Suara langkah high heels mengetuk dinginnya lantai marmer putih. Seorang wanita cantik dengan rambut sepinggang sedikit bergelombang, ia memasuki kamarnya.
Setelah pulang dari kantor, Zeva merasa badannya sangat lelah. Mengambil ponsel dari dalam tas selempang, namun ponselnya mati.
"Ah, baterai ponselku habis. Ini gara-gara meeting tadi, sampai aku tidak sempat mengecek ponselku," Zeva menancapkan kabel charger, dan matanya melihat selembar kertas di meja itu. Dari tulisannya, Zeva sangat mengenalnya, tulisan dari Harrison, ayahnya.
[Zeva, ayah ingin kamu datang ke hotel Savoy besok malam jam 7:00 pm]
Mata Zeva melotot jika ia tidak datang, Harrison memberikan ancaman tegas tentang perusahaan kosmetiknya yang baru saja sukses dua tahun ini.
"Ayahh," Zeva menggeram kesal, ia tidak bisa membiarkan perusahaan di tutup total oleh Harrison. Susah payah ia membangun D'Glows hingga masa kejayaan sukses. Entah ada apa di hotel Savoy besok sampai Harrison menyuruhnya wajib mendatangi hotel itu.
Zeva menarik nafas dalam-dalam. Keseluruhan isi kertas itu, mengharuskannya berpenampilan cantik dan anggun.
Tidak terlalu memikirkannya, Zeva merebahkan diri diatas ranjang. Apa yang di rencanakan Harrison esok, Zeva tidak tau.
"Mama, aku merindukanmu," mata Zeva menatap langit-langit kamar, 15 tahun silam setelah kepergian Margaretha. Hanya Harrison yang menyayanginya walaupun tidak selembut Margaretha.
Disisi lain, Harrison masih berbicara dengan seseorang yang ada dalam panggilannya.
Harrison meletakkan segelas wine yang sudah habis ia minum. "Ya, saya yakin ini akan berhasil. Tenang saja, saya sudah mengaturnya. Sekarang, kamu hanya meminta anak laki-lakimu."
Mendengar jawaban dari seberang sana, bibir Harrison tersenyum lebar. Ia bersuara dalam hati, "Aku tidak tega melihat Zeva terus bekerja keras tanpa merasakan kebahagiaan, semoga saja ini pilihan yang terbaik."
***
Pagi hari, Zeva bersiap untuk berangkat kerja.
Zeva melangkah melewati meja makan yang hanya ada Harrison. Sarapan sudah terhidang diatas meja, pasti Harrison sendiri yang memasaknya.
"Zevanya, sarapan dulu. Dan, kamu jangan lupa nanti malam," ucap Harrison tanpa menoleh. Ia tau, pasti Zeva sedikit tidak terima dengan permintaannya.
"Terima kasih, saya tidak lapar," setelah mengatakan itu Zeva berlalu pergi. Sarapan satu meja dengan Harrison? Tidak mungkin baginya, Harrison akan berbuat baik jika ada maksud terselubung di baliknya. Seperti isi dari tulisan kemarin.
Ujung mata Harrison menatap Zeva hingga anak perempuannya itu menghilang di ujung pintu.
"Huh, sampai kapan kamu bersikap dingin denganku, Zevanya," gumam Harrison menghela nafas. Semenjak kematian Margaretha, sikap Zevanya berubah lebih dingin kepada dirinya,
***
Perusahaan D'Glows, memiliki 25 tingkat lantai, bangunan tinggi yang berdiri kokoh itu Zeva bangun sendiri dari hasil tabungannya sedikit demi sedikit saat Harrison memberikannya jatah uang pada saat ia masih sekolah.
Mobil hitam Lamborghini baru saja tiba di parkiran basement.
"Zevaa!" Suara sapaan ceria itu membuat Zeva menoleh saat baru saja turun dari mobilnya.
Agnes melangkah mendekati Zeva. "Mau ke kantin dulu? Tolong temani aku sarapan pagi ya," pinta Agnes memohon.
