JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI.
Part: 1.
***
Sejauh mana aku berjalan, setiap detiknya tetap saja aku merasa kehampaan.
Dunia mencibirku dengan sebutan anak haram. Hingga di suatu senja Ibuku meregang nyawa setelah mendengar umpatan dari Kakak beradiknya.
"Sakitmu ini adalah azab," ujar Bibikku.
"Selama Anak haram ada di rumah ini, maka selama itu pula kehidupan kami akan sial," lanjut Pamanku pula.
Ibu semakin berat menarik napasnya. Wajah tua yang sudah tampak begitu lemah itu seketika menjadi tegang. Tubuhnya bergetar hebat dan kejang-kejang.
"Bu," lirihku mendekatkan diri memeluknya.
Tak berapa lama mata Ibu tertutup setelah napas terakhir yang ia hembuskan terlihat begitu sakit.
"Ibu!" teriakku histeris.
Paman dan Bibik tidak bersedih sama sekali. Keduanya sangat membenci Ibuku. Bukan tanpa alasan.
.
Waktu berjalan, pemakaman jasad Ibu sudah selesai.
Aku termenung di teras rumah milik Bibikku ini. Sedari kecil, aku memang sudah berada di sini.
Ibuku tak memiliki rumah sendiri. Semua keluarga tak ada yang mau menampungnya, kecuali Bik Ratna.
Walaupun setiap hari Bibik mencaci maki Ibu dengan perkataan kasar, tapi dia adalah satu-satunya yang sudi memberikan tumpangan tempat tinggal.
-
-
Sebulan setelah kepergian Ibu. Salah satu penyalur tenaga kerja masuk ke kampung kami.
Pak Handoko namanya. Ia menawarkan sebuah pekerjaan di kota pada Bik Ratna.
"Bagaimana? Saya akan memberikan uang muka sebanyak gajih 3 bulan bekerja. Apa anda setuju?" tanya Pak Handoko.
Aku yang duduk di dekat Bibik mendengar semua percakapannya.
Pak Handoko menghendaki agar aku ikut bekerja di cafe miliknya.
Mata Bik Ratna dan Paman Toni berbinar-bindar mendapat tawaran uang yang begitu besar.
"Saya setuju, Pak. Keponakkan saya ini pasti bisa bekerja dengan baik. Bawa saja dia ke kota!" ujar Bik Ratna antusias.
"Aku takut, Bik. Tolong izinkan aku tetap di sini. Aku akan mengambil upah di sawah lebih giat lagi, Bik. Aku tidak mau pergi ke kota," sahutku.
"Sayang, kau harus ke kota. Di sini tak ada masa depan untukmu, Nak." Bibik berkata dengan lembut, tapi dibalik itu sebelah tangannya mencubit punggungku.
Sakit.
Selembar kertas yang berisikan kontrak kerjasama sudah ditandatangani oleh Bibik dan Paman. Keduanya menyetujui tanpa mengetahui apa isi perjanjian dalam kertas tersebut. Bibik dan Paman tidak bisa membaca. Tandatangan pun hanya asal-asalan saja.
-
-
Aku sampai di kota dengan dibawa hari itu juga.
Dua tas kumuhku menemani langkahku yang gemetar karena takut.
Pak Handoko mengantarku ke sebuah tempat.
Tidak seperti cafe yang ia jelaskan pada Paman dan Bibik. Tempat ini begitu bising dan ramai.
Banyak botol minuman, dan lampu warna-warni. Aku pusing dengan cahaya yang mati hidup berulang-ulang itu.
"Mi, saya bawa satu gadis muda yang masih sangat polos," ujar Pak Handoko membawaku pada seorang wanita paruh baya yang menor dandanannya.
"Kucel sekali. Di mana kau menemukannya?" tanya wanita itu.
"Di kampung, Mi. Hanya perlu dipolesin make up, pasti dia akan bersinar."
"Kamu benar. Jika diperhatikan kecantikan gadis ini sungguh luar biasa. Saya jadi teringat seorang primadona di desa pada zaman dahulu."
Pak Handoko dan wanita itu tertawa. Setelah itu aku ditinggal berdua saja dengan wanita yang belum aku tahu siapa namanya itu.
"Panggil saja saya dengan sebutan Mami Mery! Ikutlah bersama saya! Dengan sekejap mata, saya akan menyulapmu menjadi cantik," ujarnya.
Aku mengikuti langkahnya dengan ragu-ragu.
Hingga sampai di sebuah kamar yang cukup besar dan mewah. Ada 5 wanita di dalamnya. Mereka semua berpakaian seksi dan berdandan sungguh cantik.
"Anak baru ya, Mi?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya. Cepat kamu rubah penampilannya secantik mungkin!" perintah Mami Mery, kemudian ia keluar.
Aku duduk di kursi empuk yang menghadap ke arah kaca.
"Maaf, sebenarnya tugas saya di sini sebagai apa? Mencuci piring, atau mengantarkan makanan dan minuman saja?" tanyaku menyelidik.
Semua yang berada di kamar ini tertawa mendengar pertanyaanku.
"Tugasmu di sini melayani sepenuh jiwa. Semua harus kau kerjakan," ujar wanita yang sedang merapikan rambutku.
Aku tidak mengerti, tapi aku mulai takut. Tempat ini sepertinya tidak aman.
.
Satu jam kemudian. Aku berputar-putar di hadapan cermin besar. Penampilanku sungguh berubah. Rambutku yang panjang sudah menjadi sebahu saja. Wajahku bersinar dengan sedikit polesan.
"Kau sempurna," puji Mami Mery.
"A-aku harus apa setelah ini?" tanyaku dengan takut-takut.
"Duduk manis saja, sayang. Kau spesial, dan akan menjadi harga tertinggi malam ini," ujar Mami Mery.
"Ma-maksud Mami? Aku tidak mengerti."
Sebenarnya aku sudah sangat risih dengan dres tanpa lengan yang aku pakai. Selama ini aku tak pernah menggunakan pakaian yang terlalu terbuka.
"Jadi Handoko tidak memberitahumu?" tanya Mami Mery menatapku tajam.
"Katanya, aku akan bekerja di cafe jadi pengantar makanan dan minuman para pelanggan," jawabku seadanya.
Mami Mery dan yang lain kembali tertawa.
"Dengar, Luka. Kau di sini bekerja sebagai wanita penghibur."
Detak jantungku seolah terhenti saat mendengar pengakuan Mami Mery.
Wanita penghibur ....
Sebutan itu sering aku dengar di kampung. Tetangga bahkan keluarga menyebut Ibuku sebagai mantan wanita penghibur. Hingga tidak ada satu pun yang tahu siapa Ayahku.
Hidupku bagai di neraka, semua mencerca aku karena dosa masa lalu Ibu itu.
.
Di kamar khusus, aku ditugaskan. Di dalamnya ada seorang lelaki yang menungguku.
Tenagaku telah habis untuk berontak. Sedari awal setelah tahu pekerjaan kotor ini, aku mencoba kabur dan menentang perintah Mami Mery. Namun, apa daya. Aku kalah tenaga, dan tak bisa berbuat apa-apa.
Anak buah Mami Mery sangat banyak. Dua tamparan pun sudah melayang ke pipi kanan dan pipi kiriku.
Aku pasrah dengan derai air mata yang kian basah.
"Siapa namamu?" tanya lelaki yang sudah membayarku pada Mami Mery dengan jumlah uang yang sangat besar.
"Namaku, Luka."
Lelaki itu mendekat ke arahku yang memang sedang membelakanginya.
"Nama yang langka," ujarnya.
Aku bergeming.
"Tunjukkan wajahmu! Kata wanita serakah itu kau sangat cantik."
Aku masih bergeming sembari mengusap air mata yang masih saja mengalir deras tanpa berani menimbulkan suara.
"Apa kau tuli?" bentaknya sembari membalikkan tubuhku agar menghadap ke arahnya.
Aku tersedu-sedu. Wajahku tentunya sudah berantakan.
Tidak sedikitpun aku berani mengangkat kepala. Tertunduk aku dalam penderitaan yang tiada akhir ini.
Perlahan satu telunjuk tangan lelaki itu mengangkat daguku. Matanya tajam berpadu dengan tatapan mataku yang sengaja menguatkan nyali untuk melihat.
Lelaki yang kutafsir usianya sekitar 30 tahunan. Lelaki yang sangat tampan. Aku sampai tak percaya jika yang berani membayarku mahal adalah seorang yang masih muda dan begitu rapi berwibawa.
Siapa sangka kalau ia adalah lelaki penikmat nafsu wanita tak berdaya.
"Kenapa kau menangis?" tanya-nya datar.
Aku mengalihkan kembali pandanganku ke bawah. "Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menangis?"
Dia tertawa.
"Apa saya membayarmu hanya untuk melihat tangisanmu ini saja?"
"Aku tak tahu."
Aku semakin tergugu di hadapannya.
"Sepertinya kau harus mengganti namamu!"
"Itu nama pemberian dari Ibuku."
"Ibumu pasti sakit jiwa," cibirnya.
Aku semakin menangis dengan tersedu-sedu.
"Saya akan meminta pada wanita tua bangka itu untuk segera merubah namamu. Jika terus dibiarkan menggunakan nama Luka, maka sepanjang hidupmu tentunya hanya bisa menangis saja," paparnya.
Aku mulai mengusap air mata. Sedari tadi lelaki ini hanya bicara tanpa melakukan apa-apa.
Padahal aku sudah ketakutan setengah mati.
"Aku rela menangis seumur hidup untuk bersyukur jika bisa terbebas dari tempat ini. Tolong aku, Tuan. Kau boleh memintaku bekerja di rumahmu selamanya tanpa gajih asal aku bisa keluar dari tempat ini. Aku takut berada di sini." Memohon aku dengan gerakan cepat meraih kakinya.
Lelaki itu bergeming beberapa detik.
"Tolong aku, Tuan."
Pundakku perlahan diangkatnya. "Saya sudah membayar sangat mahal untuk dirimu."
"Biarkan aku menggantinya dengan pengabdian seumur hidupku. Aku akan melakukan apa saja, kecuali tidak dengan pekerjaan kotor ini, Tuan."
Hening.
Lelaki itu terdiam di sudut ranjang. Wajahnya begitu datar. Aku semakin gemetar menahan rasa takut yang kian mendalam.
Bersambung.
Judul: JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI
Part: 2.
***
Suara rintikan hujan gerimis menemani heningnya suasana kamar ini.
Lelaki tampan dengan ekspresi datar itu cukup lama terdiam.
Hingga entah di menit keberapa ia kembali membuka suara.
"Saya sudah cukup sering ke tempat ini. Namun, sebelumnya saya hanya memesan minum saja. Wanita tua bangka itu selalu menawari saya dengan berbagai wanita cantik suruhannya. Saya tidak tertarik, bahkan dirimu pun sama. Sedari awal tadi saya tidak tertarik untuk mengeluarkan uang begitu banyak hanya demi seorang wanita rendahan," paparnya.
"Aku bukan wanita seperti itu, Tuan. Aku tidak tahu tentang tempat ini. Aku dari desa, sedikitpun aku tak pernah membayangkan untuk masuk di lembah yang hina seperti ini," ujarku kembali mengeluarkan air mata.
"Saya tidak percaya," sanggahnya.
"Terserah jika Tuan tidak percaya. Kalau memang Tuan tak tertarik denganku, maka tolong lepaskan aku!"
"Uang saya tidak akan kembali ketika sudah berada di tangan wanita serakah itu."
Aku terdiam lagi. Jumlah yang lelaki ini keluarkan memang sangat banyak.
500 juta, bagaimana bisa aku menggantinya agar lelaki ini mau melepaskan aku tanpa menyentuh sama sekali.
"Ikutlah dengan saya!"
Tanganku ditariknya kasar. Aku terseret mengimbangi langkahnya yang begitu cepat membuka pintu keluar.
Tanpa berani banyak bertanya, aku dan lelaki itu sampai ke hadapan Mami Mery.
"Tuan Abraham, apa ada masalah?" tanya Mami.
"Ya. Saya tidak suka dengan kamar yang tersedia di sini. Anda tahu sendiri siapa saya, bukan? Saya akan membawa Luka keluar mencari hotel mewah yang layak untuk saya tempati," ujarnya.
"Tidak bisa, Tuan Abraham. Luka baru di sini. Dia telah menjadi incaran tamu-tamu saya. Tuan Abraham cukup beruntung karena telah berhasil membooking pertama kali. Setelah Tuan selesai, yang lain sudah siap mengantri. Jadi saya tidak bisa memberikan izin Luka keluar dari area ini."
Aku menarik napas panjang. Sungguh sadis dan ngeri pernyataan dari Mami Mery.
"Saya akan membayar 500 juta lagi untuk menambah waktu kebersamaan saya bersama Luka. Tentunya harga Luka tidak akan setinggi itu lagi setelah lepas dari saya, bukan? Jika Anda tidak setuju, maka tidak masalah bagi saya. Kembalikan semua uang yang tadi sudah saya berikan. Saya serahkan Luka pada Anda. Silakan memberinya pada yang lain," papar lelaki yang ternyata bernama Abraham itu.
Dia juga kejam. Aku semakin ketakutan sekarang.
Bagaimana jika Mami benar-benar mengembalikan uangnya, dan menyerahkan aku pada lelaki lain?
Semua yang hadir tampak menyeramkan dengan perut yang buncit dan wajah sangar. Berbeda dengan Tuan Abraham yang tampan. Aku merasa sedikit lebih aman dengannya, karena dia masih bisa diajak bicara tanpa langsung menyentuhku.
"Tuan Abraham memang pemegang kendali jika membahas masalah uang. Silakan bawa Luka! Jangan lupa untuk dikembalikan. Waktunya hanya dua hari saja. Jika lebih, maka biayanya akan bertambah. Ingat, Tuan Abraham, mata-mata saya cukup banyak. Jangan berbuat curang!" ancam Mami.
"Baik."
Aku akhirnya menghirup udara bebas di luar.
.
Di dalam mobil.
"Kita mau ke mana, Tuan?" tanyaku.
"Ke Apartemen milik saya," jawabnya.
"Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu, Tuan. Biarkan aku selamanya ikut bersama, Tuan."
"Mana mungkin. Saya bisa bangkrut jika setiap harinya membayar tarif begitu besar pada wanita tua bangka itu."
"Tidak perlu membayar lagi, Tuan. Aku sudah bebas sekarang. Biarkan aku mengganti uang Tuan dengan bekerja selama hidupku untukmu, Tuan."
Tuan Abraham bergeming.
Hingga waktu terus berjalan. Tiga puluh menit sudah berlalu.
Mobil Tuan Abraham berhenti di sebuah bangunan mewah. Aku turun dengan kaki yang gemetar.
Apa iya lelaki ini bisa dipercaya?
Bagaimana jika dia melancarkan aksinya saat sudah berada di dalam sana?
Apa lagi dia sudah membayar dengan nilai yang seumur hidupku tak mungkin mencapai jumlah tersebut walau aku terus bekerja di sawah.
Ah, aku pasrahkan saja semuanya pada yang maha kuasa.
.
Namaku, Luka. Kata Ibu seharunya aku tidak akan pernah takut lagi dengan bagaimana rasanya sakit karena terluka. Sebab aku sendiri adalah Luka.
Dengan nyali yang sudah mengecil, aku melangkah masuk ke dalam kamar Apartemen mewah dengan fasilitas luar biasa yang membuat aku begitu takjub.
Brak!
Aku berlonjak kaget saat pintu ditutup dengan begitu kasar oleh Tuan Abraham.
Bibirku mengecap seiring menelan ludah yang terasa getir.
"Kau akan menjadi masalah baru dalam hidup saya," ucap Tuan Abraham datar.
Aku menatapnya cukup lama. Ia bahkan terlihat tak tertarik sama sekali dengan kecantikanku.
Syukurlah, setidaknya aku sedikit lebih lega.
"Maaf, Tuan. Aku berjanji tidak akan menyusahkan, Tuan."
"Hah! Kau bahkan sudah menyusahkan saya," cibirnya.
Aku berdehem pelan. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Pulang ke kampung bukanlah solusi yang baik. Pak Handoko terkutuk itu pastinya akan menemukan aku kembali di sana.
Satu-satunya tempat persembunyian yang aman hanyalah Tuan Abraham. Aku sungguh berharap kemurahan hatinya untuk bersedia menampungku walau menjadi budaknya.
Dering ponsel Tuan Abraham mengalihkan perhatian.
"Halo! Apa? Tidak pulang lagi? Keterlaluan!"
Entah lelaki itu bicara dengan siapa. Namun, ia tampak marah dan kesal.
Seketika ponsel di tangannya langsung ia lemparkan hingga pecah tak bersisa.
Mataku membulat melihat benda mahal itu rusak begitu saja.
Detik berikutnya Tuan Abraham meraih kedua pundakku dengan kasar. "Katakan apa yang kurang dari saya? Katakan!"
Mataku terpejam saat suara itu nyaring berteriak dengan jarak yang sangat dekat. Detak jantungku berdebar-debar kencang.
Mataku bertemu dengan mata tajam itu, tapi tergambar sebuah kesedihan yang mendalam di sana.
Apa sebenarnya yang tengah Tuan Abraham alami?
"Tuan kenapa?" tanyaku memberanikan diri.
Perlahan lelaki itu menjauh dariku dan mulai meremas rambut tebalnya sendiri.
"Saya sudah memiliki seorang istri," lirihnya sedih.
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Namanya, Jelita. Seorang wanita cantik yang dijodohkan oleh orang tua. Saya jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Begitupun dirinya. Namun, sampai hari ini Jelita masih tak bisa merubah kebiasaan buruknya. Setiap malam dia masih suka keluyuran dan berkumpul hingga larut. Tak jarang pula Jelita pulang dalam kondisi mabuk. Hal itulah yang menyebabkan saya mengunjungi tempat terkutuk itu untuk melupakan kekesalan, amarah, kesedihan, bahkan kekecewaan," papar Tuan Abraham.
Aku terdiam. Ternyata masalah hidupnya cukup rumit. Ditambah lagi bertemu denganku, pastinya akan semakin rumit.
"Apa Tuan sudah bicara baik-baik pada istri Tuan? Mungkin saja dia akan mau mendengarkan," ujarku.
"Percuma. Jelita bilang, ia tidak akan menghentikan apa saja yang ia suka. Saya terus mengalah, karena sampai hari ini perasaan saya masih terlalu dalam untuknya."
Ditengah pembahasan tentang istrinya, tiba-tiba bel berbunyi.
Tuan Abraham terlihat enggan membuka pintu. Hingga akhirnya aku yang berdiri untuk melihat siapa yang datang.
Aku terpana menatap sosok wanita dengan tinggi semampai berdiri melemparkan sorot mata siap menerkam.
Plak!
"Argh!" Aku menjerit saat tamparan mendarat ke pipiku.
"Jelita, hentikan!" hardik Tuan Abraham.
Ternyata wanita cantik yang menamparku adalah istri Tuan Abraham.
"Perempuan murahan! Dibayar berapa kau untuk memuaskan nafsu suami saya?" teriak istri Tuan Abraham.
Aku menangis memegangi sebelah pipiku yang terasa perih.
"Cukup, Jelita! Kau salah paham."
"Salah paham Mas bilang? Saya sadar selama ini saya memang jarang bisa melayanimu, Mas. Namun, bukan berarti Mas bebas berzinah di luar!"
"Kenapa? Bukankah kau juga tak suka dilarang, Jelita? Saya seorang lelaki normal, jadi wajar saja jika saya mencari hiburan lain ketika dirimu tak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri."
Nyonya Jelita bergeming. Terlihat bulir bening mengalir di wajah cantiknya.
"Pulanglah, Jelita! Saya akan menemuimu besok pagi. Biarkan malam ini saya bersama wanita lain," ujar Tuan Abraham.
Nyonya Jelita semakin tergugu menangis. Detik berikutnya ia memeluk Tuan Abraham erat.
"Tidak, Mas. Saya tidak akan pulang sendirian. Mas harus ikut bersama saya."
Aku terharu menyaksikan adegan itu di depan mata. Nyonya Jelita sepertinya sangat mencintai Tuan Abraham. Namun, kenapa ia masih betah berada di luar ketimbang menemani suami di rumah?
Ah, entahlah.
Bersambung.
Judul: JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI.
Part: 3.
***
"Saya akan pulang bersamamu, tapi mintalah maaf terlebih dahulu padanya!" perintah Tuan Abraham sembari menunjuk ke arahku.
"Apa, Mas? Saya harus minta maaf pada wanita murahan ini?"
"Luka bukan wanita seperti itu, Jelita. Keganasan hidup yang membawanya hingga sampai ke sini. Saya akan menceritakan semuanya di rumah nanti."
Nyonya Jelita kemudian mengamatiku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
"Maaf," lirihnya.
Aku tersenyum sembari mengangguk.
Setelah itu Tuan Abraham pergi bersamanya. Tinggalah aku sendiri di Apartemen yang besar ini.
Aku menghela napas lega. Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.
-
-
Adzan subuh berkumandang, aku tersadar dari tidurku. Lalu bangkit dan membersihkan diri. Setelah itu barulah aku menunaikan kewajiban rutin yang diajarkan oleh ibu sedari aku kecil.
"Ngapain repot-tepot tiap hari shalat! Gak akan masuk surga mantan wanita malam sepertimu!" ujar Bik Ratna lantang.
"Tidak masalah, Rat. Surga milik siapa saja yang memang tulus ingin menggapainya," sahut Ibuku lembut.
Bibir Bik Ratna tersungging mendengar jawaban Ibu. Sedangkan aku tersenyum kagum.
Walau kata orang-orang Ibu adalah wanita hina di masa lalu, tapi sikapnya yang di depan mataku sangatlah bijaksana.
Menetes air mata ini ketika mengingat kembali kenangan bersama Ibu.
.
Siang menjelang, suara bel berbunyi membuat aku segera berdiri untuk membukakan pintu.
"Luka," lirih Tuan Abraham.
Aku tersenyum. Di sebelah Tuan Abraham ada Nyonya Jelita yang sedang bergelayut manja di lengannya.
"Kamu jangan ke mana-mana! Hari ini saya dan Mas Abraham akan pergi ke luar kota. Semua persediaan untukmu ada di dalam koper ini," papar Nyonya Jelita lembut.
"Terima kasih, Nyonya. Aku berhutang budi besar pada kalian," sahutku.
Nyonya Jelita memelukku sebelum pergi berlalu bersama Tuan Abraham.
Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan pasangan suami istri ini. Aku juga berdoa, semoga hubungan keduanya membaik dan bahagia.
-
-
Waktu berjalan, hari berganti.
Bel Apartemen ini kembali berbunyi.
Aku bersemangat membukakan pintu. Pasti yang datang adalah Tuan Abraham dan Nyonya Jelita.
Namun, saat pintu kubuka ....
"Bawa dia!" perintah Mami Mery pada dua laki-laki berbadan kekar.
Aku berteriak meminta pertolongan. "Tolong!"
Akan tetapi, seketika Mami Mery mengancam dengan sebuah rekaman.
"Lihatlah, Luka! Paman dan Bibikmu sedang berada dalam tahanan saya. Jika, kau berani berontak, maka saya akan melenyapkan mereka berdua."
Aku bergeming. Di video tersebut tampak jelas wajah Bibik dan Paman sedang memelas meminta ampunan agar dilepaskan.
"Kenapa Mami menyandra mereka? Bukankah waktuku memang 2 hari di sini? Nanti sore aku akan kembali. Tunggulah sampai Tuan Abraham datang," ujarku bergetar.
"Omong kosong! Saya sudah tahu rencanamu bersama Tuan Abraham. Sekarang, cepat ikut saya!"
Aku terpaksa menurut demi Paman dan Bibikku.
Air mata kembali menetes ketika langkah kaki harus menuju ke tempat terkutuk itu lagi.
Setelah ini akankah ada yang menyelamatkanku lagi?
Aku, Luka. Harusnya aku tidak takut pada apa saja, bukan?
.
Aku sampai di sebuah gudang tua tempat penyekapan Bibik dan Paman.
"Akhirnya kau kembali juga, Luka. Patuhilah semua perintah Mami Mery! Terima saja garis takdirmu yang memang harus mewarisi nasib seperti Ibumu, Purnama." Bik Ratna bicara dengan santai.
Tidak ada ketakutan ataupun kesedihan di mata keduanya. Mereka bahkan tersenyum sumringah.
"Ambil ini! Kalian berdua boleh pergi! Terima kasih, atas kerjasama yang sungguh luar biasa kalian," ujar Mami Mery menyerahkan amplop cokelat pada Paman.
Mataku membesar mendengar pernyataan itu. Bisa-bisanya Bibik dan Paman rela menjualku hanya demi uang.
"Jangan tinggalkan aku, Bik ... Paman. Aku tidak mau menjadi wanita malam," ucapku dengan air mata yang berjatuhan.
Bibik dan Paman tidak mempedulikan ratapanku. Mereka pergi begitu saja setelah mendapatkan bayaran.
"Bawa gadis ini ke pondok hiburan kita yang ada di pusat kota! Pantau terus gerak-gerik serta siapa saja yang akan membayarnya! Jangan sampai Tuan Abraham menemukan Luka kembali!"
"Siap, Mami."
Aku diseret paksa masuk ke dalam mobil. Mami Mery sungguh licik dan kejam. Entah ke mana aku dibawa anak buahnya.
Tuan Abraham dan Nyonya Jelita pasti kebingungan mencariku.
Ya Allah, jangan biarkan aku terhina oleh tangan-tangan syaitan ini. Tolong aku. Selamatkan aku.
.
5 jam telah berlalu, aku sampai di sebuah tempat yang sama menakutkannya dengan tempat pertama kali aku diantarkan.
"Mami Asni, ini gadis yang bernama, Luka. Mami Mery sudah menyerahkan Luka sepenuhnya di sini. Dia masih perawan," ujar anak buah Mami Mery dengan begitu bangga.
"Sempurna. Luka, kau akan menjadi primadona kesayangan saya di sini."
Aku tak menjawab apa-apa. Tenagaku sudah habis, bahkan hanya untuk bicara saja aku sudah tak sanggup.
Aku pasrah sekarang.
Saat ini aku sedang ingin melihat peranMu ya Rabb. Jika Engkau tak menyelamatkan aku, maka semua umpatan orang-orang padaku dulu, aku anggap benar.
Bahwa aku anak haram, dan aku akan mengikuti jejak yang haram.
Aku benar-benar menunggu campur tanganMu kali ini.
"Antarkan Luka beristirahat di kamar yang sudah saya siapkan tadi! Untuk malam ini, biarkan dia sendiri dulu," ujar Mami Asni.
Aku melangkah pelan dibimbing dua wanita suruhannya. Usia mereka kutafsir lebih tua dariku.
"Namaku, Riana. Tidurlah, dan hapus air matamu! Di tempat ini tidak ada keadilan ataupun belas kasihan, Luka. Aku pun dulu pernah berada dalam posisimu. Aku berontak, aku ingin lari. Namun, akhirnya aku menyerah. Sekarang aku menikmati semua ini, Luka. Hidup memang kejam, maka dari itu kita tidak boleh lemah," papar Riana.
Aku tetap bergeming. Sekali lagi aku ulang, saat ini aku masih menunggu pertolongan dari-Nya. Jika, tidak ada. Maka aku akan menerima keadaan ini.
-
-
Malam berikutnya, aku sudah dirias dengan begitu sempurna. Tidak ada pemberontakan dariku, tak ada pula kata yang aku ucapkan.
Aku membisu di hadapan cermin yang memantulkan gambar diriku. Kecantikan ini sungguh membawa malapetaka.
Seandainya aku dilahirkan buruk rupa, pastinya tempat sampah ini tidak akan menerimaku dan menginginkan aku sedemikian antusiasnya.
"Luka, kau sudah siap? Di luar banyak tamu yang sudah menunggu kita. Mereka akan memilih sendiri. Dan aku yakin, kau pasti menjadi primadona malam ini," ujar Riana.
Aku tak merespon. Hanya langkah kaki yang berjalan mengiringinya.
.
Kini, aku sudah berada di antara yang lain. Duduk manis memasang senyum agar para lelaki hidung belang itu terpikat. Sungguh aku belum bisa melakukannya.
Jangankan tersenyum seperti wanita lain di sini, bersuara saja aku sudah tak berniat.
"Mami, saya menginginkan gadis ini." Salah satu lelaki berperut buncit itu menunjuk ke arahku.
"Saya juga memilih dia," ujar yang lain pula.
"Berikan pada saya saja! Saya siap membayar lebih besar dari mereka."
Seketika ruangan yang sudah bising ini menjadi tambah riuh dengan perdebatan dari lelaki buaya.
Mami Asni tersenyum penuh kebanggaan. Ia bersorak riang dengan tawaran demi tawaran yang jumlahnya begitu besar.
Sedangkan aku?
Aku masih menunggu pertolongan dari-Nya.
Aku percaya, Rabbku tidak mungkin membiarkan aku ternoda di tempat yang kotor ini.
"Harga tertinggi yang akan mendapatkan, Luka. Harus kalian tahu, Luka masih serba asli. Bayarannya tidak boleh disepelekan," ucap Mami Asni sambil melintir rambut keritingnya.
.
Tidak ada pertolongan untukku. Harapan kian pupus dimakan keadaan.
Aku telah berada di dalam kamar bersama seorang lelaki yang berhasil membayar mahal ketimbang yang lain.
Seorang laki-laki paruh baya yang memiliki kumis tebal, perut buncit, mata besar, serta gigi sedikit panjang.
Bisa dibayangkan betapa menyeramkannya bentuk fisik lelaki ini?
Namun, aku sudah tidak ketakutan. Permintaanku pada Tuhan tidak dikabulkan. Berarti aku memang harus pasrah pada keadaan.
Namaku, Luka. Kini, aku wanita yang telah putus asa dan harus rela menyerahkan mahkota demi keserakahan makhluk-Nya.
Bersambung.