SAAHH!!!
Sepasang manusia yang tengah duduk di atas mimbar sana secara kompak tersenyum bahagia karena mereka telah mendapatkan status baru, status yang resmi yaitu sebagai suami istri. Kelopak bunga mawar berwarna warni kini berjatuhan di atas kepala mereka, mirip sekali dengan prosesi acara pernikahan antara Fahri dan Aisyah dalam film layar lebar berjudul ‘Ayat-Ayat Cinta’.
Kebahagiaan sang mempelai pengantin, nampaknya menular pada semua tamu undangan yang menghadiri prosesi sakral tersebut, terkecuali pada satu orang, seorang pria yang tengah duduk menyendiri memperhatikan kebahagiaan temannya di depan sana. Pria tersebut adalah Keyyan Munir, pria beristri yang memilih mendatangi pernikahan temannya seorang diri.
Beberapa bulan yang lalu, pria yang berparas tampan itu pun pernah mengucapkan lafaz kabul tanpa harus mengulang. Kala itu, itu ia mengucapkan syukur tak terkira karena pada akhirnya kembali melepaskan status dudanya setelah ia pernah dua kali menikah.
Proses perkenalan antara Keyyan dengan istrinya yang tidak melebihi satu tahun, sudah membuat mantap pria yang kerap dipanggil ’Key’ itu untuk meminang seorang gadis yang bernama lengkap, Shabilal Haq dengan panggilan ‘Shabby’- gadis berhijab dengan bibir berwarna merah muda, berkulit putih serta beralis tebal.
Bagi Keyyan, Shabby merupakan gadis imut karena ukuran tubuhnya yang hanya sebatas dadanya. Apalagi saat wanita itu mendapat pujian, pipinya akan langsung memerah. Hal yang tak pernah disangka adalah keduanya seumuran dan pernah kuliah di perguruan tinggi yang sama.
Nilai plus dari seorang Shabby adalah ia sama sekali belum pernah berpacaran beda jauh dengan Keyyan, si petualang wanita yang dua kali mengalami kegagalan dlaam berumah tangga. Meskipun Keyyan bisa disebut laki-laki br*ngsek, namun sebenarnya, ia tidak ingin menikah dengan wanita ‘bekas’ juga ‘murahan’. Ia hanya ingin seorang istri dengan masa lalu yang baik, wanita yang mampu menjaga maruahnya dari laki-laki mana pun hingga nanti, ia yang akan menjadi laki-laki satu-satunya dalam hidup istrinya.
Acara pesta pernikahan antara Keyyan dengan Shabby, bisa dibilang cukup mewah meski sebenarnya mereka telah merencanakan untuk menggelar resepsi secara sederhana, mengingat biaya hidup setelah menikah justru lebih besar dan banyak. Mereka hanya tak ingin bergantung pada harta orang tua lagi. Cukup sudah pengorbanan mereka untuk anaknya. Terutama Keyyan, yang selama ini hidupnya masih juga ditopang ayahnya.
Keyyan begitu bahagia menjalani pernikahannya bersama Shabby, istri sholihah yang tidak hobi berbelanja ataupun ngerumpi dengan tetangga. Istrinya itu selalu tersenyum kala menyambutnya pulang bekerja tak lupa juga memijitnya jika dirinya menampilkan ekspresi lelah. Seorang istri yang begitu perhatian. Tapi kenyataannya, itu saja tak cukup untuk menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga. Keyyan butuh nafkah batin.
Keyyan tidak bisa menyentuh istrinya secara intim selama dua bulan pernikahan. Selama itu, laki-laki yang terbiasa bermain wanita itu harus menahan libidonya yang selalu muncul saat tidur seranjang dengan istrinya. sebuah kondisi yang terus menyiksa dirinya namun ia selalu diminta untuk bersabar karena suatu alasan yang ia coba untuk mengerti . Namun, alasan sebenarnya yang kini membuat batinnya merasakan kekecewaan yang mendalam, akhirnya terkuak tadi malam.
