minta yang masih gagah perkasa gitu. Jangan yang bau tanah. Aku tidak suka berpura pura."

Jovanca, menatap luasnya langit, khayalannya benar benar liar, dan umum, di minta wanita yang pemalas, atau lebih tepatnya, lelah berjuang sendirian.

Wait— siapa kedua orang yang dia temui?

Di sudut taman belakang motel. Dua sejoli yang seharusnya masih membina hubungan baik. Namun perselisihan, tidak mengenal berapa lama, suatu hubungan terjalin.

Mereka bertengkar, satu membela, satu menyalahkan, bukankah seperti itu, pertengkaran? Jeffrey, pria itu memejamkan, matanya, dan mengepalkan tangannya.

Dia marah, tapi tidak tega menyakiti wanita. So— yang dilihat Jovanca, bukanlah mereka. Melainkan, teman satu angkatannya. Yang mana, si lelaki menjadi idola banyak wanita. Sok cool, tetapi kelakuan minus.

Terlihat, gadis bernama Ainsley Hills, menitikan air mata. Dia yang banyak berusaha untuk hubungannya. Dia yang banyak berkorban, demi mempertahankan, satu komitmen rumitnya.

"Jeff, please, jangan seperti ini. Kita sudah membahasnya ratusan, bahkan ribuan kali kan? Dari awal, sampai pada akhirnya keputusan yang kamu ambil. Bahkan, aku mempercayakan semua milikku padamu," titah, Ainsley.

"Karena kamu menyogokku! Karena memang kamu mau mengurungku. Hah— Ainsley, aku lelah. Oke, kita buat kesepakatan, baru. Jika kamu, melahirkan, bayi laki laki, maka, aku akan tetap tinggal. But—if the baby is born a girl. I have to go." Wajah Jeffrey, terlihat begitu serius.

"What?! Jeffrey, dengar, tidak ada hubungannya, anak lelaki atau perempuan, dengan pekerjaanmu. Jika pun dia laki laki, dia juga masih bayi, tidak mungkin langsung besar, dan menggantikanmu mengurus, pekerjaan bukan?!" Ainsley, masih terlihat begitu kesal.

Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa hanya masalah anak, bahkan lelaki bisa melepaskan semua kekayaan. Tentu saja, ada. Dia yang memang terobsesi, atau teramat ingin, mimpinya terwujud, tidak lewat tangannya, tetapi lewat tangan anaknya. Bukankah, itu sangat egois?

"Jeff, ayolah. Lupakan, semuanya. Oke, oke, aku pastikan dia lelaki, tidak ada bayi perempuan. Fix, jangan mengungkit masalah ini lagi. Aku bisa stress." Gadis itu memegang tangan suaminya, dan menepuknya lirih.

Meyakinkan, bahwa bayi yang dia kandung, adalah lelaki. Meski, dalam hatinya ribuan kecemasan, ketakutan, melanda diri. Namun, rasa cinta, dan tulusnya pada Jeffrey seakan mengalahkan segalanya.

Jeffrey, menggedikkan bahunya. Kemudian, dia menghembuskan napas dengan perlahan. Mengontrol dirinya, agar tetap tenang. Bagaimana pun dia lelaki yang jauh lebih matang dari Ainsley, usia mereka terpaut delapan tahun.

Ainsley sembilan belas tahun, dan yah— dua puluh delapan tahun untuk Jeffrey. Lelaki itu, memeluk gadis kecil yang dihadapannya. Melupakan, pertengkaran yang baru saja mereka jalani.

"Okay, i'm sorry. Mungkin, aku masih butuh banyak waktu, untuk menghadapi dunia baruku, Ains. Kamu tahu, sejak dulu, aku tidak pernah memegang berkas apapun. Yang aku, sentuh hanya stang motor, peralatan untuk memperbaiki, motorku, lahan sirkuit, dan— kamu."

Pria itu mengulas senyum, dan menarik dagu, Ainsley, kemudian mencium kening wanita itu. "Maafkan, aku," sesal Jeffrey.

Ainsley mengangguk, "it's ok. Aku paham, aku mengerti. Kamu adalah laki laki hebat, Jeff. Dalam sebulan, kamu bisa menaikkan saham kita. Tenanglah, kamu tetap akan menjadi pembalap profesional, hanya untukku," kikih Ainsley. Mereka tersenyum, dan kembali berpelukan.

***

Matahari telah menyingsing, cahaya jingga, membuat bayangan panjang. Semua aktivitas di luar ruangan, telah berpindah, ke dalam gedung. Makan malam, berbincang, bercanda, tertawa bersama.

Jovanca, sudah siap menghadapi meja penuh dengan santapan lezat. Perutnya memang sudah berdemo, minta segera diisi. Dia keluar dari kamar, dengan balutan dress berwana merah, diatas lutut, dan dengan punggung yang terbuka. Rambut merahnya seakan menyatu dengan baju yang dia kenakan.

Akan tetapi, dia mengikat rambutnya, tinggi tinggi. Begitu terlihat jelas, leher yang jenjang, dan menggoda. Alasannya, simpel, karena dia tidak mau, sehelai rambut masuk ke mangkuk supnya. Mungkin—

Akankah sesuatu akan terjadi, di malam pertama tour gila' yang mereka lakukan?

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED