Kupeluk tubuh Habib yang kurus dengan erat sembari menangis. Belaian lembut mengusap rambutnya yang hitam lurus,berusaha untuk menenangkannya agar tidak terlalu bersedih karena kepergian ayahnya. Mata para tetangga mulai menatapku dengan pandangan dingin dan kaku. Kasak-kusuk terdengar cibiran dari mulut mereka.
"Habib, ayo kita masuk, Nak! Tidak baik terus berada di luar," ucapku lirih.
"Ayah, pergi Bunda," kata Habib sembari memelukku.
"Duh, ada janda baru di kampung kita, nih. Ibu-Ibu harap waspada dengan Ayi sekarang. Dia baru saja mendapat gelar janda baru karena suaminya menceraikannya sewaktu pulang," sela Bu Lina tetangga sebelah kananku.
"Kasihan, sudah ditinggal merantau lima tahun pulang malah diceraikan," ucap Bu Irma menimpali. Wanita bertubuh tambun tersebut suka gosip.
Aku hanya mengelus dada medengar cibiran para tetangga. Ada rasa perih yang mengucur dalam hatiku seperti diperasi air lemon. Segera kubawa Habib masuk kedalam rumah untuk menghindari fitnah dan gibahan para Ibu-Ibu.
Sesampai di dalam rumah kututup pintu dengan rapat. Aku segera membawa Nara untuk mandi karena hari semakin senja. Habib masih duduk di kursi bambu yang sudah mulai lapuk dengan memeluk lututnya.
"Nak, bantu Bunda untuk mengangkat kain di luar sebentar lagi akan turun hujan," ujarku. Habib melangkah dengan gontai menuju jemuran belakang.
Mendung menutupi awan yang gelap di langit yang terlihat hitam. Sebentar lagi akan turun hujan kalau di lihat dari gelapnya mendung dari arah barat.
Awan hitam bergulung-gulung menyelimuti langit, seperti hatiku yang kini di landa badai kehancuran dari rumah tangga yang selama lima tahun aku bina. Hampir sebelas tahun hidup dengan Mas Anan dalam suka dan duka.
***
Malam yang dingin terasa menembus kulit dari dalam. Hujan turun dengan deras hingga membuatku harus banyak menampung air dari genang air hujan, atap rumah semuanya pada bocor.
Ember dan baskom pelastik pun berjejer di atas lantai semen yang sudah mulai retak sana-sini. Kupeluk erat tubuh Nara yang mulai kedinginan karena tertetes air hujan. Sementara Habib, mulai terlihat mengigil juga karena menahan dingin akibat guyuran air dari atap yang bocor.
"Habib, kemarilah Nak! Mendekat sama Bunda biar baju kamu gak basah," ucapku.
Habib, segera bangun dari tidurnya dan mendekatiku ke arah pojokkan tempat tidur yang beralaskan tilam busa yang sudah kempes. Tilam pemberian dari Ibu Helmi sewaktu mengantar cucian. Bu Helmi adalah istri kepala desa.
"Bunda, dingin," keluh Habib.
Ia meringkuk menahan rasa dingin yang kian menusuk di kulit.
"Pakai ini, Nak!" kosodorkan baju hangat yang kupakai agar ia bisa merasa nyaman.
"Bunda, kenapa Ayah benci sama kita dan tidak mau pulang," ucapnya polos.
Jantungku terasa nyeri ketika ia mengatakan kalimat itu.
"Ayah, gak benci sama kita, Nak. Mungkin hatinya belum terbuka, kita do'a' kan saja agar Ayah diberi hidayah dan menyadari kesalahannya."
"Bunda, Adik haus," ucap Nara.
Segera aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan air minum buat Nara.
"Ini, minumlah!" kuberikan segelas air putih untuk putri kecilku.
Ia meneguknya hingga habis dan memberikan gelas bekas minumnya padaku.
"Makasih, Bunda," balasnya. Kembali Nara melanjutkan tidurnya sembari kubalutkan selimut.
Malam ini kami tertidur dalam keadaan meringkuk menahan dingin, hingga waktu subuh menjelang sampai hujan reda. Rasa dingin yang menusuk tulang masih terasa akibat guyuran hujan semalam. Aku bangkit untuk menunaikan salat subuh sebelum akhirnya kubangunkan Habib, untuk melaksanakan kewajiban lima waktu juga.
"Habib, bangun Nak! Ayo kita salat subuh!" ucapku sembari menguncang tubuhnya pelan.
"Sakit, Bunda," keluhnya.
Kusentuh kening Habib refleks. Badan Habib panas, ia demam.
"Habib, kamu demam, Nak. Astagfirullah, badan kamu panas banget Bib." Berulang-ulang kutempelkan punggung tanganku untuk mengukur suhu badan Habib.
Aku segera berlari ke dapur menyiapkan air dingin untuk mengompres kening Habib.
"Bunda akan mengompresmu, Nak, untuk sementara agar panasmu sedikit turun. Nanti, Bunda akan membelikanmu obat di warung Bu Tini kalau sudah pagi," ujarku.
Habib hanya mengangguk pelan. "Iya, Bunda."
Memastikan keadaan Habib baik-baik saja aku segera melaksanakan salat subuh dan membereskan ember serta baskom yang di pakai untuk menampung air hujan semalam.
Pukul tujuh pagi aku bergegas kewarung bu Tini yang terletak lima ratus meter dari rumah. Rencananya membeli beras dan lauk tempe untuk di masak hari ini. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya tujunku tiba di warung bu Tini. Banyak para Ibu-Ibu sudah mulai memadati warungnya.
"Bu, beli berasnya satu kilo saja. Bayam seikat dan tempe satu bungkus," ucapku.
"Sebentar ya, Ayi," Bu Tini segera mengkemas belanjaan yang aku minta. "Ini semuanya delapan belas ribu."
"Ini uangnya, Bu. Kembalianya kasih obat penurun panas saja," ujarku.
"Siapa yang sakit, Ayi?" tanya Bu Lala menimpali.
"Habib, Bu. Semalam ia demam," jawabku singkat.
"Kalau panas bawa ke dokter atau puskesmas Ay. Biar diperiksa," potong Bu Izah.
Aku hanya meremas ujung hijab yang menutupi kepala sembari menunduk.
"Mana mungkin, Ayi bisa membawa anaknya berobat Bu. Dia' kan miskin," sela Riri yang baru saja datang ke warung.
Aku terdiam.
"Makanya jadi istri kudu dandan kayak aku biar suami gak selingkuh. Kamu, sih tiap hari cuma pakai kerudung panjang dan gak modis, pantesan suamimu kabur dan menceraikanmu," cibir Riri memajukan ucapannya.
Dengan bibir yang dipolesi lipstik merah merona, bibir seksinya terlihat mengkrucut saat mencibirku dengan gamblangnya.
"Eh, sudah Ibu-Ibu. Masih pagi jangan menggosip. Kasihan' kan Ayi baru tertimpa musibah," ucap Bu Tini membelaku.
"Halah ... jangan kasihan Bu. Bisa-bisa nanti ngelunjak dia," lanjut Riri.
Para Ibu-Ibu yang mendengar ucapan Riri semuanya tertawa sembari mencibirku.
"Ha ... ha ... ha ... benar tuh, Ri. Sekarangkan, Ayi janda jangan sampai suami kita tergoda dengannya," sela Bu Izah menimpali.
Sakit rasanya mendengar cemohoh'an wanita para tetangga yang begitu saja menyudutkanku. Kalau bisa memilih sejujurnya aku juga tidak ingin menjadi janda. Kutahan air mata yang sedari tadi terasa perih ingin meluncur deras begitu saja.
"Eh, sudah Ibu-Ibu jangan bergosip lagi! Ayi juga gak mau hidup miskin dan menjanda," sahut Bu Helmi yang tiba-tiba muncul di warung.
Bu Helmi wanita yang sangat baik selalu memberi pertolongan padaku saat dalam keadaan terdesak seperti ini. Beliau wanita separuh baya yang berumur setengah abad, tapi mempunyai sifat yang ramah dan baik hati.
"Ayi, nanti datanglah ke rumah Ibu untuk mengambil cucian," ucapnya.
Aku mengangguk. "Iya, Bu."
Segera aku berlalu dari hadapan para ibu-ibu yang masih menggosip ria mengunjingkan pribadiku. Samar kudengar Riri masih mencibirku dengan memojokkan statusku yang baru menyandang janda.
"Bu Helmi, gak usah terlalu baik sama Ayi. Nanti bisa-bisa Pak Kades malah kepincut dengannya," cibir Riri.
Samar kudengar ia mengibahku tanpa takut dosa. Aku segera menjauh dari warung dan mempercepat langkahku menuju ke rumah. Di depan rumah aku berpapasan dengan ustaz Rahman yang berhenti tepat di jalan depan gubukku.
"Ayi, dimana Habib? Apa ia tidak sekolah?" tanyanya sembari melihat ke dalam rumah. Wajahnya terlihat mencari sesosok Habib. Biasa habib berangkat ke sekolah selalu di bonceng Ustaz Rahman menggunakan motor metic miliknya. Jarak dari rumah ke sekolah bisa terbilang jauh hingga memakan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki.
"Habib sakit, Pak Ustaz," sahutku cepat.
"Sakit? Sakit apa, Ay?" tanya Ustaz Rahman.
"Demam, badannya panas hingga tidak bisa pergi ke sekolah," jawabku.
"Sudah dibawa ke dokter, Ay?" tanya Ustaz Rahman.
Aku menggeleng pelan. "Belum."
Ustaz Rahman menghela napas berat kemudian merogoh saku celananya dan memberikan uang selembar berwarna biru.
"Ini, ambilah untuk berobat Habib!" Ustaz Rahman menyodorkanku uang lima puluh ribu.
"Gak usah, Pak Ustaz, " tolakku.
"Aku tahu kamu sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan Habib, Ay. Ambil saja! Aku ihklas memberikannya padamu."
Sekali lagi aku hanya menggeleng menolak pemberiannya. Ustaz Rahman adalah pemuda tampan yang menjadi idaman gadis Desa. Tidak jarang para gadis akan menyapanya dengan senyuman manis atau sekedar cari perhatian darinya agar bisa mendapatkan perhatian lebih.
"Gak usah, Pak Ustaz," sergahku. "Aku gak mau merepotkan," sembari berlalu dari hadapannya.
"Tunggu, Ay!" Ustaz Rahman menahan langkahku.
Aku berbalik dan menoleh ke arah Ustaz Rahman yang masih berdiri di depan rumahku.
"Anggap saja ini gaji, Habib yang dibayar di muka. Jadi kamu tidak perlu sungkan menerimanya," ujarnya sembari menyodorkan uang itu kembali.
"Habib, pasti bersedih Pak Ustaz jika uang gajinya aku pakai buat biaya berobatnya."
"Rezeki pasti ada yang lain, Ay. Percalah, tidak dari tanganku pasti dari tangan orang lain. Terimalah! Segera bawa Habib berobat biar cepat sembuh dan bisa sekolah lagi dan juga membantuku mengajar ngaji anak panti," ucap Ustaz Rahman mengulas senyum.
Dengan ragu-ragu kuterima pemberian Ustaz Rahman.
"Terimakasih, Pak Ustaz," ucapku.
Ustaz Rahman menganguk pelan. "Iya."
Setelah memberikan uang ia pun berlalu dari hadapnku dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah untuk mengajar. Ustad Rahman yang berfropesi sebagai guru PNS, di kampung ini juga mengajar mengaji pada anak-anak.
Para orang tua serta warga kampung, mempercayakan anak mereka pada Ustaz Rahman untuk dibimbing menjadi pengajar ilmu agama dunia dan akhirat. Mereka membayar Ustaz Rahman seratus ribu perbulan, ada banyak murid yang diajari mengaji oleh Ustad Rahman, bila sepulang sekolah. Tepat jam empat sore mereka sudah berkumpul di rumahnya untuk belajar mengaji.
"Bunda," sapa Nara yang baru bangun dari tidur.
"Kamu sudah bangun Nak?" tanyaku tersenyum. Kugendong tubuh mungil Nara yang baru bangun tidur. Kucium pucuk kepalanya dengan lembut.
"Laper," ucapnya.
"Sebentar ya. Bunda akan masak di dapur," ucapku.
Kududukkan Nara di atas balai-balai bambu.
Sesaat kemudian kunyalakan kompor dengan pematik. Memasak dengan bahan yang ada biar anak-anak tidak kelaparan.
Kemiskinan sudah membuatku jatuh bangun dalam menghidupi Habib dan Nara. Meski kehidupan kami terbilang miskin, setidaknya aku masih bersyukur kedua anakku tak banyak mengeluh dengan keadaan.
Bersambung.
"Asalamualaikum," ucapku pada Bu Helmi.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Helmi dari dalam rumah.
Aku berdiri di depan pintu rumah Bu Helmi sambil menenteng kerajang yang berisi pakaian bersih yang sudah disetrika.
"Bu, ini pakaiannya sudah selesai."
"Iya, Ay," sahutnya.
Bu Helmi keluar dari dalam kamar masih memakai pakaian daster batik berwarna coklat tua.
"Ini, upah buatmu Ay," ucapnya mengulas senyum.
"Terimakasih, Bu."
Kuterima uang lembaran dua puluh ribu dari Bu Helmi. Hanya Bu Helmi pelanggan tetap yang masih bertahan mengantar cucian tiap hari. Ia terkenal dermawan pada setiap orang, terlebih lagi kepada keluargaku.
"Besok ada acara di rumah, Ibu. Kamu datang ya, buat bantu-bantu di dapur!" kata Bu Helmi. Seraya memberiku bungkusan kantong plastik hitam yang tadi dibawanya dari arah dapur.
"Apa ini, Bu?" tanyaku penasaran.
"Tadi, Rida pulang dari kantor membawa martabak telur tiga porsi. Kebetulan Bapak lagi ada tugas di luar tidak pulang. Jadi, Ibu memberikan satu untukmu," lanjutnya.
"Maaf, Bu. Aku jadi merepotkan Ibu."
"Kamu tidak perlu sungkan atau canggung Ay. Ibu, memberikan ini karena tidak mau makanan mubazir. Lebih baik Ibu berikan padamu agar anak-anakmu bisa ikut menikmati," jelas Bu Helmi.
"Terimakasih, Bu."
"Sama-sama. Besok jangan lupa datang ya ke rumah buat bantu Ibu masak."
"Ibu, ada acara apa?" tanyaku penasaran.
"Rida, dilamar pacarnya. Dan akan mengadakan acara tukar cincin pada malamnya," jawab Bu Helmi tersenyum.
Aku hanya mengangguk. "Oh ...."
Setelah berpamitan pada Bu Helmi aku melanjutkan mengantar pakaian ke rumah Bu Zainab. Satu tanganku menenteng keranjang pakaian yang sudah bersih di setrika. Sementara tangan yang satunya lagi menggendong Nara.
Pegal sudah pasti, apalagi lelah jangan di tanya lagi bagaimana rasanya berjalan dari rumah mengantar pakaian menyusuri desa membuat tubuh dan tulang-tulangku rasanya mau remuk. Sampai di rumah Ibu Zainab aku berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Asalamualaikum, Bu Zainab," sapaku.
Kebetulan Bu Zainab sedang duduk di teras bersama suaminya.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
"Ini, pakaiannya sudah selesai Bu."
Bu Zainab segera menghampiriku dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah.
"Besok gak usah ambil cucian ke rumah Ay. Karena Ibu sudah punya mesin cuci baru. Suami Ibu yang membelikannya tadi," ucap Bu Zainab sembari merangkul suaminya.
Aku menganguk pelan. "Iya, Bu."
Berkurang satu lagi pelanggan yang biasa mengantar cucian ke rumah. Dengan sabar kuusap dada agar di lapangkan rezeki berikutnya.
"Aku dengar suamimu menceraikanmu Ay," sela Pak Iwan. Matanya terlihat mengerling sebelah ke arahku.
"Iya, Pak," jawabku kaku.
"Oh, ya, Ay, ini upah kamu. Aku hampir lupa memberikannya," ucapnya.
Ibu Zainab menyerahkan uang pecahan lima belas ribu kepadaku.
"Kok, lima belas ribu, Bu," perotesku.
"Iya. Ibu potong lima ribu karena kemarin kamu telat mengantarnya sampai ke rumah," jelasnya sembari memajukan bibirnya lima centi ke depan.
Soal dandan Bu Zainab memang nomer satu. Bibir merah merekah dengan lipstik merah darah tidak pernah absen setiap hari.
"Astagfirullah, Bu. Kemarin' kan sudah aku jelasi kalau telat karena harus menjemput Habib, dari sekolah," ujarku menjelaskan.
"Iya, kalau telat ya tetap telat, Ay. Lagian, gara-gara kamu aku jadi terlambat arisan dan ketinggalan berita," sungutnya kesal. Bibir tebalnya mengkrucut ke atas.
"Ya, sudah Bu.Tak apa, mungkin memang rezekiku hari ini cuma segini," ucapku menunduk.
Setelah menerima upah dari Bu Zainab, aku pun melanjutkan perjalanan mengantar pakaian yang sudah disetrika. Tinggal satu lagi pekerjaanku akan selesai.
Berjalan di bawah teriknya sinar matahari membuat tubuhku terasa panas. Nara, yang sedari tadi ada dalam gendonganku masih tertidur pulas. Setiap hari Nara tidak pernah aku tinggalkan di rumah sendiri saat mengantar pakaian ke rumah pelanggan. Nara, aku gendong menggunakan kain jarik yang sudah usang terdapat tambalan dan jahitan sana-sini.
Berjalan keliling desa membuatku terasa sangat lelah. Semua kulakukan demi kedua buah hatiku yang sudah menjadi tanggung jawab. Di sebuah rumah berukuran sederhana, perumahan tipe tiga enam langkah kaki berhenti. Rumah milik Intan adalah rumah terakhir yang aku singgahi untuk mengantar pakaian.
"Asalamualaikum," ucapku dari luar.
Sejenak aku duduk di teras Intan beristirahat sebentar mengaatur napas.
Tak lama kemudian Intan muncul dengan menggunakan linggrie berwarna merah menyala.
"Eh, kamu, Ay," sapanya.
"Iya, Tan. Aku datang ke sini untuk mengantarkan pakaianmu."
"Ya, sudah letakkan saja di situ! Sebentar aku ambil uangnya ke dalam," Intan melangkah dengan gemulai memakai linggrie merah menyala pada siang hari.
Semenit kemudian aku mendengar suara seorang pria muncul dari kamarnya dengan memakai handuk saja sebatas pinggang. Semula aku mengira itu suami Intan yang baru pulang kerja. Tapi, ternyata bukan.
"Siapa sih, siang-siang datang kemari? Ganggu orang lagi enak-enakkan saja," dengkus pria itu kesal.
"Tukang cuci, Sayang," sahut Intan cepat.
"Cepat kasih uangnya, Sayang! Dan suruh lekas pergi aku mau lanjutkan main kuda-kuda'an," ucapnya. Seraya berlalu begitu saja sembari menutup pintu kamar dengan keras.
Intan pun kemudian mendekatiku dengan pelan dan memberikan upah sesuai dengan kesepakatan awal.
"Ambil uangnya, Ay! Dan segera pergilah dari rumahku!" ketus Intan.
"Maaf, Tan. Aku tidak punya kembaliannya," ucapku.
"Sudah ambil saja kembaliannya! Tapi, jangan bocorkan rahasiaku, ya," titahnya. Intan memberikanku uang pecahan lima puluh ribu sebagai ganti aku tutup mulut.
"Aku takut dosa. Maaf, bukan sombong menolak rezeki. Tapi, aku gak mau nanti jadi beban di akhirat," ujarku.
"Halah ... sudah miskin saja belagu. Sok gak mau uang. Dikasih lebih malah nolak," cibirnya.
Aku hanya mengelus dada mendengar cerocos intan. Uang yang disodorkannya sebagai ganti tutup mulut karena menutupi aib perselingkuhannya. Tapi, dengan tegas aku menolaknya berdalih dosa dan tidak berkah. Intan kemudian marah dan membanting pintu rumah sekeras-kerasnya.
"Ya, sudah kalau tidak mau. Pergi sana! Sudah dikasih rezeki malah nolak. Dasar, tak tahu di untung," cerocosnya.
Intan Membanting pintu tanpa menoleh ke arahku. Aku hanya mengelus dada melihatnya.
Pintu ia banting sekuatnya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Nara tersentak bangun dalam gendonganku mendengar keributan.
"Bunda," panggilnya lirih.
"Ya, Sayang."
"Adik, haus," ucapnya.
"Sebentar, Nak. Kita minum di rumah saja, ya. Bunda, sudah selesai kok ngantar pakaiannya," ujarku.
Nara mengangguk pelan. "Iya, Bunda."
Di bawah terik matahari tepat atas kepala kami berdua berjalan kembali menuju rumah. Tidak banyak hasil yang kudapat hari ini, hanya tiga puluh ribu rupiah saja. Seharusnya ada tambahan dari baju yang di antar tadi ke rumah Intan. Tapi, ia urung memberikan karena aku menolak uang suap.
Berjalan keliling kampung di bawah terik matahari yang panas membuat putri kecilku menjadi kehausan. Sesampai di rumah ia meminta minum.
"Bunda, haus," ucapnya lagi.
"Ini, Nak. Minumlah yang banyak!" segelas air putih ia minum dan menandaskan isinya.
"Makasih, Bunda," Nara berkata sembari memberikan gelas kosong kepadaku.
Baru saja aku duduk melepaskan lelah, Habib pulang dengan wajah yang kusut dan sedih.
"Asalamualaikum," ucapnya. Habib masuk dengan wajah yang masam dan terlihat sedih.
"Ada apa, Nak?" tanyaku heran.
Lima menit kemudian Habib terlihat menarik napas dan terdengar mendesah.
"Besok, Habib akan dikeluarkan dari sekolah Bunda," jawabnya lesu.
"Loh, kenapa?" tanyaku lagi.
"Sudah enam bulan, Bunda menunggak uang sekolah." Habib berkata dengan lirih.
"Astagfirullah," ucapku mengelus dada. "Maafin Bunda, Nak. Bunda, belum bisa membayar uang sekolahmu."
"Jika, besok tidak di bayar Habib bisa di keluarkan dari sekolah Bun," desisnya.
Aku terdiam mendengar ucapan Habib. Memang sudah enam bulan uang pembayaran sekolah tidak aku bayarkan. Bukan karena sengaja, tetapi memang tidak punya uang sama sekali untuk membayarkannya. Penghasilan sehari-hari pun tidak mencukupi, bagaimana bisa membayar uang sekolah.
Segera aku beringsut dari tempat duduk dan beralih menuju kamar. Lemari pakaian yang sudah lapuk, kubuka dan mengambil uang simpanan yang selama ini aku sisihkan untuk membayar listrik dan di tambah uang tadi pun hanya cukup untuk membayar tunggakkan tiga bulan saja.
Uang sekolah Habib sebulan lima puluh ribu, dan tertungak enam bulan. Sisanya masih banyak lagi yang belum terbayar. Terpaksa hari ini dan besok kami harus berpuasa menahan lapar karena tidak punya uang untuk beli bahan makanan. Hanya martabak dari pemberian bu Helmi tadi bisa mengajal perut Habib dan Nara.
Biarlah aku yang mengalah untuk kedua buah hatiku. Malam ini dan besok aku harus berpuasa menahan lapar asal anakku bisa makan dan tidak kelaparan.
"Besok biar Bunda saja yang datang ke sokolah, Nak. Bunda akan bayar tiga bulan dulu dan meminta tangguhan pada kepala sekolah biar tidak mengeluarkanmu dari sekolah," ucapku.
"Iya, Bun. Andai saja, Ayah ada pasti kita tidak akan menderita seperti ini, ya, Bun," keluh Habib. Matanya terlihat sayu menatapku.
"Suatu hari nanti pasti, Ayah akan menyadari kesalahannya, Nak. Bahwa keluarga adalah sangat berharga di banding harta," jelasku.
Habib mengangguk pelan. "Iya, Bun."
"Sekarang ganti bajumu lalu makan! Bunda, punya martabak kesukaanmu buat makan hari ini," ucapku kemudian.
"Asyik, Habib bisa makan enak hari ini," teriaknya girang.
Aku tersenyum kecut melihat kecerian di wajah Habib. Makan dengan memakai telur atau martabak telur menjadi barang mewah bagi kami yang setiap hari hanya makan seadanya tanpa lauk.
Bahkan, lebih keseringan berpuasa menahan lapar karena tidak punya uang untuk membeli bahan makanan. Hanya air putih yang bisa kami minum untuk menahan rasa lapar.
Keadaan ini sudah kami jalani selama lima tahun sejak kepergian Mas Anan berpamitan untuk merantau mengadu nasib. Hidup kami sejak dulu serba kekurangan.
Pekerjaan Mas Anan yang hanya serabutan tidak mencukupi untuk kebutuhan kami sehari-hari. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengadu nasib ke kota Jakarta berharap bisa mengubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Nyatanya setelah berhasil ia berubah dan meninggalkan keluarganya yang selama lima tahun menunggunya kembali.
***
Bersambung.