Bab 1

Tok! Tok! Tok!

"Lintar! Keluar kamu!" teriak seorang wanita paruh baya, berdiri angkuh di depan pintu rumah sederhana milik seorang pemuda yang bernama Lintar.

"Itu Bu Rasti kenapa, Mbak?" tanya seorang wanita bertubuh tambun sambil mengerenyitkan dahi. Kebetulan saat itu, ia sedang berbelanja di sebuah warung tidak jauh dari kediaman Lintar.

"Nggak tau, mungkin Bu Rasti kesurupan kali," jawab seorang wanita setengah baya sambil tertawa-tawa.

"Ah, Mbak. Bisa aja."

"Baru tau yah? Bu Rasti dari dulu emang gitu ... sombong, angkuh, dan sok kaya," sahut seorang ibu yang mengenakan kerudung biru, mencemooh sikap Rasti yang sudah bersikap keterlaluan.

Rumah sederhana yang didominasi dengan warna cat biru langit pada dindingnya, itu merupakan kediaman Lintar yang berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah penduduk lain yang ada di pinggiran jalan utama desa tersebut.

Sudah hampir 5 tahun lamanya, Lintar mendiami rumah tersebut seorang diri, karena kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan.

"Lintar!" Wanita paruh baya itu kembali berteriak dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Lintar yang saat itu masih terlelap tidur tidak mendengar suara teriakan dari Rasti—seorang wanita paruh baya yang paling angkuh di lingkungan kampung tersebut.

Karena masih belum mendapat tanggapan dari sang pemilik rumah, maka Rasti pun berteriak lagi, "Lintar! Jangan pura-pura tuli kamu, yah. Buka pintunya! Saya mau bicara penting dengan kamu." Suara teriakan Rasti semakin terdengar keras, tangannya pun tak mau berhenti terus mengetuk-ngetuk daun pintu rumah tersebut. Bahkan tak segan-segan, ia menggedor pintu rumah itu dengan kasarnya.

Dengan demikian, Lintar langsung terbangun dari tidurnya, karena merasa terganggu oleh kerasnya suara teriakan Rasti.

"Ya, Allah! Siapa sih, itu?" desisnya masih dalam kondisi mengantuk.

Setelah itu, ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan bergegas melangkah keluar dari dalam kamar. "Iya, Bu. Tunggu sebentar!" Lintar menyahut sambil melangkah ke arah pintu, kemudian langsung membukanya.

Sejatinya, Lintar masih dalam kondisi ngantuk berat, setelah semalaman tidak dapat tidur. Siang itu, ia baru saja memejamkan matanya, karena baru selesai mengerjakan tugas perusahaan dari bosnya yang ia bawa ke rumah.

Setelah pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya bertubuh gempal tengah berdiri angkuh di depan pintu rumahnya. Raut wajah Rasti tampak memerah, ketus, dan penuh amarah, sorot matanya yang tajam menatap sinis wajah Lintar.

"Bu Rasti! Ada apa, Bu?" sapa Lintar dengan sikap ramahnya. Lintar langsung mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras kediamanya, "Silahkan duduk dulu, Bu!"

"Tidak perlu!" jawab Rasti ketus.

Sekilas dapat dipahami oleh Lintar, bahwa wanita paruh baya itu sedang dilanda kegusaran. Namun, Lintar tetap menunjukkan rasa hormat dan sopan santun terhadap tamunya itu.

"Kamu sengaja tidak langsung membuka pintu karena ingin mempermainkan saya?!" bentak Rasti penuh emosi, suaranya keras terdengar sangat nyaring. Napasnya pun terdengar menderu-deru menahan rasa emosi yang berkecamuk dalam jiwa dan pikirannya.

Dua bola matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kebencian. Seakan-akan, ia hendak menelan mentah-mentah pemuda itu.

"Maaf, Bu. Tadi saya sedang tidur di dalam kamar, saya tidak mendengar teriakan Ibu, dan tidak bermaksud untuk mempermainkan Ibu," kata Lintar menjelaskan.

Rasti menarik napas dalam-dalam, matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kegusaran. "Saya ingin bicara dengan kamu," kata Rasti masih bersikap sinis.

"Ada masalah apa ya, Bu?" tanya Lintar penasaran.

Pemuda itu tetap berusaha tenang dan bersikap ramah terhadap tamunya tersebut. Karena walau bagaimanapun, Rasti adalah ibunya Eva—sahabat dekatnya.

"He, kamu jangan sok bersikap baik di hadapan saya!" bentak wanita paruh baya itu sambil menatap tajam wajah Lintar.

Meskipun sudah dibentak secara kasar, Lintar masih bersikap tenang dan tidak mau menanggapi sikap kasar dari tamunya itu. Lintar berpikir, walau bagaimanapun Rasti adalah orang yang lebih tua darinya, dan harus tetap dihormati sebagai mana mestinya.

Melihat Lintar hanya diam saja, Rasti tampak semakin geram. Lantas, ia pun kembali membentak, "Kamu punya kesalahan besar terhadap anak saya! Apa kamu tidak menyadarinya?" tanya Rasti bernada tinggi.

Lintar tampak kaget mendengar perkataan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, sikap Rasti memang sudah sangat keterlaluan. Tiba-tiba datang dan langsung memaki-maki dirinya. Meskipun demikian, Lintar tetap bersikap sabar dan berusaha tenang dalam mengendalikan amarahnya agar tidak terpancing oleh sikap angkuh wanita paruh baya itu.

Dengan lirihnya, Lintar pun kembali berkata, "Maaf ya, Bu. Kenapa Ibu tiba-tiba memarahi saya? Ada persoalan apa ya, Bu?" Lintar bertanya sambil mengerenyitkan kening.

"Saya ingatkan kamu, jangan pura-pura pikun! Kamu sudah menyakiti perasaan anak saya, kamu harus bertanggung jawab. Karena ulah kamu anak saya kabur dari rumah!" bentak Rasti. Dia sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya, sikapnya terhadap Lintar semakin kasar saja.

"Astaghfirullaahal'adziim, Ibu tidak seharusnya bersikap seperti ini!" ucap Lintar lirih.

"Kamu mau ceramah di hadapan saya?" tanya Rasti kasar.

"Mohon maaf ya, Bu. Bukan itu maksud saya, jika memang ada persoalan, sebaiknya kita selesaikan dengan baik-baik!" jawab Lintar lirih.

Lintar berusaha untuk menenangkan Rasti dengan harapan amarah dalam jiwa dan pikiran wanita paruh baya itu sedikit mereda.

"Kamu jangan coba-coba mengajari saya!" bentaknya sambil menatap tajam wajah Lintar.

Rasti merupakan orang paling kaya di kampung tersebut. Akan tetapi, banyak warga yang tidak suka terhadap dirinya, karena keangkuhan dan sikap sombong yang dimilikinya. Bahkan para tetangganya pun tidak ada yang mau bergaul dengannya.

Lintar mengerutkan kening, lalu menjawab dengan sikap tenang, "Perasaan, saya tidak pernah melakukan hal buruk terhadap putri Ibu. Hubungan saya dengan Eva baik-baik saja kok, Bu," kata Lintar berusaha membela diri.

Rasti tidak mau peduli dengan perkataan Lintar. Mendengar penjelasan Lintar seperti itu, ia malah semakin geram saja, dua bola matanya tajam menatap wajah Lintar yang berdiri di hadapannya.

"Kamu sudah menolak mentah-mentah cinta anak saya. Lantas, kamu bilang tidak ada persoalan apa-apa?!" bentak Bu Rasti.

Dengan segenap kesabaran yang dimilikinya, Lintar hanya menghela napas dalam-dalam. Tidak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya, sehingga membuat Rasti tambah semakin gusar.

"Seharusnya orang miskin seperti kamu ini bersyukur. Karena anak orang terkaya di kampung ini sudah menyukaimu!"

Perkataan Rasti sangat menyakitkan sekali. Namun, Lintar hanya diam saja, ia tidak mau meladeni kemarahan wanita paruh baya bertubuh gempal itu. Lintar tampak bingung dan harus berkata apa lagi, supaya Rasti dapat memahami penjelasan darinya. Sehingga, Lintar mulai mengambil sebuah keputusan untuk mengalah, karena tidak ada faidahnya jika terus berdebat terlalu lama dengan wanita paruh baya yang super sombong itu.

Lintar menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata lagi, "Baik, Bu. Saya akan mencari Eva sampai saya menemukannya" tegas Lintar.

* * *

Bab 2

Rasti menudingkan jari telunjuknya ke arah Lintar sambil melotot tajam. "Saya pegang ucapan kamu! Kalau kamu bohong, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan kamu kepada pihak kepolisian!" kata Rasti melontarkan ancaman.

"Iya, Bu. Saya akan segera mencari anak Ibu," jawab Lintar.

"Harus kamu ketahui! Bahwa kedatangan saya ke rumah ini, bukan untuk meminta kamu agar menerima cinta anak saya. Karena saya tidak sudi punya menantu miskin seperti kamu!" pungkasnya langsung berlalu dari hadapan Lintar tanpa mengucapkan salam.

Semua kalimat yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, sungguh menyakiti perasaan Lintar. Secara tidak langsung, Rasti pun sudah mempermalukan Lintar di hadapan para tetangganya yang saat itu mengetahui kedatangan orang kaya angkuh itu. Bahkan, kemarahan yang ditunjukkan oleh Rasti menjadi sebuah tontonan warga yang ada di sekitaran rumah Lintar.

Warga sekitar merasa iba melihat pemandangan seperti itu, bahkan mereka pun turut berkomentar atas sikap Rasti.

"Urusan cinta ditolak mau bawa-bawa pihak kepolisian," gerutu salah seorang tetangga dekatnya Lintar.

"Sekalian aja lapor ke presiden!" sahut yang lainnya geram terhadap sikap wanita paruh baya itu.

Para tetangga dekatnya sangat prihatin melihat Lintar yang hidup sebatang kara, dicaci-maki oleh Rasti. Mereka sangat mengenal siapa itu Lintar? Dia adalah seorang pemuda yang baik dan sopan terhadap sesama.

"Kejam banget ya, Bu Rasti? Kasihan si Lintar, baru bangun tidur sudah dimaki-maki," desis Rika yang merupakan tetangga dekatnya Lintar.

"Biasanya kalau orang sering dihina, akan diangkat derajatnya oleh Allah. Begitu pun sebaliknya, bagi orang yang suka menghina. Maka, hidupnya akan cepat hancur," sahut seorang pria paruh baya yang tengah duduk santai menikmati segelas kopi hitam di beranda warung tersebut.

"Memang benar, Pak Giman. Ibarat kata pepatah, api yang cepat menyala akan cepat padam, begitu pun dengan kesombongan. Sudah barang tentu, kesombongan Bu Rasti akan mencelakai dirinya sendiri," tandas Rika berpaling ke arah Giman.

"Saya juga kemarin ketemu Bu Rasti di minimarket. Disapa sopan-sopan sama saya, eh malah buang muka. Jadi malu sendiri saya," sahut seorang ibu yang sebaya dengan Rika.

"Lagian, Ibu gak ada kerjaan menyapa orang sombong seperti itu," kata sang pemilik warung.

* * *

Pukul empat sore, Lintar sudah bersiap untuk segera berangkat mencari Eva. Ia tetap berusaha untuk bertanggung jawab atas kaburnya Eva, meskipun itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya.

"Kalau tahu persoalannya akan seperti ini, mungkin dari dulu aku tidak akan mendekati si Eva," gerutu Lintar sambil menutup pintu dan langsung melangkah menghampiri motor matic tua kesayangannya yang warna bodinya sudah usang tidak mengkilap lagi.

"Lintar!" teriak seorang pria paruh baya langsung melangkah menghampiri Lintar yang sudah bersiap hendak berangkat mencari Eva.

Lintar berpaling ke arah pria paruh baya itu. Lantas, ia menjawab, "Iya, Pak. Ada apa?" tanya Lintar lirih.

"Kamu mau ke mana, Tar?" tanya pria paruh baya itu, berdiri di hadapan Lintar.

"Mau mencari Eva, Pak Giman," jawab Lintar dengan sikap ramah.

"Ya, Allah! Lintar. Biarkan saja, itu, 'kan bukan kesalahan kamu. Kenapa harus repot-repot menuruti perintah Bu Rasti?"

"Tidak apa-apa, Pak. Walau bagaimanapun, Eva adalah sahabat baik saya. Jadi, saya juga harus bertanggung jawab, saya takut terjadi apa-apa dengan Eva."

Giman menghela napas panjang, ia tersenyum lebar menatap wajah pemuda tampan itu. "Kamu sangat baik dan bersikap bijaksana. Ya, sudah. Semoga kamu dapat secepatnya menemukan Eva," ucap Giman lirih.

"Iya, Pak," kata Lintar balas tersenyum. Setelah itu Lintar langsung pamit, dan langsung menjalankan motornya berlalu dari hadapan pria paruh baya itu.

Saat itu Lintar langsung menuju ke rumah Devia dengan mengendarai motor matic warisan almarhum ayahnya. Lintar sangat yakin bahwa Eva pasti ada di rumah Devia.

