Bab 1

Setelah meracuni anak dan suaminya, Sekar menelusuri jalanan sepi di komplek rumahnya. Tempat biasa tukang sayur mangkal, dan diriuhkan oleh ibu-ibu muda yang hobinya ghibah. Tapi jam segini, belum ada manusia yang melintas, mungkin masih asyik menyantap sahur.

Sesekali Sekar merapikan selendangnya yang hanya digunakan untuk menutupi bagian tubuh dari dinginnya waktu menjelang subuh, leher dan sebagian rambutnya masih terlihat terurai.

“Ibu sehat?”

Seorang polisi wanita cantik dengan kerudungnya itu masih syok mendengar pengakuan seorang wanita muda di hadapannya. Perawakannya tak mencurigakan. Bahkan pakaian yang dikenakannya sangat sopan. Kulitnya putih, dari kartu identitasnya terlihat jelas ia asri Indonesia, Sri Sekar Purnawangsih.

Polisi wanita itu mengerutkan dahi sambil sedikit memijatnya. Ia baru saja selesai sahur, makanan yang dilahapnya tadi belum selesai melaksanakan tugasnya. Namun kehadiran sekar meporak-porandakan kenyamanannya. Tapi tak mengapa, sebagai seorang abdi negara ia harus siap kapan pun masyarakat membutuhkannya.

“Ibu, coba ibu jelaskan secara rinci kronologisnya!” ucap seorang lelaki yang baru saja hadir, kelihatannya ia juga baru selesai makan, terlihat jelas dari bekas bibirnya yang sedikit berminyak.

“Saya kan sudah jelaskan tadi! Apa harus diulang?”

Jawaban Sekar membuat kedua petugas keamanan itu saling menatap.

Melihat ekspresi kedua polisi tersebut, Sekar menghela napas panjang.

“Ok Baik saya ulang. Saat sahur tadi saya menyiapkan makanan untuk kedua anak dan suami saya. Dengan sadar yang menambahkan racun tikus ke dalamnya. Dan endingnya seperti yang saya ceritakan tadi!” Sekar mengarahkan pandangannya pada polisi wanita di hadapannya, berharap ia melanjutkan penjelasannya tadi yang ia rasa tak perlu ia ulangi.

Lelaki bertubuh kekar tersebut langsung menghubungi teman-temannya, mereka bergerak ke TKP. Antara percaya atau tidak, tapi sebagai seorang petugas keamanan ia harus melaksanakan tanggung jawabnya.

Sekar terlihat tak ingin banyak berpikir, ia menyerahkan semua barang bukti yang dibutuhkan penyidik tanpa harus diidentifikasi terlebih dahulu. Polisi wanita yang sedari awal tadi mendampinginya mulai menyadari kejanggalan itu.

“Ini baby blues!” monolognya dalam hati.

****

“Bagaimana iblis itu tega membunuh suaminya sendiri!” teriak seorang ibu paruh baya, yang tak lain mertua Sekar.

Ia sedang menangisi jenazah yang kini berada di samping tubuh mungilnya. Tak hanya itu, pemandangan semakin menyayat lantaran di sebelah jasad sang anak juga terbujur kaku jenazah cucu kesayangannya. Kehilangan dua orang sekaligus membuatnya hampir saja pingsan, tubuhnya lemas tak berdaya, beberapa orang terlihat sedang menopangnya agar tetap kuat untuk duduk. Setidaknya, saat ini doa seorang ibu sangat berarti bagi putra dan cucunya.

“Perempuan gila itu harus dihukum seberat-beratnya, Bu!” cecar gadis yang sedang menggenggam tangan ibunya, adik ipar Sekar itu terlihat begitu marah, wajahnya merah padam, isak tangisnya pun penuh dendam.

Rintih hujan ikut mengisyaratkan duka yang mendalam di hati keluarga besar Sekar dan suaminya. Liang lahat yang sedang menganga menjadi bukti betapa kejamnya Sekar pada keluarganya. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi mereka, bahwa sedekat apapun itu, kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada manusia.

“Mungkin ini juga hukuman yang setimpal untuk putramu!” cetus Ratih, berbisik pada wanita paruh baya yang sedang terisak itu, masih menangisi kepergian putra semata wayangnya.

“Biadab!” balasnya.

Matanya memerah, masih tak percaya putranya menikahi keluarga pembunuh. Pernikahan yang awalnya tidak pernah mendapat persetujuan keluarga, akhirnya terbukti menjadi sesal yang tidak akan menemukan muaranya.

Satu persatu kerabat dan tetangga sudah meninggalkannya. Mereka akan menjalani kehidupannya masing-masing dan menjadikan musibah ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan, istri yang membunuh anak dan suaminya.

“Mas, bagaimana dengan nasib anak di dalam kandunganku?” rintih seorang wanita cantik.

Wanita yang sedari awal ikut menyaksikan proses pemakaman calon suaminya itu terlihat sangat pucat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tua tunggal, dengan ekonomi yang pas-pasan. Sesekali ia lirik calon mertuanya, berharap ada sebuah harapan yang barangkali mampu menangguh kegalauan hatinya. Namun bukannya ikut menenangkan, wanita paruh baya itu meninggalkannya tanpa berpamitan.

****

“Jadi ibu sempat berhubungan badan dengan suami?”

Sekar mengangguk.

“Setelah itu?” lanjutnya

“Setelah bangun dari tidur, saya menyiapkan makanan dan membubuhinya dengan racun tikus!” pungkasnya. Ia mengatupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Berharap sedikit menenangkan.

“Artinya ibu sudah merencanakan semua proses pembunuhan tersebut?” polisi kembali mengulik kebenarannya.

“Tidak, itu spontan saja terlintas di pikiran saya!” tegas Sekar.

“Motifnya?”

“Saya dipaksa untuk menerima selingkuhan suami yang saat ini sedang hamil, tapi saya menolak!” mata Sekar mulai berbinar.

Pertengkaran hebat memang sempat terjadi, lelaki yang sangat dicintainya meminta Sekar agar bersedia dimadu. Hingga akhirnya penolakan Sekar tak berbuah manis, ia dengan terpaksa harus menerima keinginan suaminya.

“Tapi saat sahur tiba, saya menyadari bahwa dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya belum bisa menerima kenyataan itu!” Sekar terisak. Ia kembali mengenang apa yang telah ia lakukan.

“Lantas, mengapa ibu juga tega meracuni anak?” polisi masih terus bertanya.

“Karena saya tidak ingin anak perempuan saya merasakan hal yang sama di masa depannya. Saya takut, Pak!” Sekar semakin menjadi-jadi, tangisnya sudah tak terkendali, ia juga berteriak dan meronta, menyebabkan pihak kepolisian harus mengamankannya.

Jelas dapat disimpulkan Sekar mengalami tekanan mental yang sangat besar, hingga ia dengan sadar ikut membunuh anak perempuannya. Gejolak batin yang ia pendam tentunya bukan sejak tadi malam, ia telah mengorbankan banyak hal sebelumnya. Berperang dengan perasaan sendiri tentu tidak mudah, kini ia harus menelan semua risiko atas apa yang telah dilakukannya. Suami adalah rumah baginya untuk pulang, namun saat rumah tak lagi menjadi tempat ternyaman, lantas pada siapa seorang istri harus berlabuh?

“Saya akan merawatnya, Mbak! Tapi dengan satu syarat, ia tidak perlu mengetahui siapa ibu kandungnya!”

Sekar yang tak bisa mengontrol perasaannya tak peduli dengan syarat yang ditawarkan sang adik, ia bahkan tak mengenal dirinya sendiri untuk saat ini.

Bab 2

Selain melarikan diri dari pernikahannya, Ningsih juga meninggalkan surat berisi rincian hutang yang harus dilunasi tantenya, Hanum. Angka yang tidak kecil bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Bukan hanya dikejutkan oleh hutangnya, Hanum juga sedang mondar-mandir memikirkan siapa yang akan menggantikan pengantin wanita?

“Ibu kira ini pertunjukan drama, yang setelah selesai akan kembali ke kehidupan nyatanya masing-masing?” Rey mulai emosi mendengar tawaran tidak masuk akal dari wanita yang mungkin akan menjadi ibu mertuanya.

“Bukan begitu maksud ibu, Nak!” Hanum menyentuh punggung tangan lelaki yang tepat berada di hadapannya. “kita tidak mungkin membatalkan acara yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bagaimana dengan semua tamu undangan? Teman-teman bisnis kamu?” Hanum melanjutkan argumennya.

