Kecelakaan beberapa tahun yang lalu telah merenggut nyawa ayah nya, dan kini dirinya duduk di samping ranjang rumah sakit menemani ibunya yang terbaring lemas.
Dirinya begitu merasa sedih seakan kali ini ibunya juga akan meninggalkannya .
Ibunya sudah mengidap penyakit parah yang mengerikan itu sudah lama, bahkan kan sebelum ayahnya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Namun, wanita yang berumur 50 tahun itu berusaha tegar demi menghidupi putrinya yang sekarang masih duduk di bangku SMA .
Penyakit ganas itu terus menggerogoti tubuhnya.
Dia makin melemah dan sudah tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Ia terus memikirkan nasib anaknya jika akhirnya dia harus pergi.
Aleeya Titania, nama lengkap gadis itu. Gadis yang baru berumur 18 tahun.
Saat ini aleeya sedang menempuh ujian akhir sekolah,karena keadaan ibunya yang mulai kritis membuat dirinya tidak mengikuti nya.
Raditya Suhardi George mendengar kabar tentang ibu Lidya yang masuk rumah sakit dan kondisinya terus memburuk. Raditya pun memutuskan untuk menjenguk nya, Raditya mengajak istrinya Amanda untuk pergi bersama.
"Dimana kamar ibu Lidya susanti?" tanya pak Raditya . Terlihat wajah cemas dan khawatir yang mendalam pak Raditya .
Bagaimana tidak ,ibu Lidya adalah mantan tunangan pak Raditya dulu. Sebelum pada akhirnya pak Raditya menikahi istrinya yang sekarang ibu Amanda.
Bu Lidya memutuskan hubungannya dengan pak Raditya karena mereka memang tidak cocok lagi.
Mereka sudah menjalin hubungan sangat lama bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahannya.
NAmun, takdir Tuhan berkata lain Bu Lidya dengan mantap mengakhiri hubungannya dengan pak Raditya.
Karena setelah beberapa tahun belakangan mereka sering bertengkar hebat dan bahkan sempat putus nyambung.
Meskipun keputusan meninggalkan pak Raditya adalah keputusan yang sulit tapi, Bu Lidya mantap dengan keputusannya itu.
Setelah beberapa tahun kemudian mereka sama-sama menikah dengan orang lain.
Seperti itulah jodoh kadang bertahun-tahun di habiskan untuk jagain jodoh orang sungguh terdengar sangat menyedihkan.
Meskipun mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa tapi mereka berdua tidak saling membenci, bahkan setelah menikah mereka sering bertemu dengan membawa pasangan masing-masing .
Masa lalu telah mereka kubur dalam-dalam.
Bu Lidya dan ibu Amanda malah menjadi sangat dekat begitu juga dengan pak Raditya dan pak Ferdi suami buk Lidya.
Mengingat hubungan yang pernah terjalin di antara mereka, pak Raditya dan Bu Lidya bersikap tidak berlebihan demi menjaga perasaan pasangan masing-masing.
Sesampainya di kamar Bu Lidya pak Raditya melihat wajah yang dulu cantik kini telah berubah menjadi wajah yang sangat kurus dan seperti bukan Lidya yang dirinya kenal.
Sudah sangat lama dirinya tidak pernah melihat wanita yang dulu pernah mengisi ruang hatinya meskipun cinta nya kini milik istrinya tapi rasa sayang nya kepada mantan tunangan nya itu tidak pernah hilang.
Bu Amanda yang berhati baik itu sangat memahami perasaan suaminya .
Dirinya sama sekali tidak cemburu karena baginya itu hanyalah masa lalu suaminya. Perasaanya kepada Lidya hanya sebatas rasa kasian seorang teman.
Pak Raditya melihat sosok gadis cantik di samping Bu Lidya dia pasti putrinya.
katanya membatin.
Gadis itu bahkan mengalahkan kecantikan ibunya pikir pak Raditya ketika melihat Aleeya.
Tiba-tiba tubuh ibu Lidya mengejang mulutnya menganga sepulang susah bernafas Aleeya yang melihat ibunya seperti itu terus menangis pak Raditya dan Bu Amanda mendrkat,sepertinya Bu Lidya ingin berbicara pada mereka.
"Pak Adit,Bu Manda mungkin sudah saatnya saya pergi,sa...saya titip putri saya"Bu Lidya berkata dengan terbata.
"Tolong ja,,,jagakan dia untuk saya Bu" kata Bu Lidya sambil memegang tangan ibu Amanda.
Ibu Amanda yang tidak tahan menahan tangisnya hanya bisa mengangguk .Ibu Lidya sudah pergi ,dia pergi dengan menyungging senyum di bibirnya mungkin dirinya merasa bahagia bisa menitip putri satu-satunya kepada orang yang tepat menurutnya.
Menyadari ibunya sudah tidak ada, Aleeya menangis histeris.
Bu Amanda memeluknya.
"Yang sabar sayang kamu tidak sendiri ada tante yang akan menjaga mu." Sambil terus memeluk dan mengelus rambut Aleeya ibu Amanda terus menenangkanya .
suasana hening, pak Raditya menahan tangisnya namun wajahnya terlihat sangat sedih dan terluka.
Dirinya tidak menyangka pertemuan nya setelah puluhan tahun itu menjadi pertemuan terakhirnya.Bu Lidya pun di makamkan.
Menangis dan terus menangis Aleeya tidak ingin beranjak dari pusara ibunya.
Jika bisa meminta, dirinya ingin ikut bersama beliau, membayang kan hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya saja sudah tak sanggup bagaimana menjalankannya batin Aleeya.
Sanak saudara seperti tidak ada semenjak kepergian ayah nya berapa tahun yang lalu.
Sepertinya keluarga mereka enggan untuk mengakui mereka sebagai saudara.
Apa lagi dengan keadaan nya yang tidak memiliki apapun saat ini.Dirinya kini sebatang kara.
Saat itu pula semua terasa berat dan yang terlihat hanya gelap.
Aleeya jatuh pingsang pak Raditya yang sejak tadi berdiri di belakang nya bersama ibu Amanda segera membawanya ke dalam mobil.
Pak Raditya dan ibu Amanda memutuskan untuk membawa nya pulang kerumahnya.
Semenjak kedatangan nya di rumah sakit,saat itu pula ibu Lidya menghembuskan nafas terakhirnya. Membuat pak Raditya dan Bu Amanda belum sempat berbicara dengan Aleeya .
Bu Amanda hanya berusaha menghibur dan menguatkan Aleeya ketika beliau menyadari bahwa Aleeya putri Bu Lidya.
Aleeya terlihat begitu terpukul atas kepergian ibunya. Mereka pun mengurus pemakaman ibu Lidya.
Pak Raditya dan Bu Amanda sangat paham bahwa Aleeya tidak punya siapa-siapa lagi .
Tiba di rumah pak Raditya dan Bu Amanda langsung memerintah kan pelayan di rumah itu untuk membawa Aleeya kekamar.
Pelayan-pelayan yang baik itu kemudian membawa Aleeya yang masih tak sadarkan diri.
Sementara itu Bu Amanda menelpon dokter pribadi mereka untuk segera datang ke rumah.
Beberapa menit kemudian dokter Handri datang dan langsung memeriksa Aleeya.
"Bagaimana keadaanya" tanya pak Raditya yang dari tadi panik dan ingin segera tahu keadaan Aleeya .
"Dia hanya kelelahan dan terlalu banyak menangis, sepertinya dia memiliki rasa takut yang berlebihan membuat dirinya tertekan" Dokter Han lalu merapikan tas kerja.
"Sudah saya berikan obat penenang" lanjutnya.
"Terimakasih dokter Han" kata Bu Amanda.
"Sama-sama Bu,pak Adit. kalau begitu saya pamit dulu" dokter Han pun berlalu.
Hanya pak Raditya , Bu Manda dan Aleeya di kamar itu.
Pak Raditya memandang kasihan kepada Aleeya .
Kemudian Bu Amanda memberikan sebuah lipatan kertas yang terjatuh saat Aleeya pingsan di pemakaman kepada suaminya.
Kertas itu Aleeya bawa dari rumah sakit sampai di pemakaman.
Bu Amanda mengambilnya saat kertas itu terjatuh ketika Aleeya jatuh pingsan.
Dengan berat Aleeya membuka matanya.Aleeya merasa seperti mimpi dan berharap semua tentang ibunya hanya mimpi.
Aleeya melihat sekeliling nya dengan samar-samar Aleeya melihat dua orang berdiri di samping nya.
"Dimana aku?" Aleeya menyadari bahwa dirinya tidak berada di rumah nya.
"Sayang,kamu sudah sadar nak?" Bu Amanda mendekati Aleeya dan membantunya untuk duduk di atas tempat tidur.
"Minumlah dulu!" sambil memberikan satu gelas air ke pada Aleeya.
"Kamu di rumah om sama Tante"
Aleeya berusaha mengingat-ingat kejadian sebelumnya seketika air matanya terjatuh lagi mengingat tentang ibunya yang sudah tiada.
"Tenangkan pikiran mu nak,ada om sama Tante disini "kata pak Raditya .
"Apapun yang terjadi kamu harus tetap melanjutkan hidup mu,kedua orang tua mu akan sedih jika melihat kamu disini terus bersedih" Bu Amanda memeluk Aleeya.
Bu Amanda berharap Aleeya bisa menerima kenyataan tentang ibunya.
"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disini, karena mulai sekarang kamu anak Tante sama om"
"Maaf Tante ,kalian ini siapa?" tanya Aleeya yang belum tau siapa mereka berdua.Bu Amanda memandang suaminya dan berkata lagi kepada Aleeya.
"kami sahabat ibu mu"
"iya ,kami sahabat ibu mu"kata pak Raditya menimpali.
setelah beberapa menit mengobrol sepertinya Aleeya sedikit mulai terlihat tenang meskipun rawut kesedihan di mukanya tidak bisa di sembunyikan.
"Siapa nama mu nak?"
"a..Aleeya tante?"
"Tante Amanda dan om Raditya "kata Bu Amanda memperkenalkan dirinya dan suaminya.
Aleeya mulai teringat bahwa satu hari sebelum kepergian ibunya beliau berpesan untuk memberikan sebuah surat kepada pak Raditya dan Bu Amanda.
Meskipun Aleeya tidak tau harus mencari orang yang ibunya maksud itu namun dirinya tetap menyanggupinya.
Tidak di sangka sekarang justru mereka yang menemukan Aleeya terlebih dulu.
Aleeya sedikit terlihat bingung, sepertinya ada yang ia coba untuk mengingat sesuatu.
Dirinya mencari-cari kertas yang almarhum ibunya berikan.
"Apa yang kamu cari adalah ini?" kata pak Raditya.
Aleeya mengangguk.
"Ibu menyuruh memberikanya kepada om dan Tante" jawab Aleeya .
Sebuah surat yang lipatannya terlihat kusut.
Bu Amanda dan pak Raditya pun saling berpandangan ternyata lipatan kertas itu di berikan untuk mereka.
dan kemudian membukanya.
Pak Adit dan Bu Amanda maafkan saya sudah menolak bantuan kalian ,atas segala yang tidak berkenan semoga ibu manda dan pak Adit bisa memaafkan saya.Rasa nya saya sudah tidak bisa bertahan lebih lama ,mungkin sudah waktunya kami bersama kembali,
papa Aleeya sudah menunggu disana.
Saya titip putri kami kepada kalian, maaf jika permintaan ini merepotkan kalian tapi Aleeya tidak punya siapa-siapa lagi selain saya.
Namanya Aleeya,putri tercinta kami saya berharap dia tidak merepotkan kalian.
Lidya
Bu Amanda dan pak Adit kemudian memeluk Aleeya.
"Mulai sekarang kami adalah orang tua kamu" yang di balas anggukan oleh pak Raditya.
"Ibu mu menitipkan kamu kepada kami"
satu Minggu yang lalu pak Raditya bertemu teman lamanya yang sedang ada urusan kerja di kota M .
Pak Raditya mengobrol-ngobrol sampai pada akhirnya, temanya itu membahas tentang Bu Lidya dan suaminya yang sudah meninggal.
Pak Raditya mengetahui tentang kecelakaan yang merenggut nyawa suami mantan tunangannya itu, bahkan dia dan istrinya menawarkan bantuan untuk biaya hidup Bu Lidya dengan putrinya.
Namun,Bu Lidya menolaknya.
Setelah itu pak Raditya sibuk membesarkan anak bisnisnya yang ada di Inggris.
Setelah kembalinya ke tanah air dirinya di sibukkan dengan urusan kerja.Sempat terpikir untuk mencari tahu kabar Bu Lidya dan anaknya tapi,lagi-lagi dirinya yang terlalu sibuk membuat nya selalu tertunda.
Temanya itu lalu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu sempat bertemu ibu lidya di rumah sakit Pelita harapan, Bu Lidya saat itu menggunakan kursi roda yang di dorong oleh anaknya.
Tapi tidak sempat bertanya tentang penyakitnya karena dirinya juga sedang terburu-buru membesuk saudaranya yang sakit di rumah sakit yang sama dengan Bu Lidya.
Pak Raditya sempat kaget dengan cerita temanya itu. Dia lalu memberitahukan kepada istrinya, Amanda.
Setelah memilih dan cancel sebagian pekerjaan yang telah di jadwalkan ,baru hari itu lah dirinya bisa datang untuk menjenguk,maklum lah pak Raditya memang orang kaya yang setiap detik punya jadwal ini,itu .Hari itu,dimana Bu Lidya pergi ke peristirahatan nya yang terakhir.
Mungkin sangat kebetulan rasanya tapi begitulah takdir hidup sudah ada yang mengaturnya.
Aleeya yang mendengar ucapan pak Raditya dan Bu Amanda untuk mengizinkan nya tinggal bersama mereka. Perasaannya sedikit membaik setidaknya masih ada orang yang mau menerima dirinya yang sebatang kara.
Mulai saat itu Aleeya akan berjanji menjalani hidupnya meskipun tanpa ibunya .Aleeya tidak ingin ibu nya dan papanya merasa sedih disana,Aleeya sangat menyayangi mereka.
Dengan dukungan dari pak Raditya dan Bu Amanda ,Aleeya mulai memiliki semangat lagi.Malam itu pun Aleeya lewati dengan perasaan yang sudah tidak terlalu sedih.
Ke esokan harinya di rumah mewah dan besar pak Raditya dan Bu Amanda .
Semua orang tengah sibuk untuk memulai aktivitas nya,Aleeya terbangun dari tidurnya, dia menemukan dirinya berada di sebuah kamar tidur yang sangat empuk baru kali ini dirinya tidur di tempat sebagus itu.
Aleeya mencoba untuk keluar dari kamar, Aleeya mencoba untuk menerima kenyataan hidupnya.
Ternyata kamar Aleeya itu berada di lantai dua rumah tersebut.
Aleeya pun turun dan melihat banyak sekali pelayan di rumah itu,
ada yang memasak,mencuci ,mengepel dll.
Beda-beda orang dengan berbeda pekerjaan.
"Adakah yang bisa aku bantu?" tanya Aleeya.
Semua pelayan berpandangan .
"Nona duduk saja ,sebentar lagi waktunya sarapan"kata seorang pelayan di rumah itu.
"Tapi aku tidak biasa jika hanya terdiam saja"
kembali para pelayan itu menatap satu sama lain..
"Jika nona memaksa untuk bekerja kami akan kena marah tuan besar dan nyonya"
"Aku bukan siapa-siapa disini,aku sama seperti kalian" jawab Aleeya lagi.
lama berdebat dengan pelayan-pelayan itu akhirnya Aleeya menurut untuk duduk saja.
Sekitar 6:30 pak Raditya dan ibu Amanda keluar dari kamar mereka, terlihat pak Raditya sepertinya akan pergi kekantor.
Pakainya yang terlihat sangat rapi membuat pak Raditya sangat gagah, meskipun umurnya sudah 50 tahun tapi sisa-sisa ketampanan nya masih jelas terlihat.
Mereka berdua hanya tersenyum melihat Aleeya yang sudah menunggu di meja makan
"Kamu sudah bangun sayang?"
"Iya Tante" Aleeya langsung berdiri dan tersenyum kepada ibu Amanda.
"Duduklah kita sarapan bersama" kata pak Raditya.
"Iya Om " Aleeya pun duduk kembali.
Mereka pun mulai sarapan Aleeya yang sejak kemarin tidak mengisi perutnya mulai menggigit potongan roti di tangan nya.
Sebenarnya Aleeya masih tak berselera makan tapi Aleeya mengingat semua kata-kata ibu Amanda kemarin.
Aleeya harus mengikhlaskan kepergian ibunya.
Ibu dan ayah nya akan tenang disana jika dirinya disini baik-baik saja.
Aleeya juga menghargai mereka berdua karena sekarang di saat keadaan Aleeya tidak memiliki siapapun cuma mereka yang menerima Aleeya dengan tangan terbuka.
"Aleeya ,bagaimana sekolah mu nak?" Ibu Amanda membuka percakapan kembali setelah mereka selesai sarapan.
"Em, Aleeya ga tau Tante,hampir satu bulan Aleeya tidak masuk sekolah. Minggu ini adalah Minggu terakhir ujian akhir sekolah,mungkin Aleeya tidak akan lulus dan terpaksa mengulang satu tahun lagi"
Ibu Amanda sudah tahu sebenarnya dari asisten pribadi suami nya.
Sejak membawa pulang Aleeya dari pemakaman ibunya, sore itu ibu Amanda meminta Asisten pribadi suaminya untuk mencari tahu tentang Aleeya.
Tentu dengan seizin pak Raditya juga.
Malam nya pun pak Dimas Asisten pribadi pak Raditya mengirimkan informasi lengkap tentang Aleeya yang ia dapat dari beberapa teman dekat Aleeya dan guru-gurunya.
Ibu Amanda bertanya karena ingin mendengar secara langsung dari Aleeya.
Mendengar jawaban Aleeya dengan sedih nya ia mencoba tersenyum, Aleeya segera menunduk dirinya tidak ingin ibu Amanda dan pak Raditya melihat kesedihan di wajah nya.
"Al,kamu ga perlu sedih Tante dan om akan urus semuanya agar kamu bisa lulus tahun ini"
"Tapi Tan,apa bisa Aleeya lulus tahun ini?" tanya Aleeya dengan polos nya seolah tidak percaya bahwa Bu Amanda dan pak Raditya bisa melakukannya.
Aleeya lupa bahwa dengan uang apapun bisa terjadi .
"Sekarang bersiaplah, Tante akan mengantar mu kesekolah untuk mengikuti ujian akhir,untuk pelajaran yang sudah terlewat itu urusan Tante"
"Kalo begitu Aleeya mandi dulu Tan" Aleeya pun bergegas kekamar yang semalam ia tempati, senang sekali rasanya Aleeya mendengar perkataan ibu Amanda yang mau membantunya agar bisa ikut ujian dan lulus tahun ini.
Selesai mandi Aleeya memakai baju nya yang kemarin.
Aleeya menuruni anak tangga, di ruang keluarga Bu Amanda sudah menunggu nya.
sedangkan pak Raditya sudah berangkat kekantor.
Melihat Aleeya tidak ganti baju Bu Amanda baru ingat kalau dirinya lupa untuk menyuruh pegawai nya menyiapkan pakaian untuk Aleeya.
"Kalau begitu sebelum kita ke sekolah Tante akan mengantar mu pulang untuk berganti pakaian " Aleeya pun mengangguk tanda setuju.
" Bik An,,,"panggil Bu Amanda kepada salah satu pelayan di rumah itu.
"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu?" dengan berlari kecil Bi Ani menghampiri ibu Amanda.
"Bi Ani ikut saya , saya mau Bi Ani bantu Aleeya untuk mempersiapkan pakaian nya yang akan dia bawa nanti" bi ani pun mengangguk.
"Aleeya sayang, mulai sekarang kamu akan tinggal di disini dirumah Om dan Tante,kamu sekarang tanggung jawab Tante"
"Terimakasih Tante,Aleeya tidak akan bisa membalas kebaikan Tante sama Om" Aleeya pun menangis dan memeluk ibu Amanda.
Setelah beberapa menit larut dalam suasana seperti itu, mereka pun berangkat kerumah Aleeya dan Aleeya pun mengemasi barang-barang yang akan dia bawa dan berganti pakaian seragam sekolah.
Bi Ani membantunya memasukan kedalam koper dan sebuah tas besar milik Aleeya.
Ibu Amanda juga ikut membantu,barang nya tidak terlalu banyak lalu kemudian berangkat ke sekolah.
sebelum jam 8 Aleeya dan Bu Amanda tiba di sekolah.Terlebih dahulu mereka menemui kepala sekolah,tak lama di dalam ruang kepala sekolah Aleeya dan ibu Amanda pun keluar ruangan.
"Sekarang masuklah ke ruang ujian mu,nanti pulang sekolah pak Izan supir Tante yang akan menjemput"
"Iya Tante ,sekali lagi terimakasih untuk semua bantuan Tante" setelah mencium tangan Bu Amanda,Aleeya pun berlari kecil masuk ruang ujian agar tidak telat pikirnya.
Aleeya mengikuti ujian dengan tenang Aleeya berusaha untuk tegar dan mengiklaskan ibunya.
Bagaimana pun juga hidupnya harus tetap berjalan dan sekarang dia harus fokus dengan masa depan nya.
Untung ibu Amanda dan pak Raditya bersedia menampung nya dan membantu dirinya agar bisa mengikuti ujian akhir.
m
Meskipun nanti Aleeya tidak puas dengan hasilnya, setidaknya dirinya tidak perlu mengulang satu tahun lagi untuk lulus dari bangku SMA .
Banyak teman-teman nya yang mengucapkan turut berdukac cita atas kepergian ibu nya.
Aleeya pun mencoba untuk tetap tegar.
"Ini sudah takdir hidup " batinay,seketika hatinya sedikit lega meskipun belum sepenuhnya ia iklas menerima kenyataan hidup ,setidaknya ia mencoba,dirinya tak mungkin terus hidup dalam keterpurukan. Baru satu hari ibunya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya rasa nya tidak mungkin bisa secepat itu diri untuk melupakan peristiwa yang paling menyakitkan dalam hidupnya itu.Kata-kata ibu Amanda dan pak Raditya juga benar, hidup ini akan terus berlanjut tanpa berhenti sedetik pun.
Tidak ada yang menguatkan dirinya selain dirinya sendiri.
Aleeya memang terkenal anak nya mandiri dan kuat. sejak kepergian ayahnya beberapa tahun lalu, jarang sekali dirinya mengeluh kepada teman-teman nya meskipun Aleeya dan ibunya hidup dalam serba kurang .
Aleeya lebih fokus belajar dan membantu ibunya sehari-hari.
Aleeya periang dan suka bergaul, anak nya ramah dan cantik.
Banyak sekali teman sekelas ataupun beda kelas yang suka padanya.
Aleeya dengan rambut panjang nya yang di kuncir,kulit putih dan tinggi sekitar 165,make up yang natural menjadikanya begitu terlihat cantik.
Sepulang sekolah,Aleeya buru-buru,dia takut pak Izan supir ibu Amanda sudah menunggu.
Dari jarak beberapa meter Aleeya sudah bisa melihat pak Izan supir yang tadi pagi juga mengantar nya ke sekolah.
Pak Izan kemudian mempersilahkannya masuk kedalam mobil.
Di rumah kediaman george,pak Raditya yang biasa nya pulang di sore hari,kali ini pulang lebih awal, tidak ada pemberitahuan kepada istrinya.
Terlihat pak Raditya sangat buru-buru dan sambil melonggarkan dasinya pak Raditya langsung masuk ke kamar.
Bu Amanda yang sedang baca majalah sontak kaget.
"Papa,kok ga bilang-bilang mau pulang cepet?" tanya Bu Amanda yang melihat suaminya yang buru-buru.
"Ada yang mau papa bicarakan sama mama"
"Soal apa pa?"
"Soal Richo ma,papa berniat untuk menjodohkan ya dengan Aleeya"
sedikit kaget mendengar perkataan suaminya
Bu Amanda pun membenarkan cara duduk nya .
"Papa yakin?"
Pak Raditya lalu mengangguk , dan duduk di samping Bu Amanda.
"Coba jelasin ke mama kenapa papa bisa berpikir untuk menjodohkan Aleeya dengan Richo ?" katanya penuh menyelidik.Pak Raditya pun menjelaskan alasan nya
kenapa dirinya berniat menjodohkan anaknya Richo Rahman George dengan Aleeya anak sahabat sekaligus mantan tunangan nya itu.
ibu Amanda tidak keberatan setelah mendengar alasan suaminya menjodohkan putra satu-satunya itu dengan Aleeya .
"Apa Aleeya tidak keberatan nikah muda pa?" tanya Bu Amanda menyakinkan.
"Papa harap tidak."
Sementara di bawah, Aleeya baru sampai
Bu Amanda segera menyambut kedatangan Aleeya .
"Al, kamu sudah datang?"
"Iya Tante,Oya Tante baju Aleeya tadi di taruh dimana ya?" tanya Aleeya
"Sudah di taruh sama Bik Ani di lemari di kamar mu,sekarang kamu ganti baju dan makan siang ya,Tante ada urusan sebentar tapi Tante akan segera kembali"
"Baik Tante, hati-hati Tante."
Kemudian Bu Amanda pun berjalan menuju mobil dan sudah di tunggu oleh pak Izan.
Aleeya pun masuk kamar nya dan berganti pakaian.kemudian Aleeya turun untuk makan siang.
Aleeya melihat pak Raditya di meja makan dan Aleeya pun segera mendekat
"Om , Om bukanya di kantor ya?"
"Om baru aja sampai di rumah kira-kira 15 menit sebelum Aleeya datang"
"Oh,,tapi Aleeya tidak lihat om tadi"
"Om tadi ada di kamar"
"Ayo temani om makan siang ,kamu apsti sudah lapar kan?"
Aleeya sambil tersenyum lalu mengangguk
"Duduklah " perintah pak Raditya .
Aleeya pun langsung duduk dan menikmati makan siang yang sudah ada di hadapannya .
Bi Ani dan beberapa pelayan lainya sudah menyiapkan makan siang.
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan siang. Pak Aditya pun mengajak Aleeya duduk di ruang keluarga.
"Om senang lihat kamu sudah lebih baik dari hari kemaren"
"Iya om,terimakasih untuk semua bantuan om dan Tante .Aleeya berhutang Budi sama kalian"
"Kamu tidak perlu merasa seperti itu nak, ibu dan ayah kamu adalah teman baik om dan Tante sejak dulu,mungkin itulah sebab nya ibu mu mempercayai kami untuk menjaga mu" pak Raditya mengenang masa lalu nya dengan Bu Lidya almarhum ibu Aleeya .
" Ibu mu adalah mantan tunangan om, tapi karena ketidak cocokan membuat kita memilih untuk berpisah. Ibu mu menikah dua tahun setelah putus dari m dan m menikah setahun setelah ibu mu menikah, m dan Tante Amanda pun di karuniai seorang anak cowok , sementara ibu dan ayah mu belum "
kembali pak Raditya mengenang masa-masa indah bersama Lidya sahabat sekaligus mantan tunangannya itu.
"Meskipun kami tidak jadi menikah tapi m dan ibu kamu masih berteman baik, bahkan m memperkenalkan istri m, dan ibu mu juga memperkenalkan ayahmu kepada om, kami pun jadi sering bertemu bersama dan menjadi sahabat " lanjut pak Raditya.
Aleeya mulai mengetahui hubungan ibunya dengan dua orang yang waktu itu menolongnya untuk mengurus pemakaman ibunya.Bahkan Sampai mau menampung dirinya saat ini.
"Ternyata pernah sedekat itu" katanya dalam hati.
"Om dan Tante pergi ke Amsterdam dan memulai usaha om di sana, saat anak om berumur 7 tahun dan itu mungkin kamu masih di dalam kandungan ibu mu, sejak itu om jarang komunikasi lagi dengan ibu dan ayah mu.Sampai om mendengar berita meninggalnya ayahmu.Om dan Tante menawarkan bantuan untuk memberikan pendidikan dan biaya hidup kamu dan ibu mu tapi ibu mu menolak."
Pak Raditya cerita panjang lebar yang membuat Aleeya mengerti dengan semua yang pak Raditya ceritakan .
Jadi ceritanya seperti itu pikir Aleeya. Ibunya tidak pernah cerita apapun mengenai Pak Raditya dan Bu Amanda. Ibunya justru banyak cerita tentang Almarhum ayahnya yang semasa hidupnya beliau sangat baik. Aleeya tidak tahu kalau ibunya justru memiliki seorang teman yang juga sangat baik, jika dulu ibunya menikah dengan pak Raditya mungkin Aleeya tidak akan ada.
Mereka pun cerita banyak hal siang itu, Aleeya memang tipe gadis yang mudah akrab dengan siapapun. Sangat nyambung sekali saat pak Raditya mengajaknya untuk berbincang, bernostalgia kisah kedua orang tuanya dulu semasa muda. Aleeya seperti merasakan masa-masa remaja ibunya dulu.