"Semoga saja, Eva ada di rumah Devia. Ya, Allah! Tolonglah hamba!" desis Lintar sambil terus melajukan motornya menyusuri jalan utama desa yang tembus hingga ke sebuah kompleks perumahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa tempat tinggalnya.

Perjalanan menuju ke kediaman Devia hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja. Ketika sudah tiba di depan rumah Devia yang berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah megah yang ada di kompleks perumahan tersebut. Lintar langsung menepikan motornya tepat di bahu jalan dekat pintu gerbang rumah itu.

Seorang pria paruh baya tersenyum lebar menyambut kedatangan Lintar. Ia langsung melangkah menghampiri Lintar yang baru saja turun dari motornya.

"Selamat sore, Nak Lintar," ucap pria paruh baya itu.

"Iya, Pak Edi. Selamat sore juga," jawab Lintar tersenyum lebar sedikit membungkukkan badan.

"Kenapa motornya tidak sekalian dimasukkan saja, Nak Lintar?!" tanya Edi meluruskan pandangannya ke wajah Lintar.

"Tidak apa-apa, Pak. Di sini saja, saya tidak lama kok," jawab Lintar lirih. "Ngomong-ngomong, Devianya ada, Pak?" sambung Lintar bertanya.

"Ada, tadi saya lihat Non Devia sedang ngobrol dengan Non Eva," jawab pria paruh baya itu.

Lintar tampak semringah setelah mendengar bahwa Eva ada di rumah tersebut. "Jadi, Eva sedang bersama Devia, Pak?" tanya Lintar lagi.

"Iya, ada. Non Eva sudah dua malam menginap di sini."

"Alhamdulillah! Ya, Allah!" ucap Lintar tampak senang mendengar jawaban dari petugas keamanan itu.

Dengan demikian, Lintar langsung pamit kepada Edi dan segera melangkah menuju beranda rumah tersebut. Memang benar apa yang dikatakan oleh Edi, Devia saat itu tengah berbincang santai dengan Eva di teras rumahnya. Gadis cantik berkulit putih itu tampak senang ketika melihat kedatangan Lintar.

"Ya, Allah! Lintar! Akhirnya datang juga," desis Devia tersenyum lebar meluruskan pandangannya ke arah Lintar.

Lintar hanya tersenyum sambil melangkah menuju ke arah beranda rumah sahabatnya itu, kemudian mengucapkan salam, "Assalamualaikum."

"Waalaikum salam," jawab Devia dan Eva.

Devia langsung bangkit dan segera mempersilahkan Lintar untuk duduk, "Silahkan duduk, Tar!"

"Iya, Dev. Terima kasih." Lintar pun segera melangkah, kemudian duduk di sebuah kursi bersebelahan dengan Eva.

"Kamu pasti mau menjemput Eva. Iya, 'kan?" tanya Devia tersenyum-senyum menatap wajah Lintar.

Lintar balas tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala. Kemudian berpaling ke arah Eva yang tampak biasa-biasa saja.

Sikap Eva tampak dingin tidak sebahagia Devia dalam menyambut kedatangan Lintar, Eva tidak mempedulikan adanya Lintar di sebelahnya. Terpancar jelas dari raut wajahnya, ada sebuah perasaan kesal dan benci terhadap Lintar yang sudah menolak mentah-mentah cinta dan kasih sayangnya.

Sebagai seorang tuan rumah, tentu Devia merasa tidak nyaman melihat sikap Eva seperti itu. Lantas, ia pun berkata, "Eva, kamu tidak boleh bersikap seperti ini! Kasihan Lintar yang sudah datang menemui kita di sini." Devia memandang lekat wajah sahabat baiknya itu.

"Maafkan aku, Va. Kita ini sudah lama bersahabat, aku tidak mau karena persoalan kecil kita jadi bermusuhan," kata Lintar mulai angkat bicara.

"Percuma saja kita bersahabat. Kamu tidak menghargai perasaanku." Eva menyahut tanpa menoleh sedikit pun ke arah Lintar, ia terus buang muka. Seakan-akan tidak mau melihat wajah Lintar.

"Eva! Lintar, 'kan sudah minta maaf," timpal Devia.

* * *

Bab 3

Eva hanya diam saja tidak menyahut perkataan dari Devia, dua bola matanya tampak kosong memandang jauh ke depan. Entah apa yang tengah ia pandang kala itu?

Lintar menarik napas dalam-dalam, kemudian berpaling ke arah Devia yang sedari tadi memandangi dirinya. Lintar memberikan isyarat kepada Devia, seakan-akan meminta bantuan kepada sahabatnya itu agar mau membujuk Eva supaya tidak marah lagi kepadanya.

Devia pun memahami apa yang diisyaratkan oleh Lintar. Lantas, Devia bangkit dan sedikit menggeser kursi tempat duduknya lebih mendekat ke arah Eva. Kemudian, ia duduk kembali, dipandanginya wajah sahabatnya itu.

"Kamu tidak boleh bersikap seperti ini! Walau bagaimanapun, Lintar ini adalah sahabatmu, sahabat kita berdua! Kawan baik kita, dan merupakan seorang kakak yang baik untuk kita yang masih polos ini," kata Devia memberikan nasihat kepada kawan baiknya itu.

Eva hanya diam saja, ia tidak menyahut sepatah kata pun. Seakan-akan tidak mau mendengar nasihat dari Devia.

"Segala masalah di dunia ini akan hilang jika kita saling bicara, bukannya saling membicarakan satu sama lain." Devia terus memberikan nasihat kepada Eva dengan harapan sahabat baiknya itu tidak bersikap seperti itu lagi di hadapan Lintar.

'Persahabatan itu lembut seperti gelas, sekali pecah itu dapat diperbaiki tapi tidak dengan retakan dan serpihannya.' batin Eva.

Setelah lama diam, akhirnya Lintar mulai membuka mulut di hadapan Eva dan Devia. Ia menghela napas dalam-dalam, dua bola matanya lurus memandang wajah Eva yang duduk bersebelahan dengan Devia.

"Aku mohon ... tolong berikan waktu untuk aku! Supaya aku bisa memutuskan hal yang terbaik, aku menolak cintamu bukan karena tidak menyayangimu. Semua demi kebaikan persahabatan kita untuk saat ini!" timpal Lintar bersuara lirih. "Aku harap kamu mengerti, biarkanlah waktu yang akan menjawab semuanya!" sambung Lintar berusaha memberikan penjelasan atas keputusannya yang sudah menolak cinta Eva.

Demikianlah, setelah mendengar kalimat yang terucap dari mulut Lintar, Eva mulai mengangkat wajahnya. Gadis itu tersenyum dingin menatap wajah pria tampan yang sangat dicintainya.

"Ya, aku mengerti," kata Eva singkat, kemudian kembali menundukkan kepala.

Lintar dan Devia tersenyum lebar. Mereka saling berpandangan tampak bahagia, karena Eva sudah mulai membuka diri untuk memaafkan Lintar.

"Nah, seperti itu. Kita ini sahabat sejak dulu, jadi tidak elit banget kalau harus pecah gara-gara perasaan cinta," kata Devia sambil tertawa kecil.

"Ah, kamu, Dev. Bisa saja," hardik Eva mendelik ke arah Devia.

Devia pun tertawa lagi ketika melihat Eva yang tersipu-sipu mendengar perkataan darinya, "Hahaha...."

"Sekarang kamu ikut pulang denganku, yah?! Ibumu sangat mengkhawatirkan kamu, Va!" ajak Lintar lirih, dua bola matanya terus memandangi wajah Eva yang cantik itu.

Eva menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Tidak usah, Tar! Aku bisa pulang sendiri, kok."

"Baiklah, kalau memang kamu tidak mau pulang bersamaku. Tapi kamu janji! Harus pulang hari ini!" kata Lintar terus memandangi wajah Eva yang duduk di sebelahnya. "Tadi ibumu datang ke rumahku. Ibumu bilang, jika hari ini kamu tidak pulang, maka dia akan melaporkan aku ke pihak kepolisian," tambah Lintar memberitahu Eva tentang ancaman dari ibunya.

"Iya, aku janji. Hari ini aku pasti pulang, kok. Maafkan atas sikap ibuku ya, Tar," sahut Eva meyakinkan Lintar yang masih penuh keraguan terhadap dirinya.

Dengan demikian, Lintar sedikit merasa lega. Lantas, ia pun langsung pamit saat itu juga kepada Devia dan juga Eva, karena Lintar ada urusan penting dengan Dani sore itu.

Setelah berlalunya pria tampan dari hadapannya, Eva pun kembali melanjutkan perbincangannya dengan Devia.

"Ternyata apa yang kamu katakan tadi benar, Dev. Lintar akhirnya datang juga ke sini," kata Eva lirih.

