Langit Jakarta sore itu mendung keperakan, seolah ikut menahan napas atas rencana gila yang baru saja disusun Nayla. Ia berdiri di depan kaca besar ruang kerja pribadinya-ruangan yang selama ini menjadi tempatnya menulis artikel untuk media gaya hidup, menyusun proposal proyek sosial, atau sekadar melamun menatap lalu lintas padat di bawah sana. Kini, ruangan itu menjadi markas rahasia dari sebuah misi yang ia beri nama dalam hati: Operasi Pembalasan.
Beberapa hari terakhir, Nayla telah menelaah setiap potongan informasi tentang perselingkuhan Rafka. Ia menelusuri jejak transaksi kartu kredit, riwayat hotel, bahkan menyusup ke email kerja suaminya-semua dengan ketelitian seorang detektif. Di balik air mata yang diam-diam ia tangisi dalam kamar mandi, perlahan tumbuh tekad dingin yang menakutkan bahkan untuk dirinya sendiri.
Dan hari ini, tahap pertama dimulai: umpan.
Namanya . Seorang creative director di sebuah agensi iklan ternama yang beberapa kali sempat bekerja sama dengan Nayla untuk kampanye CSR perusahaannya. Nayla ingat, setiap kali rapat, Radya selalu datang dengan kemeja lengan digulung, senyum separuh sinis, dan tatapan mata yang seperti bisa membedah seseorang sampai ke tulang. Bukan tipe pria yang langsung tampak "berbahaya", tapi jelas bukan tipe yang bisa disepelekan.
Rafka tidak pernah suka Nayla terlalu dekat dengan Radya, dulu. Ironis, mengingat kini Nayla justru akan mendekat... sengaja.
Ruang pamer galeri seni modern di bilangan Menteng itu dipenuhi lampu sorot hangat dan suara tawa pelan. Pameran lukisan kontemporer sedang berlangsung, dan Nayla berdiri anggun di antara kerumunan, mengenakan gaun hitam sederhana yang menonjolkan siluet tubuhnya dengan elegan. Rambutnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya, memberi kesan lembut tapi tak terjangkau.
Dia tahu Radya akan datang ke acara ini-ia memastikan dengan pura-pura bertanya santai pada kurator yang juga temannya. Ia menunggu dengan gelas champagne di tangan, jantung berdetak pelan tapi mantap, seperti drum perang yang diselimuti beludru.
"Wah... kalau bukan Nayla Azzura."
Suara bariton itu terdengar tepat di belakangnya, dan bibir Nayla secara otomatis membentuk senyum. Ia berbalik, menemukan sosok Radya berdiri di sana dengan jas navy tanpa dasi, rambut hitam sedikit acak, dan tatapan mata yang-seperti dulu-menelanjangi pikirannya.
"Radya." Nayla menyapanya tenang. "Sudah lama."
"Terakhir kali kita ketemu... dua tahun lalu? Saat kampanye #HijaukanJakarta, ya?" Radya tersenyum, memperlihatkan lesung pipi samar yang dulu membuat banyak staf perempuan di ruangan rapat mendadak gagap. "Kamu masih terlihat sama. Elegan dan... terlalu rapi untuk dunia yang berantakan ini."
"Dan kamu masih suka bicara seperti kutipan dari novel eksistensialis," balas Nayla ringan.
Radya terkekeh. "Terserah kamu mau sebut apa."
Percakapan itu mengalir lebih mudah dari yang Nayla bayangkan. Mereka berbicara tentang karya seni di sekitar, tentang keadaan industri kreatif, bahkan tentang kemacetan Jakarta yang seolah tak pernah berubah. Nayla memainkan peran "diri lama"-nya dengan lihai-yang cerdas, sedikit sinis, dan tampak tak tergoyahkan oleh drama hidup. Tak ada yang boleh menebak bahwa di balik eyeliner sempurna dan tawa sopannya, ada bara dendam yang membara.
Setelah satu jam berkeliling bersama, mereka berdiri di balkon galeri, memandang jalanan yang mulai diselimuti lampu malam.
