"Yunara Salim, maukah kamu menikah denganku?!"
Yuna menatap pria yang berlutut di hadapannya ini dengan mata berkaca-kaca, dia terharu sekaligus bahagia.
Setelah 3 tahun menjalin hubungan tanpa kepastian, akhirnya kata-kata ini keluar juga dari mulut seorang Ivander Adi Sanjaya, seorang pengusaha muda sukses, yang paling digilai kaum hawa seantero negeri.
Tadinya Yuna sempat berpikir Ivan tidak berniat menikahinya, karena pria itu selalu bersikap dingin, dan dulu pernah sekali ingin memutuskan hubungan dengannya.
Tapi, semua kekhawatirannya itu lenyap berganti kelegaan, karena malam ini tepat di hari ulang tahunnya, Ivan melamarnya.
Di sebuah restoran berbintang yang berada di pinggir pantai, dengan diiringi alunan musik romantis dari pemain musik ternama yang sengaja didatangkannya, juga ditemani deburan ombak, dan disaksikan cahaya bulan, Ivan berlutut sambil memegang cincin di tangannya, menyatakan keinginannya untuk menikahinya.
Wanita mana yang tidak terharu jika dihadapkan dengan acara lamaran seperti itu, apalagi Ivan sengaja menghiasi tempat itu dengan puluhan lilin dan ratusan mawar segar kesukaan Yuna, hanya untuk mempersembahkan makan malam romantis buatnya.
Dia bahkan sengaja mengosongkan seluruh restoran itu, agar momen romantis malam ini tidak diganggu oleh siapapun.
Namun di tengah kebahagiaan Yuna saat ini, ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya.
Ivan berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Dia seorang pria sholeh, yang memegang teguh pada nilai-nilai agama. Ivan sangat mementingkan keperawanan seorang wanita, sedangkan Yuna sudah tidak memilikinya lagi.
Ya, dia telah kehilangan itu sejak masih SMA. Akibat gaya berpacaran yang salah, juga kurangnya perhatian dari orang tuanya, sehingga Yuna menyerahkan satu-satunya harta paling berharganya pada pacarnya saat itu.
Kini terjadi peperangan di hati Yuna.
Hmm ... bagaimana kalau dia mengetahuinya saat malam pertama kami nanti, dan langsung menceraikanku?
Berterus terang pada Ivan juga tidak mungkin, yang ada, Ivan pasti akan langsung meninggalkannya saat ini juga.
Dulu saja Ivan tidak segan-segan memutuskan pacarnya karena ketahuan sudah tidak perawan lagi, padahal pacarnya saat itu juga sangat cantik.
Jadi, kecantikan Yuna, tidak akan membantunya saat ini.
Dan tentu saja, saat Ivan meninggalkannya nanti, di luaran sana pasti akan banyak wanita yang berlomba untuk menggantikan posisinya.
Yuna sungguh tidak rela melepaskan pria sebaik Ivan. Pria itu tidak hanya muda, tampan, dan kaya raya, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik.
Apalagi Ivan tidak hanya bisa menaikkan status sosialnya, tapi juga merupakan tambang emas baginya. Wanita mana yang rela melepaskan pria sempurna seperti Ivan.
Ah masa bodo .... kalaupun ketahuan, bukankah setidaknya aku bisa menerima harta gono gini darinya?
Berpikir seperti itu, Yuna memutuskan untuk menerima lamaran Ivan tanpa pikir panjang lagi.
Dia segera mengulurkan tangannya dengan tersenyum bahagia, lalu menganggukkan kepalanya dengan kuat, sebagai tanda setuju.
Ivan memasangkan cincin ke jari manis Yuna, lalu berdiri, dan memeluk wanita itu.
Tidak seperti wajah pria yang bahagia karena lamarannya baru saja diterima oleh pujaan hatinya, wajah Ivan justru terlihat datar. Tidak ada raut kebahagiaan sama sekali.
Ivan mengajak Yuna duduk di satu-satunya meja yang ada di tempat itu, lalu fokus menyantap makanannya dalam diam.
Yuna tidak terpengaruh dengan sikap Ivan, dia sedari tadi sibuk memperhatikan cincin yang ada di tangannya.
Dia bahkan mengabaikan daging steak yang ada di hadapannya, saking bahagianya.
Usai menghabiskan makan malamnya, Ivan mengajak Yuna meninggalkan restoran.
"Sekarang kita mau ke mana, Sayang?"
Yuna yang mengira Ivan masih mempunyai kejutan lain untuknya, bertanya dengan antusias.
Namun jawaban Ivan seketika membuatnya kecewa.
"Pulang!"
"Loh, kok, pulang, sih ... ini, kan, baru jam 9!" protes Yuna dengan wajah ditekuk.
Baginya jam 9 malam masih terlalu dini untuk pulang, apalagi ini adalah hari spesialnya. Tentu saja dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ivan.
"Hari ini aku lelah, dan ingin istirahat!"
Mendengar jawaban Ivan, membuat Yuna tiba-tiba memikirkan sebuah ide.
Ya, benar.... kenapa aku tidak membawanya check-in di hotel, dan membuatnya mabuk saja. Setelah dia mabuk, dia tidak akan menyadari aku masih perawan atau tidak. Jadi saat malam pertama nanti, dia tidak akan bertanya lagi.
"Bagaimana jika kita ke hotel saja, Sayang ... aku yakin di sana nanti semua rasa lelahmu akan hilang!"
Yuna berbisik ke telinga Ivan dengan nada menggoda, sambil memeluk lengan kokoh pria itu yang sedang memegang kemudi.
Tidak hanya itu, sebelah tangannya juga bergerak membuka kancing teratas Ivan, bermaksud menelusupkan tangannya ke balik kemeja pria itu.
Namun sebelum Yuna berhasil menyentuh dadanya, Ivan segera menangkap tangan Yuna, dan menepisnya dengan kasar, lalu menarik lengannya yang dipeluk Yuna tadi.
"Yuna, jaga sikapmu! Aku sedang menyetir!" hardik Ivan sambil tatapannya tetap menatap ke depan jalan.
Yuna menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dengan kesal. Melihat Ivan mulai marah, dia tidak berani mengganggunya lagi.
"Baiklah, Sayang! Aku akan sabar menunggu, hingga kita tiba di hotel nanti!"
"Yuna, sebagai gadis baik-baik, apa kamu tidak malu bicara seperti itu?"
"Apa salahnya, sih ... toh, kita juga sebentar lagi akan menikah! Jaman sekarang, sangat wajar jika pasangan melakukan itu sebelum menikah!" jawab Yuna dengan sewot.
"Meskipun kita akan menikah, tapi aku tetap pada prinsipku untuk tidak melakukannya sebelum kita benar-benar sah sebagai suami istri!" tegas Ivan.
Wajah Luna langsung cemberut begitu mendengar jawaban Ivan.
Inilah yang tidak disukainya dari Ivan, pria itu terlalu kaku dalam memperlakukan pasangannya.
Sejak Yuna mengenal Ivan tiga tahun yang lalu, dan mereka resmi mengumumkan pertunangan mereka, pria itu tidak pernah sekalipun mau diajak berhubungan intim.
Jangankan melakukan itu, berciuman saja mereka tidak pernah.
Padahal menurut Yuna, itu merupakan bentuk ungkapan cinta seseorang terhadap pasangannya.
Itulah kenapa terkadang Yuna bermain mata dengan pria lain tanpa sepengetahuan Ivan, berharap bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya.
Namun diakuinya, tidak ada pria yang sebaik Ivan. Meskipun sikap Ivan terkesan dingin dan kaku, tapi pria itu sangat royal terhadapnya. Itulah sebabnya kenapa Yuna merasa sayang kalau sampai kehilangan pria sebaik Ivan.
Setibanya di depan rumah Yuna, Ivan segera turun, dan membukakan pintu untuk Yuna.
"Turunlah!" perintah Ivan.
Dengan wajah yang masih cemberut, Yuna terpaksa keluar dari dalam mobil.
"Sudah malam, sebaiknya aku langsung pulang saja. Tolong sampaikan permintaan maafku pada om Ardy karena tidak bisa mampir!"
Usai mengatakan itu, Ivan langsung membuka pintu mobilnya, namun belum sempat dia masuk, protes dari Yuna menghentikannya.
"Kamu tidak menciumku dulu?"
"Yuna, sudah berapa kali aku bilang, kita baru bisa melakukannya setelah menikah!" tolak Ivan dengan tegas.
"Tapi, kita juga sudah akan menikah, apa salahnya, sih...! Ayolah, ini hanya sebuah ciuman, semua pasangan juga melakukannya!" bujuk Yuna lagi.
Kali ini Yuna bertekad tidak akan membiarkan Ivan pulang sebelum mendapatkan keinginannya.
Ivan menghela napas panjang. Dia tidak ingin waktunya terbuang karena rengekan Yuna.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Ivan maju menghampiri Yuna, lalu mencium pipinya.
Hal itu justru membuat wajah Yuna semakin cemberut dibuatnya.
Kenapa dia masih saja mencium di pipi, dan bukannya di bibir? gerutu Yuna dalam hati
Bukankah berciuman di bibir merupakan hal yang wajar bagi sepasang kekasih?
Apalagi sebentar lagi mereka akan menikah.
Berpikir seperti itu, wajah Yuna semakin cemberut.
"Baiklah, aku pulang dulu! Assalamualaikum...!" pamit Ivan lagi tanpa mempedulikan wajah kesal Yuna.
Dia langsung masuk ke mobilnya dan pergi dari sana.
Kini wajah Yuna tidak hanya cemberut, tapi sudah diliputi kemarahan.
Pria itu dengan tega langsung meninggalkannya, tanpa menunggunya masuk rumah terlebih dahulu.
Tidak hanya tidak peduli, Ivan bahkan tidak memberikan kado, ataupun ucapkan selamat ulang tahun padanya.
Yuna menatap tidak percaya ke arah mobil yang perlahan menghilang di hadapannya.
Dengan perasaan marah Yuna memencet bel pagar rumahnya berkali-kali.
Ting tong ... ting tong....
Pagar rumahnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar satu setengah meter saja, sehingga dari balik pagar, Yuna bisa melihat seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar, berjalan setengah berlari ke arah pintu pagar.
Dia adalah bi Sumi, asisten rumah tangga (ART) yang paling lama bekerja di rumah itu, dan mungkin satu-satunya asisten yang masih betah bertahan di sana.
Tadinya mereka memiliki tiga ART termasuk bi Sumi, namun dua di antaranya tidak pernah bertahan lama, karena tidak tahan dengan sikap kasar Yuna, atau dipecat Yuna.
"Kok lama sekali, sih, Bi....! Bisa kerja gak, sih...!? Kok lelet amat jadi orang!"
Yuna langsung menumpahkan kekesalan yang ditahannya sejak tadi, pada bi Sumi.
"Maaf, Non ... tadi bibi sibuk nyuci piring di dapur!"
Bi Sumi yang sudah terbiasa dengan sikap kasar Yuna, menjawabnya dengan maklum.
Yuna langsung berjalan masuk, tanpa mempedulikan bi Sumi yang masih mengunci pagar.
Saat membuka pintu, dilihatnya papanya masih duduk di sofa ruang tamu, dengan koran di tangannya.
Entah sudah berapa lama pria paruh baya itu ada di sana, karena cangkir kopi yang ada di hadapannya telah habis.
"Oh, baru pulang, Yuna ...!" sapa pria paruh baya itu, begitu mendengar pintu ruang tamu dibuka seseorang.
Dia langsung melipat koran di tangannya, dan meletakkannya begitu saja di atas meja.
Dia adalah Ardy Salim, ayah Yuna.
Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, dia masih saja berpenampilan seperti anak muda di jamannya.
Dengan gaya rambut yang sengaja dibuatnya gondrong, dengan poni panjang berbelah tengah, justru membuatnya terlihat seperti preman pasar.
Mungkin juga dia sengaja berpenampilan seperti itu mengingat pekerjaannya sebagai kreditur, atau lebih tepatnya, rentenir.
Ya, pekerjaan Ardy memang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi.
Bagi orang lain, itu merupakan riba yang di haramkan, tapi bagi Ardy sendiri, dia justru merasa telah menolong orang yang sedang kesusahan.
Yuna duduk di sebelah Ardy, lalu memperlihatkan cincin di jarinya.
"Jadi, dia telah melamarmu?" seru Ardy senang sambil meraih tangan Yuna, dan memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Hahaha ... akhirnya aku bisa mempunyai menantu kaya!"
Ardy tertawa senang lalu memeluk Yuna.
"Astaga Yuna, apa benar Ivan telah melamarmu?!"
Seruan seorang wanita yang baru saja turun dari lantai-2, membuat Ardy dan Yuna berpaling ke arahnya.
Wanita itu adalah Soraya, ibu sambung Yuna. Penampilannya juga tidak jauh berbeda dari Ardy, sama-sama terlihat seperti anak muda di era 80-an.
Rambutnya sengaja dibuatnya bergelombang, dengan rambut depan yang di blow tinggi ke samping.
Sepertinya, kedua orang itu masih saja terpaku dengan masa mudanya.
Namun tidak seperti ibu sambung pada umumnya yang memperlakukan anak sambungnya dengan kejam, Soraya justru memperlakukan Yuna dengan baik.
Dia seorang janda tanpa anak sebelum menikah dengan Ardy.
Dulu mereka bisa menikah, juga karena sering bertemu di sebuah klub malam.
Maklum, keduanya mempunyai hobi yang sama, suka clubbing dan minuman beralkohol.
Mungkin itu juga sebabnya Yuna memiliki kebiasaan yang sama seperti mereka.
Meski usianya sudah menginjak 45 tahun, namun Soraya terlihat masih seperti berusia 30-an.
Itu karena dia sangat menjaga tubuhnya dan rutin melakukan perawatan di salon.
Mungkin juga karena dia belum pernah melahirkan, sehingga bentuk tubuhnya tidak berubah.
Soraya memang tidak ingin punya anak, agar bentuk tubuhnya tetap terjaga.
Dia tidak ingin bernasib sama seperti wanita kebanyakan, yang diceraikan, karena tubuhnya sudah terlihat tidak menarik lagi. Oleh karena itu, dia bersikap baik pada Yuna, agar Yuna kelak juga bersikap baik padanya.
Namun bersikap baik, bukan berarti Soraya menyayangi Yuna.
Sejak kecil, Yuna tidak pernah diurus olehnya.
Soraya tidak pernah peduli dengan Yuna, apalagi sampai memberikan kasih sayang seorang ibu padanya.
Soraya langsung mengambil tempat duduk di samping Yuna, dan ikut meraih tangan Yuna untuk memperhatikan cincinnya.
"Yuna, indah sekali cincin ini ... berliannya juga sangat besar!" komentar Soraya dengan mata berbinar.
Yuna tidak menjawab, dia menarik tangannya, lalu duduk dengan wajah ditekuk.
"Hei, kenapa dengan ekspresimu itu, Yuna?!" Soraya bertanya dengan heran.
"Aku hanya lelah, Tan!" jawab Yuna dengan malas.
"Lalu, kapan Ivan dan keluarganya akan datang melamar secara resmi?" tanya Ardy dengan antusias.
"Entahlah, Pa, aku juga belum tahu!"
"Sayang, kalau begitu besok kami harus ke salon dan butik buat persiapan. Aku butuh uang 25 juta!"
Soraya langsung menodong Ardy dengan meminta uang.
"Ya, besok aku transfer!" jawab Ardy dengan enteng.
Tidak masalah dia harus menghabiskan uang untuk mempercantik Yuna di acara lamarannya nanti. Baginya ini sebuah investasi, karena apa yang akan didapatkannya dari menantu kayanya itu, jauh lebih besar.
Yuna tidak peduli dengan pembicaraan Soraya dan Ardy, dia langsung pamit untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai-2.
Rumah itu terdiri dari dua lantai, dengan 3 kamar tidur.
Dua kamar terletak di lantai atas yang merupakan kamar utama, dan satunya lagi berada di lantai bawah, yang merupakan kamar untuk asisten rumah tangga, dan semua kamar di rumah itu, dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya.
Rumah tipe 60 yang berada di kawasan orang kaya itu memang sengaja dibeli Ardy, untuk menaikkan status sosial mereka. Tujuannya tidak lain agar Yuna bisa menikah dengan orang kaya.
Di kamarnya, Yuna berendam sambil memperhatikan tablet di tangannya.
Sesekali dia menggeser layar, mencari dokter bedah terbaik untuk melakukan operasi hymenoplasty.
Yuna berpikir untuk menjalani operasi selaput dara, karena dulu dia pernah mendengar dari temannya, kalau operasi itu bisa mengelabui pasangan.
Buktinya pernikahan temannya itu sampai sekarang baik-baik saja, dan suaminya itu sampai sekarang tidak tahu kalau sewaktu menikah dulu, istrinya sudah tidak perawan.
Hanya saja, Yuna tidak mungkin menanyakan dokter pada temannya itu, selain mereka tidak dekat, dia juga tidak ingin masalah ini diketahui siapapun.
Sejujurnya Yuna juga takut menjalani operasi itu, namun demi mempertahankan Ivan, dia nekat untuk melakukannya.
Sambil membaca testimoni orang yang pernah melakukan operasi itu, Yuna juga mencari tahu nama-nama dokter yang direkomendasikan mereka.
"Dokter ini sepertinya memiliki banyak ulasan positif! Hmm ... yang ini saja! Senin aku akan menemuinya untuk konsultasi!" gumam Yuna, lalu menyimpan alamat tempat praktek dokter itu, dan meletakkan tabletnya.
Yuna kembali menyandarkan kepalanya pada pinggiran bathtub dan memejamkan matanya.
Kini dia sedikit lebih tenang, karena sudah menemukan solusi atas masalahnya.
Mobil fortuner putih milik Ivan baru saja memasuki gerbang kediaman orang tuanya.
Begitu memasuki halaman, akan terlihat puluhan jenis bunga yang tertata rapi di sekitar halaman depan.
Maklum, nyonya rumah yang tidak lain adalah mamanya Ivan, sangat menyukai bunga.
Di sisi sebelah kiri bahkan terdapat sebuah rumah kaca yang juga penuh tanaman langka.
Rumah mewah bergaya eropa dengan pilar-pilar besar sebagai tiangnya itu berada di kawasan elit. Tidak sembarang orang bisa memiliki rumah di kawasan itu.
Hanya orang yang super kaya yang mampu membeli tanah yang harga permeternya bisa membuat orang tercengang.
Namun sayang, rumah dua lantai yang sangat besar dan mewah itu, hanya ramai di saat akhir pekan saja, seperti halnya hari ini.
Di hari biasa, penghuninya lebih banyak menghabiskan waktu di luar, dengan kesibukan masing-masing.
Ivan terus melajukan mobilnya hingga tiba di teras rumah utama.
Jarak dari pintu gerbang ke rumah utama, lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Tiba di teras depan, Ivan memarkir mobilnya begitu saja, dan langsung masuk ke dalam. Dia tidak perlu memasukkan mobilnya ke garasi, karena nanti akan ada pengurus rumah yang akan mengurus mobilnya.
Ivan masuk melalui pintu samping yang terhubung langsung dengan ruang keluarga. Tujuannya agar dia bisa langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai-2, karena tangga berada di ruang itu.
Namun siapa sangka, saat memasuki ruang keluarga, dilihatnya semua keluarganya masih berkumpul di sana, padahal ini sudah jam 10 malam. Biasanya di jam segitu, semuanya sudah pada tidur.
Ruangan yang tadinya ramai dengan canda tawa, tiba-tiba hening begitu melihat kedatangan Ivan.
Semua pasang mata secara bersamaan langsung menatap ke arahnya dengan tatapan ingin tahu.
"Baru pulang, Van?" tegur pria yang usianya paling tua di antara yang lainnya.
Sebagai orang yang lebih tua, dia mengambil inisiatif berbasa-basi lebih dulu.
Dia adalah Johan Sanjaya, papanya Ivan. Pria berusia 60 tahun itu masih terlihat gagah dan bugar, meskipun tampak kerutan di beberapa bagian wajahnya.
"Sini Van, cerita sama mama, apa lamaranmu di terima?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda.
Dia adalah Abigail Sunandar, mamanya Ivan.
Meski usianya sudah menginjak kepala lima, tidak tampak kerutan sama sekali di wajahnya. Bisa dibayangkan berapa banyak uang yang di habiskannya untuk mendapatkan hasil seperti itu.
Abigail sengaja menggeser duduknya, dan menepuk kursi di sebelahnya, agar Ivan duduk di sana.
"Kalian semua belum tidur?"
Bukannya menjawab, Ivan malah balik bertanya dengan heran. Dia berjalan menghampiri mamanya, dan duduk di sebelahnya.
"Kami semua menunggumu, Kak, kami penasaran ingin tahu, apa jawaban kakak ipar!" sahut wanita yang berwajah chubby dengan nada menggoda.
Dia adalah Karin Sanjaya, adik kedua Ivan. Usianya hanya selisih tiga tahun dari Ivan, namun dia telah berkeluarga dan memiliki sepasang anak, bernama Adelia ( 3 thn ) dan Azka ( 1 thn ).
Wanita berambut sebahu itu memang terlihat lebih berisi usai melahirkan anak keduanya. Namun untungnya dia memiliki tubuh yang cukup tinggi, sehingga tersamarkan.
Sejak menikah, Karin ikut tinggal bersama suaminya. Hari ini dia ada di sana karena biasanya setiap akhir pekan, dia akan membawa keluarga kecilnya untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Astaga, jadi kalian semua berada di sini, hanya untuk menanyakan ini?" Ivan menatap tidak percaya ke arah semua yang hadir di sana.
"Aku tadi sudah membujuknya untuk tidur, Kak, tapi dianya ngotot ingin menunggu Kakak pulang!" sahut seorang pria muda yang duduk di samping Karin.
Dia adalah Andre Prasetyo, suami Karin. Dia memiliki sebuah showroom mobil di Jakarta. Dia dan Karin tadinya teman kuliah, dan setelah lulus, Andre memutuskan untuk melamarnya.
Sama seperti Karin, Andre juga memiliki tubuh yang sedikit gemuk. Tapi, jika Karin gemuk karena habis melahirkan, Andre justru sudah gemuk sejak dia masih kuliah dulu.
"Lalu, kamu Key, masih di sini, apa mau menanyakan hal itu juga?"
Ivan menatap tajam pada gadis berusia 20 tahun yang ada di seberangnya.
Gadis yang ditatap Ivan langsung nyengir salah tingkah
"Hehehe ... Kakak tau aja!"
Dia adalah Keyla Sanjaya, adik ketiga sekaligus adik paling bungsu Ivan.
Keyla masih kuliah dan memiliki tubuh yang paling imut di antara kedua saudaranya.
Jika Ivan dan Karin memiliki tinggi di atas rata-rata, berbeda halnya dengan Keyla yang tingginya hanya mencapai 155cm saja.
Namun, Keyla memiliki wajah yang lebih cantik dibandingkan Karin.
Dia dan Ivan sama-sama mengambil sisi wajah Abigail.
"Kamu akhirnya memutuskan untuk menikah, tentu saja ini merupakan berita besar. Apanya yang aneh, sih!" Johan menyahut dengan nada sewot.
"Jadi bagaimana Van, apa Yuna menerima lamaranmu!" Abigail kembali bertanya dengan tidak sabar, tanpa mempedulikan komentar Johan.
Sejak semula Abigail memang yang paling antusias dengan pernikahan ini.
Saking inginnya melihat Ivan menikah, dia bahkan turun tangan sendiri menyiapkan semua kejutan hari ini.
Dari menyiapkan cincin, mengosongkan restoran, menghiasinya dengan lilin dan bunga segar, juga mendatangkan pemain musik.
Harapannya hanya satu, agar lamaran Ivan diterima.
Ivan menghela napas sejenak sebelum menjawab mamanya.
"Seperti keinginanmu, Ma, sebentar lagi kamu akan mendapatkan menantu yang kamu inginkan!" jawab Ivan dengan tidak bersemangat.
Ruangan langsung heboh begitu mendengar jawaban Ivan. Untung saja semua kamar di rumah itu kedap suara, jika tidak, pasti suara mereka akan mengganggu Azka dan Adel yang lagi tidur.
Wajah Abigail tampak bahagia mendengar kabar baik itu, saking bahagianya hingga dia tidak memperhatikan wajah tertekan anaknya.
"Okay, aku ke atas dulu! Nanti katakan saja kapan kalian akan datang melamar secara resmi!"
Ivan pamit, lalu segera naik ke lantai dua.
Saat menaiki tangga, didengarnya keluarganya masih sibuk membahas rencana lamaran nanti. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang buat mereka.
Begitu masuk ke kamarnya, Ivan langsung menuju ke kamar mandi, dan mengisi air di bathub. Dia ingin berendam sebelum tidur untuk menenangkan pikirannya yang lagi kacau. Sejujurnya dia menyesali keputusannya melamar Yuna.
"Hmm ... semoga saja apa yang aku lakukan kali ini benar!" gumam Ivan sambil menghela napas panjang.
Sama halnya seperti keluarganya, malam ini sepertinya dia juga akan sulit untuk tidur. Bukan karena bahagia, tapi karena tertekan.
Setelah mandi Ivan memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya yang pintunya terhubung langsung dengan kamarnya, untuk mengerjakan beberapa dokumen di sana.
Dia berharap dengan menyibukkan diri, dia bisa mengalihkan sejenak pikirannya tentang Yuna.