Bau. Selalu bau itu.
Bukan bau parfum mewah yang dulu akrab di hidungnya, bukan pula bau rumah sakit yang aseptik. Ini bau yang panas, menusuk, dan memuakkan: campuran besi yang meleleh, karet ban yang hangus, dan-yang paling buruk-asap tebal yang membawa aroma kematian.
Calista Anindya mendadak duduk tegak di kasurnya. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Napasnya terengah, dingin menempel di dahi dan punggungnya yang basah oleh keringat. Di luar jendela, malam di London Utara begitu sunyi, hanya ada suara rintik hujan lembut yang jatuh di atap rumah kontrakan mereka.
Tapi di telinganya? Telinganya penuh. Penuh dengan bunyi yang sudah enam tahun terakhir ini menjadi soundtrack hidupnya:
Bruuakkkkkkkkkk...!
Suara benturan logam raksasa yang merobek sunyi. Suara yang diikuti derit panjang rem yang gagal-Tinnnnnnnn....!-jeritan memilukan dari besi yang dipaksa berhenti tanpa ampun.
Calista meremas selimut tebalnya. Matanya terpejam erat, namun retina di baliknya tak bisa menolak pemandangan yang sama. Ia melihatnya lagi. Mobilnya, BMW seri-7 hitam mengilap yang dulu ia anggap simbol kebahagiaan dan kemewahan, kini terpelintir tak berbentuk di tengah jalan tol yang basah.
Kepalanya terasa sakit, seperti ada palu godam yang memukul dari dalam. "Akira Geralda, sang pemilik mobil..." bisikan samar dari berita koran tempo dulu mendengung. Ya, Calista Anindya adalah Akira Geralda. Dan dunia mengira Akira Geralda sudah jadi abu.
Ia harus meyakinkan diri. Ia harus kembali ke kenyataan.
"Bukan. Bukan di sini. Itu sudah berlalu," gumam Calista, suaranya serak. Ia membuka mata. Ruangan ini, kamar sederhana dengan dinding krem yang catnya mulai mengelupas, adalah realitasnya sekarang. Jauh dari penthouse Jakarta yang dulu dipenuhi marmer Italia.
Ia melihat jam digital di nakas. Pukul 03:15 dini hari. Sudah waktunya mimpi buruk itu datang berkunjung.
Calista menghela napas panjang, mencoba menenangkan sistem sarafnya. Yang ia butuhkan adalah melihat mereka.
Ia bangkit, berjalan tanpa suara di karpet usang menuju pintu kamar sebelah. Pintu itu terbuka sedikit. Calista mengintip.
Di kasur double kecil, dua malaikat kecilnya tidur pulas. Di sisi kiri, Alara, si gadis kecil yang kini berusia lima tahun, dengan rambut hitam lurusnya yang tergerai. Wajahnya polos, bibirnya sedikit terbuka. Calista tersenyum tipis. Alara adalah mini-me nya, keras kepala, tapi selalu ceria.
Di sisi kanan, Zion, si sulung, yang kini berusia enam tahun. Ia tidur miring, satu tangan memeluk erat bingkai kacamata hitam yang selalu ia kenakan. Ya, bahkan saat tidur. Calista tahu, kacamata itu bukan sekadar gaya; itu adalah perisai. Perisai untuk mata anak cerdas yang terlalu sering melihat ibunya menangis diam-diam.
Melihat mereka utuh, bernapas damai, adalah penawar terkuat bagi racun trauma yang menjalar di dada Calista. Untuk mereka, Calista rela jadi hantu.
"Hanya tinggal sebentar lagi, Sayang," bisik Calista pada angin malam. "Ibu janji, kita tidak akan terus jadi pelarian."
Calista kembali ke kamarnya, meraih ponsel yang sudah lama tidak ia ganti. Layar ponsel itu menampilkan satu foto: wajah tampan Pradipta Mahendra, suaminya, tersenyum lebar di hari pernikahan mereka.
Dulu, foto itu adalah sumber kebahagiaan. Sekarang? Sumber kebencian yang mendidih.
"Enam tahun," desis Calista, menekan foto itu hingga retak kecil muncul di pelindung layar. "Enam tahun aku mengurus sendiri dua anak kita, enam tahun aku hidup dalam ketakutan disergap, dan kau? Kau menikmati semua warisanku, kau menikmati kebebasanmu."
Ia ingat persis percakapan terakhir sebelum mobilnya 'meledak'. Pertengkaran hebat. Tentang pengkhianatan, tentang bisnis kotor yang ia temukan, dan tentang fakta bahwa calon anak mereka adalah aib baginya.
"Kau harus menghilang, Akira. Atau kau akan kubuat menghilang," suara Pradipta terngiang, dingin dan tanpa ampun, beberapa jam sebelum ia menerima panggilan untuk datang ke suatu tempat sendirian. Panggilan palsu yang berujung maut.
Saat api itu mulai membumbung, Calista masih di dalam. Untungnya-atau mungkin itu sudah takdir-ia masih sadar. Pintu mobil sempat sedikit terbuka karena benturan yang sangat keras. Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar, terbakar sebagian, tapi berhasil. Ia bersembunyi di balik semak-semak lebat, menonton dari kejauhan bagaimana mobilnya dilalap api, disaksikan oleh banyak orang yang hanya bisa mengasihani nasib "Akira Geralda".
Dia melihat ambulans datang. Dia melihat polisi mencatat. Dia bahkan mendengar Pradipta, suaminya, datang ke lokasi sambil pura-pura menangis histeris. Akting yang sempurna.
Saat itulah Calista tahu. Dendamnya tidak bisa ditunda. Tapi ia harus hidup. Ia harus menjaga nyawa ganda yang sedang ia kandung.
Pagi tiba, membawa sinar matahari musim dingin yang redup. Rumah kecil itu sekarang dipenuhi energi dua anak kecil.
"Zion, cepat habiskan serealmu! Kita mau pergi!" tegur Calista, sibuk memasukkan beberapa berkas penting ke dalam tas kulitnya yang sudah butut.
Zion, si kecil berkacamata hitam, hanya menatap mangkuknya. "Ibu, kenapa kita harus pindah lagi? Sekolah di sini bagus."
Calista berlutut di depannya, mengelus pipi anak lelakinya yang tirus. "Kita tidak pindah, Sayang. Kita... pulang. Pulang ke rumah kita yang asli."
"Rumah kita yang asli bukannya di sini?" tanya Alara polos, sambil mengunyah toastnya.
"Bukan, Sweetie. Rumah kita yang asli itu di tempat nenek dan kakek ibu tinggal. Tempat yang sangat indah, banyak laut. Kita akan memulai hidup baru di sana. Hidup yang lebih baik." Tentu saja, ia berbohong. Ia tidak akan tinggal di rumah orang tuanya. Ia punya misi.
Konflik muncul. Zion adalah anak yang sensitif. Ia tahu ada yang tidak beres.
"Kenapa Ibu terlihat tegang setiap kali ada telepon dari luar?" Zion menanyakan hal itu dengan suara datar, membuat Calista langsung terdiam. Tatapan mata Zion, meski terhalang lensa gelap, terasa menembus.
"Ibu tidak tegang, Sayang. Ibu hanya... sibuk," Calista mencoba tersenyum, tapi senyumnya terasa kaku.
"Ibu bilang kita harus selalu jujur. Tapi Ibu tidak pernah jujur soal kenapa kita harus pakai nama 'Calista' dan bukan 'Akira'," Zion mendesak, membuat Alara berhenti makan dan menoleh ke arah mereka berdua.
Duarr. Pertanyaan itu selalu menjadi bom waktu.
Calista menarik napas, tangannya gemetar. "Zion, dengarkan Ibu baik-baik. Nama Calista Anindya adalah nama yang Ibu pakai untuk melindungi kita. Itu saja. Kita sedang main mata-mata. Kita akan segera menyelesaikan permainan ini, dan nanti, nanti Ibu akan menceritakan semuanya, janji."
Ia tahu itu bukan jawaban yang memuaskan, tapi itu adalah batas kejujuran yang bisa ia berikan tanpa membahayakan mereka. Anak-anak harus percaya bahwa mereka sedang dalam 'misi', bukan dalam pelarian.
Zion diam sejenak, mengamati ekspresi ibunya. Akhirnya, ia mengangguk pasrah. "Baiklah. Tapi kita kembali, berarti... kita akan ketemu Ayah?"
Wajah Calista langsung mengeras, semua kehangatan di matanya hilang. "Tidak, Sayang. Ayah... Ayah ada urusan yang sangat penting, sangat jauh. Kita akan urus urusan kita sendiri." Ia tidak tega mengatakan bahwa ayah mereka adalah alasan mereka hidup bersembunyi. Belum.
Sore itu, di Bandara Heathrow.
Ketiganya berjalan di lorong check-in yang ramai. Calista, dengan setelan celana panjang dan blus hitam sederhana, terlihat tegar. Di sisi kirinya Alara, yang cerewet bertanya tentang pesawat. Di sisi kanannya, Zion, berjalan santai, tas ransel kecil berisi buku dan gadgetnya.
Saat mereka melewati kerumunan, Calista merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada tatapan yang terlalu lama menempel di punggungnya. Ia refleks menoleh cepat.
Di salah satu tiang, ada seorang pria berpakaian kasual, sibuk dengan ponselnya. Tapi saat Calista menoleh, pria itu langsung buru-buru memunggungi dan berjalan menjauh.
Jantung Calista mencelos. Paranoid? Atau benar-benar ada yang mengawasi?
Enam tahun mengajarkan Calista satu hal: instingnya jarang salah.
"Zion, Alara, pegang tangan Ibu kuat-kuat. Jangan bicara pada siapapun," bisik Calista tegang, menarik kedua anaknya lebih dekat.
Mereka bergegas menuju gerbang keberangkatan. Konflik kecil muncul lagi di situ. Tepat di antrean keamanan, Calista melihat ada poster berita lama di tempat sampah, hanya headlinenya yang terlihat: "Tragedi Tol Jagorawi: Pengusaha Muda Mahendra Kehilangan Istri Tercinta."
Hanya melihat nama itu saja sudah cukup membuat tangan Calista dingin. Ia harus cepat. Ia harus meninggalkan zona aman ini.
Saat tasnya melewati mesin scanner X-ray, petugas keamanan meminta Calista membuka ranselnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Calista sopan, tapi nada suaranya sedikit mendesak.
"Ada benda logam tajam, Bu. Mohon dikeluarkan."
Calista terkejut. Ia tidak ingat membawa benda tajam. Ia mengacak isi tasnya, dan menemukan sebuah gantungan kunci kuningan berbentuk pisau kecil lipat yang dulu diberikan Zion.
Saat ia mengeluarkan gantungan kunci itu, petugas keamanan itu menatapnya dengan tatapan aneh. "Dari mana Ibu mendapatkan ini?"
"Itu... gantungan kunci. Anak saya yang memberikan," jawab Calista, mencoba bersikap normal.
"Bukan. Maksud saya... bentuk ukiran naga di sini. Ini ukiran khas Indonesia Timur, langka. Apakah Ibu dari sana?"
Mampus. Pria ini bukan sekadar petugas keamanan. Pria itu menanyakan hal yang sangat spesifik, yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu di lingkaran bisnis lama Pradipta.
Calista harus berbohong dan harus meyakinkan. Ini adalah ujian pertamanya di pintu gerbang.
"Oh, ini? Saya mendapatkannya dari pasar loak di pinggir kota. Saya memang suka barang antik. Saya dari sini, Tuan. Warga negara Inggris. Bisakah kita cepat? Penerbangan saya sebentar lagi," Calista menjawab tegas, menatap balik mata petugas itu tanpa gentar. Ia bahkan sempat melontarkan beberapa patah kata dalam aksen Inggris yang kental dan sempurna.
Petugas itu tampak ragu, tapi akhirnya menyerah. "Baik, Nyonya. Silakan ambil."
Calista mengambil tasnya, menggenggam tangan anak-anaknya, dan hampir berlari menuju pintu gerbang. Ia tahu, ini bukan kebetulan. Seseorang mungkin sudah mulai memburu ghost yang mereka ciptakan sendiri.
Di dalam pesawat, duduk di kelas ekonomi yang sempit, Calista melihat ke luar jendela. Hujan di London sudah berhenti. Di sana, di luar sana, terhampar kehidupannya yang damai tapi penuh kebohongan.
Indonesia. Tanah airnya. Di sana, menunggunya tidak hanya kenangan indah, tapi juga seorang suami yang telah berubah menjadi monster, dan bara dendam yang sudah siap membakar semua rencananya.
Ia menoleh ke Zion dan Alara, yang sudah terlelap di sampingnya, lelah setelah perjalanan panjang.
"Jangan khawatir, anak-anakku," bisik Calista, matanya memancarkan tekad yang dingin dan keras, "Ibu kembali. Dan kali ini, Ibu tidak akan lari. Ibu akan memastikan bahwa setiap detik yang kuhabiskan di persembunyian, akan dibayar mahal olehnya."
Saat pesawat mulai bergerak, Calista melihat pantulan dirinya di jendela. Wanita yang dulu fragile sudah mati di balik puing-puing mobil itu. Yang tersisa adalah Calista Anindya, seorang ibu yang membawa dua anak, dua nama palsu, dan satu tujuan: pembalasan.
Apakah ia akan berhasil? Jawabannya ada di Jakarta. Terbalas atau tidak, ikuti cerita seterusnya.
Guncangan halus itu membangunkan Calista. Pelan, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa sebentar lagi, ia akan menginjakkan kaki di tanah yang dulu membuatnya nyaris mati. Ia membuka mata. Langit Jakarta dari jendela pesawat tampak keemasan, disinari matahari pagi yang sebentar lagi akan berubah menjadi panas menyengat.
Di sebelahnya, Zion dan Alara sudah bangun. Alara langsung menempel di jendela, matanya berbinar.
"Ibu! Lautnya! Bagus sekali!" seru Alara, menunjuk ke bawah.
"Iya, Sayang. Indah, kan?" Calista tersenyum, meski hatinya terasa seperti tercekik. Keindahan ini adalah jebakan. Di balik keindahan Jakarta, ada predator yang menunggunya.
Zion hanya diam, kembali memasang kacamata hitamnya, padahal cahaya di dalam pesawat tidak terlalu silau. Ia menyandarkan kepala di bahu Calista.
"Aku takut," bisik Zion pelan, suaranya nyaris hilang ditelan dengung mesin pesawat.
Tangan Calista langsung merangkul pundak Zion. "Takut apa, Nak?"
"Takut... kita ketahuan. Takut kalau Ayah tahu kita ada di sini."
Pengakuan itu menusuk Calista. Anaknya yang paling cerdas ini sudah menyerap semua ketakutannya. Calista mengeratkan pelukannya. "Dengar Ibu. Tidak ada yang akan tahu. Kita sudah jadi hantu yang sempurna. Kita akan tinggal di tempat yang sangat tersembunyi. Dan kita di sini hanya sementara, sampai Ibu selesai dengan misinya. Oke?"
Zion mendongak. "Misi Ibu itu apa? Menghukum orang jahat?"
Calista tersenyum getir. "Ya. Menghukum orang jahat yang sudah membuat kita jauh dari rumah kita yang sesungguhnya."
Tuk. Pesawat mendarat. Begitu pintu terbuka, Calista merasakan gelombang udara panas dan lembap menerpa wajahnya. Bau Indonesia. Bau yang dirindukan, sekaligus bau yang membuatnya mual karena kenangan buruk.
Bandara Soekarno-Hatta ramai sekali. Calista berjalan cepat, menggandeng kedua anaknya di antara lautan manusia yang seolah tak peduli satu sama lain. Ia harus ekstra hati-hati. Di sini, Pradipta Mahendra punya mata di mana-mana.
"Kita tidak pakai taksi, Bu? Aku capek," rengek Alara.
"Tidak, Sweetheart. Kita akan dijemput teman lama Ibu. Namanya... Om Satya," kata Calista, mempercepat langkahnya menuju salah satu pintu keluar domestik yang sepi.
Satya adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Calista masih hidup. Satya adalah pengacara ulung, sahabat karibnya dari masa kuliah, dan juga orang yang dulu menangani kasus perceraiannya - yang tidak pernah selesai karena 'kematiannya'.
"Ingat ya, Alara, Zion. Kalian harus memanggil Ibu dengan sebutan 'Tante' kalau ada orang asing," Calista mengingatkan, menatap tajam kedua anaknya. "Kita harus sangat, sangat berhati-hati."
Mereka sampai di area parkir yang sepi. Calista melihat sebuah mobil SUV hitam legam terparkir di ujung. Jendela mobil itu terbuka sedikit, dan Calista melihat wajah seorang pria yang sudah lama ia rindukan. Wajah lelah, tapi mata yang tajam dan penuh kehangatan.
Satya.
Calista langsung bergegas, tangannya menekan pundak anak-anaknya agar berjalan lebih cepat.
"Satya!" bisik Calista begitu sampai di samping mobil, langsung memeluk sahabatnya itu erat.
Satya membalas pelukan Calista, pelukan yang sarat kerinduan dan keprihatinan. "Calista... Astaga. Kau benar-benar kembali. Kau gila! Kenapa kau tidak memberitahu lebih awal?"
"Tidak ada waktu. Aku harus bergerak cepat," kata Calista, melepaskan pelukan dan menoleh ke anak-anaknya. "Ini Zion, dan ini Alara. Kalian panggil dia Om Satya."
Zion mengangguk sopan. Alara tersenyum malu-malu.
"Hai, jagoan! Kalian sudah besar sekali," sapa Satya, mengusap kepala Zion, lalu menatap Calista dengan tatapan serius. "Masuk sekarang. Tempat ini terlalu terbuka."
Begitu mereka semua masuk dan mobil melaju, Calista langsung menoleh ke Satya.
"Bagaimana? Apakah dia sudah mulai curiga?" tanya Calista, suaranya mendesak.
Satya menghela napas panjang sambil menyetir. "Pradipta? Dia sibuk hidup enak. Dia sekarang tunangan dengan Vania, model majalah yang usianya dua puluh tahun lebih muda. Dia menikmati semua yang kau tinggalkan."
Mendengar nama Vania membuat Calista merasa mual. Itu wanita yang ia lihat bersama Pradipta beberapa hari sebelum kecelakaan.
"Bisnisnya?"
"Jaya, Calista. Bahkan lebih jaya. Dia berhasil 'memutihkan' semua aset kotor yang kalian punya, dan sekarang dia dianggap pahlawan bisnis muda. Dia menginvestasikan uang yang seharusnya jadi milikmu dan anak-anak ke properti dan tambang. Dia sangat kuat."
"Dia kuat, tapi dia juga arogan," Calista menyeringai dingin. "Itu kelemahannya."
"Tapi dia tidak bodoh, Calista. Dia tahu kau membawa rahasia yang bisa menghancurkannya. Kalau dia tahu kau masih hidup, dia akan mencari dan... dia tidak akan membuat kesalahan kedua." Satya menoleh sekilas, matanya penuh peringatan. "Rencana kita harus sempurna."
Calista mengangguk. "Aku tahu. Aku tidak akan bergerak sebagai Akira Geralda. Aku akan bergerak sebagai kliennya."
Satya membelalak. "Klien? Maksudmu..."
"Ya. Aku ingin kau memasukkanku ke dalam kantor hukumnya, Satya. Aku ingin mendekati Pradipta, tapi bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai saingan yang sangat kaya dan berbahaya. Aku butuh data. Data yang hanya bisa kudapatkan dari dalam."
Satya menggeleng. "Itu gila! Kantornya seperti benteng. Kau akan mempertaruhkan nyawamu lagi!"
"Aku tidak minta izin, Satya. Aku minta bantuanmu," potong Calista tajam.
Satya terdiam. Ia tahu, ketika Calista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa menghentikannya. Apalagi setelah semua yang ia lalui.
Calista dan anak-anaknya tidak dibawa ke apartemen mewah. Satya membawa mereka ke sebuah rumah sewa tua, tersembunyi di gang sempit Jakarta Selatan. Rumah itu kecil, dengan pagar tinggi yang tertutup tanaman rambat. Aman, tapi jauh dari kata nyaman.
Begitu sampai, konflik kembali muncul dari sisi Zion.
"Rumah ini... gelap," kata Zion, melepas kacamata hitamnya dan melihat sekeliling. "Kenapa kita tidak tinggal di tempat yang bagus? Seperti di London."
Calista berjongkok, merapikan baju Zion yang lusuh. "Karena di tempat yang bagus, banyak mata jahat, Nak. Rumah ini... rumah ini tempat kita membangun benteng. Kita harus jadi pejuang, oke?"
"Tapi aku tidak mau jadi pejuang. Aku mau sekolah di sekolah yang bagus. Sekolah yang tidak membuat orang-orang curiga kenapa aku selalu pakai nama belakang 'Anindya'," keluh Zion.
"Kau akan sekolah di sekolah yang bagus, Sayang. Tapi nanti. Setelah Ibu selesai dengan urusan ini," janji Calista.
Tapi janji itu tidak cukup bagi Zion. Anak itu kini berdiri di sudut ruangan, wajahnya murung.
Alara justru beradaptasi lebih cepat. Gadis kecil itu sudah lari ke halaman belakang, mencoba menangkap kadal.
"Aku akan siapkan makan malam. Kau istirahat saja," kata Satya, menyadari ketegangan antara ibu dan anak itu.
Setelah Satya pergi ke dapur, Calista mendekati Zion. "Ibu tahu kau marah. Tapi tolong, Nak. Kita harus melakukan ini."
"Aku tidak mengerti," Zion akhirnya bicara, suaranya bergetar. "Kenapa kita tidak bisa hidup normal? Kenapa Ibu selalu bilang 'hanya sebentar lagi' tapi 'sebentar' itu sudah enam tahun?"
Itu adalah pukulan telak. Calista menunduk. Ia tidak bisa menjawab.
"Ibu tidak berbohong, Nak. Tapi... musuh kita ini besar sekali. Sangat besar. Kalau Ibu tidak hati-hati, mereka bisa mengambilmu dan Alara," ujar Calista, mencoba menakut-nakuti sedikit demi keselamatan mereka.
Zion menatapnya, matanya yang tajam dan polos terlihat jelas tanpa kacamata. "Kenapa Ayah berbuat jahat, Bu? Bukannya Ayah itu pahlawan di koran?"
"Pahlawan bisa jadi penjahat di balik layar, Sayang. Ibu akan membuktikannya. Itu janji Calista padamu. Beri Ibu waktu sebentar lagi," kata Calista, menarik Zion ke pelukannya. Ia menangis tanpa suara di rambut anaknya.
Malam harinya, Calista bertemu Satya lagi di ruang tamu yang remang-remang. Anak-anak sudah tidur.
Satya menyodorkan sebuah flash drive kecil. "Ini semua data yang bisa kudapatkan. Pradipta sekarang bekerja sama dengan Kelompok Sanjaya. Orang-orang ini jauh lebih berbahaya dari suamimu. Mereka tidak akan segan melenyapkanmu jika kau mengganggu investasi mereka."
"Kelompok Sanjaya," ulang Calista. Nama itu asing, tapi ia tahu pasti itu adalah dalang yang lebih besar yang ia cari.
"Aku sudah siapkan identitasmu. Kau bukan lagi Calista Anindya. Kau adalah Lana Videlia. Investor asing dari perusahaan minyak di Timur Tengah. Kau akan pura-pura tertarik menanamkan modal besar di properti Pradipta. Aku sudah atur pertemuanmu dengan Pradipta minggu depan."
Mendengar detail rencana itu, perut Calista terasa dingin. Pertemuan tatap muka pertama setelah enam tahun.
"Lana Videlia," Calista mencoba mengucapkan nama barunya. "Bagaimana dengan penampilanku?"
"Aku sudah siapkan. Rambutmu yang hitam lurus harus diubah. Potong pendek, dan cat jadi pirang. Kontak lensa berwarna. Tidak ada yang boleh mengenali mata Akira Geralda yang dulu," jelas Satya.
Konflik baru muncul. Calista harus membunuh sisa-sisa dirinya yang lama. Bahkan, wajah dan penampilannya harus dibunuh.
"Aku siap," kata Calista, tangannya meraih flash drive itu, menggenggamnya erat seperti nyawanya sendiri.
"Ada satu hal lagi, Lana. Pradipta punya anjing pelacak, namanya Yumna. Dia adalah sekretaris pribadi yang sangat loyal, dan dia punya insting kuat. Dia sangat protektif pada Pradipta. Jangan pernah meremehkan dia."
"Aku akan hadapi Yumna. Aku akan hadapi siapa pun," jawab Calista, matanya berkilat penuh tekad. Dendamnya kini berwujud. Ia sudah kembali.
Malam itu, Calista duduk sendirian di lantai, membuka isi flash drive di laptop bututnya. Foto-foto, dokumen, laporan keuangan. Semua bukti yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan Pradipta. Semuanya terasa nyata.
Ia menoleh ke arah kamar anak-anaknya. Malam ini, bau gosong dari mobil yang terbakar itu tidak terlalu kuat. Bau itu digantikan oleh aroma debu dan harapan. Harapan akan keadilan.
Calista Anindya, kini Lana Videlia, sang 'hantu', sudah siap berburu. Ia kembali ke neraka pribadinya, dan ia siap membakarnya hingga rata dengan tanah.
Pagi itu, di rumah sewa yang tersembunyi, Calista menghadap cermin. Di tangannya, sepasang gunting tajam yang ia beli di pasar terdekat. Ini bukan cuma potong rambut; ini ritual.
Rambut hitam lurus, yang dulu sering dibelai Pradipta dengan mesra, harus hilang. Rambut itu terlalu identik dengan Akira Geralda.
"Sudah siap, Tante Calista?" suara Satya terdengar dari belakang. Satya datang pagi-pagi membawa peralatan tempur lengkap: cat rambut pirang, kontak lensa abu-abu, dan perlengkapan make-up profesional.
"Siap. Tapi ini terasa aneh, Satya. Aku harus membunuh diriku sendiri," jawab Calista, menatap bayangan dirinya. Matanya masih mata yang sama, penuh dendam.
"Justru itu. Akira sudah mati enam tahun lalu. Lana Videlia yang akan mengubur Akira Geralda," ujar Satya, mengambil alih gunting. "Aku tidak bisa membuatmu nyaman, Calista. Tapi aku bisa membuatmu aman. Dan sekarang, kau harus berubah total."
Satya memotong rambut Calista dengan cepat dan tanpa ampun. Potongan bob pendek yang modern, tajam, dan sama sekali tidak seperti gaya Calista yang konservatif. Kemudian, proses pewarnaan yang memakan waktu lama.
Saat Calista mencuci rambut, ia melihat gumpalan air yang mengalir ke lantai. Itu bukan hanya air, tapi warna hitam dari masa lalunya.
Setelah rambutnya kering dan dicat pirang pucat-warna yang menarik perhatian-Calista memasukkan kontak lensa abu-abu yang membuat matanya terlihat dingin, hampir seperti mata asing.
Satya menyodorkan cermin.
Calista menatap pantulan itu. Ia melihat seorang wanita yang berbeda: kuat, fierce, dan asing. Wajahnya yang lembut kini terlihat tegas dan sedikit sombong-persis citra Lana Videlia, investor minyak Timur Tengah.
"Ini... bukan aku," bisik Calista.
"Bagus. Karena 'aku' yang lama itu lemah. Wanita ini, Lana Videlia, tidak punya trauma. Lana Videlia cuma punya tujuan: uang dan kekuasaan," Satya mengingatkan.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Zion berdiri di sana, mengucek matanya. Ia baru bangun.
"Ibu? Kenapa Ibu di kamar mandi? Kenapa Om Satya di sini?" tanya Zion. Lalu, matanya menatap tajam ke arah Calista. "Siapa... Tante ini?"
Calista sempat terdiam. Ini adalah tes pertama penyamarannya. Dan yang mengujinya adalah anaknya sendiri.
"Zion!" tegur Satya, mencoba menyelamatkan situasi. "Ini Tante Lana Videlia, teman Ibu. Dia... dia baru datang dari jauh."
Zion mengabaikan Satya. Matanya tetap terpaku pada Calista. Ia mendekat, matanya meneliti setiap detail: potongan rambut pendek, warna pirang, mata abu-abu. Ia memegang tangan Calista.
"Tapi bau Tante seperti bau Ibu," ujar Zion polos.
Napas Calista tercekat. Anak ini terlalu pintar.
Calista dengan cepat berjongkok, berbisik pelan, hanya agar Zion yang mendengar. "Ini Ibu, Sayang. Ibu harus seperti ini untuk misi kita. Ingat? Kita sedang main mata-mata. Kalau kamu sayang Ibu, jangan pernah panggil Ibu 'Ibu' di depan siapa pun. Panggil 'Tante Lana'. Oke?"
Zion mengerutkan dahi, tapi mengangguk pelan. Anak itu tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada janji ibunya. "Baiklah. Tante Lana."
Calista tersenyum lega. Konflik internalnya mereda sedikit. Setidaknya, anaknya akan jadi sekutunya.
Tiga hari kemudian.
Lana Videlia lahir dan Calista Anindya terkunci rapat di rumah kontrakan.
Setiap hari, Calista berlatih di depan cermin. Ia berlatih cara bicara Lana yang angkuh, cara berjalan Lana yang sombong, dan bagaimana Lana memandang rendah lawan bicaranya. Ia bahkan harus belajar beberapa frasa Arab untuk menguatkan penyamarannya.
Hari ini, adalah hari pengintaian pertamanya. Misi 'menjajaki medan perang'.
"Aku harus pergi. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Satya akan mengirim makanan lewat jendela belakang jam dua belas," Calista berpamitan pada kedua anaknya. Ia kini mengenakan blazer mahal palsu, celana kulit, dan high heels yang membuatnya lebih tinggi.
"Hati-hati, Tante Lana," kata Zion, duduk di meja dengan buku-bukunya. Ia sudah mulai terbiasa dengan sandiwara ini.
Calista mencium kening kedua anaknya. Perpisahan ini selalu terasa berat, seolah ia pergi untuk selamanya.
Ia menyewa taksi online dengan menggunakan akun palsu. Tujuannya: Gedung Mahendra Group, kantor pusat Pradipta Mahendra.
Saat taksi melaju di jalanan Jakarta yang macet, konflik kecemasan muncul. Calista berkeringat dingin. Setelah enam tahun hanya berinteraksi dengan orang asing yang tidak penting, ia akan kembali ke dunia lamanya.
Gedung Mahendra Group menjulang tinggi, penuh kaca yang memantulkan langit Jakarta. Lambang perusahaan itu, yang dulu ia ikut desain, kini terasa seperti lambang kekalahan pribadinya.
Calista meminta taksi berhenti dua blok dari gedung itu. Ia tidak mau ambil risiko terlihat terlalu dekat.
Ia turun, berdiri di seberang jalan. Ia menyalakan rokok (kebiasaan yang ia ambil demi mendalami karakter Lana) dan pura-pura menelepon, matanya memindai pintu masuk.
Di sana, ia melihatnya. Sosok Pradipta Mahendra.
Pradipta tampak lebih tua, tapi lebih karismatik. Setelan jas mahalnya terasa pas di tubuhnya. Ia sedang tertawa, dikelilingi beberapa eksekutif dan seorang wanita.
Wanita itu... Vania. Model yang dikabarkan akan dinikahinya. Vania tampak cantik, muda, dan memegang lengan Pradipta dengan mesra.
Dada Calista terasa sesak. Bukan karena cemburu-kebencian sudah membunuh semua rasa itu. Tapi karena marah. Marah melihat betapa santai dan bahagia Pradipta, sementara ia harus hidup seperti tikus di gang sempit.
Fokus, Calista. Bukan waktu untuk emosi. Ia mengingatkan dirinya.
Saat ia sedang mengamati, matanya menangkap sosok lain. Seorang wanita dengan tampilan profesional, rambut diikat rapi, berjalan sedikit di belakang Pradipta. Wanita itu memegang tablet dan terlihat sangat efisien.
Itu pasti Yumna, sekretaris setia yang diceritakan Satya. Anjing pelacak.
Yumna berhenti sebentar, matanya menyapu keramaian jalanan. Tatapannya sangat tajam dan profesional. Hampir saja pandangan mereka bertemu. Calista buru-buru membuang puntung rokoknya dan pura-pura mengikat tali sepatu.
Ketika ia mendongak lagi, Yumna sudah masuk ke dalam gedung, mengikuti Pradipta.
Calista menyadari betapa berbahayanya Pradipta sekarang. Ia tidak sendirian. Ia dikelilingi orang-orang yang loyal, atau setidaknya, orang-orang yang dibayar mahal untuk loyal. Yumna adalah dinding pertahanan pertama.
Ia menghabiskan waktu satu jam di sana, hanya mengamati pola keluar-masuk Pradipta. Setelah dirasa cukup, Calista kembali ke taksi yang sama.
Saat tiba di rumah sewa, Calista disambut oleh kekacauan kecil.
Alara menangis, Zion duduk di sudut, dan Satya sedang mencoba membersihkan noda tumpahan jus di karpet.
"Ada apa ini?" tanya Calista, buru-buru melepaskan blazernya, kembali ke mode ibu.
"Maaf, Lana," kata Satya, "Aku hanya sebentar di sini. Alara tidak sengaja menumpahkan jus, tapi Zion malah berteriak padanya."
"Zion! Kenapa kau berteriak pada adikmu?" Calista berlutut di depan Zion.
Zion menatapnya, matanya terlihat kesal. "Aku bilang jangan berisik! Aku dengar suara dari luar pagar. Seperti... ada yang memfoto kita. Aku takut kita ketahuan!"
Konflik baru. Ketegangan yang dialami Calista di luar kini menular pada anak-anaknya. Zion, karena rasa takutnya, menjadi agresif.
Calista langsung memeriksa jendela. Tidak ada siapa-siapa. Tapi pagar tinggi itu memang tidak bisa menjamin privasi total.
"Dengar, Sayang. Tidak ada yang memfoto kita. Om Satya akan pasang CCTV di sini besok. Kita akan aman," Calista mencoba menenangkan.
"Tidak! Aku benci ini! Aku benci sandiwara ini! Aku ingin Ibu kembali, bukan Tante Lana!" teriak Zion, akhirnya meledak. Ia berlari ke kamar dan membanting pintu.
Calista menoleh ke Satya, wajahnya terlihat putus asa. "Dia tidak tahan, Satya. Aku tidak bisa terus-terusan membohongi mereka."
"Kau harus kuat, Calista. Mereka satu-satunya alasanmu melakukan ini. Bukankah kau ingin mereka hidup tanpa dibayangi rasa takut lagi?" Satya mengingatkan, tangannya menepuk pundak Calista.
Calista mengangguk. Ia tahu ini adalah harga dari balas dendam. Kehilangan kepercayaan anaknya.
Ia masuk ke kamar Zion, yang kini gelap. Zion meringkuk di pojokan kasur.
Calista duduk di sebelahnya. "Ibu Lana minta maaf," bisiknya lembut.
"Aku merindukan Ayah," kata Zion, suaranya teredam.
"Ibu juga merindukan Ayahmu yang dulu, Sayang. Ayah yang baik, yang mencintai kita. Tapi Ayah yang sekarang, dia berbahaya. Dia yang membuat kita harus bersembunyi. Ibu berjanji, kalau misi ini berhasil, Ayah yang dulu akan kembali," Calista berbohong lagi. Ia tahu Ayah yang dulu sudah mati, tapi itu adalah satu-satunya harapan yang bisa ia berikan.
Akhirnya, Zion membalikkan badan dan memeluk Calista erat.
Setelah menenangkan Zion dan Alara, Calista kembali ke ruang tamu.
"Pertemuan sudah diatur, Lana," kata Satya, menyodorkan sebuah kartu nama mewah. "Lusa. Di restoran Italia yang baru buka. Pradipta menyambut baik minat investormu."
Calista mengambil kartu itu. Jantungnya berdebar. Lusa. Pertemuan yang akan menentukan segalanya.
"Satya, aku butuh sesuatu dari kantormu," kata Calista. "Aku butuh data-data properti yang sudah aku tangani enam tahun lalu. Aku harus memastikan bahwa Lana Videlia tidak membuat kesalahan data sekecil apa pun."
"Baik. Akan kusiapkan besok. Ingat, Calista. Mainkan peran Lana Videlia dengan sempurna. Dia tidak boleh melihat sekelebat pun Akira Geralda di matamu."
Calista menatap kartu nama Pradipta yang kini ada di tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam. Bau rokok, bau make-up mahal, bau dendam.
"Dia tidak akan melihat Akira. Dia hanya akan melihat Lana. Dan Lana Videlia akan menjadi mimpi buruk terburuknya," kata Calista, senyumnya kini benar-benar dingin dan tanpa emosi.
Malam itu, Calista tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan mempelajari laporan keuangan, menghafal nama-nama rekan bisnis Pradipta, dan berlatih menatap tajam di depan cermin. Ia harus memastikan, ketika bertemu Pradipta, yang muncul hanyalah Lana, dan bukan lagi Calista, ibu yang lemah dan ketakutan.