"Ibu, aku akan mencari kayu bakar di hutan untuk nanti malam," ucap seorang gadis berambut panjang hitam yang diikat rapi dengan tali pita biru. Wajahnya ceria, dan ia mengangkat sebuah keranjang rotan yang sudah sedikit usang namun masih kokoh untuk menyimpan kayu bakar.
"Sudah waktunya, ya? Baiklah, sekalian tolong bawakan bekal untuk ayahmu di sawah juga, Kirana," jawab ibunya sambil tersenyum lembut, tangannya lincah mengemas nasi dan lauk pauk sederhana ke dalam bungkusan daun pisang.
"Baik, Bu!" jawab gadis yang bernama Kirana itu. Ia mengambil bekal makanan yang telah disiapkan oleh ibunya, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah berpamitan dengan ibunya, Kirana melangkah keluar dari rumah, melewati pintu kayu yang berderit halus.
Perjalanan menuju sawah milik mereka sedikit agak jauh dari rumah, tetapi Kirana menikmati setiap langkahnya. Jalan setapak yang ia lalui diapit oleh pepohonan hijau dan semak-semak yang penuh dengan bunga liar berwarna-warni. Suara burung-burung berkicau riang di atas dahan, sementara angin lembut berhembus menerpa wajahnya, mengibarkan beberapa helai rambut yang lolos dari ikatan. Ia merasa senang dan bebas, dan sesekali ia menendang batu-batu kecil di jalan sambil bersenandung pelan.
"Inilah yang namanya kehidupan damai!" gumamnya, matanya berbinar melihat pemandangan alam yang asri dan tenang. Hatinya dipenuhi rasa syukur atas kebahagiaan sederhana yang ia miliki.
Setelah beberapa lama berjalan, Kirana tiba di sawah milik keluarganya. Sawah itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Padi yang mulai menguning bergoyang lembut diterpa angin, menciptakan gelombang kecil di atas lautan hijau dan emas.
Ia berjalan menuju tempat ayahnya berada. Dari kejauhan, ia bisa melihat seorang lelaki yang sedang duduk di saung kecil di tengah sawah itu, sosok yang sangat ia kenal. Ayahnya tampak sedang beristirahat, topi capingnya dilepas dan diletakkan di sampingnya. Wajahnya yang berpeluh menunjukkan kelelahan setelah bekerja seharian.
"Ayah!" panggil Kirana sambil melambaikan tangan. Ayahnya menoleh dan tersenyum lebar saat melihat putrinya mendekat.
Laki-laki itu menoleh ke arah asal suara tersebut. “Ini, aku membawakan bekal untuk Ayah.”
Laki-laki itu tersenyum. “Akhirnya... ini yang sudah Ayah tunggu-tunggu, perut Ayah sudah mulai keroncongan,” jawabnya sambil memegang perutnya.
“Maaf, hari ini sedikit terlambat karena aku harus membantu Ibu terlebih dahulu memotong kayu bakar untuk memasak.”
“Tak apa, Ayah sudah tahu itu dan tak perlu meminta maaf, Kirana.”
“Baiklah Ayah, aku harus pergi untuk mengumpulkan kayu bakar untuk malam nanti. Silakan nikmati makananmu dan ingat untuk pulang tepat waktu.”
Setelah berkata demikian, ia pun mulai berjalan menjauh dari sawah menuju hutan yang tidak jauh dari sawah milik keluarganya.
Saat di dalam hutan, Kirana sengaja tidak memasukinya terlalu dalam karena ia tahu di dalam hutan tersebut hidup beberapa harimau yang kadang keluar untuk memangsa ternak milik warga desa. Sembari bersenandung kecil, ia mulai memungut batang maupun ranting pohon yang sudah jatuh dan kering di tanah.
“Ini... belum cukup sama sekali untuk kami pakai nanti malam,” ucapnya, melihat keranjang kayu bakarnya baru terisi sangat sedikit.
“Aku tahu kalau masuk lebih dalam lagi akan berbahaya bagiku, tapi kayu bakar ini masih belum cukup.”
Ia merasa bimbang dan merasa tak enak kepada orang tuanya jika membawa sedikit kayu bakar, pasalnya saat ini sudah masuk musim hujan dan malam hari akan terasa sangat dingin jika hujan turun. Belum lagi jika kayu bakar yang ia bawa dalam keadaan basah akibat seringnya hujan, akan sangat sulit untuk menggunakannya.
“Baiklah, untuk hari ini saja aku akan masuk sedikit lebih dalam ke hutan ini!” katanya dengan tekad yang bulat.
Dengan tekad yang sudah bulat, ia berjalan menuju hutan untuk memasukinya lebih dalam lagi. Memang jaraknya agak jauh, tapi sepertinya keputusan yang ia buat itu membuahkan hasil. Di pedalaman hutan itu, ia menemukan banyak sekali ranting dan batang pohon yang bisa ia jadikan kayu bakar.
Layaknya menemukan harta karun, matanya berbinar-binar sembari mulai memunguti satu persatu kayu-kayu itu dengan bersenandung senang. Wajahnya sumringah kegirangan karena dalam waktu yang tidak terlalu lama, keranjang yang ia bawa sudah sangat penuh berisikan kayu bakar.
“Sudah kuduga! Keputusanku untuk masuk lebih dalam itu memang benar!” Ia mengepalkan tangannya sembari tersenyum gembira.
Setelah itu, ia memutuskan untuk mencari tempat guna istirahat sejenak di tempat itu karena merasa sedikit kelelahan. Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, ia menemukan sebuah pohon besar yang rindang lalu ia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang itu.
Di tempat itu, ia duduk dengan mensejajarkan posisi kakinya dengan lurus sembari memijat-mijatnya karena merasa sedikit keletihan. Tanpa terasa waktu berlalu dan ia tertidur di bawah pohon itu.
***
Tiba-tiba saja, Kirana terbangun dari tidur singkatnya itu. “Gawat! Sudah berapa lama aku tertidur?!”
Dengan tergesa-gesa, ia segera merapikan kayu bakarnya dan segera pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat pandangannya menangkap sesuatu yang sangat tak asing baginya.
Kini di hadapannya, seekor harimau yang sangat besar tengah melihatinya.
“Apakah ini akhir dari hidupku?” gumamnya dengan rasa ketakutan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Gemetar, takut, dan rasa tidak berdaya seketika menyelimuti gadis itu.
Selama beberapa detik, ia hanya berdiri diam saja sembari menunggu harimau besar itu pergi. Namun dari pandangan harimau itu, terlihat jelas bahwa ia telah menemukan mangsa di hadapannya.
Harimau itu pun tidak beranjak dari tempatnya dan terus menatap Kirana yang ada di hadapannya. Dengan sisa-sisa keberanian, Kirana melemparkan kayu bakar yang ia kumpulkan dengan keras ke arah harimau besar itu dan lari sekencang mungkin ke arah luar dari hutan.
Seakan tidak terpengaruh oleh lemparan kayu bakar, harimau besar tersebut dengan cepat berlari mengejarnya. Tak ingin kehilangan mangsanya, harimau besar itu berusaha mengejar dan menerkamnya. Entah keberuntungan apa yang dimiliki Kirana, ia berkali-kali lolos dari terkaman harimau besar tersebut.
Tubuhnya terluka dan pakaiannya terlihat agak compang-camping karena Kirana selalu menerjang ranting dan dedaunan pohon-pohon besar di dalam hutan itu. Saat tenaganya hampir habis dan ia sudah tak kuat lagi berlari, ia dihadapkan dengan sebuah tebing yang curam.
Ia tertawa kecil sambil melihat harimau besar itu yang sekarang sudah berada tak jauh dari hadapannya. “Ini adalah benar-benar akhir dari hidupku... Ayah, Ibu, mohon maafkan putri kalian ini!”
Kirana pun memutuskan untuk melompat dari atas tebing yang tinggi itu. Tubuhnya terguling-guling dari atas tebing menuju ke arah sungai yang ada di bawahnya. Sesekali tangannya mencoba meraih batang pohon kecil atau tanaman rambat yang ada di sekitarnya demi mencoba selamat dari kejatuhan itu.
Namun, malang, cengkeramannya tidak ada yang berhasil mengenai benda apapun hingga akhirnya ia terguling sampai tercebur ke dalam sungai itu. Anehnya, ia masih selamat dari kejadian itu dan sempat mencoba berenang menuju pinggir sungai.
“Rupanya Tuhan masih memberikanku kesempatan untu—”
Kirana pun tak sadarkan diri saat sudah menepi di pinggir sungai.
“Ayo kita putus!”
Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari gadis manis di hadapanku. Ia pergi menjauh dariku setelah berkata demikian, meninggalkanku dengan perasaan campur aduk antara kaget, bingung, dan marah.
Entah apa yang dipikirkannya hingga berkata seperti itu dan sudah jelas hubungan kami berakhir saat ini juga. Apa dia tidak memikirkan perjuanganku selama ini untuk membuatnya merasa senang dan bahagia? Apa dia juga tidak memikirkan berapa banyak biaya yang telah kukeluarkan untuknya? Makan malam di restoran mahal, hadiah-hadiah mewah, dan waktu yang kuhabiskan hanya untuknya!
Dasar wanita! Seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang! Kalau saja ia bercerita kepadaku tentang apa saja perbuatanku yang salah, mungkin aku bisa memperbaikinya. Tapi, ya sudahlah, mungkin ini juga namanya bukan jodoh.
Aku berdiri di tengah trotoar, menatap kosong ke arah tempat dia berlalu. Beberapa orang yang lewat menatapku dengan rasa penasaran, mungkin mereka berpikir aku baru saja mengalami kehancuran hidup terbesar.
Sebuah pemikiran melintas di benakku. "Toh, daripada aku pusing memikirkan perkataan bodoh dari mantan pacarku, mending aku pulang dan tidur saja!"
Saat aku berjalan pulang, tiba-tiba saja langit mendung dan turun hujan yang sangat lebat. Benar-benar hari yang sial! Aku merasa seperti tokoh utama dalam film drama, di mana segala sesuatu yang buruk terjadi berturut-turut.
Tanpa ingin basah lebih lanjut, aku langsung berteduh di minimarket terdekat. Mengeringkan diri sedikit, aku memutuskan untuk membeli sebotol teh dingin untuk melepaskan dahagaku.
Dengan teh di tangan, aku duduk di bagian belakang minimarket sambil menenggak minuman tersebut. Kupandangi langit yang semakin gelap dan petir mulai menyambar, menambah dramatis suasana hatiku yang sudah muram.
Hujan pun turun makin deras, membuatku terjebak di minimarket ini. Bisa saja aku membeli payung dari minimarket dan langsung pulang, tapi karena masih kepikiran dengan ucapan gadis bodoh itu, aku memutuskan untuk tidak membelinya. "Biarkan saja aku terjebak di sini," pikirku sambil menyesap teh.
Sambil menunggu hujan reda, aku mulai memperhatikan sekeliling. Di depan, kasir minimarket yang cantik sedang melayani pembeli dengan senyuman. Setidaknya ada pemandangan yang menyenangkan di tengah hari yang sial ini.
"Setidaknya, duduk di sini dan melihat kasir yang cantik ini tidak dilarang, kan?" gumamku pada diri sendiri sambil tersenyum kecil. Menikmati momen kecil ini, aku merasa sedikit lebih baik.
Kulirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul 17.05. Gawat, semakin petang saja tapi hujan belum menandakan akan berhenti. Sembari menikmati pemandangan kasir minimarket yang sibuk melayani pelanggan, dengan suara rintik hujan yang menenangkan, aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celanaku dan menaruh sebatang di mulutku.
Saat mencoba mengambil korek gas dari saku kemejaku, seseorang menepuk ringan pundakku. “Maaf, Kak, dilarang merokok di dalam minimarket,” katanya sopan.
Aku melirik ke arah suara itu dengan sebatang rokok masih menempel di mulutku. Seorang pria muda berseragam minimarket yang sama dengan kasir tadi tersenyum sembari memegang pundakku.
Tanpa pikir panjang, kucabut rokok dari mulutku dan menyimpannya kembali ke dalam bungkus. "Maaf, lupa," kataku dengan senyum malu-malu.
Aku tersenyum malu sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, benar-benar merasa malu! Tanpa sengaja, aku melihat kasir cantik tadi tengah tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan mungilnya. Sial! Benar-benar menyegarkan mataku!
Pria yang memperingatkanku tadi berjalan menuju meja kasir yang berada di dekat pintu toko. Untuk menghilangkan rasa malu, kutenggak lagi minuman yang kubeli, sambil diam-diam mencuri pandang ke arah kasir cantik itu.
Saat aku sedang menikmati minuman dan pemandangan, tiba-tiba saja aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut. Pria yang tadi memperingatkanku mengelus lembut kepala kasir cantik itu, dan kasir cantik itu membalasnya dengan pelukan hangat.
“Bruffffttttt!! Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Aku langsung menyemburkan minumanku dan terbatuk-batuk, membuat keributan kecil di sudut minimarket.
Beberapa orang yang ada di sekitar menoleh ke arahku, termasuk pasangan kasir dan pria berseragam itu. Mereka terlihat terkejut, lalu pria itu berjalan mendekatiku lagi dengan senyum ramah di wajahnya.
"Apakah Anda baik-baik saja, Kak?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Aku hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa malu yang semakin menumpuk. "Iya, aku baik-baik saja, hanya tersedak sedikit," jawabku, mencoba untuk tetap tenang.
Kasir cantik itu ikut tersenyum dan berkata, "Maaf kalau kami membuatmu terkejut. Kami baru saja bertunangan minggu lalu."
Sialan, ternyata mereka baru tunangan! Cukup sudah! Aku sudah muak dengan hari ini! Mungkin saja ini adalah salah satu hari paling sial dalam hidupku!
Dengan rasa kesal, aku mulai keluar dari minimarket itu. Aku menerjang hujan lebat dengan pakaian yang basah kuyup. Aku berjalan hingga sampai ke sebuah sungai dengan jembatan yang cukup besar di atasnya.
Merasa kedinginan akibat pakaianku yang basah, aku memutuskan untuk berlari ke bawah jembatan untuk berteduh kembali. Saat sampai di sana, aku melihat rumput di daerah itu sudah terlalu tinggi dan lebat untuk dilalui. “Sial, ternyata rumput di sini sudah terlalu tinggi dan lebat untuk dilalui.”
Menyesal dengan keputusan sesaat, aku menggerutu kesal dan melempar botol minumanku ke arah tepian sungai. Botol itu melayang di udara, memantul sekali di permukaan air, dan akhirnya menghilang di arus sungai yang deras. Aku berusaha mencari tempat yang lebih kering di sekitar bawah jembatan.
Mengutuk dalam hati, akhirnya aku menemukan tempat yang cukup terlindung dari hujan, meski masih sedikit lembap. Sambil duduk di sana, aku merapikan rambutku yang basah dan mencoba menenangkan diri.
“Seharusnya aku membeli payung tadi,” gumamku, menatap ke arah sungai yang deras mengalir. “Tapi, ya sudahlah, semuanya sudah terjadi.”
Kulepas kemejaku dan mulai memerasnya hingga kusut agar air benar-benar terbuang dari kemejaku. Saat aku meremas kemejaku, tanganku tak sengaja memegang benda aneh yang ada di saku. Benda itu agak padat dengan warna coklat.
“Apa ini?” gumamku, penasaran. Saat kulihat lebih dekat, aku teringat sebungkus rokok yang tadi tak sempat kubakar dan kuhisap akibat melihat pemandangan di minimarket itu.
Melihat bungkusan rokokku yang sudah tak berbentuk lagi akibat kuperas kemejaku dengan sekuat tenaga, aku membuang sebungkus rokok yang masih tersisa enam batang di dalamnya. “Buang-buang uang saja,” gerutuku. "Sepertinya harus kucoba untuk berhenti menghisap benda itu."
Lagipula, merokok tidak baik untuk kesehatan. Tapi kenapa aku merokok? Kuingat-ingat alasanku mulai merokok dan akhirnya teringat juga kenapa aku menjadi pecandu rokok.
“Sepertinya itu terjadi sekitar empat bulan yang lalu saat—” Aku berhenti mengoceh saat mengingat keadaan yang membuatku menjadi pecandu rokok.
Itu semua karena mantan pacarku yang baru saja mengakhiri hubungan kami secara sepihak dan tanpa penjelasan sedikit pun! Saat itu aku terbuai dengan ucapannya bahwa laki-laki keren harus merokok.
Aku tertawa mengingat hal bodoh yang kulakukan di masa lalu agar bisa menggaet seorang gadis yang kini berstatus mantan pacarku. Kenangan itu membuatku melamun, meratapi semua kejadian sial yang hari ini terjadi. Dari saat aku keluar rumah, diputuskan pacarku, masuk ke minimarket dan melihat kejadian yang membuat mataku sakit hingga kini terjebak hujan di bawah jembatan besar.
Lamunanku pecah saat mataku tanpa sengaja melihat sesuatu yang terlihat seperti tubuh seorang wanita yang mengambang di pinggir sungai tempatku berteduh.
"Sial, apa itu?" gumamku, setengah berharap itu hanyalah ilusi karena hari yang penuh kesialan ini. Dengan hati-hati, aku mendekati tepi sungai, mencoba memastikan apa yang kulihat.
Rasa takut menyelimutiku saat aku berjalan mendekati sesuatu yang mirip tubuh manusia itu. Kuperhatikan dengan seksama, ternyata itu memang tubuh manusia yang mengapung di pinggir sungai! Lebih mengerikan lagi, itu adalah tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka goresan.
“Apa yang harus kulakukan dengan penemuan mayat ini?” pikirku panik. Dengan semua hal yang terjadi seharian ini, aku sangat tidak ingin harus berurusan dengan polisi setelah menemukan mayat seorang gadis.
Aku berlari kecil di antara rerumputan yang agak tinggi, meninggalkan mayat yang ada di hadapanku menuju tempat di mana aku menyimpan kemejaku. Saat berlari, pikiranku dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Bagaimana bisa hari yang sudah begitu buruk ini berubah menjadi mimpi buruk?
Seketika, langkah kakiku terhenti setelah telingaku menangkap suara tak jauh dari tempatku berdiri. Suara itu terdengar seperti desahan lemah. Kutengok sekeliling, mencoba mencari sumber suara tersebut. Kulihat sekeliling hingga berputar-putar, tapi sejauh mata memandang, tidak ada satu pun manusia kecuali diriku di tempat ini.
“...to..long...” Tubuhku bergidik merinding saat mendengar kembali suara seorang gadis yang merintih meminta tolong.
“...tolong...aku...” Suara itu terdengar begitu lemah, namun cukup jelas untuk membuat bulu kudukku berdiri. Apakah tempat ini angker dan berhantu? Apakah si manis penunggu jembatan kini akan menampakkan dirinya di hadapanku saat ini juga?
Entahlah, yang kupikirkan saat ini hanyalah ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, suara itu terus memanggil.
“...tolong...aku...paman...” Apa? Paman? Dimana?
“Paman yang ada di pinggir sungai...tolong angkat aku dari sungai ini...”
!!!
Setelah mendengarkannya dengan seksama, aku sadar kalau gadis yang ada di sungai itulah pemilik suara ini. Rasa takutku berubah menjadi rasa tanggung jawab. Kuberanikan diri menengoknya, dan benar saja, seonggok tubuh seorang gadis yang mengapung di sungai itu masih hidup.
Tanpa pikir panjang, aku mulai menariknya ke pinggir sungai. Dengan sekuat tenaga, kuberanikan diri mendekat dan menarik tubuhnya yang lemah keluar dari air. Setiap tarikan terasa berat, tetapi dorongan untuk menyelamatkannya memberiku kekuatan lebih.
“Tenang, aku akan membantumu,” kataku dengan suara yang berusaha terdengar tenang, meskipun hatiku berdebar kencang. Gadis itu terlihat sangat lemah, tapi matanya yang setengah terbuka menunjukkan bahwa dia masih sadar.
Tubuhnya lemas dan dipenuhi luka memar, napasnya terengah-engah menandakan bahwa dia kelelahan. Entah apa yang sudah dialaminya hari ini, tapi aku merasa iba melihatnya.
“...terima kasih telah menolongku, paman...” Itulah kata terakhir yang kudengar darinya sebelum dia tak sadarkan diri dan pingsan dalam pelukanku.
Aku memeluknya dengan lembut, mencoba memberikan sedikit kenyamanan dalam keadaannya yang lemah. Pikiranku berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dia, apa yang terjadi padanya, dan bagaimana aku bisa membantunya lebih lanjut.
Kulirik jam tanganku dan menyadari sudah pukul 19.15. Sudah sekitar dua jam aku berada di bawah jembatan pinggir sungai ini bersama seorang gadis yang entah dari mana asalnya, tengah pingsan sambil memelukku erat.
Hari semakin larut, dan hujan juga sepertinya sudah mulai berhenti sedikit demi sedikit. Aku berusaha membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi dia tetap tidak merespons.
"Astaga! Kalau posisi seperti ini sampai terlihat oleh orang-orang, bisa-bisa aku dihajar karena dikira sedang melakukan hal yang tidak senonoh kepada gadis ini!"
Aku semakin panik, mencoba mencari cara untuk membangunkannya tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Kondisiku sangat tidak menguntungkan saat ini karena aku tidak mengenakan kemejaku yang sudah kutinggalkan di dekat trotoar saat membuang bungkusan rokok yang sudah tak berbentuk lagi.
Seorang pria yang tampaknya sedang melakukan pelecehan terhadap seorang gadis di bawah jembatan kota. Gadis itu terlihat sudah dilukai terlebih dahulu, dan pakaiannya tampak compang-camping seperti diserang oleh komplotan penjahat.
Tidak! Aku tidak ingin menjadi viral dan terkenal di media karena melakukan kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Aku menepis pikiranku yang membayangkan diriku menjadi tersangka utama.
Kembali ke situasi darurat saat ini, aku mencoba membangunkan gadis itu dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Aku berharap agar dia segera sadar dan bisa memberikan petunjuk atau informasi tentang apa yang terjadi padanya.
Namun, meskipun aku mencoba dengan sekuat tenaga, dia tetap tidak merespons. Rasa putus asaku semakin mendalam, tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja.
Mataku tanpa sengaja melihat kilat di langit yang mulai berdatangan lagi, menandakan bahwa hujan akan turun lagi tak lama lagi. Dengan susah payah, aku tetap menggendong gadis itu. Kucoba meraih kemejaku yang kutinggalkan, kemudian kugunakan untuk menutupi tubuh gadis itu.
Kukumpulkan tenaga dan mencoba berdiri. “Ternyata tubuh gadis ini ringan juga, ya?” aku berbisik pada diriku sendiri sambil melihat-lihat jalanan yang akan kulewati.
Dengan perasaan khawatir dan was-was, aku berlari sekencang mungkin sambil membawa gadis ini menuju rumahku. Pikiranku dipenuhi kekhawatiran akan apa yang akan dikatakan orang jika mereka melihatku. Aku membawa seorang gadis dalam pelukanku, dan itu pun pada malam hari!
Apakah orang-orang tidak curiga dengan apa yang sedang kulakukan ini? Aku hanya bisa berharap bahwa tidak ada orang yang melihatku yang tengah berlari kencang seperti sedang menculik seorang gadis. Tetapi, dalam keadaan genting seperti ini, aku tidak punya pilihan lain selain bertindak secepat mungkin demi keselamatan gadis itu.
Setelah berlari sekuat tenaga, akhirnya aku sampai di depan rumahku, sebuah rumah yang menjadi hasil jerih payah orang tuaku selama bertahun-tahun. Mereka memberikan rumah ini untukku dengan harapan aku bisa hidup mandiri dan tanpa ketergantungan pada mereka. Tapi sungguh, aku merasa sangat beruntung menjadi putra mereka di dunia ini!
Selain rumah utama, aku juga memiliki rumah kost tiga lantai yang berada tepat di depannya. Itu adalah bonus tambahan yang membuatku semakin bersyukur. Aku tidak perlu bekerja keras karena pendapatan dari sewa orang-orang yang tinggal di rumah kost terus mengalir.
Kupandangi halaman rumah kost dengan seksama, memastikan bahwa halaman ini sepi agar aku bisa langsung berlari menuju rumahku. “Sekarang saatnya!” Dengan semangat, aku meluncur dari halaman depan rumah kost menuju pintu rumahku. Aku meraih gagang pintu dengan penuh semangat, siap menyambut momen epik ini.
“Selamat...”
Dengan sedikit memaksa, aku melepaskan pelukan gadis itu dan menidurkannya di sofa. "Tidak mungkin, hahaha. Aku membawa pulang seorang gadis dan menidurkannya di sofa rumahku. Tapi kenapa aku tidak membawanya ke rumah sakit?"
Tak ingin dipusingkan dengan pikiran itu, aku memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaian yang basah. "Aneh, benar-benar aneh dengan semua hal yang terjadi hari ini."
Sambil mengelap rambut yang basah setelah mandi, aku membuka kulkas dan mengambil sekaleng kopi yang ada di dalamnya, lalu kuminum sambil menghadap ke arah luar jendela rumahku. "Hujan kembali turun, dan sepertinya akan turun dengan deras sekali."
Sambil menikmati kopi kalengan, aku berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat keadaan gadis yang kupungut dari sungai itu. "Semoga dia baik-baik saja dan tidak membuat kekacauan di rumahku," gumamku sambil meneguk kopi dengan perasaan campur aduk. Aku benar-benar tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami petualangan seaneh ini di hari yang hujan-hujan seperti ini!
Gadis itu sudah sadar dan terlihat sedang terduduk kebingungan di sofa rumahku dengan pakaian basahnya. Dengan berani, aku mendekatinya.
"Eh... anu, dengar ini..."
Dia melirik ke arahku.
"Sekarang hari semakin gelap dan hujan juga sepertinya akan turun dengan deras lagi. Jika rumahmu tidak jauh, aku bisa mengantarmu pulang sebelum hujan deras datang."
Dia masih diam, tapi tatapannya menunjukkan bahwa dia mendengarkan.
"Jika rumahmu jauh, kamu bisa menelepon keluargamu dan meminta mereka untuk segera datang dan menjemputmu. Aku bisa meminjamkan ponselku untuk kamu pakai."
Gadis itu masih saja terdiam.
“Lihat tubuhmu yang basah dan pakaianmu yang compang-camping ini, lebih baik cepat pulang agar tidak jatuh sakit,” ucapku dengan nada khawatir.
Dia berdiri dan menatap wajahku. “Sebenarnya ini di mana?”
Hah? Tidak heran juga ia nampak kebingungan.
“Ini adalah rumahku, dan lingkungan ini termasuk kawasan rumah kost yang pemiliknya adalah aku sendiri,” jelasku dengan cemas.
“Dan paman ini siapa?”
Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan ini? Dasar tidak sopan menyebutku sebagai paman! Jika dilihat sepertinya usia kita tidak jauh berbeda!
“Namaku adalah Yodha, panggil saja aku Yoda dan bukan paman!” Jawabku dengan sedikit kesal karena dia terus memanggilku dengan sebutan paman. Hatiku merasa sakit mendengarnya!
Kuambil payung yang ada di dekat pintu rumahku. “Ini kuberikan payung agar kamu bisa pulang, tapi aku akan menyimpannya kembali jika kamu tidak mau memakainya.”
“Tapi aku tidak tahu arah jalan pulang, dan aku juga tak tahu ini di mana…” katanya bingung.
Benar-benar gila, tanpa diduga aku benar-benar membawa korban percobaan pembunuhan ke dalam rumahku!
“Sudahlah, aku menyerah. Sebaiknya kutelpon saja polisi nanti atau lusa untuk segera membawamu dari rumahku, aku juga siap menghadap ke kantor polisi.” Aku merasa putus asa.
Dia masih terlihat kebingungan di sana. Aku berharap dia bisa menemukan jalan pulangnya dengan baik.
“Apa kamu ingin mandi? Tidakkah tubuhmu merasa tidak nyaman karena pakaian basahmu itu?” tawarku, sambil meraih remot TV dan menyalakannya. Sambil itu, aku juga mengambil ponselku untuk menelpon polisi.
“Halo, kantor polisi? Aku ingin melaporkan sesuatu tentang penemuan—”
Aku terbelalak saat melihat gadis yang tadinya terlihat lemas dan kebingungan, kini berubah menjadi sangat agresif dan menghancurkan TV LED-ku menggunakan payung yang tadi kuberikan padanya dengan nafsu ingin membinasakannya.
“Halo, ada yang bisa kami bantu? Aku mendengar suara yang sangat keras, ada apa?” Suara polisi di telepon terdengar panik.
“Ti-tidak ada apa-apa, tadinya saya ingin melaporkan tentang perusakan barang tetapi ternyata itu adalah kelakuan kucing peliharaanku sendiri yang suka naik ke atas tangga dan perabotan rumah dan tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang di rumah.. Maaf telah mengganggu,” ucapku sambil berusaha menjelaskan keadaan.
“Baiklah jika tidak ada keperluan lagi, kami akan menutupnya.”
“Baik, maaf telah merepotkan,” sahutku, seraya menutup telepon dengan gemetar karena ketakutan yang amat kuat.
Ini benar-benar hari yang gila! Tubuhku gemetar sembari menutup telepon dengan ketakutan yang amat kuat.
Sambil menahan ketakutanku, aku mencoba memecah keheningan yang tegang, "Kamu ternyata sangat kuat, ya? Ahahaha..." ujarku dengan nada canggung.
Tapi tatapan gadis itu masih sama saja, menyeramkan dan penuh nafsu membunuh. Aku berusaha mencari cara untuk keluar dari situasi yang semakin tidak menyenangkan ini.
"Aku... eh, maksudku... jadi, apakah kamu mau mandi?" tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar, mencoba mengalihkan perhatiannya.
Tapi sepertinya tidak ada yang bisa menembus keadaannya yang seperti robot pembunuh.