Bab 1

"Ada lamaran dari keluarga Hartono."

Seorang pria paruh usia, memulai pembicaraan. Dia duduk di kursi ruang keluarga. Disana, duduk anak dan juga istrinya. Di atas meja di hadapan mereka, tersaji makanan ringan dalam jar dan buah-buahan.

Sang istri menatap serius kepada sang suami. "Bagaimana profil anak dari keluarga Hartono?" tanya sang istri.

Sang suami menghela nafasnya, sedikit melirik ke arah anak perempuannya yang terlihat tidak tertarik. "Dari berita yang terdengar, dia terkenal dengan kekejamannya. Bahkan, ada beberapa kolega yang melamar pria itu untuk anaknya. Saat mereka mencoba untuk akrab dengan anak dari keluarga Hartono, kebanyakan dari mereka tidak sanggup berdekatan dengan pria itu. Akibat dia yang begitu dingin," jelasnya.

Sang anak tersenyum penuh arti, tidak berapa lama datang seorang wanita dengan nampan berisi minuman di tangannya. Senyum di wajahnya semakin merekah.

"Silahkan minumannya," ucap wanita yang tadi membawa nampan. Sambil meletakkan gelas jar berisi minuman di atas meja.

Anak perempuan itu lalu mengambil minuman di hadapannya. Dia menempelkan sedikit bibirnya pada tepi gelas. Setelahnya, hal yang tidak di inginkan wanita yang membawa nampan pun, terjadi. Minuman itu membasahi wajah dan juga tubuh bagian depannya. Dia tertunduk dalam, dengan tangan memegang nampan dengan erat.

"Minumannya kurang manis," sentak anak perempuan tersebut, sambil melempar gelas tepat ke arah wajah wanita itu. Perempuan yang bernama Zivana tersenyum senang melihat sang kakak yang basah akibat ulahnya.

Ya, wanita yang membawa nampan tersebut adalah kakak dari Zivana, lebih tepatnya kakak tiri.

"Dasar, anak tidak berguna," cela sang ibu dengan wajah merah padam mengarah kepada wanita itu

"Maafkan saya!" ucapnya, dia segera membersihkan bekas tumpahan minuman yang membasahi lantai.

Zivana tersenyum mengejek ke arah sang kakak mendengar celaan dari ibunya, untuk sang kakak.

"Berikan saja lamaran tersebut kepada kakak. Sepertinya, dia lebih cocok menerima lamaran tersebut!" usul Zivana, dia tersenyum puas membayangkan bertapa wanita yang tengah membersihkan lantai itu, hidupnya akan semakin menderita.

Sang ayah hanya melirik tanpa mencoba mencegah sang istri dan anak yang mencemooh anak sulungnya. Hati pria itu seperti mati, tidak memiliki perasaan sayang sedikitpun kepada anak sulungnya.

Sementara Shanaya, nama dari wanita yang membawa nampan itu. Dia tertunduk dalam mendengar perkataan adiknya. Dia dengan cepat membersihkan noda di lantai. Diambilnya gelas yang tadi di lempar oleh adiknya, lalu meletakkan gelas tersebut ke atas nampan.

Dia lalu berdiri. Sambil tertunduk dia berkata, "saya permisi ke belakang!"

"Kamu harus menggantikan adikmu untuk menerima lamaran dari keluarga Hartono," ucap sang ayah dengan nada dingin.

Shanaya yang sudah berbalik badan pun terhenti. Dengan bibir bergetar dan air mata yang hampir lolos. Dia menjawab tanpa menoleh.

"Baik, saya akan menerima lamaran keluarga Hartono," jawabnya.

Ibu dan anak itu melirik dengan senyum mengejek. Shanaya beranjak dari ruangan tersebut dengan langkah cepat. Dia berjalan menuju dapur dengan hati yang bergemuruh hebat.

Gelas di atas nampan hampir saja terjatuh, Ketika dia sampai ke dapur. Air mata yang sejak tadi di tahannya, tumpah. Dia menangis, meratapi nasibnya yang tidak disayangi oleh ayahnya sendiri.

Semenjak ibunya meninggal saat usianya satu tahun. Sejak itu pula ayahnya tidak lagi memperdulikan dirinya. Apalagi saat pria itu membawa wanita lain sebagai istri barunya. Semakin lah dirinya di perlakukan semena-mena.

"Apa salahku, Ma? Mengapa dunia seolah memperlakukan aku sesukanya!" serunya dengan nada lirih.

Seorang asisten rumah tangga menghampiri dirinya. Dia begitu prihatin dengan keadaan anak majikannya. Wanita cantik itu tak ubahnya seorang pembantu seperti dirinya. Tubuhnya begitu kurus, berbanding terbalik dengan tubuh Zivana. Wajahnya pun terlihat kusam, seperti bukan seorang wanita berusia 23 tahun.

Diusianya yang semestinya pergi keluar untuk hangout dengan teman sebayanya. Dia malah menghabiskan hidupnya dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Seperti memasak dan membersihkan rumah.

"Non Naya," panggilnya dengan lembut.

Shanaya menoleh, dia segera menghapus air matanya. Lalu memutar tubuhnya, tersenyum ke arah asisten rumah tangga yang selalu baik kepadanya itu.

"Mbok Rahma," ucapnya sambil tersenyum, Mbok Rahma terkesiap melihat wajah anak majikannya yang basah.

"Ya Allah, Non. Siapa lagi yang melakukan hal ini kepada Non Naya. Wajah Non Naya sampai basah dan kotor begini karena jus," pekik Mbok Rahma.

Tangannya langsung mengambil sapu tangan dari celemek nya. Membersihkan wajah Shanaya dengan lembut dan penuh kasih.

"Naya tidak hati-hati, Mbok! Makanya jusnya sampai tumpah ke wajah," jawab Shanaya.

Mbok Rahma tahu, anak majikannya berbohong. Dia sudah hafal dengan kelakuan ibu dan adik tiri Shanaya yang selalu menyiksa. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa ada orang sekejam itu. Padahal Shanaya selalu menghormati mereka dan selalu menutupi perbuatan buruk keduanya.

"Kenapa Non Naya menangis?" tanya Mbok Rahma saat melihat kedua mata Shanaya yang bengkak.

"Aku akan menikah, Mbok!" jawab Shanaya.

"Apa? Menikah? Dengan siapa?" tanya Mbok Rahma.

"Katanya putra dari keluarga Hartono," jawab Shanaya dengan ragu.

"Hartono? Maksudnya Xavier Hartono!" pekik Mbok Rahma.

"Mbok tahu siapa dia?" tanya Shanaya.

"Tentu saja! Gosipnya dia adalah pria yang kasar dan kejam. Bahkan tidak ada yang betah bersama dengan pria itu walau barang satu menit! Dari yang Mbok dengar seperti itu," jelas Mbok Rahma.

"Hahaha Mbok ini mengada-ada. Bagaimana Mbok bisa tahu tentang gosip itu Mbok?" kelakar Shanaya, mengalihkan rasa khawatirnya.

"Mbok ini sering pergi ke pasar dengan para asisten rumah tangga lainnya. Mereka mendengar cerita dari mulut ke mulut. Gosip itu sudah menyebar, Non!" jelas Mbok Rahma.

"Bisa saja itu putra keluarga Hartono yang lain," sela Shanaya. "Sudahlah, aku mau mencuci gelas ini dulu." Shanaya memutar tubuhnya membelakangi Mbok Rahma.

Tangannya gemetar mendengar cerita yang Mbok Rahma katakan. Dia takut jika orang yang Mbok Rahma katakan adalah orang yang sama yang akan dijodohkan dengan dirinya.

Tanpa mereka ketahui Zivana mengintip pembicaraan mereka. Dia tersenyum senang mendengar cerita Mbok Rahma. Dia semakin yakin, jika Shanaya akan menderita dengan pernikahannya nanti.

"Aku harap, kamu mati di tangan pria itu, Kak!" desisnya.

***

Seorang pria dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya tengah sibuk dengan laptop di hadapannya. Saat sebuah panggilan dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Dia melepas kacamatanya dan meletakan di atas meja. Setelahnya, mengambil ponsel.

Pria itu menghela nafas saat melihat Id Call di layar ponselnya yang bertuliskan nama 'Papa'. Dia memijit pelan pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Pria tua di seberang sana tidak akan pernah jera untuk menjodohkan dirinya. Dengan berat hati, dia menjawab panggilan papanya.

"Kali ini siapa lagi, pa?" tanya pria itu to the point.

"Assalamualaikum, Nak!" sapaan lembut dari suara ibunya, membuat dirinya sedikit terkejut.

"Mama, aku kira Papa yang menelpon. Kenapa menggunakan ponsel Papa, ma!" Pria itu berjalan menuju kaca besar di ruangannya. Melihat kendaraan di bawah sana, yang sepertinya tidak pernah lelah berlalu lalang.

"Maaf Nak, Papa sebenarnya yang menghubungi kamu. Tapi, Papa tidak sanggup mendengar penolakan darimu. Makanya, mama yang berbicara," jelas sang mama.

"Apa ini tentang perjodohan lagi? Sudah berapa kali Xavier katakan Ma kalau ...

"Nak, dengarkan mama sebentar saja. Lamaran papa di terima, keluarga Yuda akan menyerahkan anak sulungnya untuk di jadikan istri olehmu. Mama harap kali ini, kamu tidak akan menolaknya. Mama ingin, kamu ada yang menemani, nak!"

Xavier menghela nafasnya, entah alasan apa yang orang tuanya miliki. Sehingga dia harus selalu di hadapkan dengan situasi seperti ini.

"Bagaimana jika dia pergi, seperti yang sudah-sudah?" tanya Xavier, pelan.

Bab 2

Xavier melirik sekilas wanita yang tengah duduk menghadap dirinya dengan bekal makan siang yang entah apa isinya. Baju kurang bahan yang dia kenakan nampak menyesakkan untuk di kenakan. Dia heran, mengapa banyak wanita mau mengenakan pakaian seperti itu. Bukankah, rasanya sangat tidak nyaman?

Wanita ini entah yang ke berapa, yang mencoba mendekati dirinya. Mereka menggunakan koneksi orang tuanya untuk mencoba mendekati dirinya. Karena orang tuanya, sengaja membuat sayembara mencarikan jodoh untuknya.

"Apakah aku sudah setua itu sampai harus mencari jodoh untukku lewat sayembara, itu kuno Pa. Aku bisa mencari jodohku sendiri, jangan seperti ini. Aku hanya dibuat pusing dengan tingkah para wanita yang datang dengan berbagai karakter yang membuat kepalaku pusing!" keluh Xavier kepada orang tuanya lewat sambungan telepon kala itu.

"Vier! Kamu tidak akan mencari pasangan selagi kesibukan kamu tidak kamu hentikan. Mau sampai kapan Papa dan Mama melihat kamu melajang. Usia Papa dan Mama sudah tidak muda lagi, Nak! Papa dan Mama ingin melihat kamu memiliki pasangan dan hidup bahagia dengan anak dan istrimu."

"Tapi Pa, bukankah jodoh sudah Tuhan takdirkan untuk kita. Sudahlah, biarkan jalan Tuhan saja yang bermain. Jangan membuat sayembara segala, malu aku Pa! Sudah seperti bujang lapuk saja!" bantah Xavier.

"Tuhan akan memberikan kepada siapa yang berusaha, Nak! Ini usaha yang Papa lakukan untukmu. Sudahlah, jalani saja! Lagipula, Papa hanya membuat sayembara lewat teman-teman kolega Papa saja. Atau kamu mau, Papa buatkan sayembara online dan menyebarkan selembaran agar banyak lagi wanita yang datang?" seru Emier, nama Papa Xavier.

"Ok cukup, Pa! Jangan membuat aku gila. Aku akan mencoba menjalaninya. Tapi, jika yang terakhir ini tidak cocok untukku. Ku mohon, hentikan semua kegilaan ini. Mereka hanya menghambat pekerjaan ku saja!" timpal Xavier.

"Baiklah, Nak! Ini yang terakhir!" balas Emier.

Xavier kembali pada keadaan saat ini, wanita itu nampak bosan karena dirinya hanya diam saja. Ponsel milik wanita itu berkali-kali berbunyi. Membuat fokusnya, terganggu.

"Tolong, angkat panggilan dari ponselmu, itu sangat mengganggu!" perintah Xavier dengan tanpa menatap wanita di hadapannya.

"Aku bisa mengangkatnya lain waktu, dia bisa menunggu. Apakah pekerjaanmu masih banyak, bukankah seharusnya kamu makan siang dulu! Ini sudah waktunya makan siang. Jangan memforsir tubuhmu seperti itu, tidak baik!" jawab wanita di hadapannya.

"Aku akan makan siang, dari masakan yang di masak oleh orang kepercayaanku. Maaf, aku tidak terbiasa dengan masakan dari orang lain," balas Xavier dengan nada dingin.

"Bagaimana kita bisa saling dekat, jika kamu saja tidak bisa membuka hatimu untuk orang lain. Bukankah kita harus saling berkenalan! Bagaimana kalau kita makan di restoran saja, jika kamu tidak percaya dengan masakan yang aku buat!" usul wanita itu sambil berjalan mendekati Xavier.

Tangannya terulur untuk menyentuh lengan pria itu. Namun, Xavier lebih dahulu mencegahnya. "Jangan menyentuhku!" tolak Xavier dengan tegas.

"Mengapa? Bukankah kita nantinya akan lebih dari saling menyentuh!" ungkapnya dengan nada manja. Dia masih belum menyerah meski Xavier telah mengacuhkan dirinya.

"Siapa yang kamu maksud 'kita'? Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu. Jangan terlalu berangan-angan untuk menjadikan hubungan kita lebih jauh lagi. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita penggoda sepertimu!" tegas Xavier.

"Apa? Wanita menggoda!" teriak wanita itu dengan wajah merah padam.

Wanita itu begitu tersinggung dengan ucapan Xavier. Dia menatap tajam ke arah Xavier, dadanya naik turun karena emosi.

"Kenapa? Kamu tersinggung? Lihat pakaian yang kamu kenakan! Apa namanya kalau bukan wanita penggoda. Kamu memamerkan lekuk tubuhmu supaya aku tertarik. Itu tidak akan berhasil! Kamu malah membuat aku muak dan jijik. Kenapa kalian suka sekali memamerkan bentuk tubuh seperti itu? Nanti, saat pria memperlakukan kalian dengan tidak baik, kalian marah dan mengatakan kami melakukan pelecehan."

Kata-kata Xavier memukul telak wanita itu. Dia memang sengaja berpenampilan seperti itu agar menarik perhatian Xavier. Tapi rupanya, pria itu menyebut dirinya wanita penggoda. Sungguh dia tidak habis pikir dengan selera pria di depannya.

"Pergilah, pekerjaanku sangat banyak!" usir Xavier.

"Aku akan memperbaiki penampilanku, jika kamu mau. Maafkan aku jika ...

"Tidak usah, aku tidak ingin melihatmu untuk yang kedua kalinya!" sela Xavier. Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya, tanpa memperdulikan wanita yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi tidak terbaca.

***

"Kamu yang membuat mereka pergi, Vier!"

Lamunan Xavier tertarik pada keadaan saat ini. Dia menghela nafas mendengar ucapan Mamanya. Memang dirinya yang menolak mereka semua. Itupun karena kelakuan mereka yang aneh-aneh.

"Ma, Vier hanya ingin menikah dengan wanita sederhana seperti Mama. Bukan dengan mereka yang senang memakai pakaian kurang bahan. Mama tahu itu!" timpal Xavier dengan nada lembut. Dia tidak bisa meninggikan suaranya saat berhadapan dengan mamanya.

"Tapi, bukankah semua itu bisa dirubah, Nak! Kamu bisa membimbingnya untuk berubah!" ucap mamanya dengan lembut.

"Mereka sudah terbiasa dengan pakaian yang mereka kenakan, Ma! Dan itu akan sangat sulit dirubah," elak Xavier.

"Baiklah, Nak! Terserah kamu saja! Tapi, untuk kali ini, tolong kamu menurut kepada Papa dan Mama. Temui keluarga Yuda, jika dirasa anaknya tidak cocok denganmu. Jangan di teruskan! Papa dan Mama tidak akan memaksa dirimu lagi!" ucap Mama dengan berat hati.

"Baik. Vier akan menuruti keinginan Mama. Tapi, ini yang terakhir. Jangan ada yang lainnya lagi! Biarkan Vier yang menentukan dengan siapa Vier akan menikah!" jawabnya.

"Baiklah, Nak! Mama tutup dulu sambungan teleponnya. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam!"

Xavier termenung setelah panggilan terputus. Dia tidak tertarik lagi dengan lembar pekerjaan di hadapannya. Dia membuka pesan yang dikirim oleh orang tuanya.

"Ini alamat rumah keluarga Yuda. Ini yang terakhir. Setelah ini, terserah bagaimana dengan keputusanmu. Papa dan Mama tidak akan memaksakan kehendak lagi."

Xavier berdiri, dia mengambil kunci mobil dan juga jas yang dia simpan di hanger stand. Berjalan keluar dari ruangannya. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah.

***

"Bersiaplah. Besok pria dari keluarga Hartono akan datang ke rumah. Berpakaianlah yang layak," ucap Yuda kepada Shanaya dengan tanpa menoleh. Ketika wanita itu tengah menghidangkan makan malam.

"Baik!" jawabnya dengan singkat.

"Apakah Kakak mau gaun bekas aku pakai? Ah, sebaiknya tidak usah. Pakaian lusuh itu lebih pantas Kakak kenakan, itu menunjukkan siapa Kakak sebenarnya!" cela Zivana adik tiri Shanaya dengan wajah mengejek.

"Benar sekali, dia tidak akan cocok dengan pakaianmu yang mahal," timpal Winny, ibu tiri Shanaya. Tawa meremehkan mereka pecah.

"Saya permisi," ucap Shanaya tanpa memperdulikan cemoohan yang ditunjukkan ibu dan anak itu kepada dirinya.

***

Xavier sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, dia menuju ruang ganti pakaian. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah wig yang tergeletak di lemari pakaian. Dia ingat apa yang kakaknya lakukan kepadanya dengan wig tersebut. Tiba-tiba sebuah ide terbersit di dalam hatinya.

"Apakah aku bisa menemukan cinta sejati ku dengan wig ini?"

Bab 3

Shanaya tengah termenung di kamarnya. Dia bingung, harus memakai baju apa untuk acara esok hari. Dia mengeluarkan pakaian yang dia miliki dari dalam lemari pakaian. Yang hanya beberapa helai itu. Warnanya pun sudah usang, menandakan jika pakaiannya sudah tidak layak di gunakan. Karena seringnya dia pakai.

Dia tidak memiliki pakaian bagus. Bahkan, dia tidak pernah pergi ke luar hanya untuk membeli pakaian untuk dirinya. Hidupnya, dia habiskan di dalam rumah dengan berbagai pekerjaan yang tidak ada habisnya. Dari dia bangun pagi sampai menjelang tidur.

Di rumah ini ada beberapa pekerja rumah tangga. Tapi, dirinya seolah tidak kekurangan bahan untuk di kerjakan. Ada saja yang harus dirinya kerjakan. Meski pekerjaan tersebut tidak terlalu penting. Shanaya tidak pernah di biarkan menganggur tanpa pekerjaan.

Ketukan di pintu menyentak lamunan Shanaya. Dia menoleh ke arah pintu, bertanya dalam hati siapa gerangan malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya.

"Non Naya, ini Mbok. Apa Non Naya sudah tidur?" Suara khas dari Mbok Rahma terdengar, Shanaya yang tadinya waspada berubah jadi tenang.

"Masuk Mbok, Naya belum tidur!" panggil Shanaya dengan suara pelan, mempersilahkan Mbok Rahma masuk.

Pintu terbuka memperlihatkan Mbok Rahma. Di tangannya, dia menangkup sebuah kain bungkusan. Shanaya mengernyit melihat Mbok Rahma menutup pintu sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

"Mbok kenapa?" tanya Shanaya bingung.

"Tidak apa-apa. Maaf Mbok mengganggu waktu istirahat Non Naya." Mbok Rahma duduk di hadapan Shanaya.

Dia membuka kain bungkusan yang sedari tadi menarik perhatian Shanaya.

"Ini apa Mbok?" tanya Shanaya dengan nada penasaran yang tidak bisa dia sembunyikan.

"Ini adalah gaun peninggalan Nyonya. Saat Tuan memerintahkan si Mbok untuk membakarnya. Si Mbok menyembunyikan gaun ini. Karena menurut si Mbok, Non Naya pasti akan membutuhkan gaun ini suatu saat nanti. Gaun ini adalah gaun yang di kenakan oleh Nyonya saat dia menikah dengan Tuan."

Shanaya mengamati gaun pengantin yang terlihat masih bagus walau usianya telah puluhan tahun. Karena bahan dengan kualitas terbaik, jadilah gaun tersebut masih nampak bagus.

Shanaya juga mengambil beberapa dress indah peninggalan ibunya. Rupanya, bentuk tubuhnya menurun dari ibunya. Shanaya mencium dress tersebut, mengambil aroma dari dress yang pernah di pakai oleh mendiang ibunya.

Mbok Rahma memandang haru ke arah Shanaya. Dia tahu, baju-baju itu akan sangat dibutuhkan suatu saat nanti. Karena itulah saat dia di perintahkan untuk membakar barang peninggalan nyonyanya, dia memilih menyembunyikan sebagian pakaian tersebut untuk di berikan kepada Shanaya suatu saat nanti.

Mbok Rahma menggenggam tangan Shanaya dengan lembut. Tangan kanannya terulur menyentuh wajah kusam Shanaya dengan penuh kasih. Anak kecil yang dia rawat dengan penuh kasih kini sebentar lagi akan menikah.

Naya memejamkan matanya saat tangan rapuh Mbok Rahma menyentuh pipinya. Dadanya penuh sesak, entah apa yang di rasakan oleh Shanaya. Entah dia harus bahagia ataukah dia harus sedih karena sebentar lagi akan dilamar seseorang yang bahkan tidak dia kenal.

Dia teringat ucapan Mbok Rahma dan juga Zivana, tentang pria yang akan melamarnya. Bagaimana jika ucapan mereka benar? Bahwa dia adalah pria yang kejam. Apakah dia akan disiksa sama seperti saat dia di rumah ini.

"Mbok harap, kamu hidup bahagia dalam pernikahanmu nanti, Non. Sudah cukup selama 23 tahun ini hidupmu penuh dengan kesedihan. Semoga pria yang melamar nanti memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kamu dapatkan di rumah ini," kata Mbok Rahma dengan tulus.

"Semoga saja, dia tidak berubah pikiran setelah melihat aku yang akan dia lamar," kelakar Shanaya, mengalihkan rasa dalam dirinya yang berhasil membuatnya gugup.

"Jika dia pria yang tulus, dia akan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain!" ucap Mbok Rahma. Shanaya menanggapi dengan sebuah senyuman.

***

Pagi itu, cuacanya cukup cerah. Seorang pria menyambut pagi dengan penampilan berbeda. Sebuah wig dengan model rambut gimbal tertempel rapi di kepalanya. Dia memoles sedikit bedak untuk menutupi kulit aslinya.

Dalam sekejap dia berubah jadi pria yang terlihat, kucel. Sungguh penampilannya sangat tidak enak di pandang mata. Bahkan, dia sendiri pangling dengan dirinya.

Setelah memakai jas yang dia beli dari toko pakaian pinggir jalan. Dia keluar dari kamar, menuruni tangga selanjutnya, dia pergi ke ruang makan untuk sarapan.

Diminumnya susu yang telah di sediakan oleh asisten rumah tangganya. Saat dia tengah menikmati sandwich, sebuah pukulan mendarat di punggungnya. Tidak memakai benda tumpul, tapi mampu membuat dirinya meringis.

"Sakit," ringisnya, dia sampai melepaskan sandwich dari tangannya.

"Siapa kamu, main masuk ke dalam rumah dan memakan makanan milik Tuan!" sentak wanita paruh baya dengan garang. Dia memukuli pria itu dengan brutal, menyisakan rasa perih di tubuh pria itu.

"Mba Jum sakit, ini Vier Mbok." Pria yang tidak lain adalah Xavier meringis memohon ampun.

Tapi, wanita paruh baya yang bernama Jumi itu tidak mempercayai ucapan Xavier. Dia kembali memukuli Xavier.

"Berani kamu ya, mengaku sebagai Tuan Vier. Ayo bangun kamu, bisa-bisanya kamu masuk ke dalam rumah. Dimana sih Pak Diman, kenapa rumah bisa sampai kemasukan orang asing seperti ini!"

Mba Jumi menarik Xavier untuk berdiri dan menghadap dirinya. Saking kuatnya tarikan tersebut membuat wig yang di kenakan Xavier terlepas. Mba Jumi melotot melihat memang benar dia adalah Tuannya.

"Kenapa Tuan Vier berpakaian seperti ini?" pekik Mba Jumi.

Xavier meringis merasakan tubuhnya yang sakit akibat pukulan Mba Jumi. Untung saja wajahnya tidak terkena pukulan. Jika terkena, bisa di pastikan wajahnya lebam dan orang akan menganggap dirinya seorang kriminal.

"Jelaskan kepada Mba Jum, kenapa Tuan Vier berpakaian seperti ini!" tuntut Mba Jumi. Dia mengamati Xavier yang memasangkan kembali wignya.

Wanita yang telah mengurusnya sejak kecil itu menatap heran. Menilik penampilan tuannya yang tidak seperti biasanya.

"Saya ingin melamar seorang wanita pilihan papa dan mama," jawab Xavier. Kini mereka tengah duduk di kursi meja makan.

"Lalu, mengapa Tuan harus berpenampilan seperti ini?" tanya Mba Jumi dengan penasaran.

"Aku ingin melihat, bagaimana mereka menilai penampilan ku yang seperti ini. Apakah mereka akan menerima lamaran ku atau menolaknya!" jelas Xavier.

"Apa Tuan sengaja supaya lamaran kali ini gagal lagi?" tebak Mba Jumi.

"Sudah berapa kali aku bilang ke mereka, Mba. Aku tidak mau mereka ikut campur urusan jodohku. Tapi, mereka tetap saja melakukan hal itu. Mereka bilang, ini yang terkahir. Makanya, aku melakukan hal ini. Agar saat lamaranku ditolak, aku akan terbebas dari mereka!" Mba Jumi mendesah.

Anak bayi yang dia rawat dengan penuh kasih kini telah tumbuh besar. Karena dia selalu jauh dari kedua orang tuanya, membuat pria di hadapannya sedikit keras dan pembangkang. Dia lebih suka sibuk bekerja daripada memikirkan tentang pernikahan.

Baginya, menikah hanya akan membuatnya pusing. Dia harus menyesuaikan diri dengan pasangannya. Dia harus mengerti dengan sikap dan perilaku pasangannya. Dia harus menyesuaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pasangan.

Kedua orang tuanya menikah karena perjodohan. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lebih banyak meninggalkan Xavier dengan Mba Jumi. Kasih sayang dari kedua orang tuanya sangat kurang dan bisa dihitung jari. Bahkan waktu mereka berkumpul bersama atau pergi jalan-jalan bersama pun dapat di hitung jari.

Xavier tidak ingin menikah dengan cara dijodohkan. Itulah mengapa dia mati-matian menolak wanita yang mendekati dirinya. Dengan atau tanpa campur tangan darinya. Para wanita akan mundur saat merasakan aura kejam dari mulut Xavier.

Apalagi wanita dengan pakaian sexy, jangan harap dia masuk dalam kriteria pilihan Xavier.

"Bagaimana jika kali ini, Tuan lah yang meminta wanita itu untuk berada disisi Tuan?" tanya Mba Jumi.

Xavier tertawa mendengar pertanyaan Mba Jumi. "Tidak mungkin Mba, aku tidak akan tertarik dengannya! Pasti mereka akan menolak ku dengan penampilan seperti ini! Bahkan sebelum aku masuk ke dalam rumahnya!" ucapnya dengan penuh percaya diri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED