“Saya kira waktu yang saya berikan kepada kalian sudah cukup lama untuk mengerjakan tugas yang saya berikan. Tetapi mengapa masih ada saja mahasiswa yang mengirim tugas terlambat kepada Saya?!” sungut Sarah mendenguskan nafasnya berkali-kali, dengan kilatan matanya yang sekaan dipenuhi oleh kobaran api.
Meskipun, baru 2 bulan ia mengajar di kampus ini, tetapi sudah ada saja tingkah mahasiswanya yang membuatnya naik darah.
Dari mulai mengumpulkan tugas terlambat, memakai pakaian yang melanggar kode disiplin berpakaian, menitipkan absensi pada teman yang lain padahal tidak masuk, sampai tak mengumpulkan tugas sama sekali. Beberapa hal itu, seolah menjadi pemandangan biasa yang sering Sarah dapati selama mengajar 2 bulan di sini.
Padahal, apa susahnya para mahasiswanya itu mengikuti semua hal yang sudah ditetapkan oleh dosen dan kampus.
Toh, kalau mereka semua berusaha untuk menjadi mahasiswa yang terbaik, tentunya yang mendapatkan untungnya juga diri mereka sendiri.
Sebenarnya, bisa saja Sarah tak perlu marah-marah atau menghabiskan energinya untuk mengomeli para mahasiswa di kelasnya.
Namun, karena ia peduli dengan nilai para mahasiswanya dan ia juga ingin menanamkan jiwa-jiwa kedisiplinan untuk mereka, terpaksa lah mau tak mau ia harus bersikap tegas.
Sarah tak peduli, jika dengan bersikap demikian, ia di cap sebagai dosen galak, sadis, dan tak punya hati,
“Maafkan kami, Bu.” Para mahasiswa serempak mengatakan itu dengan harapan Sarah akan berhenti bersungut-sungut kepada mereka. “Kami janji akan mengumpulkan tugas tepat waktu, jika Ibu kembali memberikan tugas kepada kami, imbuh ketua kelas mahasiswa di kelas yang Sarah ajar kali ini.
“Sudahlah! Saya tidak butuh janji kalian! Kalau memang kalian ingin mengumpulkan tugas tepat waktu kali ini, saya akan memberikan tugas membuat artikel pemasaran kepada kalian. Tetapi, saya hanya memberikan waktu sampai besok untuk kalian mengumpulkan tugas itu!”
Sengaja Sarah memajukan tugas yang seharusnya ia berikan minggu depan, dengan tenggang waktu pengumpulan yang memang tidak manusiawi.
Anggap saja, ini sebagai bentuk hukuman karena menyepelekan tugas yang ia berikan. Selesai memberikan tugas itu, Sarah mencoba meredam kemarahan dan menyampaikan materi perkuliahan yang harus ia berikan kepada para mahasiswa di kelas paginya hari ini.
Barulah setelah selesai mengajar, Sarah segera bergegas ke ruangan dosen. Sungguh, ia tak ingin berlama-lama lagi ada di kelas yang sudah membuat tensi darahnya menjadi tinggi di pagi hari yang cerah ini.
Ketika sosok Sarah tak lagi terlihat, kebanyakan mahasiswa di kelas pagi bisa menghela nafas dengan bebas.
Semenjak kelas pagi ini di buka dengan kemarahan Sarah, atmosfer yang tercipta di kelas juga terasa seperti dipenuhi oleh asap yang membuat para mahasiswa merasakan sesak.
“Astaga, galak bener Bu Sarah! Sejak Bu Sarah mengajar di sini, jarang banget lihat dia enggak marah-marah tiap masuk kelas!” gerutu Kevin sambil memasukkan buku kuliah miliknya ke dalam tas.
Tyo menghela nafas lega, pasalnya karena minum-minum semalam membuat ia, Kevin , Rafka sama-sama hampir terlambat datang ke kuliah pagi hari ini.
“Tapi, untung aja kita bisa datang sebelum Bu Sarah masuk kelas. Kalau terlambat sedikit aja, bisa tengsin habis kita gara-gara kena omel di sama Bu Sarah di depan kelas.”
Sementara itu, Rafka sendiri tampak tak banyak bicara karena ia masih merasakan pengar menghinggapi separuh jiwanya.
Bagaimana ia tidak pengar, kalau kemarin sudahlah ia meminum Bir hitam bersama Kevin dan Tyo, lalu ditambah lagi ia minum wine merah dengan Maya demi memenangkan taruhan kemarin.
“Tumben diam aja lo, Raf? Kayaknya lo butuh tantangan baru dari gue sama Kevin, biar lo enggak diam aja kayak mayat hidup begini. Kebetulan, tiba-tiba gue kepikiran kasih taruhan buat lo. Taruhan yang kelihatannya bakal susah buat lo menangkan kali ini,” lontar Tyo sambil menyenggol tubuh Rafka. Lalu membisikan target taruhan kali ini kepada Kevin
“Waduh. Kalau target taruhan itu, gue juga yakin kali ini Rafka bisa kalah taruhan,” respons Kevin, ketika mendengar wanita yang akan menjadi target taruhan mereka kali ini.
“Lo berdua kenapa bisik-bisik segala? Kalau memang lo berdua sudah menemukan target taruhan yang katanya bakal sulit buat gue taklukan, langsung aja bilang sama gue,” sahut Rafka berusaha menghalau rasa pengar di kepalanya.
“Chill, Raf. Gue mau kasih waktu buat lo bernapas lega sebanyak-banyaknya. Soalnya, kalau gue kasih tahu target taruhan kita kali ini, gue takut lo bakal sesak napas,” ledek Kevin cekikikan sendiri membayangkan betapa syoknya Rafka, kalau sampai temannya itu tahu harus menaklukkan dosen galak mereka yang berhati dingin.
“Buruan, kalau lo berdua mau ngomong, gue kasih waktu 1 menit. Kalau dalam satu menit enggak ada yang ngomong juga, lo berdua gue tinggal pulang!” tandas Rafka memasang sebelah strap tas punggungnya dan akan beranjak dari kursi yang sedang ia duduki.
“Lo memang enggak sabaran, Raf. Daripada buat lo makin dongkol, gue bakal kasih tahu kalau gue dan Kevin sepakat buat kasih taruhan lo untuk menjadikan bu Sarah sebagai pacar. Tapi, kali ini kita kasih lo waktu 1 bulan. Soalnya, Gue dan Kevin yakin lo enggak akan semudah itu untuk mendapatkan hati Bu Sarah,” papar Tyo menyunggingkan sudut bibirnya penuh percaya diri, karena kali ini ia dan Kevin yakin bisa membuat Rafka kalah taruhan.
“Waduh … Kayaknya kali ini bakal susah buat lo, Raf. Tapi, kalaupun gue sama Tyo kalah, gue sih enggak akan merasa rugi. Soalnya kalau sampai lo menang dan bisa menjadikan Bu Sarah pacar, mungkin saja Bu Sarah jadi enggak galak lagi di kelas,” timpal Kevin disertai suara tertawa renyah.
Seperti biasa, Rafka hanya menanggapi taruhan dari kedua temannya itu dengan senyum miringnya. “Gue kira bakal sesusah apa. Ternyata cuma si dosen baru itu. Kalau cuma mendapatkan dia, gue yakin enggak sampai sebulan juga Bu Sarah sudah bertekuk lutut buat jadi pacar gue.”
“Jangan sesumbar dulu, Bro. Lo aja belum coba mendekati bu Sarah. Coba aja lo mendekati dia, gue yakin kepercayaan diri yang lo tunjukkan ke kita hari ini enggak bakal bertahan lagi.”
Kevin yang memang selalu mengeluarkan kata-kata konyol dan diiringi suara tawa sesudahnya, ikut menimpali perkataan Tyo. “Kalau gue cuma mau bilang, good luck, Bro. Moga aja lo kagak dapet nilai E atau paling parah sampai di DO, gara-gara berusaha merayu uB Sarah.”
“Kebanyakan bacot lo berdua! Intinya lihat aja, dalam waktu kurang dari sebulan, gue pasti sudah jadian sama si dosen baru itu,” sahut Rafka sambil beranjak dari kursinya.
Rafka akan bersiap untuk pulang, karena ia harus menyiapkan strategi untuk mendekati bu Sarah. Mulai besok dan seterusnya, ia akan mencoba berbagai cara agar bisa mendapatkan hati dosen barunya itu.
Sesulit apa pun jalan yang harus ia tempuh untuk bisa menaklukkan Bu Sarah, tak akan membuatnya berhenti sampai ia bisa benar-benar meluluhkan hati dosen baru yang terkenal tegas dan berhati dingin itu.
“Tugas Bu Sarah kali ini, serahkan aja ke gue. Biar gue yang antar ke ruangannya,” lontar Rafka ketika ia mengumpulkan tugas miliknya ke penanggung jawab mata kuliah yang diampu oleh Sarah.
“Enggak usah, Raf. Sudah tugas gue buat kasih tugas kita ke Bu Sarah. Nanti yang ada aku kena marah Bu Sarah, kalau bukan gue yang antar tugasnya,” tolak Nera–teman sekelas Rafka—bergidik ngeri sendiri membayangkan ia akan terkena dampratan dari Bu dosennya yang terkenal berhati dingin itu.
Rafka yang memang ingin segera memulai rencana pertamanya dalam misi memenangkan taruhan, ingin segera bertemu dengan Sarah dan melancarkan aksinya.
Menurutnya, hanya cara ini yang terlihat alami untuk memulai melakukan pendekatan dengan Bu Sarah.
Oleh karena itu, bagaimanapun caranya, ia harus bisa mendapatkan tumpukan tugas ini dan mengantarkannya ke ruangan Sarah.
“Lo enggak usah takut. Entar gue bilang sama Bu Sarah kalau lo tiba-tiba sakit perut, jadi lo enggak bisa kasih tugas ini ke dia,” dalih Rafka berusaha keras mendapatkan persetujuan dari Nera untuk menggantikan gadis itu memberikan tugas ke ruangan dosen.
Namun, Nera yang benar-benar takut dengan Bu Sarah kembali menolak permintaan dari Rafka. “Sorry, Raf, tapi gue enggak bisa. Gue juga enggak mau harus terlibat kebohongan kayak begitu, apalagi ke dosen yang terkenal tegas kayak Bu Sarah.”
Rafka yang rasanya sudah kehabisan kesabaran untuk sekadar membujuk Nera dan mencoba berbicara baik-baik dengan gadis itu, akhirnya langsung saja merebut tumpukan tugas yang ada di tangan Nera. Setelahnya, Rafka langsung kabur dari hadapan Nera dengan secepat kilat.
“Rafka, bawa balik ke gue tugasnya!!!” begitu pekikan yang Rafka dengar dari Nera sebelum ia meninggalkan ruangan kelasnya. Namun, Rafka sama sekali tak memedulikan teriakan Nera.
Baginya, yang terpenting saat ini, ia harus segera pergi ke ruang dosen dan bertemu dengan Sarah di sana.
***
“Pagi, Bu. Permisi, saya mau mengumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan kepada kelas 6 A,” sapa Rafka ketika ia telah sampai di meja Sarah yang ada di dalam di ruang dosen.
“Kenapa kamu yang mengumpulkannya? Bukankah penanggung jawab mata kuliah saya dari kelas 6 A adalah Nera?!” tanya Sarah dengan sorotan mata yang tajam dan menyelidik.
“Nera tiba-tiba sakit perut, Bu. Jadi saya menawarkan bantuan untuk mengantarkan tugas ini kepada Ibu,” jawab Rafka memasang senyum kikuk di wajahnya.
Sarah tampak tak berminat menanggapi penjelasan yang diberikan oleh Rafka. Sambil memfokuskan tatapannya kembali ke layar laptop, ia berkata dengan wajah datar,“Taruh tugasnya di meja! Kalau sudah, kamu bisa keluar dari sini!”
Glek!
Untuk sesaat, Rafka hanya bisa menelan ludah ketika mendapati sikap dingin yang ditunjukkan oleh Sarah kepadanya. Pantas saja, Nera merasa takut pada Sarah dan tak mengizinkan ia untuk menggantikan Nera mengantarkan tugas kepada dosen di hadapannya ini.
Kalau melihat sikap Sarah yang datar, dingin, dan tegas seperti ini, ia sendiri juga merasa enggan berhadapan lama-lama dengan dosennya itu.
Namun, demi memenangkan taruhan, ia harus bisa bertahan menghadapi segala sikap yang Sarah tunjukan kepada dirinya. '
Sejenak, Rafka menarik nafas panjang untuk menghilangkan perasaan gugup yang sempat menyerang dirinya.
Sesudahnya, ia mulai menunjukkan aksi beraninya dengan mengambil setangkai mawar merah dari dalam tasnya..
“Sebelum saya pergi, saya mau kasih ini buat Ibu,” kata Rafka sambil meletakkan mawar yang ada di tangannya, di samping tumpukan tugas yang beberapa detik lalu ia taruh di atas meja Sarah.
“Apa ini?! Saya hanya menerima pengumpulan kertas tugas saja. Di luar itu, lebih baik kamu singkirkan dari meja saya!” tandas Sarah memindahkan pandangan matanya dari laptop, lalu memberikan tatapan nyalang kepada Rafka.
“Maaf, tapi saya tidak bisa mengambil benda yang sudah saya berikan kepada orang lain. Lagi pula, mawar ini cocok berada di dekat wanita cantik seperti Ibu,” jawab Rafka dengan beraninya menampilkan senyum, saat jelas-jelas Sarah memberikan tatapan tajam kepada dirinya.
“Baiklah … Kalau memang kamu tidak mau menyingkirkannya, biar saya sendiri yang menyingkirkannya!” Dengan gerakan cepat, Sarah memindahkan mawar dari atas mejanya ke dalam kotak sampah yang ada di bawah meja kerjanya. “Tolong jaga sikap dan perkataanmu! Saya ini dosenmu dan tak sepantasnya kamu mengatakan hal seperti itu kepada saya!”
Bukannya merasa malu karena Sarah membuang bunga mawar yang ia berikan, Rafka justru semakin menggila. “Kayaknya Ibu enggak suka bunga mawar. Kalau begitu, besok saya kasih ibu bunga yang lain saja atau cokelat juga sepertinya bukan ide yang buruk.”
Rafka yang merasa tak bisa mundur lagi, memutuskan untuk terus maju. Tak peduli seberapa kerasnya dan seberapa dinginnya sikap Sarah, ia pasti akan bisa meluluhkan dan mencairkan hati wanita itu.
Untuk sementara, ia rela mengesampingkan dulu rasa malunya di depan banyaknya orang yang sedang melihatnya terang-terangan merayu Sarah.
Bahkan, ia tak keberatan kalau harus mengendurkan sejenak harga dirinya yang tinggi di hadapan Sarah.
“Rafka Mahendra! Sekali lagi, saya minta tolong kepada kamu untuk menghentikan sikap kurang ajar seperti itu!” Sarah menekan bibir bawahnya dengan gigi atasnya karena ia sedang menahan amarahnya agar tidak meledak. “Sekarang, lebih baik kamu segera keluar dari ruang kerja saya, sebelum saya benar-benar menyembur kamu dengan kemarahan saya!”
“Saya akan menuruti semua yang Ibu suruh. Kalau ibu suruh saya keluar, saya akan keluar demi Ibu. Lagian, saya enggak mau lihat wajah Ibu yang cantik berkerut gara-gara kebanyakan marah.”
Setelah mengatakan itu, Rafka benar-benar keluar dari ruangan dosen dengan kecepatan penuh. Pasalnya, usai mengatakan itu, ia melihat wajah Sarah yang terlihat merah padam.
Seolah-olah dengan wajah seperti itu, Sarah bisa saja menyemburkan api kemarahan yang berkobar-kobar kepada dirinya, jika seandainya ia tak juga pergi dari hadapan wanita itu.
***
“Dari mana, Bro? Habis ketemu sama gebetan baru ceritanya?” ledek Kevin ketika melihat Rafka sudah kembali lagi ke kelas, karena dalam waktu 30 menit lagi, mata kuliah kedua mereka hari ini akan dimulai.
“Tadi, Nera cari lo sambil marah-marah ke kita. Katanya lo bawa kabur tugas yang harus di kasih ke Bu Sarah. Tapi, gue yakin pasti itu rencana lo biar bisa ketemu dia ‘kan?” kali ini Tyo menimpali sambil menaik turunkan alisnya.
“Berisik lo berdua! Lagian, lo berdua ke mana aja baru datang sekarang?” tanya Rafka kepada kedua kawannya yang tak datang saat mata kuliah pertama mereka hari ini. “Mampus aja lo berdua karena tugas dari Bu Sarah belum lo berdua kumpul.”
“Waduh … Mati gue. Bisa-bisa kita kena semprot Bu Sarah minggu depan, gara-gara lupa kumpul tugas. Pokoknya, lo harus tanggung jawab, Yo. Gara-gara ajakan minum-minum semalam di apartemen lo, kita jadi lupa buat tugasnya Bu Sarah,” damprat Kevin kepada Tyo. Hal tersebut karena sepanjang pagi ini mereka ketiduran, akibat mabuk semalam. Kevin dan Tyo baru bangun dan sadar ketika mereka Ingat sudah hampir masuk jam mata kuliah kedua.
“Salah lo sendiri kenapa mau terima ajakan gue,” sahut Tyo yang tak terima disalahkan oleh Kevin. “Lo juga, Raf, bisa-bisanya lo enggak kasih tahu kita.”
“Gue sudah kasih tahu lo berdua semalam. Gue bilang lewat telepon enggak bisa ikutan minum-minum karena gue mau mengerjakan tugas dari Bu Sarah. Tapi, karena lo berdua terlalu asyik minum, jadi enggak didengar omongan gue!” gerutu Rafka menoyor kepala kedua temannya.
Setelah mengingat-ingat perkataan Rafka semalam lewat telepon semalam, Tyo dan Kevin langsung kicep seketika. Bahkan mereka tak membalas saat Rafka menoyor kepala mereka, karena perkataan Rafka memang benar adanya.
“Tapi gue lihat-lihat, lo jadi rajin, Raf. Apa karena pengaruh lo lagi berusaha melakukan pendekatan sama Bu Sarah? Wah … mentang-mentang mau pacaran sama dosen, berubah jadi rajin lo!” Kevin kembali mengeluarkan gurauannya. Karena ia tak suka meratapi tugas yang tak terkumpul itu, jadi ia ingin melupakannya dengan membicarakan hal lain.
“Sok tahu lo, Kev. Gue begini bukan karena rajin. Tapi, terpaksa supaya gue bisa kumpul tugas tepat waktu dan ketemu sama Bu Sarah. Kalau kagak sih, gue bakal menyelesaikan tugas artikel itu, habis gue minum-minum sama lo berdua.”
Rafka sendiri memang tidak suka belajar, tetapi ia memiliki kecerdasan lahiriah yang bisa membuatnya mudah memahami sesuatu pelajaran tanpa perlu banyak belajar.
Terkadang, Rafka memang malas dan suka menunda-nunda mengerjakan tugas. Meskipun begitu, tetap saja ia kerjakan tugas itu, karena ia suka sensasi adrenalin ketika mengerjakan tugas di waktu-waktu yang begitu mepet. Sehingganya, sering kali ia mengumpulkan tugas terlambat dari waktunya.
***
“Lo berdua duluan aja. Nanti gue nyusul ke tempat biasa,” ujar Rafka yang semula akan nongkrong bersama teman-temannya usai pulang kuliah karena tak ada jadwal mata kuliah lagi hari ini. Tetapi, ia terpaksa menundanya, ketika melihat Sarah yang berjalan dengan menenteng tas laptop.
Tyo tampak keheranan sendiri melihat temannya yang untuk pertama kali terlihat masih ingin berkeliaran di kampus, meski tak ada lagi mata kuliah yang harus mereka ikuti hari ini. “Mau ngapain lo? Tumben banget betah lama-lama di kampus? Biasanya, lo orang pertama yang pengen cepat cabut dari kampus, kalau udah enggak ada mata kuliah lagi.”
“Lo enggak perlu heran, Yo. Biasalah, namanya juga doi lagi berusaha untuk deket sama uB Sarah. Tuh, lihat Bu Sarah ada di sana.” Kevin menanggapi pertanyaan Tyo yang diajukan untuk Rafka sambil cekikikan.
“Nah, itu lo tahu. Jadi, sana lo berdua pergi. Jangan ganggu gue yang lagi mau tebar pesona sama Ibu Dosen kita,” usir Rafka sambil turun dari motornya.
“Oke, good luck, Bro. Moga-moga lo enggak kena amuk bu Sarah,” goda Kevin sebelum meluncurkan motornya meninggalkan halaman kampus bersama dengan Tyo.
Rafka langsung saja berlari secepat kilatan cahaya, ketika melihat Sarah akan berjalan menaiki tangga. Akibatnya, bunyi nafasnya terdengar jelas saat ia telah sampai di samping Sarah.
“Biar tasnya saya bantu bawa, Bu. Supaya Ibu enggak terlalu capek naik tangga karena bawa beban yang lumayan berat,” tutur Rafka setelah ia selesai mengatur nafasnya. Tadinya, ia ingin bertanya mengapa Sarah menaiki tangga, tetapi pertanyaan itu ia urungkan ketika melihat tulisan lift sedang diperbaiki.
“Tidak usah, saya bisa membawa tas saya sendiri,” tolak Sarah yang mulai menaiki anak tangga dan melanjutkan langkahnya—yang sempat terhenti karena kehadiran Rafka—.
Tak ia pedulikan, Rafka yang sedari pagi selalu saja menemuinya tiba-tiba seperti ini. Yang ada, kalau ia tanggapi, anak muda seperti Rafka akan makin bersikap kurang ajar dan berani kepada dirinya.
Namun, pikiran Sarah ternyata salah, karena Rafka tetap saja bersikap berani kepada wanita itu, meskipun Sarah sama sekali tidak menanggapinya.
Dengan kurang ajarnya, tiba-tiba saja Rafka merebut tas itu dari tangan Sarah, lalu berkata, “Ibu enggak perlu gengsi sama saya. Saya ikhlas 100% kasih bantuan buat dosen secantik Ibu.”
Ketika menyadari tas laptop di genggamannya telah berpindah tangan, dengan suara tertahan Sarah mengeluarkan geraman kesal, “Rafka Mahendra! Kembalikan tas Saya!”