“Siapa laki-laki yang ada di foto ini?” Keyyan memperlihatkan sebuah foto laki-laki pada Shabby yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh Shabby menegang, semakin membuat Keyyan curiga akan sosok yang terpampang di foto yang masih ia pegang dengan erat. Gemuruh di dada laki-laki yang berhidung mancung itu pun semakin besar. Bahkan aroma vanilla yang tercium dari tubuh istrinya, aroma yang biasa digilainya itu, tak mampu untuk meredamkan api kecemburuan dalam hatinya.
“Sini Mas,” ucap Shabby tegas. Tangannya berusaha merebut foto itu dari sang suami. Membuat wanita bertubuh pendek itu harus berjinjit dengan susah payah.
“Kenapa? Ini selingkuhanmu?” tanya Keyyan dengan nada suara yang tajam.
“Bukan.” Shabby menjawab dengan tegas sembari menggeleng.
“Bohong! Jawab dengan JUJUR!” Keyyan kini membentak istrinya untuk yang pertama kali. Seketika badan Shabby meluruh, kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tidak lama setelah itu, terdengar suara tangis dari mulut wanita yang tubuhnya masih dililit handuk, membuat Keyyan justru semakin gundah dan yakin akan suatu hal.
“Ap-apakah kalau ak-aku ju-jur, M-mas ak-kan mem-ben-ciku…” Shabby berucap di sela-sela tangisnya masih dengan mukanya yang ia tutup rapat.
“Jujurlah! Kamu … sedang menyembunyikan apa dariku, hah?!” bentak Keyyan dengan dadanya yang naik turun karena amarah, namun sebelanrnya pria itu lebih takut akan fakta yang harus ia dengar dari mulut istrinya.
“Berjanjilah dulu, jika Mas tidak akan membenciku. Aku cukup malu akan hal itu….” Tangis Shabby sudah mulai mereda, namun perasaan takut Keyyan malah semakin besar.
“Tergantung ….” Keyyan menjawab dengan tak yakin.
“Baik, terserah Mas saja. Setelah aku jujur….aku harap Mas tidak akan membenciku, mesti nantinya itu akan terasa sulit.”
Keyyan melihat Shabby mengambil foto bocah laki-laki berkumis dari tangannya.
“Ini … adalah … diriku … yang dulu, Mas,” ucap Shabby ragu-ragu dengan gemuruh yang tercipta dalam dadanya.
“Maksudmu?” Keyyan mengernyitkan dahinya, mencoba untuk mencerna kalimat yang diucapkan istrinya barusan.
“Mas, aku pernah menjadi seorang laki-laki. Apakah Mas masih ingat dengan anak kecil yang pernah Mas tabrak di area persawahan di desa ini?”
Pikiran Keyyan mulai berselancar pada ingatannya yang dulu saat pernah diajak berlibur ke rumah neneknya.
“Jadi, kamu….” Keyyan menatap Shabby begitu lekat mencoba menyamakan kembali dirinya dengan wajah laki-laki di dalam foto. Semakin lama, ada kemiripan dengan wajah wanita yang ada di depannya.
“Aku pernah menjadi laki-laki dengan nama Ibnu Ahmad,“ imbuh Shabby.
Puk!
Seorang wanita dengan lipstik merah menyala yang menghiasi bibirnya, tengah duduk di samping Keyyan tersenyum. “Minum dulu, Bang. Jangan ngelamun aja.” Wanita yang tadi menepuk bahu Keyyan itu memberikan segelas air mineral kepadanya.
Keyyan mengamati wajah wanita di sampingnya itu. Wajah seseorang yang dulu pernah menghabiskan waktu bersama dengannya dalam ikatan halal. Wanita yang mencintainya dan menghallakan segala cara untuk memilikinya. Lalu, tanpa membuang waktu, Keyyan mengambil sodoran gelas di depannya dan langsung meneguknya sampai habis, membuat wanita yang menawarkan air minum itu tersenyum smirk. “Gue habis keinget sama seseorang,” ucap Keyyan yang netranya kembali ditujukan pada sepasang manusia di depan sana yang sudah sah menjadi suami istri.
“Oh, iya, anak kita udah segede apa?” Keyyan kini menatap wajah wanita di sampingnya, yang merupakan mantan istri dari pernikahannya yang kedua.
Wanita yang ditanyai Keyyan tersenyum, “Udah banyak bicara. Arsyila mirip kamu, Bang.” Keyyan mengangguk. Laki-laki itu sudah lupa bagaimana wajah anaknya karena terakhir kali ia lihat saat masih bayi.
“Lo nggak datang sama suami?” Keyyan melihat mantan istrinya hanya datang sendirian. Istri dari sepupunya ternyata adalah teman kuliah mantan istrinya, yang akhirnya membuat Keyyan kembali bertemu dengan wanita yang sempat membuatnya jadi buronan polisi itu. Mantan istrinya itu hanya menggeleng. “Bang, bisa anterin Franda ke toilet? Franda takut kesasar.”
Keyyan berpikir sebentar namun tak lama ia menganggukkan kepala. “Ayo.”
Sebenarnya perpisahan antara Keyyan dan Franda tak begitu baik, Namun Keyyan sudah berdamai akan hal itu. Ia tidak ingin menyimpan rasa kebencian pada mantan istrinya berkat nasihat yang diberikan Shabby istrinya. Keyyan sempat menceritakan sejarah bagaimana ia kembali menjadi duda setelah pernikahannya yang pertama gagal.
Franda, sang mantan istri, dalam hati bersorak senang. Wanita itu begitu rindu dengan mantan suaminya yang sekarang terlihat semakin tampan, juga berkelas terlihat dari cara berpakaiannya yang elegan. Ia ingin kembali merasakan penyatuan raga dengan mantan suaminya bahkan suaminya yang sekarang pun tak sanggup mengimbanginya di atas ranjang. Bagaimanapun juga obat per*ngsang yang sempat ia bubuhkan pada minuman mantan suaminya tadi sudah jelas akan membantunya.
***
Shabby masih termenung di kamarnya semenjak tadi pagi ia mendapati sang suami mengabaikannya. Sarapan yang biasanya ia siapkan di meja makan dan selalu dilahap habis tanpa sisa oleh suaminya, hari ini masih utuh. Jangankan di makan, dilirik pun tidak. Jika boleh jujur, perempuan yang memakai jilbab instan warna milo itu merasa terpukul atas sikap acuh suaminya –berbanding 360 derajat dibandingkan hari-hari biasanya di mana suaminya itu begitu sangat menghargainya.
Shabby kembali menitikkan air mata. Memang benar, ia yang sudah salah. Tidak mau berterus terang di awal Keyyan meminangnya. Apalagi sebelumnya, ia bersama sang ibu dengan kompak, harus menciptakan kebohongan demi menutupi ketidaksempurnaannya. Shabby sendiri yang merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya pernah menjadi laki-laki karena saat keluar dari rahim sang ibu, ia memiliki organ intim yang tidak sempurna. Jika diibaratkan dengan hewan ia seperti hermaprodit. Ya, Shabby lahir dengan k*lamin ganda. Ia memiliki organ intim laki-laki juga perempuan.
Sebenarnya, seminggu lagi, wanita yang belum juga melepaskan keperawanannya itu akan melakukan operasi penyempurnaan organ intimnya agar menjadi wanita seutuhnya. Sayangnya, foto yang tidak sengaja terselip di antara pakaiannya justru tak sengaja ditemukan oleh sang suami, membuat ketakutan yang selama ini bersemayam di hati wanita yang memakai gamis kotak-kotak warna baby pink itu akhirnya menjadi kenyataan.
Shabby merasa takut menghadapi kenyataan yang memungkinkan sang suami sebentar lagi akan memilih mundur dari ikatan pernikahan yang belum lama berlangsung di antara mereka. Suaminya itu, bukan tidak mungkin melayangkan gugatan cerai kepadanya. Kemungkinan terbesar yang terus membuat hati Shabby merasa sakit.
“Ya Allah, beri hamba kesabaran, kekuatan , dan kelapangan hati,” ucap Shabby semabri menitihkan air mata.
***
“Franda?” Keyyan berusaha mencekal pergerakan tangan mantan istrinya yang semakin liar menjelajahi wajahnya. Tubuhnya mendadak merasakan panas luar biasa bukan panas karena terbakar api, tapi seperti ada gairah s*ksual yang menggebu-gebu pada dirinya.
“Abang keringetnya banyak ih. Aku cuman bantu ngusapin aja.” Tangan Franda terus bergerak aktif, menjamah seluruh bagian tubuh mantan suaminya itu dengan sensual.
Tidak! Keyyan sudah merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya dan menjadi hal yang sangat berbahaya berada di situasi yang sekarang. Berdua bersama seorang wanita yang tidak halal baginya. Jika kini diirnya tengah memainkan sebuah film, maka akan ada tulisan ‘warning’ besar di sana.
“Jangan, Frandaahh!” Keyyan sudah sedikit menggeram lantaran rasa panas yang semakin menguat . Bulir-bulir keringat mulai membasahi kening pria tampan yang memakai jas warna hitam tersebut.
“Aku bantu lepas jasnya, ya.” Franda dengan cepat emlucuti ajs yang dipakai Keyyan, llau melemparnya begitu saja-menghantam dinding dan jatuh teronggok di atas lantai.
Keyyan mencekal tangan mantan istrinya dengan segera. Ada gairah dalam dirinya meletup-letup, ingin segera tersalurkan. Gairah di mana ia sering mengajak para wanita berolahraga di atas ranjang dan ia merasa gairah itu datang di waktu yang tak tepat karena yang di depannya sekarang bukan istrinya.
“Abang kenapa ih, kok mukanya malah jadi merah gini?” Franda melepaskan cekalan Keyyan dan kembali menyentuh kedua pipi mantan suaminya itu dengan lembut. Ibu satu anak tersebut yakin obat penaik libido yang sudah masuk ke dalam kerongkongan mantan suaminya itu kini bereaksi.
“Guehh mau keluarhh,” Keyyan menepis segala sentuhan yang diberikan Franda. Ia berjalan mendekati pintu keluar toilet.
“Bang, tunggu!” Secepat kilat, Franda melabuhkan bibirnya pada bibir Keyyan. Mengecupnya dan melumatnya seintens mungkin. Keyyan tentu saja mencoba memberontak, namun Franda yang sekarang adalah wnaita berpengalaman. Ia sudah mahir dalam hal menyentuh titik-titik sensitif di tubuh mantan suaminya itu.
Sisi kewarasan Keyyan perlahan mulai terkikis, terkalahkan dengan libidonya yang semakin naik karena sentuhan Franda. Laki-laki yang sudah mengabaikan istrinya sejak tadi pagi itu, kini mulai terbuai dengan ciuman maut sang mantan istri, terbukti dari pergerakan bibir yang mulai ia dominasi. Perlahan tapi pasti keduanya mulai menanggalkan pakaian bagian bawah masing-masing demi memenuhi hasrat keduanya yang mulai memuncak hingga pertemuan dua raga itu pun bertemu dan menyatu begitu liar di dalam toilet wanita yang sudah dikunci dari dalam.
***
Keyyan membasuh mukanya berkali-kali setelah sebuah tamparan ia layangkan pada wajah Franda, wanita yang beberapa menit yang lalu menjebaknya dalam lautan gairah sehingga membuat mereka bercinta berkali-kali lalu setelah itu, ia tinggalkan begitu saja di dalam bilik sebelah. Wanita yang tanpa malu mengatakan bahwa ia memang sengaja menjebak dirinya.
“S*alan!” Keyyan terus menerus mengumpati dirinya yang terlau lemah hingga menerima begitu saja keinginan wanita licik yang tak sengaja ditemuinya dalam resepsi pernikahan temannya ini.
Keyyan kini tengah berada di toilet khusus pria, memandangi wajahnya yang terpantul dari cermin di depannya. Ingatannya kembali pada masa di mana ia menjalin hubungan tidak sehat dengan mantan istri pertamanya, Mischa. Menikah karena hamil duluan.
“Lo ngeluarin di dalam lagi, Key,” seru Mischa yang masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh seksinya.
“Gue nggak sadar!” jawab Keyyan, pria yang memiliki perut sixpack itu seakan tak peduli. Ia kemudian bangkit, mengambil gawai yang ia letakkan di atas nakas, sebelah kanan sisi ranjang, lalu kembali duduk di atas ranjang tanpa menutupi tubuh kekarnya.
“Kalau gue sampek kebobolan, elo harus tanggung jawab!” ancam Mischa dengan nada suara setengah menjerit.
“Dan kalau elo masih nggak pake baju, gue bisa nerkam elo lagi, Lau!” Keyyan tersenyum smirk ke arah wanita yang bernama Mischa itu. Wanita bermata sipit dan memiliki bibir yang tipis itu merotasikan matanya kemudian tanpa malu turun dari ranjang dan melenggang gemulai di hadapan Keyyan. Ia mengambil dan memakai pakaiannya yang sudah beberapa jam yang lalu berceceran di lantai.
Mereka sudah menjalin kasih selama hampir setahun. Tepatnya, saat Ino putus dari pacar pertamanya yang meninggalkannya karena menikah duluan. Apakah Keyyan saat itu sakit hati? Maka jawabannya adalah ‘Tidak’.
Keyyan tak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan kaum hawa. Ia hanya merasa ‘have fun’. Jika wanita yang ditemuinya itu bisa membuatnya nyaman dan garis bawahi bukan karena cinta, maka Keyyan ‘sudi’ menjadikannya kekasih. Kekasih yang hanya ia anggap untuk menyenangkan kebutuhan biologisnya. Sungguh miris! Sebuah status yang membuat Keyyan melakukan pergaulan bebas dengan sang kekasih.
“Nggak ada jawaban lain lagi apa? Selain kata gue nggak sadar?!” gerutu Mischa merasa kesal karena lagi-lagi ia mendapati jawaban yang sama dari mulut kekasihnya yang terbilang tampan itu.
“Elo marah?” Keyyan mengangkat sebelah alisnya ke arah Mischa.
Mischa dalam sekejap menggeleng. Bagaimanapun, di antara mantan-mantan pacarnya, Ino tergolong yang paling rupawan. Sialnya, di dalam lingkungan sosial tempat Mischa berada, mendapat pacar yang tampan bagaikan mendapat piala berbahan berlian.
Keyyan dengan santainya berjalan mendekati Mischa. Ia mendekatkan wajahnya membuat wajah sang kekasih merona. Sayangnya, kata-kata yang diucapkan Keyyan berikutnya, mampu mematahkan hatinya.
“Kalaupun nanti elo hamil, gugurin! Gue nggak mau direpotkan dengan makhluk yang bernama a.n.a.k!” tegas Keyyan yang menolak dnegan jelas kemungkinan buruk yang terjadi sebagai haisl dari perbuatan ‘bebas’ mereka.
Ya, pada akhirnya Keyyan benar-benar mendapatkan seorang anak perempuan dari Mischa yang membuat dirinya harus menikahi ibu dari putrinya itu. Pernikahan pertamanya di saat ia menjadi laki-laki pengangguran.
***
Cklek!
“Mau apa lagi elo, hah?” Keyyan berteriak tepat di saat ia keluar dari toilet yang langsung di sambut dengan hadirnya Franda di hadapannya. Sepertinya, mantan istrinya itu memang sengaja menunggunya meski sudah mendapatkan tamparan keras dari tangannya. Benar-benar wanita gila.
“Aku pengen rujuk sama kamu,” ungkap Franda to the point. Ia bersedekap dan memandang lurus ke arah Keyyan. Keyyan berdecih, sadar kalau sejak dulu Franda masih menjadi sosok wanita yang tergila-gila pada dirinya. “Arsyila butuh ayah kandungnya. Dan mungkin juga … benih kamu yang sekarang lagi berproses jadi calon adik Arsyila.” Dengan santai, Franda mendekatkan wajahnya ke arah laki-laki yang terdiam mematung di depannya. “Aku sedang masa subur.”
DEG!
Keyyan benci berita itu. Ia tak ingin lagi mengulang sejarah kelamnya. Menikahi wanita yang mengandung benihnya tanpa ada rasa cinta. Lagi pula, Keyyan terlanjur jatuh hati pada Shabby, istrinya yang sekarang, meskipun lagi-lagi ia harus diingatkan dengan sebuah fakta jika Shabby pernah menjadi laki-laki sebelumnya. Tapi di lubuk hatinya, ia tak ingin berpisah dengan istrinya yang sekarang.
“Ikut gue!” Keyyan menarik kasar lengan Franda. Ia membawa mantan istrinya itu masuk ke dalam mobil bermerk yang ia kendarai menuju pesta pernikahan sepupunya.
“Ya, tapi nggak usah tarik-tarik gini. Sakit tau, Bang,” oceh Franda yang tak digubris Keyyan. Sebelum waktu semakin bertambah, Keyyan ingin segera menggagalkan proses pembuahan yang mungkin tengah terjadi di rahim mantan istrinya itu.
“Pake seatbelt lo!” titah Keyyan saat dirinya tengah menempati kursi kemudi.
“Pakein, Bang. Tanganku masih sakit gara-gara kamu tarik tadi,” sahut Franda merajuk yang malah membuat Keyyan mendengus.
Keyyan dengan kesal mendekati Franda, menarik seatbelt, dan menguncinya. Tepat saat setbelt yag ditarik Keyyan berbunyi klik, justru bibirnya kembali disambar oleh Franda.
“Kurang ajar!” Keyyan mendorong bahu Franda kencang hingga punggung wanita itu menabrak kaca mobil di belakangnya.
“Aw!”
“Gue udah menikah lagi, Franda!” bentak Keyyan dengan lantang mengumumkan statusnya. Ia ingin mantan istrinya itu sadar diri bahwa dirinya tidak mungkin menuruti keinginan tidak masuk akalnya itu.
“Terus masalahnya apa? Bukankah saat Franda jadi istri Abang, Abang masih juga main sama wanita lain, kan?” seru Franda setengah menjerit.
“Ba-bagaimana lo____” Keyyan tak percaya bahwa kelakuan buruknya waktu itu ternyata diketahui oleh sang mantan istri.
“Tentu Franda tau! Bau parfum Franda jelas beda dengan yang dipakai selingkuhan Abang,” seru Franda dengan nada suara yang belum juga diturunkan.
Keyyan terpaku. Ingatannya kembali dipaksa mundur pada masa di mana ia merenggut kegadisan mantan istrinya itu setelah ia menjadi duda dari pernikahannya bersama Mischa
“Kamu haus kan? Buat minum gih! Buat Abang juga satu.”
“Oke, bentar ya, Bang.” Franda beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju ke dapur sembari mengikat rambut panjangnya hingga trelihat jelas leher putihnya yang tertangkap oleh indera penglihatan Keyyan. Tak membuang kesempatan, Keyyan perlahan-lahan mengikuti langkah Franda menuju dapur.
Franda tengah meracik dua teh manis yang ia letakkan pada nampan. Keyyan dengan sigap memeluk pinggang Franda dari belakang begitu erat.
“Bang?! Ngagetin deh!” seloroh Franda akan pergerakan tiba-tba Keyyan di belakangnya.
“Kamu ngangenin sih!” timpal Keyyan seraya menghembuskan napasnya mendekati leher jenjang Franda yang kemudian berubah menjadi kecupan-kecupan basah di area tersebut.
Franda mulai bergerak gelisah. Gerakannya meracik teh pun terhenti. Franda lalu meletakkan kedua tangannya di pinggir meja dapur. Dengan tak sabar, Keyyan pun menodai bibir gadis yang kini masuk dalam rengkuhannya setelah ia berhasil membalik badan Franda, menghadapnya. Nafsu terlarang akhirnya menyelimuti mereka berdua di dalam rumah yang hanya terisi oleh dua orang.
Tidak lama kemudian, kamar Keyyan menjadi sasaran mereka membaringkan badan dan memadu kasih. Untuk kedua kalinya, Keyyan mengeluarkan benihnya pada rahim seorang gadis yang belum menjadi pasangan halalnya.
“Bang!”
Lengkingan suara wnaita di sampingnya membuat Keyyan kembali disadarkan dari lamunannya.
“Kali ini gue nggak mau selingkuh!” Nada suara Keyyan terdengar bersungguh-sungguh.
“C’mon, Bang. Franda tau kok, Abang tadi menikmati____”
“Stop, Franda! Lo nggak usah terlalu percaya diri, nggak usah salah mengartikan perbuatan dosa yang kita lakukan tadi di toilet. Gue kayak gitu karena lo yang jebak gue pake obat p*rangsang!” potong Keyyan cepat. Pria berkulit putih itu mengepalkan kedua tangannya. Mata elangnya menyorot tajam Franda, yang membuat gadis itu menelan salivanya kasar. Franda merasa Keyyan memang sudah berubah.
Wajah ketakutan Franda berangsur-angsur normal lalu kini terganti dengan senyum yang terangkai di bibirnya.
“Abang pasti belum pernah berhubungan badan sama istri Abang yang sekarang kan?” tanya Franda menampilkan wajah penuh keyakinan.
“Bagaimana wanita ini bisa tahu?” batin Keyyan. “Nggak usah sok tau,” ucap Keyyan lalu menjalankan mobil yang sedari tadi belum juga bergerak.
“Yang keluar tadi kayaknya banyak banget, Bang,” celutuk Franda yang langsung bisa dicerna oleh Keyyan.
“Ehem, pokoknya kali ini lo harus mau minum pil pencegah kehamilan! Gue sampai kapan pun nggak mau punya anak dari rahim lo lagi! Gue mau punya anak yang sah dari istri gue. Anak yang lahir dari pernikahan sah gue,” tegas Keyyan dengan tatapan yang menyorot lurus ke depan.
“Gue mau, asal abang nikahin Franda secara siri lagi.” Franda berucap sembari menatap tajam ke arah Keyyan, yang membuat Keyyan menjambak rambutnya sendiri. Dalam hati, pria itu menyesalkan kenapa harus pergi ke resepsi pernikahan temannya seorang diri. Mengapa tadi pagi ia tidak mengajak Shabby saja pergi bersamanya.
Pyar!!
Foto pernikahan Keyyan dengan Shabby, tak sengaja jatuh tersenggol. Shabby mencoba meraihnya namun justru jari telunjuknya tak sengaja tergores beling kaca yang pecah.
“Astaghfirullah. Kenapa perasaan Shabby jadi nggak enak gini. Mas, kamu di mana sekarang?” Pagi tadi suaminya pergi begitu saja, tanpa berpamitan padanya. Melihat suaminya yang mengendarai mobil, meyakinkan wanita berpakaian gamis itu bahwa laki-laki yang beberapa bulan ini tidur seranjang dengannya pasti akan pergi jauh, karena laki-laki itu hanya akan mengendarai sepeda motornya jika pergi ke tempat-tempat yang tak terlalu jauh dari rumah.
Shabby beranjak mencari ponselnya, beling kaca foto yang belum ia bersihkan kini berhasil menggores telapak kakinya namun tidak ia hiraukan. Shabby pun segera melakukan panggilan keluar ke nomor ponsel suaminya.
Tut! Tut!
“Hallo? Saya istri Keyyan, ini dengan siapa ya?” Ponsel yang Shabby tempelkan ke telinganya jatuh begitu saja, seiring dengan buliran air mata yang membasahi pipinya setelah dengan jelas suara wanita yang menjawab panggilan telponnya.
“Siapa wanita yang tengah bersama suaminya itu?” batin Shabby meringis pilu.
***