"Iya, aku juga malas sarapan di rumah," yang membuat Zeva malas itu Harrison. Tempat satu-satunya yang membuat ia nyaman adalah D'Glows, perusahaannya sendiri. Selain lingkungan kerjanya nyaman, ada Agnes dan teman-teman yang lainnya segan kepadanya.
"Karena ayahmu lagi?" Agnes sangat tau pertengkaran antara Zeva dan Harrison, Zeva sering bercerita. Menurutnya Zeva itu tidak nyaman saja karena perlakuan Harrison. Zeva hanya butuh kebahagiaan dan kasih sayang.
"Hmm. Aku nanti pulang ke lebih cepat, jadi kalau ada karyawan atau client yang tanya, bilang saja aku sudah pulang," ucap Zeva cuek, andaikan saja tidak ada permintaan Harrison itu, ia bisa saja lembur hari ini seperti biasanya, jam 9 malam pulang. Terkadang, sengaja berlama-lama di perusahaan agar ia tak bertemu Harrison.
Dari arah berlawanan, seorang pria tinggi dengan langkah lebarnya menabrak Zevanya.
Zeva tersenggol dan terhuyung jatuh. "Arghh!" Zeva meringis, tangannya tidak siap menopang tubuhnya di lantai. Terdengar bunyi tulang-tulang jemarinya.
"Hey! Apa kau punya mata huh?" Amarah Zeva meledak, Zeva berdiri tegap. Tapi pria itu tak mendengar suaranya dan pergi begitu saja.
"Ssstt, aduh. Zevaaa, jaga mulutmu!" Agnes berbisik menahan rasa kesalnya, matanya mengamati pria itu dan betapa terkejutnya dengan aroma wangi mint yang tercium di hidungnya. 'Astaga, demi apa? Dia tampan sekali,' hatinya memuji sedikit salah tingkah dengan jantung berdebar-debar.
Zeva menggertakkan gigi kesal. "Puas huh? Matamu tidak berkedip sama sekali, Agnesia," Zeva tau jika Agnes masih memperhatikan pria yang menabraknya tadi.
Agnes gugup. "A-ah, maaf. Ayo ke kantin. Kau ini, tidak suka melihatku bahagia ya? Huh, dasar!" Agnes menggerutu kesal.
***
Otot-otot mencuat dari tangannya, meraih sebuket bunga warna putih, warna kesukaan kekasihnya.
Pria itu menyerahkan beberapa lembar uang kepada pihak toko. "Saya membeli ini."
"Terima kasih, semoga hubunganmu dengan pasanganmu bertahan selamanya," ucap Sales perempuan penjaga toko dengan bibir tersenyum ramah.
Meletakkan dengan hati-hati di kursi mobil.
"Hahaha, Tuan. Kau banyak sekali membeli barang hari ini," ciutan menggoda dari sopir pribadinya, apa yang di katakannya benar, beberapa tumpukan barang di bagian kursi belakang.
"Iya, aku akhir-akhir ini terlalu sibuk. Semoga dia suka pemberianku. Huh, mau bagaimanapun, pekerjaanku lebih penting dan tidak bisa aku meminta izin cuti," suara sendu beratnya terasa mengganjal di tenggorokan. Sudah 2 bulan ini semenjak ia sukses di terima di rumah sakit, waktu untuk bertemu wanitanya tidak senggang seperti dulu.
"Cepat, jalankan mobilnya. Jam istirahatku selesai, jangan lupa serahkan barang ini ke kurir. Tolong kemas yang rapi jangan sampai ada yang rusak," perintahnya tegas. Andaikan waktu bisa di beli dengan uang, ia akan membelinya. Tapi mustahil, uangnya ia tabung untuk melamar wanitanya.
***
Pukul 4 sore, Zeva sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Ia langsung pulang, mengingat perjanjian Harrison yang membuat pikirannya terus di hantui kata-kata ancamannya.
Ponsel Zeva berbunyi. Zeva mengurangi kecepatan mobilnya dan menepi.
Pesan dari nama favorit yang ia tunggu sejak kemarin.
[ Lihat box putih di sudut kamarmu. Aku harap kamu menyukainya ]
"Seandainya ayah merestui hubunganku," senyuman Zeva memudar. Ia masih tidak berani memperkenalkan pacarnya kepada Harrison, ia takut Harrison tidak menyukainya.
***
Setibanya di rumah, Zeva melangkah terburu-buru menaiki tangga, kakinya langsung menuju ke kamar. Matanya tak bisa berkedip mencari box putih yang sepertinya baru saja di kirimkan oleh kekasihnya.
Namun, saat Zeva membuka pintu kamarnya, mata Zeva tidak menemukan box putih.
Nafas Zeva tersengal-sengal bingung, mengacak rambut kesal. "Sial! Dimana box putihnya? Kenapa tidak ada disini?"
Zeva mengirimi pesan kekasihnya, ia mempertanyakan apakah box putih itu benar-benar di letakkan di sudut kamarnya atau tidak.
Tapi, pesannya tak di balas karena kekasihnya tidak online.
"Sialan! Dimana box putihnya? Mustahil ayah mengambilnya."
Zeva tidak keluar dari kamar, bahkan ia mengabaikan bunyi perutnya yang menandakan lapar.
Pintu kamarnya terus di ketuk. Suara Harrison memanggilnya dari balik pintu sana tanpa menyerah.
"Zeva, ayah mohon. Keluarlah sebentar ya? Kamu belum makan," ucap Harrison sangat memohon dengan nada lembutnya.
'Dasar bermuka dua. Pasti ayah sengaja mengambil box putih itu,' batin Zeva, ia tidur menghadap jendela kamar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
"Kamu marah dengan ayah?"
'Astaga, siapapun pria itu, aku tidak akan membiarkannya menyukai Zevanya,' Harrison membatin dalam hati. Dialah yang mengambil box putih itu, betapa terkejutnya isinya ada boneka, coklat dan buket bunga mawar putih.
"Ayolah, jangan sampai sup tomat kesukaanmu ini dingin. Makanlah masih hangat," Harrison lelah membujuk Zeva, tampaknya Zeva benar-benar marah atas perbuatannya.
Zeva menangis dalam diam, memeluk bantalnya dan memendam suara tangisannya yang pilu. Apa Harrison harus sejahat itu padanya?
"Kenapa ayah tidak pernah mengizinkanku bahagia? Kenapaaa?" Air mata Zeva terus berjatuhan melewati pipinya yang chubby. Setiap hari, ia terus berandai-andai bisa menikah dengan pria yang di cintainya. Akan tetapi, mengingat Harrison yang terlalu dingin, membuatnya tidak yakin mengenalkan kekasihnya.
Mata Zeva menatap sayu ponsel putihnya. Menekan tombol panggil, ia ingin meyakinkan hatinya jika box putih itu benar-benar di kirim ke rumahnya.
"Aku mohon, angkat teleponku," lirih Zeva memohon, ia menggigit kuku jarinya cemas. Meskipun ini masih jam sibuk kekasihnya bekerja.
Suara berat yang sedikit lesu itu menyapa Zeva. "Iya, sayang, ada apa?"
"E-eumh apa kamu memberiku sebuah hadiah?" Tanya Zeva terbata, ia sedikit gugup. Ia sangat mengharapkan hadiah kejutan dari kekasihnya.
"Iya aku mengirimnya, kenapa? Kamu tidak suka barangnya? Biar aku belikan yang baru," terdengar seperti kegelisahan jika Zeva tidak menyukai hadiahnya. Ia tidak tau apa saja yang di sukai para perempuan.
Zeva melebarkan bibirnya, senyumnya merekah senang. Ternyata benar-benar di kirimkan hadiah kejutan. Entah box sebesar apa.
"Aku suka. Terima kasih, sayangku. Semangatt yaa kerjanyaa, ada aku yang harus kamu perjuangkan," mendadak hati Zeva menghangat, suara lembut dari seberang sana membuatnya lupa tentang hilangnya box putih.
"Sama-sama. Kalau aku ada waktu senggang, mari kita berkencan. Aku kerja lagi, bye sayang," di akhiri dengan suara kecupan singkat, meskipun itu jauh, pipi Zeva langsung merah merona.
Zeva terkekeh geli. "Astaga, betapa manisnya, kamu."
***
Sebelum berangkat ke hotel, Zeva ingin mengisi perutnya lebih dulu. Saat ini, ia berada di kafe, memesan spaghetti dan segelas susu hangat.
"Kenapa kamu memesan susu? Kopi disini sangat enak dan manis. Dan aku memesan yang ada tambahan krim latte," wanita bergaun merah di sebelah Zeva menyapa dengan keheranan.
"Itu, bukan urusanmu. Mau pesan susu atau minuman lain, itu hakku," Zeva menjawabnya menahan umpatan kekesalannya.
Bunyi gemerincing bel kafe dan sepasang kekasih baru saja masuk. Mereka duduk di meja kosong di belakang Zeva.
"Aku sepertinya mengenalimu," ia berujar, matanya mengamati wajah Zeva. Pernah melihat Zeva sebelumnya.
Zeva menjawab. "Maaf, aku tidak kenal denganmu."
"Misalnya nanti kita ketemu lagi, jangan lupakan aku ya. Dan .... Namaku, Mikhayla," setelah perkenalan singkat itu, Mikhayla beranjak pergi.
Zeva menyudahi makannya, ia harus sampai di kantor jam 7 pagi.
***
Harrison membakar box putih di belakang rumah.
"Maafkan ayah, Zevanya. Ayah hanya tidak mau laki-laki manapun itu mencintaimu. Ayah takut kamu tidak bahagia," Harrison sangat merasa bersalah, padahal jika ia tidak menyembunyikan box putih ini, Zeva pasti menyukai hadiahnya. Tidak tau pasti dari siapa.
Harrison menghela nafas. "Bagaimanapun juga, pernikahanmu harus segera di percepat."
"Cepat bereskan ini sampai bersih," Harrison memberikan perintah kepada dua bodyguardnya. Dua penjaga itu tidak ia perbolehkan menjaga Zeva terlalu dekat, cukup dari kejauhan saja.
Sejauh ini, Harrison belum pernah mendapatkan laporan jika Zeva pernah berkencan dengan seorang pria. Tapi kiriman hadiah kejutan itu, Harrison sudah mengerti pasti Zeva menjalin hubungan asmara secara diam-diam agar ia tidak mengetahuinya.
Di perusahaan D'glows, dan ruangan kerja yang terasa dingin karena AC yang menyala. Tumpukan berkas yang meninggi membuat Zeva bekerja keras mengetik di laptop hitamnya.
"Yang benar saja bos menyuruhku menyelesaikan ini sekarang. 26 berkas?" Zeva tersenyum palsu, dan yang mengirim berkas itu adalah Agnes, bahkan Agnes menertawakannya.
Dan seseorang memperhatikan Zeva dari layar CCTV, menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Aku akan terus memantaumu sampai kau benar-benar menyelesaikannya, Zeva," suara beratnya mengintimidasi, meskipun Zeva adalah pemilik perusahaan D'glows, ia tidak takut dan tetap memerintah seperti bawahannya.
***
Pukul 5 sore, Zeva akhirnya menyelesaikan 26 berkas itu, tentu saja tidak ke kantin namun, ia menyuruh Agnes membawakan sepotong sandwich dan kopi hangat.
Dengan menggerutu sambil mengemasi barang-barangnya di meja. "Sialan, kenapa pulangku lebih lambat? Ahh, seharusnya aku pulang jam 3 sore tadi. Huh, semua ini gara-gara berkas menyebalkan itu."
Kaki jenjangnya keluar dari ruangan yang sejak tadi di singgahi selama 11 jam lamanya.
Sebelum pulang, Zeva mampir ke salon terlebih dahulu.
"Miss, tolong rapikan rambutku ya," Zeva memanggil perempuan yang berseragam merah muda. Zeva merasa tidak perlu terlalu merawat tubuhnya, apalagi untuk menemui pria yang tidak ia kenal, kecuali untuk Darren.
Zeva duduk dan menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.
"Woah, anda baru pulang dari kerja ya?" Tanyanya sambil menyisir lembut rambut Zeva.
"Iya, karena saya tidak punya banyak waktu untuk berdandan," Zeva menjawabnya, matanya terpejam menikmati pijatan lembut di rambut pirangnya.
"Apa anda mau tambahan seperti styling rambut?"
Zeva menggeleng. "Rapikan saja rambutku, itu cukup," Zeva tidak mau berpenampilan cantik di hadapan pria itu nanti. Ia berharap dia tidak menyukai wajahnya, atau lebih mencari wanita yang cantik lainnya. Semoga saja.
Selesai dari salon, Zeva membersihkan diri di kamar mandi.
Beberapa saat setelahnya, Zeva mengecek ponselnya. Ia harap Darren mengiriminya pesan walaupun beberapa balon chat.
Kosong, terakhir kali Darren mengirim pesan berisi.
[ Lihat box putih di sudut kamarmu. Aku harap kamu menyukainya ]
Mata Zeva berair, ingin sekali bertemu dan memeluk Darren. Ia rindu.
"Darren, sesibuk apapun kamu, jangan lupakan aku ya?" Bibir Zeva tersenyum getir. Percintaannya tidak seindah pasangan diluar sana.
"M-maaf, aku mengkhianatimu. Maaf, Darren. Ini bukan kehendakku, tapi ayahku," perasaan bersalah menyebar di tubuh Zeva, jika cinta sejatinya berakhir sampai disini, bohong hatinya tidak rela melepaskan Darren selamanya.
Bunyi pintu kamar di buka. Harrison masuk.
"Kenapa kamu tidak mendengar ayah panggil daritadi?"
Kehadiran Harrison yang tiba-tiba masuk, Zeva refleks membalikkan punggungnya dan mengusap wajahnya yang setengah basah karena menangisi Darren.
"Pergi, ayah. Aku mau sendiri."
Harrison mengernyitkan alisnya. Bingung dengan respon Zeva yang seperti sedang marah dengannya. "Ayah, sudah memasakkan makanan favoritmu. Ayo, turunlah ke bawah," dengan sabar Harrison membujuk Zeva, meskipun itu tidak berhasil.
Zeva menarik selimut dan membungkus setengah tubuhnya yang terasa kedinginan. Ia mengabaikan ajakan Harrison.
Melihat Zeva hanya terdiam, Harrison menghela nafas lelah. Ia melangkah pergi meninggalkan kamar Zeva.
Namun, sebelum Harrison pergi, ia berkata."Jangan lupa, sekarang jam 6 malam. Kau tidak lupa kan dengan perintah ayah?" Harrison sekali lagi mengingatkan Zeva, yaitu tentang kencan di hotel Savoy malam ini. Bukannya Zeva bersiap dan berdandan cantik, Zeva justru masih mengurung diri di kamar.
Zeva menyibak selimutnya dan melemparkannya secara kasar. "Arghhhh! Kencan sialan! Siapa sih laki-laki itu, huh? Sampai ayah memaksaku begini!" Zeva mengacak rambutnya frustasi. Andaikan laki-laki itu adalah kekasihnya, maka dengan senang hati ia bersolek cantik. Tapi kebalikannya, laki-laki yang tidak ia tau indentitasnya, darimana dan siapa.
Selesai sudah sentuhan terakhir lipstik merah klasiknya, Zeva menatap pantulan dirinya di cermin besar kamarnya. Gaun satin sutra emerald green yang baru saja dikenakannya terasa begitu pas dan nyaman, seolah memang diciptakan untuk dirinya. Ia memutar sedikit badannya, menikmati bagaimana kain itu bergerak anggun mengikutinya. Belahan sisi gaunnya memperlihatkan sedikit jenjang kakinya, senyumannya luntur setelah sadar jika penampilannya ini bukan untuk kekasihnya, melainkan laki-laki lain.
"M-maafkan aku," kepala Zeva tertunduk, jemarinya meremas gaun melampiaskan rasa marahnya.
Sepasang stiletto hitam legam sudah menantinya di lantai. Ia meraih syal tipis berbahan kasmir berwarna hitam, melingkarkannya dengan santai di lengannya sebagai antisipasi dinginnya malam. Sebelum melangkah keluar, Zeva menarik napas dalam, merasakan aroma parfumnya yang lembut menguar, Zeva harap kencan buta ini tidak akan pernah berhasil.
***
Gemerlap lampu menghiasi gedung pencakar langit di London. Kepala Zeva menoleh ke kiri, menatap dari balik kaca mobil. Kali ini, ia tak bisa kabur melarikan diri atau mencari alasan berbohong karena Harrison yang mengantarkannya ke hotel Savoy seolah-olah ia harus tiba disana tanpa ada halangan apapun.
"Zeva, putuskan hubunganmu dengan pacarmu itu," suara Harrison memecah keheningan di dalam mobil. Ada nada tak suka yang terselip. Memang ia tidak tau tipe pacar Zeva, marga keluarganya, pekerjaannya. Ia tidak ingin Zeva hidupnya kekurangan. Selama ini, ia memberikan fasilitas lengkap, dari biaya kuliah Zeva, keperluan pribadi seperti modal mendirikan perusahaan kosmetik.
Mata tajam Zeva menatap Harrison dengan kilatan marah. Bibirnya terkunci Kelu tak bisa menanggapi ucapan Harrison. Terlalu berat untuk hatinya. 'Tidakkk! Aku tidak akan pernah mengakhiri hubunganku. Aku tak peduli meskipun menikah dari perjodohan ayah, aku akan tetap mempertahankannya,' Zeva berkata dalam hati.
Merasa tak ada jawaban, Harrison melirik Zeva dari spion. "Jangan melanggar perintah ayah. Kamu ini sebentar lagi akan menikah, Zeva."
Zeva terbahak remeh. "Kalau ayah ingin aku menikah, seharusnya ayah merestui. Bukan milih laki-laki lain dan menjodohkanku!" Zeva menggeram kesal. Seenaknya saja Harrison mengambil keputusan tanpa memikirkan bagaimana perasaan hatinya.
"Percaya sama ayah, kali ini pilihan ayah yang terbaik. Dan kehidupanmu pasti bakal terjamin," ujar Harrison sabar, ia tidak terpancing sulutan emosi Zeva.
Diam, Zeva tak lagi mengatakan apapun. Meskipun hatinya membantah kata-kata Harrison, dirinya tak akan percaya. Sebaik apa laki-laki pilihan Harrison?
***
Hujan gerimis baru saja berhenti, menyisakan kilau basah di depan Hotel Savoy. Sebuah siluet hitam pekat, Rolls-Royce Wraith Black Badge, meluncur anggun tanpa suara. Lampu depan LED-nya yang tajam membelah malam, menyoroti gril Pantheon yang kini hitam legam, menambah kesan misterius. Cat 'Black Diamond' pada bodinya memantulkan gemerlap kota dengan riak kemewahan. Saat berhenti, panjang monumental dan proporsi rendahnya memancarkan dominasi. Roda 21 inci berputar pelan, melengkapi keanggunan gerakannya. Tanpa guncangan, mobil itu berhenti sempurna, sebuah pernyataan kemewahan absolut yang membalut lobi hotel dalam aura eksklusivitas.
Sebelah kaki jenjang dengan heels anggun menapaki halaman hotel Savoy. Zeva menyelipkan helaian rambutnya di telinga kanannya. Baru beberapa langkah, suara Harrison menghentikan langkahnya.
Harrison membuka setengah kaca mobilnya. "Semoga kencanmu berhasil ya. Ayah harap, kamu dan dia bisa cocok," senyuman tipis penuh harap terpatri di bibirnya. Matanya menatap Zeva yang merotasikan bola mata menunjukkan rasa muak dengannya.
Zeva melihat di sekitarnya, tidak ada pengunjung sama sekali. Namun, matanya berpusat pada sebuah mobil BMW putih saja. Ia bisa menduga, itu adalah mobil laki-laki yang akan di jodohkan dengannya. Akan tetapi, ia seperti mengenal mobil itu dan tidak asing.
Meskipun enggan, Zeva melangkahkan kakinya dengan berani memasuki hotel Savoy. Namun, pikirannya masih teringat dengan mobil BMW yang sekilas mirip di miliki oleh kekasihnya. Mungkinkah...?
Di lobi megah Hotel Savoy, Zeva melangkah masuk, memancarkan aura yang tak terbantahkan. Gaun malam berbahan satin sutra berwarna emerald green membalut tubuhnya dengan anggun, jatuhnya kain yang lembut mengikuti setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna, dan sesekali memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan.
Langkah Zeva terhenti, ketika melihat sosok laki-laki yang duduk membelakanginya.
'Bukan, bukan pacarku. Ahh, ada apa sih dengan pikiranku?' Zeva membatin kesal. Ia terlalu berharap tinggi.
Laki-laki itu menuangkan cocktail red wine di sebelah gelas yang belum terisi.
Merasakan kedatangan seseorang, bibirnya tersenyum. Tanpa menoleh, "Kamu sudah datang? Duduklah," sambutnya ramah.
Melangkah mengitari meja dan duduk berhadapan. Zeva menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya. "Iya, aku mendatangi mimpi burukku sendiri," seakan semakin kesal, Zeva melontarkan kata-kata itu agar laki-laki di hadapannya sakit hati.
Dia terkekeh geli, ternyata perempuan di hadapannya sangat sinis seperti tidak menyukainya. "Bagaimana? Kau menyukai hidangan pilihanku?"
Diam, tidak ada sahutan.
'Aku beruntung sekali bisa berkencan dengan perempuan secantik ini. Ah, kakakku terlalu bodoh, terlalu membosankan jika menyibukkan diri,' ia berkata dalam hati. Dari penampilannya saja cantik dan anggun. Tentu saja setara dengannya.
"Aku yang memesan semua ini. Jadi, kamu tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Jadi, berterima kasihlah kepadaku," ia menyeringai menggoda. Berkedip lemah agar pesona ketampanannya memikat hati perempuan itu.
"Tidak semua wanita, bisa berkencan denganku. Dan...baru pertama kali ini."
"Oh, aku kira anda playboy. Aku tidak peduli," Zeva meneguk cocktail red wine hingga habis. Sepertinya, semua hidangan ini harganya mahal. Ia bisa memperkirakan, laki-laki ini membuang uangnya secara cuma-cuma untuk perempuan yang baru di kencani.
"Makanlah, kalau kamu tidak bisa memotong dagingnya, biar aku yang menyuapi mu," tak habis menggoda, terlihat sangat menarik dengan respon perempuan itu. Padahal, dirinya lumayan tampan dan standar tipe perempuan di luar sana.
Zeva menggeleng. Tangannya bersidekap dada. "Ngomong-ngomong, di parkiran itu. Mobilmu?" Mata Zeva menyipit menyelidik. Ia sangat mengerti, mobil itu sama persis dengan mobil kekasihnya.
Senyuman smirk yang remeh. Mendongak dan bertubrukan dengan mata hazel yang cantik. "Kenapa? Apa kamu, meragukan kekayaanku?" Tanyanya menantang.
Zeva menggebrak meja lumayan keras, hingga beberapa makanan meloncat sedikit. "Aku tidak bercanda, ya. Tuan sombong!"