Ya, benar saja, sebagai seorang pengusaha ternama, tentunya akan sangat memalukan jika pesta megah yang telah disusun seapik mungkin, dibatalkan. Belum lagi jika tragedi mengenaskan itu benar terjadi, maka ia akan menjadi tranding topik di koran lokal esok pagi.

Rey terlihat memijat kepalanya, sembari merebahkannya ke sandaran kursi, helaan napasnya terdengar jelas.

Ia masih belum percaya, bagaimana mungkin seorang Ningsih, wanita cerdas dan punya karakter yang baik bisa melakukan semua itu padanya. Rey merasa waktu sudah cukup meyakinkannya untuk percaya pada Ningsih. Bagaimana tidak, mereka sudah berpacaran sejak bangku SMA. Tentunya ia sudah sangat paham tentang watak Ningsih yang tidak mudah berubah pikiran dan teguh pada keputusannya.

“Ibu juga tidak menyangka Ningsih akan seperti ini, maafkan ibu ya!” Hanum kembali menyentuh pundak Rey. Namun lelaki itu tidak ingin menjawab apapun.

Rey masih belum menyerah, ia menghubungi pihak event organizer (EO) untuk membatalkan prosesi acara megah tersebut. Namun pihak EO tidak menyanggupinya, mereka menyarankan Rey mencari alternatif lain, mengingat ada banyak wartawan dan orang-orang penting yang hadir, tentunya ini akan berdampak buruk pula pada Rey nantinya.

“Sungguh tega kamu, Ning!” monolognya.

Rey mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menuju rambut ikalnya, hingga leher. Ia mencoba melenturkan otot-otot yang sedari tadi mengencang. Pikirannya tak karuan, berkali-kali ia mencoba menghubungi Ningsih, tapi tak ada jawaban. Jika memang hanya karena hutang 100 juta, Rey bisa menanganinya segera, dan ia yakin Ningsih juga tahu kemampuan Rey, tentunya uang sebanyak itu bukan sesuatu yang sulit baginya.

“Tunggu sebentar!” balasnya. Ia menanggapi salah satu EO yang berbisik mendekatinya. Rey masih meminta penghulu dan para tamu untuk bersabar. Sayup-sayup terlihat tamu mulai mendeskripsikan rasa penasarannya masing-masing. Ada yang berpikir Rey mulai mengurungkan niatnya menikahi gadis miskin yang kini menjadi mempelai wanita. Ada pula yang berpikir Rey sedang memikirkan cara membatalkan pernikahannya karena ia mulai sadar bahwa keputusan yang dibuatnya keliru.

Terlepas dari semua itu, di sudut ruang rias, ada Rey yang sedang kalut dan tak tahu harus berbuat apa.

“Tidak ada jalan lain, nikahi dia!” Retno, yang merupakan ibu kandung Rey tak bisa berbuat banyak. Ia juga tak ingin bisnis keluarganya hancur. “menikah dengan perjanjian kontrak!” lanjutnya.

Rey mengerutkan dahi, ia masih belum paham dengan apa yang dimaksud sang ibu.

“Ini hanya pernikahan untuk menyelamatkan keluarga kita!” sambungnya.

****

Mendadak Febi menjadi ratu dalam hitungan tidak sampai satu jam. Menatap wajahnya di cermin, ia masih belum yakin dengan apa yang sedang terjadi padanya. Baru saja ia bersiap dengan seragam khusus keluarga untuk tampil menjadi deretan keluarga pihak mempelai wanita. Namun seketika justru ia yang menjadi mempelai wanitanya. Benarkah takdir seperti membalikkan telapak tangan?

Matanya berbinar, bagaimana tidak, Rey adalah satu-satunya lelaki yang selama bertahun-tahun ia munajatkan dalam doa. Setiap detik, ia masih saja meminta Tuhan menyandingkannya dengan Rey, bahkan di hari akad ini. Dan Tuhan benar-benar menunjukkan kekuasaan-Nya.

“Apa ibu terlihat memaksamu, Nak?” tanya Hanum pada putri kesayangannya.

Febi menggeleng. Bibirnya tak mampu berkata apapun, ia begitu bahagia, namun tetap terbalut rapi dalam karakternya yang tak banyak bicara, ia tak ingin banyak orang yang tahu tentang perasaannya. Tertutup dan lembut, itulah sifat asri Febi.

“Tapi Bu, aku mengkhawatirkan Ningsih, kemana dia? Aku takut terjadi sesuatu dengannya!” Febi memang sangat menyayangi sepupunya itu, mereka bersama sejak kecil, sejak kedua orang tua Ningsih meninggal dunia.

“Ibu yakin Ningsih baik-baik saja, mungkin ada sesuatu yang mendesak dan membuatnya melakukan semua ini,” jelas Hanum.

Hanum mengantarkan putrinya menggapai tangan calon suaminya. Berbalut gaun putih dan dihiasi bunga yang menyelimuti sebagian rambutnya, membuatnya terlihat bak ratu Inggris. Tubuh idealnya dan hidung mancungnya ikut menjadi warna tersendiri bagi Febi. Wanita yang tak pernah suka berdandan itu, kini memperlihatkan pesonanya pada para tamu. Semua terpukau.

Febi pun seolah menyembunyikan senyumnya, ia tidak ingin Rey menyadari bahwa inilah yang diinginkan wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya yang sah, di mata hukum dan agama.

Sebaliknya, Rey sama sekali tak ingin menatap calon istrinya. Tetapi lelaki tampan itu juga pandai menyembunyikan kegalauan hati yang sebenarnya sangat mengganggu.

“Sah!”

Febi mencium punggung tangan suaminya. Kini ia resmi bergelar istri. Kenyataan yang dalam mimpi pun takut ia lakukan. Namun kini Tuhan mengabulkannya.

Rey sedikit canggung saat harus mencium kening istrinya, ia masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Pesta pernikahan megah, dengan makanan yang tak kalah mahal, membawa tamu merasakan kebahagian yang dirasakan kedua mempelai. Mereka tidak tahu, ada secercah luka yang disimpan Rey, berusaha ia sembunyikan sekuat tenaga.

“Mas, kok canggung begitu? Dipegang dong tangan istrinya, ini foto pernikahan, bukan foto KTP!” gurau sang potografer.

“Maklum masih baru!” sambung teman-teman Rey. Mereka tertawa, tapi Rey hanya diam dan tak berkomentar.

Rey sendiri bukan tipe lelaki yang suka bercanda dan tidak banyak bicara. Namun saat bersama Ningsih, ia seolah tak menjadi dirinya sendiri. Ningsih berhasil membawa Rey menuju dunia yang lebih nyaman dan bebas. Sifat Ningsih yang ceroboh dan tak bisa diam, membuat Rey ikut terikat. Mungkin itu pula yang membuatnya hanya jatuh cinta satu kali, karena Ningsih mengerti apa yang ia butuhkan.

****

“Kemana?” Febi menyelidiki

“Aku gak tahu, tapi dari keliatannya sangat buru-buru” jelas seorang kerabat.

Febi tak menyangka, suami yang baru saja menikahinya pergi tanpa berpamitan. Setidaknya Rey bisa mengabarinya terlebih dahulu, pikirnya. Ia tertegun di kamarnya yang tak seberapa luas. Matanya sedikit berkaca, ia menggenggam kuat kedua tangannya.

‘Apa langkah yang kuambil ini salah?’ monolognya.

Kini Febi mulai ragu dengan semua yang telah ia lakukan. Ia sadar mungkin apa yang ia inginkan adalah sebuah pemaksaan.

‘Tapi ini bukan salahku!’ ia kembali meyakinkan diri.

Berusaha membenarkan diri sendiri itu memang melelahkan. Namun terkadang kenyataan adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan dihindari.

Malam pertama yang biasanya lumrah dinantikan pasangan pengantin baru, kini Febi habiskan bersama ibunya. Mereka saling menguatkan, tanpa sedikit pun menyalahkan Ningsih.

Ini adalah takdir yang diinginkan Febi, namun tidak pernah dibayangkan Rey.

Bab 3

“Ibu ada di sini, Nak!” ia mengusap kaca yang ada di hadapannya. Helaan napasnya membuat kaca bening itu sedikit berkabut.

Semua peralatan medis yang melekat pada tubuh putrinya semakin membuatnya merasa bersalah. Selang yang menghubungkan sumber makanan dan lambung, tabung oksigen untuk mengatasi kesulitan bernapas, dan berbagai alat lainnya yang Sekar tak tahu kegunaan pastinya.

Sama seperti ibu lainnya, tentu Sekar ingin sekali mendekap putri kesayangannya. Namun apalah daya, akibat ulahnya, kini bayi yang usianya belum genap enam bulan itu harus menanggung akibatnya.

“Tapi mulai saat ini, dia bukan lagi putrimu, Mbak!” Ratih mengingatkannya.

Sekar tertegun. Perjanjian yang tak pernah disetujuinya, terpaksa ia terima. Mau tidak mau, ia harus merelakan putri kecilnya menjadi milik Ratih seutuhnya. Mungkin ini hukuman baginya, atas kesalahan besar yang telah dilakukannya.

Namun sebagai seorang adik, Ratih pun tahu bagaimana perasaan Sekar. Ia mengusap bahu sang kakak, menguatkannya.

“Jaga dia Tih! Jangan biarkan orang lain menyakitinya!” mohon Sekar.

“Itu pasti, Mbak!”

Di dalam sana, seorang bayi mungil sedang memperjuangkan hidupnya. Di mana biasanya seorang ibu akan sangat khawatir jika anaknya harus masuk ke ruang PICU, tapi justru Asih masuk ke ruang skral itu karena ulah ibunya sendiri.

Asih sendiri sudah merasakan hidup di ruang NICU saat ia lahir. Kelahiran prematur membuatnya harus berada di sana. Pemicunya tak lain adalah stres yang dialami ibunya karena mengetahui sang ayah selingkuh.

PICU dan NICU, dua ruangan yang berbeda namun memiliki peran yang sama. Berbeda dengan NICU, PICU dikhususkan bagi bayi di atas usia satu bulan dan anak-anak berusia 1-18 tahun dengan kondisi kritis.

Selain dilengkapi berbagai perlengkapan medis, sama seperti NICU, ruang PICU juga menyediakan obat-obatan emergensi, seperti dobutamin dan epinephrine. Tentunya berada di PICU akan lebih baik untuk Asih saat ini.

“Maaf Bu, bayi dalam kondisi kritis seperti ini tidak bisa kita pindahkan sembarangan!” jelas seorang perawat, badannya tinggi semampai, dengan cepat ia menyamai pergerakan seorang ibu paruh baya, Retno, yang merupakan mertua Sekar.

Perawat cantik itu tergopoh-gopoh mengikuti Retno ke ruang PICU.

“Kalau kamu gak bisa bantu saya, panggil Agung kemari!” perintah Retno.

Sombong sekali.

Memang, bisa dikatakan Retno pemegang 50 persen saham di rumah sakit tersebut, tapi tidak lantas ia bisa meminta apa pun di luar kendali tim medis. Lagi pula itu akan sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya.

“Wah, pembunuhnya ada di sini ya?” sindirnya. “Pak, kenapa diizinkan kemari si pembunuh ini?” Retno tak ingin melewatkan kesempatan meluapkan emosinya pada Sekar. Bahkan ia tak membiarkan petugas kepolisian yang sejak awal mendampingi Sekar, untuk menyela.

“Bu, jaga ya ucapannya!” balas Ratih.

Ucapan perempuan itu membuat Retno semakin meradang. Ia yang sejak awal memang ingin sekali membalas dendam, semakin tersulut. Sebuah tamparan pun melayang ke pipi Sekar, menandakan kesabarannya telah habis.

“Dan kamu!” ia menunjuk ke arah Ratih, “tak pantas kamu meminta saya menjaga ucapan. Kamu yang seharusnya menjaga kakakmu agar tidak membunuh orang lagi!” pungkasnya.

Terlihat Sekar menjatuhkan air matanya, “Maaf, Bu!” ucapnya menyesal.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Luka yang digoreskan Sekar begitu dalam di hati mertua dan keluarga besar suaminya. Rasanya sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan itu, dan tentunya Sekar sadar akan semuanya.

“Pak, tolong bawa perempuan gila ini, enyahkan dia dari hadapan saya sebelum saya yang akan membunuhnya!” pintanya pada salah seorang polisi.

Ratih terlihat merangkul bahu kakaknya, setidaknya bisa menguatkan. Sedangkan Sekar, ia masih memegang pipi yang tadi ditampar mertuanya. Bukan hanya tamparan, sepertinya bogem mentah pun masih pantas ia dapatkan, pikirnya.

Dari relung hatinya, Sekar benar-benar menyesali perbuatannya. Ia kehilangan akal sehat saat melakukan semua misi biadabnya. Ternyata benar kata Ustad Soleh yang sering mengisi pengajian di mesjid komplek tempatnya tinggal, pada akhirnya emosi yang tak terkendali akan berakibat fatal.

Setelah polisi kembali membawa Sekar ke tempat selayaknya ia berada, jeruji besi, Retno kembali memaksa perawat tersebut mengabulkan keinginannya. Memang, dengan uang seseorang dapat melakukan apa pun yang diinginkannya. Sifat sombong yang dibawanya sedari lama, terlihat semakin jelas.

“Bu, rumah sakit ini masih mampu menangani bayi ibu, jadi kita sebaiknya melanjutkan perawatan di sini, memindahkannya malah berisiko, Bu” jelas perawat tersebut.

“Ini cucu saya!” Retno menunjuk ke arah Asih dari balik kaca. “jadi terserah saya mau bawa dia kemana!” sambungnya.

“Iya saya tahu itu hak ibu, tapi ibu juga perlu pikirkan keadaan bayi Bu..” perawat mengingatkan Retno kembali.

“Dan mulai sekarang, Asih juga menjadi tanggung jawab saya!” Ratih menyela.

Wajah Retno memerah, ia yang sama sekali tidak ingin lagi melihat Sekar dan keluarganya, semakin meradang.

“Kamu!” Retno menunjuk ke arah Ratih, bahkan telunjuknya hampir mengenai hidung Ratih. “jangan ikut campur tentang urusan keluarga saya. Kamu pergi dari sini!” perintahnya.

“Saya tidak akan pergi, karena mulai sekarang Asih adalah putri saya!” pungkasnya.

“Apa? Sejak kapan?” Retno mengejek. “kamu lupa saya siapa?”

“Sejak Mbak Sekar menyerahkan segala sesuatu tentang Asih kepada Saya. Saya menjadi ibu sambungnya!” jelas Ratih.

“Gila ya kalian!” Retno terlihat sangat emosi, ia kembali ingin melayangkan tamparannya pada Ratih, namun perawat yang sedari tadi menyimak, mencoba meredakan emosinya.

“Bu, jangan buat keributan di sini, kasihan bayi-bayi, mereka butuh istirahat!” jelas perawat.

“Kalau kamu merasa punya hak atas cucuku, ayo kita selesaikan di pengadilan!” Retno mendekatkan wajahnya pada Ratih, matanya memerah, bibirnya tegas mengancam Ratih.

“Oke, saya siap!”

“Kamu dan kakakmu seharusnya lenyap dari bumi ini!” ucap Retno, lalu meninggalkannya.

Mungkin bagi Retno, tidak sulit menyelesaikan semuanya. Terlebih ia punya banyak uang. Dan seharusnya Ratih sadar, Retno adalah pihak wali dari Asih. Jelas Retno lebih berhak mengasuh cucunya dibandingkan Ratih.

Tapi Ratih juga merasa punya senjata, Kekayaan suaminya juga tak kalah dari Retno. Ia yakin dengan uang yang ia miliki, ia juga layak merawat dan menjaga Asih.

“Bu, biaya pengobatan bayi ibu sudah keluar tagihannya bu...” seorang perawat menghampirinya. Ratih yang sedang terhanyut dalam kesedihannya, segara mengusap air mata. Ia sangat mengkhawatirkan Asih.

“Baik, saya akan segera melunasinya!” jawabnya.

Baru saja Ratih ingin beranjak, sontak ia mendengar suara tangis. Terlihat seorang ibu yang meronta-ronta karena kehilangan bayinya, meninggal karena infeksi saluran kemih. Tulang-tulang Ratih ikut nyeri, ia menoleh ke arah Asih, menatapnya iba, ia takut kemalangan yang sama akan menimpanya.

Seperti patung, ia menyaksikan semuanya tanpa bergerak.

“Mungkin wanita tua itu tidak akan mengangguku dan Asih lagi jika ia tahu Asih meninggal!” monolognya.

Ratih terlihat memikirkan sesuatu, namun segera ia hentikan, dan melanjutkan tugasnya untuk membayar biaya pengobatan Asih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED