"Akram selamat ya atas kelahiran anak kalian. Mama sudah melihat fotonya dan dia cantik sekali mirip seperti mamanya. Akhirnya cucu pertama mama lahir juga."
Arumi mengerutkan dahi membaca pesan yang ibu mertuanya itu kirimkan ke nomor sang suami, Akram. Cucu pertama? Kelahiran anak? Apa maksudnya. Sedangkan cucu pertama Elina jelas-jelas Ayumi, anak pertamanya dan Akram.
"Apa maksud pesan yang mama kirimkan? Apa mas Akram diam-diam punya anak dari perempuan lain? Tapi selama ini tingkah mas Akram terlihat biasa-biasa saja dan sama sekali nggak mencurigakan. Sikap mas Akram juga begitu manis kepada aku. Bahkan dia sangat perhatian kepada aku. Apa dia sengaja memperlakukan aku seperti itu untuk menutupi kebusukannya," Arumi membatin dalam hatinya.
"Aku harus mencari tahu."
"Arumi kamu ngapain pegang-pegang hp mas?" nada suara Akram terdengar seperti orang marah dan merampas ponselnya yang ada di tangan Arumi dengan kasar.
"Itu mas, tadi hp kamu bunyi. Mau aku berikan ke kamu tapi kamunya lagi di kamar mandi," alibi Arumi.
"Padahal aku cumah pegang ponselnya tapi kenapa nada suara mas Akram seperti nggak suka begitu ya. Aku jadi semakin yakin ada yang mas Akram sembunyikan dari aku selama ini."
"Kenapa mas? Kamu marah yah aku pegang-pegang ponsel kamu?" Arumi pura-pura memasang wajah bersedih.
"Nggak kok sayang. Mas nggak marah. Lagi pula buat apasih kamu mainin ponsel mas? Kamu kan buta dan nggak bisa melihat. Mana bisa kamu mainan ponsel."
"Kamu nggak tahu aja kalau aku sudah bisa melihat kembali mas dan aku akan memanfaatkan situasi ini untuk mencari tahu apa yang kamu sembunyikan di belakang aku selama ini."
"Sayang, setelah ini apa mas boleh keluar?"
"Memangnya kamu mau kemana mas?"
"Mau ke rumah sakit lah," jawab Akram keceplosan.
"Rumah sakit? Kamu ngapain mau ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" Arumi langsung menyerbu Akram dengan beberapa pertanyaan.
"Sial, aku pakai acara keceplosan lagi," Akram merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.
"Ehm.. itu.. anu.."
"Itu apa mas? Siapa yang sakit?"
"Istri sahabat mas baru saja melahirkan. Anaknya perempuan. Anaknya lucu banget sayang. Rencananya mas mau datang ke sana menjenguk istri sahabat mas," ucap Akram dibumbui dengan kebohongan tentunya.
"Kalau begitu aku ikut ya mas."
"Kamu di rumah aja. Kalau kamu ikut terus Ayumi bagaimana?"
"Kan ada bi Inah mas. Jadi Ayumi nggak sendiri. Lagi pula kamu kan punya istri mas, masa perginya sendiri."
Akram mendengus kesal mendengar jawaban Arumi.
"Yasudah kamu boleh ikut."
"Makasih ya mas. Aku mau ganti baju dulu sebentar."
"Mas tunggu di luar."
Arumi menganggukan kepala.
Akram berlalu keluar kamar.
****
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam," semua menatap ke arah pintu ruangan yang memperlihatkan Akram datang sambil mendorong kursi roda Arumi.
Raut wajah Elina langsung berubah menjadi tidak suka begitu melihat Arumi juga ikut bersama Akram. Cepat-cepat ia berjalan mendekati Akram dan menarik pergelangan tangan Akram sedikit menjauh dari Arumi.
"Mama kan sudah bilang kalau kamu mau datang, datang aja sendiri. Ngapain ngajak sih buta dan cumah tamatan SD itu?" bisik Elina. Supaya Arumi tidak akan mendengar, padahal Arumi mendengar apa yang Elina katakan barusan.
"Sebenarnya Akram juga nggak mau ma. Tapi dia maksa. Kalau Akram nggak menuruti kemauan dia, nanti dia curiga," Akram balas berbisik.
"Ternyata begini kelakuan kamu di belakang aku mas," Arumi tersenyum miring. Dia jadi semakin yakin Akram tidak sebaik apa yang ia pikirkan selama ini.
"Mas Akram, di mana istri sahabat kamu mas? Aku ingin memberikan ini," Arumi menunjukkan parcel buah-buahan yang ia pegang.
Akram memutar kedua bola matanya dan melangkah mendekati Arumi. Mendorong kursi roda wanita itu mendekati ranjang rumah sakit yang saat ini ditempati oleh Syafa.
"Maaf ya, cumah ini yang bisa aku berikan untuk kamu. Aku harap kamu mau menerimanya. Aku juga ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak kalian," Arumi memberikan parcel buah-buahan itu pada Syafa yang langsung diterima oleh Syafa.
"Makasih banyak ya kamu sudah mau datang jengukin aku. Jadi ini istri kamu Akram? Kok bisa laki-laki setampan kamu suka sama perempuan buta yang pastinya nggak bisa apa-apa dan hanya menjadi beban?"
"Wah, iya juga ya. Secara nggak langsung berarti aku hebat dong. Cumah perempuan buta dan nggak bisa apa-apa tapi dapat suami setampan mas Akram. Itu tetangga aku nggak buta dan rupanya cantik dapat suami orang. Kasihan, cantik-cantik tapi sukanya sama suami orang."
Syafa langsung terdiam. Kenapa dia jadi tersindir mendengar perkataan Arumi barusan.
"Kamu tahu nggak apa alasan suami selingkuh dari istrinya? Itu karena istrinya punya kekurangan. Coba kalau istrinya sempurna, pasti suaminya nggak akan mencari perempuan lain karena buat apa? Orang istrinya sudah luar biasa. Dia cari perempuan lain untuk mendapatkan apa yang dia mau yang nggak bisa diberikan sama istrinya," sahut Mia, kakak perempuan Akram.
"Nggak juga ah. Mbak Mia cantik, lulusan sarjana, pintar, nggak buta, tapi kok suaminya main belakang sama perempuan lain? Berarti kekurangan istri bukan alasan yang membuat suami selingkuh. Tapi kurangnya rasa bersyukur dan maruk. Sudah diberi istri yang setia, tulus, baik tapi malah disia-siakan demi pelakor. Itulah namanya laki-laki nggak tahu diri."
"Jaga ucapan kamu ya. Mas Adit nggak seperti yang kamu bilang," seru Mia tidak terima dengan nada sedikit membentak.
"Mbak Mia gimana sih, katanya lulusan sarjana dan cerdas. Tapi kok mau aja dibodohi suami sendiri?"
"Kenapa bawa-bawa lulusan terus? Kamu iri ya karena kedua anak saya lulusan sarjana. Sedangkan kamu, cumah lulusan SD. Saya tau kamu sengaja memanas-manasi Mia supaya hubungan Adit dan Mia menjadi berantakan. Adit itu cinta mati sama anak saya. Jadi mana mungkin dia selingkuh," sambar Elina.
"Sudah-sudah. Kamu juga Arumi, bisa nggak sih sehari aja kamu jangan membuat keributan. Mas perhatikan sikap kamu semakin hari semakin kurang ajar sama mama dan mbak Mia. Seperti nggak punya sopan santun sama yang lebih tua," Akram menengahi perdebatan ketiganya.
"Mas sampai malu melihat kelakuan kamu yang begini. Nanti orang-orang pada mikir suaminya nggak bisa mengajari istrinya sopan santun kepada yang lebih tua. Padahal kamunya aja yang susah dibilangin."
"Aku akan bersikap sopan tapi sama orang yang berkelakuan sopan pula mas. Bukan suka merendahkan apalagi suka nyinyir kepada orang lain. Semakin didiamkan semakin semena-mena pula mereka. Aku bukan jalan raya yang hanya diam saja ketika diinjak-injak. Aku manusia."
"Sebaiknya kita pulang sekarang."
"Itu lebih baik. Aku juga malas lama-lama di sini."
"Arumi, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mas mau ke toilet dulu."
"Iya mas."
Akram berlalu menuju toilet rumah sakit.
Arumi menoleh ke samping. Menatap perempuan berambut panjang yang duduk di atas kursi tunggu sambil mainan ponsel.
"Saya perhatikan sejak saya datang kamu ada di sini terus. Kalau saya boleh tahu kamu ini ada hubungan apa ya sama perempuan yang ada di dalam?" tanya Arumi. Mungkin dia bisa mengorek informasi lebih dalam tentang perempuan itu dari perempuan ini bila mereka mempunyai hubungan dekat.
"Perempuan yang habis melahirkan itu maksud kamu?"
Arumi menganggukan kepala.
"Dia sahabat aku, namanya Syafa. Kamu sendiri ada hubungan apa dengan suami sahabat aku?"
"Suami?"
"Akram maksudnya."
"Dia suami aku."
Perempuan itu terkejut mendengar perkataan Arumi.
"Kami sudah menikah sejak enam tahun yang lalu. Bahkan sudah punya anak satu. Apa kamu tahu kapan mas Akram menikahi perempuan itu?"
"Mereka menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu. Lalu setelah itu mereka memutuskan untuk menikah sekitar empat bulan yang lalu karena Syafa hamil."
"Jadi benar anak itu anaknya mas Akram? Bahkan mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan aku," Arumi mengepalkan tangan.
"Arumi maaf lama."
"Iya mas nggak papa."
Akram mendorong kursi roda Arumi menjauhi ruang rawat Syafa menuju parkiran rumah sakit.
****
"Akram, hari ini kamu kan gajian. Mulai sekarang kamu nggak usah memberikan uang gaji kamu kepada Arumi lagi. Tapi diberikan kepada Syafa untuk membeli kebutuhan anak kamu yang baru lahir. Kamu tahu sendirikan kebutuhan bayi yang baru lahir sebanyak apa? Harus membeli susu lah, pampers biar nggak terlalu banyak cucian, belum lagi perlengkapan bayi satu pun belum ada yang punya. Arumi mah buat apa? Ayumi juga masih kecil. Kasih uang dua ribu perhari juga cukup. Sisanya buat mama. Hitung-hitung sebagai balas budi atas pengeluaran yang mama keluarkan untuk kamu selama ini. Dari kecil sampai bisa seperti sekarang."
"Iya ma."
Akram mengirimkan balasan pesan untuk Elina.
"Arumi?"
"Iya mas?"
"Kemarin mas nggak sengaja menabrak supir taxi sampai mobilnya mengalami kerusakan parah dan terpaksa harus dibawa ke bengkel."
"Ya terus?"
"Dia meminta mas untuk mengganti rugi sebesar dua juta lima ratus ribu dan mas terpaksa harus memberikan uang gaji mas karena dia mengancam akan melaporkan mas ke polisi seandainya mas nggak mau mengganti rugi."
"Dan kamu pikir aku percaya? Pasti semua itu hanya akal-akalan kamu saja mas karena kamu ingin memberikan uang gaji kamu untuk pelakor murahan itu yang kini sudah menggantikan posisi aku dan untuk mama kamu kan," Arumi tersenyum miris.
"Kamu nggak keberatan kan bila mas memberikan semua uang gaji mas untuk mengganti rugi? Dari pada suami kamu masuk penjara?"
"Iya mas. Aku nggak keberatan kok."
"Justru sikap kamu yang seperti ini semakin meyakinkan aku untuk bercerai dari kamu."
****
Arumi terbangun dari tidurnya. Menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam kemudian menatap Akram yang terlelap di sampingnya.
"Mampung mas Akram tidur sebaiknya aku menjalankan misiku sekarang," Arumi berubah posisi menjadi duduk. Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari atas tempat tidur. Melangkah pelan mendekati pintu kamar, membukanya pelan-pelan agar Akram tidak terbangun dan menutupnya kembali.
Arumi segera memasuki kamar kosong yang ada di samping kamarnya dan juga Akram lalu melangkah pelan mendekati nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Biasanya mas Akram selalu menyimpan uangnya di sini supaya nggak ketahuan sama aku," Arumi cepat-cepat membukanya dan benar saja, ada banyak lembar uang ratusan ribu di sana.
Arumi mengambil semuanya tanpa tersisa satu lembar pun. Setelah itu ia menutup kembali nakas tersebut dan membuka salah satu kaca jendela di kamar ini supaya Arkam akan beranggapan bahwa uangnya dicuri oleh maling.
"Dia sudah merebut kamu dari aku mas. Nggak akan aku biarkan dia merebut jatah bulanan yang harusnya kamu berikan kepada aku untuk dia."
****
"Jadi tujuan mama datang ke sini ingin mengambil jatah bulanan mama Akram."
"Itu dia masalahnya ma. Uangnya hilang entah ke mana. Padahal semalam masih ada kok Akram simpan ditempat biasa," Akram memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.
"Kamu jangan bercanda Akram."
"Akram serius ma. Lagi pula untuk apa Akram membohongi mama."
"Mungkin kamu lupa menaruhnya di mana."
"Nggak ma. Jelas-jelas semalam Akram menaruhnya di dalam nakas yang ada di kamar tamu. Tapi tadi pagi waktu Akram mau transfer uangnya ke rekening Syafa, uangnya sudah nggak ada."
"Nggak salah lagi pasti ini kerjaan istri kamu. Pasti dia yang sudah mengambil semua uang kamu Akram. Dia kan nggak pernah setuju kamu memberi mama uang," Elina menerka-nerka.
"Mana mungkinlah ma. Arumi kan buta, ingin ke mana-mana aja harus bi Inah atau Akram yang mendorong kursi rodanya. Lagi pula selama ini dia nggak tahu kalau Akram menyimpan semua uang Akram di sana. Mungkin uangnya diambil sama maling ma."
"Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan begitu?"
"Karena tadi pagi Akram melihat jendela kamar Akram dalam keadaan terbuka ma. Padahal semalam jelas-jelas Akram sudah menutupnya bahkan menguncinya."
"Duh Akram, kamu ini ceroboh banget sih jadi orang. Lain kali jangan begini lagi dong. Oh iya, mama ingin memberitahu. Hari ini Syafa sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kamu bawa aja dia tinggal di rumah ini. Supaya ada yang mengurus anak kamu, bi Inah. Lagi pula kasihan Syafa bila harus tinggal di rumah kontrakan itu lagi. Sudah sempit, panas, kotor pula. Nanti anak kamu kena penyakit."
"Apa? Mama meminta mas Akram membawa pelakor itu tinggal di rumah ini? Awas aja kalau mas Akram sampai mengiyakan permintaan mama," batin Arumi yang sedari tadi menguping pembicaraan keduanya dari kejauhan.
"Siapa yang mau tinggal di rumah ini ma?"
Elina dan Akram sama-sama menolehkan wajah.
"Kamu ini selain bodoh ternyata nggak punya sopan santun ya. Suka mendengarkan pembicaraan orang lain. Kamu tahu nggak, apa yang kamu lakukan itu nggak sopan! Begini kalau orang cumah lulusan SD. Otaknya beku."
"Alah seperti mama nggak pernah menguping pembicaraan Arumi dan mas Akram aja. Kalau begitu apa bedanya Arumi sama mama? Sama-sama nggak sopan! Mentang-mentang anaknya lulusan sarjana semua, jadi mengejek orang lain sesuka hatinya. Ingat ma, yang mama rendahkan itu manusia. Punya perasaan," balas Arumi. Setahun dua tahun dia menikah bersama Akram, dia hanya pasrah dan diam ketika direndahkan. Bahkan di hadapan banyak orang sekalipun. Tapi semakin didiamkan maka semakin menjadi juga Elina terus-terusan menghinanya. Arumi tidak akan tinggal diam. Batas kesabarannya sudah habis! Biarkan saja semua orang mencapnya sebagai menantu durhaka.
"Ini rumah Arumi. Arumi yang membeli pakai uang Arumi sendiri. Jadi wajar dong siapa pun yang mau tinggal di rumah ini Arumi berhak tahu."
"Renovasi dapur rumah ini pakai uang saya. Ada saya perhitungan?"
"Uang tabungan Arumi sebanyak tiga puluh juta dipakai buat biaya menikah mbak Mia dan mas Adit. Ada Arumi perhitungan?"
"Arumi kamu tuh bisa nggak sih jangan kurang ajar sama mama. Pakai membahas uang kamu yang dipakai mbak Mia segala. Baru punya uang segitu aja kamu sudah merasa paling kaya. Selama ini mas yang memberi kamu makan nggak ada tuh mas perhitungan kalau kamu mau main hitung-hitungan," Akram mulai bersuara.
"Bila tahu dulu sifat kamu begini aku pasti akan bepikir ratusan kali ingin menikahi perempuan modelan seperti kamu. Nggak punya sopan santun sama mama. Aku yang anak kandungnya aja nggak pernah tuh menjawab setiap kali diomelin sama mama."
"Kamu pikir aku nggak menyesal menikah sama kamu mas? Seandainya aku tahu dari dulu betapa busuknya kamu, pasti aku akan berpikir ribuan kali menerima lamaran kamu. Kamu nggak pernah tegas dan selalu nurut apa kata ibu kamu. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Kamu lemah, nggak bisa berdiri sendiri tanpa ibu kamu. Belum lagi keluarga kamu yang toxic itu," Arumi mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini.
"Kamu perhitungan soal makan? Memangnya berapa sih kamu memberi aku uang? Dua ratus ribu perbulan. Untuk jajan Ayumi buat sebulan aja masih kurang. Apalagi buat makan. Kamu taunya mau makan yang enak-enak. Makan yang nggak sesuai sama selera kamu sehari aja, kamu langsung marah-marah dan banyak protesnya. Nggak disesuaikan sama pemberian kamu. Sedangkan hampir semua uang gaji kamu, kamu berikan untuk ibu kamu yang masih menanggung hidup kakak kamu beserta suaminya. Kamu bodoh mas!"
"Diam kamu Arumi!"
"Selama ini aku cumah bisa sabar. Aku nggak berani speak up. Tapi sekarang batas kesabaran aku sudah habis mas! Aku lelah terus diperlakukan seperti ini."
"Lebih menderita mana kamu dan anak saya? Menikahi wanita buta yang nggak bisa mengurus suaminya."
"Jelas lebih menderita saya. Bahkan disaat saya buta, suami saya diam-diam menikahi perempuan lain sampai punya anak pula."
Elina dan Akram sama-sama terkejut mendengarnya.
"Perempuan yang kita jenguk semalam di rumah sakit, itu bukan istri sahabat kamu kan mas? Tapi istri kedua kamu yang baru saja melahirkan anak pertama kalian. Selamat ya," Arumi menatap Akram penuh kekecewaan.
"Baguslah bila kamu sudah mengetahui semuanya. Jadi aku nggak perlu repot-repot harus menjelaskan semuanya kepada kamu lagi. Lagi pula untuk apa mempertahankan istri buta yang nggak bisa apa-apa seperti kamu. Hanya bisa menyusahkan dan menjadi beban saja. Syafa jauh lebih segala-galanya dari pada kamu dan yang terpenting dia nggak buta. Aku sudah mendapatkan yang lebih baik dari pada kamu. Aku sudah nggak membutuhkan kamu lagi. Aku mau kita bercerai," sama sekali tidak ada keraguan di hati Akram ketika mengucapkan kata perceraian. Seolah berpisah dari Arumi memang keputusan yang tepat.
"Aku yakin setelah kita bercerai nanti nggak akan ada laki-laki yang mau sama kamu."
"Satu lagi, rumah ini sudah menjadi milik Akram sekarang. Jadi kamu yang harus pergi dari rumah ini bukan Akram! Jangan lupa bawa anak kamu sekalian. Karena saya nggak sudi mengurus anak kamu sih Ayumi. Cucu saya cumah satu, anak Syafa dan Akram. Ayumi mah bukan cucu saya. Mana sudi saya mengakui anak yang terlahir dari rahim perempuan buta seperti kamu sebagai cucu."
"Anak saya juga nggak meminta pengakuan dari anda kok. Tentu saja saya akan pergi membawa anak saya. Kasihan mentalnya bila harus tinggal satu atap sama ibu tiri. Pasti anak saya akan diperlakukan seperti pembantu. Tanpa ayahnya, saya juga bisa membesarkan anak saya."
Mereka tidak tahu saja kalau Arumi telah membohongi mereka selama ini dan menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Arumi merupakan lulusan S2 salah satu kampus ternama di London. Punya satu perusahaan, dua restoran mewah dan berkelimpahan harta. Cumah Arumi sengaja merahasiakan semuanya agar tidak dimanfaatkan oleh keluarga Akram.
"Kebanyakan mimpi. Kamu itu cumah lulusan SD, mana ada yang mau menerima kamu bekerja. Sudah itu buta pula. Mau dapat uang dari mana kamu untuk menghidupi anak kamu. Paling setelah bercerai dari Akram kamu jadi pengemis atau gelandangan yang tinggal di emperan jalan."
Arumi tersenyum miring. Biarkan Elina menghinanya sepuasnya untuk sekarang. Karena permainan akan segera dimulai.
****
"Mama, ini rumah baru kita?"
"Iya. Gimana? Ayumi suka?"
"Suka. Tapi kenapa papa nggak ikut sama kita?"
"Mama punya banyak makanan di kulkas. Ayumi mau nggak?" Arumi sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Mau ma. Tapi kenapa mama nggak pakai kursi roda? Mama sudah bisa jalan? Terus mata mama sudah bisa melihat lagi?"
"Iya. Mama sudah sembuh," Arumi menuntun Ayumi menuju dapur dan mengambil beberapa cokelat dari dalam kulkas.
"Oh iya aku hampir aja lupa. Aku kan harus menghubungi Saka," batin Arumi. Memberikan beberapa cokelat itu pada Ayumi.
"Bi Lila."
"Iya bu?" wanita setengah bayah dengan lap menyampir di bahunya buru-buru berjalan mendekati Arumi dan Ayumi.
"Saya titip Ayumi sebentar ya. Tolong dijagain."
"Siap bu."
"Ayumi, mama mau ke kamar dulu ya. Nanti kalau kamu mau apa-apa minta aja sama bi Lila," Arumi mengusap kepala Ayumi yang sibuk memakan cokelat miliknya.
Ayumi menganggukan kepala.
Arumi berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Arumi mengambil ponselnya dari dalam saku celana, mengotak atiknya sebentar lalu menempelkan ponselnya di telinga.
Arumi melangkahkan kedua kakinya menuju balkon kamarnya. Berdiri di dekat pagar besi pembatas balkon dan membiarkan helaian rambutnya berterbangan ke sana ke mari akibat tiupan angin.
"Hallo rum, ada apa kamu telepon aku? Kangen ya?"
Tuh kan, tuh kan, tuh kan, jiwa kepedeannya kambuh lagi.
"Kalau kangen langsung datang aja kali rum ke rumah. Nggak usah melalui telepon atau biar aku aja yang datang ke rumah kamu? Kamu ada di rumah kan."
"Dasar kepedean. Ternyata dari dulu sampai sekarang penyakit kepedean kamu tuh nggak sembuh-sembuh ya. Semakin parah malahan. Aku cumah mau bilang mulai besok pecat mas Akram dari perusahaan kamu."
"Tapi kenapa?"
"Dia selingkuh.."
Saka tertawa terbahak-bahak.
"Nggak ada yang lucu ya," ingin rasanya Arumi membenturkan kepala Saka berkali-kali ke tembok saat ini.
"Kamu lucu. Kamu meminta aku memecat suami kamu cumah karena dia selingkuh."
"Dia bukan suami aku lagi mulai sekarang. Kami akan bercerai."
"Memangnya rumah tangga kamu rusaknya sudah separah itu dan nggak bisa diperbaiki lagi?"
"Kamu tau nggak sih. Ternyata selama ini dia diam-diam menikah lagi sama perempuan lain bahkan kemarin istrinya baru aja melahirkan anak pertama mereka. Belum lagi keluarganya yang kamu tahu sendiri seperti apa, aku sudah nggak tahan. Selama ini aku cumah bisa sabar. Tapi yang namanya manusia juga punya batas kesabaran lah," ucap Arumi tanpa jeda dan spasi. Nafasnya naik turun tidak beraturan karena emosi.
"Dia bodoh sih. Aku yang bertahun-tahun berjuang buat dapetin hati kamu aja susahnya minta ampun. Dia yang berhasil memenangkan hati kamu malah disia-siakan. Kamu nikah sama aku aja gimana? Bisa aku pastikan kamu akan bahagia."
"Dasar lelaki. Dulu mas Akram sebelum kami menikah juga bilangnya begitu. Tapi apa?"
"Jangan samakan aku dan dia rum. Dia itu buaya."
"Kamu?"
"Kadal.."
"Aku sudah punya buntut satu. Sedangkan kamu, ganteng, mapan, belum menikah pula. Usia kamu juga lebih muda. Sayang kalau dapat janda."
"Menunggu kamu jadi janda itu cita-citaku rum. Akhirnya nggak sia-sia aku berdoa setiap malam supaya kamu dan Akram cerai."
"Kamu.."
"Bercanda. Sudah dulu ya rum, aku mau mandi dulu gerah. Nanti aku pecat laki-laki kurang ajar itu dari perusahaanku."
"Hm."
Bip.
Sambungan telepon diputuskan secara sepihak. Arumi menghela nafasnya.
****
"Nah kalau begini kan enak. Benalunya sudah pergi. Jadi mama nggak akan darah tinggi karena marah-marah terus. Oh iya Syafa, jadi kapan kamu akan membawa mama ke rumah kedua orang tua kamu yang katanya besar dan mewah itu?" Elina menatap Syafa yang sedang menyusui Syakila.
"Besar dan mewah? Kapan ya ma Syafa bilang begitu," Syafa terlihat gelagapan.
"Masa kamu lupa sih? Itu loh waktu kamu masih pacaran sama Akram dan kalian belum menikah. Kamu pernah bilang begitu sama mama. Kamu juga bilang kalau profesi ayah kamu direktur sekaligus punya perusahaan besar. Ibu kamu dosen. Tapi kok mohon maaf nih ya, waktu ibu sama ayah kamu menghadiri acara pernikahan kalian mobilnya biasa aja. Terus baju yang dipakai kedua orang tua kamu juga biasa aja. Paling harganya nggak sampai ratusan juta atau puluhan juta. Satu juta aja mama nggak yakin. Norak jatuhnya. Apalagi itu ibu kamu, mukanya hitam banget, kalau orang kaya kenapa nggak dipoles pakai bedak mahal supaya enak dilihat," ucap Elina terang-terangan.
"Terus kakak kamu yang katanya polisi itu.. mama pengen kenalan sekalian."
"Ehm.. ma, sebenarnya semua yang Syafa katakan itu nggak benar."
"Maksud kamu?" Elina terlihat tidak mengerti.
"Syafa cumah mengarang cerita dan membohongi mama. Sebenarnya rumah Syafa yang ada di luar kota itu rumah kontrakan biasa ma. Rumahnya juga kecil dan nggak besar. Ayah cumah montir biasa di bengkel tetangga. Ibu penjual nasi uduk keliling dan kakak, sudah bercerai sama istrinya dua tahun yang lalu karena pengangguran."
"Apa? Jadi kamu sudah membohongi aku dan keluargaku Syafa?" Akram ikut emosi mendengarnya. Ia merasa sudah ditipu selama ini. Selain mencintai wanita itu, Akram juga sangat berharap dengan menikahi Syafa dia ikut menjadi kaya raya.
"Aku sengaja berbohong supaya mama kamu merestui hubungan kita mas. Kamu tahu sendirikan tipe menantu idaman mama itu seperti apa? Yang kaya, yang cantik, yang lulusan sarjana. Kalau aku mengatakan yang sejujurnya mama pasti nggak akan merestui kita."
"Terus kamu lulusan apa?"
"Syafa sekolah cumah sampai kelas tiga SD ma karena ayah dan ibu nggak punya biaya untuk menyekolahkan Syafa."
"Kamu benar. Menyesal saya sudah menerima kamu menjadi menantu saya. Menyesal saya sudah membantu menyembunyikan hubungan kalian selama ini di belakang Arumi," Elina buru-buru bangkit dari duduknya dan berlalu.
"Mas, kamu nggak ada niatan ingin menceraikan aku kan karena ternyata aku nggak seperti apa yang kamu harapkan?" Syafa mencekal pergelangan tangan Akram yang bangkit dari duduknya.
"Bukan nggak tapi belum," Akram melepaskan tangan Syafa dari tangannya dan berlalu.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku nggak mau bernasib sama seperti Arumi. Aku sangat mencintai mas Akram. Susah payah aku menyingkirkan Arumi dari hidup mas Akram," Syafa menggigiti kuku jarinya.