Bab 1

“Mia, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?” ucap Julian sukses membuat sang sekretaris menghentikan langkah. Dua detik kemudian, gadis yang semula berjalan menuju pintu itu, berbalik menghadapnya.

“Ada apa, Tuan?”

Sambil menyempalkan tangan ke dalam saku, sang CEO mengitari meja kerja dan berhenti tepat di hadapan sekretarisnya.

“Max, kau, dan aku tumbuh bersama sejak kecil. Dengan kata lain, kau pasti sudah sangat mengenal kami,” ujarnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Baru kali ini Mia mendapati raut semacam itu. “Menurutmu, adikku itu orang yang seperti apa?”

Mendapat pertanyaan yang terkesan konyol, sang sekretaris hampir saja mengerutkan alis. Namun, demi menghargai bosnya, ia terpaksa mempertahankan tampang datar.

“Tuan Max orang yang cerdas dan penuh perhatian. Meskipun dia tegas dan ambisius, dia tetap bisa menempatkan keluarga sebagai prioritasnya. Tipikal pria idaman banyak wanita,” jawab Mia jujur.

“Begitukah? Lalu, apakah kau pernah menaruh hati padanya?”

Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu, Mia sontak menaikkan alis. “Maaf?”

“Kau mengatakan kalau adikku itu idaman banyak wanita. Apakah kau termasuk salah satu dari mereka?”

“Kenapa Anda tiba-tiba menanyakan hal semacam itu, Tuan?” balas sang sekretaris sambil memiringkan kepala.

Julian pun mengangkat bahu sekilas. “Hanya ingin tahu saja. Jadi, apakah kau pernah menyukainya?”

Selang perenungan sejenak, Mia mengangguk tegas. “Ya. Sampai sekarang pun, aku masih menyukainya.”

Hanya dalam sekejap, jantung sang CEO berdebar tak karuan. Ia tidak menduga jika pertanyaan spontannya malah mendatangkan keresahan yang lebih hebat.

“Lalu, apakah karena itu kau tidak pernah menerima cintaku? Karena kau masih berada dalam bayang-bayangnya?” desah Julian yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan.

Alih-alih menjawab, Mia malah menghela napas tak percaya. “Kenapa Anda berpikir begitu? Tentu saja tidak.“

“Tapi, kau baru saja mengaku masih menyukainya,” sanggah sang pria dengan napas yang menderu.

“Bukankah tadi Anda sendiri yang bilang kalau kita bertiga tumbuh bersama-sama? Sejak dulu, aku menganggap Tuan Max sebagai kakakku. Wajar jika aku menyukainya. Dia juga selalu baik dan menganggapku sebagai adik.”

Menyadari bahwa dirinya telah salah paham, Julian berkedip-kedip tanpa kata. Ia tidak tahu bahwa basa-basi juga bisa membahayakan hati.

“Apakah ledakan emosi Anda sedang kambuh, Tuan? Pikiran Anda sepertinya agak kacau,” sindir Mia dengan tampang polos.

“Tentu saja tidak. Aku hanya mengujimu saja,” gumam Julian sambil menggaruk pelipis.

“Menguji bagaimana?”

Kesal karena gadis di hadapannya itu sama sekali tidak peka, sang CEO spontan berdecak. “Kesetiaanmu terhadap Gabriella. Siapa tahu, kau tiba-tiba mengkhianati persabahatan kalian dan merebut Max darinya.”

“Sepertinya, Anda bukan menguji kesetiaan melainkan kesabaran saya, Tuan. Sebelum kita bertengkar lagi, izinkan saya kembali bekerja.”

Sebelum gadis itu sempat berbalik, Julian tiba-tiba menahan kedua lengannya.

“Maaf, tadi itu ... aku hanya bercanda saja. Sebetulnya, aku ingin mengetahui pandanganmu terhadapku. Bagaimana sosok Julian Evans di matamu? Kenapa kau tidak pernah serius setiap aku mengutarakan perasaan?” ucap sang pria dengan nada lembut.

Mia dapat merasakan ketulusan pada sorot mata yang hangat itu. Sebelum ia tenggelam di dalamnya, secepat kilat gadis itu menepis tangan sang CEO.

“Maaf, Tuan. Kita sedang berada di kantor, dan sekarang adalah jam kerja. Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan.”

“Tapi semua agenda hari ini sudah terlaksana, dan kita tinggal menunggu jam pulang,” bujuk Julian dengan penuh harap.

Mia sudah hafal gerak-gerik pria itu. Setelah menahannya pergi, Julian akan menjelaskan tentang betapa ia mencintai Mia. Lalu, sang gadis akan menyangkal dan obrolan mereka akan diakhiri dengan pertengkaran.

“Maaf, Tuan. Hari ini, suasana hati saya sedang tidak bersahabat. Lebih baik, kita bicarakan nanti saja,” ujar sang sekretaris datar.

“Nanti, nanti, nanti. Mau sampai kapan kau menunda pembahasan ini?”

“Pembahasan apa, Tuan? Bukankah kita sudah mencapai kesimpulan. Saya tidak bisa membalas perasaan Anda.”

“Mustahil!” hardik Julian sambil mengguncang lengan sang sekretaris sehingga gadis itu terbelalak. “Kau memiliki perasaan yang sama denganku, Mia. Aku bisa merasakan hal itu.”

Sambil meringis, sang sekretaris menggeleng samar. “Tolong jangan mengada-ada, Tuan.”

“Aku berkata apa adanya. Kau memang mencintaiku, Mia. Apa kau lupa bagaimana paniknya dirimu saat aku diserang oleh penjahat dulu? Apa kau tidak sadar sebesar apa perhatian yang selalu kau berikan untukku?”

“Itu karena saya adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Anda, Tuan. Tolong jangan salah paham,” kilah Mia sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang CEO.

Tiba-tiba, Julian merapatkan pandangan, meneliti bola mata sang gadis dengan saksama.

“Sekarang, katakan kepadaku. Apa yang membuatmu selalu menghindar dariku? Aku sudah memikirkan segala jenis kemungkinan. Yang terburuk adalah kau diam-diam menyimpan cinta kepada Max. Namun nyatanya, itu tidak benar. Lalu, apa?” selidik sang pria dengan suara lambat dan penuh penekanan.

Melihat keseriusan sang pria, Mia bergeming dengan rahang terkatup rapat. Mata gadis itu kini bergetar hebat. Namun, bibirnya sama sekali tidak bergerak. Dengan raut sedingin itu, Julian tidak akan sanggup menembus pertahanannya.

“Kau tidak ingin bicara? Kau tega membuatku penasaran seumur hidup?” desak Julian sembari melebarkan pandangan, berharap Mia akan tersentuh oleh kebulatan tekadnya.

Akan tetapi, beberapa detik berlalu, sang sekretaris masih kukuh dengan mulut dan hati yang terkunci rapat. Mengetahui usahanya gagal lagi, Julian akhirnya tertunduk dan memejamkan mata. Sembari mendesah, ia meratapi nasib cintanya yang menyedihkan.

“Kenapa kau selalu saja diam, Mia? Setidaknya, katakanlah alasan kau menolakku. Aku bisa memperbaiki diri, atau ... mencari solusi. Tapi jangan gantungkan aku seperti ini,” bisik sang pria sebelum kembali menegakkan kepala dan menampakkan mata merahnya. Ia benar-benar frustrasi menghadapi sang cinta.

Selang keheningan sejenak, bibir Mia akhirnya mulai membuka. Secercah harapan otomatis mencerahkan wajah sang pria.

“Apakah sekarang aku boleh pergi?” tanyanya membuat Julian kembali terpejam dan menarik napas panjang. Benih-benih harapan telah musnah sebelum sempat bertunas.

Dengan berat hati, pria itu akhirnya melepaskan lengan sang sekretaris. “Ya,” desahnya dengan anggukan miris.

Dengan wajah kaku, Mia melangkah mundur. Tanpa mengucapkan maaf ataupun permisi, gadis itu keluar dari ruangan, meninggalkan Julian dengan perasaan kacau.

“Gadis itu ... teganya dia membiarkanku menderita begini? Apakah dia sengaja? Dia pasti ingin memberi hukuman atas kejahatan yang dulu kulakukan,” pikir Julian sebelum mengacak rambut dan membanting diri di sofa. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.

Setelah bergeming meresapi keheningan, sang CEO akhirnya meraih ponsel. Begitu alat itu menempel di telinga, ia mendongak, membiarkan kepalanya beristirahat pada puncak sandaran sofa.

“Ada apa, Julian?” tanya seorang wanita tanpa sempat mengucapkan salam.

“Laporan ke-136, usahaku lagi-lagi gagal. Mia hanya diam dan menatapku dengan raut datar,” ujarnya dengan nada rendah.

“Memangnya apa yang kau lakukan? Apakah ada yang berbeda dari cara yang biasa?”

Mendapat pertanyaan semacam itu, sang CEO sontak meringis. Ia baru sadar bahwa emosinya telah mengacaukan rencana. “Tidak ada. Aku hendak memancingnya untuk memberi pendapat tentang diriku. Tapi, aku gagal.”

“Dasar gegabah,” celetuk wanita di seberang ponsel.

Sedetik kemudian, ocehan bayi terdengar seolah menyambung ucapan ibunya. “Yayayaya ....”

“Dengarlah, bahkan keponakanmu setuju denganku.”

Selang satu embusan napas cepat, Julian mengangguk samar. “Benar. Aku memang gegabah.”

“Nanti, cobalah dengan lebih tenang. Jika terus gagal mengendalikan emosi, kau tidak akan pernah mendapat kejelasan darinya. Wanita tidak suka didesak, Julian. Buatlah Mia bicara tanpa tekanan ataupun paksaan.”

Sambil menarik napas panjang, mengumpulkan asa, Julian kembali menegakkan badan. “Baiklah. Aku akan mencobanya lagi.”

“Ingat! Jangan sampai emosimu meledak lagi! Aku tidak mau menerima laporan ke-1000,” tegas Gabriella, sukses mewarnai wajah Julian dengan kengerian.

“Jika itu sampai terjadi, sepertinya ... kau harus segera mengirimku ke rumah sakit jiwa.”

Bab 2

Ketika keluar dari ruangan, mata Julian otomatis terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan sang sekretaris di meja kerja.

“Apakah Mia sudah pulang? Kenapa dia tidak menungguku?” gumam pria itu sambil memeriksa kolong meja. Sesuai dugaan, tidak ada satu pun tas yang tergantung di sana. “Mia benar-benar meninggalkanku?”

Selang perenungan singkat, Julian terkesiap. Sesuatu telah melintas dalam benaknya. Tanpa membuang waktu, ia berjalan cepat, berusaha untuk menemukan sang sekretaris.

“Mia sudah terbiasa menghadapi ledakan emosiku. Tidak mungkin dia marah,” gumam sang pria, menyangkal pemikiran sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika kesabaran sang gadis tidak bersisa. Bagaimana cara mendapatkan hati Mia jika gadis itu tidak lagi mau mendengarkan kata-katanya?

Tepat ketika Julian berbelok, matanya menangkap bayangan sang sekretaris. Gadis itu baru saja memasuki lift.

“Mia!” panggil sang CEO tanpa memperhatikan volume suaranya. Sedetik kemudian, pria itu berlari menghampiri. “Mia!”

Malangnya, ketika ia tiba, pintu telah menutup dan angka pada layar mulai bergerak turun.

“Ck, kenapa dia tidak menggubris panggilanku?” gerutu Julian dengan napas yang mulai menderu. “Apakah dia benar-benar marah?”

Sambil berdecak kesal, sang CEO bergegas masuk ke lift sebelah. Ia tidak tahu bahwa sang sekretaris juga sedang memikirkan hal yang sama tentang dirinya.

“Apakah Tuan Julian marah karena aku pulang begitu saja?” batin sang gadis dengan alis berkerut. Sembari mencengkeram tali tasnya lebih erat, ia menghela napas cepat. “Tidak, tidak. Aku tidak boleh goyah. Mulai sekarang, aku harus bersikap lebih tegas. Tidak boleh ada perhatian lagi. Jangan sampai Tuan Julian menaruh harapan. Pemikirannya tentang aku menyukai Tuan Max sudah melampaui batas. Semua ini harus segera dihentikan sebelum timbul pemikiran lain yang lebih menyesatkan.”

Tiba-tiba, lift berdenting. Begitu pintu terbuka, dua orang staf perempuan masuk sambil tertawa lepas. Namun, begitu melihat sang sekretaris, mereka langsung tertunduk dan bungkam.

“Kenapa dia bisa menggunakan lift umum?” bisik staf yang berambut lebih panjang.

“Mungkin dia sedang bertengkar dengan Tuan CEO,” sahut rekannya sambil melihat pantulan wajah Mia di pintu lift yang mengilap. “Atau mungkin, dia sudah bosan mengejarnya. Dia gagal mendapatkan Tuan Max. Lalu sekarang, sudah dua tahun lebih, Tuan Julian masih belum juga melamarnya. Dia pasti kecewa karena hubungan mereka digantungkan.”

Mendengar omongan semacam itu, hati Mia mendadak panas. Namun, sebisa mungkin, ia mempertahankan tampang datar.

“Kudengar, dia anak seorang pelayan keluarga Evans,” bisik staf yang berbibir tipis itu lagi.

“Benarkah?”

“Entahlah. Tapi, jika itu benar dan dia masih berusaha mendekati Tuan CEO, dia sungguh tidak tahu malu. Sekalipun jabatannya adalah sekretaris, tetap saja dia berasal dari kasta rendah. Derajat keluarga Evans bisa jatuh jika Tuan Julian menikahinya.”

Tanpa memikirkan perasaan Mia, staf yang berambut panjang langsung mengangguk. “Benar. Lihatlah Tuan Max sebagai contohnya. Setelah menikahi gadis miskin itu, dia langsung ditendang dari perusahaan oleh ayahnya sendiri. Meskipun sekarang dia mulai bangkit, tetap saja, derajatnya sudah turun di mata semua orang di Quebracha.”

“Tapi, aku bisa memaklumi jika Tuan Max jatuh cinta kepada Gabriella. Apakah kau pernah melihatnya secara langsung? Dia benar-benar cantik. Kudengar, dia juga seorang jenius. Wajar jika Tuan Max menjadikannya seorang istri.”

“Benar juga. Dan putra mereka ... apakah kau sudah melihatnya? Dia sangat lucu. Aku mengikuti kesehariannya lewat media sosial. Dia sangat menggemaskan,” sahut wanita yang mulai lupa mengontrol suara. Ia seakan tidak peduli jika Mia dapat mendengar.

Tiba-tiba, wanita berbibir tipis menepuk lengan rekannya. “Lalu, apakah kau bisa membayangkan jika Tuan Julian menikahi Nona Sekretaris? Tidak ada yang hebat darinya. Anak mereka pasti tidak akan selucu putra Tuan Max dan Gabriella. Apa yang bisa mereka andalkan untuk mempertahankan derajat?”

Udara dalam paru-paru Mia semakin bergemuruh, sementara air mata telah bersiap melapisi penglihatan. Gadis itu tidak tahu berapa lama lagi ia sanggup bertahan.

Beruntung, lift tiba-tiba berdenting. Begitu pintu terbuka, segerombolan pegawai langsung menyerbu masuk.

Berada di dekat orang sebanyak itu, omongan miring tentang Nona Sekretaris pun tidak dilanjutkan. Kesedihan perlahan mulai memudar. Mia akhirnya dapat menarik napas panjang dari mulutnya.

“Syukurlah,” batinnya sembari melirik ke arah para wanita yang memasang tampang polos. Kedua orang itu sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka tidak peduli jika di balik ekspresi dingin sang sekretaris, tersimpan kesedihan yang mendalam.

Setibanya di lobi, Mia berjalan dengan langkah gontai. Pikirannya masih tertuju pada perkataan para staf, hingga tiba-tiba, seseorang menyentak lengannya.

“Kenapa kau pergi tanpa mengabariku?”

Hanya dalam sekejap, mata sang gadis terbuka lebar. Dengan desah napas tak percaya, ia memeriksa keadaan sekitar. Orang-orang sedang heboh menyaksikan kelakuan CEO mereka. Julian harus segera disadarkan.

“M-maaf, Tuan. Tapi, saya sedang terburu-buru,” ucap Mia datar. Dengan raut kaku, ia mendorong tangan sang pria agar melepasnya.

“Memangnya kau mau ke mana?”

Secepat kilat, Mia mengarang alasan. “Menemui ibu saya, Tuan.”

“Ada apa dengan Bibi?” tanya Julian tanpa memedulikan keadaan sekitar.

“Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya berjanji untuk meluangkan waktu berbincang dengannya sepulang kerja. Akhir-akhir ini, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan,” ucap Mia dengan wajah yang agak tertunduk. Tidak biasanya ia khawatir jika kebohongannya terdeteksi.

“Kalau begitu, ayo pergi bersama. Aku juga harus ke sana. Cayden sudah menungguku,” ajak Julian dengan anggukan tegas.

Mia spontan melirik ke sekelilingnya. Banyak mata masih mengamati gerak-gerik mereka. Jika ia menolak, pasti akan terjadi keributan ataupun kesalahpahaman. Dengan kondisi semacam itu, sang gadis akhirnya terpaksa menerima tawaran. “Baiklah.”

Tanpa menunggu Julian, Mia berjalan ke lift khusus CEO. Gadis itu tidak ingin menjadi tontonan lebih lama. Semakin cepat ia menghilang dari tatapan sinis para pegawai wanita, semakin cepat pula dirinya dapat memarahi sang CEO atas tindakan yang sangat tidak rasional.

“Kenapa Anda melakukan itu, Tuan?” serang Mia begitu Julian masuk dan menutup pintu mobilnya.

Dengan alis melengkung tinggi, pria itu membalas, “Melakukan apa?”

“Menghentikan langkah saya di lobi dan terang-terangan menawarkan tumpangan,” sahut sang gadis bersamaan dengan gemuruh napas yang meningkat.

“Apakah ada yang salah?” timpal Julian sama sekali tanpa beban.

Mendapat respon semacam itu, sang sekretaris spontan melepas kekesalan di udara. “Tentu saja salah. Apakah Anda lupa sudah menjadi seorang CEO?”

Tanpa berpikir panjang, sang pria menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa Anda tidak menjaga reputasi seperti tadi?”

Tiba-tiba, mata Julian menyipit. “Apakah kau berpikir bahwa menawarimu tumpangan dapat merusak reputasiku?”

“Tentu saja. Semua yang melihat pasti akan berpikiran macam-macam tentang kita.”

Mendengar nada bicara yang mulai naik, sang pria menggeleng tak mengerti. “Selama dua tahun terakhir, kita selalu pulang bersama. Kenapa sekarang kau mendadak berpikir demikian dan keberatan?”

“Karena saya baru sadar. Seorang CEO tidak seharusnya terlalu dekat dengan sekretaris. Itu bisa menimbulkan rasa iri dalam hati pegawai lain,” jawab sang gadis dengan kerutan kecil di pangkal alis.

“Perkataanmu sungguh tidak masuk akal, Mia. Siapa pun pasti tahu bahwa seorang CEO memang paling dekat dengan sekretarisnya.”

“Tapi jam kerja telah berakhir, begitu pula dengan tugasku sebagai sekretaris. Sikap Anda tadi bisa menimbulkan kecurigaan dan kabar miring tentang kita. Mereka akan berpikir kalau kita sedang menjalin hubungan. Anda bisa dicap sebagai CEO yang tidak profesional dan berselera rendah,” sanggah Mia tegas.

Keheningan seketika mencekam. Julian baru saja membaca sesuatu dari bola mata sekretarisnya, sesuatu yang sejak dulu ia cari di sana. Kejujuran.

“Apakah itu alasanmu menolakku selama ini?” desah sang pria tak percaya. “Kau takut kalau hubungan kita menghancurkan reputasiku?”

Hanya dalam sekejap, Mia tersentak. Bibirnya bergetar tanpa kata. Ia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh Julian.

Demi menutupi isi hati yang telanjur terungkap, gadis itu menggeleng cepat. “Tidak. Jelas bukan itu alasannya.”

“Lalu apa?”

“Karena Anda bukan selera saya, Tuan. Seorang pria yang tidak memiliki keberanian ataupun pengendalian diri sama sekali tidak dapat diandalkan. Hal itu sering membuat saya muak.”

Mendengar pernyataan tersebut, napas Julian sontak menderu. Hatinya tercabik-cabik oleh gejolak rasa yang sulit untuk dideskripsikan.

Bab 3

“Apakah kau tidak pernah sedikit pun mencintaiku?” tanya Julian dengan nada rendah dan penuh penekanan.

Sembari mengepalkan tangan, Mia memaksakan kepalanya yang kaku untuk bergerak. “Ya, saya tidak pernah mencintai Anda, Tuan.”

“Omong kosong!” hardik sang pria sukses membuat sang gadis menahan napas. “Kau jelas menyimpan perasaan yang sama denganku, Mia. Beberapa kali, aku melihatnya di matamu. Tapi kenapa kau selalu saja menyangkal?”

“Itu hanya imajinasi Anda, Tuan. Saya tidak pernah memiliki perasaan semacam itu. Hubungan kita hanya sebatas anak buah dan atasan.”

“Bohong!”

Sedetik kemudian, Julian mencengkeram kepala dan meringis. “Kalau kau tidak pernah mencintaiku, lalu kenapa kau selalu setia berada di sisiku?” erangnya lirih.

“Karena saya berutang budi pada keluarga Evans. Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Anda dalam segala kesulitan.”

Mendengar alasan semacam itu, sang pria menggeleng dan mendesah. “Tidak mungkin. Kau bahkan menangis saat aku hampir mati dulu. Kebaikan dan perhatianmu bukan hanya karena patuh, Mia, tapi karena cinta,” ucapnya dengan nada memelas. Pria itu telah tunduk pada emosi yang menyerupai roller coaster.

Tanda terduga, sang sekretaris mulai tertawa hambar.

“Saya heran kenapa Tuan bersikeras memercayai hal yang tidak nyata. Cinta di antara kita hanyalah angan-angan. Kalau Anda menganggap perhatian saya selama ini sebagai bentuk kasih sayang, maaf, Tuan. Anda salah. Ketimbang cinta, itu lebih mendekati iba,” ucap sang sekretaris dengan mata berkaca-kaca. Butuh segenap tenaga untuk gadis itu mampu melontarkan kata yang begitu kejam.

“Iba? Kau merasa kasihan padaku?” gumam Julian dengan alis melengkung maksimal.

Sambil mengeraskan rahang, Mia mengangguk. “Ya. Karena itu juga, saya tidak pernah mengutarakan alasan mengapa saya tidak bisa menerima Anda. Sudah jelas bahwa Tuan akan terluka, seperti saat ini. Maaf jika saya menyakiti perasaan Anda, tapi begitulah kenyataannya.”

Dalam keheningan, Julian menatap mata sang gadis lekat-lekat. Ia tidak melihat kejujuran di dalamnya. Namun mengapa, kata-kata sang sekretaris terdengar begitu mantap?

“Apa yang membuatmu merasa iba kepadaku?” tanya pria itu dengan suara pelan. Ia masih berharap menemukan celah untuk mendobrak pertahanan hati sang gadis.

“Seperti yang Anda katakan, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Baik buruknya sifat Anda telah terdata dalam otak saya,” jawab Mia lancar.

“Kalau begitu, katakanlah. Bagaimana sosok Julian Evans di matamu? Apa saja yang membuatmu merasa iba?”

Mengetahui bahwa sang pria sedang menguji, Mia pun meninggikan dagu. “Bukankah tadi sudah saya sebutkan? Anda tidak memiliki keberanian. Dalam satu hari saja, jari tangan ini tidak cukup untuk menghitung berapa kali Anda meminta konfirmasi saya dalam pengambilan keputusan. Anda terlalu takut menghadapi risiko ataupun kesalahan.”

Belum sempat Julian menanggapi, sang sekretaris telah kembali menyambung bicara. “Selain itu, Anda juga tidak memiliki pengendalian diri. Apakah Tuan pernah menghitung berapa kali Anda meluapkan emosi dalam satu hari?”

“Kau selalu saja menyinggung dua hal itu. Apakah tidak ada yang lain?” tantang Julian yang masih menaruh harapan.

“Ada,” sahut Mia tanpa terduga. Padahal, sang pria mengira bahwa gadis itu akan tergagap atau kebingungan mencari alasan. “Julian Evans adalah pria paling egois yang pernah saya temui.”

Mendengar julukan baru tersebut, alis sang CEO otomatis berkerut. “Tunggu dulu. Aku terima jika dikatakan sebagai pengecut ataupun memiliki kontrol emosi yang rendah. Kau pasti tahu bahwa aku sedang berusaha memperbaiki dua hal itu. Tapi, egois? Sejak kapan kata itu menempel pada diriku?”

“Sejak Anda memaksakan kehendak terhadap saya. Apakah Tuan sadar setiap kali mengklaim bahwa cinta Anda berbalas? Kurasa sudah lebih dari ratusan, atau bahkan ribuan kali. Bukankah itu hanyalah keinginan Anda semata? Salah satu bentuk dari keegoisan.”

Tiba-tiba, Julian tertawa getir. Kegilaan dalam otaknya sudah hampir teraktifkan. “Aku berusaha menyadarkanmu agar menerima kenyataan, tapi kau malah menyebutku egois?” Sambil menggeleng tak percaya, pria itu mendengus. “Sungguh tidak adil,” gumamnya sembari menyalakan mesin.

“Jika Anda tidak ingin dipanggil egois, berhentilah mendesak saya untuk menerima cinta Anda,” pinta Mia lantang meski kerongkongan telah menyempit. Tekadnya untuk bertahan jauh lebih besar dari gejolak dalam dada.

Tanpa memberi jawaban, Julian menginjak pedal gas. Ia tidak peduli jika mesin mobilnya belum panas. Darahnya yang mendidih telah mencapai kepala. Jika perdebatan dilanjutkan, dirinya tidak akan mampu mengendalikan gemuruh napas dan air mata.

Mengetahui kemarahan sang pria, Mia akhirnya terdiam. Dengan tatapan lurus menembus kaca depan, ia mempertahankan tampang dingin. Sesungguhnya, jantung gadis itu juga berdetak tak karuan. Namun, keresahannya bukanlah sesuatu yang bisa diungkapkan.

“Inilah jalan terbaik,” batinnya menenangkan hati yang meronta-ronta. “Mia Sanders bukanlah gadis yang tidak tahu diri. Aku tegar dan mandiri. Rasa ini pasti akan berlalu asalkan Tuan Julian tidak mengungkitnya lagi. Aku hanya perlu bertahan sedikit lebih lama.”

***

“Halo, Pangeran Kecil!”

Seorang wanita yang sedang memegangi putranya dalam bak mandi pun menoleh. Begitu melihat kehadiran Julian, ia langsung melambaikan jari-jari mungil sang bayi. “Halo, Paman,” ucapnya meniru suara anak kecil.

Begitu tangannya lepas dari genggaman sang ibu, Cayden langsung menepuk-nepuk air dengan gembira.

“Kenapa dia mandi malam-malam begini?” tanya Julian sembari ikut duduk di tepi bak mandi.

“Max memberinya sekotak es krim,” jawab Gabriella tanpa perlu menyertakan detail. Sang kakak ipar sudah bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

“Di mana adikku itu?” tanya Julian setelah mengangguk-angguk sejenak.

Sambil mengangkat sang bayi keluar dari air hangat, wanita itu menjawab, “Di ruang kerja, sedang menerima telepon dari klien.”

Selang keheningan sejenak, Gabriella akhirnya menoleh ke arah pintu. “Lalu, di mana Mia? Kupikir kalian akan ke sini bersama-sama.”

Mendengar nama itu, helaan napas lelah langsung berembus dari mulut sang pria. “Itulah yang ingin kubahas denganmu. Kami bertengkar hebat tadi, dan dia akhirnya mengatakan alasannya enggan menerima cintaku.”

Sembari membungkus Cayden dengan handuk, sang wanita menaikkan alis. “Apa alasannya?”

“Karena aku pengecut, tidak bisa mengendalikan diri, dan egois. Tapi aku yakin, itu semua hanya karangan. Dia pasti masih menyimpan alasan yang sesungguhnya.”

“Mia berkata seperti itu?” tanya Gabriella dengan nada tak percaya. Setelah berkedip-kedip cepat, ia berjalan menuju kamar dengan bayi yang asyik memainkan bulu-bulu halus di sekeliling tubuhnya.

“Ya. Dia bahkan mengatakan bahwa kebaikan dan perhatiannya kepadaku selama ini adalah bentuk dari rasa iba. Apakah kau bisa membayangkan kondisi hatiku?”

Tanpa berpikir panjang, Gabriella menggeleng cepat. “Aku tidak percaya seorang Mia bisa berkata seperti itu. Kita tidak sedang membicarakan Amber, ‘kan?” celetuknya sembari membaringkan Cayden di atas ranjang.

Mendengar nama yang telah lama hilang, raut Julian mendadak kaku. “Apa mungkin ... Mia bersikap begitu karena Amber telah kembali? Dia mengancam Mia lagi?”

“Tidak mungkin. Amber baru saja melakukan live video di media sosialnya. Dia sedang bermain seluncur salju entah di negara mana. Mungkin, perempuan itu mulai bisa melupakanmu.”

“Mustahil,” celetuk pria yang mulai asyik menemani keponakannya bermain handuk selagi Gabriella membuka lemari. “Perempuan licik seperti Amber tidak boleh mudah dipercaya. Dia mempunyai sejuta cara untuk mendapatkan keinginannya. Apakah kau tidak ingat betapa gigihnya dia saat mengincar suamimu?”

Sedetik kemudian, tawa kecil terlepas dari mulut Gabriella. “Ya, dia memang terlalu gigih. Tapi kau jangan lupa. Pada akhirnya, dia melepas Max dan beralih kepadamu. Setelah itu, tidak ada kabar tentang laki-laki lain di sekitarnya. Jadi, kemungkinan besar, dia masih menginginkanmu.”

Bosan membahas tentang sang mantan kekasih, Julian pun menghela napas. “Bagaimana kalau kita kembali fokus pada masalah utama. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku merasa kalau Mia semakin jauh dariku.”

“Yayayaya ...” oceh Cayden sukses menguraikan kerutan di pangkal alis pamannya.

“Benar. Kau harus mendengarkan perkataan Pangeran Kecil, Julian. Anak seusianya saja tahu harus bagaimana,” timpal Gabriella sembari mengoleskan lotion pada tubuh putranya.

Menyaksikan kerja sama ibu dan anak itu, sang pria pun mengerjap. “Memangnya, apa yang Cayden katakan?”

“Jangan menyerah dan teruslah berusaha.”

Mendapat jawaban yang begitu umum, Julian spontan meringis. “Aku sudah mencoba semua cara dan hasilnya malah seperti ini, Gabriella,” ucapnya hampir putus asa. “Kurasa, sebelum alasan Mia yang sebenarnya terungkap, aku akan tetap berada di titik yang sama.”

“Bagaimana kalau kau mengabaikan kecurigaanmu? Anggaplah alasan yang dijabarkan oleh Mia tadi sebagai suatu kejujuran. Apa yang akan kau lakukan?” tanya wanita itu sembari memakaikan popok sang bayi.

“Kalau itu alasan yang sesungguhnya, maka aku harus segera memperbaiki diri.”

Tiba-tiba, Gabriella menjentikkan jari. “Itulah jawabannya. Mengapa tidak kau tunjukkan kesungguhanmu untuk memenuhi kriterianya? Mungkin saja, Mia bisa tersentuh dan mau membuka hati. Kalau perlu, pintalah tantangan darinya.”

“Tantangan?”

Sang wanita spontan menyunggingkan senyum penuh makna meski matanya terus tertuju pada Cayden.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED