"S-saya hamil.." Ucap wanita itu tertunduk sembari memegang perutnya.
"Lantas apa hubungannya dengan saya?, saya bukan dokter kandungan" wajah Arga sangat bingung melihat wanita yang tiba tiba masuk keruangannya dan mengatakan dirinya hamil, sangat tidak bisa dicerna oleh fikiran Arga.
"Ini anak bapak!" wanita itu menekan kalimatnya membuat mata Arga hendak keluar dari tempatnya.
"M-maksud kamu?, kita tidak pernah punya hubungan apa apa!" Arga memijat mijat pelipisnya, perkataan wanita ini sungguh membuatnya sakit kepala.
Wanita itu menarik nafas panjang." jadi begini pak.."
... #flashback on
" Maaf Sena kamu terpaksa saya berhentikan, kinerja kamu bagus tetapi kamu kurang menjaga kedislipinan kerja" *Ucap Rendy sembari menyeruput kopinya.
"T-tapi pak, saya bisa berusaha untuk berubah pak, saya mohon saya butuh pekerjaan ini pak" Sena merengek mengharap rasa iba dari Rendy.
"Silahkan kamu kemasi barang kamu, dan temui divisi keuangan untuk mengambil hak mu ".
Sena lemas, berjalan menuju mejanya membereskan barang barangnya, tidak banyak hanya ada beberapa foto dan barang arang kecil lainnya. Setelah mengemasi barangnya Sena berjalan menuju divisi keuangan. Semua urusannya seledai hari itu adalah hari terakhirnya menginjakan kaki di perusahaan tersebut,nafasnya berat dia bingung bagaimana mengatakan ini kepada keluarganya, dia tidak sanggup, kepalanya terasa penuh,dengan uang yang baru saja diterimanya dia memutuskan untuk pergi menenangkan diri.
Sena sudah memesan penginapan di kota X, kota kecil lebih tepatnya pulau yang khusus untuk tempat wisata, Sena merasa tempat ini cocok karena cukup jauh dari jangkauan perkotaan srta hiruk pikuknya dunia luar, Sesampainya di kota X Sena langsung menuju penginapan.
"Baik bu, atas nama Sena untuk 2 malam ya bu, ini kuncinya mohon maaf sebelumnya sistem penginapan kami belum semaju seperti dikota" jelas resepsionist. Dan hanya dibalas anggukan oleh Sena.
Sena menaiki LIft karena kamar Sena berada dilantai 3. Bangunan penginapan ini memiliki 5 lantai. penginapan satu satunya yang terdapat dikota ini. pemandangan yang langsung menghadap laut memberikan kesan menenangkan dan cocok untuk Sena. Sesampainya dikamar, Sena mematikan ponselnya.dia tidak memberikan akses kepada siapapun untuk menghubunginya, dia benar benar ingin tenang.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 19.00, Sena berniat keluar untuk mencari makan, mata Sena tertuju kepada keramaian di sekitar pantai. Sena mendekati keramaian tersebut ternyata seseorang sudah memesan hampir semua tempat di cafe ini. cafe bertema outdoor dengan sentuhan clasicc diiringi music yang bisa di request serta tersedia beberapa minuman beralkohol pilihan. Sena tertarik mencoba beberapa makanan disini, untung sja masih ada tempat yang tersisa, Sena mendapat tempat yang jauh dri kerumununan pesta. Sena memesan beberapa Seafood dan beberapa minuman.
Sena menikmati makanan dengan sangat lahap setalah selesai makan, Sena lalu meminta kepada pelayan untuk mneyajikan minumannya. Tidak perlu waktu lama, satu botol red wine sudah tersedia di meja, Sena menikmati setiap teguknya sembari memikirkan apa yang terjadi padanya hari ini, dia berusaha melupakan dan menjadikan ini pengalamannya agar tidak melakukan kesalahan seperti ini dikemudian hari. Tidak terasa Sena sudah menghabikn 2 botol minuman, kepalanya terasa berat, dia melihat sekeliling pestanya sudah selesi hanya tersisa beberapa orang yang masih mabuk. Sena pun mencoba menjaga keseimbangannya dan menuju kasir untuk membayar. Untung saja jarak cafe dengan penginapan sangat dekat, jadi Sena hanya perlu berjalan sebentar. Sena mati-matian menjaga keseimbangannya agar bisa sampai dikamarnya, setelah keluar lift pandangan Sena mulai berbayang, dia memegang kepalanya dan sedikit menggoyangkannya agar tetap tersadar. Tetapi sia sia, pandangan Sena makin berbayang dan kepalanya terasa berat berjalanpun Sena bertumpu pada tembok,meraba raba setiap pintu, karena seingat Sena dia tidak mengunci pintunya.
"CKLEK" suara pintu terbuka. lega rasa nya Sena berhasil berjuang untuk masuk kekamarnya. tanpa basa basi Sena melepas pakaiannya dan naik keatas tempat tidur.
Betapa terkejutnya Sena melihat dirinya terbangun dipelukan seorang laki laki asing.Sena mendorong tubuh laki-laki itu. "Ahh!" Sena menutupi bagian atas tubuhnya yang sedang tidak memakai sehelai benangpun.
Laki laki itu terjatuh kelantai, dengan kepala yang berat laki laki tersebut mencoba bangun, dan memahami kondisinya pagi ini. dia menatap Sena denga tatapan tajam. Laki laki ini memiliki postur tubuh yang tinggi,bentuk wajah yang tegas, ditambah dengan mata yang indah, tatapan tajam itu membuat jantung Sena seperti ingin jatuh.
"Kamu?" Tanya laki laki itu. dengan tetap menjaga tatapannya agar terfokus di wajah Sena.
" jika tidak salah,dia adalah Pak Arga pemilik perusahaan Bhanu Group?" Batin Sena sedikit mengingat wajah Laki laki dihadapannya.
"Kenapa diam dan melihat saya seperti itu?" Tanya Arga ketus. Sungguh Arga sangat mabuk tadi malam, dia hanya mengingat keberadaan terakhirnya adalah di cafe,setelah itu dia benar benar hilang kontrol. tapi dia tidak ingin kehilangan wibawa didepan pegawainya.
Arga adalah anak pemilik dari Bhanu Group, perusahaan besar bergerak dibidang jasa dan property, sebagai pewaris tunggal, Arga harus menjaga wibawanya. dia tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya.
"S-say-
"Sebaiknya kenakan dulu pakaianmu baru menjawab, agar lebih nyaman" Ucap Arga memalingkan wajahnya, Sena pun sibuk mencari dimana pakaiannya.
Setelah mengenakan pakaiannya, Sena melanjutkan jawabannya. "Maaf, ini kamar saya" Ucap Sena penuh keyakinan.
"kamar kamu? jika benar ini kamar kamu coba saya lihat kuncinya!" Arga meminta Sena untuk memberikan kuncinya. Sena menurutinya.
"Kamar saya 202. kamar kamu 203. DAN DISINI, KAMAR INI, TEMPAT INI SEMUA YANG ADA DISINI ADALAH FASILITAS UNTUK KAMAR 202 BUKAN 203." Arga menjelaskan dengan penuh penekanan, membuat wajah Sena memerah, seperti tertimpa batu besar, rasanya dia ingin lari dari sini sekarang juga.
"M-maaf pak, saya semalam mabuk berat, jadi saya salah kamar" Sena menunduk menutupi wajahnya yang merah.
"Ck,Lantas? Apa kamu ingat? apa saja yang saya lakukan kepadamu? Tanya Arga. dengan degupan kencang didadanya. semoga saja dia tidak melakukan apa apa.
"Eumm anda melakukan "itu" saya tidak bisa menahan karena tenaga saya kalah dengan tenaga anda".
...#flashback off
"STOP STOP Saya ingat kamu tidak perlu menjelaskan sedetail itu" Arga masih memijat pelipisnya. Apa yang harus dia lakukan? kejadian ini sungguh tidak pernah dia inginkan?. "Apa yang kamu mau? uang? berapa? sebutkan saja!" lanjut Arga merasa frustasi.
"Saya ingin bapak menikahi saya!" Ucap Sena tegas. tidak ada keraguan disetiap ucapannya. Dia sangat lelah, dia selalu mengalah demi kebahagian orang lain, dia selalu rela menanggung beban yang bukan seharusnya dia tanggung, dia sudah lelah hidup dalam tekanan keluarga, ditambah dengan kehamilan yang tidak direncanakan membuatnya ingin menyerah.
"Menikah?" Arga mengulang kata kata tersebut.
Sena hanya menganggukan kepalanya.
"Gila kamu!, Saya memiliki kekasih yang akan saya nikahi! lagipula saya tidak mengenal kamu!" Arga menolak dengan tegas. Banyak jalan lain selain menikah, dia tidak mungkin menikahi wanita ini. bukan karena derajat, tetapi Arga sama sekali tidak memiliki perasaan apapun.
"Lantas? apa yang harus saya lakukan? menggugurkan anak yang tidak bersalah ini? atau saya ikut mati bersama anak ini?" Sena mulai meneteskan airmatanya. rasanya sudah sangat lelah. untuk sekedar berfikirpun Sena sudah tidak sanggup.
Arga hanya terdiam, dia sangat bingung dia tidak bisa memberikan solusi, dia juga tidak ingin Sena menggugurkan anak yang tidak bersalah itu.
"Tenanglah dahulu, kita fikirkan cara lain selain menikah" Arga mencoba menenangkan Sena yang terus menangis.
"Tidak ada cara lain, jika bapak tidak bersedia menikahi saya, saya akan teriak berkeliling kantor mengatakan bapak telah menghamili saya!" Sena kehilangan akal dia bukannya ingin mengambil kesempatan di nikahi lelaki kaya, tetapi dia memikirkan nasibnya kedepan, dia tidak bisa menanggung ini sendirian. ini terlalu berat. belum lagi jika anak ini lahir, Fikiran Sena sudah jauh membayangkan anak yang ada dikandungannya lahir tanpa seorang ayah. seperti dirinya. Sangat menyedihkan. dia tidak ingin anak ini bernasib sama dengan dirinya.
"Kamu jangan...! Ah sudahlah! saya akan menikahi kamu pertemukan saya dengan orang tuamu besok, dan malam ini kamu ikut saya bertemu orang tua saya!" Arga mengacak ngacak rambutnya. Sena pun hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan Arga.
Sepanjang jalan Sena meneteskan air mata, ini bukan pernikahan yang dia impikan, pernikahan yang didasari keterpaksaan, tidak didasari dengan perasaan, ini bukan pernikahan. ini hukuman. Hukuman atas kelalaiannya menyebabkan masalah baru muncul dihidupnya.
Pukul 18.00, Arga bertemu dengan Sena ditempat yang mereka sepakati sebelum Sena meninggalkan kantor Arga siang tadi. Sena mengenakan dress hitam elegant yang dia punya, karena malam ini adalah malam pertamanya menemui orang yang sangat penting.
Sepanjang perjalanan, Arga hanya diam , dia tidak membuka obrolan apapun, begitu juga Sena. sesampainya di rumah Arga, Sena turun dari mobil dan membulatkan matanya rumah ini lebih pantas disebut istana.
"Ini rumah anda?" Tanya Sena. Arga tidak menjawab, dia sangat bingung bagaimana menjelaskan masalah ini kepada orang tuanya. sedangkan Sena tampak biasa saja tidak terlihat merasa takut.
"Hey! apa kamu sudah menyiapkan kata kata untuk menjelaskan kepada kedua orang tua saya?" tanya Arga menghentikan langkahnya. Sena mengherdikan bahunya." Saya menyerahkan semua kepada anda" jawab Sena dengan tenang.
"Apa kamu tidak takut di usir? atau kemungkinan terburuknya kamu akan terkena masalah besar? orang tua saya terutama mama ayah terkenal cukup 'jahat'!" Jelas Arga. mencoba memberi bayangan kepada Sena.
"Anda tidak perlu menakut-nakuti saya seperti itu." Balas Sena.
"Ck, Keras kepala" Arga berjalan lebih dulu untuk masuk kedalam rumah.
"Aku pulang" Suara Arga menggema ketika memasuki dalam rumahnya. Arga di sambut oleh asisten rumah tangganya yang sudah bekerja bersama keluarga Arga selama 10 Tahun, bernama Bu Yati.
"Papa mama, dimana bu?" Tanya Arga sembari duduk di kursi tamu, diikuti oleh Sena.
"Di dalam tuan, mau saya panggilkan?" Tawar bu Yati. Arga hanya menganggukan kepalanya. Bu Yati pun pergi kedalam untuk memanggil orang tua Arga.
"Ada apa Arga?" suara laki laki paruh baya membuat jantung Sena ingin jatuh, dia melirik ke arah Arga , wajah Arga tampak pucat terlihat sekali ketakutan diwajahnya.
"Begini pa, Mama dimana?" Arga mencari keberadaan Mamanya sebelum membicarakan masalah ini.
"Mama disini sayang" Mama Arga turun dari tangga dan duduk tepat disamping suaminya.
"Jadi begini ma, pa, mungkin ini akan jadi kabar yang mengejutkan. Arga akan menikah dengan Sena" Ucap Arga menundukan wajahnya.
"Kenapa begitu terburu buru?" tanya Papa. Arga tetap menunduk." Dia hamil pa" Ucap Arga lirih.
"APA?!!" Mamanya kaget bukan main, mama Arga langsung mendekat kepada Sena.
"Ma, jangan ma ini semu-"
"Sudah berapa lama sayang? Sudah pergi kedokter kandungan?" Mama Arga mengusap lembut perut Sena. dengan wajah yang tersenyum. Arga heran melihat sikap mamanya. diluar dugaannya.
"8 minggu tante" jawab Sena lirih, dia sedikit melirik ke arah Arga, melihat raut wajah Arga yang bingung.
"Jangan panggil tante, panggil mama, Arga besok kamu cek kedokter kandungan pastikan cucu mama baik baik saja"Ucap mama sembari merangkul Sena. Arga hanya tersenyum tipis.
"Jadi kapan Arga kamu akan menikah?" Tanya papa. Arga sedikit berfikir untuk menentukan kapan dia akan melangsungkan pernikahan.
"Besok lusa pa, lebih cepat, aku akan menghubungi Nata untuk mengatur semuanya" Ucap Arga dengan pasti. Dibalas senyuman oleh sang ayah.
"Sena maafkan kelakuan anak mama ya, sudah membuat kamu begini" Mama Arga mengusap rambut Sena lembut."Kamu satu satunya perempuan yang dibawa Arga kerumah, mama senang sekali" sambung Mama.
"I-iya ma" Jawab Sena dengan senyum tipis.
"Arga kamu harus jadi suami yang baik, selalu ada untuk istrimu, jangan terlalu fokus bekerja,kamu sekarang memiliki tanggung jawab lain" Ucap mama menasihati Arga, Arga hanya diam dan menganggukan kepalanya. "Dan kamu sayang, jika Arga tidak memperlakukanmu dengan baik, kamu bisa datang kemari dan melaporkannya"Ucap mama kepada Sena.
"Maksutnya ma? datang kemari? kan kami akan tinggal disini" Arga bingung dengan ucapan mamanya, apa maksutnya , apa Arga akan diusir dari rumah?.
"Arga kamu ini bagaimana, kamu sudah berkeluarga, kamu akan mama beri rumah sebagai hadiah pernikahan, Sena sayang apa yang kamu inginkan? mobil? atau apa?" Tanya mama kepada Clara.
"T-tidak ma, Tidak perlu apa apa, terima kasih sebelumnya" Tolak Sena lembut, Mama Arga makin terpukau dengah kesederhanaan Sena serta kecantikannya.
"Sudah malam ma, aku akan mengantar Sena pulang" Arga menarik tangan Sena membuat Sena sedikit terkejut. tapi dia tetap mengikuti Arga.
"Hati hati Arga jangan ngebut" teriak sang mama. Mama menatap sendu kepada sang suami." Akhirnya ya pa, kita akan segera punya cucu, yah walaupun harus dengan kejadian seperti ini" Ucap mama Arga. dibalas senyuman oleh sang suami.
Keesokan harinya Arga menemui orang tua Sena, setibanya dirumah Sena Arga langsung memberi salam dan Ibu Sena mempersilahkan Arga untuk masuk.
Arga memulai pembicaraan."Sebelumnya saya mohon maaf karena telah melakukan perbuatan yang merugikan pihak Sena maupun saya, saya datang kemari ingin bertanggung jawab atas semua perbuatan saya. Saya akan menikahi anak ibu" Ucap Arga tegas tidak tampak keraguan diwajahnya, membuat ibu Sena hanya bisa meneteskan airmata,
"Ibu tidak meminta banyak, jika memang ini keputusan kalian ibu akan merestui, tolong bahagiakan Sena" Ibu Sena memegang tangan Arga dengan mata berkaca kaca penuh harap.
"Saya akan berusaha semampu saya" Arga mengelus punggung tangan ibu dan menciumnya. Ibu mengusap lembut rambut Arga. Sena yang melihat itu hanya bisa tersenyum, entah apa makna dibalik senyumnya.
"Maaf dan terima kasih" Ucap Sena lirih ketika mengantar Arga kedepan rumah.
"Maaf untuk apa" Tanya Arga heran.
"Maaf karena telah memaksamu, tapi jujur aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan" balas Sena lirih dan menundukan kepalanya.
"Lupakanlah, tugasku hanya menikahimu, ada beberapa hal yang perlu kamu ingat, aku memiliki kekasih dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. aku harap kamu mengerti maksudku" Jelas Arga.
Sena tersenyum."Aku mengerti".
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kantor, istirahatlah" Arga pun meninggalkan rumah Sena.
Setelah bertemu dengan orang tua masing masing, Arga segera bertemu dengan Sema untuk membahas hal hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka nanti .
Arga sudah tiba di cafe dimana mereka ingin bertemu, selang berapa lama Sena datang, dia hanya memakai pakaian biasa, Arga tidak masalah akan hal itu, karena itu bukanlah urusannya.
"Jadi ada beberapa hal yang harus kamu pahami, semua tertulis disini, jika setuju kamu bisa menandatangani surat ini diatas materai yang telah kusediakan"Arga menyodorkan sebuah map yang berisi surat perjanjian pernikahan. Arga membuat ini demi kenyamanannya dan Sena.
Surat tersebut berisikan beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak.
1. Tidak perlu terlalu ikut campur pada urusan masing masing .
2. Tidak melarang apapun hal yang ingin dilakukan.
3. Tidak menceritakan apapun kepada semua orang
4. Tidak memamerkan hubungan kepada siapapun,kecuali keluarga.
5. Setelah anak lahir, pihak manapun berhak membatalkan pernikahan.
6. Tidak mengganggu orang terdekat dari masing masing pihak.
7. Diharapkan untuk tidak jatuh cinta satu sama lain.
Sena membulatkan matanya , ketika membaca perjanjian yang dibuat oleh Arga, tapi tidak ada pilhan lain, Sena pun menandatangani surat tersebut. Setelah surat perjanjian selesai Arga segera memasukannya kembali di dalam tas.
"Silahkan pergi, aku akan bertemu temanku, kamu harus pergi sebelum dia tiba" Ucap Arga. Sena hanya diam dan beranjak pergi, entah saat ini dia harus berperasaan seperti apa? Senang?sedih? atau bahkan prihatin atas kesialan yang menimpa dirinya secara terus menerus. dia sedikit mengingat dosa apa yang dia perbuat sehingga dia harus merasakan pembalasan yang menyakitkan seperti ini.
Sena terus menyusuri jalan, andai saja waktu itu dia tidak memilih untuk pergi kekota tersebut pasti tidak akan terjadi hal seperti ini, tetapi waktu tidak bisa diputar, sekarang dia hanya perlu memikirkan bagaimana caranya hidup bersama satu atap dengan orang lain yang bahkan tidak mennyukainya, dibanding hari ini, pasti akan lebih banyak hari hari buruk yang terjadi di kemudian hari. Clara harus mempersipakan diri.
....
"APA?! ARGA, GILA GILA! " Nata terperanjat mendengar pengakuan Arga, Arga hanya akan bercerita kepada Nata karena Nata tidak akan menyebarkannya. Arga sangat percaya kepada Nata.
"Aku benar benar tidak tahu, hilang kendali, aku mengadakan pesta malam itu karena aku bertengkar dengan kekasihku, dan ya terjadilah, aku fikir aku sedang bermimpi bertemu kekasihku ternyata itu nyata dan lebih parahnya itu orang lain yang aku tidak kenal" Jelas Arga meremas remas jarinya. dia sangat tidak siap untuk menikah, apa yang harus dia katakan pada kekasihnya, semua tampak berantakan.
"Tenang bro, nanti akan aku bantu jelaskan kepada kekasihmu, aku acungi keberanianmu tanggung jawab" Puji Nata sekaligus kalimat untuk menenangkan Arga agar tidak terlalu terpuruk.
"Jika wanita itu mau diberi uang, aku tidak akan menikahinya Nata!" Tegas Arga.
"Iya aku tahu, tapi mungkin ini jalan terbaik, apa saja yang bisa kubantu untuk acaramu nanti?" Tawar Nata.
" Cukup carikan aku beberapa jas, dan gaun sederhana, aku sudah menentukan tempat yang jauh dari sini untuk melaksanakan pernikahan ini, tolong juga kabari Adnan tapi jangan katakan yang aku ceritakan padamu" Jelas Arga.
"Kapan pernikahanmu akan dilangsungkan?" Tanya Nata lagi.
"Lusa" .
Nata hanya mengangguk menandakan dia paham semua arahan yang diberika Arga, sementara Arga terlihat kosong menatap kearah cangkir kopi yang dia pesan. Arga sedang meikirkan bagaimana bisa dia mengakhiri masa lajangnya bukan dengan orang yang dicintainya, apakah ini jalan terbaik? apakah semua harus diselesaikan dengan pernikahan ini. Perasaaan Arga sangat kusut, dia memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya jika mengetahui dia akan menikah? sedangkan Arga sudah menjanjikan pernikahan impian kepada kekasihnya.
Hari pernikahan tiba, Arga hanya diam, melihat wanita mengenakan gaun pengantin disampingnya, harusnya dia melakukan ini dengan kekasihnya dan disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan orang. bukannya pernikahan seperti ini.
Sedangkan dari sisi Sena dia sangat sudah siap, dia memang ingin pernikahan yang sesuai impiannya tapi dia bisa menerima hari ini, bahwa mulai detik ini dia sudah memiliki suami, suami yang tidak menyukainya sama sekali.
"Apakah acaranya masih lama?" Tanya Arga kepada Sena.
"1 jam lagi, ada apa? apa kamu ada janji?" Sena melemparkan kembali pertanyaan kepada Arga.
"Tidak, aku bosan! "
Jawaban itu membuat perasaan Sena perih secuil rasa bersalah muncul, apa tidak seharusnya dia memaksa orang bertanggung jawab? tapi dia tidak sanggup jika menanggungnya sendirian.
"Dia datang, jangan bicara apapun padanya!" Arga memberi peringatan keras kepada Sena. Sena hanya mengangguk paham.
"Selamat Arga dan Maaf telah memukulimu waktu itu" Ucap Adnan salah satu teman Arga lebih tepatnya musuh Arga. Arga tidak ingin banyak basa basi dia hanya tersenyum untuk membalas uccpan dari temannya ini.
"Aku iri kamu mendahuluiku, Arga memang sangat pandai merahasiakan kisah asmaranya" Sambung Adnan lagi.
"Diamlah dan nikmati makananmu disana!" Arga menunjuk kearah dimana tersedia makannan, dia tidak sanggup mendengar ocehan ocehan dari Adnan, emosinya sangat gampang terpancing.
" Siapa dia?" Tanya Senaa penasaran
" Apa penting untukmu?" balas Arga ketus, dia sangat malas berada disini, demi melihat Adnan datang dengan pasangannya membuatnya sedikit iri, mengapa ini terjadi padanya, mengapa dia tidak pernah mendapat apapun yang dia mau? mengapa Adnan selalu diberi keberuntungan?.
memikirkan hal hal tersebut membuat Arga merasa frustasi. Kesalahannya menyebabkan dia harus menanggung beban seperti ini seumur hidup, iya seumur hidup.
Acarapun selesai Arga membawa Sena kerumah yang dihadiahkan oleh orang tua Arga. mereka tidur terpisah, Arga menyiapkan kamar khusus untuk Sena. Arga duduk di sofa sembaru memijit pelipisnya dia sungguh tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
" Apa aku boleh berbicara denganmu? " Sena duduk berhadapan dengan Arga.
Arga hanya diam, dia enggan terlalu basa basi.
"Kamu sudah memberikan beberapa syarat untukku,bolehkah aku meminta satu hal padamu?" Tanya Sena.
" Apa yang kamu inginkan?" Tanya Arga lagi.
" Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku atau untuk bersikap baik denganku, tapi aku minta bersikaplah selayaknya seorang ayah untuk anak ini nanti, dia tidak bersalah, aku mohon" Ucap Sena dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Akan aku usahakan" Arga meninggalkan Sena. Selepas kepergian Arga Sena meneteskan Air matanya, dia sangat berharap anak ini kelak akan mendapat sosok seorang ayah. ayah yang menyayangi anaknya. meskipun bukan dia yang disayangi asalkan anaknya kelak mendapatkan hal itu dia sudah sangat senang.
Hari pertama menyandang status sebagai istri Arga bukanlah hal yang menyenangkan, pagi ini Arga sarapan dengan sepotong roti di meja makan lengkap dengan susu digelas, setelah itu Arga langsung pergi. Sena yang melihat itu hanya bisa diam, dia membayangkan jika dia menikah nanti dia akan menyiapkan sarapan untuk suaminya, sarapan bersama dan Sena akan mengantarnya kedepan pintu, sebelum berangkat suaminya akan memberi kecupan hangat di keningnya. Sungguh indah impian Sena.
Kegiatan Sena hanya duduk mengelilingi rumah yang cukup besar milik Arga, Sesuai perjanjian tertulis dan perjanjian secara lisan Sena tidak perlu melakukan apa apa dirumah ini. Sekalipun menyiapkan pakaian untuk Arga.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 dan Arga baru saja tiba dirumah, Sena hanya bisa melihat Arga yang langsung masuk kekamarnya mengabaikan Sena. Pernikahan macam apa ini, sama sekali bukan pernikahan yang diinginkan.
Arga sedang berada dikamarnya beristirahat seperti biasa, semua sama hanya bedanya kini ada orang lain dalam rumahnya, Arga ingin membiasakan diri. Sedang Asyik bersantai tiba tiba ponsel Arga berdering kencang.
"Ya"
"....."
"Tunggu aku segera kesana"
Arga memutuskan sambungan panggilan dan bergegas keluar, Sena yang berada di ruang tamu terkejut melihat Arga sedang terburu buru.
" Mau pergi?" Tanya Sena mencoba lembut.
"Bukan urusanmu!" Jawab Arga ketus dan langsung meninggalkan Rumah. Sena hanya bisa diam, untuk apa dia mencoba bersikap baik.
"Apa kabar Arga? Maaf aku sempat marah denganmu waktu itu, aku hanya rindu oleh karena itu aku kembali ke indonesia" Ucap seorang wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Arga.
Gisca, Dia adalah kekasih Arga hubungan mereka memang tidak seperti hubungan pasangan lain. Pekerjaan Gisca yang mengharuskannya banyak mengahbiskan waktu di luar negeri membuat hubungan mereka rawan akan perkelahian dan salah paham. Tetapi dibalik itu mereka saling menyayangi satu sama lain. Keluarga Gisca merupakan keluarga yang berlatar belakang pengusaha. Ayah Gisca merupakan pengusaha dibidang property dan juga menjadi investor di beberapa bisnis menengah keatas. Ibu Gisca merupakan pemilik Butik ternama di pusat kota. Gisca sendiri pemegang salah satu butik di pusat kota paris. oleh karena itu dia harus lebih banyak menghabiskan waktunya diparis selain itu Gisca juga menjadi model dan Brand Ambassador di beberapa Brand ternama dunia. Karirnya yang sedag memuncak membuatnya terpaksa menunda ajakan menikah dari Arga, dan Arga pun memaklumi hal itu
" Gisca, I wanna tell u something..." Arga meremas remas jarinya dia sangat gugup,bagaimana cara menyampaikan hal menyakitkan ini pada kekasihnya, sepertinya apapun alasannya Gisca tidak akan bisa menerimanya.
"Hmm katakan saja" Gisca masih sangat santai menikmati minuman yang dia pesan. Citarasa manis dan segar yang menyatu membuat Gisca ingin terus meminumnya.
" Aku harap kamu dengarkan baik baik dan bisa kamu pahami" Lanjut Arga masih dengan meremas remas jarinya. Arga sengaja tidak memakai cincin pernikahannya. dia ingin memberi tahu semua kepada Gisca serta menjelaskan bahwa niatnya tidak ingin menyakitinya.
" Iya Arga" Gisca memberikan senyuman termanisnya kepada kekasihnya.
" A-aku s-sudah m-menikah" Arga menatap mata Gisca, dia melihat reaksi yang ditunjukan Gisca. Gisca membulatkan matanya dan meletakaan minumannya dimeja. Raut wajahnya berubah dengan cepat.
" Bercandamu kelewatan Arga, sejak kapan Arga yang selalu serius bisa mengeluarkan lelucon seperti ini?" Gisca tertawa kecil, dia tidak ingin langsung mempercayai Arga karena bisa Arga bermaksud menjahilinya.
"Aku tidak bercanda, kamu tahu aku selalu serius, ma- "
" Hahaha kenapa? buru buru menikah apa wanita yang kamu nikahi lebih daripada aku?" Gisca memotong ucapan Arga dengan tertawa yang di buat buat, Gisca berusaha menahan tangisnya.
" Bukan, bukan seperti itu, tolong beri aku waktu untuk menjelaskan" Arga meraih tangan Gisca.
Gisca hanya diam, dia tidak bisa berbicara karena jika dia mengeluarkan sepatah kata saja, air matanya juga akan turun disaat bersamaan.
" Malam itu, dimalam kita bertengkar hebat, kamu memblocked semua aksesku untuk menghubungimu, aku sangat frustasi, aku ingin menyusulmu tetapi tiket pesawat sudah full booking, Jadi aku mengajak beberapa temanku untuk mengadakan pesta kecil di kota X. Kami minum tetapi akulah yang paling banyak, sehingga aku hilang control aku dibantu oleh salah satu temanku untuk kembali kekamar, namun temanku tidak mengunci pintunya karena dia tidak menemukan kunci kamar. yang aku ingat aku berada didalam mimpi sedang bertemu denganmu, kamu berada disampingku jadi aku melakukan hal "itu". ternyata setelah aku terbangun di pagi hari, itu bukan kamu melainkan wanita lain yang ternyata mantan pegawaiku, aku benar benar tidak tahu, dia juga mabuk dan salah masuk kamar, kamar kami bersebalahan. kmu boleh menanyakan padanya langsung" Jelas Arga dengan menggenggam erat tangan Gisca.
"Terlalu berbelit belit, intinya kamu tidur dengan wanita itu!" Gisca melepaskan tangannya dengan paksa dari tangan Arga.
"Tapi aku tidak sengaja melakukan hal itu, dan wanita itu hamil aku terpaksa menikahinya. dia mengancam akan memberitahu semua orang, aku tidak ingin nama baik orang tuaku hancur karena kecerobohanku" Arga mengacak acak rambutnya dia sangat frustasi, dia tidak ingin Gisca meninggalkannya bagaimanapun Arga masih sangat menyayanginya.
"Terserahlah apa katamu, berbahagialah!" Gisca pergi meninggalkan Arga seorang diri, Arga tidak menahannya, dia sangat bingung dia merasa tidak pantas menahan Gisca. Dia merasa tidak bisa memberikan apa yang Gisca mau.
Gisca kembali kerumahnya, sepanjang jalan dia menangis, dia tidak menyangka kisah cintanya berakhir seperti ini, padahal kepulangannya kali ini dia ingin menerima ajakan Arga untuk menikah, dia sudah sangat siap membangun rumah tangga impiannya dengan Arga. Tapi apa, Kabar buruk lebih dulu menyambarnya. begitu kejam, dia mengusap airmata yang tidak berhenti mengalir dari matanya.
Arga masih ditempat itu, masih merenungi nasib yang menimpanya, separuh jiwanya pergi, bagaimana dia bisa menjalani hari hari, Orang lain yang melihat Arga pasti mengira Arga adalah manusia yang tidak berperasaan, yang tidak bisa merasakan kesedihan. Tapi nyatanya banyak kesedihan dan beban yang harus dia tanggung. dibalik wajah datarnya tersimpan banyak raut wajah sedih yang dia sembunyikan dengan baik. Arga memang ahli dalam menyembunyikan sesuatu, kisah asmaranya sama sekali tidak tersorot oleh siapapun, hanya Nata yang mengetahui persis kisahnya.
Arga melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 01.30 dini hari, dia pun bergegas pulang dan ingin tidur untuk menyiapkan diri menghadapi hari esok.
" Kamu dari mana saja?" Sena ternyata menunggu Arga pulang karena dia takut terjadi apa apa pada Arga.
" Berhenti ingin tahu, kamu cukup tinggal dengan baik disini jangan ikut campur urusanku!" Arga meninggikan suaranya , dia sudah muak dia sangat tidak ingin semua terjadi padanya.
"Aku tidak ingin memaksamu menganggapku sebagai istrimu, tapi bisakah kamu menganggapku sebagai temanmu? mungkin akan lebih baik" Sena masih sangat sabar menghadapi emosi Arga yang mulai memuncak.
"Tidak, lebih baik tidak!" Arga meninggalkan Sena kembali kekamarnya, Sena hanya bisa terdiam dia tidak ingin seperti dua orang asing dirumah ini, sekarang seperti seolah olah semua ini salahnya. dia yang membuat Arga tidak bahagia, membuat Arga menjadi menderita. Lelah berfikir, Sena kembali kekamar dan tertidur.
Pukul 08.00 Sena terbangun, dia keluar kamar dan nampaknya Arga belum bangun, bukankah harusnya Arga pergi berkerja , Sena langsung pergi kedapur dan menyiapkan sarapan untuk Arga. Setelah semua siap, Sena berniat untuk mandi, tetapi bel dirumahnya tiba tiba berbunyi. Clara membukakan pintu.
"Oh hey, silahkan masuk" Ucap Sena lembut.
Nata dan Adnan mengunjungi rumah Arga karena mereka sedang ada project tetapi Arga tidak kunjung datang di meeting kali ini.
" Arga masih tertidur dikamarnya" Ucap Sena tanpa sadar.
" Kamar kalian!" Ucap Nata mencoba meluruskan sebelum Adnan curiga.
Sena hanya tersenyum canggung, dia pun menyiapkan minum untuk Kedua teman Arga.
" Ada perlu apa kalian?" Suara Arga mengegelegar.
"Kamu melupakan meeting kita wahai pengantin baru" Ejek Adnan. dengan wajah yang sangat sangat menyebalkan, Nata melihat itu hanya bisa diam dia tidak bisa berbicara apa apa, jika kedua manusia ini sudah bersitegang Nata hanya membutuhkan tempat untuk menjauh
" Berisik " Arga membalas dengan ketus. "Tunggu saja aku dikantormu, aku akan tiba 30 menit lagi" Arga menunjuk ke arah Adnan.
Nata mengajak Adnan beranjak, wajah Adnan bingung, kenapa? bukankah disini juga bisa? Tetapi Nata tetap menarik Adnan." Ayolah Adnan berhenti mengacau" Nata sebisa mungkin menarik lengan Adnan. Nata sudah bisa membaca raut wajah Arga sudah seperti singa yang siap menerkam musuhnya.
"Loh, dimana kedua temanmu?" Tanya Sena membawa dua cangkir teh hangat.
"Bukan urusanmu!" Arga pergi meninggalkan Sen untuk mandi, dia akan bersiap menuju kantor Adnan.
Setelah siap, Arga langsung pergi dengan buru buru, dia tidak ingin masalah pribadinya mengganggu kinerjanya.
" Apa kamu tidak ingin sarapan dulu?" Sena berteriak karena Arga melewatkan meja makan begitu saja. Karena tidak ada jawaban, Sena mengejar Arga. Arga sudah berada dihalaman rumah ingin masuk kedalam mobil.
" Arga, apa kamu tidak ingin sarapan dulu?" Sena mencoba kembali bertanya pada Arga, sembari memegang perutnya, rasanya sedikit sakit, dia tidak tahu apa penyebabnya.
" Tidak, habiskan saja! aku akan makan diluar" Arga bersiap mengemudikan mobilnya.
" ARGA!! perutku sakit sekali" Sena bertumpu pada tembok disebelah kirinya.
Arga hanya melirik, dia bingung apa dia harus menolongnya sedangkan teman temannya sedang menunggunya. dia melihat ke arah Sena, Sena berangsur angsur jatuh kelantai. Arga pun keluar dari mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Begini pak, usia kandungan istri bapak ini ada di masa masa rawan, ditambah kondisi istri bapak yang mungkin terlalu kelelahan, saya akan meresepkan beberapa obat untuk menguatkan kandungannya, diharap bapak lebih memperatikan keadaan istri bapak ya" Jelas dokter, Arga tidak menjawab dia hanya diam.
...
"Menyusahkan!" Ucap Arga melirik ke arah Sena. "Karena tindakan cerobohmu aku harus terlambat lagi,berhenti mencoba bersikap baik kepadaku, itu akan menyusahkanmu dan aku nantinya!" tegas Arga.
"Maaf dan terima kasih mau membantuku" Ucap Sena lirih. dia tidak menyangka Arga bersedia membantunya dia pikir tadi dia akan meninggal karena sakit yang luar biasa.
"Bagaimanapun yang ada diperutmu itu adalah tanggungjawabku, terlebih lagi mamaku sangat sayang denganmu, oleh karena itu berhenti menganggapku baik kepadamu!" Balas Arga.