Bab 1

“Al! Besok kamu jangan ke mana-mana!”

Suara Ayah yang tiba-tiba itu, sontak mengagetkanku.

“Memang ada apa Yah?”

Tak biasanya seperti itu. Padahal tanpa di suruh pun, jika tak ada kelas maka aku akan diam saja di rumah.

Tapi pertanyaanku tidak disambut ramah. Ayah hanya memandang sekilas hingga akhirnya duduk tepat di depanku.

“Besok teman Ayah akan datang untuk melamar kamu.” Ucapnya dengan muka datar. Namun tetap membuat kumis tipisnya ikut bergerak.

Mendengar itu bukan hanya bulu kudukku. Bulu ketek dan bulu hidung pun ikut berdiri mendengar jawaban itu. Otakku benar-benar ngeblank!

Jantung sudah lari maraton, sedang hati juga mulai resah menanti ucapan selanjutnya dari Ayah.

“Dan Ayah tak akan menolak lamarannya!”

Degh! Hatiku lemas, jantungku lelah. Badanku tak lagi mampu menopang bobot sendiri, dudukku pun seketika merosot.

“Benarkan ini? Bahkan keinginan berumah tangga saja aku tak memilikinya” Hatiku terus menduga-duga.

“Ini becanda kan Yah?!” Mungkin saja kan, Ayah tahu kejahilan anak jaman sekarang hingga ingin mempraktikkan pada anaknya sendiri.

“Ayah serius! Hal seperti ini tak pantas jika dijadikan bahan guyonan!”

Jika tadi hanya jantung dan hati yang lemas, kini empedu dan pankreas pun ikut tak terima mendengar ucapan Ayah. Sungguh malang nasibku, Mak!

“Mah ... ” Aku menatap Mama dengan mata yang memerah. Ucapan Ayah memang sepertinya bukan guyonan, tapi otak masih berharap bahwa ini bukan kenyataan.

“Aku nggak mau nikah sama Om-om Yah. Aku nggak mau sama laki-laki tua!” Sesak yang kupendamkan beberapa detik ini akhirnya aku keluarkan.

Jelas! Siapa yang mau menikah dengan Om-om. Jika sudah saling kenal mungkin tak masalah, tapi ini? Bahkan seperti sedang membeli merpati yang masih terbang di awang.

“Kok tua?” gumam Ayah yang masih bisa terdengar olehku.

“Bukankah teman Ayah yang akan datang melamar aku?! Bisa disimpulkan kalau laki-laki itu sudah tua kan?!”

“Astaga! Al ... Bukan begitu.”

Bukan meneruskan ucapannya. Tapi malah tawanya yang kemudian menggema. Tak ibakah pada aku, Anaknya ini.

“Teman Ayah memang datang untuk melamar kamu ... ” ucapannya terjeda karena bibirnya seperti masih menahan tawa.

“Tapi, bukan untuk dirinya sendiri. Tapi untuk anaknya!”

Demi apa! aku ingin menangis. Mataku yang semula hanya berembun dan belum basah kini telah mengucur deras.

“Lah, Malah nangis. Ini gimana siih?”

Semakin aku kencangkan saja suaraku, kala mendengar suaranya itu. Sebagai aksi protes karena dengan sesuka hatinya, menjodohkan anaknya tanpa meminta persetujuan dulu.

“Kalau ngomong yang jelas dong, Yah. jangan setengah-setengah gitu. Jatuhnya jadi ambigu!”

Meski aku kecewa, namun masih belum melihat adanya celah untuk menolaknya. Biarlah aku pikirkan nanti.

“Tapi kan, bener ... ” jawabnya dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.

Astaga! Tak ada ibakah di hati lelaki tua yang selalu aku agungkan itu? Kenapa masih bisa menertawakanku seperti itu!

“Aku kan masih muda Yah. Kenapa harus menjodohkanku segala” Aku mendesah pelan, kali ini.

“Nggak ada yang menjodohkan kamu Al ... Nggak ada!”

“Kalau nggak ada. Lalu ini apa namanya Yah?!” Astaghfirullah.

“Kan dia yang memang mau datang melamar. Ayah nggak ada niat sama sekali buat jodohin kamu”

Orang tua memang omongannya selalu benar. Jadi yang nggak mau disalahkan bukan hanya perempuan saja, tapi laki-laki juga, sama saja.

“Lalu tadi, Kenapa bilang akan menerima lamaran itu. Apa itu masih belum cukup dikatakan bahwa Ayah mau menjodohkan aku!” Perutku tiba-tiba lapar menghadapi masalah seperti ini, huh.

Dan, lagi! Kenapa Mama dari tadi hanya diam saja, kenapa tidak membelaku. Apakah ini merupakan hasil dari konspirasi keduanya?

“Dia pemuda yang baik, meski bukan makhluk alim, tapi dia tahu kondratnya sebagai hamba tuhan. Dan yang jelas lagi dia sudah mapan juga pandai mengurus kantor. Jadi kalau sewaktu-waktu ayah butuh bantuan di kantor, ia bisa diandalkan” Alasan macam apa itu,

“Huufft ... Oke baiklah. Semoga yang Ayah katakan memang benar“ Hatiku memberikan sinyal, mungkin kali ini aku memang harus mengalah.

Bukankah perihal jodoh sudah ada aturannya, jika memang dia nantinya bukanlah jodohku pasti ada jalan untuk lari darinya. Benarkan?

“Namanya Genta. Genta Mackenzie!” Tanpa aku minta Ayah sudah menyebutkan nama pemuda yang katanya sudah mapan itu.

Optimis yang tadi sudah aku bangun, kini mendadak hilang entah ke mana. Hati yang sebelumnya sudah siap menerima, kini kembali luruh ingin menolak semuanya.

“Mah ... Aku nggak mau nikah sama dia Mah. Mendengar namanya saja aku sudah merinding.”

Entah mengapa, saat mendengar namanya disebut, aku langsung terbayang satu karakter detektif cilik dalam komik detektif Conan. Apakah ... bentuknya mirip? Aku bergidik ngeri membayangkan itu. Lupa jika air mata saja masih belum kering dari wajahku.

“Memang ada apa dengan namanya Al? Apakah kamu tidak percaya dengan pilihan Ayahmu? Insyaallah laki-laki itu benar adanya. Seperti yang Ayahmu katakan tadi”

Fix, Mama sama Ayah telah berkonspirasi dan bersekongkol untuk perjodohan ini. Aku yakin itu!

“Kak! Sesuai titah sang Romo. Kakak harus turun sekarang!” Apa-apaan itu, adik tak punya akhlak. Mengagetkan empeduku saja!

Dua puluh empat jam ternyata secepat itu berlalu, kemarin aku masih protes untuk menolak lamaran ini, namun kini keluarga pelamar sudah datang. Harus dengan cara apa aku menolaknya?!

Dan lagi, kenapa aku harus dandan secantik ini? Pakai bedak, pakai perona bibir, pakai minyak wangi, pakai baju bagus, pakai, eh ... kenapa jadi ngelantur gini!?

“Kak! Cepetan!” Suara Agus Kembali menggema. Kembali membangunkan otakku yang masih bertapa di perenungan. Dan ini, kenapa otakku berdetak kencang, eh jantungku. Apakah aku grogi?

Masih dengan hati berdebar ... Eh, astaga jantung berdebar. Eh jantung apa dada yang berdebar? Intinya itu. Aku berjalan di belakang mengikuti Agus.

Meski dia lebih muda dariku, tapi jauh lebih tinggi. Tentu langkah kakinya juga lebih lebar. Membuat aku yang langkahnya memang kecil ini akhirnya tertinggal.

Dan sialnya. Saat aku melihat wajah-wajah asing yang baru aku lihat hari ini, aku terpukau dengan satu wajah “Masyaallah duplikatnya Song Kang”

“Apa duplikatnya Kukang?” Dengan dahi yang berkerut laki-laki yang kupandangi takjub itu bertanya dengan lirih.

Astaghfirullah! Suara yang kukira hanya aku ucap dalam hati, ternyata juga terucap bibir. Dasar bibir laknat.

“Kak kalau lihat ada cowok ganteng, bisa jaga image dikit nggak? Aku kan juga ganteng, tapi Kakak nggak pernah terpesona”

Astaga! Ucapan macam itu? Tidak mungkin juga jika aku terpesona dengan adikku sendiri kan? Iya kan?

Semua terkikik geli, termasuk pemuda itu. Ah, inikah kesan pertama yang aku berikan pada mereka!?

Sekilas, aku melirik Ayah. Pria setengah abad itu, sekarang memandangku dengan senyum tipisnya.

Sedangkan Mama, dia seperti menikmati obrolan dengan calon besan. Eh, ... Calon besan?

