"Assalamu'alaikum, Julia, Ibu datang Nak," ucap ibu mertua, setelah sampai di depan pintu, dengan sedikit berteriak.
"Waalaikumsalam Bu, mari masuk. Apa Mbak Neti gak ikut?" tanya Julia istriku, sedikit ketus. Sambil membuka pintu rumah.
"Gak Julia, Mbakmu hanya ngantar aja tadi di depan. Ada kerjaan katanya," jawab ibu mertuaku, seraya duduk di sofa depan televisi.
"Oh gitu, Ibu lama gak di rumah Julia?" tanyanya lagi, sambil menuju dapur untuk membuatkan teh.
"Gak juga Julia, palingan juga besok udah pulang ke rumah Neti. Ibu mesti jaga anaknya Neti, kasihan kalo Ibu berlama-lama. Neti sibuk," jawab ibu mertuaku, sembari memberi pengertian kepada Julia.
"Ibu ini, pilih kasih. Giliran di rumah Mbak Neti, Ibu bisa betah, tiba di rumah Julia, Ibu seperti injak bara api. Coba nih Bu, seminggu aja di sini. Cucu Ibu juga kangen. Bukan hanya anaknya Mbak Neti aja yang butuh Ibu," cerocos Julia, sambil berdiri dengan tangan berlipat di dada.
"Apaan sih Nak, Ibu bukan gak sayang sama anak kamu. Buktinya Ibu selalu datang ke rumahmu buat liatin Deta. Deta kan udah gede, udah kelas tiga Sekolah Dasar. Sedangkan anak Neti masih Batita. Kan kasihan kalo sampe orang lain yang asuh, pasti kurang diperhatikan," keluh ibu mertua, sambil termangu.
"Ya udah Bu. terserah Ibu maunya gimana, toh, Ibu milih di rumah Mbak Neti karna Ibu tau, Mbak Neti banyak uangnya. Iya kan!" gertak Julia tanpa sopan santun.
"Apa sih Nak, kok ngomongnya gitu sama Ibu. Ibu gak pernah pilih kasih, Ibu menyayangi kalian lebih dari apa pun," ucap ibu mertua, sembari menitikkan air mata.
Kemudian Julia beranjak ke dapur, sepertinya dia malas meladeni ibunya yang sudah tua. Karena menurutnya ibu mertuaku pilih kasih. Padahal, bukan begitu sebenarnya. Ibu mertuaku adalah sosok ibu yang baik, polos, tulus dan penyayang.
Berbeda jauh dengan anaknya Julia, istriku. Julia memiliki sifat yang egois, suka cemburu dengan saudara sendiri. Dan satu lagi, kurang penyayang.
Deta, anakku masih berusia delapan tahun. Kini duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar Negeri di kotaku. Deta adalah anakku satu-satunya. Kata istriku, dia sengaja menunda punya anak lagi. Karena katanya hamil itu capek dan merusak gaya.
Aku tak mempermasalahkan. karena kalau ditanya masalah tambah anak, yang ada dia akan marah sejadi-jadinya.
Aku bukan tipe tempramen. Tapi jika sudah kelewat batas, aku mungkin akan pergi meninggalkannya. Tapi, sejauh ini tidak ada kejanggalan dari Julia, semua masih seperti biasanya.
Aku Riyadi, seorang suami yang bekerja di sebuah perusahaan pembuatan triplek. Aku karyawan kontrak, dengan gaji UMR. Plus gaji lembur, dan THR kalau hari raya.
Julia selalu protes saat aku gajian. Yang katanya gajiku sedikitlah, yang kurang banyak lemburlah dan lain sebagainya.
"Mas, kayaknya gajinya Mas masih kurang deh. Buat kebutuhan sebulan," sungutnya. Ketika aku berikan gajiku sebulan, kala itu.
"Kurang gimana sih Dek? kalo kamu hemat, gajinya Mas pasti cukup sama keperluan pribadi kamu. Anak kita cuma satu, Mas gak ngerokok, paling kalo pengen cari hiburan, Mas cuma nangkring di warung depan. Minum kopi atau teh. Kan Mas gak pernah macam-macam, Dek," ungkapku, sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
"Tapi Mas, gimana pun itu masih belum cukup untuk biaya sebulan. Kayaknya Mas harus nambahin lembur deh, kan Deta perlu jajan tiap hari," desaknya, sambil memalingkan wajahnya dariku.
"Kalo gitu Mas akan nambahin lembur tapi kita harus punya tabungan loh Dek. Karna di bandingkan karyawan lain, Mas paling unggul hari kerjanya. Mas gak pernah absen banyak, palingan kurang lembur aja," ucapku, meyakinkannya.
"Loh, kok Mas bandingin kerjaan Mas dengan yang lain sih. Hidup Mas kan beda dengan yang lainnya. Sama anak istri pake perhitungan. Paling juga kalo nyimpan di celengan itu harga dua puluh ribu an, itu juga jarang. Gimana mau nabung, kebutuhan banyak banget," umpatnya kesal.
"Ya udah! Jangan di permasalahkan. Besok Mas pasti lembur, kita buat target, sebulan harus bisa nyimpan walaupun sedikit-sedikit. Gak mungkin kan kita gak mikirin masa depan anak kita? walaupun rumah udah ada, tapi tujuan hidup mesti ada Dek," ucapku lagi.
"Apaan sih Mas! Jadi kamu mau bilang rumah ini pemberian Ayah Ibumu, hasil jual sawah di kampung. Gitu," gegasnya, mulai membelokkan perkataanku.
"Dek! Mas cuma bilang kita hemat, Mas gak pernah mengungkit masalah rumah kita. Kenapa sih kamu makin aneh, hanya masalah hemat. Di mana-mana, wanita itu berhemat. Kalo kamu selama ini udah nabung, iya Mas syukuri. Mas hanya kasih pengertian Dek, bukan yang aneh-aneh, Mas ini suamimu. Jadi masih sepantasnya Mas ngasih tau kamu," kataku lagi.
Kali ini Julia diam, tapi dengan wajah yang garang.
Keesokan harinya, ibu mertua pun dijemput oleh mbak Neti. Ibu pun bersiap untuk pulang. Julia yang dari tadi di dapur memasak, segera ikut membereskan barang-barang ibu. Tak lupa juga mbak Neti membelikan makanan ringan untuk Deta, anakku.
"Mbak, minggu depan bisa gak Ibu agak lamaan di sini? Deta nanyain, kapan Ibu bisa lama di sini dengan Deta," tanya Julia sambil nunggu ibu mandi.
"Terserah Ibu aja Julia, aku sih nurutin gimana maunya Ibu. Aku gak maksain kok," jawab mbak Neti, sambil memberi jajan anaknya yang masih Batita itu.
"Nanti kita bilangin Ibu ya Mbak, sekali aja. Udah itu, ya, kembali seperti semula lagi," usul Julia girang.
"Iya, tapi kalo Mbak lagi kerja, bisa kan Mbak titipin anak Mbak di sini. Kalo Ibu di sini?" tanya mbak Neti.
"Oh, iya, gak papa kok Mbak. Kasihan kalo dijagain orang lain, ke sini aja deh nanti kalo Ibu udah jadi ke sini," kata Julia, sambil tersenyum.
"Oke deh Julia. Nanti kalo Ibu di sini seminggu, anakku dijaga Ibu di sini aja. Gak keberatan kan kamu dan Riyadi?" tanya mbak Neti, memelas.
"Oh, gak sama sekali Mbak. Yang penting Ibu di sini dulu." jawab Julia dengan semangat.
Tak lama, ibu selesai mandi. Segera mbak Neti dan anaknya serta ibu pulang memakai mobilnya mbak Neti.
Setelah ibu mertuaku pulang, aku pun menemui Julia. Dan kulihat Julia sedang senyum-senyum sendiri, seperti membayangkan sesuatu. Tapi aku tak tau apa yang dia bayangkan.
Sambil mengutak-atik ponselnya sembari berjalan, dia tidak melihatku berjalan kearahnya. Sehingga Julia menabrakku, dan ponsel nya jatuh.
Bagaikan tersambar petir di siang hari, aku terkejut melihat gambar lelaki lain terpampang di beranda ponselnya.
"Ini ... poto siapa Julia! Kok bisa ada poto lelaki lain di ponselmu, apa kamu sedang selingkuh," bentakku sambil menggenggam ponselnya dengan gemetar.
"Eh, anu, bukan Mas. Itu hanya lewat di beranda facebookku, aku juga gak kenal," sahut istriku sambil merampas ponselnya dari tanganku.
Tanpa basa-basi Julia mengutak-atik ponselnya, dan aku tak lagi menanggapinya. Karna tiba-tiba saja Julia menangis, supaya aku percaya bahwa ia tidak sedang berbohong.
"Sumpah deh Mas, aku gak ngapa-ngapain. Itu hanya lewat di berandaku, namanya juga sosmed. Jadi apa aja bisa lewat gitu aja," ungkapnya sembari menggenggam tanganku.
"Untuk kali ini Mas mempercayaimu Julia. Tapi kalo suatu saat kamu ketahuan sama Mas, mungkin Mas gak akan maafkan," tandasku dengan tatapan jauh ke depan tanpa menoleh.
"Ih, apaan sih Mas. Ini nih Julia tadi lagi ngeliat postingan kuliner di facebook Julia. Biar nanti bisa buat sendiri," sambungnya sambil menyodorkan ponselnya ke depanku.
Hari berganti, ibu mertuaku pun datang tepat seperti yang dikatakannya kepada Julia. Aku tak mengerti dengan sikap Julia yang terlalu memaksakan kehendaknya terhadap ibunya sendiri.
Ibu mertuaku sangat rajin sekali, selama di rumah. Ibu mertuaku selalu bersih-bersih, dan membersihkan pekarangan belakang beserta kandang ayamku.
"Ibu, udahlah jangan dipaksain tenaga Ibu. Istirahat aja di rumah, biar Julia yang bersihkan," kataku saat akan pergi bekerja.
"Gak papa kok Nak, di rumah juga Ibu bosan. Gak enak jika Ibu tidak bergerak, mungkin udah kebiasaan di kampung," sahut ibu mertuaku sambil tersenyum.
"Ya udah Bu, kalau capek istirahat ya Bu, Saya pamit kerja dulu Bu," sambungku, sambil menyalim tangan ibu mertuaku.
Akupun berlalu pergi, setelah pamit dari Julia. Aku tak pernah mempermasalahkan atau keberatan jika ibu mertuaku berkunjung lebih lama, karena bagiku itu sebuah penghormatan yang patut aku tunjukkan. Karena setelah menikah, beliau juga adalah orang tuaku. Tinggal bagaimana perlakuan Julia terhadap orang tuaku, karena ayah ibuku sangat jarang datang berkunjung. Paling sekali dalam setahun.
Julia makin terlihat ceria sekali, tiga hari ibu di rumah terlihat Julia sering memakai ponsel ibu. Katanya untuk menjelajah google di sana, karena ponselnya Julia ngadat.
"Bu, sini ponselnya aku pakein dulu. Ponselku gak bagus, udah lelet. Nanti aku isiin pulsanya Ibu," pinta Julia ketika akan memakai ponsel ibu.
"Ya udah, itu ambil di tas Ibu. Ibu juga gak ngerti pakai itu, paling Ibu cuma bisa mengangkat kalau ada panggilan masuk," sahut ibu mertuaku sambil memberikan tasnya pada Julia.
Dengan segera Julia mengambil ponsel ibu mertuaku, kemudian pamit untuk mengisikan pulsanya. Ibu mertuaku kemudian melanjutkan bercanda dengan Deta, anakku. Mereka berdua terlihat akrab, ya, Deta memang sangat menyayangi ibu.
Akupun berlalu untuk membereskan ternak ayam-ayamku, di samping pekerjaan utamaku sebagai karyawan kontrak pabrik, aku juga sengaja membuat ternakan ayam. Untuk menunjang ekonomi kami, Alhamdulillah, aku bisa membuat pengaturan panen yang rutin tiap bulannya walaupun hanya sedikit-sedikit.
"Nak, Julia kok belum pulang? Masak perginya lama ya," tanya ibu mertuaku, setelah aku selesai membereskan ternak ayamku.
"Loh, emangnya tadi Julia izin kemana Bu?" sahutku balik bertanya, sambil memasuki pintu dapur.
"Tadi katanya mau belanja keperluan dapur sebentar, tapi udah seharian belum juga pulang," jawab ibu mertuaku.
"Oh, mungkin bentar lagi juga pulang Bu. Kita tunggu aja, kali aja ketemu Ibu-ibu komplek di pasar," kataku, seolah menenangkan pikiran ibu.
"Iya kali ya, Nak, kalau gitu yok ke depan biar Ibu buatin teh untuk kamu sama Deta," ajak ibu, sambil menepuk lembut pundakku.
Akupun beranjak ke ruangan depan, di sana sudah ada Deta yang sedang belajar. Aku baru tau jika Julia pergi sudah seharian, tapi aku bisa menguasai pikiranku. Untuk apa dia pergi selama itu, pikiranku semakin kacau.
"Ini Nak, teh nya. Minumlah, kamu udah capek pulang dari kerja," kata ibu, membuyarkan lamunanku.
"Makasih Bu, Ibu tak pantasnya membuatkan teh untukku. Oh iya, Ibu kok gak ada teh nya?" sahutku, sambil menyeruput teh buatan ibu yang masih panas.
"Ibu memang gak suka terlalu banyak minum teh, tadi pagi juga kan udah minum," jawab ibu mertuaku, sambil sesekali melirik keluar.
"Ya udah Bu, Ibu istirahat aja di dalam. Nanti saya yang nungguin Julia," sambungku lagi.
"Ibu gak bisa tenang Nak, sampai Julia benar-benar pulang. Kalau gak kenapa-napa, ngapain coba Julia selama ini?" kata ibu mertuaku.
"Gak ngapa-ngapain Bu, paling, ya itu tadi saya bilang," ucapku, sembari menatap keluar.
Ibu mertuaku pun beranjak ke dalam rumah, aku juga sedang berfikir sedang apa Julia di luar seharian. Kalau buat belanja saja, gak mungkin seharian. Lagi pula uang dari mana, dengan gajiku yang pas-pasan.
Setelah Magrib Julia pun pulang, aku lihat dia pulang dengan naik taksi. Tak biasanya, istriku pulang atau pergi naik taksi. Paling juga ojek.
"Habis dari mana aja Julia, kata Ibu dari pagi sampai jam segini baru pulang," tanyaku masih dengan nada yang biasa.
"Oh iya Mas, tadi aku belanja keperluan kita trus ketemu sama Ibu Ustadzah di pasar. Eh ngajakin singgah di rumahnya, gak enak Mas buat nolak. Sekalian di rumah beliau banyak orang yang bantu untuk hajatan. Ini aku bawain makanan karena ikutan bantu," serangkaian kata yang dilontarkan Julia, cukup membuatku percaya.
"Trus kok pake taksi, kan bayaran nya mahal," sahutku, sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
"Iya Mas, rumah Bu ustadzah agak jauh. Jadi, aku tumpangi taksi," sambungnya lagi, sambil membereskan barang yang dia bawa.
Ibu mertuaku seperti biasanya, tidak mau lagi protes setelah mendengar jalan ceritanya. Karena memang ibu mertuaku takut terkena omelan Julia.
Kami pun makan malam, dengan makanan yang Julia bawa. Tak ada sedikitpun rasa curiga, karena jawaban yang Julia berikan cukup membuatku percaya.
Setelah malam mendera, rasa kantuk mulai melanda. Aku pun segera membaringkan tubuh di atas tempat tidur yang berhadapan dengan ruang tamu.
Tak lama, ponsel ibu mertuaku berdering dan aku tak tau sampai berapa lama. Terlihat ibu pun bingung, karena setelah ibu mengangkat ponselnya, kata ibu suara lelaki.
"Julia, kamu dimana? Ini siapa toh, telpon malam-malam," kata ibu mertuaku, sambil pergi menuju dapur.
"Loh mana Julia tau, HP kan punya Ibu. Kok tanya Julia sih Bu!" bentak Julia, sambil merampas ponsel milik ibu.
"Ya makanya Ibu tanya, biar kamu lihat dulu Nak," sahut ibu mertuaku, sambil mengikuti Julia yang berjalan.
Julia mengutak-atik ponsel ibu sambil berjalan menuju ruang tamu, tadinya Julia sedang membersihkan diri. Tak biasanya, Julia kelihatan sudah mandi sebelum pulang.
Ah, mungkin mandi di rumah Bu ustadzah.
Aku pun tak bisa lagi memejamkan mata, dan menyusul mereka di ruang tamu. Aku menanyakan perihal yang terjadi, tapi Julia masih bisa menjawab dengan sempurna.
"Ada apa sih Julia, kok malam gini ada yang telepon Ibu?" tanyaku, sambil duduk di samping ibu mertuaku.
"Ini nih Mas, mungkin penipuan yang minta-minta uang. Untung Ibu langsung kasih tau, kalau gak Ibu pasti terhipnotis," jawab Julia, masih dengan mengutak-atik ponsel ibu mertuaku.
"Ya Alloh, kemarin itu memang di kampung Ibu juga ada kejadian kayak gitu. Tapi udah sempat ngirim uang, semua keluarganya dibentak sama yang kena hipnotis," ucap ibu mertuaku, tampak lugu.
"Ini Bu, hp nya Ibu. Julia mau tidur, udah malam," celoteh Julia, sambil memberikan ponselnya.
Kami pun tidur, begitu juga dengan ibu mertuaku dan anakku Deta. Ibu mertuaku memang sangat lugu, tidak pernah mau menyinggung perasaan siapapun.
Setelah Julia terlihat lelap, aku pun diam-diam mulai mengutak-atik ponsel miliknya. Tak ada yang janggal, baik di aplikasi whatsapp ataupun panggilan keluar atau masuk. Aku pun meletakkan ponsel Julia di atas meja riasnya, kemudian melanjutkan tidurku.
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, setelah sholat subuh aku segera mandi. Seperti biasa, Julia sudah selesai menyiapkan sarapan dan juga bekal makan untuk siang. Yang jarang dia lakukan hanya sholat berjamaah, lain halnya dengan ibu mertuaku. Ibu selalu rajin melaksanakan kewajiban untuk sholat, ibu memang adalah hamba yang taat beribadah. Terlihat juga dari sikapnya sehari-hari, sangat penurut.
"Dek, Ibu di sini sudah tiga hari. Tapi Mbak Neti belum juga mengantarkan anaknya untuk dijagain Ibu, coba deh telpon dulu. Siapa tau ada apa-apa," ucapku penasaran, sambil menyuap nasi.
"Iya ya Mas, kok aku juga lupa kalo Mbak Neti belum mengantarkan anaknya ke sini," sahutnya, sambil berfikir.
"Iya tuh, nanti coba tanyain. Kasihan anaknya kalo sampe dijagain orang," lanjutku lagi.
Aku pun segera menyudahi sarapanku, karena waktu yang mendesak. Aku harus lebih awal sampai di tempatku bekerja, karena pimpinan produksi akan turun ke lapangan hari ini.
Tak lama, Julia pun menghubungi mbak Neti. Dan ternyata Indra demam. Sehingga mbak Neti libur kerja untuk beberapa hari.
"Julia, ayo kita ke rumah Mbakmu dulu. Kita liatin Indra, kasihan Mbakmu," ajak ibu mertuaku, dengan memelas.
"Iya Bu. Tapi kita pulang sorenya ya Bu," usul Julia, agar ibu mertuaku ikut pulang lagi ke rumah kami.
"Iya, kita lihat aja nanti. Kalo Neti membutuhkan Ibu, pastinya Ibu akan tinggal di sana dulu," kata ibu mertuaku.
"Lah, tapi Ibu belum ada seminggu di rumah Julia. Kan, Ibu janji seminggu," desak Julia, tanpa memikirkan perasaan ibu dan mbak Neti nantinya.
"Ya udah, sekarang kita berangkat aja kesana. Kali aja Indra rindu sama Ibu," ajak ibu mertuaku lagi, sambil membereskan rumah.
Kemudian Julia, Deta dan ibu mertuaku berangkat ke rumah mbak Neti, dengan menggunakan taksi.
"Ini nih Bu, Indra tiba-tiba panas tinggi. Jadi terpaksa Neti cuti kerja tiga hari. Tapi udah agak mendingan kok, besok udah bisa kerja," mbak Neti menceritakan keadaan Indra.
Sambil membuatkan teh manis dan mengambil roti untuk di santap, mbak Neti kembali ke ruang depan.
Tampak ibu mertuaku sedang memangku cucunya Indra yang masih terlihat lemas. Setelahnya ibu menidurkan Indra yang sudah mengantuk, setelah minum obat.
Setelah sekian lama, Julia permisi untuk pulang sekalian mengajak ibu pulang. Yang mestinya ibu masih ingin tinggal di rumah mbak Neti. Karena sikap Julia yang uring-uringan, ibu mengalah.
Ya, mbak Neti mengerti perasaan ibu. Tapi di lain sisi, mbak Neti sadar jika adiknya adalah tipe keras kepala dan mau menang sendiri. Memang mbak Neti selama ini terlalu banyak mengalah, demi hubungan baik. Dia tidak mempermasalahkan perasaannya, yang penting tidak terjadi masalah dalam keluarga. Setelah pulang, ibu mertuaku masih terlihat murung.
Julia yang melihat ibu murung tampak kesal, dan tiba-tiba marah ke ibu mertuaku.
"Ibu dari tadi kok murung aja sih!" gerutu Julia, saat akan membukakan pintu masuk.
"Bukan gitu Nak, Ibu rasa Mbakmu akan kerepotan kalau pagi-pagi harus ngantarin Indra kesini. Ibu besok aja pulangnya ya?" ucap ibu mertuaku, sambil sedikit mengiba.
"Ibu gak konsekuen, janji Ibu kan seminggu. Lah ini baru tiga hari loh Bu, pokoknya Ibu di rumah Julia harus seminggu full," sahut Julia dengan sedikit ketus.
"Ya ampun Julia, gak bisa apa kasihan sedikit sama Mbakmu. Lusa Ibu kan bisa datang lagi," sambut ibu dengan suara lirihnya.
"Julia bilang, gak ya nggak Bu!" bentak Julia dengan nada tinggi.
Keesokan harinya, ketika aku pulang dari bekerja, aku tak mendapati Julia di rumah. Kata ibu mertuaku, Julia pergi lagi dari pagi setelah mengantarkan Deta sekolah.
"Emangnya tadi Julia gak bilang mau kemana Bu?" tanyaku pada ibu yang sedang duduk di teras.
"Katanya ada keperluan sedikit, gak tau mau kemana Nak. Cuma bilang gitu aja," jawab ibu.
Aku pun beranjak ke dapur untuk membersihkan diri, ku lihat Deta sedang menonton film kesukaannya di channel favoritnya. Ya, Deta tidak pernah jadi beban buat kami. Dia terlihat lebih dewasa dari umurnya, terkadang karena Detalah yang membuat emosi kadang reda terhadap Julia.
"Deta, Ibu tadi bilang gak kalau Ibu mau pergi?" tanyaku pada Deta.
"Gak, yah. Ibu cuma bilang pergi sebentar, tapi dari tadi belum pulang Yah," jawab anak semata wayang ku.
"Oh, sudah deh. Deta nonton lagi ya?" sahutku, sambil mengusap rambutnya.
Hari sudah mendekati maghrib, baru Julia pulang. Dengan menenteng belanjaan yang lumayan banyak, dan tas branded yang baru ia pakai.
"Julia, dari mana aja kok baru pulang?" ucapku setelah Julia sampai di teras rumah.
"Eh, Mas udah pulang. Ini, Julia baru pulang belanja. Ada temen lama ngajakin jalan, sekalian dibeliin belanjaan Mas. Namanya Vani," jawab Julia, dengan sedikit kaku.
"Teman lama gimana Julia," tanyaku balik, sambil memindai sosok Julia yang terlihat kaku.