Bab 1

Pagi itu, Damien duduk di meja makan, memandang kosong cangkir kopi yang sudah dingin. Suasana di rumah terasa hening, bahkan sunyi. Pagi-pagi sekali, Nadine sudah pergi tanpa seulas senyum atau sepatah kata. Dia selalu begitu belakangan ini-sibuk, terfokus pada kariernya, meninggalkan Damien yang mulai merasa seperti hantu di rumah mereka sendiri.

Dia tahu, mungkin banyak yang mengatakan bahwa ini adalah langkah yang baik untuk karier istrinya. Promosi yang diterima Nadine seharusnya menjadi kebanggaan mereka berdua. Tapi di sisi lain, Damien merasa seperti terperangkap dalam peran yang tidak pernah dia pilih.

"Sama sekali tidak ada waktu untuk kita berdua," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Setiap malam, Nadine pulang larut, dan ketika Damien mencoba berbicara, jawabannya selalu sama: "Maaf, aku capek." Seolah-olah dirinya, yang kini terjebak mengurus rumah, tidak lelah.

Akhir-akhir ini, ada rasa sepi yang semakin menggerogoti hatinya. Mereka jarang berdua, jarang berbicara, bahkan jarang bertemu mata. Nadine seolah tidak lagi melihatnya sebagai suami, melainkan hanya sebagai pria yang ada di rumah.

Damien mengambil napas dalam-dalam. Pekerjaannya sebagai seorang pengajar di sekolah swasta tidak membantunya menjadi lebih kuat menghadapi perasaan ini. Gajinya yang lebih rendah dibandingkan dengan Nadine membuatnya merasa lebih terperosok. Sejak Nadine mendapatkan jabatan lebih tinggi, peran mereka dalam rumah tangga berubah.

Seharusnya itu tidak masalah, pikirnya. Setiap pasangan pasti mengalami fase-fase sulit. Tapi ketika peran itu seolah mengubah segalanya, bahkan menjadi jembatan yang semakin jauh antara mereka, Damien tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Hari itu, Nadine pulang lebih awal. Damien, yang sedang membersihkan rumah, mendengar suara mobilnya memasuki garasi. Dia tidak berharap banyak. Hanya berharap untuk bisa sedikit berbicara dengannya. Tetapi saat pintu rumah terbuka, sosok yang keluar dari mobil bukanlah Nadine sendiri, melainkan seorang gadis muda yang tampak sedikit canggung.

"Ini Lia, asisten rumah tangga yang baru," ujar Nadine dengan nada santai, seolah ini adalah hal biasa.

Damien menatap gadis itu dengan bingung. Lia? Asisten rumah tangga?

"Selamat datang, Lia," kata Damien, berusaha terlihat ramah meskipun kebingungannya lebih besar daripada rasa senangnya.

Nadine tersenyum tipis. "Dia akan tinggal di sini mulai hari ini. Aku pikir ini akan membantu mengurus rumah sementara aku lebih banyak bekerja."

Damien tidak tahu harus merasa lega atau justru lebih tertekan. Rumah ini, yang dulu mereka huni bersama dengan penuh kebahagiaan, kini terasa seperti ruang yang semakin sempit. Nadine lebih memilih untuk membawa orang lain ke dalam kehidupan mereka daripada meluangkan waktu untuknya.

Lia hanya tersenyum kikuk. Nadine melanjutkan, "Aku harus kembali ke kantor untuk beberapa pekerjaan tambahan. Aku akan makan malam di luar nanti."

Tanpa menunggu respons, Nadine pergi, meninggalkan Damien dan Lia di ruang tamu yang sunyi. Lia tampaknya tidak tahu harus bagaimana, tetapi Damien bisa merasakan ketegangan di udara. Dia menarik napas, mencoba menenangkan dirinya, meskipun jantungnya berdebar lebih cepat.

"Apa kamu ingin duduk?" tanya Damien, meskipun dia tahu ini bukan percakapan yang dia inginkan.

Lia mengangguk perlahan dan duduk di kursi yang ada di dekat meja makan. "Terima kasih," jawabnya, masih dengan senyum yang tidak mengurangi kesan canggung yang ada.

Damien merasa begitu asing. Mereka hanya berdua, tetapi hatinya terasa semakin jauh dari Nadine. Ini bukan hanya masalah pengganti pembantu. Ini tentang kenyataan yang baru saja terbentuk di hadapannya-kenyataan yang mungkin tidak bisa lagi dia ubah.

Kehidupan mereka berdua telah berubah begitu drastis, dan saat Nadine kembali ke rumah hanya untuk membawa orang asing sebagai "pembantu," Damien tahu dia harus memutuskan untuk bagaimana menghadapi perubahan ini.

Bab 2

Malam itu, Damien terjaga lebih lama dari biasanya. Di ruang tamu, suasana terasa semakin berat. Lia sudah berada di kamar tidur yang disediakan Nadine untuknya, sementara Damien duduk di ruang tamu, menatap televisi yang tak menyala, hanya ditemani suara detak jam dinding yang lambat. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tetapi Nadine belum pulang.

Pikiran Damien menggelayuti, membentuk alur yang lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan kesibukan Nadine, tapi tidak pernah ada jarak sejauh ini. Nadine tampaknya semakin menjauh, baik secara fisik maupun emosional. Setiap kata yang terucap, setiap sikap yang dia tunjukkan, semakin meyakinkan Damien bahwa ia hanya menjadi bagian dari latar belakang kehidupan istrinya.

Namun, ini bukan hanya tentang peran yang harus ia jalani. Ini tentang pengabaian. Nadine tampak begitu tidak peduli pada perasaannya. Seperti semuanya berjalan lancar meskipun Damien merasa semakin terasingkan.

Ponsel Damien bergetar, menariknya dari lamunan. Sebuah pesan dari Nadine.

"Maaf, aku belum pulang malam ini. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tidur lebih dulu."

Damien menggelengkan kepala. Kata-kata itu seperti rutinitas, seperti jawaban yang sama setiap kali ia menghubungi Nadine. Tidak ada yang baru. Tidak ada yang terasa berbeda.

Ia menulis balasan singkat: "Baik. Hati-hati di jalan."

Setelah mengirimkan pesan itu, Damien melemparkan ponselnya ke atas meja, lalu berdiri. Langkahnya terasa berat saat ia berjalan ke kamar tidur. Biasanya, ia dan Nadine akan berbicara sebelum tidur, berbagi cerita atau sekadar saling bercanda, tetapi malam ini, kamar itu terasa begitu hampa.

Damien menatap tempat tidurnya yang kosong, dan seolah-olah ia bisa merasakan kehadiran Nadine yang begitu jauh. Saat itulah ia mendengar suara pintu depan terbuka. Nadine pulang, dan seperti biasa, ia tidak berbicara banyak.

"Aku lelah," ujar Nadine, memasuki kamar dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat lelah, tapi juga tampak seperti seseorang yang berusaha menutupi sesuatu.

Damien mendekati Nadine yang sedang membuka pakaian dengan gerakan terburu-buru. "Kau... lagi-lagi tidak ada waktu untuk berbicara?" tanyanya, suaranya bergetar antara frustrasi dan rasa kecewa.

Nadine menatapnya, matanya sedikit mengernyit. "Damien, jangan mulai lagi. Aku sudah bilang, aku lelah," jawabnya dengan nada datar.

Damien merasakan panas di dadanya. "Lelah? Atau hanya tidak peduli?" tanyanya, dengan suara yang mulai meninggi.

Nadine berhenti sejenak, menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?"

"Tadi pagi kau membawa gadis itu ke rumah, Nadine. Gadis yang kau sebut pembantu. Apakah itu alasan kenapa aku terus diabaikan? Karena ada orang lain yang harus kau urus?" suara Damien penuh kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Nadine terdiam beberapa detik, kemudian melemparkan pakaian yang sudah ditanggalkan ke tempat tidur. "Dia hanya pembantu, Damien. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan."

"Begitu?" Damien tertawa pahit. "Jadi aku hanya perlu diam dan menerima semuanya? Kau membawa seorang asing ke rumah kita, Nadine. Dan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganmu."

Nadine menghela napas berat, mencoba menenangkan dirinya. "Kau tidak mengerti. Aku sedang mencoba mengatur semuanya. Aku mencoba menjaga karierku, menjaga rumah, dan segala hal lainnya. Aku tidak bisa terus-menerus mengurus semuanya sendirian."

"Dan aku? Apakah aku tidak penting dalam hidupmu lagi?" suara Damien bergetar. "Apakah peran kita sebagai pasangan sudah tidak berarti apa-apa?"

Nadine menatapnya, sejenak tampak bingung, lalu ada kilatan di matanya yang sulit dipahami. "Kau tahu aku berusaha, bukan? Semua yang aku lakukan demi kita. Demi masa depan kita."

Damien merasa jantungnya seperti dihimpit batu. "Tapi kita sudah terpisah, Nadine. Apa yang kita miliki sekarang? Apakah ini yang kita sebut masa depan? Aku merasa seperti orang asing dalam rumah ini."

Nadine terdiam, menundukkan kepala sejenak. Tidak ada yang bisa dia katakan. Damien bisa merasakan ketegangan itu, seolah-olah mereka berdua berjarak semakin jauh.

"Seandainya saja kita bisa berbicara lebih banyak," kata Damien, suaranya lebih lembut sekarang. "Seandainya saja kita bisa menemukan cara untuk kembali... ke yang dulu."

Namun, Nadine hanya menggelengkan kepala, kemudian berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring, membelakangi Damien. "Aku lelah, Damien. Aku tidak bisa terus-menerus berbicara tentang ini. Aku butuh istirahat."

Damien berdiri di tempatnya, merasa semakin terasing. Ia tahu, meskipun mereka berdua berada dalam satu kamar, rasanya mereka semakin jauh, dan ada jarak yang tidak bisa dijembatani dengan kata-kata atau bahkan sentuhan.

Dia berbalik dan berjalan keluar dari kamar, menuju ruang tamu yang sepi. Di sana, di tengah hening yang menekan, Damien merasa dirinya kehilangan arah. Ke mana lagi ia harus melangkah jika jalan yang dihadapinya semakin terjal dan gelap?

Lia, yang baru saja datang, seolah menambah beban yang semakin berat. Namun, Damien tahu ini bukan hanya soal seorang gadis yang menginap di rumah mereka. Ini tentang Nadine yang semakin tidak terlihat. Ini tentang dirinya yang semakin terlupakan. Dan semakin ia mencoba untuk mendekat, semakin terasa perbedaan yang ada di antara mereka.

Bab 3

Hari-hari berikutnya terasa seperti pengulangan dari rutinitas yang sama-sepi, sunyi, dan penuh dengan ketegangan yang semakin mendalam. Damien masih berusaha beradaptasi dengan kehadiran Lia di rumah mereka, meskipun perasaan tidak nyaman itu terus menghantuinya. Setiap kali ia berpapasan dengan gadis itu, ada perasaan aneh yang muncul. Lia hanya bekerja di belakang layar, tapi entah mengapa kehadirannya membuat semuanya semakin terasa berat.

Nadine semakin jarang ada di rumah, dan ketika dia pulang, suasana seakan terkunci dalam diam yang membekukan. Damien mulai merasakan bahwa hubungan mereka semakin dipenuhi oleh kebekuan, tak ada percakapan hangat, tak ada tawa, tak ada keintiman. Semua yang ada hanya rutinitas, hanya tugas-tugas yang harus diselesaikan. Bahkan saat mereka makan malam bersama, itu terasa seperti makan dengan seorang asing. Nadine tidak lagi tersenyum padanya, tidak lagi memperhatikan sekecil apapun dirinya.

Pada suatu malam, setelah Nadine kembali larut, Damien menemukan dirinya duduk di ruang tamu, memandang Lia yang sedang duduk di kursi yang sama, matanya kosong menatap layar ponsel. Tak ada lagi topik yang ingin dibicarakan dengan Nadine, tak ada lagi interaksi yang terasa nyata. Dan Lia, gadis itu, hanyalah pengingat betapa asingnya rumah ini bagi dirinya.

"Kenapa kau tidak tidur?" Damien akhirnya bertanya, suaranya pecah di keheningan yang melingkupi.

Lia menoleh, seolah baru menyadari keberadaan Damien. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," jawabnya dengan nada halus, sedikit canggung.

Damien menarik napas dalam-dalam. "Kau merasa nyaman di sini?"

Lia mengangguk, meskipun ada ketegangan di wajahnya. "Ya, terima kasih, Pak. Nadine baik kepada saya."

Damien menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Lia dengan tatapan yang lebih serius. "Nadine... Dia semakin sibuk belakangan ini, kan?"

Lia tampaknya merasakan ketegangan yang ada. "Saya... tidak tahu banyak, Pak. Saya hanya bekerja di sini." Suaranya pelan, seperti sedang berusaha menjaga jarak, tapi Damien bisa melihat ada sesuatu yang lain di balik kata-katanya. Sesuatu yang tersembunyi, yang lebih dalam.

"Begitu," gumam Damien. Ia merasa seperti ada kabut yang semakin tebal menyelimuti pikirannya. Sesuatu tidak beres di sini, dan perasaan itu terus berkembang. Nadine mungkin terlihat sibuk, tetapi ada sesuatu yang lebih besar yang tidak ia ketahui. Sesuatu yang mungkin mengancam lebih dari sekadar hubungan mereka.

Di malam yang sama, ketika Lia sudah tidur, Damien duduk di meja kerja Nadine, menatap laptop yang terbuka di atas meja. Ada sedikit dorongan untuk mengetahui lebih banyak, untuk menggali lebih dalam ke dalam kehidupan Nadine yang selama ini tampak begitu tertutup. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya memutuskan untuk membuka email yang ada di layar. Tanpa banyak berpikir, ia mulai mencari-cari, berharap untuk menemukan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.

Tiba-tiba, sebuah nama muncul di salah satu email yang baru saja diterima Nadine. Nama itu tidak asing bagi Damien. Seseorang dari perusahaan tempat Nadine bekerja, seorang pria bernama Adrian Hidayat. Adrian? Pikir Damien, siapa dia? Mengapa Nadine berkomunikasi begitu sering dengan orang ini?

Insting Damien mulai berbicara. Ada yang tidak beres, dan rasa tidak nyaman itu semakin kuat. Ia membaca lebih lanjut, mencoba mencari tahu lebih banyak. Satu email dari Adrian yang baru saja masuk membuat perasaan Damien bergejolak. "Aku akan mengurus semuanya, Nadine. Jangan khawatir, kita akan bertemu seperti yang direncanakan."

Apa yang sedang terjadi? Pertanyaan itu muncul dengan cepat dalam pikiran Damien. Bertemu? Dengan siapa? Dan kenapa Nadine merasa perlu untuk menjaga ini tetap tersembunyi darinya?

Damien menutup laptop dengan tangan yang sedikit gemetar. Satu hal yang pasti, ia tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, dan ia tidak akan membiarkannya begitu saja.

Paginya, ketika Nadine kembali ke rumah setelah semalam yang panjang, Damien tidak bisa lagi menahan rasa curiganya. Ia menghadapi Nadine dengan mata yang penuh tanya.

"Nadine," suaranya rendah, tapi tegas. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Nadine menatapnya, tampaknya terkejut. "Ada apa, Damien?"

"Siapa Adrian Hidayat?" tanya Damien, suaranya penuh tekanan.

Nadine terdiam sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya. "Itu... itu hanya seorang kolega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Tapi Damien tidak bisa menepis perasaan bahwa ini lebih dari sekadar 'kolega'. Ada yang ia sembunyikan, dan Damien merasa bahwa ia mulai memasuki area yang sangat berbahaya-tempat yang penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan.

"Jangan berbohong padaku," kata Damien, suaranya semakin tajam. "Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apa hubunganmu dengan pria itu?"

Nadine terdiam, tidak dapat lagi menghindar dari kenyataan. Mata mereka bertemu, dan Damien bisa melihat ketegangan di wajah Nadine. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, Nadine menghela napas panjang.

"Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana," katanya pelan, suara penuh penyesalan. "Damien, aku sudah terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari yang kau pikirkan."

Damien merasa hatinya berdegup kencang. Apa yang baru saja dia dengar? Apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan mereka? Dan apakah ia siap untuk menghadapi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya?

Damien tidak tahu apakah ia masih bisa memperbaiki semuanya, atau apakah kenyataan yang baru saja terungkap akan mengubah segalanya selamanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED