Bab 1

Ceklek!

"Auuww, tidaaak!" teriak Gea, seraya menutup tubuh bagian atasnya.

Sontak Gea menoleh ke arah pintu kamarnya yang tidak terkunci, saat Arjun kakak tirinya yang hanya selisih dua tahun itu, membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

"Mas Arjun! Awas saja jika kamu masuk ke kamarku lagi, tanpa permisi terlebih dahulu!” ucap Gea jutek.

"Sorry, aku menghadap ke tembok, nih! Buruan, benerin itu kancing bajunya!" ucap Arjun selengekan.

"Ngapain buru-buru. Siapa suruh masuk kamar orang tanpa ketuk pintu dulu," jawab Gea santai.

“Emange gue pikirin! Bodo amat! Emang ini kamar nenek moyang kamu?” ucap Arjun tak kalah ketus.

“Mamaaaa!” pekik Gea memekakkan gendang telinga.

Spontan Arjun mengambil bantal sofa yang ada di sudut kamar adik tirinya itu, lalu melempar ke arah mulutnya yang berisik.

Melihat sang kakak tiri melemparinya dengan bantal sofa, Gea tidak terima. Lalu gadis itu mengambil bantal sofa yang sama, untuk dilempar ke arah kakak tirinya.

Naas, sebelum bantal sofa itu mengenai tubuh kakak tirinya, pintu kamar Gea keburu ditutup oleh Arjun dari luar. Arjun sempat terkikik mendengar omelan adik tirinya di dalam kamar.

Dari balik pintu dapur, Bu Amanda istri kedua Pak Wira Mahendra hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya.

“Arjun! Kamu apakan adikmu? Tidak bosan apa? Setiap hari beranteeem … mulu. Kalian itu sudah kuliah. Masa iya, anak kuliahan setiap hari berantem kaya bocah SD,” ucap Bu Amanda.

“Hihi ... maaf, Ma. Iseng!” jawab Arjun polos lalu gegas melangkahkan kakinya ke kamarnya di lantai atas.

Keluarga kecil mereka, meskipun sama-sama berasal dari keluarga broken home, tetapi mereka dipersatukan oleh cinta. Pak Wira yang pernah gagal berumah tangga karena istri pertamanya selingkuh lalu menceraikan sang istri.

Demikianpun Bu Amanda yang ditinggal suaminya selingkuh, lalu sang istri minta cerai. Klop! Bagai gayung bersambut. Mereka dipertemukan karena cinta, di saat Bu Amanda sebagai pemilik usaha katering mendapat orderan makanan untuk acara ulang tahun di perusahaan Pak Wira.

Mereka bertemu saat Bu Amanda dan tim-nya menyiapkan menu pesanan perusahaan Pak Wira di aula perusahaan, satu jam menjelang acara ulang tahun dimulai. Entah, siapa yang memulai yang jelas usai acara itu, Pak Wira selalu deg-degan jika bertemu dengan Bu Amanda.

Apakah itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Seiring berjalannya waktu, Pak Wira yang mulai penasaran dengan sosok Bu Amanda, akhirnya meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang sosok Bu Amanda itu.

Senyum terbit dari sudut bibir Pak Wira, ketika informasi yang didapatkannya, Bu Amanda adalah seorang janda satu anak. Ibarat kata, jalan untuk pendekatan di antara mereka berdua mulus bagaikan jalan tol yang bebas hambatan. Hingga akhirnya, mereka sering bertemu dan sama-sama membuka diri untuk saling mengenal.

Waktu berjalan dengan cepatnya, lima bulan saling mengenal. Akhirnya Pak Wira memberikan kalimat sakti yang selalu dinanti-nanti oleh pasangan yang ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius.

“Will you marry me, Amanda Saraswati?” ucap Pak Wira seraya bersimpuh dengan satu lutut ditekuk, di depan Bu Amanda sambil mengulurkan satu buah cincin berlian untuknya. Seperti seorang pangeran yang sedang melamar sang putri.

Bu Amanda menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tidak menyangka saja, jika secepat itu Pak Wira menyatakan keseriusan ucapannya kepadanya. Sebab, saat pendekatan itu Bu Amanda pernah keceplosan ingin menjalin hubungan yang serius, bukan hanya main-main belaka.

“Manda? Gimana, mau tidak? Pegel, nih!” ucap Pak Wira yang sejak lima menit yang lalu masih bersimpuh dengan satu lutut ditekuk, di depan Bu Amanda.

“I—iya, Mas. Manda mau.”

Spontan Pak Wira berdiri dan langsung memeluk Bu Amanda. Satu kecupan mendarat di kening janda satu anak yang masih terlihat cantik itu.

“Terima kasih, Sayang. Kapan kamu siap untuk kukhitbah?”

“Kapan pun aku siap. Mas datanglah ke rumah orang tuaku. Karena aku masih punya orang tua. Dan satu hal pintaku, sayangi aku dan anakku sama halnya kamu menyayangi anakmu. Akan kusayangi kamu dan anakmu sama halnya aku menyayangi anakku.”

Permintaan yang simple, tetapi tidak mudah untuk mencapainya. Pak Wira meraih jemari tangan Bu Amanda, lalu menciumnya dengan lembut.

“Pasti, Sayang. Kita sama-sama pernah merasakan tersakiti oleh pasangan kita. Jadi, kita harus sama-sama berjanji untuk tidak saling menyakiti dan menerima serta menyayangi anak-anak bawaan kita, sama seperti anak kandung kita sendiri.”

***

“Assalamualaikum,” sapa Gea yang baru saja pulang dari kampus.

Melihat Bu Amanda yang diam saja di meja makan, tanpa menjawab salam darinya, Gea mengkerutkan keningnya.

“Ma! Mama!” panggil Gea berulang kali seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Bu Amanda.

“Eh, i—iya, Sayang. Kenapa?” jawab Bu Amanda yang tergagap, karena sedang melamun mengingat kenangannya lima tahun yang lalu saat pendekatan dengan suaminya.

“Dikasih salam juga? Jawab, dong! Melamun mulu. Emang ngelamunin apa, sih!”

“Waalaikumsalam, iya, maaf. Bukan apa-apa. Hanya ingat kalian saja yang seperti Tom and Jerry. Berantem mulu tapi saling merindukan. Iya ‘kan?” goda Bu Amanda.

“Mas Arjun emang belum pulang, ya, Ma?”

“Nah, kan? Baru juga diomongin.”

Pak Wira dan Bu Amanda telah menikah empat tahun yang lalu. Sejak Arjun kelas satu SMA dan Gea masih kelas tiga SMP. Kini Arjun telah kuliah semester tiga dan Gea kuliah semester awal di universitas yang sama.

Kebiasaan mereka berantem jika dekat dan saling merindukan jika jauh masih berlanjut hingga sekarang. Saat ini sudah hampir satu minggu Arjun mengikuti kegiatan Mapala, yaitu mendaki Gunung Andong.

“Kapan dia pulang, Ma? Perasaan udah satu minggu, deh!”

“Iya, barusan dia telepon. Nanti sore kamu disuruh jemput masmu di kampus.”

“Jam berapa, Ma?” tanyanya penuh semangat.

“Cieee ... semangat empat lima! Jam empat,” goda Bu Amanda.

“Hihi ... siap, Ma.”

Tanpa permisi Gea melenggang menuju kamarnya. Gadis itu menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjangnya yang empuk. Sejenak memejamkan mata untuk merileksasikan otak-otaknya yang rasanya mau kram.

Kuliah eksak yang membuatnya hampir botak. Gadis tomboy itu setiap hari dituntut untuk mengerjakan tugas dan hitungan serta rumus kimia, fisika, dan matematika.

“Harus healing, ini. Rasanya kepalaku mau pecah kalau begini terus. Mas Arjun ponselnya seminggu nggak aktif. Tiba-tiba kangen sekali dengannya. Apa kabar dia?” gumamnya.

***

Sementara di kaki bukit Andong, jam menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Para mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan Mapala istirahat sejenak di sana, untuk membuat makan siang ala anak pendaki.

Usai makan siang, mereka istirahat sejenak untuk salat Zuhur dan memejamkan mata sejenak untuk sekadar istirahat. Berulang kali Arjun melihat ke arah ponselnya.

Belum ada tanda-tanda ada sinyal. Sinyal timbul tenggelam, tak tentu waktu. Laki-laki tampan yang super jahil itu mencebik kesal. Lalu membuka galery foto di ponselnya. Di sana ada foto keluarganya. Termasuk foto Gea.

"Meskipun nyebelin dan ngeselin, tetapi kamu itu ngangenin, tahu!" gumamnya.

Arjun merebahkan tubuhnya di bawah pohon cemara. Kedua tangannya disilangkan di belakang kepala. Wajah Gea tiba-tiba menari-nari di pelupuk matanya. Gadis tomboy yang super manja di mata kakak tirinya itu, tersenyum menggoda.

“Cantik,” gumamnya.

“Wooy! Siapa yang cantik? Kita berenam semua cowok, tahu!” ucap Putra.

Arjun menoleh sekilas ke arah Putra, merasa telah keceplosan bicara, pemuda tampan itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

***

Bab 2

“Ish ... ganggu orang lagi nganyal saja!” ucap Arjun kesal karena fantasinya diganggu.

Setelah beberapa saat mereka makan, salat Zuhur, dan istirahat. Akhirnya keenam orang mahasiswa yang tergabung dalam aktifis Mapala itu, kembali melanjutkan perjalanannya. Satu jam kemudian mereka telah sampai di pos satu.

Sampai di pos satu tempat di mana mobil jip milik Putra terparkir di sana, mereka langsung membereskan barang-barang mereka, lalu bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Rasanya bantal dan guling telah melambai-lambai ke arah mereka.

Usai mengucapkan terima kasih kepada penjaga di pos satu, keenam orang mahasiswa itu melaju perlahan meninggalkan area pendakian. Mobil jip warna hitam itu melaju perlahan membelah senja yang redup. Seredup mata mereka yang manahan lelah dan kantuk.

Namun, tidak dengan Arjun. Entah mengapa, rasa kantuk dan lelahnya menguap begitu saja. Tiga puluh menit menuju ke arah kampus, karena kelima yang lain minta dijemput keluarga mereka di kampus, Arjun segera menghubungi Gea.

“Ge ... udah otw ‘kan?”

“Udah, Mas. Jangan lupa, ntar ongkos grabnya. Ogah kalau gratisan.”

“Ish ... perhitungan amat sama abangnya juga!”

“Biarin!”

Sambungan telepon terputus. Baru saja mau bertemu mereka sudah berantem lagi. Padahal di hati masing-masing, berjuta rasanya. Sumpah! Deg-degan banget rasanya. Seperti mau ketemu pacar saja.

Sepuluh menit lebih cepat dari perkiraan. Jam tiga lebih lima puluh menit mereka sampai di kampus. Putra langsung pulang, karena sudah sangat lelah, sementara kelima teman yang lain masih menunggu jemputan.

Melihat mobil papanya yang dikemudikan oleh Gea belum datang, Arjun gegas mandi membersihkan tubuhnya yang rasanya bau belerang. Sepuluh menit kemudian, tepat dirinya selesai mandi, Gea pun sudah nyengir kuda di belakang kemudi mobil papanya.

“Mas ....”

“Gea ....”

Kedua saudara sambung itu saling menyebut bersamaan. Seakan-akan hati mereka kompak saling merindukan.

Seperti dalam film-film Bollywood, Gea segera berlari menubruk kakaknya. Demikian juga Arjun yang baru saja keluar dari kamar mandi sebagian wajah dan rambutnya yang masih sedikit basah membuat ketampanan pria itu semakin terlihat nyata.

Gea yang menubruk kakaknya, langsung jatuh tepat di dada bidang Arjun. Entah, perasaan apa yang sedang mereka rasakan, keduanya merasakan gelenyar-gelenyar aneh yang tiba-tiba datang menyergap. Rindu yang membuncah di antara keduanya, hingga tak sadar jika masih ada Reno dan Dika yang masih menunggu jemputan di situ.

“Kangen, tahu!” ucap Gea bergelayut manja sambil melingkarkan tangannya di pinggang kakak sambungnya.

“Sama!” ucap Arjun yang menyambut Gea dengan mengacak surai rambut hitamnya.

Cekrek! Cekrek!

Reno iseng mengambil foto kemesraan mereka berdua. Teman Arjun itu memandang takjub pada hasil jepretan kameranya.

“Cieee ... kompak dan romantis sekali kalian. Serasi! Macam pasangan artis India. Shah Rukh Khan dan Kareena Kapoor,” ucapnya.

“Sialan, kalian!” ucap Arjun seraya melempar mereka dengan handuk kecilnya.

Bertepatan dengan itu, Reno dan Dika dijemput oleh adik dan pacar mereka. Tinggallah Arjun dan Gea berdua. Keduanya saling tatap lama. Empat tahun kebersamaan mereka sebagai saudara tiri yang sama-sama keras kepala dan suka iseng.

Cup!

Tiba-tiba Arjun mencium sekilas pipi Gea yang imut.

“Mas!” ucap Gea dengan pipi merah merona menahan malu.

Selama empat tahun bersama, baru kali ini mereka berpisah selama satu minggu. Baru kali ini pula mereka merasakan rindu yang membuncah. Dan baru kali ini pula Arjun berani mencium pipi adik sambungnya.

“Mas kangen kamu. Boleh Mas terus terang sama kamu?” tanya Arjun dengan tatapan memohon.

“Terus terang tentang apa, Mas?” jawab Gea balik bertanya.

“Mas sayang sama kamu, Ge. Rasanya, Mas sudah jatuh cinta sama kamu.”

Duar!

Wajah Gea seketika semakin memerah bagaikan kepiting rebus. Setengah mati dia menahan malu saat tiba-tiba Arjun menciumnya, kini tiba-tiba Arjun mengatakan jatuh cinta kepadanya.

‘Njur aku kudu piye iki, Pemisah?’ batin Gea melambung tinggi ke atas langit lapis tujuh.

“Pulang, yuk!” ucap Arjun membuyarkan lamunan Gea.

Seketika Gea mengerucutkan bibirnya. Baru saja, kakak tirinya itu bilang cinta dan sayang dengan manisnya. Hingga sempat membuatnya mabuk kepayang.

Belum genap lima menit, laki-laki tampan yang beberapa saat lalu sempat membuatnya jatuh bangun karena menahan rindu, sudah kembali bersikap jutek dan dingin kepadanya.

“Serius, nih! Mau pulang?” ucap Gea manyun.

“Iya, emang mau minta diajak ke mana?” jawab Arjun ketus.

“Ya ... ke mana, gitu! Nih! Bawa mobilnya. Males!” ucap Gea yang tiba-tiba menjadi bete. Mood-nya seketika menjadi ambyar.

Arjun menerima kunci mobil dari adiknya, lalu pemuda tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Arjun melirik ke arah center mirror pada mobil papanya yang dikemudikan olehnya. Terlihat wajah cantik Gea yang ditekuk. Arjun tersenyum tipis.

Tak berapa lama kemudian, Arjun menepikan mobilnya di sebuah toko bunga di dekat kampusnya. Gea hanya melirik sekilas dari kaca spion di sampingnya, apa yang hendak dilakukan oleh kakak sambungnya itu.

“Ish ... dia membeli bunga? Tumben banget. Untuk siapa, lagi?” gumamnya sebal.

Kembali Gea melirik kakaknya dari kaca spion. Terlihat Arjun mencium setangkai mawar merah yang ada di tangannya.

“Ih! Nyebelin banget. Dasar, nggak peka!” gerutu Gea.

Arjun kembali naik ke mobil, lalu kembali duduk di balik kemudinya. Sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya, Arjun menghidupkan player yang ada di dashbord mobilnya. Sebuah musik romantis mengalun lembut, terdengar mendayu-dayu di telinganya, membuat Gea semakin baper saja dibuatnya.

Gea melirik sekilas ke wajah tampan kakaknya, yang kini manggut-manggut mengikuti alunan musik itu.

“Apa, sih, maunya! Bikin kesel saja,” gumamnya membuang muka ke arah jendela di sampingnya.

Gea masih bergeming. Menatap kosong ke arah samping sana, tanpa mau melihat sedikit pun ke arah sang kakak. Sungguh! Perempuan itu kadang-kadang susah ditebak jalan pikirannya.

“Ge ....”

“Hemm ....”

Gea masih bergeming. Dia menjawab panggilan kakaknya hanya dengan gumaman saja, tanpa menoleh ke arah Arjun sedikit pun.

“Mas sayang kamu,” ucap Arjun tiba-tiba, seraya mengulurkan setangkai mawar merah, yang baru saja dia beli di toko bunga di dekat kampusnya.

Spontan Gea menoleh ke arah kakak tirinya itu. Sumpah! Dunianya tiba-tiba begitu indah. Warna-warni bagai pelangi di saat hujan telah reda.

“What?!” pekik Gea.

Seketika kepala Gea berputar sembilan puluh derajat, menghadap persis ke wajah kakaknya. Netranya membulat sempurna. Bibirnya sedikit ternganga. Mata belok dengan bulu mata lentiknya mengerjap perlahan.

"Mas? Cubit lengan Gea," titahnya.

Tanpa menunggu perintah yang kedua, Arjun gegas mencubit pipi adiknya.

"Auuww! Sakit, tahu!" omelnya seraya mengusap pipinya yang memerah karena dicubit oleh Arjun.

Arjun terkekeh gemas menyaksikan rona merah di wajah cantik adiknya itu. Bulu matanya yang lentik berulang kali mengerjap menatap tak percaya ke arah Arjun.

Gea masih belum percaya. Kakak sambungnya yang tak pernah romantis itu, tiba-tiba bisa menjadi super hero yang super romantis. Padahal, kelakuannya baru saja sempat membuat hati Gea memanas karena didera sedikit rasa cemburu. Cemburu? Emang dia siapa?

Usai Gea menerima setangkai mawar merah darinya, Arjun gegas melajukan mobilnya kembali. Kembali Gea dibuat terheran-heran kepada model manusia di sampingnya.

Seperti tak mau tahu tentang perasaan Gea. Boro-boro menanyakan balik perasaan Gea seperti apa. Menanyakan apakah dia suka dengan bunga yang baru saja dia berikan pun, tidak. Benar-benar manusia kulkas si Arjun itu.

Senja mulai turun. Arjun melihat jam mahal yang bertengger di tangan kanannya. Jarum jam telah menunjukkan angka lima. Arjun masuk ke area parkir kafe kekinian. Terlihat beberapa pasangan anak muda nongkrong di sana.

Kembali kening Gea mengkerut dibuatnya. Baru kali ini, dia dibawa oleh kakaknya ke tempat nongkrong seperti ini. Sejauh hubungan mereka, Gea tidak pernah melihat kakaknya seromantis ini. Bahkan, dia tidak pernah melihat kakaknya itu pernah dekat dengan gadis manapun.

“Makan dulu, Mas laper. Tenang, Mas yang traktir. Orderan desain grafis Mas laku keras. Turun, yuk! Apa perlu Mas gendong?”

Gea terdiam mendengar ucapan kakaknya. Satu minggu tak bersamanya, membuat gadis tomboy yang cantik itu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kesambet di mana, sih! Kok, tiba-tiba berubah begini,” lirihnya.

***

Bab 3

Arjun membukakan pintu mobil untuk Gea. Tangannya terulur ke arah sang adik. Kembali Gea dibuat tercenung dengan sikap kakaknya. Tanpa ba bi bu, Gea pun menyambut uluran tangan kakaknya.

Kedua kakak beradik itu, berjalan perlahan menuju ke dalam kafe kekinian itu, sambil bergandengan tangan. Sepintas orang cuek saja melihat kedekatan mereka. Wajah mereka yang sama sekali tidak mirip, mematahkan anggapan orang jika mereka adalah saudara.

Memang tidak ada orang yang tahu, jika mereka adalah saudara. Ya, meskipun hanya saudara tiri. Orang melihat mereka berdua layaknya seperti pasangan kekasih, seperti beberapa pasangan yang sedang nongkrong di sana.

Arjun memilih tempat di pojok ruangan. Dari sana dia dapat melihat view kafe itu dengan leluasa. Gea yang masih membawa bunga pemberian Arjun, wajahnya terlihat menghangat saat Arjun menatap lekat ke arahnya. Pemuda tampan itu segera melambaikan tangannya ke arah pelayan kafe.

“Selamat sore, Mas, Mbak. Ini menu di kafe kami, silakan pilih dulu,” ucapnya sopan.

Sejenak Arjun meneliti satu per satu menu yang ada di list menu, yang disodorkan oleh pelayan itu. Sedangkan Gea hanya duduk mematung menatap wajah tampan kakaknya.

“Ge ... buruan! Kamu mau makan apa? Mas capek, ingin segera terbang ke pulau kapuk,” ucapnya.

“Sama Mas aja. Toh, di rumah makanan apa pun Gea sikat. Tak perlu pilih-pilih.”

Arjun hanya geleng-geleng kepala. Memang benar adanya. Gea bagaikan omnivora yang memakan segala. Apa pun di meja makan yang disediakan oleh Bu Amanda, selalu habis tak bersisa. Anehnya, tubuhnya tetap langsing dan ideal.

Usai mencatat pesanan Arjun dan Gea, pelayan itu berjalan ke arah dapur di mana menu masakan kafe itu diolah. Tak berapa lama kemudian, pelayan itu kembali membawa pesanan Arjun dan Gea.

“Silakan menikmati, Mas, Mbak,” ucap pelayan kafe tersebut sopan.

“Terima kasih,” ucap Arjun dan Gea bersamaan.

Arjun gegas menyantap apa yang ada di depan matanya. Rasa lapar, capek, dan kantuk yang mendera membuatnya ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya.

“Mas ....”

“Hemm ....”

Mendengar jawaban Arjun yang hanya berdehem saja, Gea urung ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Segera Gea melahap makanan yang sama dengan kakaknya itu. Melihat Arjun hanya cuek bebek, Gea pun lelah berharap.

Tanpa berlama-lama, makanan dan minuman yang ada di hadapan mereka tandas tak bersisa. Arjun terlonjak kaget saat sendok dan garpu Gea telah tengkurep lebih awal darinya, padahal Arjun lebih dahulu yang mulai memakan makanan pesanan mereka. Gelas jus Gea pun telah kosong tak bersisa.

“Secepat itu?” gumam Arjun.

Gea hanya diam mematung tanpa ekspresi apa-apa.

‘Perempuan itu kalau sedang bete bisa menghabiskan apa pun di depannya. Termasuk kamu. Pingin makan kamu hingga ke tulang-tulangnya rasanya, Mas,’ batin Gea berkecamuk.

Arjun mengambil tisu, lalu mengelap sudut bibir Gea yang sedikit kena saus. Gea masih tetap mematung, mendapatkan perlakuan seperti itu dari kakaknya. Meskipun, jujur! Jantungnya gedabag gedebug bagai genderang mau perang.

“Pulang, yuk! Mas capek banget.”

Gea hanya mampu mengangguk perlahan, lalu mengikuti langkah kaki Arjun menuju ke meja kasir untuk membayar makanannya.

“Bisa bayar pakai ATM, Mbak?” tanya Arjun.

“Bisa, Mas,” ucap sang kasir.

Setelah menerima kartu ATM-nya kembali, Arjun kembali menggandeng tangan Gea.

“Ini perlakuan macam apa, sih? Dia sayang dan cinta kepadaku sebagai adiknya atau sebagai lawan jenisnya. Bingung aku memahami sikapnya,” gumam Gea saat Arjun melepaskan gandengannya.

***

Nut! Nut!

Bunyi remote otomatis mobil yang dikemudikan Arjun. Arjun membukakan pintu mobilnya untuk Gea seraya berucap, “Silakan masuk, Sayang.”

Gubraak!

Kembali dada Gea berdebar lebih kencang. Sebutan yang selama empat tahun kebersamaan mereka tak pernah dia dengar dari mulut kakaknya.

“Sayang? Apakah itu artinya ....”

Kembali pikiran Gea mengembara entah ke mana. Sejak satu tahun terakhir, tepatnya sejak dia menolak satu teman sekelasnya hingga temannya itu frustasi dan ngebut di jalanan. Hingga menyebabkan kecelakaan maut yang merenggut nyawanya di penghujung masa SMA-nya dulu.

Gea merasa bersalah dan didera penyesalan yang masih selalu terbayang-bayang dalam ingatannya. Hingga gadis tomboy itu susah sekali jatuh cinta kepada lawan jenisnya.

Sejak saat itu, kebiasaannya yang banyak bicara dan paling cerewet sedunia, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Gea lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu untuk membaca di kamar.

Menyadari ada hal yang berbeda dengan adik sambungnya itu, Arjun sering mengajak sang adik untuk sekadar outbound, rekreasi, nonton film, atau main game dengan play station untuk seru-seruan saja di rumah.

Seiring berjalannya waktu, sikap Arjun yang demikian itu membuat Gea nyaman. Padahal, di luar itu Arjun adalah seorang laki-laki dingin yang sama sekali tidak romantis. Entah, dia pernah punya cewek atau tidak.

Atau sekadar teman dekat pun Gea tidak pernah mengetahuinya. Bahkan, informasi dari teman dekatnya yaitu Putra, Reno, Dika, Gustaf, dan Baron pun mengatakan hal yang sama, jika Arjun tidak mempunyai teman dekat saat mereka kuliah.

Entah, jika dulu saat SMA. Yang jelas, selama empat tahun mereka bersama Gea belum pernah melihat sang kakak jalan bareng dengan seorang cewek manapun.

“Mas ....”

“Ya, ada apa, Ge? Masih mau ngajak mampir ke mana gitu?”

“Nggak. Cuma mau emm ... ngobrol sebentar dulu, tepikan mobilnya di depan ada taman. Boleh, ya?”

“Baiklah!” ucap Arjun yang matanya terlihat memerah. Terlihat beberapa kali pemuda tampan itu menguap.

Arjun mengurangi kecepatan mobilnya, lalu berhenti di pinggir taman. Azan Magrib sebentar lagi segera berkumandang. Jam di tangan Gea telah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Gea segera menarik tangan sang kakak di salah satu bangku di taman kota itu.

Bangku panjang yang terletak di pinggir taman, tidak jauh dari mobil mereka terparkir. Di taman itu tampak masih banyak anak-anak berkeliaran di situ, tentunya bersama orang tua mereka, juga masih banyak anak remaja yang sedang duduk-duduk di situ.

“Maaf, Mas. Dari tadi Gea perhatikan ada yang berubah banyak dari Mas, setelah pulang dari acara Mapala. Perlakuan Mas, cara menyebut Mas ke Gea, tapi ... hanya ada satu yang tidak berubah."

“Apa itu?” tanya Arjun tanpa ekspresi.

“Dinginnya masih seperti kutup utara.”

Pletak!

Arjun menjitak pelan kening Gea. Gea membalas menoyor lengan sang kakak.

“Gea penasaran. Sebenarnya apa maksud, Mas? Udah nyebut sayang juga. Jangan buat Gea kepedean tingkat dewa, hingga melambung ke atas awan, setelah itu Mas banting ke dasar jurang.”

“Ini tentang rasa. Rasa yang Mas sendiri tak tahu apa artinya. Sejak meninggalkanmu satu mingu yang lalu, entah mengapa Mas sangat merindukanmu. Semakin Mas berusaha menepisnya, jelas terlihat nyata bahwa Mas memang menyukaimu. Mas sayang padamu, Gea. Mas cinta sama kamu.”

Cup!

Tanpa basa basi Arjun mencium kening adiknya. Bahkan tanpa mau tahu tentang perasaan Gea kepadanya. Baginya itu tidak penting. Yang terpenting, dia mencintainya. Titik tanpa koma.

“Pulang, yuk! Mas ngantuk berat, nih!” ucap Arjun seraya mengulurkan kunci mobilnya kepada Gea.

“Ih! Nyebelin banget! Dasar manusia kulkas! Nggak ada romantis-romantisnya sedikit pun! Emang dia doang yang butuh ngungkapin isi hatinya. Dia tak butuh pengakuanku apa?” gerutu Gea di sepanjang perjalanannya pulang.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED