Bug...
"Bagaimana rasanya? Kau menyukainya Calvin?" ucap Fernandes yang memukuli Calvin sampai Calvin duduk berlutut di hadapannya dengan darah yang sudah keluar dari mulutnya dan bercampur dengan air liurnya.
"Oh..ho... kau masih kuat berdiri ternyata. Pukulanku kurang keras rupanya."
Bug... bug...
"Apa masih kurang? Baiklah aku akan memberikanmu lebih dari ini. Sampai aku puas."
Bug...Bug...Bug...
"Hhahaha, aku puas sekali hari ini. Ini adalah malam paling indah untukku. Kau akhirnya berlutut di hadapanku Calvin Alcantara. Aku benar-benar menikmati malam ini. Jo, cepat berikan minuman itu padanya. Aku ingin dia menggila di sini. Kita akan menemaninya bersenang-senang. Setelah itu kita bisa membunuhnya dan Membuang mayatnya di depan Channing. Menyusull kedua orang tuanya yang sudah membusuk!"
"Baik tuan. Cepat bawakan obat itu padaku." ucap Jo kaki tangan Fernandes, yang sudah siap berdiri di samping Calvin.
Fernandes. Dia adalah musuh bebuyutan keluarga Alcantara. Keluarganya telah membunuh kedua orang tua Calvin dan Channing Alcantara. Saat itu mereka masih kecil. Sehingga, Calvin dan kakaknya Channing tak bisa membalaskan dendamnya.
"Cepat minum brengsek!!" Jo mencekoki Calvin dengan satu gelas minuman beralkohol dan ada beberapa obat yang telah di racik dan di campur dalam minuman itu.
Jo memegang mulut Calvin agar terbuka dan meminumkannya secara paksa. Meski airnya tak semuanya masuk, tetapi yang masuk juga banyak.
Bug... Bug... Bug...
"Kalian pikir akan dengan mudah mengalahkanku? Kalian bukan sedang bermain dengan anak kecil. Tapi aku, Calvin Alcantara. Jika kalian bisa membuatku seperti ini, aku juga bisa membuat kalian babak belur!"
Saat Jo memberikannya minuman, dia memukul keras wajah Jo dengan kepalanya, hingga hidungnya mengeluarkan darah dan gelas yang di pegang pecah. Setelah itu dia memukul Fernandes dengan cepat hingga membuat luka memar di wajahnya. Dan sebelum anak buah yang lain berhasil menembakkan pistolnya pada Calvin, Calvin langsung mengambil pistol Fernandes yang di letakkan di sofa sebelah dia duduk, dan dia todongkan di kepala Fernandes.
"Jika kalian tak ingin bos kalian mati, lebih baik buang pistol kalian semua. Cepat!"
"Boss.." mereka semua saling memandang dan juga melihat pada Fernandes.
"Aku bilang cepat!!" ucap Calvin yang semakin menekan pistolnya di kepala Fernandes.
"Cepat buang bodoh! Apa kalian ingin aku mati? Hah?" teriak Fernandes karena Calvin baru saja menarik pelatuknya dan siap kapan saja untuk menembak.
Mereka pun meletakkan semua pistolnya ke lantai dan mereka semua mengangkat tangan mereka ke atas. Sedangkan Calvin berjalan mundur sampai dekat pintu kamar vvip yang Fernandes sewa di dalam club itu.
Calvin juga masih membawa Fernandes dengannya, sampai tepat di depan pintu dia mendorong keras Fernandes hingga tersungkur dan menutup pintu itu serta menguncinya dari luar. Kemudian dia berlari ke arah mobilnya.
"Pintunya di kunci boss!"
"Brengsek!!" umpat Fernandes pada anak buahnya yang berusaha mendobrak pintu dari dalam dan berusaha memghubungi pihak club lewat panggilan intercom di sana.
Andai saja dia tadi bisa membunuh Fernandes akan jauh lebih baik. Sayangnya, pistol yang dia ambil tadi hanya tersisa dua peluru. Karena itu dia tak mungkin membuat dirinya dalam masalah. Yang penting dia keluar dulu dari mereka semua.
Dengan cepat dia menghidupkan mobilnya, tubuhnya perlahan mulai bereaksi. Panas dan pandangannya mulai kabur. Tapi dia masih berusaha untuk melajukan mobilnya.
Tapi karena tak kuat lagi, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia mencoba mencari ponselnya dan ingin menghubungi Mario asistennya. Namun karena penglihatannya mulai kabur. Dia tak bisa menemukan ponselnya yang baru saja ternyata saat dia merabanya.
Kring... kring...
"Itu ponselku," Calvin mengambil ponselnya yang berbunyi, cahayanya yang terang dapat membuat Calvin mengambil ponselnya yang ternyata jatuh di bawah dekat kopling.
"Iya halo? Mario? Apa ini kau? Kau di mana?" tanya Clavin yang langsung mengangkat teleponnya.
"Calvin, kau kenapa? Kenapa belum pulang? Kakakmu mencarimu, tapi sekarang dia sudah tidur. Kau di mana sekarang Calvin?"
"Ellice? Apa di sana ada Mario? Jika ada Mario di sana, segera lacak ponselku. Cari aku cepat. Dan satu lagi jangan memberitahukan hal ini pada kakak!"
"Calvin, kau kenapa? Calvin? Halo? Ada apa dengannya? Tapi ponselnya masih terhubung." ucap Ellice yang bingung sambil menatap layar ponselnya yang masih terhubung dengan Calvin.
"Mario di mana? Aku harus mencarinya." Ellice segera menghubungi Mario.
Sementara Calvin sudah menjatuhkan ponselnya. Tubuhnya bereaksi berlebihan. Rasa panas itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan juga ada rasa membakar di dalam tubuhnya yang ingin cepat-cepat tersalurkan.
"Egh!! Sialan kau Fernandes! Aku akan membalasmu! Aarrggghh!!" Calvin menyetel joknya agar lebih nyaman untuknya tiduran dan sedikit memundurkannya agar lebih bebas dia bergerak di dalam sana.
Hingga, hampir satu jam berlalu, Calvin bahkan sudah menghabiskan dua botol air untuk minum dan menyiram tubuhnya. Pakaiannya juga sudah dia lepas semua, dia sudah polos di dalam mobilnya.
Karena tak kuat menahan itu, Calvin sampai bermain sendiri dengan tangannya pada keperkasaannya agar bisa terlampiaskan. Sumpah, Calvin sudah sangat tak sanggup menahan rasa di dalam tubuhnya ini.
Bahkan dia sudah membenturkan kepalanya di jendela hingga berdarah karena rasa membakar itu sudah menggerogoti tubuhnya.
Tok... tok...
"Mario?" Calvin langsung membuka kunci pintu mobil dan membuka pintu di seberang dia duduk. Tanpa melihat siapa yang ada di balik pintu, hingga membiarkannya masuk begitu saja ke dalam.
"Calvin kau kenapa? Aaakkhhhkk!!"
Bukan Mario yang datang, tapi Ellice. Saat Ellice masuk ke dalam mobil dia langsung menghidupkan lampu mobil karena Calvin sengaja tak menghidupkannya. Namun yang Ellice lihat, justru Calvin yang sudah polos dengan miliknya yang berdiri dan cairan di sekitar keperkasaan milik Calvin sudah tercecer di sana.
"Calvin kau kenapa? Apa yang kau lakukan di dalam mobil ini? Apa kau baru saja bermain dengan wanita?" Ellice bicara masih dengan menutup matanya dengan kedua tangannya. Dia juga tak lupa mematikan lampu mobil Calvin kembali.
"Egh! Kenapa kau yang datang kemari Ellice? Kemana Mario? Kau lebih baik keluar dan pulanglah Ellice. Aku mohon. Dan hubungi Mario. Cepat!" mohon Calvin yang sudah sangat menahan hasratnya, karena tubuhnya semakin bergejolak saat Calvin melihat tubuh Ellice.
"Tapi Mario sedang ada pekerjaan bersama Ethan. Karena itu dia tak bisa di hubungi. Aku juga menanyakan keberadaanmu pada Nelson. Tapi, ada apa denganmu? Kenapa kau sampai seperti ini?"
"Aku sudah di berikan obat oleh anak buah Fernandes. Dan sekarang aku hanya eggh..ehmm...!! Keluarlah Ellice. Kau hubungi saja Nelson kemari kalau Mario tidak ada. Atau hubungi Etan. Cepat keluarlah! Aku tak ingin ssshh..egghh.. kel-luarlah!"
Calvin semakin meracau. Tubuhnya semakin panas dan menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan. Mendengar suara Ellice yang begitu lembut, justru membuat Calvin semakin berapi-api.
"Iya aku akan keluar. Aku akan...Akhhk! Calvin Iya aku akan keluar. Lepaskan dulu." ucap Ellice yang mulai gelisah karena Calvin sudah memegang tangannya kuat.
"Ellice, apa kau bisa membantuku? Aku sudah tak sanggup menahannya lebih lama lagi.
'Aarrgghh sial! Ini semakin menyakitkan.' ucap Calvin dalam hatinya. Panas di tubuhnya semakin membara. Seolah akan meledak. Sedang kepalanya semakin pusing karena belum juga tersalurkan.
Sedangkan suara dan aroma tubuh Ellice yang mendominasi di dalam mobil semakin membuat api dalam diri Calvin meletup-letup. Gejolak di dalam sana semakin meningkat. Calvin sudah tak sanggup lagi menahan. Ini sudah di ambang kemampuannya untuk bertahan.
"Ellice, apa kau bisa membantuku? Aku sudah tak sanggup menahannya lebih lama lagi."
Bug...
"Aaakkhhhkk!! Calvin a-apa yang ka.. hppphh!!"
Calvin yang sudah memegang tangan Ellice, segera menarik tuas untuk menyetel kursi yang di duduki Ellice berubah menjadi tiduran. Saat itu juga Calvin langsung naik ke atas tubuh Ellice dan mengecup bibirnya dengan brutal. Seolah Ellice adalah santapannya yang sangat nikmat.
Ellysia Calderon, usianya masih 20 tahun. Dia adalah istri dari kakak Calvin, Channing. Ellice panggilannya. Gadis cantik asal Venezuela yang di temukan Channing. Dia sudah tak memiliki keluarga. Karena kasih sayang yang Channing berikan padanya, akhirnya Ellice setuju atas lamaran Channing. Hingga mereka menikah. Sekarang sudah 2 tahun perjalanan cinta mereka.
Namun ada satu hal yang menjadi beban Channing. Penyakit jantungnya membuat dirinya tak bisa melakukan hubungan suami istri dengan Ellice. Ketika tubuhnya bergejolak, maka reaksi jantungnya akan meningkat dan itu membuat Channing kesakitan. Hingga sampai sekarang Ellice masih virgin.
"Aakkhh Calvin jangan, jangan lakukan ini pa.. Hppphh!"
Lagi-lagi Calvin menyumpal bibir Ellice dengan bibirnya, dan tangannya merobek kuat dress Ellice hingga kancingnya terlepas semua di dalam mobil. Terlihatlah bikini Ellice dengan tubuhnya yang sexy. Bongkahan padat di dadanya semakin membuat Calvin berapi-api.
Ciuman yang di layangkan Calvin semakin memanas. Cairan miliknya yang masih menyelimuti di sekitar keperkasaannya, dia oles di seluruh batang itu hingga membuatnya sedikit licin. Tanpa menunggu lagi, Calvin segera melepas kain penutup inti milik Ellice, dia memasukkannya ke dalam inti milik Ellice yang masih sempit.
Berulang kali Calvin gagal untuk masuk, sampai membuat dia kesal. Dan hentakan terakhir yang begitu kuat, akhirnya batang miliknya..
JLEBB...
"Aaakkhhhkk Calvin!!"
Calvin menusukkan batang keperkasaannya yang besar dan panjang masuk sempurna hingga mentok ke dalam inti milik Ellice.
Ellice yang merasa miliknya robek, merasakan kesakitan. Air matanya sudah mengalir dari ujung matanya. Wajahnya menengadah ke atas menahan rasa di dalam dirinya. Dia hanya bisa memejamkan matanya sambil berusaha mendorong tubuh Calvin dengan kuatnya.
"Egh,.. Calvin a-apa yang kau ssshh.. lakukan? Ini sakit sekali!!" ucap Ellice dengan terbata. Cara bermain Calvin yang memaju mundurkan miliknya dengan tidak sabaran membuat Ellice yang belum pernah bermain merasakan kesakitan. Apalagi pelumas belum keluar saat Calvin memasukkan di awal permainan mereka tadi.
"Maaf Ellice. Aku akan bertanggung jawab. Tapi sungguh maafkan aku. Egh.. ugh..." ucap Calvin sambil terus menggempur Ellice. Kecupan kembali Calvin daratkan di bibir Ellice. Tangannya dia gunakan untuk menopang tubuhnya agar tidak menindih Ellice. Sedang panggulnya terus bergoyang maju mundur.
Tak ada rasa lelah dalam tubuh Calvin. Yang ada ketika berada di puncak kenikmatan, Calvin malah semakin jadi. Bukan hanya satu ronde atau dua ronde. Lebih dari itu. Sementara Ellice sudah tak sanggup menahan lelah hingga di ronde ke 3.
Entah obat apa yang di berikan Fernandes padanya. Yang jelas, Calvin masih terus merasakan haus dan menginginkan sesuatu yang lebih besar. Semakin di asah semakin terus mendamba.
Meski hanya gaya batu yang dia lakukan, tak membuat panggulnya lelah. Tekanan demi tekanan semakin dia perdalam dan semakin masuk menghangatkan miliknya dan membuat kekedutan yang luar biasa nikmat yang Calvin rasakan.
Milik Ellice yang masih baru, membuat sensasi pijatan menjepit sempurna pada batang keperkasaan Calvin. Dan hal itu yang membuatnya semakin menagih. Hingga sudah menghabiskan beberapa waktu, Calvin menembakkan cairan begitu banyak ke dalam inti milik Ellice dan dia ambruk, tak sanggup lagi untuk bergerak.
Dia menjatuhkan dirinya di jok awal dia duduk. Tubuh keduanya sudah polos. Tapi Ellice masih menggunakan dress kemejanya, meski di bagian depan sudah terbuka semua.
Masih dengan nafasnya yang tersenggal, Calvin melihat wajah lelah Ellice yang cantik masih mengeluarkan air matanya walau sudah terlelap sejak tadi.
Dia mengecup ujung mata itu dan kening Ellice dari samping, "Maafkan aku Ellice, kak maafkan aku." Akhirnya Calvin tidur sambil menggenggam tangan Ellice.
Sementara Channing yang baru saja terbangun di jam 7 pagi, tak melihat istrinya. Dia pikir Ellice sedang menyiapkan sarapan mereka seperti biasa. Dia mencoba duduk dan melihat ponselnya. Ia hendak menghubungi Ellice, tapi ternyata sudah ada pesan yang di tinggalkan istrinya di nakas.
"Sayang, maaf aku meninggalkanmu sendiri. Calvin sedang membutuhkan bantuan, karena itu aku keluar sebentar untuk menolongnya. Salam cium dari istri tercintamu. Ellice." isi pesan yang di tulis istrinya untuk Channing. Channing hanya tersenyum.
"Apa memangnya yang sedang di lakukan dua orang itu? Dasar kalian ini. Nanti aku akan menghubungi mereka." ucap Channing sambil tersenyum dan berdiri menuju toilet untuk mandi.
Samar-samar terdengar suara isak tangis di telinga Calvin. Dia membuka pelan matanya dan menoleh ke arah kanan. Ellice sedang duduk meringkuk memeluk kakinya menghadap jendela.
Calvin seketika langsung duduk dan dengan cepat menggunakan pakaiannya kembali tanpa membersihkan cairan-cairan yang melekat di tubuh bagian bawah miliknya.
"Ellice, maafkan aku. Maaf aku sudah melakukan hal ini padamu. Aku sungguh tak kuat lagi menahannya semalam. Maafkan aku Ellice." tak ada jawaban dari Ellice. Ellice justru semakin menenggelamkan wajahnya.
Calvin hanya bisa memandang Ellice dari belakang. Dia juga menjambak rambutnya.
"Mario, kau di mana?" tanya Calvin yang segera menghubungi asistennya.
"Anda sudah bangun tuan? Maaf semalam saya sedang mencari keberadaan Rey tuan. Karena itu saya tak mengangkat panggilan nyonya. Saya ada di luar mobil anda sekarang tuan." ucap Mario. Calvin pun menoleh ke belakang dan melihat ada Mario. Dia keluar dan mengecup singkat rambut Ellice dari belakang.
"Mario. Bawakan satu pakaian untuk Ellice. Nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Belilah sekarang."
"Baik tuan." Mario segera mengerjakan apa perintah Calvin.
Saat Mario menyiapkan apa yang di minta Calvin, Calvin hanya menunggu dari luar mobil. Menyandarkan punggungnya pada mobil. Dia ingat betapa buas dirinya semalam pada Ellice.
"Kak, maafkan aku." ucapnya dengan pandangan matanya yang menerawang jauh memikirkan kesalahannya pada Ellice dan Channing.
Tak sampai setengah jam, Mario sudah kembali dan segera memberikan kantong itu pada Calvin. Sebelum masuk, Calvin menarik nafasnya dalam.
"Ellice, ini pakaian ganti untukmu. Kau bergantilah di sini. Aku akan menunggu di luar. Kau jangan khawatir. Kaca ini tak akan tembus dari luar." Calvin meletakkan kantong pakaiannya di bawah dasboard. Saat dia akan keluar, dia memandang dalam punggung Ellice. "Maafkan aku Ellice."
Calvin pun keluar dan menunggu Ellice berganti pakaian. Satu jam dia menunggu. Dia juga sudah menceritakan semuanya pada Mario. Mario jadi merasa bersalah karena dirinya tak ada saat Calvin membutuhkannya. Sampai ada suara ketukan dari dalam.
"Ini bukan salahmu. Kerjamu sudah bagus. Kau bawalah mobil Ellice. Dia akan pulang bersamaku."
"Baik tuan. Terima kasih"
Saat di dalam mobil tak ada pembicaraan sama sekali antara keduanya. Ellice hanya diam memandang jalan. Sesekali dia menghapus air matanya. Ketika sampai di rumah. Calvin mencoba membuka pembicaraan dengan Ellice.
"Jika kau tak ingin mengatakan hal ini pada kakak aku akan diam. Aku tak akan membicarakan hal ini padanya. Kau tak perlu khawatir. Sekali lagi maafkan aku." Calvin keluar dari mobil dan Ellice juga keluar dari mobil.
"Kalian dari mana? Kenapa lama sekali?"
"Kemana mereka? Kenapa tak bisa di hubungi? Apa kau tau apa yang sedang di lakukan Calvin dan istriku Gerry?" tanya Channing yang masih berada di meja makan. Terpaksa pagi ini dia makan sendiri tanpa di temani istri manjanya.
"Tidak tuan. Sejak semalam tuan Calvin belum pulang, kalau nyonya saya tidak melihatnya." Channing hanya mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.
Usai makan, Channing akan langsung berangkat kerja, tapi sudah memesankan bibi yang menjaga mansion jika istrinya pulang segera menghubunginya. Namun saat Channing dan Gerry akan berangkat kerja, mereka melihat mobil Calvin baru saja datang.
"Itu mereka. Aku akan ke sana dulu Gerry." ucap Channing yang sudah berjalan mendekati mobil Calvin. "Kalian dari mana? Kenapa lama sekali?" tanya Channing dengan senyum tampannya berjalan ke arah istrinya.
"Sayang kenapa kau tak mengangkat panggilan teleponku?" tanya Channing lagi yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ellice dan bergelayut memeluk Ellice dari belakang.
Ellice yang bingung akan menjawab apa melirik pada Calvin.
"Hei Cal, wajahmu kenapa? Kau berkelahi lagi? Dengan siapa? Kau harus ke rumah sakit. Atau aku akan hubungi Antony saja nanti untuk memeriksamu di rumah." ucap Channing sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter Antony.
Wajah Calvin di hajar habis oleh kelompok Fernandes, bengkak dan memar di mana-mana Apalagi di ujung bibir dan pelipisnya yang robek. Saat itu kondisi Calvin baru saja di pukul area sensitif belakang kepala.
Keadaan Calvin yang lemah, dengan cepat di manfaatkan kelompok Fernandes untuk menghajar Calvin secara berkelompok. Jelas Calvin harus mengumpulkan kekuatan diri untuk bangkit.
"Oh ini? Heh, ini karena si bitch Fernandes. Aku akan segera membalaskannya kak. Kau tenang saja. Aku pastikan mereka akan segera mati. Fuck!" ucap Calvin dengan tatapan matanya yang menghunus dengan aura pembunuhnya. Dia akan selalu mengingat hari kemarin. Dan pembalasan Calvin akan lebih kejam pada Fernandes.
"Tetap saja, nanti Simon biar ke rumah untuk memeriksamu. Kau tak perlu ke kantor. Biarkan Mario saja yang mengurusnya." Calvin hanya mengangguk dan memegangi ujung bibirnya yang terluka.
"Lalu kemana tadi pagi kalian berdua?" tanya Channing kembali ingat ke pertanyaan awalnya.
"Kakak ini rahasia, nanti malam kau juga akan tau." Ellice yqng mendengar ucapan Calvin terkejut. Dia menatap intens ke arah Calvin. Ellice pikir, Calvin akan mengatakan semuanya malam ini.
"Oh rahasia. Baiklah-baiklah, aku mengalah. Aku akan tunggu malam nanti kalau begitu. Ya sudah, sayang aku berangkat dulu ya?" ucap Channing sambil membalik tubuh Ellice dan Ellice segera mengecup bibir suaminya.
Meski sakit, Channing masih tetap melakukan rutinitas kesehariannya. Dia juga bekerja di perusahaannya sendiri, Calvin juga bekerja di perusahaannya sendiri.
Channing sama sekali tak mencurigai apapun. Apalagi Ellice yang belum bertatap muka langsung dengan Channing, sehingga suaminya tak dapat melihat jika wajah istrinya sudah sangat sembab karena banyak menangis.
"Hati-hati sayang." hanya itu kata yang keluar dari mulut Ellice. Setelah Channing pergi, Ellice kembali memberanikan diri menatap Calvin.
"Apa kau malam ini akan memberitahu pada Channing, Calvin? Apa kau sudah perkirakan bagaimana jika Channing jatuh sakit?"
"Bukan Ellice. Aku tadi berbicara seperti itu karena malam ini akan memberikan kejutan ulang tahun untuk kakak. Apa kau lupa besok kakak ulang tahun? Aku tak akan mengatakan hal ini jika kau tak ingin memberitahunya." jawab Calvin lembut. Namun tetap tegas.
"Ah iya aku lupa. Aku akan masuk dulu." Ellice buru-buru masuk ke dalam rumah. Setelah di dalam kamar, dia segera menuju toilet dan untuk mengguyur tubuhnya di bawah hangatnya air shower.
"Aakkhh,,, ssshh ehm.. sakit sekali." sebelum mandi Ellice membuang air kecil dulu di closet. Tetapi saat akan di keluarkan air seninya, justru terasa sakit sekali. Nyeri sekali rasanya. Bahkan saat jalan saja masih terasa ada yang menyumpal.
"Sakit sekali." Ellice sampai mengeluarkan air mata dari ujung matanya saat mencobanya sekali lagi. "Akkhhk!!"
Klek..
"Kau kena..?"
"Aakkhhkk! Apa yang kau lakukan Calvin? Keluar!" teriak Ellice saat Calvin tiba-tiba masuk dengan dirinya yang dalam keadaan polos. Dia cepat-cepat menyilangkan tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Maaf, aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja. Dan aku mendengar kau berteriak di dalam sini. Ap-apa.. kau baik-baik saja Ellice?" posisi Calvin saat ini masih berada di pintu kamar mandi sambil memegang pintu. Tapi dia membelakangi Ellice.
"Aku tak apa-apa. Kau keluarlah." jawab Ellice
"Baiklah, sekali lagi maafkan aku Ellice." Calvin bicara dan menutup pintunya.
"Aakkhh!" Saat Ellice kembali berteriak kecil, Calvin kembali menoleh dan memberanikan diri untuk membuka pintu lagi.
Klek..
Ellice terlihat tampak menekan bagian kemaluannya sambil meringis. Calvin segera masuk dan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan Ellice.
"Kau kesakitan kenapa? Aku akan membantumu." ucap Calvin yang sudah duduk di depan Ellice.
"Aakkh! Aku tak apa. Keluarlah Calvin." ucap Ellice dengan nada bicara yang sudah meninggi. Dia juga kembali menyilangkan tangannya untuk menutupi aset berharganya.
"Aku bisa membantumu. Apanya yang sakit? Maaf ini semua karenaku. Aku tak akan melakukan hal itu lagi padamu. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. Hmm?" ucap Calvin menenangkan sambil menggosok tangannya di puncak kepala Ellice.
Ellice menatap dalam kepada Calvin dengan air mata di ujung matanya yang masih tersisa. "Sa-saat aku membuang air se-seniku, itu-ku terasa sakit." ucap Ellice dengan terbata.
Ellice memang selalu manja pada Calvin maupun suaminya. Dia memang masih kecil. Dan masih sangat polos. Tapi meski begitu, dia sudah menikah dengan Channing karena memang mereka saling suka. Hanya saja tingkat sukanya yang berbeda.
Channing jelas menganggap Ellice adalah cintanya. Dia pria dewasa, usianya saja sudah 32 tahun. Selisih 1 tahun dengan Calvin. Pemikiran orang dewasa pasti berbeda dengan Ellice.
Tapi Ellice, saat di lamar oleh Channing tingkatannya adalah rasa kagum karena Channing menolongnya. Ellice menganggap Channing sebagai pangeran berkuda putihnya. Tapi seiring berjalannya waktu tak ada yang tau hati seseorang.
"Coba aku lihat?"
"Tidak. Kau bukan suamiku." ucap Ellice yang masih menutup tubuh polosnya.
"Aku berjanji tak akan melakukan apapun denganmu. Kemarin itu karena aku dalam pengaruh obat. Aku sungguh menyesal dengan perbuatanku semalam. Dan sekarang aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja. Hanya itu."
Calvin tulus ingin memastikan jika Ellice memang baik-baik saja. Tidak ada maksud lain. Karena dia tau jika semalam dia memang begitu tak sabaran pada Ellice. Dan sebab itu dia takut jika milik Ellice terluka karena perbuatannya yang kasar.
"Janji?" tanya Ellice dan Calvin menganggukkan kepalanya. Perlahan Ellice membuka tangan yang menutupi seluruh tubuh polosnya. Dan sedikit melonggarkan kakinya.
Sementara Calvin yang di suguhkan dengan tubuh Ellice yang sintal dan sexy, Tiba-tiba darahnya kembali berdesir.
Bongkahan dada Ellice terlihat begitu padat. Seperti buah melon kecil yang sepertinya pas di telapak tangan Calvin jika menangkup di sana. Kilatan-kilatan percintaan semalam muncul lagi di otaknya.
Entah pengaruh obat itu masih ada atau tidak, yang jelas saat ini tubuhnya kembali memanas. Padahal saat melihat tubuh Ellice tadi yang menggunakan kaos ketat tak seliar ini pikiran Calvin. Tapi sekarang?
Apalagi saat mata itu melihat puncak tertinggi milik Ellice yang sudah menantang berwarna coklat muda bercampur pink membuat rasa panas semalam bangkit kembali. Tapi dia masih berusaha untuk manahannya.
"Ya-yang mana yang sakit?"
"Di sini. Saat aku membuang air seniku, itunya terasa sakit sekali." lagi-lagi Ellice menangis, karena memang perih sekali yang dia rasakan.
"Coba aku lihat." Calvin melebarkan kaki Ellice perlahan dan sekali lagi, dorongan dalam diri Calvin semakin menjadi. Lempitan berwarna pink itu, yang terlihat masih sangat rapat dan wangi cologne bayi dari tubuh Ellice membuat otak Calvin bersinggungan dengan gerakan tubuhnya.
"Coba kau keluarkan perlahan?"
"Ssshh... sakit egh..." keluh Ellice saat kembali mencoba mengeluarkan air seninya. Memang keluar, tapi sedikit-sedikit dan itu sakit sekali bagi Ellice.
Calvin melirik wajah Ellice yang memejamkan matanya saat mencoba mengeluarkan air seninya. Dia mengambil jet shower di belakang closet, dan menyetelnya dalam mode hangat.
Dan jelas posisi saat mengambil jet shower, tubuh Calvin sedikit lebih dekat dengan area buah melon milik Ellice. 5 cm lagi, wajah Calvin bersentuhan dengan bagian itu.
Jika memang tubuh Calvin yang bereaksi seperti itu karena masih dalam pengaruh obat, maka jelas obat yang di berikan Fernandes adalah obat keras dengan dosis yang cukup tinggi. Dan yang di rasakan Calvin saat ini memang seperti semalam. Panas di rasa tubuhnya saat melihat tubuh polos Ellice. Meski tak seperti semalam yang begitu membludak dalam dirinya.
"Egh... kau m-mau apa Calvin? Ssshh egh..!"