Senyum Aiden merekah, ketika dia menghirup wangi salah satu hamparan bunga di sekitarnya. Dia tampak menikmati, bagaimana warna-warni beragam bunga, membuat matanya sejuk.
"Anda terlihat begitu bersemangat hari ini, Tuan, bunga apa yang Anda butuhkan?"
Lamunannya buyar, Aiden segera menoleh. Mendapati wanita tua pemilik Garden House ini, dia tersenyum dengan ramah. "Aku membutuhkan bunga yang melambangkan cinta dan juga kemurnian kasih sayangnya," kata Aiden.
"Ada banyak jenis bunga semacam itu, Tuan. Lily putih, anyelir, mawar–"
"Ah, itu dia. Kekasihku suka buka mawar, aku ingin itu saja," tutur Aiden, menyela ucapan sang wanita tua penjaga toko.
"Tentu, tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya." Wanita tua itu tersenyum, berpamitan pada Aiden dan masuk lebih dalam ke tokonya.
Sedangkan Aiden, kembali menikmati waktunya untuk menciumi harum bunga di sekelilingnya. Senyumnya tak pernah pudar sedikit pun, apalagi saat membayangkan respon kekasihnya nanti akan kejutan yang dia persiapkan.
Tak berselang lama, wanita tua penjaga toko itu kembali. Membawa buket bunga mawar merah, yang diselingi dengan mawar putih begitu indah. Aiden tersenyum melihatnya.
"Semoga harimu menyenangkan, Tuan," kata wanita tua itu, ketika Aiden membayarnya lebih.
Aiden tak menanggapi, hanya mengangguk disertai senyuman. Lalu masuk ke dalam taksi, yang dia pesan dari bandara tadi. Dalam perjalanan kembali itu, tangan Aiden kembali memastikan barang yang dia bawa.
Sebuah kotak beludru hitam, berisikan sebuah cincin bermatakan berlian. Dalam lingkarannya, bertuliskan nama Synthia, kekasihnya.
Lagi-lagi, Aiden melamun. Namun, segera dibuyarkan saat teleponnya berdering dengan nyaring. Cepat-cepat dia mengambilnya, tanpa melihat siapa yang menelpon, dia mengangkat.
"Halo, Tuan, kenapa tidak bilang jika sudah sampai? Anda di mana sekarang? Saya akan menyiapkan jemputan untuk Anda."
Suara pekikan yang terdengar sedikit cemas itu, membuat Aiden terkekeh. Dia menghela napas panjang, sebelum menjawab, "Santai saja, Firman. Tidak usah kirim orang, aku sudah naik taksi."
"Tapi–"
Tak membiarkan sekretarisnya itu berkomentar lebih, Aiden segera menyela, "Aku akan datang ke kantor besok pagi, malam ini aku ingin memberi kejutan untuk kekasihku. Jangan ganggu waktuku, Firman."
Aiden lagi-lagi terkekeh, mendengar embusan napas Firman yang begitu berat dari seberang telepon. Tak ingin memberikan respon lagi, dia segera mematikan teleponnya.
"Tolong cepat, Pak, aku tak sabar memberikan kekasihku kejutan," kata Aiden, menepuk bahu sang sopir taksi setelah menyimpan teleponnya.
"Aku ingin melamarnya malam ini," imbuhnya bergumam, pada dirinya sendiri.
Perjalanan itu tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar empat puluh lima menit, akhirnya Aiden sampai. Setelah membayar biaya taksi tersebut, dia segera masuk ke kawasan penthouse tempat tinggal kekasihnya.
Lelaki yang biasa bersikap dingin itu, kini tampak hangat menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya. Salah satu tangannya memegang jas-nya yang telah dia buka, sedangkan satu tangannya memegangi sebuah buket bunga berukuran sedang. Meskipun penampilannya tampak sedikit acak-acakan, raut tampan masih terlihat jelas di wajahnya.
Tak ingin kekasihnya tahu dia datang, dia membawa kartu pass untuk membuka pintu. Lelaki itu berjalan mengendap-ngendap, untuk menyusul sang kekasih yang dia yakini ada di kamar.
"Tuan Aiden."
Namun, langkah Aiden terhenti ketika asisten rumah Synthia menyambutnya. Dia baru saja ingin menjawab, tapi langsung merasa aneh melihat sikap sang pembantu tersebut.
"Ada apa, kenapa kau bergetar?" tanya Aiden menohok.
Sang asisten rumah menggeleng cepat, lalu tergesa menundukkan kepala. "Bukan apa-apa, Tuan, saya hanya begitu terkejut melihat Anda sudah datang."
Kecurigaan Aiden lenyap, dan kini dia tersenyum lebar kembali. "Aku memang datang diam-diam karena ingin memberi kejutan. Synthia ada di rumah, kan?"
"D-dia … d-dia ada di kamarnya," jawab sang asisten rumah, terbata-bata tampak gugup.
Namun, Aiden tak memperhatikan hal tersebut. Dia yang tak sabar untuk bertemu sang kekasih, mengabaikan sang asisten rumah. Lalu kembali menaiki tangga dengan wajah antusias.
Begitu sampai di lantai atas, langkah Aiden tampak tergesa. Jantungnya berdegup kencang dengan perasaan yang tak menentu. Antara senang, gugup, dan juga begitu bahagia. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana nantinya Synthia akan menerima lamarannya.
Tetapi, wajah Aideen tampak mengeras ketika dia mendengar sesuatu dari kamar Synthia. Langkahnya terhenti, dan dia memasang telinganya lebar-lebar.
Dia memang tak salah dengar!
Suara desahan itu terdengar dari kamar Synthia. Hal ini membuat tangan Aideen tanpa sadar mengepal kuat. Lelaki itu berjalan kaku, semakin mendekati kamar sang kekasih, lalu dari pintu yang setengah terbuka, dia melihatnya.
Kekasihnya itu, Synthia, sedang telanjang di bawah kungkungan seorang lelaki. Wanita itu terlihat mendesah nikmat, melingkarkan kaki di pinggul lelaki yang tengah berada di atas.
Napas Aiden tampak memburu melihat hal tersebut, dan hatinya begitu sakit bagai disayat ribuan belati yang membuat dadanya menjadi sesak.
Bagaimana bisa kekasihnya itu berbuat hal demikian di penthouse pemberiannya yang merupakan salah satu bukti rasa cintanya? Bagaimana bisa wanita itu membawa lain, di rumah masa depan mereka? Dan bagaimana bisa wanita itu mengkhianatinya di belakang?
Apa semua ini sudah sering terjadi? Apa semua ini sudah biasa dilakukan Synthia saat keberadaannya tak ada? Apa wanita itu benar-benar mencintainya dengan adanya pengkhianatan seperti ini?
Sial! Aiden hanya bisa mengumpat dalam hati. Dirinya baru saja berbalik, ketika mendengar Synthia tertawa kecil. Mau tak mau, hal ini membuat langkahnya kembali kaku.
"Ah, kamu benar-benar mempesona, Sayang. Aku tak pernah mendapatkan hal memuaskan seperti ini dari Aiden."
Gigi Aiden bergemeletuk, saat Synthia tengah membanding-bandingkan dirinya dengan sang selingkuhan.
"Jika benar seperti itu, kenapa kamu tak memilihku, Synthia? Kenapa kamu masih berpura-pura mencintainya dan dekat dengannya?"
Aiden semakin merapatkan diri di pintu, ketika mendengar suara lelaki berbicara. Dia kembali mengintip, untuk melihat siapa lelaki itu. Namun, nyatanya setelah wajah lelaki itu, Aiden tak mengenalnya.
Mata Aiden menajam saat melihat lelaki itu berbaring, bersebelahan dengan Synthia di ranjangnya masih dalam keadaan tubuh yang polos. Ingin rasanya dia keluar, berlari menerjang lelaki itu dan mencekiknya. Tetapi Aiden menahan semuanya, agar dia bisa mendengar apa yang sebenarnya direncanakan oleh kekasihnya itu.
"Aku memang mencintainya, aku bahkan lebih mencintai Aiden daripada kamu. Tapi lebih dari itu, aku tak pernah mendapatkan kepuasan jika hanya bersama Aiden. Aku membutuhkannya, karena hanya dia yang bisa memberiku kemewahan seperti ini. Jika kamu bisa melampauinya, aku berjanji akan memilihmu."
Rasanya, Aiden tak lagi bisa menahan semuanya. Kejadian yang dia lihat, terutama kejujuran Synthia tentang dirinya, membuat hatinya begitu sakit. Dia sangat mencintai wanita itu, tapi sepertinya tidak lagi sekarang.
Bersikap ingin membalaskan dendam, Aiden setuju untuk tak terlihat. Maka dari itu, dia bergegas pergi dari sana. Lelaki itu cepat-cepat turun ke bawah, berniat pergi dari hunian penthouse ini.
Tapi saat melihat sang asisten rumah di tengah-tengah jalan, dia menghentikan langkah. Aiden menatap wanita itu tajam, penuh permusuhan. Lalu melemparkan kasar, buket bunga yang dipersiapkannnya untuk melamar Synthia tadi.
"Sekarang aku tahu, kenapa kamu begini tu gugup saat melihatku tadi. Ternyata kamu sudah tahu semua sikap Synthia selama ini yang mengkhianatiku?" bentak Aiden.
"Tuan, maafkan saya, Tuan. Saya tak berniat menutupi." Sang asisten rumah tampak ketakutan, bahkan langsung menjatuhkan diri untuk bersujud di kaki Aiden.
Namun, Aiden yang begitu marah tak memperdulikan hal tersebut. Dengan kasarnya dia menendang asisten rumah tersebut, lalu berpaling dengan cepat pergi dari sana.
Sebelum dia keluar, dia menyempatkan diri mengambil kunci mobil Synthia yang terletak di dekat televisi. Mobil pemberiannya dulu, untuk kekasihnya itu. Dia tak sudi lagi, barang-barangnya akan dipakai wanita yang telah mengkhianatinya tersebut.
Aiden mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, begitu liar menyalip sana-sini. Melampiaskan amarah, dia memukul-mukul setir, dan juga memaki beberapa kali. Lelaki itu benar-benar terlihat marah, sampai-sampai tak bisa berpikir logis apa yang akan dilakukannya saat ini.
Bab 02 : Mendapatkan Mangsa
Aiden ingin melampiaskan semua amarahnya kali ini, sungguh ia masih tidak menyangka dengan apa yang dia lihat tadi, perempuan yang selama ini Aiden cintai membuat dirinya sakit hati, ini benar-benar menyakitkan sekali.
Mobil yang sejak tadi Aiden kendarai sekarang sudah berhenti di salah satu kelab ternama yang berada di kota ini. Dengan langkah lebar lelaki itu masuk ke dalam kelab dan hingar bingar di dalam sana menyambut kedatangan Aiden.
Aiden semakin melangkahkan kakinya ke dalam kelab, bergabung dengan orang-orang yang mungkin sudah sejak tadi menikmati suasana di dalam sini, ditemani beberapa teman atau malah wanita penghibur yang mereka bayar untuk sekadar menemani selama di sini.
“Berikan aku minuman yang paling enak di sini!”
Aiden meminta kepada sang bartender untuk memberikan minuman, ia ingin menikmati malam ini tanpa memikirkan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Semua itu hanya membuat Aiden geram saat mengingatnya.
Sang bartender segera membuatkan minuman paling populer di kelab ini, memberikannya kepada Aiden dan langsung diteguk habis oleh lelaki itu, Aiden terus meminta minuman tersebut sampai akhirnya lelaki itu benar-benar mabuk.
Aiden sudah menikmati waktunya sekarang, lelaki itu kemudian memilih untuk beranjak dari kursi, tentu saja tidak lengkap kalau dirinya hanya sendiri saja menikmati suasana di sini. Aiden menginginkan seorang wanita yang menemaninya kali ini. Dengan langkah sempoyongan lelaki itu berjalan menjauhi meja bartender tadi, seakan yang dia lakukan sekarang adalah mencari mangsa.
Di tengah pencarian wanita yang Aiden inginkan, samar-samar Aiden mendengar suara isakan seseorang membuat lelaki itu mencari asal suara tersebut, yang ternyata berasal dari salah satu sudut kelab.
Aiden melihat seorang gadis muda yang tampak diseret secara paksa oleh dua orang berperawakan bodyguard, gadis itu ditarik menuju salah satu ruangan di sini dan entah kenapa mencuri perhatian Aiden.
"Tolong, tolong lepaskan saya, Tuan!"
Teriakan gadis itu semakin membuat Aiden penasaran, ingin Aiden mengabaikan keberadaan mereka tetapi teriakan dan isakan itu benar-benar mengganggu dirinya, Aiden tidak bisa mengabaikan begitu saja dan memilih untuk mendekati dua orang bodyguard yang membawa gadis tersebut.
Sebelum menghampiri mereka, Aiden terus memerhatikan gadis tersebut yang memiliki perawakan mungil sekali, rambut berwarna cokelat bergelombang dengan kuncir kudanya. Lalu dua bodyguard tersebut membawa gadis asing itu ke salah satu ruangan yang berada di sini, membuat Aiden melangkahkan kakinya untuk mengikuti mereka.
“Apa dia barang baru?” tanya Aiden tanpa basa-basi membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan menatap ke arahnya. Suara dari luar ruangan memang samar-samar terdengar, membuat suara Aiden didengar dengan jelas oleh mereka.
Bodyguard tadi melirik ke sisi lain, di mana seorang perempuan dewasa tampak sedang menyesap sigaretnya, mengembuskan asap berbentuk bulan di udara. Kemudian menatap ke arah Aiden.
“Iya, Tuan, dia masih sangat baru di sini,” jawab perempuan cantik itu sebelum meneguk satu gelas berisi minuman keras miliknya.
“Mau memakainya, Tuan?” lanjut perempuan itu kepada Aiden.
Aiden melirik ke arah gadis tadi yang masih tertunduk lesu di lantai, pakaiannya sobek di beberapa bagian, ada lebam masih segar di sudut bibirnya. Aiden kembali menatap perempuan yang Aiden pikir bisa disebut Madam dan berkata, “Berapa yang harus aku bayar untuk memiliki gadis ini?”
Perempuan pemilik kelab itu menyeringai dan menyunggingkan senyumnya sedikit. “Sepertinya saya akan memberikan harga khusus untuk yang satu ini, Tuan. Karena dia masih bersegel.”
Aiden mengangguk dan menatap wanita paruh baya itu. "Aku tak peduli soal harga, yang penting berikan gadis itu padaku!" perintahnya pada Madam tersebut. Meskipun cahaya dalam ruangan temaram, Aiden dapat melihat wajah sang gadis semakin memucat dan pancaran mata yang penuh luka.
Sang Madam memerintah anak buahnya yang sedang memberikan pelayanan pada Aiden untuk duduk di depannya. Setelah sepakat dengan harga, Aiden menunjukkan layar ponsel kepada perempuan itu sebagai bukti bahwa Aiden telah mentransfer sejumlah uang yang diminta Madam sebagai kesepakatan telah membeli gadis berperawakan mungil yang sekarang ia inginkan.
“Siapa namanya?” tanya Aiden yang kembali melirik gadis tersebut. Ia tidak sabar untuk segera membawanya dan memiliki perempuan itu.
“Dia Saskia, Tuan.” Madam tersebut menjawab kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri gadis yang bernama Saskia tadi.
"Saskia cepat bangun dan ikuti orang itu, dia telah membelimu. Dia tuanmu sekarang!" ucap Madam pada Saskia yang masih terlihat tak berdaya.
Gadis itu menggeleng sebagai tanda penolakan, Saskia terlihat takut sekali melihat ke arah Aiden. Tidak ada pergerakan dari Saskia membuat Madam menyuruh dua bodyguardnya itu bergerak cepat dan menyeret Saskia keluar dari ruangan ini, membawa pergi bersama dengan Aiden yang berjalan di belakang mereka begitu santai.
Aiden masih mendengar isakan dan raungan Saskia yang meminta dilepaskan, gadis itu mati-matian memberontak, menggigit tangan bodyguard bertubuh kekar itu dan mengentak-entakkan kakinya, gadis itu meronta minta dilepaskan. Hingga tiba di sebuah kamar, gadis itu dihempaskan kasar oleh kedua bodyguard tadi hingga gadis itu terjerembap ke atas tempat tidur.
Madam memang mengikuti bodyguardnya di belakang juga diikuti Aiden yang melangkah bersama perempuan tersebut. Madam melirik arah Aiden, matanya melotot sebelum berkata-kata kasar pada gadis itu. "Tuan ini sudah membelimu dengan harga sangat fantastis, Saskia. Berikan pelayanan terbaikmu sekarang atau aku tidak akan mengampunimu dan akan aku potong tangan dan kakimu!!"
Gadis itu masih terpaku sampai para bodyguard dan Madam tersebut yang menyeret tadi menghilang di balik pintu. Kini tinggal Aiden dan dirinya dalam satu kamar mewah di Kelab terkenal milik Madam.
Secepat kilat gadis itu beringsut, dia memeluk kaki Aiden sambil memohon untuk dilepaskan. "Tuan … Tuan tolong lepaskan saya. Saya bukan wanita penghibur, kakak saya menjual saya kepada wanita tua yang kejam itu," lirihnya disertai isak tangis memelas, berharap lelaki di depannya luluh.
Namun Aiden bergeming, tatapannya pada gadis itu datar. Jika gadis itu berpikir menangis akan membuat tuan tersebut merasakan kasihan pada dirinya, itu salah besar. Karena kini Aiden malah menyeringai tampak menyeramkan yang membuat gadis itu bergidik ngeri melihatnya. Dia langsung memalingkan pandangan pada tuannya itu.
Aiden berjongkok hingga posisinya hampir sejajar dengan gadis itu. Tangannya terangkat melepaskan kacamata milik sang gadis hingga menampakkan wajah manisnya yang polos.
"Hmm, ternyata gadis kecil ini lebih manis tanpa kacamatanya." Aiden membatin dalam hati.
"Melepaskanmu? Hah?!" Lelaki itu tiba-tiba terkekeh-kekeh, kemudian menghembuskan napasnya pelan.
"Aku akan melepaskanmu jika kamu bisa memuaskanku di ranjang ini." Aiden mengerlingkan matanya dan membelai wajah gadis itu.
Saskia melenguh, mengerjapkan mata yang terasa lengket. Ia baru saja ingin menggeliat, ketika merasakan tubuhnya remuk redam. Apalagi di bagian pangkal pahanya, yang entah kenapa terasa begitu nyeri.
Wanita itu memutuskan bangun, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang di sebelahnya. Yang lebih mengejutkan, tubuhnya polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
Ingatan demi ingatan tiba-tiba menyerbu pikirannya, membuat kepalanya mendadak menjadi pusing. Wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuh, dan segera beranjak dari ranjang.
Mencari cermin, Saskia mengamati dirinya sendiri. Dan saat itu juga, tangisnya pecah. Bekas-bekas kecupan di leher dan juga dadanya, menjadi bukti jika mahkotanya telah terenggut semalam oleh lelaki yang sama sekali tak ia kenal.
Tubuh Saskia merosot, tangisnya semakin histeris. Dia terduduk, dengan salah satu tangan memeluk lututnya. Wanita itu gemetar mendapati kenyataan jika dirinya sudah tak lagi berarti.
Entah sudah berapa lama Saskia menangis, wanita itu mendongak ketika mendengar suara gumaman. Ia menoleh, dan beringsut ketakutan melihat lelaki yang ada di ranjang sedang mengigau.
Saskia panik, menoleh ke sana-sini dengan gugup. Lalu pandangannya terarah ke balkon, cepat-cepat dia bangun dan membuka pintunya kasar.
Hal ini tentu saja membuat tidur Aiden terganggu. Tak mendapati wanita yang semalam bersamanya di ranjang, membuatnya segera mengamati ruangan sekelilingnya.
"Sial, apa dia kabur?" gumam Aiden bertanya.
Lelaki itu turun, mengambil pakaiannya yang terletak di lantai. Dahinya mengernyit, saat mendapati ada pakaian wanita di dekat kakinya.
Kelegaan menguar dalam hati Aiden, ia tak jadi panik dan segera memakai celana panjangnya semalam. Dia yang haus, mengambil minum dari nakas meja. Tahu jika pintu balkon terbuka, ia menganggap wanita itu ada di sana.
Namun, baru saja Aiden menenggak minumannya sekali, ia harus tersedak saat mendapati wanita yang semalam bersamanya, naik ke atas undakan pagar pembatas balkon.
"Gila, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Aiden memekik.
"Jangan mendekat, kalau kamu mendekat, aku akan loncat dari sini!" ancam Saskia dengan tubuh gemetar.
Aiden mengerutkan dahi, melongok ke bagian luar pagar pembatas, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Jika lompat, lompat saja. Aku tak akan menahanmu," kata Aiden santai, tak terpengaruh orang yang akan bunuh diri di depannya.
Melihat Saskia melongok ke bawah tampak panik, membuat Aiden terkekeh. Lelaki itu kembali mendekat, dan memilih duduk di sofa yang ada di balkon. Sungguh, sikapnya begitu acuh. Bahkan menganggap sikap Saskia seperti sebuah tontonan.
"Kamar ini ada di lantai lima belas, di bawah terdapat sebuah taman yang banyak dengan bebatuan kecil. Jika kamu loncat, maka waktu yang dibutuhkan tak lebih dari tiga menit. Dan ketika tubuhmu menghantam ke bawah, aku pastikan tubuhmu bercerai berai. Jika kamu tak mati, kamu pasti akan merasakan sakit karena seluruh tubuhmu pasti akan mengalami patah tulang," tutur Aiden panjang lebar, dengan kaki saling tindih dan juga tangan menyilang di dada.
Napas Saskia tampak tercekat mendengar hal tersebut. Kepanikan mendera dirinya yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Lagi-lagi, ia melongok ke bawah, lalu menoleh ke arah lelaki di depannya.
Andaikan ia langsung mati, itu akan menjadi lebih mudah. Namun, bagaimana jika dia tidak mati? Siapa yang akan bertanggung jawab dengan dirinya nanti jika mengalami patah tulang. Sungguh, kini Saskia merasa bimbang dengan hal apa yang harus dilakukannya.
"Aku tahu kamu wanita pintar, Saskia. Kemarilah, turun sekarang."
Ucapan lelaki itu membuat Saskia segera menoleh, tak menduga jika lelaki itu sudah berdiri begitu dekat dengannya dengan tangan terulur. Sesaat, Saskia merasa ragu untuk menyambutnya. "A-apa … a-apa jika aku turun, kamu mau membantuku?" tanyanya ragu.
"Kita bisa membicarakan ini dengan santai, jika kamu mau turun," sahut Aiden masih tetap santai.
Melihat ketenangan lelaki itu, akhirnya Saskia bisa memutuskan. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menyambut tangan Aiden. Saat itu juga, ia merasa tubuhnya ditarik dengan keras sampai menabrak dada lelaki itu. Dalam jarak yang begitu dekat seperti ini, entah kenapa Saskia menjadi tegang. Tatapannya terpaku pada wajah tampan lelaki di depannya itu.
"Good, aku bangga kamu tidak memilih mati," ungkap Aiden tulus, tersenyum begitu manis.
Lelaki itu menggandeng Saskia masuk kembali ke dalam kamar. Lalu menyuruh wanita itu untuk duduk di tepi ranjang. "Kita akan bicara, asalkan kamu ganti baju lebih dulu. Sungguh aku tidak nyaman melihatmu seperti itu, yang ada kita bukan bicara, malah bercinta lagi seperti semalam."
Ucapan Aiden, membuat wajah Saskia merasa panas. Dengan gugup, ia mengangguk. Ia mengambil pakaiannya lagi yang berserakan di lantai, cepat-cepat berlari ke kamar mandi untuk memakainya.
Tak berselang lama, Saskia keluar. Dia mendapati lelaki itu tengah berdiri di dekat pintu, sambil membawa sebuah paper bag dengan nampan dorong yang berisi banyak makanan.
"Pakai ini, bajumu bau!"
Saskia tergagap, ketika lelaki itu melemparkan tas tadi padanya. Cepat-cepat dia menangkapnya, dan tersenyum tipis saat melihat isinya. Ia kembali masuk ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan baju baru yang diberikan oleh Aiden.
"Kemarilah, duduk."
Saat Saskia keluar, ia sudah disambut oleh Aiden. Lelaki itu sudah duduk di sofa, menikmati kopi dan juga roti panggangnya. Saskia tampak gugup, dan memilih duduk berjauhan dengan lelaki itu.
"Makanlah!" perintah Aiden dengan tegas.
"Terima kasih, Tuan." Saskia mengangguk sopan, dan segera meraih makanan di depannya dengan sedikit rakus. Perutnya begitu lapar setelah kemarin malam dia lupa tak makan.
"Jadi, apa bantuan yang kau mau dariku?" tanya Aiden, di sela-sela sarapannya.
Hal ini membuat Saskia menghentikan aktivitasnya. Dia terdiam sebentar, sebelum akhirnya memilih turun di lantai untuk bersujud di kaki Aiden. "Aku hanya meminta agar Tuan bisa mengeluarkanku dari sini. Aku tidak mau hidup di tempat terkutuk seperti ini, Tuan. Aku bukan wanita malam seperti anggapanmu, aku hanyalah timbal dari keserakahan kakakku sehingga bisa terjerumus di tempat ini. Aku ingin keluar, Tuan, tolong aku."
Aideen terkejut, Saskia yang histeris penuh permohonan di bawahnya, membuat tubuhnya sedikit menegang. Sentuhan tangan wanita itu di lututnya, entah mengapa membuat gelenyar aneh menerpa tubuhnya. Wajah manis nan cantik dengan mata basah yang menatapnya lekat itu, terasa menggelitik hatinya.
Lelaki itu berdehem, menetralkan diri agar tak gugup. Lalu berpura-pura mengalihkan pandang, seolah tak memperdulikan Saskia. "Apa yang kudapat jika berhasil membawamu keluar dari sini?" tanyanya angkuh.
Saskia terdiam beberapa saat, ia bingung untuk menjawab. Jika lelaki itu meminta uang, ia yakin dirinya tak akan punya. Jika ia bersikeras mencicilnya, ia juga tidak tahu akan bekerja apa setelah keluar dari sini. Satu-satunya hal yang bisa ditawarkan, hanyalah tubuhnya. Namun, sanggupkah Saskia menawarkan diri sebagai budak?
"Aku tak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan," kata Aiden, mengingatkan.
Hal ini membuat Saskia benar-benar bingung, tanpa sadar dia menggigit kecil bibir bawahnya. "A-aku … A-aku tak mempunyai apapun untuk ditawarkan padamu, Tuan. Hanya diriku sendiri yang kumiliki saat ini. Dan hanya itu satu-satunya hal yang bisa membuatku bernegosiasi denganmu. Dengan ini, aku menawarkan sebuah pengabdian padamu. Kau bebas, menyuruhku melakukan apapun. Aku akan menjadi milikmu, setelah Anda mengeluarkanku dari sini."
Aiden menarik bibirnya ke satu sisi, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu sinis. Tawaran itu sangat menggodanya, dan spontan membuatnya kepikiran untuk menggunakan Saskia, dalam rencana balas dendamnya pada Synthia.