Bab 1

Naya Priatama menatap keluar jendela kecil dari apartemen yang baru ia sewa di pinggiran kota kecil bernama Windfall. Kota itu terkenal dengan hujannya yang tiada henti, seolah awan kelabu tak pernah mau beranjak dari langit. Hujan gerimis yang jatuh dengan ritme lembut mengiringi pikirannya yang sedang buntu. Setiap tetes air yang menimpa kaca jendela seakan berbisik, menantang imajinasinya yang sudah lama terjebak dalam kebuntuan.

“Apa yang sedang kucari di sini?” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Naya datang ke kota ini dengan harapan besar. Setelah kesuksesan novel debutnya, ia merasa tekanan untuk menghasilkan karya kedua yang lebih baik. Namun, seiring waktu, ide-ide yang dulu mengalir bebas kini seakan terhenti. Inspirasi yang ia harapkan akan muncul dari tempat baru ini tampak menghindarinya, seolah menguji ketabahan dan kemampuannya sebagai seorang penulis.

Apartemennya sederhana—hanya terdiri dari ruang tamu kecil, dapur yang terhubung dengan ruang makan, dan satu kamar tidur. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di tempat itu selain menulis, dan itulah yang ia inginkan. Tidak ada gangguan, tidak ada keramaian, hanya dia dan laptopnya.

Namun, saat ini, bahkan laptopnya terasa seperti musuh. Layar putih kosong yang menunggu untuk diisi kata-kata hanya membuat Naya semakin frustasi. Setiap kali ia mencoba mengetik, kata-kata yang muncul terasa tidak memadai, tidak cukup kuat untuk melanjutkan ceritanya.

Naya menarik napas panjang, mencoba meredakan kekesalannya. Ia memutuskan untuk keluar, mencari udara segar, atau mungkin, inspirasi yang selama ini menghindar. Setelah mengenakan jaket tebal dan membawa payung, ia melangkah keluar dari apartemen menuju pusat kota yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki.

Windfall bukanlah kota besar, tetapi memiliki pesona yang unik. Jalan-jalan kecil yang berkelok, deretan toko-toko kuno dengan papan nama yang sudah mulai pudar, dan penduduk lokal yang ramah meskipun tampak sedikit tertutup. Naya merasa ada sesuatu yang istimewa di tempat ini—sebuah energi yang sulit dijelaskan, seolah setiap sudut kota menyimpan cerita tersendiri.

Saat hujan semakin deras, Naya mempercepat langkahnya. Ia menemukan dirinya berhenti di depan sebuah kafe kecil yang tampak hangat dan mengundang. Papan kayu di depan pintu bertuliskan “Café Aria” dengan huruf kursif yang anggun. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kafe dan disambut dengan aroma kopi yang menenangkan.

Suasana di dalam kafe sangat kontras dengan cuaca di luar. Dindingnya dihiasi dengan rak-rak penuh buku, musik jazz lembut mengalun di latar belakang, dan beberapa pelanggan duduk menikmati minuman mereka sambil membaca atau berbincang pelan. Tempat ini langsung memberikan Naya perasaan nyaman yang sudah lama ia cari.

Naya melangkah menuju meja kosong di dekat jendela, tempat ia bisa melihat hujan yang terus turun di luar. Ia baru saja duduk ketika seorang pria mendekatinya. Dia mengenakan seragam barista berwarna hitam dengan celemek cokelat muda, rambutnya yang hitam pekat sedikit berantakan, namun menambah pesonanya. Matanya tajam, tetapi ada sesuatu yang misterius dalam tatapannya.

“Selamat sore,” sapanya dengan suara rendah dan tenang. “Ada yang bisa saya bantu?”

Naya menatapnya sejenak sebelum tersadar dari lamunannya. “Oh, selamat sore. Saya akan pesan latte, tolong.”

Barista itu mengangguk pelan. “Baik, satu latte. Apakah Anda ingin menambahkan sesuatu yang lain?”

Naya menggeleng. “Tidak, itu saja. Terima kasih.”

Sebelum pria itu berbalik, Naya merasakan dorongan untuk bertanya lebih jauh. Namun, ia menahan diri dan hanya mengangguk sopan. Pria itu berjalan kembali ke barista counter, meninggalkan Naya dengan pikirannya.

Ada sesuatu yang menarik tentang pria itu—sesuatu yang membuat Naya ingin tahu lebih banyak. Tapi apa? Mungkin cara dia membawa dirinya, atau mungkin tatapannya yang dalam seolah menyimpan cerita yang tak terkatakan.

Sambil menunggu pesanannya, Naya mencoba membuka laptopnya dan menulis beberapa kalimat. Namun, pikirannya terus mengembara pada barista misterius itu. Apakah dia penduduk asli di kota ini? Atau mungkin dia juga seseorang yang datang ke sini untuk melarikan diri dari sesuatu, seperti dirinya?

Tak lama kemudian, latte pesanannya tiba, diantarkan oleh barista yang sama. Dia meletakkan cangkir di atas meja dengan hati-hati, lalu berkata, “Semoga Anda menikmati minuman ini.”

Naya mengangguk dan memberikan senyum kecil. “Terima kasih.”

Pria itu kembali ke posisinya di belakang counter, tetapi Naya masih merasa ada sesuatu yang aneh. Selama sisa sore itu, Naya duduk di kafe, mencoba menulis dan mengamati sekelilingnya. Namun, perhatian utamanya tetap tertuju pada barista yang sesekali melirik ke arah Naya, seolah menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.

Waktu berlalu dengan cepat. Naya akhirnya memutuskan untuk pulang ketika hujan mulai reda sedikit. Ia menyimpan laptopnya dan berdiri, bersiap untuk meninggalkan kafe. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar, sesuatu menarik perhatiannya—sebuah buku catatan tebal berwarna hitam yang tergeletak di atas meja di belakang counter. Sebagian kecil dari halaman dalamnya terlihat, seolah-olah sengaja dibiarkan terbuka.

Naya merasa ada sesuatu yang aneh pada buku itu. Mungkin karena posisinya yang terlalu mencolok, atau mungkin karena instingnya sebagai penulis yang membuatnya penasaran. Tanpa berpikir panjang, ia mendekati counter dan memutuskan untuk berbicara dengan barista itu.

“Maaf,” panggilnya pelan. Pria itu menoleh, sejenak terlihat kaget dengan keberadaan Naya yang tiba-tiba di dekatnya.

“Ya?” jawabnya.

“Saya tidak bisa menahan rasa penasaran saya,” kata Naya sambil menunjuk ke buku catatan hitam itu. “Apakah itu milik Anda?”

Pria itu terlihat sedikit ragu, namun akhirnya ia mengangguk. “Ya, itu buku catatan saya. Mengapa?”

Naya tersenyum sedikit malu. “Saya hanya penasaran. Sebagai penulis, saya sering membawa buku catatan sendiri untuk mencatat ide-ide yang datang tiba-tiba. Jadi, saya merasa terhubung setiap kali melihat seseorang membawa buku catatan.”

Pria itu tertawa kecil, sebuah suara yang jarang didengar Naya sepanjang pertemuan mereka. “Begitukah? Menulis adalah sebuah seni yang membutuhkan dedikasi, dan saya rasa kita semua yang terlibat di dalamnya memiliki rasa persaudaraan yang sama.”

Naya mengangguk setuju. “Benar sekali. Saya sering merasa bahwa hanya dengan menulis, saya bisa benar-benar mengekspresikan diri.”

Percakapan mereka mulai mengalir lebih lancar, dan Naya merasa semakin tertarik pada pria ini. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Naya, dan pria itu akhirnya menyebutkan namanya, Arga. Namun, ada sesuatu dalam cara Arga berbicara yang membuat Naya merasa bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Cara dia memilih kata-katanya, bagaimana dia menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi, semua itu menambah rasa misteri yang sudah melingkupi dirinya.

Sebelum Naya pergi, Arga tiba-tiba berkata, “Jika Anda tertarik, Anda bisa datang ke sini lagi. Mungkin kita bisa berbagi ide-ide menulis.”

Naya terkejut dengan tawaran itu, tetapi ia menerimanya dengan senang hati. “Tentu saja, saya akan sangat senang. Terima kasih.”

Sepanjang perjalanan pulang, Naya merasa ada sesuatu yang berubah. Pertemuannya dengan Arga memberikan perasaan yang baru, seperti lembaran cerita yang siap untuk ditulis. Namun, di balik semua itu, ada rasa penasaran yang tak bisa diabaikan—siapakah Arga sebenarnya? Dan apa yang ia sembunyikan?

Saat Naya tiba di apartemennya dan mulai menulis, pikirannya terus kembali pada sosok Arga. Ia mencoba menggali lebih dalam apa yang ia rasakan, namun setiap kali ia merasa hampir menemukan jawabannya, pikiran itu kembali melesat, menyisakan lebih banyak pertanyaan.

Pagi berikutnya, Naya kembali ke Café Aria, berharap bisa bertemu dengan Arga lagi. Namun, kali ini suasana di kafe berbeda. Tidak ada Arga, hanya seorang barista lain yang tampak asing bagi Naya.

Naya merasa kecewa, namun ia memutuskan untuk tetap tinggal dan menulis. Setelah beberapa jam, ia memutuskan untuk bertanya kepada barista yang bekerja di sana. “Maaf, apakah Arga hari ini tidak masuk

kerja?”

Barista itu mengerutkan kening, tampak bingung. “Arga? Saya tidak yakin siapa yang Anda maksud.”

Naya terkejut. “Barista yang bekerja di sini kemarin, dia yang melayani saya.”

Barista itu tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Maaf, tapi saya sudah bekerja di sini sejak pagi, dan saya tidak melihat ada orang bernama Arga yang bekerja di sini.”

Bab 2

Pikiran Naya masih berputar ketika ia meninggalkan Café Aria. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap jejak yang ditinggalkannya di trotoar yang basah menjadi beban pikiran yang baru. Bagaimana mungkin barista di kafe itu tidak mengenali Arga? Apakah dia hanya bermain-main dengannya? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika?

Naya melangkah pulang dengan perasaan campur aduk. Kepalanya penuh dengan pertanyaan, namun tak satu pun dari pertanyaan itu memiliki jawaban yang memuaskan. Setibanya di apartemen, ia langsung menuju ke jendela, menatap hujan yang masih terus turun. Kota Windfall sepertinya tidak pernah lelah dengan hujannya. Tapi kali ini, hujan itu tidak menenangkan Naya. Justru sebaliknya, hujan itu memperburuk perasaannya yang sudah kacau.

Di dalam apartemennya yang sepi, Naya merasakan kesepian yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia duduk di depan laptopnya, mencoba menulis, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Pikirannya terus-menerus kembali ke sosok Arga dan buku catatan hitamnya. Mengapa Arga tampak begitu akrab dengannya, namun di saat yang sama begitu jauh dan tidak bisa didekati? Dan yang paling mengganggu, mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya?

Naya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan: mencari tahu lebih lanjut. Ia membuka mesin pencari di laptopnya dan mulai mengetik nama “Arga”. Namun, tidak ada hasil yang relevan. Nama Arga terlalu umum, dan meskipun ia mencoba menambahkan kata kunci seperti “barista” atau “Windfall”, hasilnya tetap nihil. Frustasi, Naya memutuskan untuk meninggalkan pencarian itu sejenak dan mencoba mencari jawaban dengan cara lain.

Keesokan harinya, Naya memutuskan untuk kembali ke kafe. Meskipun ada sedikit perasaan takut bahwa ia hanya akan menemukan kekecewaan lagi, ia merasa harus mencari tahu lebih lanjut. Saat ia tiba di Café Aria, perasaannya mulai campur aduk antara harapan dan keraguan. Pintu kafe itu masih sama, papan nama yang sama, tetapi suasana di dalamnya tampak sedikit berbeda. Barista yang kemarin menyapanya dengan kebingungan kini tersenyum ramah padanya.

“Selamat pagi, apa kabar?” sapanya dengan suara yang ramah.

Naya mencoba tersenyum meskipun pikirannya masih penuh dengan tanda tanya. “Pagi. Saya hanya ingin memesan kopi lagi.”

Barista itu mengangguk dan dengan cepat menyiapkan pesanannya. Naya menunggu dengan cemas, berharap Arga akan muncul dari belakang counter, tetapi tidak ada tanda-tanda dirinya. Setelah beberapa menit, barista itu menyerahkan cangkir kopi ke Naya, dan dengan sedikit ragu, Naya bertanya lagi.

“Maaf, tapi apakah mungkin Arga bekerja di shift lain?”

Barista itu kembali tampak bingung. “Saya sudah bilang kemarin, saya tidak tahu siapa yang Anda maksud dengan Arga. Kami hanya memiliki tiga barista di sini, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bernama Arga.”

Naya merasa seperti dinding realitasnya mulai runtuh. Apakah dia hanya membayangkan semuanya? Atau apakah ada yang lebih aneh lagi yang sedang terjadi? Dengan bingung, Naya mengambil kopinya dan kembali ke meja yang sama tempat ia duduk kemarin, mencoba mengingat setiap detail percakapannya dengan Arga.

Namun, saat ia meneguk kopinya, sebuah ingatan tiba-tiba muncul di benaknya. Buku catatan hitam. Mungkin itu adalah kunci dari misteri ini. Naya mencoba mengingat letak buku itu saat terakhir kali ia melihatnya. Ia tidak yakin apakah buku itu masih ada di kafe, tetapi ia merasa harus mencarinya.

Dengan hati-hati, Naya berdiri dan berjalan menuju counter. Ia mencoba tidak menarik perhatian barista saat matanya mencari-cari buku catatan itu. Namun, tidak ada tanda-tanda buku tersebut. Semuanya tampak normal, bahkan lebih biasa daripada sebelumnya. Seperti Arga dan buku catatannya tidak pernah ada.

Naya kembali duduk, merasa frustasi. Namun, rasa penasaran dalam dirinya terlalu kuat untuk diabaikan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus ia ketahui, sesuatu yang berada di luar jangkauan pikirannya saat ini. Apakah mungkin Arga memiliki alasan untuk bersembunyi? Atau mungkin dia memiliki hubungan dengan tempat ini yang tidak diketahui oleh siapa pun?

Selama beberapa hari berikutnya, Naya terus datang ke kafe itu, berharap bisa bertemu Arga lagi. Namun, setiap kali ia datang, kekecewaan yang sama menyambutnya. Tidak ada Arga, tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah ada. Hanya barista yang sama, yang mulai curiga dengan kehadiran Naya yang berulang kali tanpa alasan jelas.

Frustrasi dan kelelahan mulai menggerogoti Naya. Hujan yang tak pernah berhenti di Windfall kini menjadi sesuatu yang menekan, bukannya menenangkan. Naya merasa seperti tenggelam dalam lautan kebingungan, di mana setiap tetes air hujan menambah beban pada pundaknya.

Namun, di tengah kebingungannya, sebuah ide baru muncul. Jika Arga adalah seseorang yang berusaha bersembunyi, mungkin dia tidak akan meninggalkan jejak yang mudah ditemukan. Mungkin dia telah menghapus jejaknya dengan sangat hati-hati. Naya tahu bahwa jika dia ingin menemukan jawaban, dia harus berpikir di luar kebiasaan. Ia harus keluar dari jalur biasa dan mencari petunjuk di tempat-tempat yang tidak biasa.

Suatu malam, ketika hujan turun lebih deras dari biasanya, Naya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Dia tidak tahu persis apa yang ia cari, tetapi ia merasa dorongan kuat untuk terus berjalan, seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya. Kota Windfall yang sepi dan hampir kosong membuat langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap tetesan hujan yang jatuh dari payungnya terasa seperti dentingan jam yang terus berdetak, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan.

Tanpa sadar, Naya menemukan dirinya di depan sebuah toko buku tua yang tampak sudah lama tidak terurus. Jendela toko itu berdebu, dan cahaya redup yang berasal dari dalam membuat toko itu tampak suram. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Naya—sebuah buku yang dipajang di etalase, dengan sampul hitam pekat dan desain yang sangat familiar. Itu adalah buku catatan hitam yang sama dengan yang dilihatnya di Café Aria.

Dengan hati yang berdebar, Naya membuka pintu toko yang berderit dan masuk. Aroma kayu tua dan kertas menyambutnya, memberikan nuansa nostalgia yang aneh. Di dalam toko, ada seorang pria tua yang duduk di belakang meja kasir, matanya tertutup, tampak sedang tidur.

Naya merasa sedikit canggung, tetapi rasa penasarannya terlalu kuat. Ia mendekati rak tempat buku catatan itu dipajang, dan dengan hati-hati mengamati sampulnya. Tidak ada tulisan atau petunjuk apa pun yang bisa memberitahu siapa pemilik buku itu. Namun, ketika Naya membalik-balik halaman pertama, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan—sebuah tulisan tangan yang sangat familiar. Itu adalah tulisan tangan Arga.

Naya merasa jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin buku ini ada di sini? Dan mengapa tulisan tangan Arga ada di dalamnya? Apakah ini semacam pesan tersembunyi? Naya membuka lebih banyak halaman, berharap menemukan petunjuk, tetapi isinya tampak seperti catatan acak—potongan kalimat, ide cerita, dan sketsa yang tidak jelas. Namun, di salah satu halaman terakhir, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Di sudut halaman itu, ada sebuah gambar yang tergambar dengan sangat detail—sebuah pemandangan kota Windfall dari ketinggian, dengan beberapa bangunan ikonik yang bisa dikenali. Namun, yang paling menarik perhatian Naya adalah tanda panah kecil yang menunjuk ke arah sebuah bangunan tertentu, dengan tulisan kecil di sampingnya: “Temukan aku di sini.”

Naya merasakan adrenalin mulai mengalir di dalam tubuhnya. Dia tahu bahwa ini bukan kebetulan. Arga ingin dia menemukan sesuatu—mungkin bahkan dirinya. Dengan cepat, Naya menyimpan buku itu dan membayar kepada pria tua yang masih tertidur, sebelum segera keluar dari toko dan berlari menembus hujan.

Peta yang digambar Arga dalam buku itu menunjukkan sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota Windfall, sebuah gedung tua yang tampak seperti tidak terpakai. Naya berjalan cepat ke arah yang ditunjukkan peta, tidak peduli dengan hujan yang semakin deras. Ia merasa seperti sedang berada dalam sebuah cerita misteri, di mana setiap langkahnya membawa dia lebih dekat ke kebenaran yang telah lama tersembunyi.

Setelah beberapa menit berjalan, Naya akhirnya tiba di tempat yang ditunjukkan peta. Gedung tua itu tampak suram dan kosong, dengan jendela-jendela yang pecah dan cat yang mulai mengelupas. Namun, ada sesuatu yang membuat Naya merasa bahwa ini adalah tempat yang tepat—sebuah perasaan yang

tidak bisa dijelaskan, seolah-olah gedung itu memanggilnya.

Dengan hati-hati, Naya membuka pintu gedung yang berderit dan masuk ke dalam. Di dalam, suasananya dingin dan lembab, dengan bau debu yang tajam. Ruangan itu kosong, kecuali beberapa perabotan tua yang tampak telah lama ditinggalkan. Namun, di tengah ruangan, ada sesuatu yang menarik perhatian Naya—sebuah pintu kecil di lantai, yang tampak seperti pintu menuju ruang bawah tanah.

Dengan tangan gemetar, Naya membuka pintu tersebut dan melihat sebuah tangga yang menuju ke bawah, ke dalam kegelapan. Ia merasa takut, tetapi rasa penasarannya lebih kuat. Dengan langkah hati-hati, Naya mulai menuruni tangga itu, sementara pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Apakah Arga ada di sini? Atau mungkin dia akan menemukan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mengejutkan?

Ketika Naya akhirnya sampai di dasar tangga, ia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu tua di sudut. Di tengah ruangan, ada meja kecil dengan beberapa kertas berserakan di atasnya. Naya mendekati meja itu dan melihat sebuah buku catatan lain yang terbuka, dengan tulisan tangan yang sama—tulisan tangan Arga.

Namun, sebelum Naya sempat membaca lebih jauh, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dengan cepat, Naya berbalik, dan di sana, di tengah bayangan, berdiri seseorang yang sangat familiar—Arga.

Namun, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Tatapan matanya yang tajam dan senyum kecil di wajahnya membuat Naya merasa bahwa dia telah jatuh ke dalam sebuah jebakan yang telah lama direncanakan.

Cliffhanger:

Arga melangkah lebih dekat, dan dengan suara lembut namun penuh misteri, ia berkata, “Kau akhirnya menemukan aku, Naya. Tapi apakah kau siap untuk mengetahui kebenarannya?”

Naya merasa seluruh tubuhnya membeku, sementara bayangan gelap di sekitar Arga tampak semakin menakutkan. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan Arga? Dan apakah Naya benar-benar siap untuk menghadapinya?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan membawa Naya semakin dalam ke dalam pusaran misteri yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bab 3

Naya mematung di tempatnya. Suara Arga yang terdengar begitu dekat membuat detak jantungnya semakin tak beraturan. Dalam cahaya redup ruang bawah tanah itu, sosok Arga tampak berbeda—seperti bayangannya semakin pekat, menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Tatapan mata tajamnya terasa menembus pikiran Naya, seolah membaca semua kebingungannya.

“Kau terlihat terkejut, Naya,” kata Arga sambil melangkah lebih dekat. Senyum kecil masih menghiasi bibirnya, tetapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang tak bisa Naya terjemahkan. Mungkinkah itu rasa bersalah? Atau mungkin sesuatu yang lebih kelam?

“Aku… aku hanya ingin tahu kebenarannya,” jawab Naya dengan suara gemetar. Kakinya mundur secara refleks, meskipun ia tahu tak ada tempat untuk bersembunyi. Dinding-dinding ruang bawah tanah yang sempit ini seolah menjeratnya, memaksanya untuk menghadapi kenyataan yang ia tidak siap terima.

Arga menghela napas panjang, seolah mempertimbangkan kata-kata yang tepat sebelum berbicara lagi. “Kebenaran seringkali bukan hal yang mudah untuk diterima, Naya. Kadang-kadang, lebih baik kita tidak tahu.”

Naya merasakan rasa penasaran yang semakin mendesak. “Apa maksudmu, Arga? Mengapa kau bersembunyi di sini? Apa yang terjadi sebenarnya?”

Arga terdiam sejenak, menatap Naya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Semua ini… adalah bagian dari masa laluku. Sesuatu yang aku coba tinggalkan, tapi sepertinya masa lalu selalu memiliki cara untuk kembali.”

“Kau seorang penulis terkenal, bukan? Aku… aku tahu itu. Tapi kenapa kau menghilang? Apa yang kau sembunyikan?” Naya tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Selama ini ia hanya menebak-nebak, tapi sekarang ia butuh jawaban.

Arga tampak ragu, tetapi kemudian dia mengangguk pelan. “Ya, aku memang seorang penulis. Tapi apa yang kau dengar tentang aku mungkin hanya sebagian kecil dari cerita yang sebenarnya.”

Naya mendekat, mencoba menangkap setiap kata yang diucapkan Arga. “Apa yang sebenarnya terjadi, Arga? Tolong, ceritakan padaku.”

Arga mengalihkan pandangannya, seolah mencari kekuatan untuk membuka kembali luka lama. “Aku pernah berada di puncak karierku. Bukuku laris manis, penggemar menghormatiku, dan aku merasa berada di atas dunia. Tapi kemudian, sebuah skandal besar menghancurkan semuanya. Skandal itu… menghancurkan hidupku, Naya.”

Naya tertegun, tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mendengarkan dengan penuh perhatian saat Arga melanjutkan ceritanya.

“Skandal itu… melibatkan seseorang yang aku cintai. Seseorang yang sangat aku percayai, tapi dia mengkhianatiku dengan cara yang paling menyakitkan. Aku menjadi target fitnah, dan segala sesuatu yang aku bangun runtuh dalam sekejap mata. Aku kehilangan semuanya—karierku, reputasiku, dan orang-orang yang aku cintai.”

“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Naya, suaranya hampir berbisik.

Arga menundukkan kepala, seolah terbenam dalam kenangan yang pahit. “Aku melarikan diri. Aku pergi ke tempat di mana tidak ada yang mengenalku, tidak ada yang peduli tentang siapa aku sebenarnya. Aku ingin melupakan segalanya, ingin menjadi seseorang yang baru. Itulah kenapa aku ada di sini, di Windfall. Tempat ini memberiku kesempatan untuk hidup kembali, meskipun dalam bayang-bayang masa laluku.”

Naya merasakan simpati yang mendalam tumbuh dalam dirinya. Dia bisa merasakan betapa berat beban yang Arga tanggung. Tapi ada satu hal yang masih mengganggunya.

“Tapi kenapa kau tidak memberitahu siapa pun? Kenapa kau bersembunyi di sini seperti ini?”

Arga mengangkat bahunya. “Kadang-kadang, lebih mudah untuk hidup dalam bayang-bayang daripada menghadapi dunia yang kejam. Dunia di luar sana tidak akan pernah melupakan kesalahanmu, Naya. Dan ketika kau sudah jatuh, mereka hanya akan menertawakanmu, bukan membantumu bangkit.”

Kata-kata Arga menyentuh sisi terdalam hati Naya. Dia tahu betul bagaimana perasaan itu—merasa ditinggalkan, dihakimi, dan tidak ada yang peduli. Sebagai seorang penulis, Naya juga sering merasa terasing, terutama ketika karyanya tidak diterima dengan baik. Namun, apa yang dialami Arga jauh lebih berat. Dia bukan hanya kehilangan kariernya, tapi juga hidupnya yang sesungguhnya.

“Tapi… kau tidak bisa terus seperti ini, Arga,” ujar Naya dengan lembut. “Kau harus bangkit. Mungkin orang-orang tidak akan melupakan apa yang terjadi, tapi mereka juga bisa melihat bahwa kau telah berubah, bahwa kau bukan lagi orang yang sama.”

Arga menatap Naya dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Naya melihat kilatan harapan di mata lelaki itu. “Kau mungkin benar, Naya. Tapi aku butuh waktu. Aku butuh lebih dari sekadar keberanian untuk kembali ke dunia itu.”

Naya meraih tangan Arga, merasakan kehangatan yang mengalir dari kulitnya. “Aku akan ada di sini untukmu, Arga. Kau tidak sendirian. Kita bisa menghadapi ini bersama.”

Arga tersenyum, meskipun samar. “Terima kasih, Naya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati ini semua tanpa dukunganmu.”

Mereka berdiri dalam keheningan untuk beberapa saat, saling merasakan kedalaman emosi yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Tapi sebelum Naya bisa berkata lebih jauh, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari atas tangga. Pintu ruang bawah tanah terbuka, dan cahaya terang menyorot ke bawah.

Seseorang datang.

“Siapa di sana?” Suara itu tegas dan penuh kecurigaan. Naya dan Arga terkejut, dan dengan cepat Arga menarik Naya ke belakang, menyembunyikannya di balik meja.

Langkah kaki mendekat, dan sosok tinggi dengan bayangan gelap muncul di puncak tangga. Naya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Orang ini tidak datang dengan niat baik.

“Arga, aku tahu kau di sini,” suara itu semakin jelas. “Keluar, atau aku akan mencarimu sendiri.”

Naya menahan napas, sementara Arga tampak tegang. Dia berbisik kepada Naya, “Tetap di sini. Jangan keluar apapun yang terjadi.”

Naya mengangguk, meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tahu bahwa ini bukan pertanda baik. Siapa pun orang ini, dia jelas bukan teman.

Arga berdiri dengan tenang, meskipun Naya bisa merasakan ketegangan di setiap gerakannya. Dengan langkah mantap, Arga berjalan keluar dari bayang-bayang dan menghadapi pria itu.

“Aku di sini,” kata Arga dengan suara tegas.

Pria itu menatap Arga dengan pandangan penuh kebencian. “Kau pikir bisa lari dariku selamanya? Kau salah besar, Arga. Aku akan memastikan kau membayar untuk semua yang telah kau lakukan.”

Arga tetap tenang, meskipun kata-kata pria itu penuh ancaman. “Aku sudah membayar mahal untuk kesalahanku. Kau tidak perlu menambahkannya.”

Pria itu tersenyum sinis. “Kesalahanmu bukan hanya merugikan dirimu sendiri, tapi juga banyak orang lain. Dan aku ada di sini untuk memastikan kau tidak melarikan diri lagi.”

Naya tidak tahu siapa pria ini atau apa hubungannya dengan Arga, tapi jelas ada sejarah kelam di antara mereka. Dia bisa merasakan ketegangan yang meningkat di dalam ruangan ini, seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pria itu melangkah lebih dekat, dan Naya bisa melihat bahwa dia memegang sesuatu di tangannya—sesuatu yang tajam dan berkilat di bawah cahaya redup.

“Ini bukan masalah lari, ini masalah keadilan,” pria itu berbicara dengan nada yang lebih rendah, tetapi penuh dengan tekad. “Dan aku akan memastikan keadilan itu ditegakkan.”

Arga tidak bergeming, meskipun jelas dia tahu bahwa situasinya sangat berbahaya. “Keadilan bukan milikmu untuk ditegakkan. Apa yang kau inginkan sebenarnya?”

Pria itu tertawa pendek, namun tidak ada keceriaan di dalamnya. “Aku ingin kau menderita seperti aku menderita. Seperti semua orang yang kau rugikan menderita.”

Naya merasakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan merayapi tubuhnya. Dia tahu bahwa Arga tidak akan menyerah begitu saja, tetapi situasi ini tampak terlalu berbahaya. Bagaimana jika pria itu benar-benar berniat melukai Arga?

Arga mengambil satu langkah ke depan, mencoba menenangkan pria itu. “Kita bisa bicarakan ini. Aku tahu aku sudah berbuat salah, tapi kita bisa mencari jalan keluar yang lebih baik.”

Tapi pria itu menggelengkan kepalanya, matanya menyala dengan amarah yang sulit dipadamkan. “Tidak ada jalan keluar lain, Arga. Ini adalah akhir dari permainan.”

Naya tidak bisa diam lagi. Dia tahu dia harus melakukan sesuatu, apapun itu. Dengan cepat, dia mencari-cari di sekelilingnya, berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu Arga.

Dan kemudian, dalam sekejap, semuanya terjadi begitu cepat. Pria itu bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan, menyerang Arga dengan senjata tajamnya. Arga berusaha menghindar, tetapi ruang yang sempit membuatnya sulit bergerak.

Naya tidak bisa berpikir jernih, dia hanya tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Arga. Dengan dorongan naluri, dia meraih buku catatan yang ada di meja dan melemparkannya ke arah pria itu.

Buku catatan itu mengenai kepala pria tersebut dengan keras, membuatnya tersentak dan kehilangan keseimbangan. Arga memanfaatkan momen itu untuk menyerang balik, tapi pria itu kembali bangkit dengan cepat, lebih marah dari sebelumnya.

Naya merasa putus asa. Apa yang bisa dia lakukan? Bagaimana dia bisa menyelamatkan Arga dari situasi ini?

Dan kemudian, seolah-olah takdir memberikan jawabannya, Naya melihat sesuatu di sudut ruangan. Sebuah benda kecil yang bisa menjadi penyelamat mereka. Dia tidak punya pilihan lain—dia harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat.

Naya berlari menuju sudut ruangan, sementara Arga dan pria itu terlibat dalam pertarungan sengit. Tangan Naya gemetar saat dia meraih benda itu, dan dengan semua keberanian yang bisa dia kumpulkan, dia berbalik dan…

—-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED