Bab 1

"Mas, aku mau kamu menikah lagi!" pinta seorang wanita yang sedang terbaring di ranjang dengan wajah pucatnya.

Pria yang sedang memakai dasi seketika menoleh. Terlihat raut wajahnya tak senang saat mendengar ucapan wanita itu.

"Cukup Fatma! Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak akan menikah lagi!" tegas seorang pria yang bernama Satria.

Fatma bangun dari tidurnya, lalu dia menyandarkan tubuhnya di dipan ranjang dan menatap lekat pada pria yang sudah menemaninya selama 5 tahun itu.

"Mas, aku ingin melihatmu bahagia. Kamu tahu kan, jika aku tidak akan bisa memberikanmu seorang anak? Aku ini gak bisa hamil, Mas. Aku ikhlas jika kamu menikah lagi."

"Tidak. Sudahlah Fatma, aku malas membahas ini terus." Satria keluar dari kamar untuk menuju meja makan.

Dia menghela nafasnya dengan kasar. Tatapannya kosong dengan tangan yang sedang mengaduk-aduk kopi yang ada di gelas.

Sudah beberapa kali Fatma memintanya untuk mendua, tetapi selalu Satria tolak dengan tegas. Pikirannya menerawang ke 5 tahun silam, dimana ia menikahi Fatma karena perjodohan almarhum kedua orang tuanya.

"Mas," panggil Fatma yang sudah sampai di meja makan.

"Fatma, sudah cukup! Jangan memaksaku untuk mendua." Satria merasa jengah, sebab setiap hari Fatma selalu membahas tentang menikah lagi.

"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Hanya saja, kamu tahu kan jika aku sedang sakit dan kita tak mungkin mempunyai anak. Aku hanya ingin ada yang mengurus kamu sebelum aku tiada," tuturnya.

Satria bangkit dari duduknya dengan tatapan tajam ke arah Fatma. "Cukup ya! Kamu itu bukan Tuhan yang tau kapan kamu tiada. Ingat Fatma! Ucapan adalah do'a. Sudahlah, aku mau ke cafe dulu."

Tanpa mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Fatma, Satria pergi begitu saja. Dia meninggalkan sang istri yang tengah menangis.

"Maafkan aku, Mas. Maaf jika aku memaksamu. Tapi ini untuk kebahagiaanmu," lirihnya.

Dia meremas dadanya yag terasa sakit. Bukan Fatma rela mengizinkan Satria menikah lagi, akan tetapi penyakitnya yang semakin hari semakin parah, membuat Fatma tak memiliki pilihan lain.

Fatma hanya ingin melihat Satria ada yang mengurus saat ia sudah tak ada di dunia ini lagi. Namun, di balik itu semua ada hal penting yang menjadi dorongan bagi Fatma untuk mengizinkan Satria mendua. Sebab ia tahu, jika selama ini Satria tak pernah mencintainya.

"Mas, maaf jika aku harus melakukan ini." Fatma menuju kamar lalu menelpon Uminya.

"Hallo assalamualaikum, umi," ucap Fatma saat telepon teraambung.

"Waalaikumussalam."

"Umi, apa umi dan abi sudah dapatkan calon untuk mas Satria?"

"Iya nak, kami sudah mendapatkan wanita itu. Dan umi pastikan ia gadis baik-baik. Besok umi dan abi akan ke rumah untuk berbicara sama kamu dan Satria."

Setelah berbicara dengan uminya, Fatma menutup teleponnya. Dia kembali termenung sambil menatap foto pernikahannya bersama dengan Satria.

Air mata kembali mengalir deras saat mengingat 5 tahun perjalanan rumah tangga mereka berdua. Fatma memang sadar, selama ini sikap baik Satria padanya bukan dasar cinta, namun hanya sekedar menghargai dia sebagai istri.

"Aku berharap, wanita itu tidak pernah sakit, seperti aku saat ini." Dia menghapus air matanya lalu mengambil obat yang ada di laci kamar.

"Aawwh! Sssh!" ringis Fatma saat merasakan perutnya kembali sakit.

.......................

Malam ini Satria pulang lebih lambat, karena ia sengaja sebab malas berdebat dengan Fatma yang ujung-ujungnya akan membahas soal pernikahan lagi.

"Assalamualaikum," ucap Satria saat masuk kedalam kamar.

"Waalaikumusalam," jawab Fatma sambil mencium tangan Satria. "Mas, tumben kamu pulang telat?" tanyanya sambil membuka jas Satria.

"Iya, cafe lagi rame," bohong Satria, kemudian dia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai, Satria langsung menuju tempat pembaringan karena badannya terlalu lelah. Bukan hanya lelah tubuh saja, tapi pikiran juga.

"Mas, kamu gak mau makan dulu?" Fatma mengkhawatirkan kesehatan suaminya.

"Aku sudah makan, dan aku sangat lelah," jawabnya dan langsung memejamkan mata.

Fatma yang mendengar itu pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberitahu Satria jika besok kedua orang tuanya akan datang ke sana.

.

.

Pagi ini seperti biasa, Fatma sedang menyiapkan kebutuhan Satria, mulai dari baju sampai makannya. Walaupun dia sedang sakit, tapi kebutuhan Satria selalu Fatma yang handle, sebab ia merasa itu adalah tugas seorang istri.

"Ini Mas, kopinya." Fatma menaruh kopi di hadapan Satria.

"Hm, makasih," jawab Satria dengan datar.

Fatma hanya tersenyum tipis. Jawaban dingin nan datar sudah biasa ia dengar dari mulut suaminya, tapi tidak masalah bagi Fatma, sebab ia tau suaminya tak pernah mencintai dirinya.

Dengan cekatan Fatma mengambilkan sarapan untuk Satria, lalu dia pun duduk di samping pria itu. 'Aku rasa ini waktu yang pas,' batin Fatma sambil melirik ke arah suaminya.

"Mas, aku mau bilang kalau--"

Kriing!

Ucapan Fatma terhenti saat tiba-tiba saja ponsel Satria berdering, dan ternyata itu telepon dari Yusuf, sahabat sekaligus orang kepercayaannya di cafe.

"Iya, kenapa Suf?" tanya Fadli saat telepon tersambung.

"Oh, oke. Kamu siapkan saja semuanya, nanti aku langsung nyusul kesana ya." Telepon pun terputus.

Satria menyadari jika tadi Fatma ingin mengatakan sesuatu. "Kamu tadi mau bilang apa?" tanyanya sambil meminum kopinya.

"Itu Mas, aku cuma amu bilang kalau umi dan abi akan kesini nanti siang. Mereka juga mau menbicarakan sesuatu sama kamu," terang Fatma.

"Oh, begitu ... memang mau bicara soal apa?"

Fatma terdiam, dia nampak ragu untuk mengungkapkan kedatangan orang tuanya, takutnya Satria malah marah.

"Gak tau Mas. Nanti siang kamu makan di rumah ya!" pintanya penuh harap.

Mendengar permintaan Fatma, Satria mengangguk, "aku usahakan ya. Tapi aku tidak janji, sebab hari ini jadwal meeting ku benar-benar sangat padat." Satria tak mau memberi harapan pada Fatma.

"Iya Mas. Tapi aku berharap kamu pulang, sebab umi dan abi ingin mengatakan sesuatu yang penting."

Satria penasaran apa yang akan di bicarakan oleh kedua mertuanya, namun ia harus cepat ke cafe sebab ada meeting pagi ini.

Kemudian ia pun pergi dengan Fatma yang mengantarnya sampai halaman depan. "Sebenarnya apa yang akan di katakan oleh umi dan abi, ya? Hal penting apa itu?" lirih Satria saat berada di dalam mobil.

Dia pun ingin segera menyelesaikan pekerjaannya untuk bisa datang nanti siang, sebab Satria juga amat penasaran.

Sementara Fatma sedang menelepon Uminya dan menanyakan apakah jadi atau tidak kesana.

"Semoga nanti siang mas Satria tidak marah dan menolak. Ya Allah, lancarkanlah semuanya. Semoga umi dan abi bisa memberi pengertian pada mas Satria." Fatma kembali meringis sambil meremas perutnya, kemudian dia meminta pembantu yang ada di rumah itu mengambilkan obatnya.

BERSAMBUNG......

Bab 2

Tepat jam 12.00 siang Satria sudah selesai dalam pekerjaannya. Dia pun hendak pulang karena sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh kedua mertuanya.

"Assalamualaikum," ucapnya saat memasuki rumah.

Terlihat umi dan abinya, Fatma sudah datang. Satria langsung mencium tangan keduanya lalu duduk di samping Fatma.

Terlihat Umi dan abinya, Fatma sejak tadi saling melirik satu sama lain. Abi menarik nafas terlebih dahulu kemudian dia menatap lekat ke arah Satria.

"Ada apa Umi, Abi? Kata Fatma ada hal yang ingin kalian sampaikan padaku? Apa itu?" Satria sudah sangat penasaran.

"Euuum ... begini Satria. Sejujurnya kedatangan Abi dan Umi kesini bukan tanpa alasan, tapi karena kami ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting sama kamu." Abi Haidar menjeda ucapannya sejenak, membuat jantung Satria berpacu. "Seperti yang kamu tahu Nak, jika Fatma sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk hamil, jadi dia ingin kamu menikah lagi."

DEGH!

Sudah Satria prediksi jika kedatangan kedua mertuanya pasti ada kaitannya dengan permintaan konyol Fatma.

"Tidak, Abi. Satria tidak mau!" tolaknya dengan tegas.

"Iya, abi paham kok. Dengarkan dulu penjelasan abi, Nak. Begini ... Fatma hanya ingin di saat dia meninggalkanmu nanti, kamu sudah ada yang urus dan menemani." Tersayat hati abi Haidar saat mengatakan hal itu. Dia mencoba menahan kesedihannya di hadapan Fatma. "Abi mohon, Nak! Abi juga tak mau ini terjadi, tapi abi hanya ingin mengabulkan permintaan Fatma. Dan tentunya kamu juga ingin kan membahagiakan Fatma?"

Terlihat Satria mengusap wajahnya dengan kasar, dia benar-benar kalut saat ini. Matanya menatap ke arah Fatma yang saat ini tengah menundukan kepalanya.

Entah apa yang membuat Fatma begitu ngotot dengan keinginan konyolnya itu. Biasanya seorang istri sangat enggan untuk dimadu, tapi Fatma malah sebaliknya.

"Fatma," panggil Satria, membuat Fatma seketika mengangkat wajahnya dengan linangan air mata. "Benar, jika kamu ingin mas menikah lagi? Apa kamu rela jika di madu?" tanyanya memastikan.

Fatma tersenyum getir saat mendengar pertanyaan suaminya. Namun dia mencoba ikhlas. "Insya Allah aku ikhlas, Mas. Mungkin setiap istri tidak ada yang mau di madu, dan aku tak menampik itu. Tapi, aku hanya ingin melihatmu bahagia di sisa akhir hidupku. Anggaplah ini sebagai bakti dan bukti cintaku padamu, Mas."

Dadanya terasa sesak saat mengatakan hal tersebut, tapi Fatma mencoba legowo. Dan terlihat beberapa kali Satria membuang nafasnya dengan kasar.

"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan menikah lagi. Tapi ingat! Aku menerima ini, bukan semata-mata karena aku ingin menduakanmu. Akan tetapi, karena keinginanmu!" tegas Satria.

Fatma mengangguk dengan senyuman lega di bibirnya. "Makasih ya Mas, kamu sudah mau mengabulkan permintaan terakhirku."

"Hmm." Satria hanya menjawab dengan gumaman saja.

"Karena Satria sudah setuju, maka pernikahan akan di adakan 3 hari lagi," timpal Abi Haidar.

"Apa! 3 hari lagi?" kaget Satria dengan mata membulat kaget. "Abi yang benar saja? Calonnya saja belum ada?"

"Sebenanrnya Umi dan Abi sudah mencarikan calon istri untuk kamu, Sat. Dan tentunya wanita itu adalah wanita baik-baik."

Satria kembali di buat terkejut dengan pernyataan mertuanya. Dia tak menyangka jika semua sudah di persiapkan dengan begitu baik oleh Fatma dan kedua orang tuanya.

"Baikal, Umi dan Abi atur saja," jawabnya dengan pasrah. "Aku mau kembali ke cafe dulu." Pria itu berlalu setelah berpamitan pada istri dan mertuanya.

Sepanjang perjalanan Satria terus saja berdecak. Tak habis pikir jika semua sudah di persiapkan dengan begitu baik oleh Fatma.

"Bagaimana jika aku tak bisa mencintai istri keduaku nanti? Bagaimana jika aku menyakiti batinnya, sama seperti aku menyakiti Fatma?" monolognya sambil fokus menyetir

Ada raut ketakutan di hati pria tampan blasteran turki itu. Dia takut tidak bisa membahagiakan kedua istrinya. Karena jujur saja, selama 5 tahun lamanya ia merasa bersalah sebab tak bisa mencintai Fatma sebagai istrinya, dan ia takut itu akan terjadi pada istri keduanya.

.

.

Malam telah menyapa, saat ini Satria baru saja pulang saat jam menunjukan pukul 21.00. Dia sengaja pulang malam untuk menenangkan pikirannya.

"Mas, tumben pulang malam lagi?" tanya Fatma sambil memberikan teh hangat untuk Satria.

"Iya, banyak kerjaan," jawabnya dengan acuh.

Setelah meminum teh itu, Satria pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.

"Bagaimana rupa istri keduaku, ya?" gumamnya sambil menatap langit-langit kamar mandinya.

Dia keluar dan mendapati Fatma sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. Pria itu berdiri menyandarkan tubuh kekarnya yang hanya terbalut handuk sebatas pinggang di tembok.

'Dia memang sangat cantik, aku tak menampik akan hal itu. Tapi, kenapa selama 5 tahun pernikahan kami, aku tak bisa mencintainya? Padahal, aku sudah membuka hatiku untuknya. Kenapa rasanya sulit sekali ya Allah?' batin Satria sambil menatap lurus ke arah Fatma.

Menyadari sejak tadi Satria terus saja menatapnya membuat Fatma sedikit malu, hingga pipi wanita itu merona. Dia berjalan mendekat ke arah Satria.

"Mas, kamu kenapa menatapku seperti itu? Lalu, kenapa belum pakai baju?" tanyanya.

Satria tersentak kaget, "eh, ti-tidak papa." Dia pun berlalu masuk kedalam ruang ganti setelah mengambil baju di lemari.

Dia merebahkan tubuhnya di ranjang, kemudian Fatma masuk kedalam pelukan sang suami, kendati Satria tidak menolak, dan itu yang di sukai oleh Fatma. Walaupun ia tahu Satria tak pernah mencintainya, tapi pria itu tak pernah menolak jika Fatma bermanja-manja dengannya.

"Kenapa kamu tidak meminta persetujuanku dulu tentang calon istriku? Kamu mempersiapkannya, tanpa kamu tanya aku terlebih dulu, apakah aku suka atau tidak." Berbicara namun tatapannya lurus ke arah tv yang menyala.

Fatma menengadahkan wajahnya sejenak, lalu dia kembali menaruh kepalanya di dada bidang sang suami. "Maaf jika aku lancang. Aku hanya ingin memilihkan wanita yang baik untukmu, Mas. Aku mungkin ikhlas di madu, tapi aku ingin wanita itu memiliki sifat dan budi pekerti yang baik," jelas Fatma.

"Lalu, jika suatu saat nanti aku mencintainya bagaimana? Tidakkah kamu sadar akan tindakanmu itu? Kamu hanya semakin membuat hatimu terluka."

Fatma tersenyum, "jika suatu saat kamu mencintainya, aku ikhlas, walau ku tau sakit. Tapi, asal kamu bisa adil padaku dan dia, bagiku tak masalah. Kebahagiaanmu, juga kebahagiaanku."

"Kamu gila! Kamu benar-benar sudah gila."

Mendengar itu Fatma malah terkekeh, "iya Mas, aku memang sudah gila. Aku hanya ingin melihat suamiku bahagia sebelum mata ini--" Ucapan Fatma terhenti saat tiba-tiba saja Satria menaruh jari telunjuknya di bibir tipis wanita itu.

"Jangan pernah bicara begitu! Kamu bukan Tuhan, begitu pun dengan dokter. Nyawa itu adalah rahasia Allah, kamu paham!" kesalnya, sebab ia tak menyukai saat Fatma mengatakan tentang kematian. "Lalu, di mana wanita itu tinggal?" Satria mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Dia tinggal di kota B. Tepatnya di desa Karangsari," jawab Fatma.

"Apa! Karangsari!" kaget Satria dengan tubuh tegap.

BERSAMBUNG......

Bab 3

"Kenapa Mas? Kok kamu kaget gitu?" heran Fatma saat melihat reaksi suaminya.

"Tidak papa, sayang. Hanya saja, itu adalah desa temanku," bohong Satria.

Tiba-tiba saja pikirannya menyelami masa lalu, dimana dia pernah tinggal di desa itu sampai SMA. Akan tetapi, sudah lama dia meninggalkan desa itu, karena menghindari kenangan yang begitu menyakitkan.

"Ya sudah, kamu tidur yah. Aku masih mau cek pemasukan bulanan dulu," ujar Satria.

Fatma mengangguk, namun saat dia akan membaringkan tubuhnya, tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perut bawahnya sampai ke punggung bawah.

"Aawwh! Sshh!" ringisnya sambil meremas seprei dengan kuat.

Satria yang baru saja akan bangkit dari ranjang, tiba-tiba menatap panik pada Fatma. "Kamu kenapa? Sakit lagi ya?" Fatma hanya mengangguk dengan raut wajah kesakitan.

Pria itu langsung mengambilkan obat pereda nyeri milik Fatma, lalu membantu wanita itu untuk meminumnya.

"Sebaiknya sekarang kamu istirahat, ya!" Fatma kembali mengangguk, lalu dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya.

Satria menatap miris ke arah wanita yang sudah menemaninya selama 5 tahun. Tubuhnya semakin hari semakin kurus, berbeda dengan 4 tahun yang lalu, saat Fatma belum di diagnosa penyakit mematikan itu.

"Hatiku semakin berat untuk menikah lagi. Rasanya aku tidak sanggup semakin menyakitimu, Fatma. Tapi, itu adalah permintaanmu, dan aku tak bisa menolaknya." Satria bermonolog di dalam hatinya dengan air mata yang mulai menggenang.

.

.

Pagi hari Fatma sudah siap menghidangkan sarapan untuk suaminya, dan tak lama Satria turun menuju meja makan.

"Ya ampun, Fatma! Sudah berapa kali aku bilang, jangan cape-cape. Kamu gak ingat apa kata dokter, hm?"

"Iya Mas, maaf. Lagian aku di bantu bi Siti kok," jawab Fatma sambil tersenyum pucat walau bibirnya sudah di kasih pemerah bibir.

"Ya sudah, tapi jangan mengerjakan yang berat-berat, oke!" Fatma mengangguk paham, lalu mereka pun sarapan bersama.

"Mas, nanti siang kamu pulang ya!" Fatma menatap sekilas pada sang suami.

"Memangnya ada apa?"

"Nanti siang kita akan ke butik buat beli jas buat acara esok," terang Fatma dengan mata berbinar.

Satria hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Setelah sarapan Fatma pun mengantarkannya ke depan pintu, dan setelah melihat Satria memasuki mobil wanita itu pun berbalik hendak menuju kamar. Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya limbung.

"Aawwhh! Ya Allah, sakit sekali." Fatma meremas perutnya yang kembali berdenyut nyeri. Dia berjalan sedikit tertatih.

"Astagfirullah! Buk Fatma!" panik bi Siti, kemudian dia membantu Fatma menuju kamar.

"Saya mau ke kamar mandi, Bi," ujar Fatma.

"Perlu bibi bantu, Bu?"

"Nggak usah, Bi. Aku bisa sendiri kok," tolak Fatma yang tak mau menyusahkan pembantunya.

Dia pun menuju kamar mandi, namun saat dia sedang buang air kecil, terasa sangat sakit, bahkan uri-nenya bercampur dengan darah.

"Ya Allah, kuatkan hamba, sampai hamba melihat mas Satria bahagia," lirihnya.

Sementara selama di cafe, Satria terlihat melamun. Dia memikirkan ucapan Fatma semalam tentang wanita yang akan menjadi iatri keduanya nanti.

"Kenapa harus dari desa sana? Kenapa tiba-tiba saja aku ingat dia?" gumamnya dengan tatapan sendu.

Satria membuka laci kerjanya, lalu dia mengeluarkan sebuah foto yang mulai lusuh. Senyumnya terpantri penuh kerinduan saat melihat foto itu dan mengusapnya dengan lembut.

"Bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu sudah menikah?" Dia berkata pada foto itu.

Saat Satria sadar jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang, dia pun bergegas untuk pulang, sebab mereka akan ke butik. Dan sesampainya di rumah, ternyata Fatma sudah siap, lalu mereka pun keluar menuju mobil.

"Pelan-pelan," ucap Satria sambil melindungi kepala Fatma agar tak terpentok mobil.

Fatma tersenyum lalu duduk. Perlakuan itulah yang ia suka dari Satria, walaupun ia tahu jika Satria belum bisa mencintainya, tapi perlakuannya yang begitu lembut dan menghargainya sudah membuat Fatma sangat senang.

Sesampainya mereka di butik, Fatma langsung memilihkan jas yang cocok untuk acara ijab nanti. Walaupun memang pernikahan kedua Satria tidak di ramaikan.

"Mas, kayaknya ini cocok deh," ucap Fatma sambil memperlihatkan Jas dan kemeja berwarna putih. Lalu, dia meminta Satria untuk mencobanya.

Setelah beberapa saat, Satria keluar dari ruang ganti. Melihat itu Fatma menatap kagum ke arah suaminya. Tak terasa dadanya sesak saat membayangkan jika sebentar lagi dia akan berbagi suami dengan wanita lain.

"Kamu sangat tampan, Mas. Jas ini cocok sekali untuk kamu," puji Fatma sambil tersenyum manis. "Gimana Mas, kamu suka?"

"Aku terserah pilihanmu saja," jawab Satria dengan pasrah.

Dia terlihat tidak bersemangat, dan hanya bisa pasrah dengan pernikahannya nanti. Dan setelah selesai mereka pun menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk cek-up penyakit Fatma.

"Dok, apa kemungkinan istri saya bisa sembuh?" tanya Satria dengan tatapan penuh harap sambil melihat keadaan Fatma yang terbaring di ranjang pasien.

"Kemungkinan sangat kecil, Pak. Kankernya bahkan sudah menyebar," jawab Dokter tersebut.

Satria menghela nafas dengan berat, kemudian Fatma bangkit dan duduk di samping sang suami. "Jagan khawatir, Mas. Aku baik-baik saja kok." Fatma mencoba kuat di hadapan Satria

Akan tetapi, Satria tahu sakitnya Fatma seperti apa. "Jangan pura-pura kuat di hadapanku." Lalu dia mengajak Fatma untuk pulang.

"Kamu mau makan apa?" tanyanya saat berada di jalan.

"Aku mau martabak telor, Mas!" pinta Fatma.

Satria langsung mencari pedagang martabak. Dia membeli 1 bungkus untuk Fatma. Satria pikir, dengan prilakunya yang baik dan menghargai Fatma sebagai istrinya, bisa menebus kesalahannya yang tak bisa membalas cinta Fatma.

Sesampainya di rumah, Satria meminta bi Siti untuk menyiapkan martabak itu. Mereka duduk di ruang tamu dengan Fatma yang bersandar di sofa.

"Boleh aku melihat rupa dari istri keduaku?" pinta Satria, sebab ia sangat penasaran.

"Tunggu besok Mas. Sebentar lagi kamu akan melihatnya," kekeh Fatma.

"Apa dia berjilbab?"

"Ya. Tentu saja. Aku sudah bilang bukan, bahwa aku akan mencarikan istri terbaik untuk suamiku," papar Fatma sambil mencubit pipi Satria.

Pria itu terdiam, kemudian dia menatap lekat keadah Fatma, "apa dia tahu jika aku sudah mempunyai istri? Apa dia tahu, akan menjadi istri kedua?"

Entah kenapa felling Satria mengatakan, jika wanita yang akan ia nikahi tidak tahu menahu tentang statusnya itu. Dan mendengar hal tersebut, Fatma memnggelengkan kepalanya.

"Dia tidak tahu, Mas. Nanti saat sudah ada di sini, baru kita akan menjelaskannya," jawab Fatma.

"Apa! Bagaimana mungkin bisa dia tidak tahu, Fatma. Sama saja kamu, umi dan abi menjebaknya? Bagaimana perasannya nanti? Dia pasti akan sangat terluka." Satria mengusap wajahnya dengan kasar.

"Tidak akan, Mas. Walau mungkin iya, tapi umi dan abi akan menjelaskannya. Lagi pula, kedua orang tuanya juga sudah tahu."

"Terserah saja." Satria berujar dengan nada frustasi. Dia sangat yakin jika wanita itu nanti akan sangat syok.

BERSAMBUNG.......

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED