"Jihan, aku tak mau nikah dengan Jordan Wijaya. Dia seperti batang kayu saja, aku lepas baju berdiri di depannya, dia pun bisa minta aku pergi dengan tanpa ekspresi. dia impoten!"
"Aku juga tidak punya cara, sayang. Dia jelas katakan suka kamu, aku pun tidak bisa menang rebut dengannya. Jika bukan begini, dari awal aku sudah putus dengan Sanny. Adikmu bosan sekali, sudah hampir tiga tahun aku pacaran dengannya, bahkan tidak pernah naik ranjang! Cepat, biar aku cium kamu, mumpung mobil nikah belum datang, kita mesra-mesra sebentar."
Kemudian, tak hentinya terdengar suara napas pria yang berat dan desahan wanita.
Sanny Chandra yang berdiri di depan pintu pun kaku terbengong. Meski dia tidak memiliki pengalaman dalam aspek ini, tetapi dia bukannya tidak tahu apa-apa. Pria dan wanita di dalam kamar jelas sudah mulai melakukan olahraga tak senonoh.
Poin pentingnya adalah, pria di dalam sana adalah pacarnya, sedangkan wanita di dalam sana adalah pengantin dari Jordan Wijaya, juga adalah kakaknya...
Dengan hati-hati Sanny Chandra memutar kepala, mendongak melihat pria di samping. Pria ini setinggi 1,88 meter, 20 cm lebih tinggi darinya. Raut wajahnya yang sempurna tampak tiga dimensi seperti patung, bibir tipisnya yang seksi sedang tertutup rapat, tidak ada lengkungan ke atas sedikitpun.
Terhadap abang ipar ini, Sanny Chandra selalu merasa sangat tertekan ketika bertemu dengannya setiap hari. Tatapan pria ini membuat Sanny Chandra merasa bahwa pria ini dapat melihat menembus segalanya, semua orang pun tampak transparan di depan pria ini.
Sepertinya menyadari tatapan Sanny Chandra, pria ini menolehkan kepala ke samping dan menundukkan kepala, menatap Sanny Chandra dari atas.
Ketika tatapan mereka bertemu, betis Sanny Chandra gemetaran saking takutnya.
Tepat. tepat adalah tatapan ini!
Hal yang paling dia takutkan adalah abang ipar melihatnya dengan tatapan seperti ini! Rasanya seperti pakaiannya sama sekali tidak ada kemampuan menutupi di hadapan pria itu, bahkan dirinya memakai bra dan celana dalam model apa juga diketahui jelas oleh pria itu! Sama sekali tidak ada rahasia kecil..
Sanny Chandra menelan ludah, diam-diam dia melangkah mundur, dia memaksa dirinya bertatapan dengan mata pria itu yang gelap dalam, "Abang ipar, kamu jangan marah, Kakak hanya tidak berpikiran jernih untuk sesaat, dalam hatinya pasti masih cinta kamu!"
Jordan Wijaya membuka bibir tipisnya yang seksi, nadanya membawa sindiran yang jelas, "Kalimat ini, kamu sendiri percaya tidak?"
Pertama kalinya melihat Jordan Wijaya tersenyum, Sanny Chandra hendak menangis karena sedih. Abang ipar tersenyum memang sangat tampan, tetapi. kenapa rasanya diria sendiri akan mampus? Jelas-jelas yang selingkuhi dia adalah kakak, bukan dia!
"Aku. aku percaya!" Sanny Chandra berbohong, "Asal setelah nikah, kamu banyak luangkan waktu untuk temani Kakak, dia pasti tidak akan. sama seperti hari ini lagi."
"Kamu kira, aku masih akan nikahi dia?" Jordan Wijaya menyipitkan mata, tatapannya pada Sanny Chandra seperti melihat orang tolol.
Tepat ketika Sanny Chandra sedang bersedih, Jordan Wijaya sudah membuka pintu ruang tata rias..
Kedua orang di dalam ruang tata rias sama sekali tidak menyadari bahwa mereka lupa mengunci pintu untuk melakukan hal itu. Tiba-tiba mendengar pintu dibuka, mereka berdua terkejut.
Liviani Chandra berseru kaget, "Ah! Siapa yang tak tahu sopan santun, langsung masuk tanpa ketuk pintu!"
Sanny Chandra merasa keluarga mereka akan tamat. Begitu membuat Jordan Wijaya marah, seluruh keluarga mereka pun akan terlantar di jalanan.
Ketika dua orang yang merapikan pakaian dengan ceroboh melihat Jordan Wijaya melangkah masuk, mereka merasa gawat.
"Jordan, kamu dengarkan aku, semua ini salah paham!" Liviani Chandra berwajah pucat, dia bergegas menghampiri Jordan Wijaya, "Aku hanya bodoh sesaat, orang yang aku cintai adalah kamu, kamu jangan tak mau aku.."
"Acara pernikahan masih lanjut."
Liviani Chandra menghela napas lega mendengarnya. Namun tepat ketika itu, Jordan Wijaya berkata dengan nada suara dingin, "Pengantinnya ganti, biar Sanny Chandra yang nikah."
Sanny Chandra, ".?"
Mendengar perkataan Jordan Wijaya, seluruh orang di dalam ruangan terbengong.
Kemudian, Jordan Wijaya mengernyit, "Sekarang juga, ganti gaun pengantin!"
Setelah memastikan abang ipar melihat ke arah dia, Sanny Chandra dilema, "Abang ipar, aku.." Aku tidak ingin nikah denganmu!
"Kamu yang nikah, atau Keluarga Chandra bangkrut. Pilih sendiri." Setelah meninggalkan kalimat mengancam, Jordan Wijaya berbalik badan berjalan pergi dengan langkah besar.
Di saat bayangan punggung Jordan Wijaya menghilang, kedua kaki Liviani Chandra melemas, lalu dia jatuh lunglai di lantai.
Mampuslah dia. Begitu kabar selingkuh sebelum nikah tersebar keluar, sudah cukup membuatnya dicaci maki oleh ribuan fans. Lalu bagaimana dia berkecimpung di dunia hiburan?
"Kakak.." Sanny Chandra memanggilnya.
"Jangan panggil aku kakak!" Liviani Chandra berseru keras, dia menolehkan kepala menatap Sanny Chandra, tatapannya membawa amarah yang jelas, "Dia sama sekali tidak tahu aku ada di kamar ini, kamu yang bawa dia datang kan? Merusak pernikahan aku, apa kamu sangat puas?"
Sanny Chandra mengernyit, "Pasangan selingkuh kamu adalah pacarku. Sebenarnya ini salah siapa? Aku pun belum perhitungkan dengan kalian!"
Wajah Liviani Chandra menjadi merah karena canggung, "Memangnya kenapa? Kuberitahu, orang yang Jordan Wijaya suka adalah aku, orang yang ingin dia nikahi juga adalah aku. Dia hanya karena marah denganku saja baru ganti pengantinnya jadi kamu, kamu sekedar penggantiku saja! Jangan kira kamu hebat bisa nikah ke dalam Keluarga Wijaya, dia tidak akan sentuh kamu!"
Jelas-jelas pria itu sendiri mengaku menyukai dia, tetapi hampir tiga tahun berpacaran juga tidak pernah menyentuh dia sedikitpun, apalagi Sanny Chandra? Hanya menikah ke sana dan menjadi janda hidup saja!
Sanny Chandra tidak ingin membicarakan ini dengan Liviani Chandra, "Di mana gaun pengantinnya?"
Pria yang dari tadi diam di samping akhirnya berbicara, "Sanny, kamu adalah pacarku, bagaimana bisa nikah dengan dia?"
Sanny Chandra menoleh pada Jihan Halim, tiba-tiba dia merasa pria ini sedikit asing, "Kamu pun bisa bersetubuh dengan kakakku, kenapa aku tidak bisa nikah dengan orang lain?"
Jihan Halim kehabisan kata-kata.
Sanny Chandra melihat ke sekeliling, melihat gaun pengantin yang tergantung di gantungan baju di depan sana, dia berjalan ke sana dan mengambilnya, lalu bergegas kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
Awalnya Sanny Chandra tidak berencana nikah begitu muda, terlebih tidak menyangka dia akan nikah dengan abang iparnya sendiri. Tetapi Jordan Wijaya sudah mengatakan pilih salah satu antara Keluarga Chandra bangkrut atau dia yang menikah, maka dia juga hanya bisa menikah.
Keluarga Chandra pasti tidak boleh bangkrut! Karena itu adalah peninggalan ibunya!
Setelah mengenakan gaun pengantin, desainer langsung datang membuatkan model rambut dan memakaikan penutup kepala untuk Sanny Chandra. Lalu desainer mengantar Sanny Chandra turun ke bawah.
Di aula lantai satu, sangat hening sekali.
Awalnya alur acara pernikahan sudah disederhanakan, Sanny Chandra juga sudah punya persiapan bahwa hari ini di dalam rumah pasti tidak akan ramai. Tetapi pengantin wanita diganti tiba-tiba pada hari pernikahan, ini bukan lagi tidak ramai, tetapi suasananya aneh.
Liviani Chandra menangis tersedu di samping, sedih namun cantik. Sanny Chandra menyadari, tatapan Liviani Chandra padanya membawa kekesalan yang jelas.
Ini jelas-jelas bukan salahnya, untuk apa kesal padanya?
Ayahnya, Tanto Chandra menghampiri Sanny Chandra dan berbisik pelan di telinganya, "Meski Papa tidak tahu apa yang terjadi, tetapi karena Pak Jordan minta ganti pengantin, kamu harus nikah ke sana. Ingat, pasti harus hamil secepat mungkin, harus lahirkan anak putra!"
Sanny Chandra sungguh ingin menangis, meski sebelumnya dia dan abang ipar sudah pernah bertemu banyak kali, tetapi abang ipar terlalu dingin, bahkan kakak juga tidak bisa mendekat padanya, apalagi dia?
Dia juga sama sekali tidak ingin punya anak dengan abang ipar! Selain itu, abang ipar jelas-jelas impoten!
Dia sendiri, bagaimana punya anak?
Sanny Chandra terdesak dan terpaksa menjadi pengantin. Ketika duduk di dalam mobil, dia merasa sedikit terkekang, tidak tahu harus berbuat apa di sepanjang jalan.
Karena acara pernikahan hari ini, seluruh Hotel Grand Hyatt Jakarta sudah dipesan. Semua kamar di lantai atas digunakan sebagai tempat istirahat bagi tamu malam ini setelah mabuk. Sementara lantai satu dan dua adalah lokasi jamuan.
Ini adalah sebuah acara pernikahan yang mewah dan spektakuler, tidak sedikit tokoh besar di dunia bisnis dan bintang artis kelas atas di dunia hiburan dalam negeri yang diundang. Tentu juga ada sebagian orang yang identitasnya tidak begitu mencolok.
Sanny Chandra duduk di dalam ruang istirahat, dia sangat gugup sekali.
Tepat ketika itu, pintu ruang istirahat dibuka, abang iparnya melangkahkan kaki panjangnya berjalan masuk.
Sanny Chandra bergegas bangkit berdiri, dua tangannya digenggam di depan perut, dan dia sedikit menundukkan kepala, seperti murid yang dipanggil ke ruang guru oleh wali kelas karena telah melakukan kesalahan, "Abang ipar."
Pria itu menatapnya dari atas dan berkata, "Ganti panggilannya."
Sanny Chandra, ". aku tidak bisa ganti. Kita diskusikan dulu, kamu tidak ingin nikahi kakak, kamu bisa cerai setelah nikah dengannya kan?"
Dia tahu, pria ini meminta agar acara pernikahan dilanjutkan, adalah karena begitu banyak orang yang diundang kemari pun tahu bahwa hari ini Jordan Wijaya akan menikah. Meski demi muka Keluarga Wijaya, acara pernikahan ini juga harus dilanjutkan.
"Jika kamu ingin bangkrut."
Karena terkageti oleh nada pria yang dingin, Sanny Chandra memanggil dengan patuh, "Suami."
Nada Sanny Chandra yang membawa rasa sedih, ditambah dengan suaranya yang memang lembut, panggilan suami ini sangat merdu, membuat wajah pria yang masam ini menjadi jauh lebih membaik.
Kemudian, ada orang yang datang untuk mengarahkan Sanny Chandra harus berbuat bagaimana di acara pernikahan nanti.
Sanny Chandra merasa dirinya sangat bersusah. Di acara pernikahan berikutnya, di bawah tatapan kaget dari orang-orang akan kenapa pengantinnya diganti, Sanny Chandra memasang senyuman profesional dan menjalani seluruh resepsi pernikahan. Lalu dia berganti beberapa setelan gaun pengantin, bersama Jordan Wijaya pergi bersulang dengan orang-orang.
Malam jam sepuluh setelah acara pernikahan berakhir, Sanny Chandra naik ke dalam mobil dengan mengenakan gaun pengantin.
Di kursi belakang mobil, suasana sedikit canggung.
Sanny Chandra mengapit dua kaki dengan erat, memberitahu dirinya sendiri untuk harus bertahan. Sudah begitu besar, jika pipis di celana benar-benar akan sangat malu!
Sanny Chandra menggertak gigi berusaha bertahan. Akhirnya setengah jam kemudian, tibalah di rumah ..
Melihat kastil di bawah langit malam, Sanny Chandra sudah tidak punya tenaga untuk menggerutu sebenarnya seberapa kaya abang iparnya. Begitu memasuki kastil, dua baris pelayan rumah berdiri di kedua sisi karpet merah, lalu membungkuk 90 derajat, "Tuan, Nyonya, selamat pulang ke rumah."
Sanny Chandra terkejut, hampir saja tidak tertahan. Dia mengikuti Jordan Wijaya naik ke lantai atas, lalu jari pria itu yang ramping menunjuk ke sebuah kamar, "Kamar ini."
Sanny Chandra mengira ini adalah kamar yang Jordan Wijaya siapkan sementara untuknya, dia bergegas berlari kecil ke sana sambil menjinjing ujung gaun, "Terima kasih, Abang ipar."
Pria itu mengernyit, sedikit tidak puas akan panggilan Sanny Chandra. Tetapi pada akhirnya dia juga tidak berkata apa-apa.
Begitu memasuki kamar, hal pertama yang Sanny Chandra lakukan adalah melepaskan gaun pengantinnya.
Jumlah meja yang perlu disulangi malam ini sedikit banyak, maka dia terus didesak ketika berganti pakaian, sehingga tidak punya waktu untuk pergi ke toilet. Ketika acara pernikahan berakhir, Jordan Wijaya langsung membawanya pergi, dia juga tidak enak hati untuk meminta abang ipar menunggunya pergi ke toilet dulu, maka dia terus menahannya sampai sekarang.
Sanny Chandra hanya mengenakan bra tanpa tali dan celana dalam. Dia membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar beberapa langkah, langsung melihat di atas sofa kamar duduk..
Abang iparnya!
Jordan Wijaya!
Tatapan mereka bertemu dan berlangsung selama dua detik, tiba-tiba Sanny Chandra menyilangkan dua tangan di depan dada dan berjongkok, "Ah! Kamu kenapa bisa di sini?!"
"Ini adalah kamar nikah." Nada Jordan Wijaya tak beriak sedikitpun, seolah-olah wanita di depannya bukan hanya memakai pakaian dalam, tetapi terbalut beberapa lapis dengan erat.
Meski saat ini Sanny Chandra menundukkan kepala dan tidak berani menatap Jordan Wijaya, dia juga dapat membayangkan bahwa ekspresi Jordan Wijaya saat ini pasti adalah tidak ada ekspresi. Sama seperti biasanya, tidak ada perbedaan sedikitpun.
Tidak heran kakak mengatakan Jordan Wijaya seperti batang kayu, masih mengatakan dia impoten. Sekarang dia sedikit percaya dengan perkataan kakak!
Tatapan Jordan Wijaya melintas dari leher Sanny Chandra yang putih cerah hingga ke dadanya, melihat ada sebuah garis tipis merah, dia mengerutkan alis. Barulah dia ingat, beberapa setelan gaun pengantin hari ini dibuat khusus berdasarkan ukuran Liviani Chandra. Benar-benar kasihan gadis ini, lingkar dada gaun pengantin itu terlalu kecil bagi Sanny Chandra.
"Baju tidur ada di dalam lemari, ganti," kata Jordan Wijaya.
Sanny Chandra mendongak dengan sedikit canggung, tepat bertemu dengan tatapan Jordan Wijaya. Seketika Sanny Chandra merasa kesal dan marah. Pria ini bahkan terus menatapnya. Yang terpenting adalah tatapan pria ini padanya, seolah-olah dia adalah sepotong daging babi, bukanlah seorang wanita, sama sekali tidak ada daya tarik baginya!
Aduh, kesal sekali!
"Abang ipar. tolong kamu putar wajahmu.." Meski tahu dirinya tidak punya daya pikat sama sekali bagi Jordan Wijaya, Sanny Chandra juga tidak berani pergi mengganti baju tidur dengan mengenakan pakaian dalam di hadapannya.
Jordan Wijaya memalingkan wajahnya, "Postur badan begitu buruk, apanya yang bisa dilihat."
".?" Sanny Chandra tidak berani percaya Jordan Wijaya berkomentar tentang postur tubuhnya dengan begitu datar. Lalu Sanny Chandra menunduk melihat dadanya, dia bangkit berdiri melihat pinggang dan kakinya. Postur badannya buruk?
Dasar buta! Dasar abang ipar buta!
Dalam hati Sanny Chandra ingin sekali memukul orang saking gusarnya, tetapi dia tidak berani menunjukkannya sedikitpun. Dia berlari dan membuka pintu lemari, lalu mencari baju tidur.
Ketika melihat baju tidur renda di dalam lemari, Sanny Chandra benar-benar ingin mati. Baju tidur ini. baju tidur yang tidak ada bedanya dipakai atau tidak dipakai ini, dia tidak ingin pakai!
"Apa ada baju tidur yang lain? Semua baju tidur ini.." Sanny Chandra sedikit malu mengatakannya.
"Kamu bisa tidak pakai." Nada pria itu tetap dingin, "Malam ini tidur dengan telanjang saja."
Sanny Chandra terdiam selama dua detik, dia mengeluarkan kemeja dari dalam lemari dan memakainya, "Aku tidur pakai ini saja. Oh iya, Abang ipar, di sini tidak ada baju kamu, kamu yakin ini adalah kamar nikah?"
Sanny Chandra membuka pintu lemari, semuanya adalah pakaian wanita, bahkan celana dalam pria pun tidak ada.
Jordan Wijaya berkata, "Ini kamar nikah, untuk kakakmu tidur sendiri."
Sanny Chandra sungguh terbengong kaget karena perkataan Jordan Wijaya, maksudnya adalah rencana awal Jordan Wijaya menikahi Liviani Chandra adalah agar Liviani Chandra menjadi janda hidup?
Wanita yang menikah dengan Jordan Wijaya benar-benar kasihan, Jordan Wijaya entah impoten entah homo!
Jordan Wijaya berkata, "Sini."
Sanny Chandra berjalan ke sana dan duduk di seberangnya. Jordan Wijaya menyodorkan setumpuk kertas ke depan Sanny Chandra, Sanny Chandra mengambilnya dengan heran. Setelah membaca isinya secara garis besar, Sanny Chandra sungguh ingin muntah darah.
Ini adalah sebuah kontrak perjanjian, pihak A dan B adalah Jordan Wijaya dan Liviani Chandra. Sangat jelas, ini awalnya untuk ditandatangani oleh Liviani Chandra.
Kontrak perjanjian menyatakan, di dalam masa nikah, Liviani Chandra harus bekerja sama dengan Jordan Wijaya untuk berakting di depan orang luar, agar orang luar mempercayai mereka adalah suami-istri yang mesra. Tetapi di dalam rumah, tidak boleh ada kontak fisik yang tidak diperlukan, paling baik menjadi orang asing. Serta di dalam masa nikah, Liviani Chandra tidak boleh sembarangan berhubungan dengan pria di luar.
Kemudian, ada sebaris kalimat kecil, jika ada kebutuhan biologis, harus diselesaikan sendiri.
Membaca sampai di sini, Sanny Chandra berpikiran cabul..
Berikutnya adalah terkait kompensasi pemberian Jordan Wijaya. Belanja tanpa batas setiap bulan, serta sumber daya dalam dunia hiburan, ada yang suka bisa dipilih sesuka hati.
Dapat dikatakan jika Liviani Chandra menikah kemari, selain harus menjadi janda dalam hubungan seksual, dia akan mendapat perlakuan unggul dalam hal lainnya.
Setelah selesai membaca, Sanny Chandra mengangkat kepala dengan hati-hati, ingin melihat dari ekspresi Jordan Wijaya apa maksudnya memperlihatkan ini padanya, tepat bertemu dengan tatapan Jordan Wijaya yang seperti bisa memandang menembus pakaiannya..
Sanny Chandra bergegas berdeham dengan canggung, lalu berpura-pura tidak pernah diam-diam meliriknya, "Abang ipar, untuk apa kamu perlihatkan ini padaku?"
"Selain ingin kamu lakukan, masih bisa apa lagi?" Jordan Wijaya mengangkat alis.
Sanny Chandra bergegas bergeleng, "Aku tidak mau! Pernikahan yang seperti ini, hanya ada kepuasan material bagi pihak wanita, meski hidupnya sangat mewah, tetapi manusia memiliki perasaan, aku tidak bisa terima pernikahan seperti ini."
Dia masih memiliki bayangan terhadap cinta, meski pacarnya yang sekarang bergelut dengan kakaknya, tetapi dia juga bisa mencari yang berikutnya. Yang dia inginkan adalah pernikahan yang bahagia, bukanlah pernikahan yang berdiri di atas kontrak, hanya sekedar berpura-pura sebagai suami-istri mesra di muka.
Jordan Wijaya mengernyit, tatapannya pada Sanny Chandra seperti sedang mengejek ketamakannya, "Kamu ingin kepuasan biologis?"
Sanny Chandra, ".." Tidak! Abang ipar! Kamu salah paham dengan maksudku!
Wajah Sanny Chandra merah karena canggung, dia sedikit panik, tidak tahu harus bagaimana menjelaskan dengan Jordan Wijaya.
Namun Jordan Wijaya mengernyit sesaat, seolah-olah membulatkan tekad, dia bangkit berdiri. Jarinya yang ramping menjulur ke arah dasi, hanya dengan beberapa gerakan singkat, dasinya sudah dilepas dan dibuang ke samping, lalu dengan tangkas dia mulai melepaskan baju.
Sanny Chandra membelalak, sedikit tidak paham mengapa Jordan Wijaya melepaskan baju di depannya.
Meski Jordan Wijaya tampan, tetapi dia bukanlah orang yang tidak punya batas moral. Jangan kira dengan godaan pria tampan bisa membuatnya setuju!
Jordan Wijaya sudah mulai melepaskan kancing kemeja. Seiring dengan kancing yang dibuka, samar-samar menunjukkan otot dadanya yang seksi..
Sanny Chandra menelan ludah, "Abang ipar, kamu.."
Tidak menunggu Sanny Chandra selesai berbicara, Jordan Wijaya sudah memotong perkataannya, "Terlalu banyak seks tidak baik untuk badan, satu hari paling banyak puaskan kamu satu kali, kamu jangan terlalu tamak."
Sanny Chandra, "..?"
Tepat ketika Sanny Chandra bingung kapan dirinya tamak akan kepuasan seks, Jordan Wijaya sudah melepaskan semua kancing kemeja. Setelah kemeja putih dilepaskan, tampaklah badannya yang kokoh. Garis ototnya begitu seksi, namun tidak tampak terlalu kekar.
Sanny Chandra merasa 'pakai baju tampak kurus, lepas baju tampak berotot' sangat cocok digunakan pada abang iparnya. Tidak lepaskan baju sama sekali tidak tahu postur badannya begitu bagus.
Akan tetapi..
Dia tidaklah begitu tamak akan kepuasan seks!
"Baring di kasur." Jordan Wijaya berkata dengan nada datar, lalu dia menambahkan, "Bajunya lepas sendiri."
Sanny Chandra merasa tatapan Jordan Wijaya seolah-olah sedang mengatakan, jangan harap aku bantu kamu lepas baju..
Sanny Chandra memegang erat kerah kemejanya, "Bukan, Abang ipar, kamu salah paham, maksudku bukan itu. Aku tidak punya kebutuhan di bagian ini, aku hanya sekedar ingin nikah dengan orang yang aku sukai."
Jordan Wijaya mengernyit, "Jihan Halim?"
Seketika wajah Sanny Chandra menjadi masam. Sekarang dia memang masih belum bisa melupakan Jihan Halim, tetapi menikah dengannya, itu pasti tidak mungkin!
"Bukan dia, ke depannya aku pasti akan suka orang lain," kata Sanny Chandra.
Jordan Wijaya menatap Sanny Chandra dari atas, nadanya membawa aura tak terbantahkan, "Kalau begitu suka aku!"
"Abang ipar, ini bukan bilang suka ya suka." Sanny Chandra memberanikan diri berkata, "Masih harus lihat sifatnya."
"Maksudmu, kamu tidak akan suka aku? Sama seperti kakak kamu?" Dalam nada Jordan Wijaya membawa ketidaksenangan yang jelas.
Seketika Sanny Chandra terkejut sampai ingin menampar diri sendiri. Hari ini abang ipar baru menyadari dirinya diselingkuhi, dia masih mengatakan kalimat yang menantang seperti ini, masalah terkait harga diri pria, abang ipar pasti akan marah!
"Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Maksudku, ini juga belum pasti, mungkin keduanya tidak cocok?"
"Tidak ada yang tidak cocok, hanya kamu yang mau atau tidak."
Sanny Chandra sungguh ingin muntah darah. Maksudnya jika dia mau, maka pasti akan menyukainya?
Perlukan dia begitu gede rasa?!
"Aku. aku rasa sangat tertekan bersama abang ipar." Sanny Chandra menundukkan kepala dengan sedih, "Kamu begitu tampan, serta punya kuasa tinggi, penggemarmu pasti sangat banyak kan? Aku begitu jelek, tidak cukup unggul.."
Ini mungkin adalah momen di mana Sanny Chandra paling berusaha untuk menjelekkan dirinya.
Tatapan Jordan Wijaya mengamatinya dari atas ke bawah, dia berkata, "Kamu sangat cantik, aku tidak punya penggemar."
Wajah Sanny Chandra sedikit merah, "Penggemar kamu banyak sekali. di kelas kami ada tidak sedikit gadis yang bicarakan kamu. Sangat banyak gadis yang suka kamu."
Sejak Jordan Wijaya mulai berpacaran dengan Liviani Chandra, dia sering menemani Liviani Chandra menghadiri acara konferensi pers. Oleh karena itu, ketenarannya melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, membuat tidak sedikit orang mengenalinya. Ada tidak sedikit gadis yang sekelas dengan Sanny Chandra di kampus yang menyukai Jordan Wijaya.
Jordan Wijaya sangat sesuai dengan karakter CEO bossy di dalam novel cinta, dapat memuaskan bayangan para gadis yang suka membaca novel. Ini juga adalah alasan mengapa para fans wanita dari Liviani Chandra menaruh perhatian padanya.
Jordan Wijaya mengangkat alis, "Kamu juga salah satunya?"
"Bukan." Sanny Chandra bergegas bergeleng, "Kamu adalah abang iparku, bagaimana aku berani punya pemikiran yang berlebihan padamu? Bisa tidak kamu pakai baju dulu?"
Jordan Wijaya mengernyit, jelas-jelas tadi tatapan gadis kecil ini terus tertuju pada badannya, sangat jelas gadis itu menyukai badannya. Sekarang mengapa memintanya memakai baju?
Pura-pura polos untuk menggoda? Pura-pura bersikap kalem? Atau benar-benar bermuka tipis?
Terpikir akan beberapa kemungkinan ini, Jordan Wijaya berkata, "Sudah malam, hapus dandanannya, tidur."
Melihat Jordan Wijaya tidak hanya tidak memakai baju, sebaliknya berjalan ke arah kasur besar sambil melepaskan ikat pinggang, seketika otak kecil Sanny Chandra memikirkan yang tidak-tidak..
Ya Tuhan! Bagaimana bisa kamu melepaskan celana di depan seorang gadis muda?!
Dasar preman!
Wajah Sanny Chandra merah padam. Sebelum Jordan Wijaya melepaskan celana, dia bergegas memalingkan wajah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sanny Chandra merasa dirinya bahkan tidak bisa konsentrasi dalam menghapus dandanan! Dalam otaknya penuh dengan tampang abang iparnya yang melepaskan ikat pinggang..
Setelah menghapus dandanan dan mandi, Sanny Chandra mengenakan kemeja tadi. Dia membuka pintu kamar mandi dan dengan hati-hati menyembulkan kepala keluar, tepat melihat Jordan Wijaya yang saat ini sedang berbaring di atas kasur sambil membaca sebuah buku di tangannya.
Lengannya yang kekar terpapar di luar, sangat jelas tidak memakai apa-apa di badannya. Sementara bagian bawahnya..
Sanny Chandra teringat akan sesuatu, wajahnya yang sedikit merah karena uap panas air mandi, saat ini semakin tidak bisa menurun suhunya.
Apakah Jordan Wijaya berencana tinggal untuk tidur di sini? Tadi dia sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak butuh kepuasan biologis, untuk apa Jordan Wijaya tinggal di sini?
"Sudah mandi, sini tidur." Sambil berkata, Jordan Wijaya membalikkan satu halaman.
Barulah Sanny Chandra berjalan keluar dari kamar mandi. Begitu berjalan ke samping kasur, dia baru menyadari mungkin Jordan Wijaya pergi mandi di kamar yang lain, rambutnya masih sedikit basah, tidak sepenuhnya dikeringkan.