"Aduh, pakai acara lupa lagi!" keluh Frani dengan penampilan yang sudah kusut di sana-sini.
Karena sedari tadi sibuk mengasah tangannya untuk membereskan cucian orang-orang, wanita berusia dua puluh tujuh tahun sampai lupa membawa kunci laci berisi pendapatan laundry.
Bukannya dia tidak percaya pada dua karyawannya yang sekarang, tetapi dulu Frani sempat kecewa dengan karyawan pertamanya yang mencuri hampir seluruh uangnya dan kabur. Jadi, dia berjanji untuk selalu membawa kunci laci. Terlebih, Frani harus menabung untuk progam hamil lagi.
Mengingat program hamil, wanita itu lantas teringat Gani, sang suami.
"Gimana caranya kita bisa punya anak kalau kamu sibuk? Aku saja berkorban untuk tidak lagi bekerja di pabrik hanya untuk lebih sering bersama dengan kamu, Frani."
Ucapan sang suami setelah lima bulan menikah kembali terngiang di kepala Frani. Segera, wanita itu berjalan kembali ke toko laundry miliknya yang dia bangun setelah menikah.
Dulu, Frani adalah karyawan kantor biasa. Namun, dia harus resign karena Gani tidak suka jika dia banyak menghabiskan waktu di kantor.
Frani yang sangat mencintai Gani pun tidak ingin mendebatkan masalah itu. Dengan sisa tabungan yang dia miliki, dia menyewa ruko dan membuka laundry kecil-kecilan. Yah, meskipun tidak sebanyak itu pendapatan seblumnya, dia tetap bersyukur.
Ting! Ting! Ting!
Alarm di ponsel Frani berbunyi.
Melihat jam di ponsel menunjukkan pukul 19:00, Frani semakin tergesa-gesa dan mempercepat langkahnya menuju toko.
Begitu tiba di depan pintu toko yang berupa kaca bukannya pintu sliding yang berisik bunyinya itu, ia pun berhenti dan berusaha membukanya.
"Belum terkunci?" gumam Frani bingung, "ah, Celia pasti masih di dalam!"
Memang, Celia lembur hari ini karena Leni--salah satu karyawannya--izin ada acara di rumahnya. Bahkan, Frani pun pulang terlambat karena itu. Hanya saja, packing baju belum selesai, hingga Frani meminta wanita itu untuk mempacking sisanya karena dia harus pulang.
Tapi, dia malah lupa membawa kunci laci yang tidak boleh sampai tergantung dan terpaksa kembali!
"Cel?" panggil Frani pelan.
Namun, tidak ada jawaban.
Frani beralih ke belakang kasir, sedikit berjongkok untuk membuka laci uang yang tidak seberapa besar jumlahnya. Dia tidak berniat mengambilnya dan hanya menarik kunci yang menggantung. Sayangnya, dia terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Argh, Mas, cepatlah!"
Desah memenuhi ruangan, hingga Frani menajamkan pendengarannya.
'Apakah itu suara Celia?' batin Frani.
Namun, pikiran Frani menolak kemungkinan itu.
'Tidak! Celia tidak akan mendesah begitu,' pikir Frani lagi sampai suara desahan kembali terdengar.
"Arrgh ... ayo, Mas! Aku sudah hampir selesai. Benar-benar nikmat! Lebih semangat lagi, Mas!"
Frani terpaku.
Ini benar-benar suara Celia. Karyawannya itu seperti sedang melakukan sesuatu. Berani benar Celia melakukannya padahal dia belum menikah?!
Merasa perlu mengecek siapa yang menjadi lawan main Celia karena tempat yang mereka gunakan adalah toko miliknya, Frani pun mendekati asal suara.
Dengan perasaan tidak karuan, wanita itu berjalan lebih masuk lagi.
Memang, ada satu ruangan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan cucian yang telah selesai dipacking--bersebelahan dengan kamar mandi, tempat cuci, dan sisa ruangan tanpa sekat.
Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena di dalam ruangan mungkin Celia tidak mendengar panggilannya tadi.
"Mas, setiap malam bisa begini terus aku tidak keberatan," gumam Celia lagi.
Frani terkejut Celia yang pendiam ternyata bisa mengutarakan hal yang di luar dugaan. Wanita itu semakin mendekat dan sampai di depan pintu yang terbuka.
Untuk beberapa saat, wanita itu ingin berpura-pura tidak tahu karena Celia butuh pekerjaan. Kalau dia sampai memergoki mereka, Celia pasti malu dan memutuskan untuk resign.
'Apa aku pulang saja ya?' batin Frani bingung.
Tiga detik kemudian, wanita itu berbalik. Dia akan memantau lebih jauh lagi. Siapa tahu kali ini Celia hanya salah jalan. Ya, manusia memang terkadang seperti itu. Harus salah jalan dulu baru mengerti arti kehidupan.
Frani tersenyum simpul. Dia berniat melangkah tapi ...
"Manis sekali kamu, Sayang. Sudah lama aku tidak merasakan hal yang luar biasa ini," balas seorang pria.
Frani berhenti di tempatnya. Dia tahu suara siapa itu. Lima tahun hidup dengannya tidak mungkin dia bisa lupa. Sekujur tubuhnya membeku, bahkan tangannya bergetar hebat. Dia ingin mengelak, tapi itu suara suaminya. Gani. Dia sangat yakin.
Untuk memastikan bahwa dia benar, Frani kembali berbalik. Antara takut dan tidak percaya, dia mengintip ke dalam. Dua manusia yang tidak lagi menggunakan pakaian yang pantas tengah melakukan hal yang di luar batas.
Seketika tubuh Frani luruh. Dia masih bisa menggapai dinding untuk menghentikan laju gerakan tubuhnya. Sekilas, dia melihat bagaimana wajah suaminya yang menunjukkan kelegaan. Belum lagi keringat yang mengalir dari dahi suaminya. Padahal, Gani beralasan untuk lembur tadi!
Sudah berapa kali mereka melakukannya di belakang Frani?
Sejak kapan mereka menjadi dekat?
Gani jarang pergi ke toko apalagi berbicara dengan Celia. Mereka seperti orang asing yang tidak saling berkomunikasi.
Lalu kenapa bisa mereka berdua berlaku buruk di belakangnya? Salah Frani apa pada Celia? Salah apa dirinya pada Gani? Kenapa bisa?
Wanita itu terlalu terkejut dengan fakta di depan matanya, hingga berbagai pertanyaan menggelayut di kepala Frani. Sayangnya, dia tidak kunjung mendapat jawaban.
Lantas, dia pun memilih pergi diam-diam untuk menenangkan dirinya.
'Gani pasti salah mengira kalau Celia adalah dirinya karena mata minus pria itu. Pasti begitu!' gumam Frani dalam fase denial.
Sayangnya, berpikir positif bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Setelah Frani berusaha untuk merayap sampai ke rumah karena tenaganya telah terkuras habis, dia terduduk di tepi tempat tidurnya.
Dengan mata nanar dia menatap tempat peraduannya dengan Gani. Tempat yang menjadi saksi bisu percintaan mereka. Tidakkah Gani menyadari siapa yang dia ajak bercinta tadi?
Tiga puluh menit kemudian ...
Terdengar suara pintu terbuka. Frani terlalu lemah untuk berpikir. Dia masih tidak percaya apa yang terjadi. Jadi, dia memutuskan untuk diam
"Hei, Sayang. Kenapa belum tidur? Bukannya aku bilang lembur, ya?" ucap Gani yang seperti biasa mengecup bibir Frani.
Pria itu pun duduk di samping istrinya.
Frani lantas menoleh pada sang suami. Namun, dia dapat mengendus bau parfum Celia yang lebih tajam dari parfumnya di tubuh Gani.
Berarti ... Frani tidak salah lihat atau berhalusinasi, tadi.
"Mas, aku ingin malam ini," ucap Frani mendadak. Dia juga memberanikan diri untuk melihat mata Gani.
Hanya saja, yang tersisa di sana adalah pandangan lembut yang selalu pria itu tunjukkan pada dirinya.
Ya, lembut--tidak ada perasaan bersalah dan cinta yang membara!
Benarkah itu cinta? Mendadak Frani tidak ingat mereka pernah saling mengungkapkan cinta setelah menikah.
"Oke. Aku mandi dulu, ya." Gani kemudian tersenyum simpul membuat perasaan Frani seketika mendidih.
"Aku maunya sekarang!" Frani tidak ingin Gani menghilangkan "bau" pengkhianatann itu.
Lama, Gani tampak terdiam, bingung. Sampai akhirnya, dia terkekeh.
"Baiklah. Kamu kenapa tidak sabaran sekali?" Pria itu lantas membuka kemejanya yang terlihat kusut, lalu menggunakan kekuatan tangannya untuk melakukan tugasnya pada Frani.
Ketika semuanya sudah siap, mendadak Frani mual melihat tubuh suaminya.
Beberapa saat lalu, tubuh itu dijamah orang lain bahkan sisa-sisa percintaannya masih ada.
Dengan mata kepala sendiri, Frani menyaksikan kenikmatan yang sudah tidak lagi terlihat dalam hubungan mereka.
Frani seketika merasa mual. Sontak, ia membuang muka ketika Gani hendak mengecup bibirnya.
"Aku tidak ingin, Mas."
"Tiba-tiba?" tanya Gani bingung.
"Tiba-tiba. Aku mau mandi dulu."
Gani menatap istrinya lama.
"Kenapa dengan dia? Lelah di toko? Salah sendiri kenapa buka toko laundry bukannya toko makanan kemasan yang tidak perlu repot sana-sini."
Dari dalam kamar mandi, Frani mendengar gerutuan suaminya itu. Sesak di dalam dadanya tidak bisa hilang begitu saja. Dia kecewa.
Tangan wanita itu mengepal.
"Tega kamu, Mas!"
***
"Kenapa kamu dari tadi diam, Frani? Ada apa? Tidak suka makanannya?" tanya Gani dengan seraut wajah khawatir. Mereka duduk berdua, menikmati sarapan pagi seadanya. Oseng tempe kecap dan sambal. Hanya itu yang bisa Frani sajikan dengan sisa uang laundry yang tidak seberapa.
Semalaman Frani tidak bisa tidur, kepalanya pusing. Dia bahkan berpindah ke sofa karena tidak bisa menghadapi suaminya. Bayangan buruk itu terus menghantuinya.
Frani tersenyum kecut, "Tidak apa-apa, Mas."
Mas? Frani jijik mendapati dirinya memanggil Gani begitu.
"Istirahatlah kalau capek."
"Kalau begitu, uang untuk promil besok uang kamu ya, Mas? Selama ini kan aku jarang minta uang sama kamu."
Wajah manis Gani tiba-tiba berubah, "Maksudnya sekarang kamu perhitungan?"
"Bukan, Mas. Uang laundry sudah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan juga kebutuhan ibu bapak kamu. Belum lagi mesin cuci yang rusak kemarin. Gaji karyawan dan beli makanan mereka. Aku tidak pernah minta uang sama kamu meskipun aku kekurangan dana, Mas. Promil yang sudah-sudah juga uang laundry. Untuk besok aku hanya minta kamu buat nalangi dulu. Kalau aku ada lebihan, aku ganti," jelas Frani panjang lebar. Dia membutakan mata hatinya karena demi apapun dia ingin punya anak. Apalagi tekanan dari keluarga Gani yang seolah-olah dirinya tidak bisa memberikan keturunan.
Ada sebab kenapa pasangan suami istri belum diberi keturunan. Antara si istri yang bermasalah atau suami. Keduanya turut andil. Tapi kebanyakan yang disalahkan adalah istri karena sebagai tempat menerima suami.
Jika saja orangtua Frani masih ada, dia bisa berkeluh kesah. Dia hanya sebatang kara di dunia ini. Tapi dia bukan menumpang hidup dengan suaminya. Dia bisa berjuang sendiri. Dengan tangannya yang rapuh, dia berhasil menghidupi dua keluarga.
Salahkah dia meminta uang dari suaminya yang sekarang sudah beralih profesi sebagai ojek online?
Gani tampaknya tidak terima, "Kamu seperti tidak tahu diri. Kamu tahu kan rumah ini hasil kerja keras siapa? Orangtuaku, Frani. Belum lagi bayar cicilan rumah yang menggunung. Jangan lupa motor juga. Semuanya dari aku dan keluargaku. Kamu hanya diminta membantu sedikit karena keuangan kami sedang down. Tapi seolah-olah kamu harus menanggung beban berat."
Tentu saja berat!
Satu tulang punggung harus membagi waktu untuk semua kebahagiaan keluarga. Padahal untuk program hamil dibutuhkan ketenangan pikiran dan juga tidak boleh terlalu lelah.
Selalu itu saja yang dielukan oleh suaminya. Bayar cicilan rumah yang hanya dua tahun, lalu motor yang tidak pernah dia pakai sama sekali. Tapi dirinya? Lima tahun harus berjuang untuk membuat perut tetap terisi. Lalu gunanya suami apa?
"Mas, yang aku bicarakan di sini bukan keluarga kamu, tapi kamu. Aku minta uang sama kamu. Apa salah?" tanya Frani kesal.
Frani hanya minta keringanan. Ditengah pikirannya yang berkecamuk antara perselingkuhan suaminya dan program kehamilan, dia ingin suaminya mengambil alih.
Watak Gani keras meskipun tekadnya kuat. Sebelum menikah itulah yang dinilai dari seorang Gani dari pandangan Frani. Frani mencintai Gani dari sisi itu karena dulu bapaknya tidak pernah bisa tegas jika ada masalah. Ibunya yang sering terkena imbasnya. Jadi bisa dibilang Frani menilai seseorang yang bertolak belakang dari orangtuanya.
Tapi semakin ke sini, watak kerasnya tidak bisa dikendalikan.
"Aku belum punya uang."
Singkat, padat dan teramat jelas.
Frani menghela napas lelah. Dia menaruh sendoknya ke atas piring, menyudahi sarapan yang tidak berguna. "Ya sudah, Mas. Kalau ada uang kita lakukan sesuai jadwal dokter, tapi kalau tidak ada kita undur saja."
"Kamu kenapa bisa berpikir seperti itu? Kamu tidak mau punya anak?"
"Siapa yang tidak mau punya anak?" Tiba-tiba suara wanita menginterupsi.
Frani sudah menduga jika mertuanya pasti akan datang disaat mereka sedang makan.
Sarah, wanita yang terbilang masih muda karena belum menginjak usia setengah abad, duduk di kursi samping Gani. "Pagi-pagi sudah membahas masalah itu."
"Ini, Bu. Frani mau menunda progam hamil. Pagi-pagi sudah bahas uang dan uang. Dia mengungkit masalah ibu dan bapak makan di sini. Padahal rumah ini juga rumah kalian kan?" ucap Gani, cari muka.
Keluarganya tinggal di sebelah rumah mereka. Lebih tepatnya satu rumah namun dibagi dua dengan alasan penghematan budget. Biaya listrik hanya Frani yang membayarnya. Mereka mau membayar hanya satu dua bulan saja selebihnya lepas tangan.
Sarah menoleh sengit, "Oh, sudah mulai berhitung? Benar saja. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk seseorang menerima kebaikan orang lain. Kalau kamu jadi ibu, kamu pasti malu. Punya menantu tapi belum juga punya anak. Ibu dikatai menantu ibu mandul. Kalau kamu apa bisa terima? Kalau ibu jadi Gani, mending cari istri kedua yang bisa memberikan anak. Untuk apa lama-lama bertahan dengan satu wanita? Sudah tidak bisa menghargai suami dan jerih payah mertua, masih tidak mau berusaha program hamil. Maunya apa coba?"
Dengan santainya Sarah mengambil nasi dan lauk di hadapan Frani. Manusia macam apa wanita itu? Menghina menantu sendiri dan mendukung anaknya menikah lagi. Dilihatnya Gani tampak tersenyum simpul menanggapi ucapan ibunya.
Frani terjepit. Napasnya terasa menyiksa dirinya. Dia ingin menyumpahi mertuanya karena berpikir seperti itu. Bahwa apa yang diinginkan akan segera terkabul. Tapi Frani belum punya bukti apapun agar dia tidak lagi disudutkan.
"Kamu harusnya bersyukur karena Gani masih mau menerima kamu. Kalau orang lain pasti sudah diceraikan. Jangan merasa paling benar. Ibu bicara begini demi kebaikan kalian," ucap Sarah kembali. Mulutnya sudah penuh makanan tapi dia sibuk berkomentar.
Frani rasa dia tidak akan sanggup membela apapun. Dia harus menemui Celia, dia ingin tahu apa yang suaminya janjikan padanya sampai dia bisa menghalalkan segala cara. Wanita itu bangkit, "Aku ke toko dulu, Mas, Bu."
Sarah melengos ketika Frani mengulurkan tangannya, "Kerja yang benar. Jangan main-main!"
Luka hati yang tidak pernah bisa sembuh hanya dalam beberapa hari, kemungkinan besar akan semakin bertumbuh.
"Hari ini kamu mau mampir ke toko, Mas?" tanya Frani memastikan.
"Tidak. Untuk apa ke sana? Selama ini aku kan kerja lembur, tidak ada kesempatan untuk menjemput kamu. Atau kamu mau dijemput?"
Frani lagi-lagi menelan pil pahitnya, "Tidak perlu, Mas."
'Percuma karena yang kamu tuju juga bukan aku' batin Frani.
***
"Celia sudah datang?" tanya Frani pada Leni yang bersiap untuk membuka toko.
Leni menggeleng, "Katanya libur hari ini, Bu. Ada kepentingan pribadi. Dia belum bilang pada ibu ya?"
"Belum," ucap Frani perlahan. Pikirannya berkelana kemana-mana. Mungkinkah Gani dan Celia bertemu di tempat lain? Apa mereka belum puas dengan semalam?
Leni menatap Frani dengan ragu-ragu. Dia seperti ingin bicara tapi takut salah bicara. Frani tidak bisa melihat ekspresi kebingungan dari wajah karyawannya itu karena dia sibuk mendata ulang barang yang masuk pagi ini.
"Kalian boleh saya tahu, apa Celia punya pacar? Usianya sudah hampir dua puluh tiga tahun, pasti punya seseorang yang dia suka," ucap Frani. Sebagai bos dia hanya ingin tahu, tidak lebih. Itulah yang ingin dia perlihatkan pada Leni.
"Ada, Bu. Kekasih gelap, sudah beristri. Hubungan mereka terlarang, Bu."
Deg!
Frani seakan digiring untuk melihat ke arah sana. Apa jangan-jangan yang dimaksud adalah suaminya?
"Sudah berapa lama mereka berhubungan? Apa tidak takut karma?" Suara Frani terdengar bergetar, tapi dia takut Leni menyadarinya. Wanita itu mencengkeram ujung bajunya sendiri karena tidak kuasa menahan diri.
"Tidak, Bu. Saya pernah bicara padanya tentang karma tapi dia malah tertawa. Makanya dia berani menjalin hubungan hampir satu tahun. Kalau saya jadi dia, saya tidak akan pernah main-main dengan yang namanya suami orang. Ibu hati-hati saja. Takutnya dia juga melakukan hal yang sama pada Pak Gani." Leni menatap Frani dengan cara yang berbeda.
Frani menekan dadanya yang terasa sakit. Selama itu mereka berhubungan di belakangnya tapi dia tidak pernah menyadarinya? Kenapa bisa? Apa yang Frani lakukan selama ini sampai tidak tahu apapun?
Bodoh kamu, Frani! Manusia brengsek yang bermain dengan dua wanita tidak akan pernah mau punya anak.
'Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?'
***
"Hilang? Cari lagi, Len. Tidak mungkin bisa hilang kan kita berdua yang ada di sini," tukas Frani panik. Ada satu pelanggan yang sangat mewanti-wanti baju mahalnya agar tidak rusak saat dicuci. Tapi sekarang malah hilang.
Leni mengobrak-abrik isi ruangan tempat penyimpanan cucian yang telah kering untuk melalui proses penyetrikaan, dengan perasaan bersalah. Dia ingat kemarin dia yang mencucinya dan Celia yang melakukan tugas akhir.
"Coba saya tanya sama Celia dulu, Bu. Soalnya kemarin kan dia yang mempacking barang," ucap Leni pada Frani. Dia berjalan meja nakas yang memiliki lima laci sebagai tempat penyimpanan barang-barang karyawan.
Leni mengeluarkan ponselnya dari dalam sana dan segera menghubungi Celia. Namun percobaan hingga tiga kali tidak ada jawaban dari wanita itu. Leni menatap lesu pada Frani, "Tidak dijawab, Bu."
Frani memiliki firasat buruk. Kenapa disaat dia mencurigai wanita itu, timbul lagi masalah lain. Frani yakin dia juga melihat pakaian itu dicuci oleh Leni dan dia sendiri yang meminta Celia untuk mempackingnya. Lalu dia pulang. Saat dia kembali, Celia telah sibuk dengan kegiatannya.
Frani mendesah berat. Dia hanya perlu mengganti harga baju tersebut jika si pemilik datang. "Sudah tidak apa-apa, Len. Nanti kalau orangnya datang, biar saya yang bicara."
"Tapi saya merasa bersalah, Bu. Saya yang mencucinya kemarin. Harusnya saya yang bertanggungjawab. Potong saja gaji saya, Bu, bulan ini. Dari pada Ibu rugi." Leni terlihat ketakutan. Memang baru sekali ini mereka kehilangan barang laundry, tapi Frani tidak perlu sampai harus memotong gaji karyawannya.
Dengan senyum lembutnya, Frani menolak usulan Leni, "Saya pemilik laundry ini, Leni. Biar saya yang bertanggungjawab."
"Apa mungkin Celia mengambilnya, Bu? Baju itu kan mahal, dia bisa saja tergoda untuk memakainya."
"Kita tidak punya bukti untuk menuduh Celia."
"Tapi saya lihat dia kemarin sempat mengepaskan baju itu pada tubuhnya. Lalu saya goda dia, barulah dia mengembalikannya ke dalam keranjang kotor," jelas Leni.
Ingin sekali Frani mempercayai ucapan Leni tapi dia tidak bisa. Tanpa bukti dia tidak akan mengatakan apapun.
"Jika benar itu terjadi, saya rasa Celia akan datang untuk mengembalikannya. Kita tunggu saja dia beriktikad baik."
Leni mengangguk pelan. Tersirat kekesalan pada matanya.
***
Bencana datang. Wanita pemilik baju yang hilang itu datang untuk mengambilnya. Leni yang berada di depan, terlalu takut untuk menjawab. Dia hanya diam dan mendapat makian dari wanita yang usianya jauh di atasnya. Kisaran tiga puluh lima tahun namun terlihat lebih muda dari usianya.
Frani mendatangi mereka setelah mendengar ribut-ribut di depan. Dia berlari ketika melihat wanita pemilik baju hendak memukul Leni. Dengan tameng wajahnya, Frani berhasil menghalau pukulan itu.
Leni terpekik dan segera memeriksa keadaan Frani, "Ibu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Len. Kamu pergilah ke belakang, saya yang akan bicara," ucap Frani sambil menahan perih di wajahnya. Dia masih bisa bersabar jika menyangkut hal seperti ini.
"Tapi, Bu," elak Leni. Siapa yang tahu wanita itu akan berbuat lebih buruk lagi pada Frani.
Frani mengangguk cepat, setengah memaksa untuk mengusir Leni. Begitu Leni pergi, dia menjelaskan bahwa semua salah dirinya. "Saya akan mengganti rugi baju anda, Bu."
Wanita dengan pakaian serba mewah, terlihat dari gemerlap rumbainya, menolak pergantian uang. "Memangnya kamu pikir saya tidak mampu beli yang baru? Heh, Bu Frani, saya sudah berlangganan di laundry ini beberapa kali tapi ini benar-benar mengecewakan saya. Ibu tahu harga baju itu lima juta, import dari Malaysia. Ibu bis beli yang sama persis seperti itu?"
Lima juta? Frani tercekat. Uang itu terlalu banyak untuknya. Jika sudah terkumpul pun lebih baik digunakan untuk program hamil. Ini untuk beli baju? Ingin rasanya Frani berteriak bahwa tidak semua orang bisa beli baju semahal itu.
"Maafkan saya, Bu. Saya akan bertanggungjawab. Tapi berikan saya waktu," ucap Frani.
"Tidak perlu. Cukup saya tahu saja bahwa laundry ini tidak bertanggung jawab. Saya akan sebarkan pada semua orang bahwa laundry kamu tidak bagus. Biarkan semua langganan kalian pergi."
"Tolong, Bu, jangan menyebarkan hal yang tidak baik."
Plak!!
Pukulan yang terasa menyakitkan itu membuat Frani tidak bisa lagi berkata apa-apa.
Wanita itu melengos tajam dan pergi. Aura kesalnya masih bisa terasa meskipun wajahnya tidak lagi terlihat. Frani mendesah berat, kepalanya pusing. Dia memutuskan untuk menutup laundry-nya sementara. Dia ingin mengistirahatkan kepalanya.
***
Ternyata keinginan Frani untuk beristirahat sejenak tidak bisa dilakukan karena Sarah tiba-tiba datang ke rumahnya meminta uang untuk membayar kurir.
"Ibu baru saja beli baju baru. Tapi uang itu tidak ada yang kecil. Tolong kamu bayar dulu kurirnya. Dia menunggu di depan," ucap Sarah dengan santainya.
"Berapa, Bu?"
"Lima ratus ribu."
Oh Tuhan. Uang sebanyak itu harusnya bisa dia gunakan untuk mengganti pakaian pelanggan yang telah hilang. Tapi justru Frani harus membeli barang yang tidak berguna. Dengan rasa dongkol yang luar biasa, wanita itu berjalan keluar, mengambil paket yang belum terbayarkan. Setelah itu dia membawanya kembali masuk dan menyerahkannya pada Sarah.
Tidak cukup sampai di sana karena Sarah meminta uang lagi untuk biaya berobatnya.
"Besok Ibu harus kontrol ke rumah sakit. Sakit lambung ibu kumat. Sekalian kamu juga bayar ongkos taksinya. Tidak perlu kamu antar karena Ibu bisa pergi sendiri. Satu lagi, Frani. Jangan lupa masak ayam! Ibu bosan kalau kamu masak tempe setiap hari." Tanpa perasaan ibu mertua Frani melenggang pergi setelah mengatakannya.
Frani ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar. Wanita itu menekan kepalanya, membuang semua pemikiran yang menggerogotinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin mengatakan bahwa dirinya bukanlah boneka yang harus mencukupi semua kebutuhan. Untuk apa gunanya suami, kalau pria itu hanya bisa menumpang hidup darinya.
Frani berbaring di atas tempat tidur yang tidak lagi bisa menaungi kesedihannya. Dia mencoba untuk terlelap, namun pada akhirnya terbangun.
Suara yang beberapa hari lalu pernah dia dengar, kini kembali mengusiknya. Perlahan langkahnya menyusuri orang menuju kamar yang tidak terpakai di belakang sana. Wanita itu berjinjit, agar tidak menimbulkan suara. Satu hal yang dia lupa, dia tidak membawa benda pintar miliknya untuk dijadikan barang bukti. Emosinya terlanjur meluap dan ingin segera tersalurkan.
Sampai ketika dirinya berada di ambang pintu yang setengah terbuka, matanya menangkap pemandangan yang tidak lagi asing. Seperti dejavu, Frani memergoki suaminya sedang beradu keringat dengan wanita yang dia kenal.
"Terasa lebih menggugah, Cel. Istriku tidak lagi bisa aku andalkan dalam hal memuaskan!"
"Kalau begitu, nikahi aku, Mas. Aku akan membuat kamu lebih bahagia setiap harinya. Aku bersedia jadi istri kedua!"
Deg!
Retak sudah apa yang sudah dia jaga selama ini. Frani menggenggam tangannya sekuat tenaga. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia tidak peduli lagi dengan pernikahan yang harus dia jaga dan kehamilan yang sangat dia nantikan itu.
Dengan sentakan yang keras, Frani mendobrak pintu hingga terdengar bunyi benturan. Dua orang yang sibuk dengan kegiatannya, menoleh pada Frani. Di luar juga mereka tidak merasa bersalah sama sekali tapi malah menatap Frani dengan pandangan seakan mengejek.
"Oh, Kamu sudah bangun? Kita baru bermain sebentar tapi kamu sudah mengganggu," tukas Gani yang tanpa perasaan ataupun permintaan maaf pada istrinya.
Lidah Frani tercekat. Manik matanya berkaca-kaca.
"Jahat kamu, Mas!"
Celia menyeringai pada Frani, "Tidak ada yang salah dengan kami, Mbak. Kamu saja yang tidak bisa melakukan yang terbaik untuk suami kamu. Harusnya kamu berterima kasih sama aku karena aku yang berhasil menaklukkan suami kamu daripada wanita yang tidak baik di luar sana. Siap-siap saja berbagi suami denganku, Mbak. Aku juga lelah harus main petak umpet dengan kamu, Mbak. Ya kan, Mas?" Dengan manja, Celia memeluk pria yang bukan menjadi suami sahnya itu.
"Dasar wanita tidak tahu terima kasih! Ambil saja suami tidak tahu diri itu! Dan untuk kamu, Mas, ceraikan aku!"
***