Seorang wanita berparas cantik, lembut bak bidadari baru saja keluar dari ruang dokter spesialis kandungan, tapi sayang suasana hatinya mendung seperti langit Kota Birmingham saat ini. Dia sengaja datang seorang diri memeriksakan kehamilannya, belakangan ini sering mengalami pendarahan, pembengkakkan, serta sakit pada sekujur tubuh.
“Mirror syndrome?” ucapnya, bahkan suara wanita itu tercekat. Namanya Naladhira, terus menyeka air mata yang menetes sejak dokter menjelaskan perihal kelainan kandungannya.
Nala membelai perut buncitnya, pikirannya kalut, kebingungan sudah pasti. Sebagai calon ibu, dipenuhi ketakutan yang luar biasa menyangkut keselamatan buah cintanya.
Akibat melamun di tengah lorong, Nala hampir tertabrak sekumpulan orang. Ia melihat keributan, dokter dan perawat berlarian menuju bangsal IGD. Sayup-sayup mendengar percakapan tenaga medis bahwa dua pasien kecelakaan motor, dengan luka sangat serius tiba di depan rumah sakit.
Wanita ini menelan air liur, teringat akan suaminya yang siang tadi pamit hendak mengikuti balapan motor di salah satu sirkuit. “Oh tidak mungkin, bukan Theo. Pasti orang lain. Semoga dia selamat.”
Tak bisa dipungkiri, lubuk hatinya tak tenang, selalu menoleh pada pintu penghubung antara poli dan IGD. Nala meremas kesepuluh jari, cemas sekaligus penarasan, sebab suaminya tidak memberi kabar apapun.
Sedetik kemudian Nala menggelengkan kepala, menepis semua pikiran buruk dalam otaknya. “Aku harus pulang. Pasti Theo di mansion.” Senyum tipis terukir di bibir tipis.
Semula Nala bersikap acuh tak acuh, tetapi dering pada ponselnya membawa kabar buruk.
“Ya? Apa? Ti-tidak mungkin.” Suara Nala bergetar, seketika benda pipih terjatuh dari genggaman.
“Theo.” Jeritnya dalam hati. Suara seseorang di balik telepon meruntuhkan harinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Dengan langkah tertatih sembari memegang perut buncitnya, Nala menghampiri sang suami yang tergeletak lemah tak berdaya di atas brankar.
Tubuhnya lemas, dadanya begitu sesak dan sulit menghirup udara. Manik hitam pekatnya terbelalak melihat tetesan darah berjatuhan ke lantai, mengalir dari kepala. Wajah tampan nan rupawan Theo berubah merah.
“Tolong selamatkan suamiku. Theodore.” Tangisnya, jujur Nala tak ingin kehilangan sosok pria yang teramat sangat dicintai.
“Aw … sa-sakit.” Mendadak perut buncit Nala menegang, raganya limbung dan tak sadarkan diri.
"Mrs. Bradley, Ya Tuhan. Tolong bawa ke ruang perawatan, hubungi dokter kandungan."
Dibantu seorang perawat, ibu hamil itu mendapat perawatan intensif. Tekanan darahnya meningkat, suhu tubuh tinggi, bulir keringat memenuhi keningnya.
Kepalanya bergerak gelisah, kedua tangan meremas selimut, hingga selang infus yang sebelumnya berwarna bening berganti menjadi merah, karena pergerakan punggung tangan Nala.
Dalam mimpinya, Nala terbayang wajah Theodore, teringat kalimat terakhir ketika suaminya berpamitan.
“Aku, Theo hanya mencintai Naladhira istriku yang baik hati, manis dan cantik.” Pria itu menciumi perut buncit sang istri. Lalu menitipkan pesan agar Nala menjaga anak dalam kandungannya, berjanji tetap sehat dan bahagia.
“Jaga anak-anak kita. Ingatkan mereka kalau aku menyayangi kalian. Jangan lupa ya. Aku berangkat dulu Nala, podium juara 1 hari ini ku persembahkan untuk kamu.”