"Kamu kelihatan... beda," ujar Radya tiba-tiba.
Nayla mengangkat alis. "Beda bagaimana?"
"Dulu kamu seperti kaca bening. Sekarang seperti cermin retak-masih indah, tapi menyimpan cerita," katanya pelan, menatapnya lama.
Ucapan itu membuat dada Nayla berdebar, bukan karena baper, tapi karena Radya berhasil membaca sesuatu yang bahkan ia sembunyikan rapat-rapat. Ia harus hati-hati-pria ini bukan sekadar umpan; dia juga berbahaya jika sampai menembus tamengnya.
"Aku rasa... semua orang berubah," jawab Nayla tenang.
Radya hanya mengangguk, lalu menawarkan: "Mau lanjut minum di tempatku? Masih banyak hal yang ingin aku obrolin sama kamu. Tentang proyek, tentu saja."
Nada "tentu saja" itu terdengar seperti lelucon. Nayla menimbang sejenak. Ini terlalu cepat? Mungkin. Tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, dan Operasi Pembalasan tidak memberi ruang untuk keraguan.
"Aku ikut," katanya akhirnya.
Apartemen Radya berada di lantai tinggi sebuah gedung modern, dengan dinding kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan panorama malam Jakarta bagaikan lautan cahaya. Interiornya minimalis, maskulin, dengan dominasi hitam, baja, dan kayu gelap. Sebuah rak besar penuh buku seni dan novel klasik mendominasi satu sisi ruangan, sementara sisi lain dipenuhi lukisan-lukisan abstrak yang tampak mahal.
"Wow," Nayla berkata sambil melangkah masuk, melepas stiletto-nya. "Tempatmu... sangat 'Radya'."
"Berantakan tapi terkonsep?" sahut Radya sambil menuangkan anggur merah ke dua gelas.
"Chaotic but curated," Nayla mengoreksi sambil duduk di sofa kulit hitam yang dingin saat disentuh.
Radya menyodorkan segelas padanya, lalu duduk di seberang, satu kaki terlipat santai di atas sofa. "Jadi... kenapa kamu tiba-tiba muncul lagi di radar? Bosan jadi istri sosialita?"
Nayla menahan napas sepersekian detik. "Mungkin," jawabnya ringan. "Atau mungkin aku cuma ingin merasa hidup."
"Mendefinisikan hidup lewat bahaya kecil?" Radya menatapnya tajam. "Karena itu kamu datang ke sini?"
Nayla meneguk anggurnya, membiarkan cairan asam manis itu menuruni tenggorokan. "Mungkin aku hanya butuh... teman bicara yang tidak menuntut kesempurnaan."
Keheningan jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan canggung-lebih seperti jeda yang sarat listrik. Mata Radya tidak pernah lepas dari wajahnya, dan Nayla tahu, dalam hitungan hari, ia bisa membuat pria ini jatuh. Itulah tujuannya. Membuat Rafka cemburu, merasa kehilangan, merasakan rasa sakit yang sama seperti yang ia rasakan saat membaca pesan mesra itu.
Namun ada sesuatu yang aneh-ia menemukan dirinya menikmati permainan ini. Bukan hanya karena dendam, tapi juga karena Radya berbicara padanya seolah ia bukan sekadar "istri seseorang." Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Kalau begitu, biar aku jadi pengecualian," ujar Radya akhirnya. "Di sini, kamu tidak harus sempurna."
Ucapan itu menancap seperti paku di dada Nayla. Ia memalingkan wajah, pura-pura tertarik pada lampu-lampu kota di bawah sana. "Itu berbahaya, tahu," katanya pelan.
"Aku suka bahaya," Radya menjawab lebih pelan lagi.
Hari-hari berikutnya, pertemuan mereka menjadi lebih sering-ngopi sepulang kerja, makan siang mendadak, atau sekadar bertukar pesan larut malam tentang film dan buku. Nayla memainkan perannya dengan hati-hati: cukup menggoda untuk memancing, tapi tidak cukup terbuka untuk dimiliki. Ia menjaga batasnya, karena ini hanya permainan... seharusnya.
Namun batas itu mulai kabur ketika suatu malam, mereka menghadiri konser musik jazz di sebuah lounge eksklusif. Radya duduk di sampingnya, sangat dekat, bahunya menyentuh bahu Nayla setiap kali ia bergerak. Musik mengalun lembut, lampu remang, dan dunia luar terasa jauh.
"Kamu tahu nggak, Nay," bisik Radya di telinganya, "setiap kali kamu tertawa, kelihatannya kamu ingin meyakinkan dunia bahwa kamu baik-baik saja."
Nayla terdiam.
"Tapi aku rasa kamu tidak," lanjut Radya. "Dan itu... entah kenapa, membuatmu makin menarik."
Hati Nayla berdebar keras. Ia tahu seharusnya menertawakannya, mengganti topik, menjaga jarak. Tapi malam itu, dengan nada saksofon yang melankolis dan gelas wine ketiganya yang hampir kosong, Nayla hanya berkata, "Mungkin kamu benar."
Radya menoleh, dan tatapan mata mereka bertaut terlalu lama. Untuk sesaat, Nayla hampir lupa kenapa ia melakukan semua ini. Lupa bahwa setiap detik bersama Radya hanyalah alat untuk menusuk hati Rafka. Lupa bahwa ini bukan cinta... ini perang.
Dan perang, pikirnya, tidak mengenal perasaan.
Beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa Rafka akan menghadiri gala dinner perusahaan-acara penuh media dan pengusaha papan atas. Nayla memutuskan malam itu sebagai panggung pertama.
Ia mengirim pesan ke Radya:
"Mau jadi partner in crime-ku malam ini?"
Radya membalas dalam hitungan menit.
"Selalu. Jam berapa aku jemput?"
Hotel bintang lima itu berkilau seperti istana dari kaca. Para tamu berdatangan dengan mobil mewah, fotografer sibuk memotret, wartawan TV berseliweran. Nayla turun dari mobil Radya dalam balutan gaun merah tua backless yang membungkus tubuhnya seperti cairan api. Semua kepala menoleh. Radya berjalan di sampingnya, gagah dalam tuksedo hitam, dan menatapnya seperti ia satu-satunya wanita di ruangan.
Tatapan itu bukan akting. Nayla tahu.
Mereka masuk ballroom, dan mata Rafka langsung menemukannya dari seberang ruangan-mata yang melebar, kaku, lalu menyipit dingin. Nayla merasakan gelombang kepuasan mengalir dalam dirinya. Itu dia. Retakan pertama.
Radya membisikkan sesuatu yang membuat Nayla tertawa kecil, lalu menyentuh punggungnya ringan saat mereka berjalan. Kamera-kamera langsung membidik mereka seperti hiu mencium darah.
Malam itu, Nayla menari di tepi jurang. Ia menari dengan anggun, dengan senyum beracun, dan dengan rasa nyaris bebas-untuk pertama kalinya sejak mengetahui pengkhianatan itu.
Ini baru permulaan.
Operasi Pembalasan telah dimulai... dan ia tidak akan berhenti sampai Rafka tahu rasanya kehilangan segalanya.
Hari itu hujan turun tipis, seperti tirai transparan yang menggantung di atas langit Jakarta. Tetes-tetes air menampar pelan kaca jendela ruang kerja Rafka di lantai 35 gedung perkantoran pusat kota. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat mobil-mobil merayap lambat di bawah sana, lampu merah mereka berpendar buram oleh kaca yang basah.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bukan pada tumpukan dokumen yang menunggu tanda tangan, bukan pula pada presentasi investor yang harus ia siapkan. Pikirannya sibuk memutar ulang potongan gambar: Nayla tertawa kecil dalam sebuah foto, rambutnya digelung longgar, bibirnya menyentuh tepi gelas champagne. Dan di sampingnya, berdiri Radya Mahendra, menatapnya seperti seseorang yang baru menemukan bintang jatuh.
Foto itu muncul di salah satu akun media sosial sahabat Nayla dua malam lalu, hasil candid di acara pameran seni. Rafka menemukannya secara tidak sengaja ketika sedang scrolling di tengah malam-dan sejak itu, dadanya terasa seperti diperas tangan tak kasatmata.
Ada sesuatu di mata Nayla pada foto itu. Sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat. Kilau hidup. Kilau yang dulu selalu menyala untuknya... sebelum ia memadamkannya sendiri dengan kebodohannya.
"Pak, tanda tangan untuk kontrak merger sudah ditunggu," suara sekretarisnya memecah lamunan.
Rafka mengangguk singkat tanpa menoleh. "Letakkan di meja."
Begitu pintu tertutup kembali, ia mendengus, menekan pelipis. Perasaan aneh itu-campuran cemas, cemburu, dan ketakutan-menggelitik bagian dirinya yang paling rapuh. Ia pernah merasa punya Nayla seutuhnya, seperti seseorang yang merasa memiliki matahari hanya karena terbiasa merasakan hangatnya setiap pagi. Dan kini, untuk pertama kalinya, ia merasa matahari itu sedang terbit ke arah lain.
---
Di rumah, Nayla duduk di sofa ruang keluarga, membolak-balik halaman majalah tanpa sungguh membaca. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi cahaya latar di ruang yang sepi. Di meja, ada laptop terbuka menampilkan draf artikel yang seharusnya ia kirim dua hari lalu. Tapi pikirannya justru melayang pada pesan singkat terakhir dari Radya:
**"Pameran malam ini luar biasa, tapi kamu lebih menarik daripada semua lukisan di sana."**
Ia tidak membalasnya, hanya membacanya berulang-ulang dengan senyum tipis yang bahkan ia sendiri benci. Ini seharusnya hanya misi, hanya strategi-umpan untuk membuat Rafka merasakan sedikit dari racun yang selama ini ia telan. Tapi kenapa dada ini terasa ringan setiap kali Radya menoleh padanya? Kenapa tatapan pria itu menimbulkan debar yang nyaris ia lupakan rasanya?
Suara mesin mobil membuyarkan lamunannya. Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka, dan Rafka masuk-lebih awal dari biasanya. Setelan kerjanya masih rapi, tapi wajahnya tegang.
"Kamu di rumah," katanya, seperti lega sekaligus waswas.
"Memangnya aku harus di mana?" Nayla menoleh singkat.
Rafka mendekat, lalu duduk di sofa seberangnya, menatap Nayla seolah sedang memeriksa sesuatu yang hilang. "Belakangan ini kamu... berbeda."
"Berbeda?" Nayla menaikkan alis.
"Kamu jarang ada di rumah. Banyak acara. Banyak... pameran, gala, makan malam. Kamu bahkan hampir tidak pernah menungguku pulang." Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba terdengar tenang, tapi pecah di ujung.
Nayla mengangkat bahu. "Dulu kamu juga begitu, ingat?"
Rafka terdiam. Serangan kecil itu tepat sasaran, dan kedipan matanya membocorkan rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan.
"Aku cuma... aku cuma khawatir," katanya akhirnya, suara melembut. "Aku takut kehilangan kamu."
Nayla menutup majalah di pangkuannya, menatapnya lurus-lurus untuk pertama kali malam itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia lemparkan-foto perselingkuhan, pesan-pesan mesra itu, semua luka yang ia pendam. Tapi ia tidak melakukannya. Belum. Belum waktunya.
"Kamu nggak akan kehilangan aku," katanya pelan, nyaris seperti bisikan. "Selama kamu masih bisa membuatku ingin bertahan."
Rafka menatapnya, seolah mencoba menerjemahkan kalimat itu. Lalu ia berdiri, berjalan ke samping Nayla, dan meraih tangannya. "Kalau begitu... beri aku kesempatan membuatmu ingin bertahan."
Nayla memandang tangan mereka yang bertaut. Untuk sesaat, kenangan tentang mereka berdua dulu-saat cinta masih jernih dan hangat-menyeruak begitu kuat, membuat dadanya nyeri. Tapi lalu ia mengingat tangan lain: tangan perempuan dengan kuku merah menyala, menyodorkan wine pada Rafka di balkon vila. Dan rasa nyeri itu membeku menjadi baja.
"Baiklah," katanya, menarik sudut bibir membentuk senyum samar. "Buat aku ingin bertahan."
Rafka tampak lega, seolah baru saja diberi satu nyawa tambahan. Ia menunduk, mencium tangan Nayla, lalu memeluknya dari samping. Pelukan yang hangat, familiar... dan hampa.
---
Hari-hari berikutnya, Rafka berubah. Ia pulang lebih awal, membatalkan beberapa agenda bisnis, bahkan mulai menjemput Nayla ketika tahu ada acara sosial. Ia mengirimkan bunga ke ruang kerjanya, mengajaknya makan malam mendadak di restoran yang dulu mereka datangi saat masih pacaran. Ia tertawa lebih sering, menggenggam tangan Nayla lebih erat, menatapnya seolah mencoba mengingat kembali setiap detail wajah yang dulu ia abaikan.
Dari luar, tampak seperti kebangkitan romantika rumah tangga yang mulai redup. Namun Nayla tahu lebih baik: ini bukan cinta, ini **ketakutan.** Rafka merasakan posisinya terancam, dan seperti semua pria yang terbiasa memiliki segalanya, ia bereaksi dengan berusaha merebut kembali yang ia anggap "miliknya."
Ironisnya, ada bagian kecil dari Nayla yang hampir luluh. Hampir. Tapi setiap kali Rafka menatapnya dengan mata penuh cinta palsu, ia membayangkan pria itu memeluk perempuan lain di ranjang hotel, membisikkan kalimat yang sama. Dan keinginan untuk memaafkan langsung padam.
---
Suatu malam, mereka makan malam di restoran rooftop dengan pemandangan lampu kota yang berkelip. Angin malam meniup rambut Nayla pelan saat ia menatap kota yang tak pernah tidur itu. Rafka menyesap wine-nya, lalu berkata tiba-tiba, "Aku pikir kita perlu liburan. Hanya kita berdua. Seperti dulu."
"Liburan?" Nayla menoleh.
"Ya. Tempat apa pun yang kamu mau. Paris, Tokyo, atau bahkan Ubud. Aku akan atur semua. Aku cuma ingin... kita bisa bicara. Tanpa gangguan."
Nayla menatapnya lama, lalu tersenyum manis. "Kedengarannya bagus."
Rafka terlihat lega lagi. Ia mengulurkan tangan, menyentuh jemari Nayla di atas meja. Tapi Nayla hanya membiarkannya, senyum itu tetap terpaku seperti topeng porselen-indah, tapi dingin.
Dalam hatinya, Nayla tahu Rafka tidak sedang mencoba membangun kembali cinta mereka. Ia hanya sedang mencoba **mengunci** Nayla, memastikan perempuan itu tetap di orbitnya, tetap menjadi satelit yang mengelilingi matahari bernama Rafka Dirgantara. Tapi Nayla bukan satelit lagi. Ia adalah komet yang sedang bersiap keluar dari orbit, melesat ke ruang kosong-ke tempat Radya menunggunya dengan tatapan yang membakar.
Dan saat Rafka bicara tentang tiket pesawat, Nayla diam-diam membuka ponselnya di bawah meja, membaca pesan terbaru dari Radya yang muncul di layar:
"Aku tahu kamu sibuk. Tapi kalau sempat, ada pertunjukan teater Jumat malam. Kursi di sampingku masih kosong."
Senyum Nayla merekah tipis, nyaris tak terlihat.
"Baiklah," katanya pada Rafka. "Kita liburan."
Tapi dalam pikirannya, satu suara bergema pelan:
Liburanmu akan menjadi akhirmu.