Minggu-minggu berikutnya berlalu dalam kabut persiapan yang sibuk. Maya Indah Lestari mendapati dirinya terlempar ke dalam pusaran kehidupan yang sama sekali asing. Apartemennya yang nyaman, penuh dengan buku-buku dan naskah-naskah yang belum selesai, kini terasa seperti kenangan jauh. Ia telah pindah ke salah satu sayap rumah Arga Satria Wicaksana, sebuah mansion megah yang lebih menyerupai istana modern di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah itu adalah perpaduan kemewahan minimalis dan teknologi canggih, dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman tropis yang terawat sempurna dan kolam renang yang berkilauan.
Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sana, Maya tahu bahwa ia harus beradaptasi dengan cepat. Para staf rumah tangga, mulai dari kepala pelayan hingga tukang kebun, semuanya tampaknya tahu siapa dirinya dan apa perannya-atau setidaknya, apa peran yang mereka kira ia mainkan. Arga telah memastikan bahwa kabar tentang pertunangan mereka telah menyebar di kalangan internal, disusul dengan pengumuman resmi yang singkat namun padat di media massa nasional, yang langsung menjadi sorotan utama di kolom gosip dan berita bisnis. "Pewaris Wijaya Group, Arga Satria Wicaksana, Akan Menikah dengan Penulis Muda Berbakat, Maya Indah Lestari." Begitu bunyi salah satu tajuk berita, disertai foto mereka berdua yang diambil saat pertemuan terakhir di kantor pengacara. Dalam foto itu, Maya terlihat tenang, sedangkan Arga tampak... entah, lelah sekaligus penuh perhitungan.
Pengumuman itu memicu kehebohan. Banyak yang bertanya-tanya siapa Maya, mengapa Arga yang tertutup itu tiba-tiba memutuskan menikah, dan yang paling sering disebut-sebut, "Apakah ini pernikahan karena cinta atau hanya perjodohan bisnis?" Maya harus menghadapi gelombang pertanyaan dari kerabat jauh dan teman-teman lama yang ingin tahu. Ia berlatih menjawab, mengulang frasa yang Adrian berikan kepadanya: "Kami bertemu secara tidak sengaja, kami menemukan banyak kesamaan, dan kami memutuskan untuk membangun masa depan bersama." Senyumnya harus terlihat alami, matanya harus memancarkan kebahagiaan palsu. Ini adalah akting terbesar dalam hidupnya, dan panggungnya adalah seluruh dunia Arga.
Sejak awal, Arga dan Maya menyepakati sebuah rutinitas. Mereka akan makan malam bersama setidaknya empat kali seminggu, berlatih interaksi publik, dan Arga akan memberikan pengarahan singkat tentang hal-hal yang perlu Maya ketahui tentang Wijaya Group, keluarga Wicaksana, dan lingkaran sosial mereka. Arga, meskipun sakit, masih memegang kendali penuh atas perusahaannya. Ia memiliki kantor pribadi di lantai atas mansion, lengkap dengan layar-layar besar yang menampilkan data keuangan dan grafik kompleks. Maya sering melihatnya di sana, duduk di kursi roda, wajahnya pucat namun matanya tetap tajam dan penuh perhitungan.
Penyakit Arga adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Ada hari-hari di mana ia terlihat relatif bugar, mampu berjalan dengan bantuan tongkat, bahkan sesekali tersenyum tipis. Namun, ada lebih banyak hari di mana ia terpuruk dalam rasa sakit. Demam tinggi akan datang tiba-tiba, nyeri di persendiannya akan membuatnya tidak bisa bergerak, dan ia akan menghabiskan waktu berjam-jam terbaring di tempat tidur, terhubung dengan monitor dan selang infus. Pada saat-saat seperti itu, Maya akan berada di sisinya, membaca buku atau artikel untuknya, menyiapkan makanan lembut yang bisa ia telan, atau sekadar duduk diam, memberikan kehadiran yang menenangkan.
"Kau tidak harus melakukan ini," Arga pernah berbisik suatu malam, ketika Maya dengan sabar mengompres dahinya yang panas. Suaranya serak karena demam.
Maya hanya menatapnya. "Ini bagian dari kesepakatan, Tuan Arga. Saya seorang profesional."
Arga menutup matanya. "Aku tahu. Tapi... terima kasih."
Kata-kata "terima kasih" itu terasa aneh di telinga Maya. Sejak awal, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melibatkan emosi. Ia adalah seorang pekerja kontrak, dibayar mahal untuk sebuah peran. Simpati adalah kemewahan yang tidak bisa ia bayar. Namun, melihat Arga dalam kondisi terlemahnya, begitu rentan, begitu berbeda dari citra 'Pangeran Es' yang terkenal, memunculkan sedikit rasa iba yang sulit ia tepis.
Profesor Wijaya sering datang berkunjung, memantau kondisi Arga dan memberikan instruksi kepada Maya. Ia meminta Maya untuk mencatat setiap perubahan kecil pada kondisi Arga, mulai dari pola tidur hingga nafsu makan. "Interaksi positif, kehadiran yang menenangkan, dan lingkungan yang stabil adalah faktor penting, Maya," Profesor Wijaya pernah menekankan. "Otak dan tubuh saling terkait erat. Stress bisa memperparah kondisinya."
Maya berusaha memenuhi instruksi itu. Ia menjaga suasana di rumah tetap tenang, berbicara dengan nada lembut, dan memastikan Arga merasa nyaman. Ia mempelajari kebiasaan Arga, kebutuhannya, dan bahkan hal-hal kecil yang bisa membuatnya merasa sedikit lebih baik. Ia menemukan bahwa Arga menyukai musik klasik yang dimainkan dengan volume rendah, bahwa ia lebih suka teh herbal daripada kopi di pagi hari, dan bahwa ia memiliki kecenderungan untuk tersenyum kecil ketika ia membaca cerita-cerita humor dari koran.
Satu hal yang paling menantang adalah berinteraksi dengan keluarga Arga. Nyonya Arini Wicaksana, ibu Arga, adalah seorang wanita elegan dan berkuasa yang tidak menyembunyikan rasa tidak percayanya pada Maya. Ia adalah sosok yang dingin dan sulit didekati, selalu mengamati Maya dengan tatapan curiga. Ia tahu bahwa Arga menikah bukan karena cinta, dan ia tidak menyetujui "ide gila" putranya itu.
"Jadi, Anda yang bertanggung jawab atas kesehatan putra saya sekarang?" Nyonya Arini pernah bertanya dengan nada tajam saat makan malam keluarga, hari di mana Arga kebetulan sedang demam dan tidak bisa bergabung.
Maya membalas tatapan itu dengan tenang. "Saya akan melakukan yang terbaik untuk mendukung Tuan Arga, Nyonya."
"Saya harap begitu," sahut Nyonya Arini, mencicipi supnya. "Karena jika terjadi sesuatu padanya, Anda adalah orang pertama yang akan saya salahkan."
Kakak perempuan Arga, Dian Wicaksana, adalah kebalikan dari ibunya. Dian adalah wanita muda yang ceria dan ramah, seringkali menjadi jembatan antara Maya dan keluarganya yang lain. Dian tampaknya tulus menyukai Maya, dan seringkali mengundang Maya untuk sekadar mengobrol atau menemaninya berbelanja. Maya tahu bahwa ia harus memanfaatkan Dian untuk menciptakan kesan positif di mata keluarga, meskipun ia tahu bahwa pernikahan ini adalah sandiwara.
"Arga terlihat lebih baik sejak kau datang, Maya," kata Dian suatu hari, saat mereka sedang memilih gaun pengantin untuk Maya. "Maksudku, dia masih sakit, tapi ada sesuatu yang berbeda. Dia tidak lagi sekesepian dulu."
Kata-kata itu membuat Maya terdiam. Benarkah? Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia hanya menjalankan perannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa kehadirannya, meskipun palsu, bisa membawa perubahan nyata pada Arga.
Pernikahan itu akhirnya tiba, sebulan setelah Maya pindah ke mansion. Sebuah upacara privat yang mewah namun sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan kolega bisnis penting. Media hanya diizinkan mengambil beberapa foto dari jauh. Maya mengenakan gaun pengantin putih yang dirancang khusus, elegan dan bersahaja. Arga, yang kebetulan sedang dalam kondisi yang cukup baik hari itu, mengenakan setelan jas hitam yang pas, dan berdiri di samping Maya di altar. Ia terlihat pucat, namun tatapannya tegas.
Ketika pendeta mengucapkan janji pernikahan, Maya mengucapkan kata-kata itu tanpa emosi. Ia berjanji akan mencintai Arga, menghormatinya, dan bersamanya dalam suka maupun duka. Kata-kata itu terasa kosong, hampa. Ia adalah seorang aktris yang memainkan perannya dengan sempurna. Arga juga mengucapkan janji yang sama, suaranya mantap, seolah-olah ia tidak merasakan kepalsuan di balik setiap kata.
Cincin emas putih melingkar di jari manis Maya, cincin dengan ukiran yang halus. Cincin itu terasa dingin, berat, seperti belenggu emas. Mereka bertukar ciuman, ciuman singkat dan formal di depan para tamu. Bibir Arga dingin, dan Maya bisa merasakan sedikit getaran di tangannya saat Arga menggenggamnya. Ini adalah permulaan dari kehidupan barunya, kehidupan sebagai istri bayaran.
Malam pertama mereka sebagai suami istri, Maya tidak mengharapkan apa pun. Ia tahu bahwa Arga tidak akan pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Mereka tidur di kamar yang terpisah di sayap yang sama. Maya memiliki kamarnya sendiri yang luas, dengan kamar mandi pribadi dan ruang kerja kecil yang bisa ia gunakan untuk menulis. Arga memiliki kamarnya sendiri yang dirancang khusus untuk kenyamanannya, dengan peralatan medis yang terintegrasi.
Malam itu, setelah semua tamu pergi dan rumah kembali sunyi, Maya pergi ke kamar Arga. Ia membawa segelas air dan obat-obatan yang harus Arga minum. Arga sudah berada di tempat tidur, membaca sebuah buku.
"Ini obat Anda, Tuan Arga," kata Maya, menyerahkan gelas dan obat-obatan.
Arga mengambilnya, menelannya, lalu menatap Maya. "Kau terlihat... cantik hari ini, Maya. Gaun itu cocok sekali untukmu."
Pujian itu mengejutkan Maya. Arga tidak pernah memujinya sebelumnya. Ia selalu bersikap lugas dan bisnis. "Terima kasih," jawab Maya, sedikit canggung.
"Apakah kau... baik-baik saja?" tanya Arga, matanya menatap Maya dengan intens. "Maksudku, dengan semua ini?"
Maya mengangguk. "Saya baik-baik saja. Ini adalah bagian dari kesepakatan."
Arga menghela napas. "Aku tahu. Tapi... aku tidak ingin kau merasa terjebak."
"Saya tidak merasa terjebak," Maya membalas, sedikit terlalu cepat. "Saya membuat keputusan ini dengan mata terbuka. Saya tahu apa yang saya lakukan."
Ada keheningan di antara mereka. Arga memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi. "Aku harap kau bisa... menemukan kenyamanan di sini. Ini sekarang juga rumahmu."
Maya hanya mengangguk. Hatinya sedikit berdenyut. Ia tahu bahwa ia harus menjaga dinding yang tinggi di antara mereka. Ia tidak bisa membiarkan dirinya merasa terlalu nyaman, atau terlalu terlibat. Ini adalah pekerjaan. Tidak lebih dari itu.
Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Maya menemukan rutinitasnya. Pagi hari, setelah memastikan Arga sarapan dan minum obat, ia akan menghabiskan waktu di ruang kerjanya, mencoba menulis, meskipun inspirasi seringkali enggan datang. Siang hari, ia akan membaca atau melakukan pekerjaan rumah tangga ringan, berbicara dengan para staf, atau kadang-kadang pergi ke perpustakaan atau galeri seni sendirian. Sore hari, ia akan menemani Arga, entah itu membaca untuknya, menemaninya menonton film, atau sekadar duduk di sampingnya saat Arga bekerja.
Malam hari adalah waktu paling krusial. Mereka seringkali makan malam bersama, dan Maya harus berperan sebagai nyonya rumah yang sempurna, terutama jika ada tamu. Ia belajar nama-nama penting di dunia bisnis, etiket makan yang rumit, dan bagaimana bersikap luwes dalam percakapan yang dangkal. Arga selalu ada di sampingnya, membimbingnya dengan tatapan atau isyarat halus jika Maya melakukan kesalahan.
Arga sendiri adalah sosok yang kompleks. Ia bisa menjadi sangat dingin dan jauh, terutama saat ia sedang merasa tidak enak badan. Namun, di saat-saat tertentu, ia akan menunjukkan sisi dirinya yang berbeda-sebuah humor gelap, sebuah senyuman tipis yang hanya terlihat oleh Maya, atau sebuah percakapan yang surprisingly insightful tentang sastra atau filosofi. Maya menemukan bahwa Arga adalah pembaca yang sangat luas, dengan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai topik.
Suatu malam, saat Arga sedang merasa sedikit lebih baik, mereka duduk di perpustakaan besar Arga, dikelilingi oleh ribuan buku. Maya sedang membaca sebuah novel, dan Arga sedang membaca buku sejarah.
"Apa yang kau baca?" tanya Arga, tanpa mengangkat pandangannya dari bukunya.
"Sebuah novel roman," jawab Maya. "Klise, tapi kadang menyenangkan untuk melarikan diri."
Arga tertawa kecil. "Aku lebih suka sejarah. Realitas, betapapun brutalnya, selalu lebih menarik daripada fiksi yang direkayasa."
"Tapi fiksi bisa memberikan harapan, Tuan Arga," kata Maya. "Bisa menunjukkan bahwa dunia bisa jadi tempat yang lebih baik, atau bahwa kebahagiaan itu mungkin, bahkan di tengah kesulitan."
Arga menutup bukunya dan menatap Maya. "Dan apakah kau percaya pada harapan seperti itu, Maya?"
Maya merasakan tatapan Arga yang menembus, seolah mencoba membaca pikirannya. "Saya percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkannya," jawab Maya hati-hati. "Termasuk Anda."
Ada keheningan lagi. Arga hanya menatapnya, ekspresinya tidak terbaca. Maya merasa sedikit tidak nyaman. Ia telah melanggar batas, memberikan sedikit terlalu banyak dari dirinya.
Namun, perlahan tapi pasti, batas-batas itu mulai kabur. Tanpa disadari, Maya mulai melihat Arga bukan hanya sebagai "pasiennya" atau "majikannya", tetapi sebagai seorang pria. Seorang pria yang menderita, yang kesepian, dan yang diasingkan oleh penyakitnya. Ia melihat perjuangan di matanya, kekuatan di balik ketenangan palsunya.
Suatu hari, Arga mengalami serangan yang sangat parah. Demamnya mencapai puncaknya, tubuhnya gemetar tak terkendali, dan ia muntah-muntah. Profesor Wijaya datang dengan cepat, dan Maya membantu staf medis. Ia memegangi tangan Arga, merasakan tubuh Arga yang terbakar demam. Ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak merasakan kepedihan melihat Arga kesakitan.
"Tahan, Tuan Arga," bisik Maya, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak yakin miliki.
Arga meremas tangan Maya dengan kekuatan yang mengejutkan, matanya memerah karena rasa sakit. "Maya..." desahnya, suaranya begitu lemah.
Malam itu, Maya tidak bisa tidur. Ia duduk di samping tempat tidur Arga, memegang tangannya, mengawasinya. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari kesepakatan, ya. Tapi ini juga lebih dari itu. Ini adalah ikatan yang terbentuk dari kerapuhan dan keputusasaan.
Keesokan harinya, Arga sedikit pulih. Ia terlihat sangat lelah, namun demamnya sudah turun. Ia membuka matanya dan melihat Maya duduk di sampingnya.
"Kau... tidak tidur?" tanya Arga, suaranya masih serak.
"Saya mengawasi Anda," jawab Maya.
Arga tersenyum tipis. Senyuman itu tulus, dan itu membuat hati Maya berdesir aneh. "Terima kasih, Maya."
Kali ini, Maya tidak hanya mengatakan "sama-sama." Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dari sekadar akting.
Hubungan mereka mulai bergeser. Percakapan mereka menjadi lebih pribadi, lebih terbuka. Arga mulai menceritakan sedikit tentang masa kecilnya, tentang mimpinya yang hancur karena penyakitnya, tentang rasa takutnya akan masa depan. Maya, pada gilirannya, mulai menceritakan tentang keluarganya, tentang mimpinya menjadi seorang penulis, dan tentang perjuangannya setelah ayahnya meninggal.
Mereka masih menjaga batasan, tentu saja. Tidak ada sentuhan yang tidak perlu, tidak ada kata-kata romantis. Ini masih sebuah transaksi, sebuah kesepakatan bisnis. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tumbuh. Sebuah rasa hormat, sebuah pengertian, dan mungkin, sebuah ikatan yang lebih dalam dari yang mereka bayangkan.
Suatu malam, Arga meminta Maya untuk membacakan salah satu tulisan pendeknya. Maya ragu pada awalnya, tetapi Arga bersikeras. Ia membaca sebuah cerpen tentang seorang wanita muda yang berjuang melawan takdir, menemukan kekuatan di dalam dirinya sendiri. Ketika Maya selesai, Arga terdiam sejenak.
"Kau punya bakat, Maya," kata Arga akhirnya, suaranya tulus. "Kenapa kau tidak melanjutkan menulis?"
"Terlalu banyak yang harus saya pikirkan, Tuan Arga," jawab Maya, menghindari tatapannya. "Uang, keluarga, dan... ini." Ia mengisyaratkan keberadaannya di mansion itu.
Arga mengangguk. "Aku mengerti. Tapi jangan pernah berhenti pada mimpimu. Hidup ini terlalu singkat untuk tidak melakukan apa yang kita cintai."
Kata-kata itu menghantam Maya. Dari seorang pria yang hidupnya sendiri telah dirampas oleh penyakit, kata-kata itu terasa sangat kuat.
Ada saat-saat di mana Maya merasa ia telah melewati batas yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Ia mulai memikirkan Arga lebih dari sekadar "klien". Ia mulai khawatir tentang Arga, tidak hanya karena itu adalah bagian dari pekerjaannya, tetapi karena ia benar-benar peduli. Rasa iba telah berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks, sesuatu yang mengkhawatirkan.
Profesor Wijaya mulai mencatat perubahan pada Arga. Kondisinya masih fluktuatif, namun frekuensi serangan parahnya berkurang. Arga tampak lebih bersemangat, lebih tenang.
"Ada peningkatan yang signifikan dalam suasana hati dan stabilitas emosionalnya, Arga," kata Profesor Wijaya suatu pagi. "Apakah ada yang berubah?"
Arga menatap Maya, yang sedang menuangkan teh untuknya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Mungkin saja, Profesor. Mungkin saja."
Maya merasakan tatapan Arga. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu bahwa ia tidak boleh jatuh. Ia tidak boleh melupakan mengapa ia ada di sana. Ini adalah pekerjaan, kesepakatan, transaksi. Bukan cinta. Bukan kebahagiaan yang sejati.
Namun, setiap hari, Arga dan Maya semakin dekat. Mereka mulai berbagi tawa, berbagi cerita, berbagi keheningan yang nyaman. Mereka mulai melihat satu sama lain bukan hanya sebagai peran yang mereka mainkan, tetapi sebagai individu yang kompleks dengan sejarah, impian, dan rasa sakit mereka sendiri.
Suatu malam, mereka sedang duduk di teras belakang, memandang bintang-bintang. Arga, yang kebetulan sedang tidak menggunakan kursi roda dan duduk di kursi santai, memandang ke atas.
"Aku selalu ingin melihat aurora borealis," kata Arga, suaranya pelan. "Melihat langit menari dengan warna-warni yang luar biasa."
"Saya juga," jawab Maya. "Saya selalu ingin pergi ke Islandia atau Norwegia untuk melihatnya."
"Jika aku sembuh," kata Arga, menoleh ke arah Maya, matanya berkilauan oleh pantulan cahaya bintang, "aku akan membawamu ke sana, Maya. Aku akan membayarmu, sebagai bagian dari kontrak kita, untuk pergi melihat aurora borealis."
Maya menatap Arga. Kata-kata itu, meskipun terdengar seperti kelanjutan dari "kesepakatan", memiliki makna yang lebih dalam. Ada janji di dalamnya. Ada harapan.
"Kita lihat saja nanti, Tuan Arga," kata Maya, mencoba menjaga suaranya tetap netral. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang hangat dan menakutkan. Ia tahu bahwa ia berada di ambang sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang bisa menghancurkan dinding yang telah ia bangun dengan begitu hati-hati.
Waktu terus bergulir, membawa Arga dan Maya lebih dalam ke dalam pusaran kehidupan pernikahan kontrak mereka. Bulan-bulan berlalu, diwarnai oleh naik turunnya kondisi Arga, rapat-rapat penting perusahaan yang harus mereka hadiri bersama, dan interaksi yang semakin intensif di antara mereka. Arga, yang dulu begitu dingin dan acuh tak acuh, kini mulai menunjukkan sisi dirinya yang lebih rentan dan manusiawi di hadapan Maya. Sementara itu, Maya, yang awalnya hanya berniat menjalankan perannya secara profesional, mendapati dirinya semakin sulit mempertahankan dinding emosional yang telah ia bangun.
Penyakit Arga adalah pengingat konstan akan kerapuhan kehidupan mereka berdua. Ada hari-hari di mana Arga hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur, demam tinggi membakar tubuhnya, dan nyeri tak tertahankan menggerogoti setiap sendinya. Pada saat-saat seperti itu, Maya menjadi perawat pribadinya yang paling setia. Ia duduk di sisi ranjang Arga, menyeka keringat dingin di dahi pria itu, memberikan obat-obatan sesuai jadwal, dan membisikkan kata-kata penenang yang entah mengapa terasa begitu alami keluar dari bibirnya. Ia bahkan belajar cara memasang infus dan memantau detak jantung Arga dengan alat-alat portabel yang disediakan Profesor Wijaya.
Suatu malam yang dingin, Arga mengalami serangan yang sangat parah. Tubuhnya gemetar tak terkendali, dan ia terus-menerus muntah. Maya segera memanggil Profesor Wijaya dan Adrian, yang datang dalam waktu singkat. Profesor Wijaya terlihat cemas.
"Tubuhnya tidak merespons obat dengan baik," ujar Profesor Wijaya, alisnya berkerut. "Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Maya membantu para perawat memindahkan Arga ke brankar. Ia memegang erat tangan Arga, yang terasa dingin namun gemetar hebat. Arga menatap Maya, matanya memancarkan rasa takut dan putus asa.
"Ma-Maya..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya di sini, Tuan Arga," jawab Maya, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. "Saya akan selalu di sini."
Di rumah sakit, Arga segera mendapatkan perawatan intensif. Maya menunggu di luar ruang ICU, ditemani Adrian dan Nyonya Arini yang tampak sangat khawatir. Nyonya Arini masih dingin kepadanya, namun ada sedikit retakan dalam sikapnya yang beku. "Bagaimana dia bisa tiba-tiba seburuk ini?" tanyanya dengan suara serak, lebih kepada dirinya sendiri.
Maya hanya bisa menggeleng. Ia juga tidak tahu. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar Arga bisa melewati masa kritis ini.
Dua hari kemudian, Arga mulai stabil. Ia masih lemah, namun bahaya terbesar telah berlalu. Ketika Maya masuk ke ruang rawat inapnya, Arga tersenyum tipis. Senyum itu, meskipun lemah, terasa sangat nyata.
"Terima kasih, Maya," kata Arga, suaranya masih parau. "Kau... tidak pergi."
Maya duduk di sampingnya, memegang tangannya. "Saya tidak akan pernah pergi, Tuan Arga. Saya sudah berjanji."
Kata-kata "saya sudah berjanji" itu diucapkan dengan ketulusan yang mengejutkan Maya sendiri. Itu bukan lagi sekadar klausul kontrak. Itu adalah janji dari hati ke hati.
Selama Arga di rumah sakit, Maya menjadi bayangannya. Ia tidak meninggalkan sisi Arga, kecuali untuk mandi atau berganti pakaian. Ia membaca buku untuk Arga, menceritakan berita-berita ringan, dan sekadar menemaninya dalam keheningan yang nyaman. Adrian dan Profesor Wijaya sering melihat interaksi mereka, dan ada tatapan penuh arti yang saling mereka tukarkan.
"Maya punya efek positif padamu, Arga," kata Adrian suatu hari, saat Maya sedang mengambil minum. "Kau terlihat lebih tenang saat ada dia."
Arga hanya tersenyum samar. "Dia memang profesional yang sangat baik."
Namun, di dalam hatinya, Arga tahu bahwa itu lebih dari sekadar profesionalisme. Ada kehangatan dalam kehadiran Maya, sebuah ketenangan yang tak bisa ia temukan di tempat lain. Maya tidak menunjukkan rasa iba yang berlebihan, tidak pula ketakutan. Ia hanya ada, mendukung, tanpa menghakimi. Itu adalah sesuatu yang Arga rindukan seumur hidupnya.
Setelah Arga keluar dari rumah sakit, ia menjadi sedikit lebih terbuka. Ia mulai berbagi pemikiran yang lebih dalam dengan Maya, tentang impiannya untuk membangun yayasan amal bagi anak-anak dengan penyakit langka, tentang penyesalannya karena tidak bisa menjalani hidup seperti orang normal. Maya mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan masukan atau sekadar mengangguk.
Mereka mulai sering menghabiskan malam di perpustakaan besar, Arga di kursi rodanya dan Maya di sofa empuk. Mereka akan berbicara berjam-jam, dari topik sastra hingga politik, dari kisah masa kecil hingga ketakutan akan masa depan. Maya menemukan bahwa Arga memiliki pikiran yang brilian dan humor yang cerdas, yang seringkali tersembunyi di balik fasadnya yang dingin.
Suatu malam, Arga memegang sebuah buku tua, sampulnya lusuh dan halamannya menguning. "Ini adalah buku favorit ibuku," katanya, suaranya lembut. "Dia selalu membacakannya untukku saat aku masih kecil."
"Buku apa?" tanya Maya, mendekat.
"Kumpulan dongeng lama," jawab Arga, tersenyum kecil. "Dongeng tentang pahlawan yang melawan naga, putri yang diselamatkan dari menara tinggi. Klise, tapi aku menyukainya."
Maya mengambil buku itu dari tangan Arga. "Apakah Anda ingin saya membacakan salah satunya?"
Arga menatapnya, matanya sedikit ragu. "Kau tidak perlu melakukan itu, Maya."
"Saya ingin," jawab Maya tulus. Ia membuka halaman secara acak dan mulai membaca, suaranya lembut dan menenangkan. Ia membaca sebuah dongeng tentang seorang ksatria yang mencari bunga langka untuk menyembuhkan ratunya. Saat ia membaca, ia bisa merasakan Arga bersandar, matanya terpejam, menikmati suaranya.
Ketika ia selesai, Arga membuka matanya. "Suaramu menenangkan," katanya, ada senyum tulus di wajahnya. "Terima kasih."
Malam-malam seperti itu menjadi semakin sering. Maya akan membaca untuk Arga, bukan hanya dongeng, tetapi juga novel, puisi, atau artikel yang Arga minati. Ada keintiman yang tumbuh di antara mereka, keintiman yang bukan fisik, tetapi emosional. Sebuah ikatan yang terbentuk dari rasa percaya dan saling pengertian.
Namun, di balik semua itu, Maya tetap sadar akan kenyataan. Ia adalah istri bayaran. Ia adalah solusi untuk masalah Arga. Ia tidak boleh melupakan hal itu. Ia harus menjaga jarak, melindungi hatinya dari perasaan yang mungkin akan muncul. Terkadang, ia akan kembali ke kamarnya sendiri setelah malam yang dihabiskan bersama Arga, dan ia akan duduk diam di kegelapan, merenungkan perasaannya sendiri yang semakin rumit.
Ia merindukan kehidupannya yang dulu, kehidupan yang sederhana, kehidupan di mana ia bisa menulis tanpa batasan, kehidupan di mana ia tidak harus berpura-pura. Namun, uang dari Arga telah menyelesaikan semua masalah keluarganya. Hutang-hutang lunas, adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah, dan ibunya mulai pulih dari depresinya. Maya telah menyelamatkan keluarganya. Tapi dengan harga apa? Dengan mengorbankan hatinya sendiri?
Suatu hari, ketika Arga merasa cukup kuat, mereka pergi ke sebuah acara amal penting yang diselenggarakan oleh Wijaya Group. Arga mengenakan setelan jas mewah, dan Maya mengenakan gaun malam yang elegan. Mereka berjalan beriringan, tangan Arga menggenggam tangan Maya. Arga memperkenalkan Maya sebagai istrinya, dan Maya tersenyum, menyapa para tamu dengan sopan.
Di mata publik, mereka adalah pasangan yang sempurna. Pasangan muda yang kaya, berkuasa, dan tampak saling mencintai. Tidak ada yang tahu kebenaran di balik senyuman mereka, di balik genggaman tangan mereka.
Di tengah acara, Arga mulai merasakan tubuhnya melemah. Ia menarik Maya ke sudut ruangan yang lebih sepi. "Aku... tidak enak badan," bisiknya, wajahnya memucat.
Maya segera merespons. "Kita kembali saja, Tuan Arga."
"Tidak," kata Arga, menahan rasa sakit. "Ini penting. Aku harus tetap di sini."
Maya melihat betapa kerasnya Arga berusaha. Ia melihat perjuangan di matanya. Ia tidak bisa membiarkan Arga runtuh di acara penting seperti ini. Ia memegang tangan Arga lebih erat.
"Kita bisa melakukan ini, Tuan Arga," kata Maya, menatapnya lurus. "Kita adalah sebuah tim, ingat?"
Arga membalas tatapannya. Ada sedikit senyum di wajahnya. "Ya, kita adalah tim."
Mereka bertahan selama sisa acara, meskipun Arga harus bersandar pada Maya sesekali, dan Maya harus membantunya berjalan perlahan. Di mata orang lain, itu adalah tanda keintiman dan kasih sayang. Hanya mereka berdua yang tahu itu adalah perjuangan keras.
Ketika mereka akhirnya kembali ke mansion, Arga langsung kolaps. Demamnya tinggi, dan ia langsung dilarikan ke kamarnya. Maya kembali merawatnya sepanjang malam, memberikan kompres dingin, memberikan obat-obatan.
Pagi harinya, Arga terbangun dan melihat Maya tidur pulas di kursi samping tempat tidurnya, kepalanya terkulai ke samping. Ia tampak begitu lelah, namun ada ketenangan di wajahnya. Arga merentangkan tangannya perlahan, menyentuh pipi Maya. Sentuhan itu sangat lembut, seolah ia takut akan memecahkan sesuatu yang rapuh. Maya menggeliat, membuka matanya perlahan.
"Tuan Arga?" tanyanya, suaranya mengantuk.
Arga tersenyum. "Maaf, aku membangunkanmu."
Maya duduk tegak, mengusap matanya. "Bagaimana perasaan Anda?"
"Lebih baik," jawab Arga. Ia masih memegang tangan Maya. "Terima kasih, Maya. Kau selalu ada untukku."
Maya menatap tangannya yang digenggam Arga. Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Ia mulai memiliki perasaan untuk Arga. Perasaan yang berbahaya, yang tidak seharusnya ada.
"Ini tugasku," bisik Maya, mencoba kembali ke zona aman.
"Tidak, Maya," kata Arga, suaranya tegas. "Ini lebih dari itu. Kau tidak harus melakukan semua ini. Kau bisa saja hanya melakukan yang minimal dan tetap mendapatkan uangmu. Tapi kau tidak melakukannya. Kau... kau sangat peduli."
Maya mengangkat kepalanya, menatap mata Arga. Mata itu, yang biasanya tertutup oleh lapisan es, kini terlihat begitu dalam dan tulus. Ia melihat refleksi dirinya di mata Arga, refleksi seorang wanita yang telah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
"Saya..." Maya mencoba menemukan kata-kata, namun tidak ada yang keluar. Hatinya berdebar kencang.
"Aku tidak tahu apa ini," Arga melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi... aku merasakan sesuatu saat bersamamu, Maya. Sesuatu yang belum pernah kurasakan dengan siapapun. Aku merasa... nyaman. Aku merasa... tidak sendiri."
Pengakuan itu menghantam Maya seperti gelombang. Ia tidak menyangka Arga akan mengakui perasaannya, atau setidaknya, perasaannya yang rumit. Dinding yang telah ia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan, kini retak.
"Tuan Arga," Maya memulai, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Ini... kita harus ingat, ini adalah kesepakatan."
Arga menghela napas. "Aku tahu itu. Aku tahu semuanya tertulis dalam kontrak. Tapi bagaimana jika... bagaimana jika ada lebih dari itu?" Ia menatap Maya dengan tatapan memohon. "Bagaimana jika perasaanku... nyata?"
Maya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak boleh mengakui perasaannya sendiri. Ia tidak boleh merusak kesepakatan ini. Ini adalah tentang kesembuhan Arga, bukan tentang romansa yang rumit.
"Ini berbahaya, Tuan Arga," kata Maya, suaranya rendah. "Kita tidak boleh melampaui batas."
"Kenapa tidak?" tanya Arga, nada suaranya sedikit menantang. "Karena kita tidak seharusnya merasa seperti ini? Karena ini adalah pernikahan kontrak? Tapi... hatiku tidak membaca kontrak, Maya."
Kata-kata itu membuat Maya terkejut. Hatinya juga tidak membaca kontrak. Ia telah jatuh cinta pada Arga. Ia jatuh cinta pada pria yang sakit-sakitan ini, pria yang kesepian ini, pria yang memiliki jiwa yang begitu dalam di balik penampilannya yang dingin.
Namun, ia juga tahu risikonya. Jika ia mengakui perasaannya, semuanya bisa menjadi sangat rumit. Bagaimana jika Arga tidak sembuh? Bagaimana jika ia harus menyaksikan Arga pergi? Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit itu.
Maya melepaskan tangannya dari genggaman Arga. Ia berdiri, menjauhi tempat tidur. "Saya harus... saya harus memeriksa jadwal Anda, Tuan Arga."
Arga menghela napas panjang, ekspresi kecewa terlihat jelas di wajahnya. "Maya, kumohon. Jangan lari."
"Saya tidak lari," jawab Maya, suaranya bergetar. "Saya hanya... saya perlu waktu."
Ia bergegas keluar dari kamar Arga, meninggalkan pria itu sendirian dengan pikirannya. Di kamarnya sendiri, Maya bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia telah jatuh cinta. Dan itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah terjadi padanya.
Ia tahu bahwa ia harus kembali ke Arga, ia harus menghadapi perasaannya. Tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia telah mengkhianati dirinya sendiri, janji yang ia buat untuk tidak pernah melibatkan emosi. Sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya.
Malam itu, mereka makan malam dalam keheningan yang tegang. Arga sesekali melirik Maya, mencoba membaca ekspresinya. Maya hanya fokus pada makanannya, menghindari tatapan Arga. Dinding yang telah retak kini terasa lebih rapuh dari sebelumnya.
Keesokan harinya, Adrian datang berkunjung, membawa kabar baik. "Arga, Profesor Wijaya menelepon. Hasil tes darahmu menunjukkan peningkatan yang signifikan! Kekebalan tubuhmu menunjukkan tanda-tanda positif. Ada kemungkinan... ada kemungkinan kau akan pulih!"
Kabar itu seperti petir di siang bolong. Arga dan Maya saling pandang. Ada kegembiraan, ada harapan, tetapi juga ketakutan.
"Benarkah, Adrian?" tanya Arga, suaranya penuh harap.
"Benar!" Adrian tersenyum lebar. "Profesor Wijaya bilang ini adalah keajaiban. Dia bilang perubahan hormon dan stabilitas emosional yang kau dapatkan dari pernikahan ini mungkin benar-benar memicu 'reset' pada sistem imunmu!"
Maya merasakan jantungnya berdetak kencang. Mungkinkah? Mungkinkah semua ini benar-benar berhasil? Penyakit Arga bisa sembuh?
Tapi jika Arga sembuh... artinya, pernikahan kontrak ini akan berakhir.
Arga menatap Maya, matanya berkaca-kaca. Ada kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa di sana. "Kita... kita berhasil, Maya," bisiknya. "Kau berhasil."
Maya hanya bisa mengangguk, menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia merasakan kebahagiaan yang tulus untuk Arga, kelegaan yang mendalam karena pria itu akan sembuh. Namun, di saat yang sama, ia merasakan sebuah rasa sakit yang tajam di hatinya.
Jika Arga sembuh, ia akan kehilangan dia. Kontrak itu akan berakhir. Dan ia akan kembali ke kehidupannya yang dulu, tanpa Arga. Ini adalah harga dari kesembuhan Arga, dan Maya tidak yakin apakah ia siap membayarnya.
Dinding di hatinya kini bukan hanya retak, tapi hancur berkeping-keping. Ia telah jatuh cinta pada seorang pria yang ia bayar untuk dinikahi, dan sekarang, ia harus bersiap untuk kehilangannya.