Kutepuk pelan bibirku beberapa kali. Kalau ditepuk kasar, sayang masih perawan. Wkwkwkw

Satu yang seharusnya Ayah ingat. Wajah rupawan tak bisa menjamin sebuah kebahagiaan. Uang banyak juga tak selalu bisa mengubah derita menjadi bahagia. Tapi Ayah, ... Apakah laki-laki yang bahkan kini masih kupanggil ayah itu paham akan kata hatiku?

Bab 2

_Terima kasih, telah memberiku ruang di hatimu, aku tak akan mengusik apa yang menjadi masa lalumu, biar ia tetap ada dalam hatimu._

Sesi perkenalan telah usai, tapi tidak dengan laki-laki itu. Aku ragu untuk memulai, dia juga sepertinya tak punya inisiatif.

Ah, ... Apakah dia juga sama terpaksanya seperti diriku?

Cubitan Mama tiba-tiba mendarat di bagian pinggangku.

“Aduh Ma!”

Saat aku menoleh, matanya mendelik seharusnya aku yang mendelik, tapi kenapa malah terbalik. Astaga Mama!

Aku berniat menjatuhkan bobot tubuh di samping Mama, namun sebelum itu terjadi, pinggangku lagi-lagi menjadi landasan cubitan.

Dan lagi-lagi mata itu mendelik, seperti memberi isyarat jika aku harus segera berkenalan dengan pemuda itu.

Hais, tapi apa iya? Aku kan cewek baik-baik, nanti dikiranya aku cewek gampangan lagi.

Grogi gaes! Sumpah, aku nervous! Ini pertama kalinya ngajakin kenalan calon pasangan, eh, ... Astaghfirullah.

“Halo, Alyah putri”

Dan hanya itu. Hanya itu kata yang akhirnya keluar. Tanganku juga berani-beraninya mengulur. Jika ditolak, muka mau ditaruh di mana, saku celana?

“Genta” Dia menjawab dengan singkat padat, tidak jelas dan menjengkelkan.

Aku menyebut nama lengkap namun dia, ... Aish. Dan yang aku kawatirkan benar, uluran tanganku tak mendapat sambutan.

Dasar laki-laki sok jual mahal. Palingan juga biasanya gandengan sama wanita-wanita di luaran sana, huh!

Kadung malu! Jika saja bisa, mungkin sudah meminta jin jarum tujuh enam untuk menghilangkan aku dalam sekejap dari peredaran bumi.

Namun ada satu yang membuatku akhirnya bersyukur. Wajah yang semula aku takutkan pada laki-laki bernama Genta itu akhirnya tidak terjadi.

Apakah yang aku lakukan sudah bisa dikatakan face shaming? Tapi untuk ukuran seorang calon suami, bukankah menilai juga diperlukan.

Dan perbincangan antara orang tua itu akhirnya mengalir begitu saja. Aku? Hanya diam menyimak, dan sesekali menjawab jika memang ditanya.

Sedang Agus, Ia begitu asyik dengan game di ponselnya. Memang adik tak punya akhlak, sedang ada tamu saja dia masih seenak itu bermain game di hadapan mereka.

Genta Mackenzie. Ahs, nama itu, bahkan aku lupa jika Ayah sebelumnya juga sudah mengatakannya. Terlalu takut memikirkan masa depan yang kupikir akan suram.

Mackenzie ... Sekaya apa mereka, hingga anaknya saja memiliki nama marga yang sama dengan ayahnya.

Kalau nanti aku punya anak sama dia berarti nanti anakku juga bakal kebagian marga itu di belakang dong?

Astagfirullah, mikir apa aku. Kugetok kepalaku pelan, entah kenapa pikiranku semakin tak karuan memikirkan laki-laki yang masih asyik berbincang itu.

Ralat ucapan. Ganteng dan kaya memang bukan jaminan bahagia, tapi tidak semua bahagia bisa dibeli dengan uang. Hihihi

Kalau namanya saja ada marga pasti dari kalangan elit, dan pasti orang kaya. Buktinya aku saja yang anak ayah dengan ekonomi termasuk menegah ke atas tidak ada marga yang digunakan.

Berarti kalau menikah dengan dia, beruntung donk? Jadi milyuner atau milyader dadakan!?

Kugetok lagi kepalaku berkali-kali. Kenapa tiba-tiba aku jadi matre seperti ini! Huh. Lagian yang kaya itu ayahnya, bukan dia!

“Rakhman, aku ingin mengatakan maksud kedatangan kami kesini”

Ucapan Laki-laki seumuran Ayah yang kutahu namanya om Alan itu memecah keheningan setelah obrolan santai berakhir.

Kamu pernah tahu nggak rasanya jadi aku yang sedang berada pada posisi ini? Grogi, dan ngeri-ngeri sedap gaes.

Yang penting kalau dibawa ke kondangan nggak malu-maluin dan bisa bikin orang iri!

Dengan pemikiran sempit itu, akhirnya aku pasrah menerima kenyataan kalau Ayah sudah kebelet anaknya ini kawin. Eh, nikah dulu ding baru nanti kawin.

Wajah panjang dengan rahang tegas, jambang tipis, rambut coklat dan sedikit gondrong.

perawakannya hampir semua mirip dengan om Alan. Tapi matanya yang minimalis sepertinya gen dari Tante Ayumi.

Entah kenapa, waktu itu aku bisa spontan menyebut Song Kang, padahal jika diteliti lagi kedua sangatlah berbeda. Lebih ganteng Song Kang sedikit, banyakan bang Genta. Wkwkwkwk

“Hai!”

Dari kejauhan aku melihat bang Genta. Wadidaw ternyata begini di jemput sama ayang. Jedag jedug, jantungku langsung disko.

Bang Genta rupanya sudah menungguku. Aku kira ucapan Ayah soal kencan ini hanya gurauan saja, ternyata benar terjadi.

Oh apakah ini memang cinta terasa berbeda saat menatapnya, ho ho ho🎶

Duh, nervous. Kenapa pula harus lagunitu yang aku nyanyikan. Bakal dikira udah jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal sebenarnya ...

“Bang sudah lama menunggu?”

Aku pindai penampilannya sampai atas ke bawah. Duh, boleh dilaminating nggak sih? Buat jadi pajangan di kamar biar bisa aku tatap setiap saat.

“Baru saja. Kenapa kamu menatapku seperti itu?”

Aku hanya cekikikan. Laki-laki ternyata bisa grogi saat ditatap wanita secantik diriku. Wkwkwkw

“Lucu aja. Abang dandanannya kek orang kantoran aku masih kek gini, kalau diibaratkan tuh kek majikan sama bawahan”

Bagaimana tidak, aku hanya mengenakan kemeja pink dengan rok dan kerudung berwarna biru. Tanpa dandanan apa pun ditambah sudah berkegiatan sedari pagi. Coba bayangkan, betapa buluknya aku.

“Kan memang habis dari kantor A-Al”

Lagi-lagi dia mampu membuatku terkikik geli. Wajah setegas itu ternyata juga bisa melucu.

‘’Tak usah Grogi, panggil saja seperti itu. Tidak perlu ragu, aku tak masalah.” Padahal sebelumnya aku juga grogi. Wkwkwk

Sok akrab memang! Tapi kalau bukan aku siapa lagi, dia sepertinya juga masih kikuk.

Wangi parfum yang tercium saat berada dalam satu mobil menghadirkan perasaan aneh. Jujur, ini pertama kalinya satu mobil dengan laki-laki yang baru aku kenal.

“Kita mau ke mana?”

Nah, kan! Kenapa Ayah sama om Alan tidak sekalian membuatkan rute yang harus kami datangi. Kenapa cuma merencanakan kencannya saja.

Kalau sudah dibuatkan rute kan kami tinggal datangi satu persatu. Kalau begini ... Aku saja tak tahu tempat kencan ternyaman itu di mana.

Eh, astagfirullah! Emang kalau kencan harus ngapain? Kenapa harus ada tempat ternyaman. Tempat ternyaman mah hotel, eh

Lagi-lagi otakku berpikir macam-macam. Ku tepuk bibirku pelan. Padahal bibir tak salah apa-apa tapi otaknya yang salah. Tapi masak aku harus menepuk otak, kan nggak masuk akal.

“Kenapa?”

Duh, wajahnya sih ramah senyum, ganteng. Tapi kenapa kalau nanya Cuma seperlunya aja, aku kan jadi bingung.

“E-enggak ... Enggak kok”

“Perasaan dari awal kita ketemu, kamu sering banget getok kepala sama nepuk bibir?”

Duh, ternyata dia merhatiin aku gaes. Terhura aku.

“Hemm?” Dia menoleh sesaat

Jiah, dia nunggu jawaban dari aku ternyata. Kira-kira bagusnya di tolak atau diterima ya?

Eh, astaga ngelantur lagi! Seperti menjadi kebiasaan baru, aku kembali menepuk bibirku.

“Tuh, ... Kan. Jangan ditepuk terus, sayang nanti sakit. Sini aku cium aja!

What! Apa katanya gaes!? Aku nggak salah dengar kan?!

Bab 3

_jika denganmu adalah takdir, lalu mencintainya hannyalah sebagai musafir. Pada akhirnya, hatiku hanya akan menuju pada cintamu yang menyambutku_

Kelihatannya aja mirip cecak, sebenarnya mah udah level komodo. Kalau udah ngegombal bikin lawannya klepek-klepek, kek aku. Wkwkwk

“Move on memang sesulit itu”

Kepo yang terlalu berlebihan itu tidak baik, salah satunya untuk perasaan. Belum juga jatuh cinta tapi udah patah hati.

Dia punya mantan terindah. Apalah dayaku yang jomblo karatan ini, eh.

“Tidak sulit, Al. Hanya saja, ... Tidak berarti move on akan melupakan semua yang telah terlewati”

“Benarkah?”

Pertanyaan bodoh macam apa itu, kenapa aku harus bertanya hal tak bermutu seperti itu, huh.

Aku kikuk ketika bang Genta menatapku lekat “Kau tak tahu?” Huft, kukira akan ada adegan saling tatap lalu berciuman dan, .... Astaga! Ngelantur lagi

Aku hanya mengedikkan bahu. Bagaimanapun aku tak pernah tahu bagaimana sulitnya move on. Maklum masih ting-ting!

“Move on. Aku sudah melupakan perasaan untuknya Al. Yah, meski dengan memaksakan kehendak”

“Memaksakan kehendak? Maksudnya?” siapa yang tak bingung, punya calon suami kok kalau ngomong cuma setengah-setengah dan berhenti di tengah jalan.

Kalau lagi anyang-anyangan terus berhenti di tengah jalan gimana dong? Eh, astagfirullah! Belum halal.

“Ya ... Aku mencari pelampiasan” Hah! Inikah laki-laki yang kata ayah taat sama Tuhannya. Bahkan hanya karena putus cinta saja mencari pelampiasan.

“A-Abang suka ML?” Kalau jawabannya iya, fiks perjodohan ini harus dibatalkan. Aku tak mau berhubungan dengan laki-laki yang sudah banyak berhubungan dengan wanita lain. Sama saja tidak adil untukku!

“Hah? Maksudnya” Lah, kenapa malah dia juga ikut terkejut?! Aku saja masih tak bisa mengelak dari rasa keterkejutanku ini.

“Katanya nyari pelampiasan. Apa dong! Pasti sewa psk kan?!” Astagfirullah, seharusnya Ayah survei dulu kalau mau cari calon mantu. Kalau begini kan aku yang rugi.

“Astagfirullah Al! Bukan begitu ... “ tawanya membahana. Bahkan para pengunjung restoran menatap heran ke arah meja kami.

Selain bikin jantungan, ternyata bang Genta juga pintar menarik perhatian.

“Yang kumaksud pelampiasan hati, bukan nafsu. Lagian kamu tahu istilah Ml dari mana?”

Nah, pertanyaan jebakan! Bahkan aku sendiri tidak ingat kapan pertama kali aku mendengar kata itu. Maju kena mundur kena.

“Ohw, play boy” Apakah Ayah tak salah pilih? Pria seperti ini yang katanya baik?

Yah, meski aku sendiri sudah tertarik pada pesoana wajahnya. Tapi tertarik bukan berarti langsung bisa menggetarkan jiwa.

“Punya berapa sekarang?” Sebelum terlanjur, mending tahu terlebih dahulu. Menyesal tak akan terjadi jika dari awal sudah membatasi diri.

“Berapa apanya?” Duh, selain yang sudah disebutkan tadi, ternyata bang Genta juga telmi, alias telat mikir hahahah.

Seharusnya dia langsung paham, ini kan sedang membahas play boy, berarti aku tanya berapa simpanannya, huh.

“Simpanan” Singkat padat jelas, meski terdengar ambigu. Tapi semoga dia paham kalau nggak, mungkin perlu aku cuci tuh otak! Astaghfirullah

“Banyak, lumayan lah.”

Kan, kan kan! Fiks aku nggak mau makan hati apalagi makan ampela kalau sampai nikah sama dia. Mungkin sesegera mungkin harus mengajukan pengunduran diri dari jabatan calon mantu keluarga Mackenzie.

“Ada berapa?” Bodoh! Seharusnya percakapan ini aku rekam. Kalau aku bicara pada ayah tanpa bukti, maka omonganku hanya di anggak ngelindur saja. Duh bodoh!

Ke ketuk-ketuk kepalaku, mengutuk akan segala kebodohanku. Kenapa pikiran itu baru datang, kenapa nggak dari awal pembicaraan langsung saja kurekam.

“Oke, nanti kita ke ATM, aku sendiri lupa berapa simpananku”

“Hah! Apa kata dia tadi? Ke ATM? Lupa simpanan?!” Dia gagal paham, atau omonganku yang kurang jelas!

“Abang paham nggak sih sama pertanyaanku?!” Kalau setiap pertanyaan mendapatkan jawaban yang melenceng terus. Bisa-bisa aku hilang kesabaran, bahkan saat ini pun sabarku sudah hilang!

Dan apa yang aku dapat? Bukan jawaban tapi tawa membahana yang lagi-lagi mampu membuat para pengunjung menatap ke arah meja kami.

“Aku paham. Hanya sedang menggodamu saja ...”

Ucapannya lagi-lagi terhenti. Dan tawa itu masih sekilas terdengar. Ahs, pusing punya calon suami kayak gini. Bisa ditukar nggak sih? Kayak Justin Bieber gitu?

“Aku paham ... Play boy itu dulu. Lebih tepatnya sebelum melamar kamu. Untuk saat ini, tidak ada pacar satu pun”

Huh, baru aja berhenti. Berarti ada kemungkinan play boy itu kumat. Fiks, surat pengunduran diri dari jabatan calon mantu tetap harus diajukan!

“Omongan play boy tak semudah itu untuk kupercaya!”

Seperti lagu salah satu penyanyi tanah air, wanita emang harus waspada sama omongan lelaki. Meski tak semua laki-laki busuk, tetaplah harus waspada.

Kejahatan terjadi bukan hanya karena si pelaku jahat saja. Tapi karena mendapat kesempatan untuk berbuat jahat. Eh belibet!

“Dan anehnya, ... Bahkan saat ini aku sudah jatuh cinta denganmu Al” Emang yang namanya play boy akan tetap play boy. Dua kali bertemu saja sudah bilang cinta. Apa kata dunia?!

“Aku nggak akan tertipu sama komodo seperti kamu” Namun Ungkap itu hanya tertahan di hati saja. Tak tega rasanya pada komodo seperti dia berbicara sepeda itu, huh.

“Nggak bisa dipercaya!” Aku juga harus buktikan. Tidak semua wanita bisa dia kibuli.

“Soal percaya atau tidak, aku tak peduli. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja. Tidak lebih! Bahkan untuk berharap cintaku dibalas saja terlalu mustahil.”

Jika sudah tahu kalau itu mustahil, kenapa harus mengatakan cinta padaku. Pesona play boy memang beda.

Biarlah, mantan saja aku tak punya, pacar apalagi. Tapi kenapa malah dapat jodoh seperti dia. Kalau Seandainya boleh request, biar dia tetap orangnya, tapi jangan dengan masa lalu seperti itu.

“Astabfirullah! Nggak boleh bukan makhrom!” Aku tersentak kaget.

Bagaimana tidak, aku yang sedang termenung tiba-tiba dikagetkan sebuah jari menoel hidungku. Kurang ajar memang.

Lain di bibir, lain di hati. Kenapa setelah sentuhan itu hatiku mendadak tak karuan.

“Hahah, maaf Al, habisnya aku gemes banget. Tapi justru aku merasa syukur karena kita bukan makhrom, artinya kita bisa menikah Al”

Jantung ... Masih sehatkan? Pankreas, ulu hati, lambung, ginjal bagaimana kabar kalian? Kenapa badanku tiba-tiba bergetar!

“Ah, tadi sudah solat kan?” Dasar, sudah jam dua batu bertanya!

Kenapa nggak tanya sudah makan belum?

Tubuhku yang bergetar tadi yang kukira sedang jatuh cinta ternyata salah besar. Tapi lapar gaes! Cacing udah berdendang meminta suguhan!

Tak banyak laki-laki yang mau bertanya sudah solat belum. Kebanyakan laki-laki hanya bertanya ... Sudah makan belum?

Padahal, dia saja tidak pernah membelikan beras. Tapi yang ditanya hanya soal sudah makan atau belum. Wanita perlu nafkah Bang! Bukan Cuma gombalan dari play boy cap komodo nungging seperti kalian.

Obrolan kami seketika terhenti ketika ada sosok jailangkung mendekati meja kami ... “Hai Mac, apa kabar! Sudah dapat ganti rupanya. Tapi kenapa selera kamu menurun drastis seperti ini.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED