"Mas Anan!"
Saat wajah lelaki yang kurindukan selama lima tahun kini datang menemuiku tepat berdiri di hadapanku.
Lelaki yang sangat kurindukan bertahun-tahun merantau kini telah pulang dengan membawa kesuksesan. Ia pulang dengan membawa mobil mewah bermerek dan memakai pakaian rapi. Seperti pekerja kantoran dan di tangan kirinya tersemat jam bermerek berharga mahal. Ia pulang membawakan oleh-oleh untuk kedua anakku.
"Mas," panggilku lembut.
Lelaki yang kurindukan masih tak bergeming menatap rumah yang dulu ia tinggalkan masih tetap sama, reot dan sudah tua. Bahkan tambalan atapnya pun masih terlihat bocor kala hujan datang dengan deras membasahi bumi.
"Mas Anan," panggilku lagi. "Lihatlah anak kita sekarang sudah besar! Nara putri kita, sudah berumur lima tahun sejak kepergianmu. Dia cantik bukan? Habib juga sudah berumur sepuluh tahun sejak Mas pergi merantau meninggalkan kami," ucapku sembari menggendong Nara putri bungsuku.
Mas Anan meraih Nara yang ada dalam gendonganku. Ia memeluk dan mencium Nara bertubi-tubi sembari meneteskan air mata. Mas Anan sudah lima tahun merantau di kota Jakarta. Ia tidak pernah sekali pun pulang kerumah gubuk tuaku. Tiap bulan hanya mengirimkan uang belanja yang ia titipkan pada tetanggaku yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggalnya. Jika aku rindu padanya maka aku akan meminjam telepon tetangga untuk menanyakan kabarnya.
"Ayi, aku hanya pulang sebentar untuk mengabarimu. Tapi, bukan untuk kembali padamu," ucapnya kemudian.
"Maksudnya?"
"Ayi Fradila, mulai sekarang kau, aku bebaskan dari kewajibanmu. Aku menalakmu. Surat perceraian segera akan aku urus. Masalah biaya kamu tidak usah kawatir aku yang akan menanggung semuanya," lanjutnya.
Jantungku berhenti berdetak seketika mendengar ucapan talak dari lelaki yang kurindukan selama bertahun-tahun. Bagai anak panah tepat mengenai jantungku, kata-kata talak itu membuat tubuhku lunglai seketika. Bak petir menyambar di siang hari Mas Anan dengan begitu mudah menjatuhkan kata talak tepat di hari kedatangannya.
Selama lima tahun aku menunggunya di sini kembali. Saat ia datang hanya menghadiahiku talak. Lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih tersebut telah memberiku dua orang anak. Saat ia pamit merantau untuk mengadu nasib putri bungsuku masih berumur tiga bulan. Dan yang sulung berumur lima tahun.
Masih kuingat saat melepas kepergiannya berjanji akan segera kembali membawa keberhasilan hidup yang lebih baik dan akan membawaku beserta kedua buah hati kami jika ia sukses dan bisa mempunyai rumah yang lebih layak dari yang sekarang aku tempati.
Rumah yang aku tempati adalah rumah peninggalan kedua orang tuaku yang sudah reot dan bocor di sana-sini. Dindingnya pun sudah lapuk digerogoti rayap. Para tetangga yang iba membantuku memperbaiki ala kadarnya dengan menempel dinding yang keropos dengan papan bekas seadanya.
"Dek, Mas pamit merantau. Jaga baik-baik anak kita! Jika nanti aku kembali dan berhasil akan kubawa kalian pindah ke rumah yang lebih bagus dari ini," ucapnya sembari mencium keningku.
"Sebenarnya aku keberatan Mas pergi merantau. Kami masih membutuhkanmu di sini Mas. Apalagi Nara masih berumur tiga bulan, ia masih membutuhkan kasih sayang ayahnya," kataku sembari menangis.
Dengan lembut Mas Anan mengusap air mataku yang menetes di pipi. Sementara Nara, bayi mungilku masih dalam gendongannya.
"Percayalah padaku. Aku akan kembali menjemputmu dan anak-anak jika sudah berhasil. Do'a'kan aku selamat sampai ke tujuan dan berhasil. Agar bisa membahagiakanmu dan anak kita berdua," bisiknya lembut.
Aku mengangguk. "Iya, Mas."
Kupeluk tubuh lelaki yang sangat kucintai selama lima tahun sudah menemani perjalanan hidupku mengarungi bahtera rumah tangga. Kulepas kepergiannya di ambang pintu bersama kedua permata hatiku. Mas Anan pergi dengan menumpang pada sebuah mobil pik up milik tetanggaku yang mengantar dan menjual barang dagangnya ke Jakarta tiap bulan.
Tetanggaku punya bisnis menjual buah pisang ke Jakarta setiap satu bulan sekali ia pasti akan menjual barang dagangannya bila sudah ada yang meminta banyak. Tidak hanya buah pisang yang menjadi bisnisnya, tapi juga buah jeruk yang ia ambil dari petani jeruk yang ada di daerah Berastagi. Kulepas kepergian lelaki yang sangat aku cintai dengan derai air mata. Senja itu menjadi kelabu saksi bisu melepas kepergian Mas Anan merantau ke kota Jakarta.
"Asalamualaikum, Bunda," ucap Habib yang baru pulang mengaji dari rumah Ustaz Rahman.
Ucapan salam Habib membuyarkan lamunanku.
"Waalaikumsalam, Nak," jawabku. Segera kuhapus air mata yang sedari tadi menggenang di pipiku dengan menggunakan hijab syar'i yang aku pakai.
Habib segera menyalamiku dengan tazim dan memciumnya. Begitu pula dengan Mas Anan tak lupa ia salami dan mencium punggung tangannya.
"Ayah," seru Habib.
Segera saja Habib menghambur dalam pelukkan ayahnya. Kerinduan yang sudah bertahun-tahun ia nantikan untuk bertemu dengan ayahnya kembali kini telah terobati. Sayang hari ini adalah hari terakhir ia akan memeluk ayahnya, karena setelah ini Mas Anan akan kembali ke Jakarta.
"Nak, kamu sudah besar dan tampan sekali. Ayah, bangga melihatmu menjadi anak sholeh. Tetaplah seperti ini! Jadilah anak yang berbakti pada orang tua," ucap Mas Anan mengusap rambut Habib.
"Ayah, aku sangat merindukanmu. Bunda juga," celotehnya. "Ayah, pasti pulang untuk menjemput Bunda dan kami' kan?"
Mas Anan menghela napas berat. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah, kembali bukan untuk menjemput kalian. Tapi ...." Mas Anan menjeda ucapannya.
"Tapi, apa Yah?" tanya Habib penasaran.
"Ayah, kesini karena ingin bercerai dengan Bunda."
Aku hanya berdiri di pojokkan ruang tamu yang berukuran sempit sembari menyembunyikan tangisku. Aku tidak ingin kelihatan lemah di hadapan anak lelakiku.
"Nak, ayahmu hanya sebentar ke sini. Setelah ini ia akan kembali ke kota Jakarta. Setelah kamu besar nanti kamu bisa menemuinya di kota Jakarta," selaku.
Memberi pengertian padanya agar dia tidak berkecil hati karena ayahnya setelah ini tidak akan pernah kembali ke sini.
"Tapi, kenapa Bunda?" tanyanya lagi. "Ayah, barusan saja kembali sudah mau pergi lagi. Emang Ayah gak sayang sama kita?"
Ucapan Habib terasa menusuk-nusuk jantungku dengan ribuan jarum runcing yang tajam. Aku berusaha setegar mungkin di hadapan kedua buah hatiku agar tidak kelihatan lemah. Mas Anan hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Habib. Meskipun Habib hanyalah seorang bocah berumur sepuluh tahun tahun tapi Habib sangat cerdas. Di kelas satu sampai sekarang, ia selalu mendapat juara satu umum dalam semua mata pelajaran. Dalam mengaji Habib juga di percaya Ustadz Rahman untuk mewakilinya mengajar anak di bawah umurnya.
Setiap bulan Ustaz Rahman akan membayarnya dengan upah ala kadarnya sebagai jasa telah membantu meringankan pekerjaanya. Kami setiap hari hanya bertahan hidup dari pengiriman Mas Anan yang hanya dua ratus ribu per bulan. Itu pun ia kirim lewat tetangga Pak Nurmin yang biasa menjual barang dagangnya ke Jakarta melalui penyeberangan Lampung pelabuhan Bakauheni.
Tentu saja aku tidak bisa hanya mengandalkan hasil uang kiriman Mas Anan yang berjumlah sedikit. Setiap hari aku harus mengambil cucian warga Kampung dan menyetrikanya hingga rapi barulah mendapat upah untuk mencukupi kebutuhan dapur. Untuk biaya yang lainnya membayar uang sekolah Habib atau pun membayar tagihan listrik tiap bulan aku harus menjual kue dan menitipkannya ke warung-warung tetangga barulah bisa terbayar itu pun kadang kue buatanku banyak yang sisa.
Jika sudah sore hari barang daganganku tidak laku, aku akan memberinya pada anak panti yang di pimpin oleh Ustaz Rahman. Letak panti tersebut di ujung jalan kampung.
"Nak, Ayah dan Bunda sekarang sudah bercerai. Kami tidak akan mungkin bersatu kembali," jelas Mas Anan.
"Ayah, bercerai itu apa?" tanya Habib polos.
Mas Anan terdiam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Habib yang mampu menohok hatinya. Dengan susah payah ia menelan salivanya.
"Sayang, suatu hari nanti kamu akan mengerti jika sudah besar," potongku memberi penjelasan.
Kuraih tubuh kurus Habib yang tinggi dan memeluknya dengan erat, tanpa terasa air mataku mengalir deras, sementara putri kecilku masih bermain dengan boneka pemberian ayahnya. Putri kecilku Nara tak sedikit pun bertanya tentang Mas Anan, karena memang sedari kecil ia tidak pernah melihat wajah Ayah kandungnya.
Berbeda dengan Habib yang saat itu sudah berusia lima tahun, ia sudah bisa mengenali wajah ayahnya. Hatiku terasa teriris-iris dengan pisau merasakan sakit dan perih yang begitu dalam saat lelaki tampan di hadapanku dengan mudah menghadiahiku talak.
Selama lima tahun lamanya aku menunggu kedatangannya kembali, tapi saat ia datang bukan manisnya cinta atau terobatinya rindu yang membara, aku dapatkan. Tapi kata talak yang ia hadiahkan.
"Nak, ini hadiah dari Ayah untukmu," Mas Anan mengeluarkan bungkusan dari peper bag dan memberikannya pada Habib. "Pakailah untuk mengaji!"
Sepasang baju koko dan peci hitam di keluarkan dari peper bag yang ia bawa tadi. Mas Anan memberikan Habib baju koko baru lengkap dengan pecinya. Ia memberikan baju itu pada Habib. Lalu, menghujani Habib dengan ciuman.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum bisa membahagiakanmu. Setelah kamu besar nanti Ayah harap kamu akan mengerti dan memaafkan Ayahmu ini," ucap Mas Anan lirih.
Setelah itu ia beringsut dari tempat duduknya hendak meninggalkan gubukku.
"Ayah," panggil Habib. Mas Anan seketika menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya.
"Jaga Bunda dan adikmu Habib! Jadilah anak yang sholeh dan membanggakan orang tua." Mas Anan mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sedetik kemudian ia berlalu keluar dari gubukku dan masuk ke dalam mobil mewahnya.
Habib mengejar ayahnya yang sudah memasuki mobil dan memanggil nama Mas Anan dengan nyaring.
"Ayah, jangan pergi! Kami merindukanmu," ucapnya sambil berlari mendekati mobil Mas Anan.
Namun, Mas Anan tidak menghiraukan panggilan Habib yang memanggilnya sembari mengetuk pintu mobilnya. Mas Anan malah menutup kaca mobilnya dan melajukan menjauh dari gubukku.
Sekilas kulihat di mobilnya duduk seorang wanita cantik berkacamata hitam duduk di sebelahnya dengan tersenyum tipis. Mas Anan sudah mempunyai wanita lain yang lebih cantik hingga memilih membuangku dan meninggalkanku dengan anak-anak.
Kupeluk Habib yang masih menangis melepas kepergian ayahnya. Lambat-laun mobil Mas Anan hilang menjauh sampai yang terlihat hanya seperti titik hitam.
***
Bersambung.
Kupeluk tubuh Habib yang kurus dengan erat sembari menangis. Belaian lembut mengusap rambutnya yang hitam lurus,berusaha untuk menenangkannya agar tidak terlalu bersedih karena kepergian ayahnya. Mata para tetangga mulai menatapku dengan pandangan dingin dan kaku. Kasak-kusuk terdengar cibiran dari mulut mereka.
"Habib, ayo kita masuk, Nak! Tidak baik terus berada di luar," ucapku lirih.
"Ayah, pergi Bunda," kata Habib sembari memelukku.
"Duh, ada janda baru di kampung kita, nih. Ibu-Ibu harap waspada dengan Ayi sekarang. Dia baru saja mendapat gelar janda baru karena suaminya menceraikannya sewaktu pulang," sela Bu Lina tetangga sebelah kananku.
"Kasihan, sudah ditinggal merantau lima tahun pulang malah diceraikan," ucap Bu Irma menimpali. Wanita bertubuh tambun tersebut suka gosip.
Aku hanya mengelus dada medengar cibiran para tetangga. Ada rasa perih yang mengucur dalam hatiku seperti diperasi air lemon. Segera kubawa Habib masuk kedalam rumah untuk menghindari fitnah dan gibahan para Ibu-Ibu.
Sesampai di dalam rumah kututup pintu dengan rapat. Aku segera membawa Nara untuk mandi karena hari semakin senja. Habib masih duduk di kursi bambu yang sudah mulai lapuk dengan memeluk lututnya.
"Nak, bantu Bunda untuk mengangkat kain di luar sebentar lagi akan turun hujan," ujarku. Habib melangkah dengan gontai menuju jemuran belakang.
Mendung menutupi awan yang gelap di langit yang terlihat hitam. Sebentar lagi akan turun hujan kalau di lihat dari gelapnya mendung dari arah barat.
Awan hitam bergulung-gulung menyelimuti langit, seperti hatiku yang kini di landa badai kehancuran dari rumah tangga yang selama lima tahun aku bina. Hampir sebelas tahun hidup dengan Mas Anan dalam suka dan duka.
***
Malam yang dingin terasa menembus kulit dari dalam. Hujan turun dengan deras hingga membuatku harus banyak menampung air dari genang air hujan, atap rumah semuanya pada bocor.
Ember dan baskom pelastik pun berjejer di atas lantai semen yang sudah mulai retak sana-sini. Kupeluk erat tubuh Nara yang mulai kedinginan karena tertetes air hujan. Sementara Habib, mulai terlihat mengigil juga karena menahan dingin akibat guyuran air dari atap yang bocor.
"Habib, kemarilah Nak! Mendekat sama Bunda biar baju kamu gak basah," ucapku.
Habib, segera bangun dari tidurnya dan mendekatiku ke arah pojokkan tempat tidur yang beralaskan tilam busa yang sudah kempes. Tilam pemberian dari Ibu Helmi sewaktu mengantar cucian. Bu Helmi adalah istri kepala desa.
"Bunda, dingin," keluh Habib.
Ia meringkuk menahan rasa dingin yang kian menusuk di kulit.
"Pakai ini, Nak!" kosodorkan baju hangat yang kupakai agar ia bisa merasa nyaman.
"Bunda, kenapa Ayah benci sama kita dan tidak mau pulang," ucapnya polos.
Jantungku terasa nyeri ketika ia mengatakan kalimat itu.
"Ayah, gak benci sama kita, Nak. Mungkin hatinya belum terbuka, kita do'a' kan saja agar Ayah diberi hidayah dan menyadari kesalahannya."
"Bunda, Adik haus," ucap Nara.
Segera aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan air minum buat Nara.
"Ini, minumlah!" kuberikan segelas air putih untuk putri kecilku.
Ia meneguknya hingga habis dan memberikan gelas bekas minumnya padaku.
"Makasih, Bunda," balasnya. Kembali Nara melanjutkan tidurnya sembari kubalutkan selimut.
Malam ini kami tertidur dalam keadaan meringkuk menahan dingin, hingga waktu subuh menjelang sampai hujan reda. Rasa dingin yang menusuk tulang masih terasa akibat guyuran hujan semalam. Aku bangkit untuk menunaikan salat subuh sebelum akhirnya kubangunkan Habib, untuk melaksanakan kewajiban lima waktu juga.
"Habib, bangun Nak! Ayo kita salat subuh!" ucapku sembari menguncang tubuhnya pelan.
"Sakit, Bunda," keluhnya.
Kusentuh kening Habib refleks. Badan Habib panas, ia demam.
"Habib, kamu demam, Nak. Astagfirullah, badan kamu panas banget Bib." Berulang-ulang kutempelkan punggung tanganku untuk mengukur suhu badan Habib.
Aku segera berlari ke dapur menyiapkan air dingin untuk mengompres kening Habib.
"Bunda akan mengompresmu, Nak, untuk sementara agar panasmu sedikit turun. Nanti, Bunda akan membelikanmu obat di warung Bu Tini kalau sudah pagi," ujarku.
Habib hanya mengangguk pelan. "Iya, Bunda."
Memastikan keadaan Habib baik-baik saja aku segera melaksanakan salat subuh dan membereskan ember serta baskom yang di pakai untuk menampung air hujan semalam.
Pukul tujuh pagi aku bergegas kewarung bu Tini yang terletak lima ratus meter dari rumah. Rencananya membeli beras dan lauk tempe untuk di masak hari ini. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya tujunku tiba di warung bu Tini. Banyak para Ibu-Ibu sudah mulai memadati warungnya.
"Bu, beli berasnya satu kilo saja. Bayam seikat dan tempe satu bungkus," ucapku.
"Sebentar ya, Ayi," Bu Tini segera mengkemas belanjaan yang aku minta. "Ini semuanya delapan belas ribu."
"Ini uangnya, Bu. Kembalianya kasih obat penurun panas saja," ujarku.
"Siapa yang sakit, Ayi?" tanya Bu Lala menimpali.
"Habib, Bu. Semalam ia demam," jawabku singkat.
"Kalau panas bawa ke dokter atau puskesmas Ay. Biar diperiksa," potong Bu Izah.
Aku hanya meremas ujung hijab yang menutupi kepala sembari menunduk.
"Mana mungkin, Ayi bisa membawa anaknya berobat Bu. Dia' kan miskin," sela Riri yang baru saja datang ke warung.
Aku terdiam.
"Makanya jadi istri kudu dandan kayak aku biar suami gak selingkuh. Kamu, sih tiap hari cuma pakai kerudung panjang dan gak modis, pantesan suamimu kabur dan menceraikanmu," cibir Riri memajukan ucapannya.
Dengan bibir yang dipolesi lipstik merah merona, bibir seksinya terlihat mengkrucut saat mencibirku dengan gamblangnya.
"Eh, sudah Ibu-Ibu. Masih pagi jangan menggosip. Kasihan' kan Ayi baru tertimpa musibah," ucap Bu Tini membelaku.
"Halah ... jangan kasihan Bu. Bisa-bisa nanti ngelunjak dia," lanjut Riri.
Para Ibu-Ibu yang mendengar ucapan Riri semuanya tertawa sembari mencibirku.
"Ha ... ha ... ha ... benar tuh, Ri. Sekarangkan, Ayi janda jangan sampai suami kita tergoda dengannya," sela Bu Izah menimpali.
Sakit rasanya mendengar cemohoh'an wanita para tetangga yang begitu saja menyudutkanku. Kalau bisa memilih sejujurnya aku juga tidak ingin menjadi janda. Kutahan air mata yang sedari tadi terasa perih ingin meluncur deras begitu saja.
"Eh, sudah Ibu-Ibu jangan bergosip lagi! Ayi juga gak mau hidup miskin dan menjanda," sahut Bu Helmi yang tiba-tiba muncul di warung.
Bu Helmi wanita yang sangat baik selalu memberi pertolongan padaku saat dalam keadaan terdesak seperti ini. Beliau wanita separuh baya yang berumur setengah abad, tapi mempunyai sifat yang ramah dan baik hati.
"Ayi, nanti datanglah ke rumah Ibu untuk mengambil cucian," ucapnya.
Aku mengangguk. "Iya, Bu."
Segera aku berlalu dari hadapan para ibu-ibu yang masih menggosip ria mengunjingkan pribadiku. Samar kudengar Riri masih mencibirku dengan memojokkan statusku yang baru menyandang janda.
"Bu Helmi, gak usah terlalu baik sama Ayi. Nanti bisa-bisa Pak Kades malah kepincut dengannya," cibir Riri.
Samar kudengar ia mengibahku tanpa takut dosa. Aku segera menjauh dari warung dan mempercepat langkahku menuju ke rumah. Di depan rumah aku berpapasan dengan ustaz Rahman yang berhenti tepat di jalan depan gubukku.
"Ayi, dimana Habib? Apa ia tidak sekolah?" tanyanya sembari melihat ke dalam rumah. Wajahnya terlihat mencari sesosok Habib. Biasa habib berangkat ke sekolah selalu di bonceng Ustaz Rahman menggunakan motor metic miliknya. Jarak dari rumah ke sekolah bisa terbilang jauh hingga memakan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki.
"Habib sakit, Pak Ustaz," sahutku cepat.
"Sakit? Sakit apa, Ay?" tanya Ustaz Rahman.
"Demam, badannya panas hingga tidak bisa pergi ke sekolah," jawabku.
"Sudah dibawa ke dokter, Ay?" tanya Ustaz Rahman.
Aku menggeleng pelan. "Belum."
Ustaz Rahman menghela napas berat kemudian merogoh saku celananya dan memberikan uang selembar berwarna biru.
"Ini, ambilah untuk berobat Habib!" Ustaz Rahman menyodorkanku uang lima puluh ribu.
"Gak usah, Pak Ustaz, " tolakku.
"Aku tahu kamu sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan Habib, Ay. Ambil saja! Aku ihklas memberikannya padamu."
Sekali lagi aku hanya menggeleng menolak pemberiannya. Ustaz Rahman adalah pemuda tampan yang menjadi idaman gadis Desa. Tidak jarang para gadis akan menyapanya dengan senyuman manis atau sekedar cari perhatian darinya agar bisa mendapatkan perhatian lebih.
"Gak usah, Pak Ustaz," sergahku. "Aku gak mau merepotkan," sembari berlalu dari hadapannya.
"Tunggu, Ay!" Ustaz Rahman menahan langkahku.
Aku berbalik dan menoleh ke arah Ustaz Rahman yang masih berdiri di depan rumahku.
"Anggap saja ini gaji, Habib yang dibayar di muka. Jadi kamu tidak perlu sungkan menerimanya," ujarnya sembari menyodorkan uang itu kembali.
"Habib, pasti bersedih Pak Ustaz jika uang gajinya aku pakai buat biaya berobatnya."
"Rezeki pasti ada yang lain, Ay. Percalah, tidak dari tanganku pasti dari tangan orang lain. Terimalah! Segera bawa Habib berobat biar cepat sembuh dan bisa sekolah lagi dan juga membantuku mengajar ngaji anak panti," ucap Ustaz Rahman mengulas senyum.
Dengan ragu-ragu kuterima pemberian Ustaz Rahman.
"Terimakasih, Pak Ustaz," ucapku.
Ustaz Rahman menganguk pelan. "Iya."
Setelah memberikan uang ia pun berlalu dari hadapnku dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah untuk mengajar. Ustad Rahman yang berfropesi sebagai guru PNS, di kampung ini juga mengajar mengaji pada anak-anak.
Para orang tua serta warga kampung, mempercayakan anak mereka pada Ustaz Rahman untuk dibimbing menjadi pengajar ilmu agama dunia dan akhirat. Mereka membayar Ustaz Rahman seratus ribu perbulan, ada banyak murid yang diajari mengaji oleh Ustad Rahman, bila sepulang sekolah. Tepat jam empat sore mereka sudah berkumpul di rumahnya untuk belajar mengaji.
"Bunda," sapa Nara yang baru bangun dari tidur.
"Kamu sudah bangun Nak?" tanyaku tersenyum. Kugendong tubuh mungil Nara yang baru bangun tidur. Kucium pucuk kepalanya dengan lembut.
"Laper," ucapnya.
"Sebentar ya. Bunda akan masak di dapur," ucapku.
Kududukkan Nara di atas balai-balai bambu.
Sesaat kemudian kunyalakan kompor dengan pematik. Memasak dengan bahan yang ada biar anak-anak tidak kelaparan.
Kemiskinan sudah membuatku jatuh bangun dalam menghidupi Habib dan Nara. Meski kehidupan kami terbilang miskin, setidaknya aku masih bersyukur kedua anakku tak banyak mengeluh dengan keadaan.
Bersambung.
"Asalamualaikum," ucapku pada Bu Helmi.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Helmi dari dalam rumah.
Aku berdiri di depan pintu rumah Bu Helmi sambil menenteng kerajang yang berisi pakaian bersih yang sudah disetrika.
"Bu, ini pakaiannya sudah selesai."
"Iya, Ay," sahutnya.
Bu Helmi keluar dari dalam kamar masih memakai pakaian daster batik berwarna coklat tua.
"Ini, upah buatmu Ay," ucapnya mengulas senyum.
"Terimakasih, Bu."
Kuterima uang lembaran dua puluh ribu dari Bu Helmi. Hanya Bu Helmi pelanggan tetap yang masih bertahan mengantar cucian tiap hari. Ia terkenal dermawan pada setiap orang, terlebih lagi kepada keluargaku.
"Besok ada acara di rumah, Ibu. Kamu datang ya, buat bantu-bantu di dapur!" kata Bu Helmi. Seraya memberiku bungkusan kantong plastik hitam yang tadi dibawanya dari arah dapur.
"Apa ini, Bu?" tanyaku penasaran.
"Tadi, Rida pulang dari kantor membawa martabak telur tiga porsi. Kebetulan Bapak lagi ada tugas di luar tidak pulang. Jadi, Ibu memberikan satu untukmu," lanjutnya.
"Maaf, Bu. Aku jadi merepotkan Ibu."
"Kamu tidak perlu sungkan atau canggung Ay. Ibu, memberikan ini karena tidak mau makanan mubazir. Lebih baik Ibu berikan padamu agar anak-anakmu bisa ikut menikmati," jelas Bu Helmi.
"Terimakasih, Bu."
"Sama-sama. Besok jangan lupa datang ya ke rumah buat bantu Ibu masak."
"Ibu, ada acara apa?" tanyaku penasaran.
"Rida, dilamar pacarnya. Dan akan mengadakan acara tukar cincin pada malamnya," jawab Bu Helmi tersenyum.
Aku hanya mengangguk. "Oh ...."
Setelah berpamitan pada Bu Helmi aku melanjutkan mengantar pakaian ke rumah Bu Zainab. Satu tanganku menenteng keranjang pakaian yang sudah bersih di setrika. Sementara tangan yang satunya lagi menggendong Nara.
Pegal sudah pasti, apalagi lelah jangan di tanya lagi bagaimana rasanya berjalan dari rumah mengantar pakaian menyusuri desa membuat tubuh dan tulang-tulangku rasanya mau remuk. Sampai di rumah Ibu Zainab aku berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Asalamualaikum, Bu Zainab," sapaku.
Kebetulan Bu Zainab sedang duduk di teras bersama suaminya.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
"Ini, pakaiannya sudah selesai Bu."
Bu Zainab segera menghampiriku dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah.
"Besok gak usah ambil cucian ke rumah Ay. Karena Ibu sudah punya mesin cuci baru. Suami Ibu yang membelikannya tadi," ucap Bu Zainab sembari merangkul suaminya.
Aku menganguk pelan. "Iya, Bu."
Berkurang satu lagi pelanggan yang biasa mengantar cucian ke rumah. Dengan sabar kuusap dada agar di lapangkan rezeki berikutnya.
"Aku dengar suamimu menceraikanmu Ay," sela Pak Iwan. Matanya terlihat mengerling sebelah ke arahku.
"Iya, Pak," jawabku kaku.
"Oh, ya, Ay, ini upah kamu. Aku hampir lupa memberikannya," ucapnya.
Ibu Zainab menyerahkan uang pecahan lima belas ribu kepadaku.
"Kok, lima belas ribu, Bu," perotesku.
"Iya. Ibu potong lima ribu karena kemarin kamu telat mengantarnya sampai ke rumah," jelasnya sembari memajukan bibirnya lima centi ke depan.
Soal dandan Bu Zainab memang nomer satu. Bibir merah merekah dengan lipstik merah darah tidak pernah absen setiap hari.
"Astagfirullah, Bu. Kemarin' kan sudah aku jelasi kalau telat karena harus menjemput Habib, dari sekolah," ujarku menjelaskan.
"Iya, kalau telat ya tetap telat, Ay. Lagian, gara-gara kamu aku jadi terlambat arisan dan ketinggalan berita," sungutnya kesal. Bibir tebalnya mengkrucut ke atas.
"Ya, sudah Bu.Tak apa, mungkin memang rezekiku hari ini cuma segini," ucapku menunduk.
Setelah menerima upah dari Bu Zainab, aku pun melanjutkan perjalanan mengantar pakaian yang sudah disetrika. Tinggal satu lagi pekerjaanku akan selesai.
Berjalan di bawah teriknya sinar matahari membuat tubuhku terasa panas. Nara, yang sedari tadi ada dalam gendonganku masih tertidur pulas. Setiap hari Nara tidak pernah aku tinggalkan di rumah sendiri saat mengantar pakaian ke rumah pelanggan. Nara, aku gendong menggunakan kain jarik yang sudah usang terdapat tambalan dan jahitan sana-sini.
Berjalan keliling desa membuatku terasa sangat lelah. Semua kulakukan demi kedua buah hatiku yang sudah menjadi tanggung jawab. Di sebuah rumah berukuran sederhana, perumahan tipe tiga enam langkah kaki berhenti. Rumah milik Intan adalah rumah terakhir yang aku singgahi untuk mengantar pakaian.
"Asalamualaikum," ucapku dari luar.
Sejenak aku duduk di teras Intan beristirahat sebentar mengaatur napas.
Tak lama kemudian Intan muncul dengan menggunakan linggrie berwarna merah menyala.
"Eh, kamu, Ay," sapanya.
"Iya, Tan. Aku datang ke sini untuk mengantarkan pakaianmu."
"Ya, sudah letakkan saja di situ! Sebentar aku ambil uangnya ke dalam," Intan melangkah dengan gemulai memakai linggrie merah menyala pada siang hari.
Semenit kemudian aku mendengar suara seorang pria muncul dari kamarnya dengan memakai handuk saja sebatas pinggang. Semula aku mengira itu suami Intan yang baru pulang kerja. Tapi, ternyata bukan.
"Siapa sih, siang-siang datang kemari? Ganggu orang lagi enak-enakkan saja," dengkus pria itu kesal.
"Tukang cuci, Sayang," sahut Intan cepat.
"Cepat kasih uangnya, Sayang! Dan suruh lekas pergi aku mau lanjutkan main kuda-kuda'an," ucapnya. Seraya berlalu begitu saja sembari menutup pintu kamar dengan keras.
Intan pun kemudian mendekatiku dengan pelan dan memberikan upah sesuai dengan kesepakatan awal.
"Ambil uangnya, Ay! Dan segera pergilah dari rumahku!" ketus Intan.
"Maaf, Tan. Aku tidak punya kembaliannya," ucapku.
"Sudah ambil saja kembaliannya! Tapi, jangan bocorkan rahasiaku, ya," titahnya. Intan memberikanku uang pecahan lima puluh ribu sebagai ganti aku tutup mulut.
"Aku takut dosa. Maaf, bukan sombong menolak rezeki. Tapi, aku gak mau nanti jadi beban di akhirat," ujarku.
"Halah ... sudah miskin saja belagu. Sok gak mau uang. Dikasih lebih malah nolak," cibirnya.
Aku hanya mengelus dada mendengar cerocos intan. Uang yang disodorkannya sebagai ganti tutup mulut karena menutupi aib perselingkuhannya. Tapi, dengan tegas aku menolaknya berdalih dosa dan tidak berkah. Intan kemudian marah dan membanting pintu rumah sekeras-kerasnya.
"Ya, sudah kalau tidak mau. Pergi sana! Sudah dikasih rezeki malah nolak. Dasar, tak tahu di untung," cerocosnya.
Intan Membanting pintu tanpa menoleh ke arahku. Aku hanya mengelus dada melihatnya.
Pintu ia banting sekuatnya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Nara tersentak bangun dalam gendonganku mendengar keributan.
"Bunda," panggilnya lirih.
"Ya, Sayang."
"Adik, haus," ucapnya.
"Sebentar, Nak. Kita minum di rumah saja, ya. Bunda, sudah selesai kok ngantar pakaiannya," ujarku.
Nara mengangguk pelan. "Iya, Bunda."
Di bawah terik matahari tepat atas kepala kami berdua berjalan kembali menuju rumah. Tidak banyak hasil yang kudapat hari ini, hanya tiga puluh ribu rupiah saja. Seharusnya ada tambahan dari baju yang di antar tadi ke rumah Intan. Tapi, ia urung memberikan karena aku menolak uang suap.
Berjalan keliling kampung di bawah terik matahari yang panas membuat putri kecilku menjadi kehausan. Sesampai di rumah ia meminta minum.
"Bunda, haus," ucapnya lagi.
"Ini, Nak. Minumlah yang banyak!" segelas air putih ia minum dan menandaskan isinya.
"Makasih, Bunda," Nara berkata sembari memberikan gelas kosong kepadaku.
Baru saja aku duduk melepaskan lelah, Habib pulang dengan wajah yang kusut dan sedih.
"Asalamualaikum," ucapnya. Habib masuk dengan wajah yang masam dan terlihat sedih.
"Ada apa, Nak?" tanyaku heran.
Lima menit kemudian Habib terlihat menarik napas dan terdengar mendesah.
"Besok, Habib akan dikeluarkan dari sekolah Bunda," jawabnya lesu.
"Loh, kenapa?" tanyaku lagi.
"Sudah enam bulan, Bunda menunggak uang sekolah." Habib berkata dengan lirih.
"Astagfirullah," ucapku mengelus dada. "Maafin Bunda, Nak. Bunda, belum bisa membayar uang sekolahmu."
"Jika, besok tidak di bayar Habib bisa di keluarkan dari sekolah Bun," desisnya.
Aku terdiam mendengar ucapan Habib. Memang sudah enam bulan uang pembayaran sekolah tidak aku bayarkan. Bukan karena sengaja, tetapi memang tidak punya uang sama sekali untuk membayarkannya. Penghasilan sehari-hari pun tidak mencukupi, bagaimana bisa membayar uang sekolah.
Segera aku beringsut dari tempat duduk dan beralih menuju kamar. Lemari pakaian yang sudah lapuk, kubuka dan mengambil uang simpanan yang selama ini aku sisihkan untuk membayar listrik dan di tambah uang tadi pun hanya cukup untuk membayar tunggakkan tiga bulan saja.
Uang sekolah Habib sebulan lima puluh ribu, dan tertungak enam bulan. Sisanya masih banyak lagi yang belum terbayar. Terpaksa hari ini dan besok kami harus berpuasa menahan lapar karena tidak punya uang untuk beli bahan makanan. Hanya martabak dari pemberian bu Helmi tadi bisa mengajal perut Habib dan Nara.
Biarlah aku yang mengalah untuk kedua buah hatiku. Malam ini dan besok aku harus berpuasa menahan lapar asal anakku bisa makan dan tidak kelaparan.
"Besok biar Bunda saja yang datang ke sokolah, Nak. Bunda akan bayar tiga bulan dulu dan meminta tangguhan pada kepala sekolah biar tidak mengeluarkanmu dari sekolah," ucapku.
"Iya, Bun. Andai saja, Ayah ada pasti kita tidak akan menderita seperti ini, ya, Bun," keluh Habib. Matanya terlihat sayu menatapku.
"Suatu hari nanti pasti, Ayah akan menyadari kesalahannya, Nak. Bahwa keluarga adalah sangat berharga di banding harta," jelasku.
Habib mengangguk pelan. "Iya, Bun."
"Sekarang ganti bajumu lalu makan! Bunda, punya martabak kesukaanmu buat makan hari ini," ucapku kemudian.
"Asyik, Habib bisa makan enak hari ini," teriaknya girang.
Aku tersenyum kecut melihat kecerian di wajah Habib. Makan dengan memakai telur atau martabak telur menjadi barang mewah bagi kami yang setiap hari hanya makan seadanya tanpa lauk.
Bahkan, lebih keseringan berpuasa menahan lapar karena tidak punya uang untuk membeli bahan makanan. Hanya air putih yang bisa kami minum untuk menahan rasa lapar.
Keadaan ini sudah kami jalani selama lima tahun sejak kepergian Mas Anan berpamitan untuk merantau mengadu nasib. Hidup kami sejak dulu serba kekurangan.
Pekerjaan Mas Anan yang hanya serabutan tidak mencukupi untuk kebutuhan kami sehari-hari. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengadu nasib ke kota Jakarta berharap bisa mengubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Nyatanya setelah berhasil ia berubah dan meninggalkan keluarganya yang selama lima tahun menunggunya kembali.
***
Bersambung.