Bab 1

Di tengah dentuman musik yang keras, 3 orang lelaki sedang menyesap segelas minuman berwarna hitam dengan rasa yang begitu pekat. Mereka tampak mengobrol sembari sesekali menyulangkan gelas masing-masing. 

“Benar-benar hebat lo, Bro. Memang pantas lo dapat julukan sang penakluk wanita andal. Hanya dalam waktu 7 hari saja, lo sudah berhasil mendapatkan Vania, Siska, dan Leoli.” Pemuda yang bernama Kevin itu sangat salut dengan kemampuan Rafka.

Padahal, sudah jelas-jelas Rafka terkenal sebagai playboy yang suka memainkan hati wanita,  tetapi masih saja ada wanita yang mau dijadikan pacar oleh temannya itu.

“Kayaknya pesona lo memang enggak bisa terbantahkan, Raf. Sejauh ini, gue sama Kevin jadi enggak ada kesempatan untuk menang taruhan yang kita buat sama lo.” Tyo mendesah pasrah, ketika ia harus kehilangan jam tangan seharga 1000 dolarnya, yang ia jadikan jaminan jika Rafka menang taruhan yang mereka sepakati bersama.

Sebenarnya, tak masalah jika ia harus memberikan segala hartanya untuk memasang taruhan dengan teman-temannya.

Toh, bagi anak orang kaya seperti Rafka, Kevin, dan Tyo, kehilangan barang-barang berharga milik mereka tak memiliki arti apa-apa.

Namun, bagi mereka yang penting adalah bisa memenangkan pertaruhan ego dan harga diri karena ingin terlihat lebih hebat daripada yang lain.

“Jadi, lo berdua memutuskan menyerah dan enggak mau pasang taruhan lagi sama gue! It’s okay, Bro, karena artinya lo berdua mengakui pesona gue sebagai player tangguh yang enggak terkalahkan!” pungkas Rafka menyembulkan senyum kemenangan, tetapi di mata Kevin dan Tyo malah seperti seringai menghinakan.

Tak terima dianggap gampang menyerah seperti itu, membuat Tyo dengan lantang menyanggah, “Siapa bilang kita bakal menyerah begitu saja, Bro. Lagian harta Bokap gue masih banyak, jadi gue enggak akan berhenti kasih taruhan ke lo, sampai gue dan Kevin bisa menang dari lo, Raf.”

“Sama kayak Tyo, gue juga enggak bakal menyerah, Raf. Dari banyaknya cewek di kota ini, gue percaya, pasti ada satu atau beberapa cewek yang enggak mempan sama pesona lo. Kalau gue bisa menemukan cewek yang seperti itu, gue yakin 100% kalau lo bakal kalah taruhan dari kita berdua!” timpal Kevin dengan senyum percaya diri.

“Chill, Guys. Lo berdua enggak perlu terlalu memaksakan diri, karena gue yakin enggak akan semuda itu menemukan cewek yang enggak jatuh sama pesona gue. Sekarang, buat membukitnya, lo boleh tunjuk cewek mana pun yang di sini buat jadi bahan taruhan kita kayak biasa!” tantang Rafka.

Ia ingin memperlihatkan kepada kedua teman-temannya itu, bahwa tak semudah itu untuk menjatuhkan daya tarik yang ia miliki sebagai seorang pria yang digandrungi oleh para wanita.

Kevin dan Tyo saling bertatapan sejenak ketika Rafka jelas-jelas menantang mereka untuk memberikan taruhan.

Masak-masak mereka saling berdiskusi. Mata mereka pun tampak sibuk melirik ke sana kemari, demi mencari mangsa yang sekiranya sulit ditaklukkan oleh Rafka.

“Karena besok kita ada kuliah pagi, jadi tantangan kali ini enggak bakal serumit biasanya. Kali ini, lo cukup buat cewek baju hitam di sana mau ciuman sama lo!” tunjuk Tyo ke arah wanita berbaju hitam yang terlihat menghela nafas berkali-kali,, sambil tak berhenti menyesap minuman yang ada di tangan wanita itu.

“So easy, Guys. Tumben tantangan dari lo berdua easy banget. Malam ini, duit lo berdua makin menipis?! Makanya kasih tantangan gue semudah ini, biar lo berdua bisa pasang taruhan sedikit,” ledek Rafka dengan senyum miringnya.

Ditaruhnya salah satu kredit dari dompetnya di atas meja.“Ini jaminan yang gue pasang kalau seandainya kali ini gue kalah dari kalian. Meskipun, kayaknya kemungkinannya kecil banget,” imbuh Rafka yang sangat yakin bahwa kartu kredit ini akan kembali kepadanya.

“Cuma itu doang ternyata jaminan lo, Raf. Nih, gue kasih yang lebih dari lo, supaya lo tahu kalau uang gue masih ada banyak. Lagian, harta Bokap gue masih segunung, jadi gue yakin gak akan jatuh miskin cuma buat pasang taruhan begini!” Tak terima diremehkan oleh Rafka, Tyo mengeluarkan satu kunci motor seharga ratusan juta dari koleksi motor milik keluarganya.

Sementara itu, Kevin langsung menyerahkan jam mahal, sepatu eksklusif, dan jaket kulit keluaran ternama miliknya.

"Gue sama Tyo, kasih tantangan yang enggak seberapa susah buat lo malam ini karena besok ada mata kuliah Bu Sarah. Lo tahu ‘kan seberapa sanggarnya bu Sarah?! Gue cuma enggak mau diomeli Bokap Nyokap gue, gara-gara bu Sarah kasih gue nilai kecil, cuma karena bolos atau terlambat di mata kuliahnya besok.”

Wajah Rafka terlihat mengerenyot ketika temannya itu ternyata takut pada dosen baru mereka yang terkenal tegas, berhati dingin, dan misterius itu.

Namun, karena yang dibicarakan oleh Kevin ada benarnya juga, maka Rafka tak ingin mendebat apa pun lagi. Ia memilih untuk Iangsung bergegas menjalani tantangannya.

Dengan langkah gesit, Rafka berjalan mendekati meja bar yang tak jauh dari tempatnya duduk. Bagi Rafka, kalau hanya mendapatkan taruhan begini, ia bisa menyelesaikannya dalam hitungan jam. Bahkan, dalam hitungan menit pun sebenarnya ia dapat melakukannya. 

“Permisi, boleh aku duduk di sini?” tanya Rafka basa-basi sambil menarik kursi tepat di samping wanita itu.

“Kurasa Bar ini bukan milikku, jadi kau tak perlu meminta izinku. Kau bebas ingin duduk di mana pun kau mau!” sahut wanita yang tampaknya berusia 30 tahunan itu dengan tatapan tajam tanpa minat.

Rafka yang melihat sekilas wajah wanita di sampingnya, bisa tahu kalau wanita itu lebih tua darinya. Oleh karena itu, ia sengaja tak menggunakan bahasa gaul untuk berbicara dengan wanita itu.

Baginya, untuk menghadapi wanita yang umurnya lebih tua, akan lebih mempan jika ia menggunakan bahasa yang jauh lebih formal.

“Melihat dirimu yang tak berhenti minum dan beberapa kali menghela nafas putus asa, sepertinya aku tahu kalau kau sedang memiliki beban pikiran. Mau aku rekomendasikan minuman alkohol yang bisa membuatmu lebih tenang dan sejenak bisa membuatmu lupa akan masalahmu?” 

Meskipun, belum mendapatkan jawab atas tawarannya kepada wanita itu, Rafka langsung memesan 2 gelas wine khusus yang sering ia pesan di bar ini ketika pikirannya sedang kacau. 

“Dengar! Aku bukanlah tipe wanita yang bisa tergoda oleh minuman alkohol yang diberikan oleh orang asing sepertimu! Kalau kau datang kemari ingin mencoba merayuku agar mau tidur bersamamu, lebih baik kau enyah dari hadapanku!” damprat wanita itu memberikan tatapan menusuk kepada Rafka.

Mendapatkan respons seperti itu, Rafka tampak tak gentar. “Tenanglah. Aku kemari bukan ingin mengajakmu berbuat tak senonoh seperti itu. Hanya saja, aku tak tega membiarkan wanita yang terlihat sedang penuh tekanan sepertimu, duduk termenung sendirian. Aku hanya ingin membantu membuat perasaanmu lebih tenang, Nona. Setelah kau tenang, aku janji akan pergi dan membiarkanmu duduk tanpa ada gangguan lagi.”

“Hah?! Anak muda sepertimu ingin mencoba menenangkanku! Lebih baik tak usah, karena aku tak lagi percaya pada siapa pun di dunia ini! Sudahlah, sana pergi dan jangan ganggu aku lagi!” sungut wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya di udara, seolah mengisyaratkan ia ingin Rafka pergi dari hadapannya.

Seolah tak bergeming, Rafka tetap duduk di samping sana. Bukannya kesal karena di usir, Rafka malah  memasang senyum andalannya kepada wanita di sampingnya ini. Sambil dalam otaknya, ia memikirkan siasat supaya wanita ini pada akhirnya luluh dan mau berbicara baik-baik padanya.

Merasa sebal melihat Rafka yang masih bisa-bisanya tersenyum meski telah ia usir secara terang-terangan, membuat wanita bernama Maya itu langsung beranjak ingin pergi dari Bar.

Ia rasanya ingin segera menjauh dari hadapan lelaki yang tak ia kenal, tetapi mencoba sok dekat dengan dirinya. “Bebal sekali! Sudahlah, Kalau memang kau tak mau pergi, biar aku saja yang pergi!”

Kevin dan Tyo yang sedari tadi terus memperhatikan Rafka, tampak cekikan ketika melihat wanita yang sedang Rafka dekati itu tampak memasang wajah kesal kepada Rafka.

Sepertinya wanita itu berniat meninggalkan Rafka.  Melihat betapa sang wanita tak nyaman dengan kehadiran Rafka, membuat mereka yakin Rafka tidak akan berhasil kali ini.

Namun, bukan Rafka namanya, kalau ia tak punya akal untuk bisa memenangkan taruhan. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menaklukkan wanita yang menjadi target taruhannya.

Sekalipun, ia menggunakan cara-cara yang bisa dibilang licik, buruk, kotor, dan mungkin saja menggandung sebuah dosa di dalamnya, ia sama sekali tak masalah akan hal itu.

Seperti kali ini, Rafka terpaksa mengeluarkan jurus kebohongan miliknya, supaya wanita yang sedang menjadi bahan taruhannya kali ini tak jadi pergi. 

“Maaf kalau aku mengganggu! Saat melihatmu, aku seperti melihat Kakakku yang sudah meninggal. Dulu, Dia bunuh diri karena stres akibat perselingkuhan tunangannya. Semenjak itu, setiap kali melihat orang yang terlihat stres, aku akan mencoba membantu meringankan beban pikirannya, agar tidak sampai bunuh diri seperti Kakakku,” tutur Rafka sambil menahan tangan Maya agar wanita itu tak pergi dari hadapannya.

Semula, Maya ingin menampar wajah Rafka karena lancang menahan tangannya yang ingin pergi dari hadapan lelaki itu. Namun, ketika mendengar cerita sedih yang dituturkan oleh lelaki itu membuat timbulnya rasa iba dalam hatinya.

Apalagi kisah Kakak lelaki itu, hampir sama dengan dirinya saat ini yang tengah galau karena diselingkuhi oleh sahabat dan pacarnya sendiri.

Maya mengurungkan niatnya yang ingin menampar Rafka dan memutuskan untuk duduk kembali di kursinya semula.  “Maaf, karena tadi aku bersikap agak kasar. Tadinya kukira kau hanya ingin menggodaku. Tetapi, aku tak menyangka ternyata kau punya niat setulus itu.”

“Kau tidak perlu minta maaf. Kurasa tadi sikapku terlalu lancang, sehingga membuatmu tak nyaman. Kalau memang kau nyaman sendiri, aku akan kembali ke mejaku dan tak akan mengganggumu lagi di sini,” kata Rafka sengaja memainkan tarik ulur seperti ini, agar wanita itu merasa bersalah kepadanya. Lagi pula, Rafka yakin 100% kalau wanita itu kali ini akan menahan dirinya untuk tetap duduk si samping wanita itu.

Maya menggigit bibirnya dan merasa tak enak kepada Rafka karena ia telah berprasangka buruk kepada lelaki itu. “Kurasa kau bisa tetap di sini. Bukankah tadi kau sudah memesan 2 gelas minuman. Maaf, aku tadi tak bermaksud untuk bersikap sekasar itu padamu. Aku sungguh tidak tahu kalau ternyata kau memiliki cerita yang begitu sedih di balik sikapmu yang terlihat sangat percaya diri dan agak kurang ajar tadi.”

“Terima kasih sudah mengizinkanku tetap duduk di sini. Tetapi, boleh aku tahu namamu? Maaf kalau lancang, hanya saja aku merasa tak enak dari tadi aku duduk di sebelahmu, tetapi tak tahu namamu sama sekali,” tanya Rafka sambil memperhatikan wine pesanannya yang sepertinya akan jadi sebentar lagi,

Maya tampak berpikir sejenak sebelum pada akhirnya ia memberitahukan namanya kepada Rafka. “Panggil saja aku Maya,” jawab wanita itu seadanya.

Rafka mengulurkan tangannya kepada Maya sambil berkata, “Baiklah Maya, Aku Rafka.” 

Tak lama setelah mereka berjabatan tangan, minuman keras yang Rafka pesan datang. Maya dan Rafka saling melepaskan tangan mereka masing-masing. Lalu, Rafka segera mengambil 2 gelas wine yang ia pesankan untuk dirinya dan Maya.

“Terima kasih,” ucap Maya ketika Rafka menyerahkan segelas Wine kepada dirinya dan ia pun mengambil gelas itu dari tangan Rafka.

“Nikmatilah minumannya. Kalau seandainya kau ingin bercerita padaku mengenai masalahmu, aku bersedia untuk mendengarkannya. Tapi kalau kau enggan, aku hanya akan menemanimu minum saja.

Maya hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan Rafka. Sesudahnya, ia memfokuskan diri ke arah minuman pemberian Rafka yang ada di tangannya.

Ketika ia dekatkan minuman itu ke mulutnya, indra penciumannya dapat menghirup aroma anggur yang kental pada minuman berwarna merah pekat tersebut.

Tak lama disesapnya wine merah itu secara perlahan. Seketika rasa getir bercampur manis merambati lidahnya dan meluncur elegan di tenggorokannya.

Helaan nafas panjang dan berat terdengar dari Maya, ketika segelas wine di tangannya telah ia teguk habis. “Aku memiliki pengalaman yang hampir serupa dengan Kakakmu, yang kau ceritakan tadi. Bedanya, aku tak hanya dikhianati oleh pacarku, tetapi juga dikhianati oleh sahabatku sendiri. Mereka tega berselingkuh di belakangku, padahal aku sangat mempercayai mereka.”

Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Maya. Tak ada lagi raut wajah kesedihan di wajah Maya, tetapi tergurat jelas wajah sakit dan amat terluka di air mukanya. Sedangkan Rafka , hanya mendengarkan setiap cerita yang mengalir dari mulut Maya, tanpa berniat untuk menyelanya sedikit pun. Sesekali, ia hanya menawarkan untuk menuangkan wine merah ke gelas Maya. Krena setelah melihat gelas mereka kosong,  Rafka memesan sebotol wine.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah lebih lega?” tanya Rafka memberikan jeda 5 menit untuk menanyakan itu, usai Maya selesai menceritakan segala keluh kesah yang selama ini membebani pikiran wanita itu.

“Maaf, aku jadi terlalu banyak bercerita. Tapi, terima kasih, berkat wine yang kau berikan, perasaanku menjadi jauh lebih tenang. Terima kasih juga sudah mau mendengarkan masalahku. Sebagai ucapan terima kasihku, ambillah ini,” ucap Maya sambil menyerahkan 5 lembar uang seratus ribu di atas meja.

Melihat Maya memberikan uang kepadanya, Rafka segera mengembalikannya. “Maaf, aku tidak bisa menerima uang ini. Kalau memang kau ingin memberiku sesuatu sebagai ucapan terima kasih, bolehkan aku meminta sesuatu padamu sebagai gantinya?”

“Memangnya kau ingin meminta apa?” tanya Maya memasukkan uang yang tak mau diterima oleh Rafka kembali ke dalam tasnya.

“Mungkin pemintaanku agak lancang. Hmm… bolehkah aku meminta izin untuk menciummu? Kalau kau tidak keberatan, anggap saja sebagai ciuman perpisahan. Tapi, kalau kau ingin menolaknya, aku tak akan memaksa,” ujar Rafka berpura-pura menundukkan wajahnya. Seolah dengan melakukan itu, ia merasa tak enak meminta hal itu kepada Maya.

Padahal, hal itu merupakan salah satu trik yang dimainkan oleh Rafka. Ia  yakin Maya tak akan enak untuk menolak permintaan dirinya, setelah ia bersedia mendengarkan keluh kesah wanita itu.

Kalaupun Maya menolaknya, ia akan berpura-pura mengambil sesuatu kotoran dari rambut wanita itu dan menciptakan angle seolah-olah ia mencium Maya di hadapan kedua temannya.

Setelah berpikir sejenak, Maya pun memberikan jawaban dengan menganggukkan kepala. Ia sungguh merasa tak enak ingin menolak permintaan Rafka karena Rafka meminta dengan sopan kepadanya. Selain itu, anak muda itu telah membantu meringankan sedikit beban pikirannya malam ini.

Mendapatkan persetujuan Maya, membuat Rafka dengan gerakan cepat mendekatkan diri ke tubuh Maya. Ia tangkup wajah bulat milik Maya dengan tangannya.

Di tempelkan bibirnya di atas bibir Maya yang cukup tebal dan berwarna merah terang. Ia sesap sekali bibir Maya, sebelum pada akhirnya melepaskan tautan bibirnya dengan Maya.

Rafka pun mempersilakan Maya untuk pergi, ketika ia telah mendapatkan ciuman dari wanita itu. Dengan tersenyum miring penuh kemenangan, Rafka berjalan kembali ke tempat ia minum bersama teman-temannya tadi.

“Gue akui kali ini lo menang lagi Raf. Meskipun waktunya agak lama juga buat lo bisa ciuman sama cewek tadi. Biasanya, lo menaklukkan tantangan kayak begini, dalam waktu yang lebih singkat,” kata Kevin menyerahkan jaminan taruhan yang ia pasang kepada Rafka karena temannya itu berhasil mencium wanita yang menjadi taruhan mereka tadi.

Dengan berat hati Tyo juga menyerahkan kunci motor milik keluarganya kepada Rafka. “Kali ini lo boleh menang, Raf. Tapi lain kali, gue yakin lo bakal kalah dari taruhan yang kita kasih buat lo.” 

Rafka hanya menatap sekilas jaminan yang ia menangkan dari taruhan kali ini. Baginya jaminan dari teman-temannya bukanlah sesuatu yang berharga.

Namun, tetap ia ambil pula jaminan dari teman-temannya itu. Karena untuknya, hal itu merupakan  simbol kehebatan dan kemenangan dari harga dirinya yang tinggi.

“Gue rasa kita enggak perlu banyak bacot, tapi let’s we see, Bro. Meskipun, gue enggak yakin kalau gue bakal kalah dari lo berdua. Soalnya, enggak peduli sesulit apa pun taruhan dan tantangan yang lo berdua kasih buat gue, tapi gue selalu menang. Walaupun begitu, gue bakal selalu kasih kesempatan lo berdua untuk memberikan taruhan yang jauh lebih sulit lagi buat gue,” kata Rafka dengan jemawa.

Bab 2

“Saya kira waktu yang saya berikan kepada kalian sudah cukup lama untuk mengerjakan tugas yang saya berikan. Tetapi mengapa masih ada saja mahasiswa yang mengirim tugas terlambat kepada Saya?!” sungut Sarah mendenguskan nafasnya berkali-kali, dengan kilatan matanya yang sekaan dipenuhi oleh kobaran api.

Meskipun, baru 2 bulan ia mengajar di kampus ini, tetapi sudah ada saja tingkah mahasiswanya yang membuatnya naik darah.

Dari mulai mengumpulkan tugas terlambat, memakai pakaian yang melanggar kode disiplin berpakaian, menitipkan absensi pada teman yang lain padahal tidak masuk, sampai tak mengumpulkan tugas sama sekali. Beberapa hal itu, seolah menjadi pemandangan biasa yang sering Sarah dapati selama mengajar 2 bulan di sini.

Padahal, apa susahnya para mahasiswanya itu mengikuti semua hal yang sudah ditetapkan oleh dosen dan kampus.

Toh, kalau mereka semua berusaha untuk menjadi mahasiswa yang terbaik, tentunya yang mendapatkan untungnya juga diri mereka sendiri. 

Sebenarnya, bisa saja Sarah tak perlu marah-marah atau menghabiskan energinya untuk mengomeli para mahasiswa di kelasnya.

Namun, karena ia peduli dengan nilai para mahasiswanya dan ia juga ingin menanamkan jiwa-jiwa kedisiplinan untuk mereka, terpaksa lah mau tak mau ia harus bersikap tegas.

Sarah tak peduli, jika dengan bersikap demikian, ia di cap sebagai dosen galak, sadis, dan tak punya hati,

“Maafkan kami, Bu.” Para mahasiswa serempak mengatakan itu dengan harapan Sarah akan berhenti bersungut-sungut kepada mereka. “Kami janji akan mengumpulkan tugas tepat waktu, jika Ibu kembali memberikan tugas kepada kami, imbuh ketua kelas mahasiswa di kelas yang Sarah ajar kali ini.

“Sudahlah! Saya tidak butuh janji kalian! Kalau memang kalian ingin mengumpulkan tugas tepat waktu kali ini, saya akan memberikan tugas membuat artikel pemasaran kepada kalian. Tetapi, saya hanya memberikan waktu sampai besok untuk kalian mengumpulkan tugas itu!” 

Sengaja Sarah memajukan tugas yang seharusnya ia berikan minggu depan, dengan tenggang waktu pengumpulan yang memang tidak manusiawi.

Anggap saja, ini sebagai bentuk hukuman karena menyepelekan tugas yang ia berikan. Selesai memberikan tugas itu, Sarah mencoba meredam kemarahan dan menyampaikan materi perkuliahan yang harus ia berikan kepada para mahasiswa di kelas paginya hari ini.

Barulah setelah selesai mengajar, Sarah segera bergegas ke ruangan dosen. Sungguh, ia tak ingin berlama-lama lagi ada di kelas yang sudah membuat tensi darahnya menjadi tinggi di pagi hari yang cerah ini. 

Ketika sosok Sarah tak lagi terlihat, kebanyakan mahasiswa di kelas pagi  bisa menghela nafas dengan bebas.

Semenjak kelas pagi ini di buka dengan kemarahan Sarah, atmosfer yang tercipta di kelas juga terasa seperti dipenuhi oleh asap yang membuat para mahasiswa merasakan sesak.

“Astaga, galak bener Bu Sarah! Sejak Bu Sarah mengajar di sini, jarang banget lihat dia enggak marah-marah tiap masuk kelas!” gerutu Kevin sambil memasukkan buku kuliah miliknya ke dalam tas.

Tyo menghela nafas lega, pasalnya karena minum-minum semalam membuat ia, Kevin , Rafka sama-sama hampir terlambat datang ke kuliah pagi hari ini.

“Tapi, untung aja kita bisa datang sebelum Bu Sarah masuk kelas. Kalau terlambat sedikit aja, bisa tengsin habis kita gara-gara kena omel di sama Bu Sarah di depan kelas.” 

Sementara itu, Rafka sendiri tampak tak banyak bicara karena ia masih merasakan pengar menghinggapi separuh jiwanya.

Bagaimana ia tidak pengar, kalau kemarin sudahlah ia meminum Bir hitam bersama Kevin dan Tyo, lalu ditambah lagi ia minum wine merah dengan Maya demi memenangkan taruhan kemarin. 

“Tumben diam aja lo, Raf? Kayaknya lo butuh tantangan baru dari gue sama Kevin, biar lo enggak diam aja kayak mayat hidup begini. Kebetulan, tiba-tiba  gue kepikiran kasih taruhan buat lo. Taruhan yang kelihatannya bakal susah buat lo menangkan kali ini,” lontar Tyo sambil menyenggol tubuh Rafka. Lalu membisikan target taruhan kali ini kepada Kevin

“Waduh. Kalau target taruhan itu, gue juga yakin kali ini Rafka bisa kalah taruhan,” respons Kevin, ketika mendengar wanita yang akan menjadi target taruhan mereka kali ini.

“Lo berdua kenapa bisik-bisik segala? Kalau memang lo berdua sudah menemukan target taruhan yang katanya bakal sulit buat gue taklukan, langsung aja bilang sama gue,” sahut Rafka berusaha menghalau rasa pengar di kepalanya.

“Chill, Raf. Gue mau kasih waktu buat lo bernapas lega sebanyak-banyaknya. Soalnya, kalau gue kasih tahu target taruhan kita kali ini, gue takut lo bakal sesak napas,” ledek Kevin cekikikan sendiri membayangkan betapa syoknya Rafka, kalau sampai temannya itu tahu harus menaklukkan dosen galak mereka yang berhati dingin.

“Buruan, kalau lo berdua mau ngomong, gue kasih waktu 1 menit. Kalau dalam satu menit enggak ada yang ngomong juga, lo berdua gue tinggal pulang!” tandas Rafka memasang sebelah strap tas  punggungnya dan akan beranjak dari kursi yang sedang ia duduki.

“Lo memang enggak sabaran, Raf. Daripada buat lo makin dongkol, gue bakal kasih tahu kalau gue dan Kevin sepakat buat kasih taruhan lo untuk menjadikan bu Sarah sebagai pacar. Tapi, kali ini kita kasih lo waktu 1 bulan. Soalnya, Gue dan Kevin yakin lo enggak akan semudah itu untuk mendapatkan hati Bu Sarah,” papar Tyo menyunggingkan sudut bibirnya penuh percaya diri, karena kali ini ia dan Kevin yakin bisa membuat Rafka kalah taruhan.

“Waduh … Kayaknya kali ini bakal susah buat lo, Raf. Tapi, kalaupun gue sama Tyo kalah, gue sih enggak akan merasa rugi. Soalnya kalau sampai lo menang dan bisa menjadikan Bu Sarah pacar, mungkin saja Bu Sarah jadi enggak galak lagi di kelas,” timpal Kevin disertai suara tertawa renyah.

Seperti biasa, Rafka hanya menanggapi taruhan dari kedua temannya itu dengan senyum miringnya. “Gue kira bakal sesusah apa. Ternyata cuma si dosen baru itu. Kalau cuma mendapatkan dia, gue yakin enggak sampai sebulan juga Bu Sarah sudah bertekuk lutut buat jadi pacar gue.”

“Jangan sesumbar dulu, Bro. Lo aja belum coba mendekati bu Sarah. Coba aja lo mendekati dia, gue yakin kepercayaan diri yang lo tunjukkan ke kita hari ini enggak bakal bertahan lagi.”

Kevin yang memang selalu mengeluarkan kata-kata konyol dan diiringi suara tawa sesudahnya, ikut menimpali perkataan Tyo. “Kalau gue cuma mau bilang, good luck, Bro. Moga aja lo kagak dapet nilai E atau paling parah sampai di DO, gara-gara berusaha merayu uB Sarah.”

“Kebanyakan bacot lo berdua! Intinya lihat aja, dalam waktu kurang dari sebulan, gue pasti sudah jadian sama si dosen baru itu,” sahut Rafka sambil beranjak dari kursinya.

Rafka akan bersiap untuk pulang, karena ia harus menyiapkan strategi untuk mendekati bu Sarah. Mulai besok dan seterusnya, ia akan mencoba berbagai cara agar bisa mendapatkan hati dosen barunya itu.

Sesulit apa pun jalan yang harus ia tempuh untuk bisa menaklukkan Bu Sarah, tak akan membuatnya berhenti sampai ia bisa benar-benar meluluhkan hati dosen baru yang terkenal tegas dan berhati dingin itu.

Bab 3

“Tugas Bu Sarah kali ini, serahkan aja ke gue. Biar gue yang antar ke ruangannya,” lontar Rafka ketika ia mengumpulkan tugas miliknya ke penanggung jawab mata kuliah yang diampu oleh Sarah.

“Enggak usah, Raf. Sudah tugas gue buat kasih tugas kita ke Bu Sarah. Nanti yang ada aku kena marah Bu Sarah, kalau bukan gue yang antar tugasnya,” tolak Nera–teman sekelas Rafka—bergidik ngeri sendiri membayangkan ia akan terkena dampratan dari Bu dosennya yang terkenal berhati dingin itu.

Rafka yang memang ingin segera memulai rencana pertamanya dalam misi memenangkan taruhan, ingin segera bertemu dengan Sarah dan melancarkan aksinya.

Menurutnya, hanya cara ini yang terlihat alami untuk memulai melakukan pendekatan dengan Bu Sarah.

Oleh karena itu, bagaimanapun caranya, ia harus bisa mendapatkan tumpukan tugas ini dan mengantarkannya ke ruangan Sarah.

“Lo enggak usah takut. Entar gue bilang sama Bu Sarah kalau lo tiba-tiba sakit perut, jadi lo enggak bisa kasih tugas ini ke dia,” dalih Rafka berusaha keras mendapatkan persetujuan dari Nera untuk menggantikan gadis itu memberikan tugas ke ruangan dosen.

Namun, Nera yang benar-benar takut dengan Bu Sarah kembali menolak permintaan dari Rafka. “Sorry, Raf, tapi gue enggak bisa. Gue juga enggak mau harus terlibat kebohongan kayak begitu, apalagi ke dosen yang terkenal tegas kayak Bu Sarah.”

Rafka yang rasanya sudah kehabisan kesabaran untuk sekadar membujuk Nera dan mencoba berbicara baik-baik dengan gadis itu, akhirnya langsung saja merebut tumpukan tugas yang ada di tangan Nera. Setelahnya, Rafka langsung kabur dari hadapan Nera dengan secepat kilat.

“Rafka, bawa balik ke gue tugasnya!!!” begitu pekikan yang Rafka dengar dari Nera sebelum ia meninggalkan ruangan kelasnya. Namun, Rafka sama sekali tak memedulikan teriakan Nera.

Baginya, yang terpenting saat ini, ia harus segera pergi ke ruang dosen dan bertemu dengan Sarah di sana.

***

“Pagi, Bu. Permisi, saya mau mengumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan kepada kelas 6 A,” sapa Rafka ketika ia telah sampai di meja Sarah yang ada di dalam di ruang dosen.

“Kenapa kamu yang mengumpulkannya? Bukankah penanggung jawab mata kuliah saya dari kelas 6 A adalah Nera?!” tanya Sarah dengan sorotan mata yang tajam dan menyelidik.

“Nera tiba-tiba sakit perut, Bu. Jadi saya menawarkan bantuan untuk mengantarkan tugas ini kepada Ibu,” jawab Rafka memasang senyum kikuk di wajahnya.

Sarah tampak tak berminat menanggapi penjelasan yang diberikan oleh Rafka. Sambil memfokuskan tatapannya kembali ke layar laptop, ia berkata dengan wajah datar,“Taruh tugasnya di meja! Kalau sudah, kamu bisa keluar dari sini!”

Glek!

Untuk sesaat, Rafka hanya bisa menelan ludah ketika mendapati sikap dingin yang ditunjukkan oleh Sarah kepadanya. Pantas saja, Nera merasa takut pada Sarah dan tak mengizinkan ia untuk menggantikan Nera mengantarkan tugas kepada dosen di hadapannya ini.

Kalau melihat sikap Sarah yang datar, dingin, dan tegas seperti ini, ia sendiri juga merasa enggan berhadapan lama-lama dengan dosennya itu.

Namun, demi memenangkan taruhan, ia harus bisa bertahan menghadapi segala sikap yang Sarah tunjukan kepada dirinya. '

Sejenak, Rafka menarik nafas panjang untuk menghilangkan perasaan gugup yang sempat menyerang dirinya.

Sesudahnya, ia mulai menunjukkan aksi beraninya dengan mengambil setangkai mawar merah dari dalam tasnya..

“Sebelum saya pergi, saya mau kasih ini buat Ibu,” kata Rafka sambil meletakkan mawar yang ada di tangannya, di samping tumpukan tugas yang beberapa detik lalu ia taruh di atas meja Sarah.

“Apa ini?! Saya hanya menerima pengumpulan kertas tugas saja. Di luar itu, lebih baik kamu singkirkan dari meja saya!” tandas Sarah memindahkan pandangan matanya dari laptop, lalu memberikan tatapan nyalang kepada Rafka.

“Maaf, tapi saya tidak bisa mengambil benda yang sudah saya berikan kepada orang lain. Lagi pula, mawar ini cocok berada di dekat wanita cantik seperti Ibu,” jawab Rafka dengan beraninya menampilkan senyum, saat jelas-jelas Sarah memberikan tatapan tajam kepada dirinya.

“Baiklah … Kalau memang kamu tidak mau menyingkirkannya, biar saya sendiri yang menyingkirkannya!” Dengan gerakan cepat, Sarah memindahkan mawar dari atas mejanya ke dalam kotak sampah yang ada di bawah meja kerjanya. “Tolong jaga sikap dan perkataanmu! Saya ini dosenmu dan tak sepantasnya kamu mengatakan hal seperti itu kepada saya!”

Bukannya merasa malu karena Sarah membuang bunga mawar yang ia berikan, Rafka justru semakin menggila. “Kayaknya Ibu enggak suka bunga mawar. Kalau begitu, besok saya kasih ibu bunga yang lain saja atau cokelat juga sepertinya bukan ide yang buruk.”

Rafka yang merasa tak bisa mundur lagi, memutuskan untuk terus maju. Tak peduli seberapa kerasnya dan seberapa dinginnya sikap Sarah, ia pasti akan bisa meluluhkan dan mencairkan hati wanita itu.

Untuk sementara, ia rela mengesampingkan dulu rasa malunya di depan banyaknya orang yang sedang melihatnya terang-terangan merayu Sarah.

Bahkan, ia tak keberatan kalau harus mengendurkan sejenak harga dirinya yang tinggi di hadapan Sarah.

“Rafka Mahendra! Sekali lagi, saya minta tolong kepada kamu untuk menghentikan sikap kurang ajar seperti itu!” Sarah menekan bibir bawahnya dengan gigi atasnya karena ia sedang menahan amarahnya agar tidak meledak. “Sekarang, lebih baik kamu segera keluar dari ruang kerja saya, sebelum saya benar-benar menyembur kamu dengan kemarahan saya!”

“Saya akan menuruti semua yang Ibu suruh. Kalau ibu suruh saya keluar, saya akan keluar demi Ibu. Lagian, saya enggak mau lihat wajah Ibu yang cantik berkerut gara-gara kebanyakan marah.”

Setelah mengatakan itu, Rafka benar-benar keluar dari ruangan dosen dengan kecepatan penuh. Pasalnya, usai mengatakan itu, ia melihat wajah Sarah yang terlihat merah padam.

Seolah-olah dengan wajah seperti itu, Sarah bisa saja menyemburkan api kemarahan yang berkobar-kobar kepada dirinya, jika seandainya ia tak juga pergi dari hadapan wanita itu.

***

“Dari mana, Bro? Habis ketemu sama gebetan baru ceritanya?” ledek Kevin ketika melihat Rafka sudah kembali lagi ke kelas, karena dalam waktu 30 menit lagi, mata kuliah kedua mereka hari ini akan dimulai.

“Tadi, Nera cari lo sambil marah-marah ke kita. Katanya lo bawa kabur tugas yang harus di kasih ke Bu Sarah. Tapi, gue yakin pasti itu rencana lo biar bisa ketemu dia ‘kan?” kali ini Tyo menimpali sambil menaik turunkan alisnya.

“Berisik lo berdua! Lagian, lo berdua ke mana aja baru datang sekarang?” tanya Rafka kepada kedua kawannya yang tak datang saat mata kuliah pertama mereka hari ini. “Mampus aja lo berdua karena tugas dari Bu Sarah belum lo berdua kumpul.”

“Waduh … Mati gue. Bisa-bisa kita kena semprot Bu Sarah minggu depan, gara-gara lupa kumpul tugas. Pokoknya, lo harus tanggung jawab, Yo. Gara-gara ajakan minum-minum semalam di apartemen lo, kita jadi lupa buat tugasnya Bu Sarah,” damprat Kevin kepada Tyo. Hal tersebut karena sepanjang pagi ini mereka ketiduran, akibat mabuk semalam. Kevin dan Tyo baru bangun dan sadar ketika mereka Ingat sudah hampir masuk jam mata kuliah kedua.

“Salah lo sendiri kenapa mau terima ajakan gue,” sahut Tyo yang tak terima disalahkan oleh Kevin. “Lo juga, Raf, bisa-bisanya lo enggak kasih tahu kita.”

“Gue sudah kasih tahu lo berdua semalam. Gue bilang lewat telepon enggak bisa ikutan minum-minum karena gue mau mengerjakan tugas dari Bu Sarah. Tapi, karena lo berdua terlalu asyik minum, jadi enggak didengar omongan gue!” gerutu Rafka menoyor kepala kedua temannya.

Setelah mengingat-ingat perkataan Rafka semalam lewat telepon semalam, Tyo dan Kevin langsung kicep seketika. Bahkan mereka tak membalas saat Rafka menoyor kepala mereka, karena perkataan Rafka memang benar adanya.

“Tapi gue lihat-lihat, lo jadi rajin, Raf. Apa karena pengaruh lo lagi berusaha melakukan pendekatan sama Bu Sarah? Wah … mentang-mentang mau pacaran sama dosen, berubah jadi rajin lo!” Kevin kembali mengeluarkan gurauannya. Karena ia tak suka meratapi tugas yang tak terkumpul itu, jadi ia ingin melupakannya dengan membicarakan hal lain.

“Sok tahu lo, Kev. Gue begini bukan karena rajin. Tapi, terpaksa supaya gue bisa kumpul tugas tepat waktu dan ketemu sama Bu Sarah. Kalau kagak sih, gue bakal menyelesaikan tugas artikel itu, habis gue minum-minum sama lo berdua.”

Rafka sendiri memang tidak suka belajar, tetapi ia memiliki kecerdasan lahiriah yang bisa membuatnya mudah memahami sesuatu pelajaran tanpa perlu banyak belajar.

Terkadang, Rafka memang malas dan suka menunda-nunda mengerjakan tugas. Meskipun begitu, tetap saja ia kerjakan tugas itu, karena ia suka sensasi adrenalin ketika mengerjakan tugas di waktu-waktu yang begitu mepet. Sehingganya, sering kali ia mengumpulkan tugas terlambat dari waktunya.

***

“Lo berdua duluan aja. Nanti gue nyusul ke tempat biasa,” ujar Rafka yang semula akan nongkrong bersama teman-temannya usai pulang kuliah karena tak ada jadwal mata kuliah lagi hari ini. Tetapi, ia terpaksa menundanya, ketika melihat Sarah yang berjalan dengan menenteng tas laptop.

Tyo tampak keheranan sendiri melihat temannya yang untuk pertama kali terlihat masih ingin berkeliaran di kampus, meski tak ada lagi mata kuliah yang harus mereka ikuti hari ini. “Mau ngapain lo? Tumben banget betah lama-lama di kampus? Biasanya, lo orang pertama yang pengen cepat cabut dari kampus, kalau udah enggak ada mata kuliah lagi.”

“Lo enggak perlu heran, Yo. Biasalah, namanya juga doi lagi berusaha untuk deket sama uB Sarah. Tuh, lihat Bu Sarah ada di sana.” Kevin menanggapi pertanyaan Tyo yang diajukan untuk Rafka sambil cekikikan.

“Nah, itu lo tahu. Jadi, sana lo berdua pergi. Jangan ganggu gue yang lagi mau tebar pesona sama Ibu Dosen kita,” usir Rafka sambil turun dari motornya.

“Oke, good luck, Bro. Moga-moga lo enggak kena amuk bu Sarah,” goda Kevin sebelum meluncurkan motornya meninggalkan halaman kampus bersama dengan Tyo.

Rafka langsung saja berlari secepat kilatan cahaya, ketika melihat Sarah akan berjalan menaiki tangga. Akibatnya, bunyi nafasnya terdengar jelas saat ia telah sampai di samping Sarah.

“Biar tasnya saya bantu bawa, Bu. Supaya Ibu enggak terlalu capek naik tangga karena bawa beban yang lumayan berat,” tutur Rafka setelah ia selesai mengatur nafasnya. Tadinya, ia ingin bertanya mengapa Sarah menaiki tangga, tetapi pertanyaan itu ia urungkan ketika melihat tulisan lift sedang diperbaiki.

“Tidak usah, saya bisa membawa tas saya sendiri,” tolak Sarah yang mulai menaiki anak tangga dan melanjutkan langkahnya—yang sempat terhenti karena kehadiran Rafka—.

Tak ia pedulikan, Rafka yang sedari pagi selalu saja menemuinya tiba-tiba seperti ini. Yang ada, kalau ia tanggapi, anak muda seperti Rafka akan makin bersikap kurang ajar dan berani kepada dirinya.

Namun, pikiran Sarah ternyata salah, karena Rafka tetap saja bersikap berani kepada wanita itu, meskipun Sarah sama sekali tidak menanggapinya.

Dengan kurang ajarnya, tiba-tiba saja Rafka merebut tas itu dari tangan Sarah, lalu berkata, “Ibu enggak perlu gengsi sama saya. Saya ikhlas 100% kasih bantuan buat dosen secantik Ibu.”

Ketika menyadari tas laptop di genggamannya telah berpindah tangan, dengan suara tertahan Sarah mengeluarkan geraman kesal, “Rafka Mahendra! Kembalikan tas Saya!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED