Bab 1

"Om, jadi suamiku ya? mau nggak?" tanya Nindya pada Andy. Gadis itu tengah asik menghisap permen lolipop merk x, yang sesekali ia lepaskan dari mulut mungilnya.

"Uhuk ... uhuk ...." sontak saja, pertanyaan itu membuat pria gagah dan bertubuh kekar itu terbatuk seketika. Bagaimana tidak, gadis cantik yang terbilang masih sangatlah muda itu, secara terus terang meminta dirinya untuk menjadi calon suaminya.

"Kenapa, Om? Aku serius loh, Om," ucap Nindya lagi.

"Nindya, berhentilah mengganggu Om Andy, sana masuk. Masih kecil kok sudah berani menggoda pria. Papa tidak suka ya!" tegur Rendy, papa Nindya.

"Baik, Pa ...." Dengan langkah gontai Nindya masuk kembali ke dalam rumah. Masuk menuju kamarnya, lalu menutup pintu dengan sedikit membantingnya.

"Maafkan Nindya ya, An," ucap Rendy seraya menyuguhkan secangkir kopi panas di hadapan rekan bisnisnya itu.

"Santai saja, Bang. Bukankah itu sudah biasa dilakukan Nindya, padaku," jawab Andy seraya terkekeh geli, kemudian ia menyeruput kopi panas yang baru saja diletakkan Rendy di atas meja.

Andy Wiguna, 30 tahun, pria sederhana yang memiliki karier sukses, melejit bak roket. Dirinya sudah menjadi seorang PNS sejak usianya menginjak angka 25 tahun, tepatnya seorang guru di sekolah Nindya, SMA Pelita Bangsa.

Pria yang terbilang tampan diantara pria-pria seusianya itu sudah menjadi rebutan para gadis, termasuk para siswi di sekolah tempatnya mengajar. Begitupun Nindya, yang tak mau kalah mengejar cinta sang guru, Andy Wiguna.

Andy sudah mengenal Rendy, papa Nindya, sejak lama, sejak pria muda itu belum menjadi apa-apa. Rendy yang mengenalkannya kepada bisnis yang kini mereka geluti bersama. Bisnis sederhana yang setiap bulannya tetap menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mengelola kos-kos'an khusus untuk siswa-siswi ataupun mahasiswa, juga mengontrakkan beberapa bangunan yang di sewa pemilik usaha.

Dari sanalah Andy mengenal Nindya, gadis polos yang dulunya ingusan kini sudah beranjak remaja, bahkan sudah berani menggodanya. Bukan cuma sekali, tapi entah sudah berapa kali ucapan itu ia lontarkan dari bibirnya.

"Astaga, Om Andy? Jadi, Om Andy seorang guru? Tidak pernah Nindya sangka, akan bertemu dengan Om disini. Apakah ini pertanda kita akan berjodoh, Om?" Begitulah kata Nindya saat pertama kali mereka bertemu di sekolah yang sama.

Bahkan dari sejak dulu, Nindya selalu memvonis dirinyalah yang akan jadi istri Andy.

Nindya baru saja menyelesaikan sekolahnya ditingkat SMA. Sesuai dengan titah sang papa, ia akan melanjutkan lagi kuliahnya. Cinta-citanya ingin menjadi seorang guru, bukan karena ia suka, tapi ingin di sukai oleh Andy, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta dari sejak kecil.

"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?" tanya Rendy pada Andy.

"Siapa? Raya? Masih, Bang," jawab Andy.

"Kapan kamu akan menikahinya? Jangan tunggu lama, sudah waktunya, lo," tegur Rendy lagi.

"Dianya belum siap, Bang. Masih fokus kuliah katanya, mungkin aku butuh kesabaran yang lebih untuk menikahinya," jawab Rendy, ia memainkan ponselnya sesekali kemudian menoleh ke arah papa Nindya.

"Makanya, Om. Nikah sama aku saja, aku sudah siap kok, jadi istri Om," celetuk Nindya yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju ke luar rumah.

"Nindya!" pekik sang papa.

Nindya berlari cepat. Ia buru-buru membuka gerbang rumah lalu menutupnya lagi setelah berada di luar.

"Yang diomongin sudah telepon. Panjang umur," ucap Andy, ia memperlihatkan ponselnya ke arah Rendy. Terlihat nama Raya disana, kekasih Andy yang sudah menemani hari-harinya selama beberapa tahun terakhir.

"Halo, sayang," sapa Andy pada wanita di seberang telepon.

"...."

"Baiklah, aku kesana sekarang. Tunggu ya, sayang." Andy mengakhiri panggilan teleponnya, ia bersiap hendak pamit, dimasukkannya benda kecil yang baru saja digenggamnya ke dalam saku celana.

"Aku pamit dulu ya, Bang?" ucap Andy.

"Oke," jawab Rendy singkat.

Andy bergegas memakai sepatu ket berwarna biru miliknya, lalu melangkah meraih mobil kesayangannya yang terparkir di luar gerbang rumah Rendy. Kebetulan, rumah mereka berhadap-hadapan, garasi mobil mereka sengaja dijadikan satu untuk menghemat tempat.

Andy melirik gadis manis dengan rambut panjang sepinggang, hitam dan tergerai itu, ia duduk di kursi plastik milik pedagang cilok.

Tangan kirinya memegang plastik bening yang berisikan cilok pedas, terlihat dari warnanya, merah menyala, penuh dengan batu cabe. Tangan kirinya memegang tusukan cilok, sedangkan bibirnya terlihat penuh mengunyah.

"Om, mau pulang ya? Sini makan cilok dulu, enak loh, Om," ucap Nindya melirik ke arah Andy yang tergesa-gesa.

"Om mau jemput pacar dulu, Nindya," jawab Andy jujur.

"Eleh, kayak ratu saja, dijemput, manja. Masih saja mau sama cewek kayak gitu. Nindya lebih baik, Om, suer deh," ucap gadis itu sambil terkekeh.

"Nindya, sudah ya, Om pamit. Itu lihat ke bawah, pakai sandal saja tidak benar, sudah mau jadi calon istri Om segala, bye ...." Andy masuk ke dalam mobilnya sambil mengulum senyum, ia menahan tawanya melihat kelakuan Nindya.

Nindya refleks, ia menoleh ke arah kakinya, dan amazing, gadis cantik itu menggunakan sandal yang berbeda pada kaki kiri dan kanannya.

"Sial, kenapa sih, bisa salah gini pakai sandalnya," gerutu Nindya.

"Non, itu saya sudah lihat dari tadi, non pakai sandal kok bisa beda-beda gitu, sih?"

"Aduh ... Mas, kok tidak bilang, sih, dari tadi? Kan aku jadi malu sama Om ganteng," gerutu Nindya, ia mengentakkan kedua kakinya berkali-kali. Memasang wajah cemberut, bibirnya di monyongkan 5 cm ke depan.

"Mana saya tahu, Non," jawab tukang cilok, ia terkekeh melihat reaksi pelanggan setianya itu.

"Nih, Mas. 10 ribukan? Besok datang lagi ya," ucap Nindya, ia menyerahkan uang 5 ribuan sebanyak 2 lembar kepada pedagang cilok keliling dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah.

****

"Lama sekali, sih, jemputnya? Aku telat nih, sayang," gerutu Raya. Gadis manja itu terlihat emosi melihat kedatangan Andy yang terlambat 10 menit menjemputnya.

"Maaf, sayang. Jalanan macet," jawab Andy tenang. Ia membukakan pintu untuk Raya, kemudian kembali duduk di kursi kemudi.

Raya, terlahir sebagai anak konglomerat, gadis itu sudah terbiasa dengan kehidupan yang glamour. Berlimpah harta kekayaan dari kedua orang tuanya yang seorang pengusaha terkaya di Bali. Apapun keinginannya, akan selalu terpenuhi, dan itulah yang membuatnya menjadi wanita manja juga egois. Termasuk mengatur kehidupan Andy.

Laju mobil Andy mengantarkan Raya menuju salah satu kampus elite di kota Denpasar, tempat Raya menempuh pendidikan S1'nya yang baru berjalan 2 tahun lamanya.

"Nanti bisa jemputkan?" tanya Raya, ia melirik Andy sebelum ia benar-benar keluar dari mobil pria itu.

"Iya, nanti aku jemput, sayang." Begitulah, sosok Andy. Ia tak pernah sekalipun menolak keinginan Raya.

Setelah Raya menghilang dari pandangan matanya, Andy kembali melajukan kendaraannya, tujuannya adalah pergi ke sekolah. Ada berkas yang tertinggal di meja kerjanya, berkas siswa-siswi yang baru saja tercatat lulus dari sekolah. Andy sebagai wali kelas diwajibkan untuk mendata ulang kembali para siswa dan membantu mereka untuk mendaftar pada perguruan tinggi bagi yang hendak melanjutkan pendidikannya.

Andy berinisiatif hendak melanjutkan pekerjaannya di rumah sembari bersantai.

"Pak Dio, apakah ruang guru terkunci?" tanya Andy pada sosok yang tengah berkeliling di sekitar sekolah, ia bertugas sebagai penjaga sekolah. Pihak sekolah memberikannya fasilitas berupa hunian sederhana atau rumah dinas, yang menjadi satu halaman dengan sekolah SMA Pelita Bangsa.

"Oh, iya ini, Pak Andy, kuncinya." Andy mengambil alih kunci ruang guru kemudian bergegas masuk dan menuju meja kerja miliknya. Ia terkesima melihat sebuah amplop berwarna biru muda di sana.

[Om, I Love You, jadi suamiku ya, Om? Aku sudah lulus, lo ....] ucapan tanpa nama. Andy tersenyum membaca isi pesan itu, ia sudah jelas tahu siapa pengirimnya.

Bersambung....

Bab 2

"Kamu serius mau kuliah di Universitas Mahadewa? Benar kamu mau cari jurusan keguruan?" tanya Rendy kepada Nindya, putri satu-satunya.

"Seriuslah, Pa. Masak Nindya main-main? Nindya mau jadi guru nanti, Pa, kalau sudah lulus," celetuk Nindya. Kali ini ia benar-benar terlihat begitu serius.

"Setahu Papa, bukannya kamu tidak suka jadi guru, ya?" tanya Rendy, pria itu memicingkan kedua matanya, ia mencurigai gelagat putri tunggalnya yang tiba-tiba ingin kuliah dibidang yang sama sekali tidak disukainya.

"Setiap orang kan berhak berubah, Pa. Begitupula dengan Nindya. Aku akan melupakan harapanku menjadi seorang model, rasanya menjadi guru itu lebih mulia, ya kan, Pa?" ucapnya, gadis itu sembari mengulum senyumnya.

"Nindya, jangan bilang semua karena Andy? Jujur sama Papa." Akhirnya Rendy menyadari sesuatu. Ia menghela nafas pelan saat mengingat putrinya yang tergila-gila dengan Andy.

"Om Andy sudah punya calon istri, Nindya. Berhentilah mengejar sesuatu yang tidak pasti. Kamu masih muda, lo, raih cita-cita dulu. Jodoh akan datang kalau sudah waktunya," tegur Rendy.

"Pa, selama janur kuning belum melengkung, semua cewek masih punya harapan kok, untuk memiliki Om Andy," ucap Nindya.

"Nindya juga tahu, dulu Mama juga ngejar-ngejar Papa kan? Padahal Papa sudah punya pacar juga, kenapa Papa akhirnya memilih mama?" Sindir Nindya, ia meninggalkan sang Papa yang terdiam, terpaku tak mampu lagi mencari alasan untuk menghentikan putrinya.

Rendy bingung, kenapa juga almarhum istrinya harus menceritakan itu pada putri mereka.

Almira, sosok keibuan itu meninggal 2 tahun lalu. Rendy maupun Nindya begitu kehilangan, mereka tak pernah menyangka, Almira meninggal tanpa diduga sebelumnya. Perempuan hebat itu tak pernah mengeluh sakit, tak pernah bercerita apapun. Tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri, kemudian menghembuskan napas terakhirnya sebelum sampai di Rumah Sakit.

"Pa, Nindya mau pergi dulu." Gadis itu meraih tangan kanan Rendy, mencium punggung tangannya dengan cepat kemudian berlari, tergesa-gesa. Ia pergi setelah menerima pesan dari temannya.

"Nindya, hati-hati," teriak Rendy, ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah anak gadisnya yang sedikit bar-bar.

Nindya meraih sepeda motor maticnya, memakai helm yang bergambar kupu-kupu. Kemudian bergegas menuju cafe lanila, cafe kecil tempat para muda mudi berkumpul.

"Ada apa? Ada kejutan apa?" Nindya meletakkan helm yang dipegangannya di kursi sisi kiri, ia duduk disalah satunya, berhadapan dengan Wina, teman 1 kelasnya semasa SMA.

"Calon suamimu, tuh liat, lagi sama ayang bebnya." Wina memberi kode dengan sedikit menaikkan dagunya mengarah ke sepasang kekasih yang tengah memadu kasih, di sudut ruang cafe.

"Ehmmm ... Tunggu di sini, saksikanlah pertunjukan menarik dariku, Wina." Nindya mulai beraksi, dengan sengaja gadis itu melangkah mendekat ke arah meja Andy dan Raya. Tangannya tengah memegang air mineral yang sudah terbuka tutupnya.

"Aduh ...." Dan byurrrr!! Nindya pura-pura tersandung, air mineral yang dipegangnya tumpah mengenai badan Raya, membuat sekujur tubuh gadis itu basah kuyup.

"Sialan! Apa-apaan kamu? Gadis gila!" pekik Raya mengumpat Nindya, matanya memerah penuh amarah.

"Ya ampun, Tante. Maaf ya, Tante, aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf ya, Tante ...." ucap Nindya, ia memasang ekspresi penuh dosa di hadapan Raya, kekasih Andy.

"Cih! Dasar kamu, ga punya akhlak!" umpat Raya lagi.

"Cukup, Raya! Kemana sopan santunmu?" Andy tidak tahan mendengar Raya mencaci maki Nindya, bahkan ia menarik lengan Nindya, menjauhkan gadis itu dari kekasihnya.

"Nindya, kamu tidak apa-apakan? Jangan kamu pikirkan ucapannya, ok?" Andy membantu Nindya membersihkan pakaiannya yang basah dengan tissu yang ada di atas meja.

"Sejak kapan kamu membela gadis ini, Andy? Apakah dia sudah berhasil menaklukan hatimu? Bisa-bisanya kamu membela dia." Raya meradang, ia tak pernah menyangka jika Andy membela Nindya di depannya.

"Tuh kan, Om. Tante marah-marah terus," rengek Nindya dengan ekspresi teraniayanya.

"Apa kamu bilang? Tante? Dari tadi kamu panggil aku tante, tante. Kamu fikir aku tantemu? Cih! Tak sudi aku puya keponakan nakal sepertimu, dasar penggoda laki orang!" Lagi-lagi Raya mengumpat.

"Raya, cukup!" pekik Andy lagi.

"Nindya, pergilah, biar, Om yang akan bicara dengan Raya. Sekali lagi, maaf ya?" Andy sedikit mendorong tubuh Nindya pelan, mengisyaratkan agar gadis itu segera pergi dari hadapan mereka.

Nindya membalikkan badannya, gadis itu berjalan pelan, ia mengulum senyum menahan tawanya yang hampir saja tak mampu ia sembunyikan. Tangan kanannya menutup bibirnya. Ia bergerak cepat, melangkah menuju ke meja Wina.

"Gila kamu, Nin. Bisa-bisanya kamu bikin mereka bertengkar seperti itu," ucap Wina terheran-heran dengan kelakuan temannya itu.

"Apa sih, yang tidak bisa aku lakukan, Nindya gitu loh," ucap Nindya memuji dirinya sendiri.

****

Raya, gadis itu mengenal Nindya, sekedar kenal. Ia sangat tahu, jika Nindya begitu tergila-gila dengan kekasihnya, Andy. Sudah berkali-kali ia menegur Nindya, namun gadis itu tak pernah mendengarkan ucapan Raya, selalu saja diabaikan.

Entah sudah berapa banyak moment indah mereka hancur karena ulah Nindya. Kelakuan barbar gadis itu kerap kali mengubah suasana romantis Andy dan Raya menjadi malapetaka, selalu akan berujung dengan pertengkaran keduanya.

"Dia masih bocah, sayang ... Nanti lama-lama juga akan berhenti, bosan dengan sendirinya."

"Namanya juga masih ABG, coba aja kalau sudah ketemu yang lain, pasti dia berhenti."

2 kalimat itu selalu menjadi jawaban terampuh yang diucapkan Andy saat Raya memintanya bertindak tegas kepada Nindya.

Sama halnya dengan hari ini, kejadian yang sama terulang lagi. Lagi-lagi Nindya merusak moment indah Andy dan Raya.

"Ini sudah yang keberapa, sayang? Aku benar-benar tidak paham, kenapa gadis itu selalu muncul tiap kali kita bersama? Kamu juga, selalu saja membela dia, jujur, An, apa kamu mulai memiliki perasaan padanya?" beberapa pertanyaan dilontarkan secara bersamaan oleh Raya, hatinya benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan rasa kecewanya.

"Dia masih bocah, Raya, berhentilah cemburu padanya," jawab Andy, pria satu-satunya yang begitu sabar menghadapi keegoisan Raya.

"Selalu itu jawaban kamu, dia sudah dewasa, sayang, coba kamu lihat itu, lihat, dia tertawa lepas setelah membuatku berantakan seperti ini. Yakin kalau dia tidak sengaja? Yakin? Jujur aku capek, aku pergi!" Raya berdiri begitu saja, ia bergegas berlalu meninggalkan Andy, melewati meja Nindya, berhenti dan menatap gadis itu penuh amarah.

"Puas kamu? Dasar jalang!" umpatnya seraya mengambil gelas di hadapan Nindya dan byur!! Segelas ice lemon tea berhasil mendarat di wajah Nindya.

"Dasar tante tante gatel," pekik Nindya seraya membersihkan wajahnya dengan selembar tissu.

Kapok? Tidak, bukan Nindya namanya jika gadis itu jera. Ia tidak pernah jera, berapa kalipun ia disakiti Raya, itu bukanlah perkara yang sulit baginya. Obsesinya memiliki Andy lebih tinggi daripada rasa sakit yang diberikan Raya padanya.

"Nindya, kamu tidak apa-apa? Pulanglah, bersihkan dirimu, Om minta maaf, ya? Raya memang begitu, jangan terlalu dimasukkan ke hati." Setelah menegur Nindya, Andy bergegas pergi menyusul kekasihnya.

Nindya hanya tersenyum getir, memperhatikan lelaki yang ia puja pergi begitu saja meninggalkannya dalam keadaan basah. Beberapa kali ia mengibas-nginaskan tissu di bajunya, berharap segera kering.

"Sudah ah, kita pulang saja, daripada kamu masuk angin," tegur Wina.

"Ya sudah, yuk, pulang. Ga enak banget pakai baju basah." Nindya menarik lengan Wina, mengajak gadis itu bergegas pergi dari Cafe Lanila.

Bersambung...

Bab 3

Akhirnya, Nindya lulus, ia diterima di sebuah universitas ternama di Kota Denpasar, Universitas Mahadewa. Universitas elite yang memiliki beberapa ragam jurusan di dalamnya. Nindya berhasil masuk pada bidang keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pertama kali menjadi mahasiswa, Nindya dan teman-teman seangkatannya diwajibkan mengikuti Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau biasa disebut dengan OSPEK.

"Anak jalang juga kuliah ya? Aku fikir, kamu cuma memiliki keahlian menggoda kekasih orang. Jadi, kamu juga bisa belajar?" sindir Raya, ia tidak menyangka jika Nindya berhasil masuk ke kampus elite tempatnya menempuh pendidikan.

"Siapa yang jalang? Tante ya? Astaga, Tante, aku kaget lo. Aku fikir Tante itu cewek baik-baik, kasihan Om Andy, aku harus menyadarkannya." Nindya tak mau kalah, ia malah balik menuding Raya.

"Kamu itu benar-benar ga punya ahklak ya, cih!" Raya mendorong Nindya sedikit keras, membuat gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh, namun masih bisa menyeimbangkan dirinya kembali.

"Siapa dia, Nindya? Kamu kenal? Hati-hati lo, dia senior kita." Bella yang 1 jurusan dengan Nindya menegurnya, sedari tadi gadis itu memperhatikan perdebatan keduanya yang terlihat jelas tak ada persahabatan sedikitpun.

"Dia pacar dari calon suamiku," jawab Nindya datar. Ia masih menatap Raya yang melenggang pergi memperlihatkan bokong seksinya, meninggalkan dirinya yang masih terdiam.

"Apa? Calon suami? Kamu sudah mau nikah?" Bella yang baru saja mengenal Nindya tersentak kaget mendengar pengakuan teman barunya.

"Lupakan, aku cuma bercanda, hahaha ... Haha...." Nindya terkekeh geli seraya menepuk pundak Bella sekali.

Kedua gadis itu memilih duduk di salah satu kursi depan ruang kelas. Banyak hal yang mereka bicarakan termasuk urusan kuliah.

"Kamu sudah catst semua, mata kuliah yang akan kita dapat?" tanya Nindya pada teman di sebelahnya.

"Aman, bos," jawab Wina seraya menaikkan jempol tangan kanannya.

Dari kejauhan tampak Wina, teman semasa SMA Nindya berlari kencang menuju ke arah Nindya. Beberapa kali ia terdiam mencoba mengatur napasnya sebelum mulai bicara. Ia memegangi dadanya kemudian mulai menenangkan diri. Menghela napas sejenak lalu menghembuskannya pelan.

"Kenapa, Wina? Om Andy?" Nindya seakan-akan bisa menerka apa yang akan disampaikan Wina padanya.

Sahabat setianya itu selalu tahu hal-hal penting yang harus disampaikan tepat waktu pada dirinya, khususnya tentang Andy.

"Ada di luar gerbang kampus, dia di sana, huh ... Iya, itu Om Andymu, di depan kampus," jawab Wina masih ngos-ngosan mengatur napasnya setelah berlari tadi.

"Siapa sih?" Bella menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, gadis itu bingung dengan tingkah kedua teman kuliahnya. Ia tak paham, siapa yang tengah di bicarakan.

Nindya sudah mulai melangkah, perlahan tapi pasti. Dengan wajah datar dan biasa-biasa saja, ia menuju depan kampus, seperti yang disampaikan Wina. 2 temannya mengekor dari belakang, mengatur jarak agak sedikit jauh.

Benar saja. Andy sudah berada di depan, bukan cuma Andy, Raya juga disana. Sepertinya gadis itu baru menyelesaikan mata kuliah terakhirnya dan hendak pulang.

"Eh ... Om Andy, jemput lagi?" ucap Nindya seraya mengulum senyumnya.

"Bocah tengik ini lagi," sindir Raya seraya mendelik ke arah Nindya.

"Iya, Nindya mau pulang? Ayok, sekalian biar Om anterin," ucap Andy ramah.

"Tidak usah, Om ... Om itu kan, calon suami Nindya, bukan sopir Nindya lho ... Kalau sekedar antar jemput, tukang ojek juga bisa kok," jawab Nindya.

"Apa maksud kamu, sialan?" Raya kembali tersulut emosi. Ia memasang ekspresi amarahnya ke arah Nindya. Matanya mulai melotot seperti hendak menerkam Nindya hidup-hidup.

"Om, aku pergi duluan, ya. Takut, ada nenek lampir yang mau marah," ucap Nindya.

Bukan Nindya namanya jika tidak membuat perkara lebih, disempatkannya menarik tangan kanan Andy, lalu mencium punggung tangan pria itu dan ia bergegas melarikan diri dari hadapan mereka.

"Jalang! Jangan lari kamu, sialan!" teriak Raya penuh emosi, sementara Nindya sudah tertawa terpingkal-pingkal menjauh lalu menghampiri 2 temannya yang nampak tertawa renyah melihat kelakuan konyolnya.

****

"Aku pulang," ucap Nindya sesampainya di depan pintu rumah.

"Non Nindya, sudah pulang? Maaf ya, tadi bibi di belakang, jadi tidak dengar," ucap Bi Isah, yang terlihat sedang mengeringkan tangannya yang basah dengan cara menggosokkannya pada celemek yang ia pakai.

"Papa?" Nindya menatap sekelilingny, mencari-cari keberadaan sang papa.

"Pak Rendy belum pulang, Non. Non Nindya sudah makan siang?" tanya Bi Isah.

"Sebentar lagi, Bi. Aku masuk dulu, ganti pakaian. Bi Isah lanjut aja sama pekerjaannya, nanti aku ambil sendiri kalau mau makan." Nindya bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah melemparkan seulas senyuman pada Bi Isah.

Nindya mengganti pakaiannya, merebahkan tubuhnya kemudian menatap sendu foto kecil yang terpajang di atas meja belajarnya, ada dirinya, papa dan mamanya disana. Foto terakhir yang diambil sebelum sang mama meninggal.

"Nindya rindu mama," lirihnya, bulir-bulir bening mulai berkumpul di sudut matanya, diambilnya bingkai itu dan dipeluknya hangat.

Dulu, kalau ia pulang sekolah, mama Almira yang selalu menyambutnya. Kini sosok itu hanya menjadi kenangan bagi Nindya, kenangan yang akan selalu hidup di dalam lubuk hatiya.

Tumpah sudah, isak tangis Nindya tak tertahan lagi, ditambah lagu-lagu sendu ia dengarkan, menambah sesak dadanya.

Lirik :

Kata mereka, diriku, selalu ditimang,

Kata mereka, diriku, selalu dimanja,

Oh ... Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku ....

Menangis dalam tidur, akhirnya Nindya terlelap setelah lelah menangis. Masih memeluk bingkai foto dirinya dan kedua orang tuanya. Dibalik cerianya, Nindya menyimpan banyak luka. Gadis itu kini sudah beranjak dewasa, namun kesibukan sang ayah membuatnya merasa kurang kasih sayang dan perhatian. Ditambah tak ada sosok ibu di sisi-Nya.

"Nindya, bangun, sayang ...." Jemari kekar itu membelai lembut rambut Nindya.

Jarum jam sudah menunjuk angka 07.00 malam. Rendy yang baru saja selesai membersihkan diri setelah bekerja bergegas menghampiri putrinya yang masih tertidur.

"Papa," lenguhnya, Nindya sedikit mencoba meregangkan anggota tubuhnya. Bingkai yang sedari tadi dipeluknya telah lepas.

"Mandi ya, bersiap. Ayo kita makan malam di luar," ucap Rendy.

"Kok tumben, pa? Ada apa?" tanya Nindya, gadis itu sudah mengubah posisi duduknya, sedikit mengucek matanya kemudian menatap sang ayah.

"Nanti juga kamu tahu, dandan yang cantik." Rendy mengelus pucuk kepala Nindya kemudian meninggalkannya.

Nindya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, seperti titah papanya, ia bersiap juga berdandan yang cantik. Entah kejutan apa yang akan diberikan Rendy padanya, semua masih menjadi tanda tanya.

Gadis manis berkacamata itu, bergegas keluar menghampiri Rendy. Mereka pergi ke sebuah restoran mewah yang terletak di Kota Denpasar.

"Pa, ada acara apa? Kenapa kita makan disini? Tidak biasanya papa mengajak Nindya makan di luar ke tempat spesial seperti ini?" tanya Nindya bingung.

"Duduk saja dulu, Nin. Sebentar lagi, kamu akan tahu," jawab Rendy.

Beberapa kali Rendy melihat jarum jam pada arloji yang dikenakanya, kemudian sesekali tangannya disatukan dan saling mengusap. Ia tak memesankan apapun untuk dirinya juga putrinya. Pandangannya fokus menatap ke arah luar restoran.

"Maaf, sudah menunggu lama?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapan Nindya dan Rendy.

"Raya?" Nindya yang sedari tadi fokus menatap ponselnya tersentak, menyadari siapa gadis yang kini berdiri di hadapannya.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED