Rendra melajukan mobilnya dengan kencang. Tak peduli dengan rambu rambu dan berbagai cacian atau umpatan dari pengendara lainnya. Yang terpenting baginya kini ia bisa segera sampai di rumah dan membicarakan masalah ini dengan Mamanya. Jika bisa, ia ingin istirahat dan bicara keesokan harinya. Karena dengan begitu amarah yang meletus menjadi padam.
Baginya ini adalah masalah sekaligus musibah yang sangat besar. Jika mereka pikir pernikahan adalah mereguk kebahagiaan, maka bagi Rendra ini adalah tempat menyelami kesedihan.
Tadi Rendra keluar lebih dulu dari rumah wanita yang akan menjadi calon menantu dari Mamanya. Di belakang, Mamanya mengejar dengan mobil yang dikendarai sopir. Sudah seperti arena balapan saja. Keduanya saling salip dan berlomba cepat sampai di rumah. Bukan untuk meraih kemenangan, tapi untuk meluapkan kekesalan. Kekesalan akan pembicaraan yang belum selesai dan berujung kemarahan.
Yuanita sangat geram dengan ucapan dan tindakan putranya. Secara tidak langsung juga menjatuhkan harga dirinya. Memperlihatkan seolah tidak bisa mengurus anak seorang diri. Memperlihatkan hasil didikannya yang menjadi sangat tidak terpuji.
Sampai di halaman rumah, keduanya turun dengan tergesa. Jika Rendra ingin masuk kamar dan melepaskan penat dengan tidur, tidak dengan Yuanita yang ingin memaksakan kehendaknya.
“Rendra!” Berlari mengejar Rendra yang hendak menaiki tangga. Berteriak dengan sangat keras supaya putranya itu mau menghentikan langkah. “Berhenti, Rendra!”
“Mama bilang berhenti, Rendra!!”
Mengesah pelan, Rendra memilih tak melanjutkan langkahnya. Semarah apapun ia pada sang ibunda tercinta, ia tetap menghormatinya meaki kecewa kali ini terlalu dalam. Memilih berhenti dan mendengarkan perkataannya. Meski ia tahu ini akan lama dan menguras emosi, tapi ini harus ada kejelasan. Ia harus menegaskan pilihannya.
“Apa lagi sih, Ma?” Raut wajah malas bercampur kesal yang sangat kentara tentang isi hatinya. Bahkan nada suaranya menguat karena kejengkelan.
“Mama belum selesai berbicara.”
“Kalau Mama mau bahas soal tadi, sorry, aku nggak berminat."
“Tapi dia terbaik buat kamu, Rendra!”
Wajah Rendra mengeras. Mempertemukan giginya sambil menahan geram. Entah kenapa Mamanya tidak mau mengerti. Dia tidak suka dan tidak cinta. Jadi, kenapa masih dipaksa?
“Terbaik?” Rendra tertawa mencemooh. “Ma, dia janda dan aku seorang perjaka. Kita nggak sepadan! Dia bukan level Rendra, Ma.”
Kali ini Mamanya yang tertawa sumbang, membalikkan perkataan Rendra dengan telak hingga membuat Rendra bungkam menyisakan bola matanya yang bergerak gusar, “Perjaka?” kembali tawa mengejek itu keluar dari wanita itu. Kini kemenangan berbanding terbalik. “Yakin kamu masih perjaka?”
Yuanita mengitari Rendra, putranya tahu dia salah bicara. “Apa perlu Mama bantu menghitung berapa hotel dan villa yang kamu datangi bersamanya? Atau …,” ucap Nyonya Yuan sengaja menggantung ingin melihat reaksi putranya.
“Oke, fine!” Rendra kalah. Ia sadar selama ini Mamanya tahu kelakuan buruknya hanya saja memilih diam. Kembali ia menghadap sang Mama. Ia tahu pembicaraan ini akan semakin lama karena ucapannya sendiri. Membuka tabir yang ia pikir tertutup baik.
“Mama belum selesai bicara, Rendra.”
“Aku tahu aku salah ngomong. To the point saja.” Wajahnya sudah pasrah. Ia lelah. Apalagi pembahasan berat seperti ini harus segera diakhiri dengan sebuah keputusan mutlak.
“Kamu bukan orang suci yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, Rendra. Jadi kamu tidak berhak menghakimi Melda seperti itu.” Yuanita melangkah mundur. Menatap putranya dari jauh. Sekadar ingin tahu dimana ia melakukan kesalahan sampai Rendra berbuat seperti ini.
“Apa pernah Mama mengajari kamu bersikap buruk dan tidak sopan pada orang lain? Apa pernah Mama mengajarimu menilai sesuatu dengan sekali lihat? Apa pernah Mama berbuat kasar padamu sehingga kamu kasar kepada mereka?”
Rentetan pertanyaan itu meluncur dari mulut Yuanita. Ia tak menyangka putra kesayangannya mampu berkata sekejam itu pada seorang wanita. Padahal ia selalu mengajari untuk selalu melindungi dan menjaga wanita dengan baik.
“Oke kalau kamu tidak cinta dan tidak suka dia, tapi apa pantas kamu berkata seperti itu? Oke, dia memang janda, tapi apa pantas dia menerima penghinaan itu? Menyakiti hati mereka dengan lidahmu?”
Suara Yuanita mengecil. Dadanya sesak. Tangis yang dari tadi ia pendam akhirnya meluber. Lalu jatuh terduduk memegangi dadanya. Sibuk menenangkan hatinya sendiri. Dulu ia bisa mengatasi penghinaan ini sendirian. Namun, entah kenapa sekarang tidak. Hatinya ikut sakit melihat Melda diperlakukan seperti itu.
“Mama.” Rendra menghampiri Mamanya, tapi berhenti ketika satu tangan wanita itu diangkat yang mengartikan tak ingin didekati.
Masih belum mau bicara, Yuanita terus menangis mengeluarkan semua beban yang mengimpit dada. Sedangkan di depannya Rendra menatap takut. Ada perasaan sedih dan juga marah. Berpikir ini semua karena ulah Melda. Jelas salah Melda.
Semua pembantu hanya berani melihat dari jauh. Pertengkaran majikannya kali ini yang terbesar. Melihat nyonya menangis seperti ini adalah yang pertama kali setelah sekian lama.
“Ma ….”
“Jangan mendekat.”
“Mama.”
“Jangan mendekat!” teriaknya sambil menunduk. Alasan Yuanita marah bukan karena perjodohan ini batal, tapi pada Rendra yang menghina dirinya secara tidak langsung.
Rendra hanya menelan ludah. Bingung harus berbuat apa. Padahal ia sudah berjanji takkan membuat Mamanya menangis lagi, tapi kini ia ingkar. Sekali lagi mamanya menangis karena dirinya. Mata Rendra mulai berembun. “Ma ….”
“Sekarang Mama tahu bagaimana rasanya ditolak oleh seorang laki laki karena status kita. Meski alasan yang dilontarkan tidak sama tapi setidaknya mereka masih menghargai Mama.”
“Ma.”
“Mama dan Melda sama-sama tidak ingin menjadi janda, Rendra. Kita ingin akhir hidup yang bahagia. Kita ingin bisa menatap dunia dengan kepala terangkat. Bukan menunduk karena status kita yang selalu menjadi gunjingan. Kita ingin bisa tertawa lepas menghilangkan status kita meski sementara. Tapi, ucapan kamu menampar Mama, Rendra. Menyadarkan Mama bahwa janda tidak berhak bahagia. Janda tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua dan bahwa janda cukup sadar diri bahwa dirinya janda.”
Melangkah menaiki tangga, Yuanita memilih meninggalkan Rendra yang tergugu pada ucapannya sendiri. Ia baru sadar ia telah salah besar. Menyakiti yang bukan hanya Melda dan keluarganya, tapi juga hati mamanya.
“Terima kasih karena menyadarkan Mama. Mama baru tahu bahwa seorang perawan yang tidak suci ketika malam pertama lebih mulia dibanding Janda terhormat seperti Melda di hadapan kamu.”
Mengusap wajahnya kasar, Rendra segera berlari memeluk mamanya dari belakang dan membisikkan kata maaf. Menyesal atas ucapannya. Ia tak sadar jika ucapannya berakibat sangat fatal. Niatnya hanya menolak perjodohan ini. Tidak lebih dari itu.
Rendra baru sadar ucapannya lebih menyakiti hati mamanya daripada calon pengantin itu sendiri. Tidak menikah hingga ia dewasa seperti sekarang adalah hal paling berat. Karena bukan hanya diharuskan kuat, Mamanya harus tegar di setiap cobaan, hinaan dan gunjingan. Merawat dan membesarkan seorang diri. Hanya memikirkan kebahagiaannya tapi lupa dengan dirinya sendiri.
“Maaf, maaf, maaf,” lirih Rendra. Ia sungguh menyesal, tapi menyesalpun tak bisa mengubah apa yang terjadi.
“Tidak apa, Nak. Perkataanmu membuat Mama sadar, bahwa janda tidak berhak bahagia.”
“Tidak! Tidak, Ma. Mama berhak bahagia,” ucap Rendra di sela tangisnya. “Rendra minta maaf, Ma. Rendra menyesal.”
“Tidak apa, Sayang. Mama memaafkanmu. Malah, Mama berterima kasih.” Rendra mendongak tidak paham yang dibalas senyuman kecil oleh Mamanya. “Setidaknya Mama jadi tahu apa pemikiran mereka ketika menolak Mama. "
"Tidak, Ma. Bukan begitu."
"Pergilah. Menikahlah dengan wanita pilihanmu. Tapi jangan harap mama akan datang."
Melda mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Tak peduli dengan baju yang basah kuyup. Tangisan yang dari tadi ia pendam terus menerus ia keluarkan. Beruntung tersamarkan dengan bunyi air yang jatuh sehingga sekeras apapun ia menangis dan berteriak takkan terdengar dari luar. Logikanya berpikir seperti itu.
Melda menangis bukan hanya karena ucapan sang calon suami yang kini berubah menjadi mantan calon suami. Namun, karena tidak sekali dua kali ia mendengarkan kata-kata buruk tentang dirinya. Ia lelah.
Bukan maunya. Sumpah demi apapun bukan mau Melda hidup dengan status yang kini ia sandang. Ia manusia biasa yang ingin bahagia, tertawa lepas dan berjalan mendongak meski status itu miliknya.
Namun, bisakah mereka menatap Melda seperti itu? Sebagai seorang wanita biasa? Sebagai seorang wanita pada umumnya? Sebagai masyarakat yang juga butuh teman dan sosialisasi? Bukan Melda orang sang janda, tapi perkataan orang-orang yang terus mencibir membabat habis rasa percaya dirinya hingga tak bersisa. Membatasi ruang gerak serta lingkup sosialisasinya.
Belum lagi tentang dirinya yang dianggap sebagai benalu di keluarga mertuanya. Iya, Melda memang hidup di rumah mertuanya. Sudah berkali-kali ia mencoba pergi diam-diam, tapi mertuanya selalu menahannya. Menyuruhnya untuk menetap dan menjadi anak angkat mereka. Bahkan mereka sampai bersujud memohon pada Melda untuk tetap tinggal. Lantas, apa ia tega? Tidak.
Melda paham kalau Aldo Bramantyo adalah anak tunggal, sehingga kini ia diangkat sebagai anak untuk menahan dirinya, tapi apa mertuanya tidak tahu diluar sana banyak orang yang membicarakannya? Menggunjingnya? Membuat cerita fiksi tentangnya?
Ia difitnah telah membunuh suaminya sendiri. Tidak sampai disitu, ia juga di tuduh sengaja membiarkan mertuanya hidup karena ia membutuhkan tanda tangannya untuk mendapatkan harta warisan. Tuduhan kejam tanpa bukti.
Dan sampai saat ini mereka terus berpandangan negatif pada Melda. Pada statusnya juga pada sikapnya. Meskipun jutaan kali Melda menampik. Benar apa kata pepatah 'Akan sia-sia menjelaskan tentang diri kita pada seseorang yang membenci kita.'
Melda mematikan shower, melepas bajunya dan berganti dengan handuk baju yang tersedia. Sudah cukup tangisannya hari ini. Ia tak mau membebani mertuanya yang sudah ia anggap seperti orang tua kandung. Pasti nanti akan ada pertanyaan kenapa kantung matanya menghitam.
"Mama!!" Melda begitu kaget saat melihat mertuanya sudah ada di ranjangnya. Menelan ludah susah payah.
"Kamu kenapa mandi?" tanya Rima. Melipat kening melihat menantu yang sudah ia anggap anak sendiri itu mandi. Wajahnya terlihat ramah dengan senyum tipis.
"Oh itu ... Ah iya, Melda gerah, Ma. Iya gerah." Melda menganggukkan kepalanya meyakinkan jawabannya sendiri. Karena jawaban itu keluar secara spontan. Ia belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang pasti keluar saat melihat dirinya.
"Sini." Rima menepuk ruang di sebelah kanannya.
Menurut, Melda bergerak ke tempat yang diarahkan. Begitu terkejut ketika mertuanya tiba-tiba memeluknya. Bahkan tak lama setelah itu terdengar isakan. Air yang keluar merembet membasahi handuknya. Melda masih diam tak bergerak. Tak tahu harus apa. Jantungnya bertalu ingin ikut menangis.
"Maaf." Setelah beberapa menit kata itu terucap dari bibir mertuanya. "Maafkan Mama. Mama janji itu tadi yang pertama dan terakhir."
Tangisan itu semakin kencang. Melda hanya menatap kosong ruangan di depannya. Ia pikir hanya dirinya yang terluka akan ucapan Rendra. Ia pikir, mertuanya bersifat egois. Ia pikir mertuanya sudah lelah menampungnya. Ternyata ia salah. Mertuanya bisa merasakan kesakitan, kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya.
"Maafkan Mama. Andai Mama tahu kalau dia sejahat itu, Mama tak akan menyetujui usul ini." Melda mengangkat tangannya mengelus punggung yang bergetar itu. Ternyata ini usul sahabat mertuanya.
"Mama mohon jangan pergi. Hanya kamu yang kami miliki setelah kepergian Aldo."
Mata Melda mengembun. Ia juga tak punya siapapun semenjak kepergian Aldo. Ia yang sebatang kara bertemu dengan Aldo yang sempurna. Lalu, Aldo pergi menghadap sang pencipta dan ia tak punya siapapun lagi di dunia ini. Namun, ia salah, ia masih punya mertua yang menganggapnya seperti anak kandung.
"Melda nggak akan ninggalin Mama apapun yang terjadi. Melda janji."
"Terima kasih, Sayang."
Ia juga butuh sandaran dan kasih sayang, di sini ia mendapatkan semuanya.
"Sekalipun ia bersujud padamu, Mama tidak akan merestui. Dia bukan pria baik dan Mama tidak ingin kamu hidup bersamanya."
"Iya, Ma. Sekarang Mama tidur, ya. Ini sudah larut," ucap Melda. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Ingat kata dokter, Mama tidak boleh terlalu capek dan tidur terlalu malam. Mama harus istirahat yang banyak."
"Mama takut ...."
"Melda janji, besok pas Mama bangun, Melda tetap di rumah ini."
Mertuanya butuh seseorang untuk menjaga dan merawat mereka. Menyayangi sepenuh hati dan selalu menghormatinya. Melda butuh orang tua untuk berbagi keluh kesah dan seseorang yang menguatkan hatinya. Mereka saling membutuhkan dan mereka memilih bertahan setelah kehilangan.
Mertuanya menurut dan pergi tidur. Melda menyeka air matanya. Bergerak ke lemari hendak mengambil piyama. Namun urung saat tangannya malah bergerak mengambil kemeja milik suaminya yang masih tertata rapi di lemari. Menarik baju itu dan mencium aroma suaminya lalu memakai kemeja itu hingga tertidur dengan lelap. Ia yakin akan bermimpi indah.
Ia kembali menangis. Andai bukan wasiat, ia akan memilih pergi jauh dan memulai hidup baru. Meski status janda tetap ia sandang, setidaknya ia akan nyaman dengan lingkungan baru. Bukan di lingkungan lama yang penuh dengan manusia bertopeng.
❄❄❄
"Pagi, Pa, Ma."
"Pagi, Sayang."
"Pagi juga, Mel." Rudi meminum kopinya. Memerhatikan menantunya yang tengah mengolesi roti dengan selai. "Gimana pabrik, Mel?"
Meletakkan pisau yang di gunakan untuk mengolesi, Melda mengesah pelan. "Kayaknya Melda mau pakai tepung lain deh, Pa. Tepung yang biasanya kita pakai itu semakin lama semakin naik harganya. Belum lagi kualitas juga menurun. Efeknya ke kita besar, Pa."
"Tapi Mel, kalau kamu mau pakai tepung lain, kamu harus melakukan test pada semua jenis roti, cocok tidak?"
Rima tersenyum hangat. Melihat keakraban antara suami dan menantunya membuat hatinya menghangat. Mungkin dia memang kehilangan Aldo anak kandungnya, tapi Melda sang menantu bisa bersikap baik pada dirinya. Mencintai dirinya seperti ibu kandung.
Ia memang sengaja menahan Melda supaya tidak pergi. Selain ia menyayangi wanita itu, ia sangat percaya padanya. Bahkan setelah dua tahun memegang pabrik, keuangan selalu bergerak naik dan tak pernah ada kesalahan. Bagi Rima menantunya itu wanita spesial yang dikirimkan tuhan untuknya. Menggantikan peran Aldo dengan sangat baik. Rima berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan sang menantu, untuk menahannya untuk tetap di sisinya.
"Sarapan, Sayang. Bukan bicara pekerjaan," sela Rima kala melihat roti di hadapan mereka masih utuh. "Pa, anakmu itu harus sarapan. Jangan ajak bicara terus."
"Maaf," lirih Rudi. "Makan dulu, Mel."
"Masih nunggu nasi goreng dari Mbok Nunik Pa, Ma."
"Lha, kenapa nggak bilang Mama, Mel? Tahu gitu Mama yang buatin," ucap Rima beranjak ke dapur berniat mengambilkan nasi goreng menantunya.
"Nggak usah ke dapur, Ma. Di tungguin aja. Melda juga nggak keburu, kok." Melda tersenyum hangat.
"Mel, apapun yang mengganggu hatimu katakan pada kita. Kita akan selalu mendengarkan dengan baik. Jangan simpan sendiri."
"Iya, Pa."
"Papa janji kejadian tadi malam tak akan terulang lagi."
"Terima kasih."