Sungguh Nala tak menyangka jika pesan itu memiliki pertanda lain. Ia tidak membutuhkan podium kejuaraan, hanya ingin suaminya sehat seperti sediakala.
Nala pingsan selama beberapa jam, dia tidak mendampingi proses operasi yang dilakukan oleh dokter terhadap Theo. Dokter kandungan melarangnya terlalu larut dalam kesedihan, sebab menimbulkan dampak negatif bagi kandungannya.
Semalaman penuh Nala ditemani Valerie –saudari kembar Theo. Penuh perhatian menghapus peluh dan memeluk raga ringkih itu.
Pagi hari, Nala terbangun seorang diri. Ia membaca pesan pada ponselnya, betapa senangnya Nala karena Theo sudah siuman.
“Suster, bisa minta tolong?” ucapnya dengan wajah berbinar. Baru semalam berpisah tetapi rasa rindu sudah menggunung.
"Tapi Nyonya, pesan dokter …"
Perawat keberatan, mengingat kondisi Nala tidak memungkinkan. Namun, ibu hamil itu memohon dan memaksa perawat mengantarnya ke ruang pemulihan khusus.
Setibanya di depan ruangan, Nala bisa melihat jika suaminya tengah duduk melempar senyum kepada seluruh anggota keluarga.
“Theodore.” Panggil Nala ketika pintu terbuka lebar.
“Ya? Siapa?” dua kata penyambutan yang membuat Nala kebingungan.
“Akhirnya kamu bangun juga, aku merindukan kamu. Peluk.” Nala tidak sungkan bersikap manja di depan keluarga besar.
“STOP. Perempuan gatal, tidak tahu diri, menyingkir. Alergi dekat-dekat perempuan kampungan.” Ketus Theodore, melirik tajam Naladhira yang mematung di sisi ranjang.
Kedua mata pria itu memindai penampilan Nala dari ujung kepala hingga kaki. Satu sudut bibir tertarik, seakan mencemooh wanita yang nekat mendekati.
“Aku Nala, kamu jangan bercanda!” Nala masih santai menghadapi suaminya, ia tahu betul bahwa Theo gemar bergurau dan penipu ulung.
Tak peduli, Nala mencoba meraih lengan suaminya untuk melepas penat dan kegundahan hati yang menyelimuti sejak kemarin. Tetapi secara tegas Theodore menghindar, mengangkat satu tangan, mengalihkan pandangan.
“Mundur! Cepat! Telinganya terpasang kan? Masih berfungsi?” bentak Theo.
“Theo ka-kamu kenapa? Ini tidak lucu.” Nala memajukan bibir, tetap beranggapan bahwa suaminya membuat lelucon.
Theodore menoleh, jari telunjuknya menunjuk Nala dengan tenaga, sampai tubuh wanita itu mundur satu langkah. “Satu lagi, panggil Tuan Muda Bradley, bukan nama. Dasar wanita penggoda.”
Pria itu menganggap Nala sebagai wanita pada umumnya, sering datang menemui, berpura-pura saling mengenal kemudian menggodanya. Lebih parahnya lagi, menghisap hartanya.
“Mungkin lebih baik penggoda daripada perempuan berlagak suci, bersembunyi di balik topeng, ternyata hatinya busuk, tujuannya menjerat pria kaya. Benar kan Nona?” tukas Theodore berapi-api, tidak menyukai tingkah Nala.
“Tidak masalah kalau kamu cantik dan seksi, cukup berguna dan enak dipandang di atas ranjang.” Sambungnya.
“Cukup Theodore, dia Naladhira. Istri kamu. Bukan orang lain.” Sentak Daddy Dariel, lalu menggelengkan kepala.
“Naladhira? Nama macam apa itu? Hahaha. Jelek.” Tawa Theodore menggema dalam ruangan.
Rupanya Theo yang terbangun dari tidurnya, dengan sikap dan sifat berbeda. Dia sama sekali tidak mengingat Naladhira. Tim dokter segera memeriksa kondisi pasien prioritas ini. Dugaan sementara, memori Theodore terhenti pada beberapa tahun yang lalu, tepat sebelum mengenal Naladhira.
Serangkaian tes harus dilakukan oleh Theodore, agar pengobatan tepat sasaran. Tetapi secara tegas ditolak, pria itu merasa sehat, “Kepalaku baik-baik saja, kenapa harus CT Scan, tes darah dan sebagainya. Tangan dan kakiku yang sakit, bukan otakku.”
“Hanya karena tidak mengingat wanita murahan itu, harus melalui pemeriksaan lagi. Sebaiknya kalian semua kembali bekerja, atau aku rotasi ke pelosok desa.” Geram Theodore sembari menatap bengis kepada Nala.
Satu tangan Nala terangkat hendak menampar pipi suaminya, “Jaga mulutmu, Theo!” dadanya naik turun, napasnya memburu, kata-kata yang keluar dari bibir pria itu menyakiti harga dirinya sebagai wanita.
Theodore mengusir istrinya sendiri karena merusak pemandangan. “Keluar dari sini! Perempuan kasar, tidak tahu diri, penggoda. Lebih baik kamu bercermin, wajahmu saja tidak cocok menjadi pelayanku apalagi istri.” Mengangkat dagu, bersikap angkuh.
“Aku ini istri kamu Theo. Bukan orang lain.” Ucap Nala penuh penekanan. Kedua mata berkedip perlahan seraya menggelengkan kepala. Tampaknya roda kehidupan sedang berada di bawah, tidak memihak kepadanya.
Theodore Rylee Bradley secara terang-terangan menolak statusnya sebagai suami dari Nala. “Ck, keras kepala. Perempuan kampung dengar baik-baik, aku belum menikah!”
“Kalaupun mencari istri pasti seorang artis atau model, memalukan memilih mu!” terangnya tidak menginginkan kehadiran Nala.
Tidak jera, dengan gerakan cepat Nala memperlihatkan benda melingkar di tangannya, lalu berkata, “Jangan lupakan aku Theo. Anak kita membutuhkan ayahnya.” Suara Nala terdengar parau, bibirnya pun bergetar.
Namun sikap Theo sangat keras kepala, enggan disentuh dan mendengar suara sang istri, “Berisik! Anak? Anak kita? Kamu benar-benar pandai bermain peran.”
Pria itu memerhatikan perut menyembul Nala, kemudian tersenyum sinis. Seingatnya hal seperti ini bukan kali pertama, sudah ada beberapa orang wanita mengaku hamil anaknya tapi setelah dilakukan tes, semua terbukti berbohong. Apalagi mengakui anak dalam kandungan Nala, wanita yang sama sekali tidak diingatnya.
Theo memang pria tampan berjuta pesona, seringkali para wanita datang silih berganti menawarkan pertemanan luar biasa. Statusnya sebagai Presiden Direktur RB Group Hotel semakin menambah daya pikat. Menyihir mereka yang mudah terbuai akan harta dan kekuasaan. Pastinya dimanfaatkan sebaik mungkin, karena ia adalah pria normal.
Theodore turun dari ranjang, mengabaikan rasa sakit pada kaki dan tangan. Menyudutkan Nala hingga wanita itu berjalan mundur membentur dinding. Bola mata hazel miliknya memberi tatapan intimidasi.
“Bisa saja itu anak pria lain. Lalu kamu datang dan mengambil kesempatan karena aku hilang ingatan. Cukup hebat.” Bibirnya lancar mengucapkan bahwa mungkin saja anak itu bukan miliknya tetapi orang lain.
“Hey asal kamu tahu, seorang petualang cinta tidak mungkin memiliki istri memalukan seperti ini. Lihat penampilan kamu! Bila perlu aku belikan cermin yang besar.” Kedua alis Theo terangkat, salah satu sudut bibirnya berkedut tipis, merendahkan wanita yang berani mengaku hamil anaknya.
Bibir pria ini mendekat, lalu membisikkan sesuatu, “Aku selalu bermain aman dan rapi. Kalau mau berbohong, kamu salah memilih sasaran.”
Tangan Theodore merapikan anak rambut Nala yang lengket karena keringat, kemudian melirik tangannya yang basah dan menyeka ke piyama pasien sang istri.
“Ah ya lupa. Aku tidak suka wanita berkeringat sepertimu.” Hendak membelai pipi Nala, namun itu semua hanya tipuan. Theo segera menarik tangan dan tubuhnya, menjauh dari Nala.
Nala mengatupkan mulut dan giginya, buku-buku jemari mengepal kuat di samping tubuhnya hingga menusuk telapak tangan. Manik hitam pekatnya menatap perih wajah sang suami. Perasaanya tersayat sembilu, mendengar penolakan suaminya.
Tidak tahukah Theodore, saat ini Nala dihantam kerasnya kenyataan pahit? Sudah jatuh tertimpa tangga, situasi yang paling tepat menggambarkan keadaannya.
Pertemuan yang seharusnya menimbulkan suka sebab bisa menyalurkan kegundahan, malah berakhir mengharu biru.
Kristal bening menggenang dipelupuk mata. Bibirnya tidak sanggup mengucapkan apapun, selain menerima segala penolakan dari sang suami.
Tetapi ia tidak menyerah karena mengetahui bahwa Theo sedang sakit bukan disengaja. “Aku yakin bisa mengembalikan keadaan.” Lirihnya dalam hati. Kemudian menggukir senyum tipis menanggapi wajah suami yang tampak menyebalkan.
Mendadak pintu terbuka, dua tenaga medis datang menjemput Theodore untuk melakukan pemeriksaan lengkap. Mulai dari tes darah, kognitif, MRI, sampai electroencephalogram.
Tim dokter dan keluarga meminta Nala untuk sabar menghadapi sikap arogan dan kekanakan Theodore, karena dia masih merasa seorang bujangan.
“Mrs. Bradley harap menyikapi dengan kepala dingin. Tuan Muda Bradley sekarang belum bisa menerima semua informasi terkait masa lalu.” Terang dokter.
“Kami akan melakukan terapi kognitif terhadap pasien, tetapi tidak bisa menjamin seluruh ingatan kembali secara utuh. Memerlukan waktu tidak sebentar, dukungan dari keluarga terdekat sangatlah membantu.” Tukas dokter seraya melirik wajah frustasi Nala.
“Mommy yakin Nala, Theo pasti mengingat kamu. Kita harus sabar dan hati-hati dalam mengambil langkah.” Ibu mertua Nala berusaha menenangkan.
Nala hanya mengangguk pasrah setelah beberapa hasil tes pemeriksaan membenarkan kondisi Theo mengalami hilang ingatan. Masa pemulihannya pun beragam tergantung dari kesiapan dan kondisi pasien.
“Bantu Mama sayang, kita harus bisa membuat Papa ingat lagi.” Kata hati Nala mengajak anak-anaknya turut serta.
Dua tendangan kecil diterima, seakan kedua janin itu kompak bersama ibunya. Melakukan misi penting agar mendapat pengakuan serta kasih sayang dari ayahnya.
“Anak-anak pintar.” Ucap Nala, menundukkan wajah, mengelus perut yang tampak menonjol pada bagian samping.
**
Malam harinya Nala kembali menemui Theo, membawa beberapa foto pernikahan. Dengan langkah percaya diri, dan senyum mengembang. Tidak lupa merias tipis wajah agar tidak pucat.
“Sekarang, dia tidak bisa mengelak lagi. Bukti secara tertulis ada. Nama kami pun tercatat di Negara sebagai sepasang suami istri.” Kata Nala, lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Dokter menyatakan, untuk memulihkan ingatan Theo memerlukan usaha ekstra dan perlahan. Tidak boleh memaksa karena bisa menimbulkan dampak berbahaya.
Tangannya yang sudah mengepal di udara, siap mengetuk pintu, mendadak terdiam, mengurungkan niatnya. Perasaan Nala tidak karuan, antara takut dan sedih menyeruak ke dalam rongga dada. Ia mengelus perut, menenangkan janin yang bergerak-gerak.
“Mungkin aku buka sedikit dulu.” Gumamnya, diikuti kepala mengangguk.
Pelan-pelan tanpa menimbulkan suara, Nala memegang knop pintu, menggesernya hingga terdapat celah selebar tiga jari tangan.
Seketika tubuhnya mematung, mata melebar, tanganya menutup rapat mulut agar tidak berteriak. Sayangnya, bukan penyambutan dari sang suami, melainkan pemandangan menyayat hati.
Pria itu –Theo, tengah mencumbu seorang wanita yang sangat dikenali –Bianca Williams, gadis berambut coklat kemerahan yang pernah merusak hari pernikahannya.
Bila dihubungkan dengan penjelasan dokter mengenai amnesia yang diderita suaminya. Tentu saja Theo hanya mengingat Bianca, wanita yang berhasil mendapatkan hatinya selama bertahun-tahun. Bukan Naladhira, istrinya yang dipersunting satu tahun lalu melalui perjodohan.
Sore tadi Theodore yang kesepian, menerima tamu. Tanpa diduga seseorang yang mengisi hati bertahun silam kembali muncul, Bianca. Berita terkait kecelakaan itu tersebar di seluruh media. Memudahkan Bianca mencari keberadaan mantan kekasihnya.
Raga yang semula berdiri tegak itu, kini luruh ke atas lantai, menyandar pada dinginnya dinding. Nala berharap semua ini adalah mimpi buruk. Ia ingin segera terbangun secepatnya.
“Ini hanya mimpi buruk Nala, ini tidak nyata, tidak … pria di dalam itu bukan Theodore yang sebenarnya.” Ucapnya begitu pelan sembari gemetaran. Ia pun mengigit kuku-kuku jemari, menarik napas, lalu membuangnya perlahan.
“Aku mohon, ini tidak lama. Semoga salah lihat. Lindungi suamiku.” Nala melambungkan doa setinggi langit.
Dapat dibayangkan setengah nyawanya, miliknya, suaminya lebih menerima kehadiran wanita lain dibanding dirinya sendiri yang sudah jelas-jelas berstatus sebagai istri. Betapa hancurnya perasaan Nala.
"Mrs. Bradley"
Seorang perawat hendak membantu Nala berdiri. Namun wanita hamil ini menggeleng pelan seraya melengkungkan senyum penuh luka, masih menikmati lara seorang diri.
"Tapi Mrs. Jangan duduk di bawah. Anda bisa kedinginan Mrs. Bradley, saya turut prihatin atas kondisi Tuan Muda Bradley. Semoga ingatannya segera pulih."
“Terima kasih.” Jawab Nala terbata, ya lantai ini semakin dingin seolah semesta pun tidak mendukung. Angin malam musim semi seakan menerobos masuk melalui serat kain, menusuk dinding kulitnya.
"Saya permisi Mrs. Bradley."
Nala menarik napas sedalam-dalamnya, mengembuskan perlahan, mengusap perut buncit yang menegang. “Its okay baby. Don’t worry, Papa dan Mama love you.”
Dengan berpegangan sekaligus menahan berat badan pada dinding, ia berusaha berdiri. Menghadapi kenyataan pahit, bukan menghindarinya. Kedua tangan Nala tidak kuasa membuka pintu. Berubah sedingin es.
Air matanya sudah jatuh menetes membasahi piyama pasien. Tapi sekali lagi, Nala meneguhkan hati bahwa semua ini tidak terjadi selamanya. Ia harus kuat menghadapi semua tingkah Theo.
“Untuk kamu, anak kita dan aku.” Lirih Nala, menelan saliva, memejamkan kedua mata, menetralkan sesuatu yang berkecamuk dalam dada.
Dengan perasaan porak-poranda Nala mendorong pintu hingga terbuka lebar. Bohong kalau tidak cemburu, mustahil tidak marah, ia adalah manusia biasa, seorang wanita yang lebih mengutamakan hati daripada pikiran.
Nala tetap melangkahkan kaki walaupun teramat sulit. Kedua tumitnya begitu berat dan semakin membengkak. Raganya menolak masuk, tetapi otaknya tidak rela jika wanita itu, memenangkan perhatian suaminya.
Decapan khas dari tautan kedua bibir menusuk gendang telinga serta relung hatinya. Nala mengalihkan pandangan ketika satu tangan suaminya bergerak nakal menelusuri tubuh bagian belakang Bianca.
Perutnya pun kembali menegang, seolah dua janin dalam kandungan mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Saling bergerak gelisah, turut merasakan kegelisahan yang dialami oleh Nala.
“Theo, aku mohon jangan begini.” Cicit Nala.
Kehadiran ibu hamil ini sama sekali tidak menghentikkan aktifitas Theo dan Bianca. Dua insan itu layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara, melupakan semua, serasa dunia menjadi milik berdua.
Dengan segudang kesabaran, Nala memanggil nama lengkap suaminya, “Theodore Rylee Bradley, aku datang. Hallo Papa, kami menjenguk Papa.” Mengukir senyum, mengesampingkan luka menganga yang baru saja diterimanya.
Menatap wajah sang suami penuh kasih sayang, berharap keajaiban segera datang. Jujur saja ia tidak akan sanggup bila dihadapkan pada kenyaataan menyakitkan menyayat hati seperti ini.
“Maaf sayang. Wanita itu datang mengganggu. Mungkin aku harus membayar banyak pengawal untuk menjaga di luar kamar.” Sengit Theodore, kilat permusuhan terpancar kuat.
Bianca menoleh, memerhatikan Nala dari atas ke bawah, sudut kanan bibirnya berkedut, menghina seorang Naladhira. Kemudian beralih memandangi Theodore yang menatap penuh puja pada wanita itu.
“Kamu sama sekali tidak ingat, Theo?” tanya Bianca mengalungkan kedua tangan di leher mantan kekasihnya.
Jemari Theo membelai lembut wajah wanita lain, menghapus sisa-sisa pagutannya pada bibir Bianca.
“Ingat apa? Dia?” menunjuk Nala dengan tatapan malas serta dagu terangkat. “Ck, kalau dilupakan, itu artinya dia tidak penting. Sudahlah tidak perlu dipikirkan.” Pungkas Theodore.
“Theo kamu tahu kan, aku sedih banget mendengar kabar kamu kecelakaan. Terima kasih sudah siuman. Aku merindukan kamu.” Bisik Bianca tepat di telinga Theodore.
Wanita itu yakin mantan keksihnya tidak akan mengingat Nala, beragam rencana pun tersusun dalam kepala Bianca. Merebut cintanya lagi, putus dari Theodore pun terpaksa karena menerima perjodohan dengan Nala.
“Sebaiknya aku keluar dulu. Mungkin ada hal penting yang perlu kalian bicarakan.” Bianca meraih tas di kursi, tetapi dengan cepat Theo menyanggah.
“Jangan. Kalau pun ada yang keluar dan pergi ya seharusnya dia, bukan kamu Bi. Duduk di sini!” perintah Theodore tetap memfokuskan diri pada mantan kekasihnya.
“Tapi … aku mau ke toilet sayang.” Nada manja Bianca, “Lihat, penampilanku jadi berantakan begini, kamu terlalu agresif, masih sama seperti dulu.”
“Oke, tapi jangan lama-lama, kamu harus menemani aku sampai sembuh.” Theo mengedipkan sebelah mata, menyentuh dagu Bianca.
Tawa kemenangan tercetak jelas, Bianca sengaja menyenggol bahu Nala, kemudian mengucapkan kata-kata memulai perang, “Dulu, kamu merebut Theo, sekarang aku akan mengambilnya lagi. Untuk anakmu, aku bisa menjadi ibu yang baik.”
Bianca mengibaskan surai panjangnya, memukul perih mengenai lengan Nala. Wanita itu benar-benar tidak tahu malu, memanfaatkan penderitaan orang lain demi meraup keuntungan pribadi.
“Theo, biar aku yang menjagamu di sini. Aku masih kuat.” Ujar Nala. Mana mungkin memberi angin segar kepada Bianca.
“Siapa nama kamu?” Theo mengernyitkan kening, benar-benar tidak mengingat nama Nala.
“Aku? Naladhira. Kamu membutuhkan sesuatu? Aku bisa bantu.” Nala duduk di tepi ranjang, merindukan sedekat ini dengan suaminya. Membutuhkan sandaran dalam menghadapi hari-hari ke depan.
Dilupakan, diabaikan, bahkan tidak diinginkan oleh seseorang yang teramat sangat dicintainya. Menguras seluruh energi dalam tubuh.
“Hey Nala. Aku itu punya otak, tidak mungkin mengizinkan wanita hamil seperti mu di sini. Sebaiknya kamu pulang, temui ayah dari bayi itu, jangan membawa aku ke dalam masalah kalian.” Sembur Theodore. Lantas menyingkap selimut, memberi isyarat agar istrinya segera menyingkir.
Nala berdiri memundurkan raga, ia melihat kegiatan suaminya menepuk-nepuk ranjang yang tadi diduduki olehnya, seakan Theo jijik.
Derai air mata membanjiri kembali membasahi pipi ketika terdengar denting benda terjatuh. Nala mengamati dengan seksama, benda melingkar kecil sengaja dilepas suaminya, padahal pagi tadi Theo masih menggunakan cincin pernikahan dengan ukiran nama ‘Naladhira’.
“Cincinnya jatuh.” Sekali lagi, Nala tidak goyah, ia mengambil cincin itu, lalu meraih tangan Theodore.
“Heh lepas! Mau apa?” sangar Theodore tidak suka disentuh sembarang orang.
“Ini cincin kamu lepas.” Nala mencoba memasangkannya kembali pada jari manis. Tapi sayang tangannya ditepis hingga benda itu terpental entah ke mana.
“Sengaja, aku tidak mau Bianca sakit hati dan berpikir aneh.” Jawab Theodore membaringkan tubuh dan menutupnya dengan selimut.
“Tapi Theo, aku istri kamu, seharusnya jaga perasaan aku bukan Bianca.” Suara Nala bergetar, demi apapun, kesabarannya perlahan mulai terkikis.
“Heh bawel, Bianca itu calon istriku, calon Nyonya Bradley. Perempuan itu yang aku cinta. Kita pacaran sejak sekolah. Paham?” balasan Theodore tak kalah menyakitkan.
Pria itu menekan tombol darurat, menghubungi petugas keamanan untuk membawa keluar istrinya dari kamar. Sedangkan mereka mengetahui status Nala sebagai istri dari Tuannya, tentu tidak berani mengusir Nyonya Muda Bradley. Ketiga petugas keamanan saling melirik satu sama lain.
“Siapa yang gaji kalian? Aku 'kan? Bukan dia. Mulai sekarang jangan biarkan wanita ini masuk ke area perawatanku, atau kalian bertiga menanggung resikonya.” Tegas Theodore sangat arogan tanpa belas kasih.
"Nyonya maafkan kami."
Terpaksa Nala keluar, stidak ingin menimbulkan kerusuhan yang berakibat mengganggu kesehatan suaminya. Ia menoleh sebentar, memandang nanar punggung lebar Theodore yang membelakanginya.