Bab 1

Negara Meksiko Serikat atau Meksiko (bahasa Spanyol : Estados Unidos Mexiconos atau Mexico) adalah sebuah negara yang terletak di Amerika Utara dan perbatasan dengan Amerika Serikat, Guatamala dan Belize di sebelah tenggara, Samudra Pasifik di barat Teluk Meksiko dan laut Karibia di sebelah timur.

Ia merupakan negara terbesar di Amerika Latin dan juga negara yang paling banyak berbahasa Spanyol. Nama negara ini di ambil dari nama ibu kotanya yang berasal dari nama ibu kota kuno Aztec yaitu Mexico.

***

Pagi yang cerah di musim panas. Tercium wangi roti tortela yang sedang di panggang dengan olesan margarin yang meleleh. Sepertinya seseorang sedang membuat taco dengan isian daging sapi pagi ini.

Aroma lezat itu tercium dari salah satu mansion mewah yang berada di kawasan pemukiman elit, yang hanya di huni oleh para kaum Jetset saja. Hunian mewah itu bernama Lavender Recidence.

Mobil BMW keluaran terbaru yang dikeluarkan musim panas tahun ini dengan edisi terbatas tampak menepi di pelataran mansion dengan bangunan menyerupai bungalow mewah. Tak lama kemudian terlihat dua orang yang keluar dari mobil itu dengan penampilan mereka yang tampak glamour.

"Ayo, Sayang," ucapan hangat lengkap dengan senyuman manisnya menyambut tangan seorang gadis yang baru saja keluar dari mobil tersebut.

Dia Damian Devardo de Castijo, CEO sukses yang baru saja tiba di rumahnya. Tangannya terulur menyambut tangan Isabell Fernandes, model cantik yang baru saja ia nikahi dua hari yang lalu.

"Terima kasih," sambut Isabell sambil tersenyum manis. Selanjutnya ia menggamit lengan Damian untuk berjalan menuju pintu. Keduanya berjalan bergandengan mesra layaknya sepasang pengantin baru.

Damian dan Isabell telah menjalin hubungan asmara sejak tiga tahun lamanya, saat keduanya masih berkuliah di Malinalco ( Mexico State ) namun di universitas yang berbeda. Damian menekuni fakultas bisnis sedangkan Isabell memilih modeling.

Keduanya tampak sangat bahagia atas pernikahan mereka, terlebih saat Damian memboyong Isabell untuk tinggal bersamanya di Devardo Hause, begitu mereka menyebut mansion mewah itu.

Langkah anggun Isabell menjadi pusat perhatian pagi itu bagi semua orang yang menyambut mereka, dari beberapa anggota keluarga Damian sampai para pelayan yang juga tampak berbaris rapi menyambut keduanya. Isabell sangat senang, dia merasa disambut begitu hormat bak seorang puteri raja di rumah suaminya itu.

Dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Pasalnya, Isabell Fernandes adalah puteri tunggal Alfredo Fernandes de Arta Milano, seorang pembisnis terkenal yang memiliki kekayaan sampai puluhan milyar peso di Meksiko.

Tak ada kejanggalan di sini. Mereka sungguh pasangan yang sangat serasi, dari segi fisik maupun financial.

Sepasang manik kebiruan Isabell memindai ruangan luas dimana sepasang tungkainya berdiri saat ini. Di sana tampak tiga orang yang sedang berdiri menyambutnya. Mereka adalah Liana, Pedra dan Berto. Ketiganya memusatkan manik matanya pada gadis dengan balutan gaun pres body warna merah marun itu.

Rambutnya tergerai rapi seperti baru saja melakukan perawatan di salon, wajahnya sangat cantik dan tirus bak maneken di mall, dan aroma parfumnya mulai menyeruak indera penciuman mereka.

Isabell memang sangat cantik seperti para paparazi bicarakan. Dia seorang model yang sedang bersinar sepanjang musim panas ini.

"Selamat datang sayangku, Isabell. Kau sangat cantik pagi ini," sambut Liana alias Nyonya Devardo, ibu tiri Damian.

"Terima kasih, Ibu." Isabell membalas lalu tersenyum pada Damian yang berdiri di sampingnya.

Nyonya Devardo ikut tersenyum dan memperhatikan Isabell dengan intens. Gadis di depannya itu sungguh sangat anggun. Pilihan Damian patut di acungi jempol. Namun tiba-tiba sepasang maniknya terkesiap pada kalung berlian yang tergantung pada leher jenjang Isabell.

"Waw, berlianmu sangat cantik, Isabell. Aku tebak, ini pasti koleksi Istambul yang tersohor itu, kan?" Nyonya Devardo menatap Isabell dengan wajah sumbringahnya.

Pedra ikut terpengarah dan meliarkan matanya pada leher Isabell. Benar, kalung berlian itu tampak sangat indah dan bernilai tinggi.

"Kau benar, Ibu. Berlian Isabell sangatlah indah," timpal Pedra kemudian sambil tersenyum tipis.

Isabell dan Damian saling pandang sambil tersenyum.

"Bukan, ini bukan koleksi Istambul. Tapi kalung ini pemberian Ibuku. Ini adalah berlian turun temurun keluarga kami," ucap Isabell meluruskan sangkaan ibu mertua dan kakak iparnya itu.

Nyonya Devardo dan Pedra saling pandang lalu tertawa kecil.

"Astaga, ternyata tebakkanku salah. Baiklah, aku tahu kau dan mendiang Ibumu sangat hapal tentang berlian. Dan selera kalian sangatlah bagus," ucap Nyonya Devardo tanpa memadamkan senyumnya.

Pedra hanya tersenyum menimpali.

"Baiklah, ayo kita makan dahulu. Silvester sudah menyiapkan semuanya pagi ini. Terutama untuk menyambut menantu bungsu di rumah ini," lanjut Nyonya Devardo yang segera menggiring semua orang menuju meja makan.

Berto yang berjalan paling belakang tampak tersenyum misterius memandangi Damian dan Isabell yang sudah berjalan berdampingan dengan Nyonya Devardo dan Pedra.

Mereka menghentikan langkahnya di depan meja makan panjang nan besar yang terbuat dari kristal asli. Di atasnya tampak banyak hidangan lezat yang tersaji dengan aroma yang menggugah selera.

Isabell dan Damian duduk di bangku yang bersisian sedangkan Pedra dan Berto pun demikian, dan mereka berempat duduk saling berhadapan. Hanya Nyonya Devardo yang duduk sendiri pada kursi khususnya yang berada di ujung meja, menengahi semua orang di sana.

"Ayo makanlah," ucap Nyonya Devardo sambil mengibarkan senyum manisnya untuk Isabell. Gadis itu membalas senyum dan mulai menikmati hidangan di meja.

Damian tampak menunjukan perhatiannya pada Isabell, menyuapi istrinya makan di depan anggota keluarganya. Pedra dan Berto tampak jengah melihatnya. Sedangkan Nyonya Devardo hanya tersenyum sunyi melihat kemesraan mereka.

Usai makan Damian dan Isabell berpamitan untuk beristirahat di kamar mereka yang ada di lantai tiga mansion itu.

Isabell tak banyak melakukan pendekatan dengan keluarga barunya, terlebih dirinya memang bukan tipikal orang yang mudah akrab dengan orang lain.

Baginya yang terpenting adalah Damian. Terserah dengan ibu mertuanya yang misterius itu atau kakak iparnya yang tampak matrealistis. Isabell memang sangat pandai menilai orang lain tanpa tahu kebenarannya.

"Hubby, apakah kita akan selamanya tinggal di rumah ini?" tanya Isabell yang sedang duduk di depan meja riasnya sambil menepuk kedua pipinya dengan serum safron Kasmir.

Damian yang sedang sibuk dengan layar laptopnya sambil bersandar pada kepala ranjang langsung menoleh padanya.

"Benar, lagi pula mansion ini adalah rumahku dan rumahmu juga, Sayang," ucapnya lalu tersenyum tipis dan kembali pada layar laptopnya.

Isabell menghela napas mendengar ucapannya itu. Dia pun memutar tubuhnya, merubah posisi duduknya menghadap pada Damian yang tampak sibuk dengan laptopnya.

"Apakah Ibu dan Kak Pedra juga akan tetap tinggal bersama kita?" tanyanya.

Damian menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menoleh pada Isabell dengan wajah datarnya.

"Ya. Kau tak keberatan kan, jika mereka tinggal bersama kita di sini?" ucapnya kemudian.

Isabell memutar bola mata kebiruannya jengah. Apa-apaan ini? Jadi dia harus tinggal dengan Ibu mertua dan Kakak iparnya itu?

Astaga, akan serumit apa bahtera pernikahannya nanti? Isabell tak bisa membayangkanya. Mungkin rumah tangganya akan dipenuhi drama layaknya serial telenovela.

Bab 2

Pagi itu sinar sang surya muncul dengan malu-malu dari upuk timur. Sinar keemasannya menerpa bangunan kokoh Devardo House, membuat bayangan panjang nan besar yang memayungi taman bunga yang ada di samping kiri bangunan. Tampak beberapa aktivitas para pelayan yang sedang mengerjakan rutinitas mereka pagi ini.

Devardo House memiliki kurang lebih 30 orang pelayan yang terdiri dari 20 orang wanita muda umuran sekitar 25 tahunan, dan sisanya pria yang bekerja dan bertugas sebagai tukang kebun dan penjaga.

Mereka mendapatkan upah yang besar dan di terimanya setiap dua kali dalam satu bulan, sesuai kebijakan pemerintah Meksiko pasal gaji para pekerja yang harus di bayar setiap dua kali dalam satu bulan penuh.

"Pagi, Nyonya Muda." seorang pelayan  menyapa Isabell yang baru saja keluar dari kamar mandinya.

Gadis itu hanya mengenakan bathrobe warna putih. Wajahnya datar-datar saja, tak ada respon untuk si pelayan. Dan si pelayan hanya tersenyum lalu mulai menghampiri ranjang king size di sana yang tampak berantakan.

Isabell berjalan menuju ruang ganti sambil memindai netranya pada seisi kamar. Dia sedang mencari Damian yang tak nampak di mana pun.

"Hei, dimana Damian? Apakah dia sudah berangkat ke kantor? Ah, sial!" Isabell berkata sendiri sambil berjalan-jalan kecil mencari suaminya.

"Tuan Muda Devardo ada di lantai dua, Nyonya. Maaf bila saya telah lancang," ucap si pelayan dengan tangannya yang sedang membenahi ranjang Isabell, sedangkan wajahnya menoleh pada istri Tuannya itu. Isabell menoleh padanya.

"Oh, ya? Baguslah. Aku pikir dia sudah berangkat," tukas Isabell dengan wajah sinisnya kemudian dia segera berjalan menuju ruang ganti.

Si pelayan hanya tersenyum tipis menanggapi. Hal yang biasa terjadi. Penghuni Devardo House selalu menunjukan sikap yang tak bersahabat. Mungkin itu cara mereka untuk menunjukkan jarak antara seorang pelayan dan Tuannya.

Langkah Isabell menepi di depan sebuah lemari kaca nan besar dan tinggi. Di gesernya dua daun pintu lemari itu pada masing-masing sisi. Matanya mengamati beberapa gaun yang tergantung rapi dan berbau wangi di dalam sana.

Bibirnya mengulas senyum pada sehelai gaun dengan warna hitam. Tangannya yang putih dan licin segera menyambarnya.

Pilihan yang tepat. Gaun musim panas warna hitam itu sangat cocok di tubuhnya. Gaun dengan bahan lembut dan nyaman di pakai, panjang selutut dengan bagian bahunya yang terbuka. Membuat kesan seksi nan glamour yang disukai Isabell.

"Waw, kau sangat cantik, Isabell Fernandes," tukasnya memuji dirinya sendiri dengan takjub di depan cermin setinggi dirinya.

Usai mematut penampilannya Isabell segera berjalan menuju lantai dua untuk mencari suaminya. Ah, entah dimana pria tampan itu berada. Isabell terus memindai matanya sambil menuruni anak tangga menuju lantai dua.

Langkahnya mulai terayun menuju balkon, mungkin Damian ada di sana, pikir Isabell. Namun langkahnya terhenti saat Nyonya Devardo dan Pedra menghamprinya.

"Pagi, Isabell. Bagaimana tidurmu? Kurasa kau merasa nyaman di sini," ucap Nyonya Devardo dengan wajah cerahnya memandangi Isabell.

"Pagi, Bu," jawab Isabell singkat karena dia sedang fokus mencari Damian yang belum juga tertangkap oleh matanya.

Pedra tersenyum sinis memandangi penampilan Isabell yang menurutnya berlebihan.

"Aku yakin, Bu. Semalam pasti Isabell tak bisa tidur," ucapnya.

Nyonya Devardo dan Isabell terpengarah.

Pedra melanjutkan, "Kau pasti menghabiskan malam yang panas dengan Damian, kan? Lihat saja, rambutmu saja masih tampak basah begitu," ucapnya dengan sinis.

Nyonya Devardo mengulum senyumnya lalu tertawa kecil, sedangkan Isabell tampak terdiam kesal dengan pipinya yang merona merah.

Dasar sinting! Untuk apa dia mengatakan hal itu? Bathin Isabell. Ucapan Pedra memang benar, dirinya hanya bisa tidur pukul tiga pagi setelah membuat Damian puas di atas ranjang semalam.

Namun tak seharusnya Pedra mengatakan hal memalukan seperti itu. Apakah sebagai seorang istri, Berto tak pernah menyentuhnya? Isabell meradang dalam hati.

"Ah, sudahlah Pedra. Jangan menggoda Isabell. Mereka baru saja menikah, jadi wajar-wajar saja." Nyonya Devardo menghentikan tawanya lalu matanya memandangi Isabell. Matanya membulat mendapati kalung berlian Isabell sudah tak nampak lagi pada leher jenjang gadis itu.

"Isabell, dimana perhiasanmu? Kenapa kau tidak mengenakannya?" tanyanya tampak antusias.

"Aku menyimpannya dengan perhiasanku yang lain," jawab Isabell acuh.

Nyonya Devardo dan Pedra saling pandang lalu tersenyum penuh misteri.

"Isabell, bagaimana bila Ibu saja yang menyimpan semua perhiasanmu, Nak? Di sini banyak pelayan yang bisa saja mencuri perhiasan itu di kamarmu," tawaran Nyonya Devardo langsung membuat Isabell menatapnya dengan kedua alisnya yang nyaris saja menyatu.

"Apa maksudmu? Aku bisa menyimpan perhiasanku sendiri," balas Isabell mulai jengah pada wanita 50 tahun di depannya itu.

Nyonya Devardo dan Pedra saling pandang sambil tersenyum tipis.

"Isabell, bila kau tinggal di Devardo House, maka kau harus menuruti semua perintahku. Cepat berikan perhiasanmu itu padaku." Nyonya Devardo menegaskan lagi.

Isabell menatapnya dengan mulutnya yang mengangah.

"Kenapa kau memaksa? Aku tak akan memberikan perhiasanku kepada siapa pun!" pungkas Isabell dan segera memutar tubuhnya untuk pergi.

"Wah, lihatlah Bu. Gadis seperti apa yang telah Damian nikahi ini. Dia seperti Jalang yang biasa duduk di bar untuk menanti pelanggannya," cibir Pedra menghentikan langkah Isabell.

Gadis itu menoleh dengan wajahnya yang tampak marah. Tentu saja Isabell merasa tersinggung.

"Kau benar, Sayang. Dia memang Jalang yang tak tahu sopan santun!" timpal Nyonya Devardo.

Mereka memberikan tatapan jijik pada Isabell. Akibatnya Isabell menjadi murka. Gadis itu segera menghampiri keduanya, tangannya terulur dan langsung menjambak rambut kecokelatan Pedra.

"Apa katamu? Beraninya kau berkata seperti itu tentangku!" pekik Isabell dengan emosinya.

"Lepaskan, Jalang sialan!" Pedra mengerang.

Nyonya Devardo berusaha melerai pertingkaian keduanya.

"Isabell, Ibu, ada apa ini?" suara Damian menghentikan mereka.

Isabell melepaskan Pedra dengan kasar, hal itu membuat Damian sangat terkejut melihatnya. Suasana hening sejenak. Nyonya Devardo terhuyung-huyung menghampiri Damian yang sedang berdiri agak jauh dari mereka.

"Damian Sayang, Isabell telah marah pada Ibu karena Ibu menawarkan diri untuk menyimpan semua perhiasannya. Pedra mencoba menasehati Isabell, namun dengan teganya istrimu itu menyakiti kami berdua," ucap Nyonya Devardo penuh penghayatan agar sandiwaranya terlihat sempurna.

Damian menatap Isabell penuh tanya sedangkan Isabell hanya menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka Ibu mertuanya itu begitu pandai berakting.

Pedra tak tinggal diam, dia segera menghampiri Nyonya Devardo dan Damian dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat. Keduanya bersandiwara dengan sangat bagus.

"Sudahlah, Bu. Damian tak akan percaya pada kita, lagi pula mansion ini adalah miliknya. Lebih baik kita pergi saja sekarang," ucap Pedra sambil merangkul bahu Nyonya Devardo yang sedang bersandar pada dada bidang Damian.

Isabell menatap Damian dengan wajah melasnya, dia tak bersalah. Namun Damian memberinya tatapan penuh kemarahan.

"Isabell, apa benar yang dikatakan Ibuku dan Kak Pedra?" tanya Damian sedikit menekan.

Isabell menggelengkan kepalanya dengan sepasang matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Sudahlah, Damian. Ibu tak ingin kau dan istrimu bertengkar karena Ibu. Apalah artinya wanita tua ini di hadapan kalian, kami hanya menumpang padamu, Nak." Nyonya Devardo menitikan air mata buayanya.

"Tidak, Bu. Jangan berkata seperti itu, kalian adalah keluargaku satu-satunya," ucapan Damian sambil merangkul punggung ibunya.

Isabell sangat jengah melihatnya. Apa lagi wajah-wajah dua wanita itu yang menyebalkan.

"Isabell, cepat lakukan perintah Ibu. Berikan perhiasanmu padanya. Biarkan Ibu yang menyimpannya," perintah Damian sambil menatap Isabell yang berdiri agak jauh darinya.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia sangat kesal. Kenapa Damian termakan oleh drama Ibu tirinya itu.

"Aku tak mau! Dan aku tak akan pernah menyerahkan perhiasanku kepada siapa pun!" pungkas Isabell segera pergi dengan wajah kesalnya dan kecewanya pada Damian.

Leher Damian memutar mengikuti langkah Isabell yang mulai menaiki anak tangga.

"Damian, bujuklah Isabell. Jangan hiraukan Ibu, Nak," ucap Nyonya Devardo sambil menanggah pada Damian.

Pria itu pun mengangguk. Dia segera melepaskan ibunya dan bergegas menyusul Isabell ke kamarnya. Nyonya Devardo segera menyeka kedua pipinya lalu tersenyum puas pada Pedra.

"Lihat saja, sebentar lagi pasti Isabell akan menyerahkan semua perhiasannya kepada kita," ucapnya.

"Kau sangat cerdik, Bu. Aktingmu sangat bagus, kau pantas menerima piala Oscar tahun ini." Pedra menimpali sambil merangkul bahu Nyonya Devardo, kemudian keduanya tertawa penuh kemenangan.

Bab 3

Damian tiba di depan pintu kamarnya yang masih terbuka lebar, mungkin Isabell memasuki kamar itu dengan emosi dan lupa menutup pintunya kembali. Langkah pantofel Damian terayun cepat memasuki kamar seluas ruang meting di kantornya itu.

Sepasang netranya mulai memindai seisi ruangan dan mendapati Isabell yang sedang duduk di tepi ranjang. Wajahnya di tekuk dengan punggungnya yang tampak bergetar. Damian segera menghampirinya dengan cemas.

"Isabell, kau menangis?" tanya Damian sambil berjongkok di depan gadis yang sangat di cintainya itu. Pendar matanya menatap sendu pada wajah Isabell yang tertunduk dan dibasahi bulir air matanya.

"Untuk apa kau menemuiku? Urusi saja Ibumu dan Kakakmu yang pandai bersandiwara itu," cetus Isabell dengan pendar matanya yang penuh kemarahan.

Damian menggelengkan kepalanya kemudian dia meraih sehelai tisue dari meja nakas, lantas digunakannya untuk menyeka kedua pipi istrinya yang basah. Namun dengan cepat Isabell menepis tangannya.

"Hentikan, Damian. Aku tak ingin di kasihani olehmu!" tegas Isabell. Gadis itu memalingkan wajahnya dari sorot mata Damian yang sedang menatapnya.

"Isabell, maafkan aku. Aku hanya ingin kau bisa beradaptasi dengan keluargaku. Dan Ibu hanya ingin menjaga perhiasanmu saja. Apa yang salah?" ucapan Damian mendapat pandangan tajam dari Isabell.

"Apa yang salah katamu? Mereka bukannya mau menjaga perhiasanku, tapi mereka menginginkannya. Kenapa kau sangat bodoh, Damian!" Isabell tersulut emosi.

Damian menjulurkan jemarinya untuk mengusap pipi licin istrinya itu, namun lagi-lagi Isabell menepisnya. Dia seolah sangat jijik dengan sentuhannya kali ini.

"Jangan berburuk sangka pada Ibu dan Kakakku, Isabell. Mereka pun memiliki uang yang cukup bila hanya untuk membeli perhiasan. Kau sudah salah paham pada mereka. Bahkan kau melukai Kak Pedra dan hati Ibuku," tukas Damian yang masih berjongkok di depan Isabell.

Gadis itu menanggah ke langit-langit agar air matanya tak mudah terjatuh. Tampaknya Damian sudah termakan oleh sandiwara dua wanita sialan itu, pikir Isabell.

"Aku mohon padamu, Isabell. Menurutlah pada Ibuku, aku tak ingin melihat kalian ribut-ribut lagi hanya karena perhiasan. Aku bisa membelikanmu banyak perhiasan, bukan?" lanjut Damian kali ini jemarinya mulai meraih jemari Isabell yang ada di depannya.

Dikecupnya lembut jemari itu dengan penuh cinta.

Isabell menghela napas, emosinya masih belum stabil.

"Hentikan, Damian. Aku tak akan memberikan perhiasanku kepada siapa pun!" pungkas Isabell, dia segera bangkit dari duduknya di susul oleh Damian yang menatapnya kesal. Dua orang yang sudah saling mengenal selama tiga tahun itu kini berubah seperti orang asing.

"Isabell, menurutlah padaku dan serahkan perhiasanmu pada Ibu!" perintah Damian dengan pendar matanya yang mulai tersulut emosi.

Isabell bersidekap di depannya, wajahnya mendongkak pada pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

"Aku tak mau!" tegas Isabell dan segera memutar tubuhnya hendak pergi. Namun Damian mencekal lengannya dan menariknya sampai tubuh sintal wanita itu memutar menghadap padanya.

"Jangan membuatku marah, Isabell!" bentak Damian dengan wajahnya yang mulai merah padam.

Isabell sangat tersentak, dia tak pernah melihat Damian semarah ini sebelumnya.

"Lepaskan, Damian! Aku muak padamu!" Isabell berusaha berontak dari cengkeraman tangan kekar suaminya itu. Namun dia kesulitan karena Damian semakin mempererat genggamnya.

"Lepaskan! Kau sudah gila, Damian! Kau gila karena Ibumu yang sinting itu!" 

"ISABELL!" 

Tubuh keduanya sudah sama-sama dirasuk emosi. Damian yang sebelumnya tak pernah berkata lantang apa lagi sampai membentak Isabell, tapi hari ini dia sampai berani mengangkat tangannya.

Isabell menatapnya dengan matanya yang berkaca-kaca. Hatinya terasa sangat perih karena bentakkan suaminya itu. Begitu pula dengan Damian, dia segera melepaskan Isabell dan menurunkan tangannya. Penyesalan sangat terlihat jelas pada rahut wajahnya yang tampan.

"Isabell," ucapnya pelan dengan kedua tangannya menyentuh masing-masing bahu mungil istrinya itu dan menatapnya lembut.

Isabell menggelengkan kepalanya dengan tangisnya yang terpecah.

"Cukup, Damian. Cukup," ucapnya lirih. Dia segera mengusap kedua pipinya dan hendak berlalu, namun kedua tangan kekar Damian segera mendekapnya dari belakang. Isabell bergetar hebat, emosinya mengguncang seluruh jiwanya saat ini.

"Maafkan aku, Isabell. Aku sangat menyesal telah melukai hatimu, Sayang. Maafkan aku," sesal Damian sembari mendaratkan kecupannya pada bahu terbuka Isabell.

Wanita itu memejamkan matanya menahan gejolak yang ada. Dia tak tak tahu harus apa. Damian memutar tubuh ramping Isabell agar menghadap padanya. Dipandanginya wajah istrinya itu yang tampak basah di kedua pipinya. Tangannya terayun menyapunya lembut.

"Maafkan aku, Isabell."

Isabell mengangguk pelan, dan Damian segera merengkuhnya dalam pelukannya. Dia merutuki dirinya sendiri karena telah membuat wanita yang sangat ia cintai itu sampai menangis. Isabell mempererat pelukannya. Jiwanya serasa terisi kembali dan memperoleh kedamaian lagi.

***

Nyonya Devardo sedang duduk di ruang santai bersama Pedra dan Berto. Dia tampak sedang menikmati batang rokoknya sambil bebincang-bincang dengan anak dan menantunya yang sedang menikmati tequila.

Mata Nyonya Devardo menatap jeli pada Damian dan Isabell yang sedang berjalan menuju pada mereka. Dia menghembuskan asap rokoknya ke udara lalu tersenyum miring melihat kotak perhiasan yang sedang dibawa oleh Isabell.

Kotak perhiasan yang terbuat dari kayu pinus dengan sentuhan ukiran berwarna gold yang indah. Kotak kayu itu terlalu besar jika untuk ukuran kotak perhiasan saja. Waw, ternyata perhiasan Isabell memang sangat banyak, pikirnya.

Pedra menoleh pada Nyonya Devardo sambil tersenyum puas. Dugaan mereka tidak meleset, Damian berhasil membujuk Isabell.

Sedangkan Berto tampak meliarkan pandangan lelakinya pada Isabell yang tampak sangat seksi di pelupuk matanya, bibirnya mengulas senyum smirk saat tepi gaun wanita itu melambai tertiup angin. Seksi sekali, dia menelan ludah kasar melihatnya.

"Ibu, Isabell akan menyerahkan seluruh perhiasannya padamu," ucap Damian pada Nyonya Devardo lalu menoleh pada Isabell yang berdiri di sampingnya.

Gadis itu memasang wajah datarnya.

"Maafkan aku, Bu. Tolong simpan semua perhiasanku," tukas Isabell tampak terpaksa.

Nyonya Devardo tersenyum senang dan segera bangkit dari sofa. Dia menaruh batang rokoknya lebih dulu di atas meja sebelum meraih kotak perhiasan yang disodorkan oleh Isabell padanya.

"Oh, Isabell sayangku. Aku sangat terkesan atas perlakuanmu kali ini. Aku akan menjaga perhiasanmu ini dengan baik. Benarkan, Pedra?" Nyonya Devardo berkata pada Isabell lalu menoleh pada Pedra yang sedang duduk bersama Berto. Keduanya pun berdiri

"Tentu saja, Bu. Lagi pula Isabell adalah menantu bungsu di keluarga kita ini. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya, terutama hartanya." Pedra berkata sambil tersenyum menyebalkan dimata Isabell.

Berto hanya tersenyum tipis sambil memandangi Isabell.

"Baiklah, aku akan segera berangkat ke kantor. Tolong kalian jaga Isabell," ucap Damian sambil mengusap pacuk kepala Isabell ke bawah.

"Tentu saja, Tampan. Ibu dan Pedra pasti akan menjaga Isabell dengan baik," balas Nyonya Devardo sambil menatap Damian dan Isabell secara bergantian.

Isabell hanya memutar bola matanya, jengah.

"Baiklah, aku berangkat, Sayang." Damian meraih kepala Isabell lantas mengecup pucuknya dengan penuh cinta.

Isabell hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Damian pun segera pergi. Isabell bergegas ingin kembali ke kamarnya.

"Tunggu, Isabell!" sergah Pedra menghentikan langkah Isabell yang baru saja akan menaiki anak tangga.

Wanita itu memutar tubuhnya menghadap pada tiga orang yang sangat menyebalkan baginya itu.

"Apa lagi? Apa masih kurang semua perhiasanku itu? Puas kalian sekarang, hah?!" Isabell bersidekap sambil mendongkak dengan wajah sinisnya.

Nyonya Devardo dan Pedra saling pandang lalu tersenyum puas. Sedangkan Berto hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

"Tentu saja masih kurang. Kau juga harus menyerahkan semua kartu black gold milikmu pada kami," jawab Pedra sambil berjalan-jalan kecil mengitari Isabell.

"Apa? Kalian sudah tidak waras. Aku tak akan memberikannya! Dasar sinting!" Isabell tak sudi lagi berpandangan dengan orang-orang culas itu, dia pun segera berlalu menaiki anak tangga.

Pedra yang kesal ingin segera menyusulnya.

"Sudahlah, Pedra. Biarkan dia pergi. Kita nikmati saja dulu perhiasan indah ini, barulah setelah itu kita rampas semua kartu black gold gadis sombong itu. Mengerti?" ucap Nyonya Devardo sambil memilin semua perhiasan yang ada di kotak kayu milik Isabell tadi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED