Banyak orang yang mengira kalau aku menjalani hidup yang sempurna.
Aku menikah dengan pria mapan yang baik hati dan bertanggung jawab. Kedua anakku, Evan dan Rico, tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Orang-orang bilang, di umurku yang ke-35 tahun aku masih nampak seperti gadis dengan tubuh molek yang mempesona.
Pokoknya, tidak ada yang kurang dalam hidupku. Semuanya sempurna.
Tapi kesempurnaan yang dilihat orang-orang itu semu.
Sebuah kebohongan besar kusimpan dalam-dalam selama sepuluh tahun pernikahanku dengan suamiku. Kebohongan bahwa aku mencintainya.
*
Kebohongan lainnya adalah aku menikmati semua sesi bercinta dengan Prasetyo, panggilannya Pras–suamiku. Nyatanya, aku tidak pernah terpuaskan oleh suamiku sendiri. Tidak pernah. Sekali pun dalam sepuluh tahun pernikahan kami.
Ha! Menyedihkan memang. Dan aku selalu berpura-pura mencapai kenikmatan itu, memujinya sebagai pria hebat sepanjang masa, yang bisa membawaku melayang ke atas sana. Semua kulakukan hanya untuk menjaga harga dirinya.
Jangan salah, kami sudah membahas masalah ini di awal pernikahan–bahkan sampai ke seksolog segala–yah, tapi hal itu tidak membantu. Pras sepertinya sudah sekuat tenaga menahan agar tidak selesai duluan, tapi tetap saja sulit bagiku untuk mencapai kenikmatan itu.
Jujur, aku tidak pernah merasakan gairah saat kami berhubungan. Mungkin, karena aku memang belum bisa mencintainya.
Kurasa aku layak dapat Piala Oscar sebagai aktris terbaik karena berkat akting menawanku ini aku berhasil mempertahankan rumah tangga kami selama sepuluh tahun.
Kamu sungguh hebat, Andini! Aku selalu memuji diriku seperti itu–sebenarnya ini hanya kamuflase untuk menyemangati diriku sendiri sih.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan dari luar kamar mandi membuatku tersentak.
Lamunanku–lebih tepatnya keluhanku–langsung buyar seketika.
"Sayang, udahan belum? Kok lama banget? Aku boleh masuk ya?" Suara Pras terdengar dari luar sana.
Aku berdecak kesal. "Sebentar!" balasku kemudian.
Cepat-cepat aku membasuh seluruh tubuhku hingga bersih. Aku tidak mau suamiku masuk dan memaksaku memulai ronde kedua.
Soalnya, stok kepura-puraanku sudah habis untuk malam ini.
*
Setelah selesai kelas pilates, aku sengaja mampir ke toko buah langganan. Setelah itu aku bergegas pulang untuk istirahat sebentar sebelum nanti aku lanjut les baking pukul dua siang.
Selesai kelas baking, aku harus menjemput kedua putraku, Evan, delapan tahun dan Rico, enam tahun, di sekolah.
Seperti itulah kegiatanku sehari-hari; belanja, les sana-sini, ngopi cantik dengan teman-temanku, ke salon, antar jemput anak. Pokoknya aku harus menyibukkan diri.
Pras tidak mengizinkanku bekerja. Dia ingin aku mengabdi sepenuhnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak kami. Kata salah satu temanku, itu adalah salah satu cara Pras agar aku tidak mandiri dan bergantung padanya.
Awalnya, aku keberatan. Karena sebelum menikah dengan Pras, aku memiliki pekerjaan yang cukup stabil. Tapi Pras berjanji untuk memenuhi segala kebutuhanku–dan dia melakukannya–jadi, ya sudah, aku menjalani peran sebagai ibu rumah tangga saja selama ini.
Kadang, aku merasa kesepian apalagi kalau teman-temanku sibuk dengan bisnis mereka–Pras juga melarangku berbisnis, katanya aku tidak berbakat–rumah terasa hampa. Kedua anakku sudah beranjak besar dan sibuk dengan kegiatan sekolah.
Makanya, aku mendaftar berbagai macam kursus.
Sepertinya hampir semua kursus pernah aku ikuti, mulai dari memasak, merajut, yoga dan pilates, bahasa asing, sampai yang terakhir aku iseng ikut kursus coding sampai dapat sertifikat segala–tapi entah untuk apa sertifikat itu, toh aku dilarang kerja oleh suamiku?
Aku menyeka keringat yang membasahi pelipis lalu menaruh keranjang belanjaan.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Keningku mengernyit karena tumben-tumbenan ada yang menelepon ke rumah.
"Halo?"
"Selamat siang!" Suara seorang pria terdengar ceria dari seberang sana. "Ini benar dengan rumah Bapak Prasetyo Hendrawanto?"
Aku menghela napas pendek. Bisa kutebak, dia pasti sales yang hendak menawarkan kartu kredit, atau mungkin penipu yang bilang suamiku menang undian.
"Iya, benar," jawabku acuh. Huh, seharusnya aku tidak usah mengangkat telepon ini. Buang-buang waktu saja, pikirku.
"Kami dari Showroom Mobil Permata Indah. Saya dengan Wawan sebagai sales executive yang menangani pembelian mobil dari Bapak Prasetyo Hendrawanto."
"Mo-mobil?"
"Benar. Maaf, saya berbicara dengan siapa ya?"
"Saya istrinya."
"Oh, Ibu! Apa kabar, Bu? Sehat? Kebetulan, mobil ini kan dibeli Pak Prasetyo untuk Ibu. Nah, kami lupa, Bu. Waktu itu Bapak pilih mobilnya warna abu metalik atau hitam ya?"
"A-apa? Suamiku beli mobil baru?" Kerutan di keningku semakin dalam.
Sales itu nampak terdiam sesaat di seberang sana. "Iya, Bu. Sebagai hadiah perayaan pernikahan Ibu dan Bapak yang ke...Aduh, maaf Bu, saya lupa."
"Yang kesepuluh."
"Ah, iya yang kesepuluh ya? Jadi, Ibu pilih warna yang abu metalik atau hitam?"
Apa ini hadiah kejutan dari Pras untukku? Tapi perayaan ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh sudah lewat tiga bulan yang lalu dan Pras memberiku hadiah sepasang anting berlapis berlian.
"Entahlah. Aku kurang tahu suamiku pilih warna apa. Tapi kalau mobil itu untukku, aku lebih suka warna hitam," jawabku.
"Baiklah. Kalau begitu besok kami akan kirim mobilnya ke rumah."
Sales itu lantas mengkonfirmasi alamat rumah kami dan aku terus bertanya-tanya untuk apa Pras memberiku mobil baru padahal garasi kami saja tidak muat untuk menampung mobil lagi.
Setelah menutup telepon, aku masih termenung. Kurasa aku harus menanyakan hal ini langsung pada Pras. Kulirik pergelangan tanganku. Hm, aku bisa datang ke kantornya sambil membawakannya makan siang. Yah, hitung-hitung sebagai kejutan karena sudah membelikanku mobil baru.
Lalu aku pun bergegas menyuruh, Miyem, ART-ku agar menyiapkan makan siang untuk Pras.
*
Aku melangkah santai di koridor menuju ruangan Pras. Masih ada sepuluh menit lagi menuju jam makan siang. Mudah-mudahan saja Pras masih ada di ruangannya.
Namun, aku tidak menemukan asisten Pras di mejanya. Maka, aku masuk begitu saja ke arah pintu ruangan Pras yang ada di ujung koridor.
Alisku langsung bertautan begitu pintu ruangan Pras terkunci. Apa dia sedang keluar? Namun, saat aku hendak balik badan, aku mendengar suara kaki meja yang berdecit dari dalam sana.
Tok, tok, tok.
"Mas Pras? Mas?" tanyaku dari luar. "Mas ada di dalam? Mas Pras?"
Aku lalu menempelkan kupingku di permukaan pintu untuk mengetahui apakah ada orang di dalam atau tidak.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara slot pintu yang bergeser dan tubuhku hampir limbung ke depan karena pintu ruangan Pras membuka begitu saja.
"Andini?" Pras berdiri di hadapanku dengan sedikit terkejut. Tangannya membenarkan posisi kerah kemejanya yang miring. "Kenapa kamu datang enggak bilang-bilang?"
"Sorry, Mas. Aku mau kasih kejutan untuk kamu."
"Kejutan?"
Aku mengangkat kantung bekal yang kutenteng sedari tadi. "Makan siang spesial untuk kita!"
"Tumben," kini Pras mengancingkan salah satu mansetnya.
Aku tersenyum tipis, menatapnya. "Aku tahu, Mas."
Pras nampak menelan ludahnya dalam-dalam. Astaga, kenapa dia jadi tegang begitu sih? Apa karena kejutan hadiah mobil untukku batal gara-gara sales itu menelepon ke rumah?
"Tahu soal apa?" Suara Pras terdengar sedikit parau kali ini.
Aku mendahuluinya, masuk ke dalam ruangannya. "Bahwa kamu..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, langkahku seketika tertahan begitu melihat seorang wanita cantik yang berdiri di samping meja Pras. Wanita itu tersenyum padaku namun aku membalasnya dengan tatapan tajam.
Kepalaku menoleh ke arah Pras yang berdiri di belakangku. "Siapa dia?" tanyaku dingin.
Dan Pras hanya terdiam seperti patung.
"Siapa wanita itu, Mas?" desakku lagi. Mataku menyorot tajam ke arah Pras yang berusaha untuk tersenyum, walau aku tahu senyumannya begitu kaku.
"Perkenalkan, saya Ratih," sergah wanita itu, berjalan dengan anggun ke arahku. Kini kami saling berhadapan. Rambutnya panjang seperti rambutku, tinggi kami juga sama. Hanya saja wanita yang bernama Ratih ini jauh lebih muda dariku.
Mataku menyipit, memperhatikan penampilan Ratih yang formal.
"Iya, dia Ratih," ucap Pras dari balik punggungku. "Dia–"
"Saya salah satu klien di perusahaan ini. Kebetulan saya bekerja sebagai AE dari salah satu PH yang akan bekerja sama dengan jaringan TV langganan ini," Ratih menjulurkan tangannya.
Terpaksa aku menyambut uluran tangannya.
"Benar, Ndin. Dia salah satu calon klien penting perusahaan," ucap Pras lagi, melempar senyum ke arah Ratih.
Aku manggut-manggut. "Saking pentingnya, sampai mengunci pintu ruangan segala?"
"Yah, begitulah. Kami harus membahas beberapa dokumen confidential, Ndin," terang Pras. Lantas, Ratih membereskan beberapa kertas yang berantakan di atas meja kerja Pras.
"Saya rasa cukup sekian pembahasannya, Pak," Ratih menukas sambil menenteng sejumlah dokumen. "Saya pamit dulu."
"Ah, ya. Makasih ya, Tih," tukas Pras.
Lalu, Ratih berhenti di depanku dan menyunggingkan senyum yang manis. Tapi entah kenapa aku merasa kalau senyum itu palsu.
"Oh ya, selamat ya, Bu Andini, atas perayaan pernikahan kalian yang kesepuluh. Pak Pras banyak bercerita soal keluarganya yang bahagia dan tentu saja istrinya yang cantik."
Aku tahu bola mata Ratih memperhatikan penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Trims," balasku singkat.
"Semoga pernikahan kalian langgeng," lanjut Ratih lagi. Saat wanita itu berjalan keluar, dia meninggalkan wanginya yang khas, semacam wangi mawar yang membuat kepalaku pusing.
*
"Sepertinya dia wanita yang ambisius," ucapku setelah menata makan siang di atas meja di ruangan Pras.
Pras duduk di sofa di seberangku. "Siapa?"
"Ratih."
"Yah, begitulah. Dia wanita muda yang pintar," Pras menyeruput kopi dari tumbler yang kubawa.
"Dia bukan selingkuhanmu kan?"
"Uhuk!" Tiba-tiba saja Pras tersedak kopinya. "Astaga, Sayang! Kenapa kamu bisa berpikiran begitu sih? Lagian tumben-tumbenan kamu cemburu."
"Sayang?" ulangku. "Kamu hanya memanggilku Sayang kalau kita sedang bercinta, Mas."
Tawa Pras berderai kencang. "Masa sih?"
Aku mendengus pelan. "Hitam atau abu-abu metalik. Kamu bahkan enggak tahu warna kesukaanku."
Kedua ujung alis Pras menyatu. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu kamu membelikanku sebuah mobil kan? Sales-nya menelepon ke rumah," terangku.
"A-apa?" Pras membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa kamu enggak bilang sih, Mas? Maksudku, aku belum butuh mobil baru. Lagian, mobil yang kupakai ini kan belum ada lima tahun. Terus, besok mobil itu bakalan datang ke rumah. Yah, bukannya aku enggak bersyukur. Aku senang sih. Tapi mobil itu mau ditaruh di mana, Mas? Garasi kita hanya cukup dua mobil. "
"Soal itu..." Pras mengusap tengkuknya berkali-kali.
Mataku menyipit curiga. "Itu mobil untukku kan?"
"Astaga! Tentu saja, Sayang! Maksudku, Andini, Sayangku. Aku hanya sedikit kesal saja. Bisa-bisanya sales itu menelepon ke rumah. Padahal aku mau memberimu kejutan. Tapi ya sudahlah." Pras menepiskan tangannya. "Sebenarnya, mobilmu mau kujual. Ada salah satu temanku yang ingin membelinya."
"Kenapa kamu enggak bilang, Mas? Aku suka mobil itu soalnya warnanya merah, warna kesukaanku."
Pras menggaruk-garuk pelipisnya. "Tadinya, aku mau cari yang warna merah tapi enggak ada. Cuma ada warna hitam dan abu metalik. Tapi kamu tahu kan kalau mobil itu keluaran terbaru dan lebih mahal?"
"Aku tahu kok."
"Sistem keamanannya juga lengkap. Ada dua airbag di belakang dan di depan. Pokoknya aku merasa aman kalau kamu nyetir pakai mobil baru itu."
"Makasih ya, Mas. Aku enggak nyangka kamu bakal memberiku hadiah mobil," ucapku.
Pras tertawa. "Kamu satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini, Ndin. Ingat kan, betapa besar perjuanganku untuk mendapatkanmu? Sampai akhirnya, kamu menerima cintaku, menikah denganku, dan memberiku dua anak yang lucu. Jadi, kurasa mobil baru itu memang layak untukmu."
Lantas, Pras mulai menyantap makan siangnya bersamaku. Namun seperti biasa, kami hanya makan dalam diam karena aku dan suamiku memang jarang ngobrol.
*
Aku menghela napas pelan saat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sepertinya aku tidak akan keburu mengejar kelas baking.
Jadi, aku berjalan santai saja melewati lobi. Namun, aku langkahku terhenti begitu melihat Ratih yang duduk di lobi gedung. Maksudku, dia masih berada di sini? Padahal sudah satu jam selepas dia pamit dari ruangan Pras.
"Ratih?" Tukasku yang kini berdiri menjulang di depannya.
Kepala wanita itu mendongak dan matanya langsung membulat. "Lho, Bu Andini?"
"Seharusnya aku yang kaget. Kenapa kamu masih ada di sini? Apa masih ada keperluan dengan suamiku? Apa aku sudah mengganggu waktu kalian?" cerocosku.
"Ah, enggak kok, Bu. Saya...sebenarnya sedari tadi saya sedang menunggu taksi online, tapi di-cancel terus. Mungkin karena daerah sekitaran sini memang macet kalau jam makan siang," terang Ratih.
Lalu aku menghempas diri di sampingnya. Dari gelagatnya aku tahu dia risih akan keberadaanku.
"Hm, bukannya kalau AE itu biasanya dapat fasilitas mobil kantor ya?" tanyaku.
"Iya, tapi mobilnya lagi di bengkel. Lagi pula, saya juga belum punya mobil pribadi."
"Ah, atau jangan-jangan kamu ya temannya Mas Pras yang mau membeli mobilku?" Tebakku asal.
"Eh?"
Aku menepiskan tangan. "Itu hanya asumsiku saja kok. Soalnya Mas Pras baru saja memberiku hadiah mobil baru. Dan mobil lamaku mau dibeli oleh temannya Mas Pras. Bisa saja kan itu dirimu? Tapi sepertinya bukan sih."
"Oh, begitu ya. Bukan saya kok yang mau membeli mobil Bu Andini," dia tersenyum kecut. "Sepertinya Pak Pras memang benar-benar mencintai Bu Andini ya, sampai dibelikan mobil baru segala. Menyenangkan sekali."
Aku hanya mengedikkan bahu. Dia tidak tahu kenyataan sebenarnya. "Yah, begitulah. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?"
"Pacar?" Mata bulat Ratih mengerjap-ngerjap.
"Kurasa perempuan secantik kamu enggak mungkin jomlo kan?"
Ratih tertawa kecil sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Well, aku bahkan sudah menikah."
"Oh ya?" Kini giliran mataku yang membelalak lebar.
Rambut Ratih bergoyang saat mengangguk pelan. "Aku sangat mencintai suamiku dan aku bahkan rela melakukan apa saja demi bersamanya."
Yah, seharusnya aku tidak berpikiran macam-macam tadi. Ternyata Ratih sudah menikah. Namun, dahiku mengerut melihat jari manisnya.
"Tapi, kenapa enggak ada cincin yang melingkar di jarimu?"
"Bu Andini juga enggak pakai cincin kawin kan?" Tembaknya.
"Ah, iya sih. Itu karena pernikahanku sudah berjalan sepuluh tahun dan kami saling percaya satu sama lain. Lagi pula cincin kawinku juga sudah enggak muat."
"Sama denganku. Aku dan suamiku juga saling percaya. Jadi, cincin itu enggak perlu."
Aku kembali mengecek pergelangan tanganku. "Mau kuantar? Aku masih punya banyak waktu sebelum menjemput kedua anakku."
"Terima kasih, Bu Andini. Tapi saya enggak mau merepotkan."
Aku lantas bangkit. "Yah, senang berkenalan denganmu, Ratih."
Ratih menyunggingkan senyum simpul dan aku pun segera menghilang dari pandangannya.
*
Saat kembali ke rumah, aku mendapati dapur yang masih berantakan. Aku berdecak kesal karena biasanya Miyem selalu membereskan dapur setelah memasak.
"Miyem!" panggilku sambil mengarah ke balik pintu yang menghubungkan dapur bersih dengan dapur kotor. Namun, ART-ku itu tidak kunjung menyahut.
"Miyem?!" panggilku lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit jengkel. Aku berdecak heran. Kuputuskan untuk mengecek keberadaannya. Ternyata dia tidak ada di dapur kotor.
Aku lalu mendapati kantung belanjaannya dari pasar yang masih tergeletak di lantai.
"Astaga..." desisku sambil geleng-geleng kepala. Sayuran-sayuran ini kalau tidak langsung dicuci dan dimasukkan ke kulkas pasti akan layu. Heran, tidak biasanya Miyem lalai seperti ini.
Aku berkacak pinggang dan memperhatikan keadaan sekitar.
Lalu, mataku tertuju ke arah kamar Miyem. Jangan-jangan dia sakit? Aku pun jadi cemas.
Namun saat aku hendak melangkah ke kamar Miyem, aku mendengar suara aneh dari arah gudang.
"Ah, Om..."
Dahiku mengerut dalam sambil melangkah perlahan ke gudang.
"Om, enak banget. Terus Om..."
Napasku tercekat. Aku yakin benar itu suara Miyem. Tapi kenapa dia mendesah seperti itu, di gudang pula?
Langkahku semakin dekat dan melalui celah pintu gudang yang sedikit terbuka, aku menyaksikan tubuh Miyem yang tanpa busana bergoyang-goyang seirama.
Jantungku berdegup-degup tidak karuan. Astaga, Miyem!
Sambil menahan napas, aku menyipitkan mata, berusaha menangkap sosok pria yang menghentak ART-ku dari belakang.
Dan kini jantungku terasa mau copot begitu tahu siapa pria yang bermain gila dengan Miyem.
Kepalaku mendadak pusing sementara desahan Miyem semakin menggila dari dalam sana.
"Ssst! Jangan, keras-keras. Nanti ada yang denger. Gawat kan kalau sampai ketahuan." Pria itu menghentikan gerakan pinggulnya. Rautnya nampak cemas.
Miyem lantas mengerang kesal. "Tenang, Om. Jam segini Nyonya belum pulang. Ayo, Om, lanjut."
"Beneran? Baiklah, kalau gitu."
Pria itu menampar bokong Miyem dan lenguhan mereka kembali bersahutan.
Aku bergidik jijik menyaksikan semua ini. Miyem, ART-ku yang baru berumur dua puluh tahun, bercinta dengan Rudi, tetangga depan rumahku yang notabene adalah pria setengah baya berkepala lima!
Yang aku tahu, Risa–istrinya Rudi–beberapa bulan lalu memang terkena serangan jantung ringan. Dan sejak saat itu kondisi kesehatannya menurun.
Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan bagi Rudi untuk berselingkuh, apalagi dengan Miyem, ART-ku!
Kedua tanganku mengepal erat dan napasku pun memburu. Rasanya kepalaku mengepul panas karena dipenuhi amarah. Aku punya trauma tersendiri dengan yang namanya perselingkuhan.
Perlahan, aku mengambil ponsel yang ada di saku celana.
Aku harus memberi pelajaran pada mereka berdua! Dari celah pintu, aku mulai membidik adegan perselingkuhan ini dengan ponselku.
"Om, Miyem mau sampe..." desahnya.
"Aku juga. Kita bareng ya, Om?"
Dengan napas berat, Rudi mempercepat goyangan pinggulnya.
Aku menelan ludah dalam-dalam. Entah kenapa bulu-bulu di tengkukku terasa meremang sementara jantungku jadi berdegup cepat menyaksikan semua ini.
Mata Miyem mulai terpejam. Sepertinya dia akan mencapai puncaknya.
Tiba-tiba aku merasa iri. Miyem bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan bersama suamiku sendiri.
Tanganku gemetar menyaksikan mereka akan mencapai puncak. Lalu tanpa kuduga ponselku berdering kencang. Muncul nomor yang tidak dikenal di layar.
Sontak aku memekik dan ponselku meluncur ke lantai.
Sial! Aku kepergok mengintip mereka! Tapi tunggu, kenapa aku mesti panik? Seharusnya mereka berdualah yang panik!
Maka, secepat kilat aku mengayun kaki kananku dan mendobrak pintu gudang agar membuka lebar. Kami bertiga pun saling berteriak kencang.
Miyem dan Rudi panik akan kehadiranku sementara aku panik karena melihat milik Rudi yang menggantung.
*
Akhirnya, terjadi perang dunia ketiga di rumahku. Aku memberi tahu Risa, wanita malang itu, soal perselingkuhan suaminya saat itu juga. Risa datang ke rumahku dan melabrak habis-habisan suaminya serta Miyem.
Terus terang, aku merasa bersalah karena bagaimana pun juga Miyem adalah tanggung jawabku. Aku minta maaf pada Risa dan memulangkan Miyem di hari itu ke kampung halaman dengan bis–tentu saja aku memberinya uang pesangon.
Malamnya, aku memberi tahu Pras soal kehebohan yang terjadi tadi siang, sampai-sampai aku telat menjemput kedua putraku.
"Gila kan? Siapa yang sangka Rudi bermain api dengan ART kita, Mas?!" Aku melempar kedua tangan ke atas dengan geram.
"Yah, namanya juga lelaki, Ndin," jawab Pras sambil memperhatikan ponselnya.
"Maksud Mas, kalau laki-laki wajar selingkuh?" tanyaku sewot dari depan meja rias.
"Laki-laki itu kan butuh menyalurkan nafsunya dan kalau enggak salah istrinya itu sedang sakit kan?"
"Astaga, Mas! Tapi bukan berarti si Rudi itu harus selingkuh!"
"Ya, ya, aku tahu tindakan Rudi itu salah. Tapi sudahlah, toh itu bukan urusan kita."
Aku naik ke atas ranjang. "Iya, tapi Miyem bekas ART kita, Mas."
"Miyem sudah kamu pecat. Beres." Lantas, Pras tiba-tiba memiringkan posisi badannya, menatapku. "Ndin, apa yang bakal kamu lakukan kalau aku selingkuh?"
"Cerai," jawabku cepat. "Dan apa yang akan Mas lakukan kalau aku selingkuh?" tanyaku penasaran.
Pras mengetuk-ngetukkan ujung ponselnya di dagu sambil berpikir. "Hm, kurasa aku akan membunuhmu."
"A-apa?"
Seketika tawa Pras pecah. "Astaga, kamu nampak ketakutan, Ndin! Aku hanya bercanda."
Aku mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirku. "Bercandaanmu itu enggak lucu, Mas!"
Pras kemudian berbaring dan menatap langit-langit. "Yah, yang pasti aku enggak akan membiarkanmu mengkhianatiku. Aku enggak akan melepasmu, Ndin. Kamu akan jadi milikku selamanya. Apapun yang terjadi."
Pram menoleh dan menyeringai dalam cahaya kamar yang remang. Oh, aku tidak suka senyumannya itu. Maka aku segera menarik selimut dan tidur memunggunginya.
*
Sekarang sudah tiga minggu sejak kejadian menggemparkan itu berlalu dan rumah depan itu masih kosong.
Plang yang bertuliskan 'rumah dijual' masih menggantung di gerbang rumah.
Risa menjual rumah miliknya. Ya, selama ini Rudi memang menumpang hidup dengan Risa. Pria brengsek itu mendapatkan jabatan sebagai direktur di perusahaan tekstil juga karena perusahaan itu milik keluarganya Risa.
Pernikahan dua puluh lima tahun mereka pun kandas dan Risa memilih pergi ke Amerika menyusul kedua anak mereka.
Kupikir kehidupan Risa dan Rudi sempurna, tapi nyatanya tidak. Sama seperti hidupku. Kita memang tidak bisa melihat segala sesuatu dari sampulnya saja.
Aku menghela napas pelan setelah memandangi rumah itu dan tragedinya. Lalu aku menutup pagar rumahku dan bersiap untuk melanjutkan aktivitas setelah mengantar kedua putraku ke sekolah.
*
Hap! Aku mengangkat keranjang kotor pakaian anggota rumah ini dan membawanya ke mesin cuci.
Sampai saat ini aku memang belum memiliki ART lagi. Pras sudah mendesakku untuk mencari pengganti Miyem. Dia tidak ingin aku kecapekan. Tapi aku masih trauma dengan kejadian itu.
Kali ini aku mau lebih selektif mencari ART baru. Tapi ya itu, sampai sekarang aku belum menemukan ART yang terpercaya.
Namun, tidak jadi masalah sih. Sebenarnya dari dulu aku terbiasa mandiri, mengerjakan tugas rumah sendiri. Jadi, menyapu, mengepel dan lain sebagainya bukan masalah besar bagiku. Tanganku juga tidak anti dengan deterjen. Tapi sejak menikah dengan Pras, dia memang tidak membiarkanku melakukannya.
Aku malah senang tidak ada ART karena aku bisa menenggelamkan diri dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Kadang capek sih, tapi kunikmati saja. Toh, nanti juga aku akan dapat pengganti Miyem.
Air di mesin cuci itu berputar, menggiling pakaian hingga bersih. Lantas, aku kembali ke dapur. Setelah menggelung rambutku yang panjang, aku menenteng kantong plastik hitam berisi sampah.
Udara di luar yang cukup terik membuatku menjatuhkan pilihan pada kaos coklat muda yang tipis yang melekat ketat di tubuhku, serta celana pendek hitam yang memamerkan kakiku yang jenjang.
Toh, tidak ada yang melihatku berpakaian minim seperti ini. Area komplek perumahanku memang sepi kalau siang-siang begini.
Aku menutup kembali bak sampah dan saat memutar tubuh, aku menyadari ada mobil SUV hitam yang terparkir di depan rumah kosong itu.
Hm, apa ada calon pembeli yang datang melihat?
Saat aku sedang berpikir, gerbang pintu rumah itu bergeser. Seorang yang berpakaian formal keluar sambil membawa semacam map, diikuti oleh seorang pria jangkung yang menawan.
Entah bagaimana, pandangan kami beradu–aku dan pria menawan itu–yang seketika menyebabkan degup jantungku jadi bertalu cepat.
Oh, sial! Mana pakaianku minim seperti ini lagi?!