"Tapi—" Devia tidak melanjutkan perkataannya.

"Tapi kenapa, Dev?" tanya Eva tampak penasaran.

Sedikit ragu-ragu, Devia pun menjawab, "Itu, masalah ibumu mau melaporkan Lintar kepada polisi. Itu sungguhan, Va?"

"Ah, kamu! Kamu, 'kan tahu sendiri ibuku seperti apa?"

Dengan demikian, Devia pun tersenyum lebar. Lantas, ia coba mengalihkan pembicaraan.

"Aku yakin! Sebenarnya Lintar itu menyayangi kamu. Akan tetapi, ada hal lain yang menjadi penghalang, sehingga Lintar tidak menerima cinta kamu," imbuh Devia berkesimpulan.

Bola mata Eva tampak membulat menatap wajah Devia, ia penasaran dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.

"Maksud kamu penghalang apa?" tanya Eva mengerutkan kening.

"Hemmm! Sudahlah, nanti juga kamu tahu sendiri apa yang menjadi penyebabnya," jawab Devia enggan mengatakan sesuatu yang baru ia duga. Tentang alasan Lintar menolak cinta sahabatnya itu.

"Kamu itu tidak jelas kalau bicara!" hardik Eva mendelik ke arah Devia.

"Sudahlah, kita bahas nanti saja! Sekarang kita makan dulu!" sahut Devia bangkit dan langsung mengajak Eva untuk segera masuk ke dalam rumah.

* * *

Keesokan harinya....

Sekitar pukul delapan pagi, Lintar menyempatkan diri berkunjung ke rumah Eva, karena ia ingin memastikan bahwa Eva benar-benar sudah memaafkan dirinya. Sebelum berangkat ke rumah Eva, Lintar meneleponnya terlebih dahulu. Kebetulan saat itu Rasti tidak ada di rumah, sehingga LIntar dan Eva menjadi lebih leluasa lagi dalam melakukan perbincangan.

"Assalamualaikum," ucap Lintar lirih.

"Waalaikum salam," sahut Eva yang saat itu sedang berada di teras rumah. Eva langsung mempersilahkan duduk kepada sahabatnya itu, "Silahkan duduk, Tar!"

Lintar hanya mengangguk dan langsung duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah tersebut. Setelah itu, Lintar langsung berbincang dengan Eva.

"Aku harap kamu tidak marah lagi, karena sedikit pun aku tidak bermaksud hendak menyakiti perasaan kamu, Va," ucap Lintar di sela perbincangannya dengan Eva.

"Iya, Tar. Aku juga paham," jawab Eva masih bersikap dingin.

Lintar tersenyum lebar dan merasa lega mendengar perkataan dari sahabatnya itu. Meskipun ia tahu, bahwa Eva masih kecewa dengan keputusannya yang sudah menolak cinta sahabat baiknya itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan Eva, Lintar langsung pamit kepada sahabatnya itu. Ia khawatir jika kedatangannya diketahui oleh Rasti, sudah barang tentu dia akan marah besar jika mengetahui Lintar datang menemui putrinya.

"Aku pulang sekarang ya, Va. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, takut ibumu keburu pulang," kata Lintar bangkit dari duduknya.

"Iya, Tar. Maafkan aku yah, aku terlalu banyak berharap sama kamu."

"Iya, Va. Tidak apa-apa."

Setelah itu, Lintar langsung mengucap salam dan berlalu dari hadapan Eva. Lintar melangkah dengan iringan tatapan bola mata Eva yang berkaca-kaca, seolah Eva merasa sedih dengan semua keputusan Lintar yang tidak mau membuka hati untuknya.

Ketika Lintar sedang berjalan. Tiba-tiba saja, sebuah mobil sedan putih berhenti di bahu jalan yang hendak dilaluinya. Mobil tersebut dalam posisi menghalangi langkahnya. Lintar tampak kaget sekali dengan pemandangan seperti itu.

"Astaghfirullahal'adzim," ucap Lintar langsung menghentikan langkahnya.

Mobil tersebut adalah mobil Rasti yang baru saja pulang. Setelah menghentikan laju mobilnya, Rasti langsung keluar dari mobil tersebut.

"He, kamu habis dari rumah saya?" tanya Rasti bernada tinggi.

"I—iya, Bu," jawab Lintar gugup.

Mendengar jawaban Lintar, Rasti tampak geram sekali. "Mau apa kamu datang ke rumah saya?"

* * *

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED